You are on page 1of 4

Anatomi Basis Cranii

Tulang tengkorak terdiri dari kubah (kalvaria) dan basis kranii 6,7. Tulang tengkorak
terdiridari beberapa tulang yaitu frontal, parietal, temporal dan oksipital7. Kalvaria
khususnya diregio temporal adalah tipis, namun di sini dilapisi oleh otot temporalis. Basis
kranii berbentuktidak rata sehingga dapat melukai bagian dasar otak saat bergerak akibat proses
akselerasi dandeselerasi. Rongga tengkorak dasar dibagi atas fosa yaitu ! fossa "ranii anterior, fossa
"raniimedia dan fossa "ranii posterior#.

*raktur pada basis "ranii fossa media sering ter'adi, karena daerah ini merupakan tempat
yangpaling lemah dari basis "ranii. e"ara anatomi kelemahan ini disebabkan oleh banyak nyaforamen dan
"analis di daerah ini. avum timpani dan sinus sphenoidalis merupakan daerah yang paling sering
terkena "edera. Bo"ornya * dan keluarnya darah dari "analis a"usti"us

e ternus sering ter'adi (otorrhea). -. "raniais // dan /// dapat "edera pada saat
ter'adi"edera pada pars perrosus os temporal. -. "ranialis///, / dan / dapat "edera bila dinding
lateral sinus "avernosus robek7.

Jenis Fraktur Basis Cranii


Fraktur Temporal,
dijumpai pada 75% dari semua fraktur basis cranii. Terdapat 3 suptipe dari fraktur temporal
berupa longitudinal, transversal dan mixed9. Tipe transversal dari fraktur temporal dan type
longitudinal fraktur temporal ditunjukkan di bawah ini.
AB
fraktur longitudinal terjadi pada regio temporoparietal dan melibatkan bagian squamousa
pada os temporal, dinding superior dari canalis acusticus externus dan tegmen timpani. Tipe fraktur ini dapat
berjalan dari salah satu bagian anterior atau posterior menuju cochlea dan labyrinthine

capsule, berakhir pada fossa cranii media dekat foramen spinosum atau pada mastoid air cells. fraktur
longitudinal merupakan yang paling umum dari tiga suptipe (70-90%). Fraktur transversal
dimulai dari foramen magnum dan memperpanjang melalui cochlea dan labyrinth, berakhir pada fossa
cranial media (5-30%). fraktur mixed memiliki unsur unsur dari kedua fraktur longitudinal dan
transversal.
namun sistem lain untuk klasifikasi fraktur os temporal telah diusulkan. sistem ini membagi
fraktur os temporal kedalam petrous fraktur dan nonpetrous fraktur,yang terakhir termasuk
fraktur yang melibatkan mastoid air cells. fraktur tersebut tidak disertai dengan deficit nervus
cranialis.
fraktur condylar occipital
, adalah hasil dari trauma tumpul energi tinggi dengan kompresiaksial, lateral bending, atau
cedera rotational pada pada ligamentum Alar. fraktur tipe ini dibagi men'adi 3 jenis berdasarkan
morfologi dan mekanisme cedera. Klasifikasi alternative membagi fraktur ini menjadi displaced dan
stable, yaitu, dengan dan tanpa cedera ligamen;;.Tipe / fraktur sekunder akibat kompresi
aksial yang mengakibatkan kombinasi dari kondilusoksipital. /ni merupakan 'enis "edera
stabil. Tipe // fraktur yang dihasilkan dari pukulanlangsung meskipun fraktur basio""ipital
lebih luas, fraktur tipe // diklasifikasikan sebagaifraktur yang stabil karena ligament alar dan
membrane te"torial tidak mengalami kerusakan.Tipe /// adalah "edera avulsi sebagai akibat rotasi
paksa dan lateral bending. ?al ini berpotensimen'adi fraktur tidak stabil;:.
Fraktur clivus
, digambarkan sebagai akibat ruda paksa energi tinggi dalamkecelakaan kendaraan
nbermotor. )ongitudinal, transversal, dan tipe obli*ue telahdideskripsikan dalam literatur. 'raktur
longitudinal memiliki prognosis terburuk,terutama bila melibatkan sistem vertebrobasilar. +e%sit
pada nervus cranial I dan II biasanya dijumpai pada fraktur tipe ini- .
manifestasi klinis
&asien dengan fraktur pertrous os temporal di'umpai dengan otorrhea dan memar padamastoids (battle
sign). &resentasi dengan fraktur basis "ranii fossa anterior adalah denganrhinorrhea dan
memar di sekitar palpebra (ra""oon eyes). Kehilangan kesadaran dan @lasgo3 oma "ale
dapat bervariasi, tergantung pada kondisi patologis intrakranial4.*raktur longitudinal os
temporal berakibat pada terganggunya tulang pendengaran danketulian konduktif yang
lebih besar dari : dB yang berlangsung lebih dari 6>7 minggu. tulisementara yang akan baik
kembali dalam 3aktu kurang dari minggu disebabkan karena

hemotympanum dan edema mukosa di fossa tympany. *a"ial palsy, nystagmus, dan fa"ialnumbness adalah
akibat sekunder dari keterlibatan nervus "ranialis , /, //.*raktur tranversal os temporal melibatkan
saraf "ranialis /// dan labirin, sehinggamenyebabkan nystagmus, ataksia, dan kehilangan pendengaran
permanen (
permanent neural hearing loss
)4.*raktur "ondylar os oksipital adalah "edera yang sangat langka dan serius;%. ebagian besarpasien
dengan fraktur "ondylar os oksipital, terutama dengan tipe ///, berada dalam keadaankoma dan terkait
"edera tulang belakang servikalis. &asien ini 'uga memperlihatkan "edera
lower cranial nerve
dan hemiplegia atau guadriplegia.
&indrom ernet atau sindrom foramen jugularis adalah keterlibatan nervuscranialis IX,
X, dan XI akibat fraktur. Pasien tampak dengan kesulitan fungsi fonasidan aspirasi dan
paralysis ipsilateral dari pita suara, palatum mole /curtain sign0,superior pharyngeal
constrictor, sternocleidomastoid, dan trape1ius. 2ollet3&icardsindrom adalah fraktur condylar
os oksipital dengan keterlibatan nervus cranial IX,X, XI, dan XII",-4

1. anatomi cranial base

www.britannica.com

2. Persiapan Pasien

Tidak memerlukan persiapan kusus, hanya melepas atau menyingkirkan benda yang dapat
mengganggu gambaran radiograf.

3. Teknik Pemeriksaan

Proyeksi Submentovertical (Schuller)

Posisi Pasien : Pasien diposisikan erect/supine

Posisi Objek : - atur IOML sejajar dengan kaset


- atur cranium pada pertengahan kaset
- pastikan nantinya tidak ada gambambaran yang terpotong

Central point (CP) : pertengahan, setinggi 2 cm di depan MAE

Central Ray (CR) : horisontal tegak lurus kaset

FFD : 100 cm

Kaset : 24x30cm

Kriteria Radiograf : - struktur dari cranial base tampak


- antara mental dan frontal saling superposisi
- mandibula condilus tampak
- tidak ada rotasi pada cranial base
- petrosa simetris

Proyeksi Verticosubmental (Schuller)


Posisi Pasien : Pasien diposisikan erect/sipine

Posisi Objek : - atur IOML sejajar dengan kaset


- atur cranium pada pertengahan kaset
- pastikan nantinya tidak ada gambambaran yang terpotong

Central point (CP) : pertengahan, setinggi 2 cm di depan MAE

Central Ray (CR) : horisontal tegak lurus kaset

FFD : 100 cm

Kaset : 24x30cm

Kriteria Radiograf : - struktur dari cranial base tampak


- antara mental dan frontal saling superposisi
- mandibula condilus tampak
- tidak ada rotasi pada cranial base
- petrosa simetris