You are on page 1of 9

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN SARAF TUTORIAL KLINIK

FAKULTAS KEDOKTERAN
9 Januari 2019
UNIV. AL-KHAIRAAT PALU

LAPORAN TUTORIAL KLINIK


KEJANG

Disusun Oleh:

Nuriyah Fitriana 141877714291

Pembimbing:

dr. Nur Faisah, M.Kes., Sp.S

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN KEDOKTERAN SARAF
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
PALU
2018
JAWABAN

1. Apa yang dimaksud dengan kejang?


Kejang adalah gangguan aktivitas listrik tiba-tiba dan tidak terkendali di otak.
Hal ini dapat menyebabkan perubahan perilaku, gerakan atau perasaan, dan
tingkat kesadaran seseorang (MayoClinic,2018).

2. Pemeriksaan apa yang dianjurkan untuk pasien kejang?


EEG (Electroencephalogram) : adalah tes yang mendeteksi aktivitas listrik di otak
menggunakan cakram logam kecil (elektroda) yang menempel di kulit kepala. Sel-sel
otak berkomunikasi melalui impuls listrik dan aktif sepanjang waktu, bahkan ketika
sedang tidur. Aktivitas ini terlihat sebagai garis bergelombang pada rekaman EEG
(MayoClinic,2018).

(East Neurology)

3. Keadaan apa saja yang dapat menimbulkan kejang?


Sel-sel saraf (neuron) di otak membuat, mengirim dan menerima impuls listrik
yang memungkinkan sel-sel saraf otak untuk berkomunikasi. Apapun yang
mengganggu jalur komunikasi ini dapat menyebabkan kejang
(MayoClinic,2018). Adapun keadaan yang dapat menyebabkan kejang antara
lain :
- Demam tinggi, yang dapat dikaitkan dengan infeksi sistem saraf pusat
(SSP), seperti meningitis atau ensefalitis
- Gangguan metabolik seperti uremia, hipoglikemia, hiponatremia, dan
hipokalsemia
- Trauma kepala yang menyebabkan area pendarahan di otak
- Penyakit serebrovaskular, seperti infark serebral, perdarahan serebral,
dan trombosis vena
- Tumor otak
- Keracunan obat, pemutusan obat, pemutusan alkohol (Eissa, 2017;
MayoClinic, 2018).

4. Apa saja penanganan awal kejang?


- Primary Survey ABCD

5. Apa saja klasifikasi kejang?


Klasifikasi kejang dasar baru didasarkan pada 3 fitur utama :
 Menentukan dimana kejang bermula :
Kejang Fokal: sebelumnya disebut kejang parsial, ini dimulai di
daerah atau jaringan sel di satu sisi otak
Kejang umum: kejang ini melibatkan jaringan di kedua sisi otak saat
onset.
Onset tidak dikenal: Jika onset kejang tidak diketahui, kejang masuk
ke dalam kategori onset yang tidak diketahui. Kemudian, tipe kejang
dapat diubah jika awal kejang seseorang sudah jelas.
Kejang fokal ke bilateral: Kejang yang dimulai di satu sisi atau satu
bagian otak dan menyebar ke kedua sisi disebut kejang fokal bilateral.

 Menggambarkan Kesadaran :
Sadar fokal: Jika kesadaran tetap baik, bahkan jika orang tersebut
tidak dapat berbicara atau merespons selama kejang, kejang itu akan
disebut kejang sadar fokal.
Gangguan kesadaran fokal: Jika kesadaran terganggu atau
terpengaruh selama kejang, bahkan jika seseorang memiliki gagasan
samar tentang apa yang terjadi, kejang akan disebut gangguan
kesadaran fokal.
Kesadaran tidak diketahui: Terkadang tidak mungkin untuk
mengetahui apakah seseorang sadar atau tidak, misalnya jika seseorang
hidup sendirian atau mengalami kejang hanya di malam hari. Dalam
situasi ini, istilah kesadaran mungkin tidak digunakan atau itu akan
digambarkan sebagai kesadaran yang tidak diketahui.
Kejang umum: Ini diduga mempengaruhi kesadaran atau alam bawah
sadar seseorang dengan cara tertentu. Jadi tidak ada istilah khusus yang
diperlukan untuk menggambarkan kesadaran dalam kejang umum.

 Menjelaskan Gejala Motorik dan Gejala Lain dalam Kejang Fokal


Kejang motorik fokal: Ini berarti bahwa beberapa jenis gerakan terjadi
selama serangan. Misalnya gerakan berkedut, menyentak, atau kaku
bagian tubuh atau automatisme (gerakan otomatis seperti menjilat bibir,
menggosok tangan, berjalan, atau berlari).
Kejang non-motorik fokal: Kejang jenis ini memiliki gejala lain yang
terjadi pertama kali, seperti perubahan sensasi, emosi, pemikiran, atau
pengalaman.
Aura: Istilah aura, yang menggambarkan gejala-gejala yang mungkin
dirasakan seseorang pada awal kejang.

 Menjelaskan Onset Umum Kejang :


Kejang motorik umum: Istilah kejang tonik-klonik (grand mall)
umum masih digunakan untuk menggambarkan kejang dengan
kekakuan (tonik) dan menyentak (klonik). Pada tahap tonik pasien
dapat: kehilangan kesadaran, kehilangan keseimbangan dan jatuh
karena otot yang menegang, berteriak tanpa alasan yang jelas,
menggigit pipi bagian dalam atau lidah. Pada saat fase klonik: terjadi
kontraksi otot yang berulang dan tidak terkontrol, mengompol atau
buang air besar yang tidak dapat dikontrol, pasien tampak sangat pucat,
pasien mungkin akan merasa lemas, letih ataupun ingin tidur setelah
serangan semacam ini.
 Kejang non-motorik umum: Kejang ini di bagi menjadi kejang absens
tipikal atau petit mal dan kejang atipikal. Kejang absenstipikal ditandai
dengan berhentinya aktivitas motorik motorik anak secara tiba-
tiba,kehilangan kesadaran sementara secara singkat,yang di sertai
dengan tatapan kosong.Sering tampak kedipan mata berulang saat
episode kejang terjadi.Episode kejang terjadi kurang dari 30
detik.Kejang ini jarang di jumpai pada anak berusia kurang dari 5
tahun. Kejang absans atipikal di tandai dengan gerakan Kejang
absenstipikal ditandai dengan berhentinya aktivitas motorik motorik
anak secara tiba-tiba,kehilangan kesadaran sementara secara
singkat,yang di sertai dengan tatapan kosong.Sering tampak kedipan
mata berulang saat episode kejang terjadi.Episode kejang terjadi kurang
dari 30 detik.Kejang ini jarang di jumpai pada anak berusia kurang dari
5 tahun. Kejang absans atipikal di tandai dengan gerakan.
Kejang Mioklonik : Kedutaan involunter pada otot atau sekelompok
otot yang terjadi mendadak. Myoclonic kejang ditandai dengan gerakan
menyentak singkat yang muncul dari sistem saraf pusat, biasanya
melibatkan kedua sisi tubuh. Gerakan ini mungkin sangat halus.
Status Epileptikus : Biasanya. Kejang tonik-klonik umum yang terjadi
berulang. Anak tidak sadar kembali diantara kejang. Potensial untuk
depresi pernapasan, hipotensi, dan hipoksia memerlukan pengobatan
medis darurat dengan segera (Robert, 2016).

6. Langkah-langkah diagnosis pada kasus kejang


1) Anamnesis
- Riwayat perjalanan penyakit sampai terjadinya kejang
- Faktor pencetus atau penyebab kejang
- Ditanyakan riwayat kejang sebelumnya
- Kondisi medis yang berhubungan
- Obat – obatan
- Trauma
- Gejala-gejala infeksi
- Keluhan neurologis
- Nyeri atau cedera akibat kejang
- Kejang terjadi selama terjaga atau tidur ?
- Apakah terjadi dehidrasi sebelumnya ?
- Apakah sebelumnya pasien mengalami kurang tidur ?
- Riwayat pemakaian narkoba dan alcohol
- Onset mendadak atau makin berat ?
- Berapa lama saat kejang saat serangan ?
- Apakah pasien sadar setelah kejang ?
- Ada demam atau tidak ?
- Gerakan ekstrimitas
2) Pemeriksaan Fisik
- Kesadaran : bila terjadi penurunan kesadaran diperlukan
pemeriksaan lanjutan untuk mencari faktor penyebab
- Tanda-tanda vital
- Tanda-tanda trauma akut kepala dan adanya kelainan sistemik
- Terpapar zat toksik
- Infeksi
- Tanda luka atau lidah tergigit
- Adanya kelainan neurologis fokal
3) Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium : Darah lengkap, Punksi Lumbal,
Pemeriksaan Radiologi : CT-Scan, MRI.
EEG, EKG

7. Perbedaan kejang dengan serangan yang menyerupai kejang?

8. Prognosis pada kasus


Qua ad vitam : Bonam
Qua ad sanationem : dubia ad bonam

9. Patofisiologi Kejang
Mekanisme dasar terjadinya kejang adalah peningkatan aktifitas listrik
yang berlebihan pada neuron-neuron dan mampu secara berurutan merangsang
sel neuron lain secara bersama-sama melepaskan muatan listriknya. Fenomen
elektrik ini adalah wajar. Manifestasi biologiknya berupa gerak otot atau suatu
modalitas sensorik, tergantung dari neuron kortikal mana yang melepaskan
muatannya.
Dalam keadaan fisiologik, neuron melepaskan muatan listriknya oleh
karena potensial membrannya direndahkan oleh potensial postsinaptik
yang tiba pada dendrit. Potensial aksi itu disalurkan melalui akson yang
bersinap dengan dendrit neuron lain. Asetilkolin merendahkan potensial
membran postsinaptik. Apabila sudah cukup asetilkolin tertimbun di
permukaan otak, maka pelepasan muatan listrik neuron-neuron kortikal
dipermudah. Asetilkolin diproduksi oleh neuron-neuron kolinergik dan
merembes keluar dari permukaan otak. Pada kesadaran awas-waspada lebih
banyak asetilkolin mesembes keluar dari permukaan otak daripada selama
tidur. Penimbunan asetilkolin setempat harus mencapai suatu konsentrasi yang
dapat mengungguli ambang lepas muatan listrik neuron. Oleh karena itu
fenomena lepas muatan listrik epileptic terjadi secara berkala. Kurangnya zat
gamma-aminobutyric acid (GABA) sebagai zat anti-konvulsi alamiah
akan menyebabkan neuron-neuron kortikal mudah sekali terganggu dan
bereaksi dengan melepaskan muatan listriknya secara menyeluruh. Inti-inti
intralaminar talamik dapat juga digalakkan oleh lepas muatan listrik dari
sekelompok neuron-neuron kortikal.
Pada gilirannya inti-inti intralaminar talamik melepaskan muatan
listriknya dan merangsang seluruh neuron kortikal. Sehingga, kejang dapat
diawali dengan kejang fokal akibat lepasnya muatan listrik dari neuron kortikal
menjadi kejang tonik-klonik karena inti intralaminar talamik merangsang
seluruh neuron kortikal. Penurunan kesadaran karena lepasnya muatan listrik
dari nuclei intralaminares talami yang berlebihan. Input pada inti ini yang
merupakan terminal lintasan asendens aspesifik akan menentukan derajat
kesadaran. Karena lepasnya berlebihan maka perangsangan talamokortikal
yang berlebihan ini menghasilkan kejang otot seluruh tubuh dan sekaligus
menghalangi neuron-neuron pembina kesadaran menerima impuls aferen dari
dunia luar sehingga kesadaran menghilang.

10 Diffrensial Diagnosis?
Epilepsi