You are on page 1of 8

I.

ANATOMI DAN FISIOLOGI KELENJAR SALIVA


Kelenjar saliva terdiri dari kelenjar saliva mayor dan kelenjar saliva minor. Kelenjar parotis,
submandibula, dan sublingual merupakan komponen kelenjar saliva mayor sedangkan kelenjar
saliva minor terdiri dari kelompok jaringan saliva submukosa yang berada pada rongga mulut,
sinus paranasal, faring dan saluran pernafasan bagian atas.

Kelenjar Saliva Mayor


Kelenjar saliva mayor merupakan kelenjar saliva terbanyak dan ditemui berpasang-
pasangan pada daerah ekstraoral serta memiliki duktus yang panjang. Duktus ini menyalurkan
sekresi saliva ke dalam rongga mulut. Menurut struktur anatomi dan letaknya, kelenjar saliva
mayor dapat dibagi atas tiga tipe yaitu parotis, submandibularis dan sublingualis.
a. Kelenjar Parotis
Pasangan kelenjar parotid merupakan kelenjar saliva yang terbesar. Letak kelenjar ini
adalah di ruang antara batas posterior ramus mandibular dan prosesus mastoideus tulang
temporal. Bentuk kelenjar parotis bervariasi. Namun, seringkali ditemui berbentuk segitiga
dengan bagian apeks menuju inferior. Cabang utama dari saraf kranial ketujuh (saraf fasial)
membagi kelenjar parotis secara kasar kepada lobus superfisial dan lobus mendalam. Duktus-
duktus kecil dari berbagai daerah di kelenjar ini bergabung dan menyatu di sudut
anterosuperior parotis lalu membentuk duktus Stensen. Duktus Stensen ini merupakan duktus
mayor dari kelenjar parotis dan mempunyai diameter kira-kira 1 hingga 3 milimeter dan
panjang 6 sentimeter. Kelenjar ini menghasilkan suatu sekret yang kaya air (sel serous) dan
bersifat basofilik.
b. Kelenjar Submandibularis
Kelenjar submandibularis merupakan kelenjar kedua terbesar dan ukurannya kira-kira
seperempat dari kelenjar parotid. Ia terdiri dari lobus superfisial berukuran besar yang terletak
dalam segitiga digastric di leher dan lobus profunda yang terletak di lantai mulut posterior.
Kedua lobus ini bersifat saling menyambung antara satu sama lain di seluruh daerah perbatasan
posterior otot milohioid. Duktus Wharton ialah duktus utama untuk kelenjar submandibula dan
panjangnya kira-kira 5 sentimeter dan dindingnya lebih tipis dibandingkan duktus Stensen di
kelenjar parotid. Sekresi kelenjar ini bersifat campuran dengan sifat mukus yang paling
dominan.
c. Kelenjar Sublingualis
Kelenjar yang terletak di antara dasar mulut dan otot milohioid ini merupakan kelenjar
yang terkecil di antara kelenjar-kelenjar yang lain. Saraf lingual dan duktus Wharton
memisahkan kontur di antara kelenjar sublingual dan otot genioglosus. Terdapat kira-kira 8-
20 buah duktus kecil yang dipanggil sebagai duktus Rivinus, yang mana membuka secara
bebas di lantai mulut bersama lipatan-lipatan serta papila sublingual. Kadang-kadang duktus
ini menyatu lalu membentuk duktus utama, yaitu duktus Bhartolin. Kelenjar ini tidak memiliki
kapsul yang dapat melindunginya, dan secara histologis kelenjar ini terdiri dari asini musin.
Oleh karena itu kelenjar sublingual menghasilkan sekret yang mukous dan konsistensinya
kental.
Kelenjar saliva minor terdiri dari kelenjar-kelenjar kecil yang dapat ditemui pada hampir
seluruh epitel di bawah rongga mulut dan orofaring. Kelenjar ini terdiri dari beberapa unit sekresi
kecil dan melewati duktus pendek yang berhubungan langsung dengan rongga mulut. Kelenjar-
kelenjar kecil ini membentuk beberapa kelompok kelenjar mengikut lokasi seperti kelenjar labial,
bukal, glosopalatinal, palatal, dan lingual.
a. Kelenjar Glossopalatinal
Kelenjar ini terletak di dalam isthmus dari lipatan glossopalatinal dan dapat meluas ke
bagian posterior dari kelenjar sublingual ke kelenjar yang ada di palatum mole. Cairan
sekresinya bersifat mukus.
b. Kelenjar Labial
Kelenjar ini terletak di submukosa bibir dan banyak ditemui pada garis tengah dan
memiliki banyak duktus. Cairan sekresinya bersifat mukus dan serous.
c. Kelenjar Bukal
Lokasi kelenjar ini adalah pada mukosa pipi, kelnejar ini serupa dengan kelenjar labial dan
mensekresi cairan yang bersifat campuran mucous dan serous.
d. Kelenjar palatinal
Kelenjar ini mensekresikan cairan bersifat mucus dan terletak di kedua palatum durum dan
mole
e. Kelenjar Lingual
Kelenjar lingual terbagi pada daerah anterior (di otot ventral) dan posterior (di pangkal
lidah) dan kebanyakan cairan sekresinya bersifat mucus. Kelenjar lingual posterior yang
mendalam mensekresikan cairan serous secara predominan.

II. DEFINISI
Parotis merupakan penyakit yang disebabkan oleh peradangan pada kelenjar parotis.
Peradangan pada kelenjar ini dapat menjadi tantangan diagnostic yang serius. Difungsi kelenjar
saliva pada umumny aakan memunculkan gejala mulut kering, berliur dan bengkak yang nyeri
pada kelenjar saliva.
III. ETIOLOGI
Peradangan pada kelenjar parotis dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain infeksi
bakteri seperti Staphylococcus aureus dan tuberkulosis, virus seperti pada mumps atau “gondong”
ataupun virus HIV, dan influenza. Parotis juga dapat disebabkan oleh penyakit autoinum kronis,
salah satu gejala pada sindroma Mikulicz dan Sjörgen. Penyebab lainnya dari parotitis ialah
idiopatik, seperti pada peradangan oleh karena batu saliva (sialolithiasis).
IV. EPIDEMIOLOGI
Kematian yang disebabkan oleh parotitis sangatlah jarang. Seringkali parotis juga
merupakan komplikasi dari proses penyakit tertentu, angka kematian proporsional dengan
penyakit aslinya. Frekuensi kejadian parotis sama pada semua ras. Parotitis kronis juga tidak
dibedakan oleh jenis kelamin. Kebanyakan parotitis terjadi pada usia anak-anak.
V. PATOFISIOLOGI
Pada tahun 1923, Blair dan Padgett mempublikasi artikel yang menyatakan bahwa parotitis
supuratif akut merupakan ascending infeksi yang berkaitan dengan demam, penurunan produksi
saliva dan gejala umum, hasil kultur pus menunjukkan adanya infeksi Staphylococcus aureus.
Kebanyakan dari organisme ini kemungkinan berasal dari rongga mulut sehingga semakin
menguatkan teori bahwa ada kaitan antara insidensi parotitis bacterial dan kebersihan rongga
mulut. Saat ini, parotitis supuratif akut lebih umum ditemukan pada usia lanjut karena penggunaan
obat-obatan dengan efek atropine yang menurunkan produksi kelenjar saliva sehingga
mempredisposisi terjadinya infeksi.
Pada awal abad ke-20, para ahli bedah ragu untuk melakukan insisi dan drainase ebses
kelenjar parotis karena seringkali tidak efektif dibandingkan dengan terapi konservatif. Terlebih
lagi, tindakan pembedahan pada kelenjar parotis dapat mengakibatkan bekas luka pada wajah dan
paralisis nervus fasialis. Parotitis bakterial kronis dapat terjadi apabila terdapat kalkulus atau
stenosis pada duktus saliva yang disebabkan oleh cedera. Pada kebanyakan kasus, parotitis kronis
seringkali disebabkan oleh autoimun atau idiopatik dengan superimpose bakteri, sehingga tidak
dapat ditetapkan sebagai infeksi bakteri kronis.
Mumps atau “gondong” adalah salah satu penyakit klasik yang ditemui pada anak-anak.
Penyakit ini disebarkan melalui droplets atau melalui penyebaran langsung dari secret orofaring
yang mengandung virus paramyxovirus. Penyakit ini ditandai dengan pembengkakan kelenjar
parotis yang terasa nyeri. Stimulasi pada kelenjar parotis dapat menyebabkan rasa nyeri pada
kelenjar dan telinga. Mumps merupakan penyakit tumor jinak pada kebanyakan kasus, namun
terkadang dapat menyebabkan komplikasi seperti meningoensefalitis, pankreatitis, orkitis dan tuli
terutama pada usia dewasa muda.
Parotitis yang disebabkan oleh autoimun nampaknya disebabkan oleh suatu proses
penyakit yang sama dengan berbagai manifestasi klinis yang berbeda pada tiap individu. Kelainan
awal pada kelenjar mungkin disebabkan oleh infeksi virus. Peptida yang berasal dari antigen virus
dan autoantigen menjadi terkait dengan molekul histokompatibilitas kelas II dalam sitoplasma sel
epitel, dan kompleks Human leucocyte antigen (HLA) selanjutnya diekspresikan pada permukaan
sel.
Sel T CD4 + mengenali antigen ini dan melepaskan serangkaian sitokin, yang mendorong
aktivasi sel T lebih lanjut. Sel B memasuki kelenjar dan menghasilkan autoantibodi, termasuk
antibodi sindrom anti-Sjögren (yaitu, anti-SS-A, anti-SS-B) dan faktor rheumatoid (RF). Sel B
dengan permukaan sel RF dapat memusatkan kompleks imun dan menghadirkan antigen pada sel
T CD4 +. Asini dihancurkan oleh mekanisme autoimun ini. Pembelahan sel yang berkelanjutan
dari sel B spesifik mengarah ke ekspansi oligoclonal dan meningkatkan kemungkinan kesalahan
kariotipe terkait dengan transformasi neoplastik.
VI. MANIFESTASI KLINIS
Parotitis infeksius:
 Pada parotitis bakterial akut pasien akan mengeluhkan bengkak dengan nyeri progresif
pada kelenjar yang disertai dengan demam, gerakan membuka mulu atau mengunyah dapat
memperparah keluhan.
 Mumps ditandai dengan bengkak dan nyeri pada kelenjar yang bertahan selama 5-9 hari,
selain itu juga terdapat malaise, anoreksia dan demam. Pada kebanyakan kasus mumps
mengenai parotis bilateral.
 Parotitis yang disebabkan oleh HIV seringkali ditandai dengan bengkak yang tidak nyeri,
atau asimptomatik.
 Parotitis pada tuberculosis ditandai dengan bengkak kronis tanpa rasa nyeri, atau benjolan
yang terasa di dalam kelenjar, selain itu riwayat tuberculosis paru juga dapat mendukung.
Parotitis pungtata kronis (autoimun):
 Sindroma Sjörgen didapatkan parotitis kronis atau berulang pada salah satu atau kedua
kelenjar parotis tanpa penyebab yang jelas, pasien juga dapat mengeluhkan mulut dan mata
kering.
Pada pemeriksaan fisik kelenjar parotis ditemui pembengkakan dan eritema pada kulit di
atasnya. Kelenjar yang meradang akut ini terasa nyeri, sementara biasanya tidak nyeri pada
parotitis autoimun kronis. Pijat kelenjar dari posterior ke anterior untuk mengeluarkan air liur yang
jelas dari saluran parotis di kelenjar normal. Air liur purulen mengindikasikan parotitis bakteri,
dan saliva jernih dengan dadih kuning kecil mengindikasikan parotitis punctate kronis (autoimun).
VII. DIAGNOSIS
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan pada kecurigaan parotitis adalah
pemeriksaan kimiawi pada saliva. Anti-SS-A, Anti-SS-B, dan faktor rheumatoid mungkin akan
positif pada penyakit autoimun. Kultur saliva juga dapat dilakukan, namun seringkali jarang
dibutuhkan. Sebagian besar laboratorium tidak dapat melakukan tes yang bermanfaat pada air liur.
Air liur memiliki variasi komposisi yang sedemikian luas sehingga analisis hanya menghasilkan
sedikit nilai diagnostik.
CT-Scan dan MRI dapat digunakan untuk menentukan ukuran, bentuk, dan kualitas
neoplasma pada kelenjar. Masing-masing metode ini dapat membedakan antara massa solid, lesi
kistik, dan keterlibatan kelenjar. Sialografi dapat dilakukan untuk menentukan anatomi system
drainase dan merupakan pemeriksaan yang sangat berguna. Sialografi dapat menunjukkan cedera
pada duktus saliva. Sebuah kanul #90 polietilen dimasukkan ke dalam duktus, lalu kontras iodin
seperti Ultravist (iopromide) diinjeksikan ke dalam system duktus. Duktus yang normal dapat
mengakomodasi 0.50-0.75 mL, atau hingga pasien merasa tidak nyaman, lalu dilakukanlah
pemeriksaan radiograf posteroanterior dan lateral. Pemeriksaan diulan 5 menit kemudian, biasanya
semua kontras sudah terevakuasi.

Sialografi

Skintigrafi kelenjar saliva dapat membantu diagnosis parotitis obstruktif kronis dan kelainan
kelenjar saliva lainnya. Pemeriksaan ultrasonografi lebih mudah dilakukan daripada sialografi
dalam menunjukkan massa solid atau kistik di dalam kelenjar. USG juga dapat mendeteksi area
hipoekoik. Akan tetapi pemeriksaan ini tidak sensitive dibandingkan dengan sialografi dan kurang
signifikan secara klinis.
VIII. DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding parotitis adalah metastasis atau inflamasi pada kelenjar getah bening
sekitar kelenjar parotis, serta keganasan pada kelenjar parotis.
IX. TERAPI

Sebagian besar episode parotitis kronis diobati dengan terapi simptomatik. Sialogog,
kompres hangat lokal, pijatan lembut kelenjar dari posterior ke anterior, dan hidrasi dapat
memberikan peredaan gejala yang bervariasi. Setelah dilakukan kultur pus yang keluar dari duktus
Stensen, dapat diberikan antibiotic sesuai hasil tes sensitivitas. Pengobatan penyakit primer
(misalnya, HIV, rheumatoid arthritis) adalah yang perlu diutamakan. Beberapa penulis
menganjurkan irigasi intermiten sistem duktus dengan larutan saline, larutan steroid, dan / atau
antibiotik untuk mengobati infeksi dan secara mekanis mengeluarkan lendir atau nanah yang
terinspeksi dari saluran. Terapi ini dianjurkan bagi pasien yang tidak membaik dengan pengobatan
simtomatik dan harus dicoba dulu sebelum mempertimbangkan operasi. Baurmash menganjurkan
Decadron (deksametason) dan larutan penisilin dalam larutan garam untuk membersihkan saluran
dan untuk terapi topikal.