You are on page 1of 8

HUBUNGAN ANTARA TEHNIK INSERSI DAN LOKASI PEMASANGAN

KATETER INTRAVENA DENGAN KEJADIAN PHLEBITIS


DI RSUD AMBARAWA

Ninik Lindayanti* Priyanto**


*Perawat RSUD Ambarawa Kabupaten Semarang
**Dosen STIKES Ngudi Waluyo Ungaran
*E-mail: priyanto_araaf@yahoo.co.id

ABSTRAK

Phlebitis merupakan inflamasi vena yang disebabkan oleh iritasi kimia maupun mekanik. Lokasi
pemasangan infus pada punggung tangan dapat mengganggu kemandirian pasien serta rentan terhadap
phlebitis. Tehnik insersi harus dilakukan observasi secara berkala sebagai upaya pencegahan terjadinya
phlebitis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tehnik insersi kateter intravena
dan lokasi pemasangan kateter intravena dengan kejadian phlebitis di RSUD Ambarawa.
Metode penelitian yang digunakan adalah korelatif dengan pendekatan kohort prospektif. Populasi
dalam penelitian ini adalah 425 pasien. Sampel diambil 81 tindakan keperawatan dengan tehnik purposive
sampling. Analisis data yang dilakukan adalah dengan uji Chi Square dan uji Kruskal Wallis.
Hasil penelitian didapatkan ada hubungan antara tehnik insersi kateter intravena dengan kejadian
phlebitis di RSUD Ambarawa (p value 0,027). Terdapat hubungan antara lokasi pemasangan kateter
intravena dengan kejadian phlebitis di RSUD Ambarawa (p value 0,007).
Saran bagi perawat untuk meningkatan kompetensi dalam melakukan tehnik insersi dan pemilihan
lokasi pemasangan kateter intravena untuk mengurangi terjadinya phlebitis. Bagi rumah sakit perlu
diadakan penyegaran tentang prosedur tindakan termasuk pemasangan kateter intravena untuk mencegah
terjadinya komplikasi tindakan yang mungkin terjadi. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang
pencegahan phlebitis.

Kata kunci: lokasi, tehnik insersi, phlebitis, kateter intravena


Daftar pustaka: 26 (2000-2012)
ABSTRACT

Phlebitis is vein inflammation caused by chemical or mechanical irritation. Infusion site on the
back of the hand may interfere with the independence of patients and prone to shifting. Insertion
technique should be observed regularly as a phlebitis prevention efforts. The objective of this research is
to determine the relation between insertion technique and the installation location of intravenous
catheter with the incidences of phlebitis intravenous in Ambarawa hospital.
The research method used correlative with prospective cohort approach. The Population of this
research was 425 patients. The samples were done on 81 nursing action cases with purposive sampling
technique. Data analysis was performed analysis with Chi Square test and Kruskal Wallis test.
The findings reveal at there is a relation between insertion technique of intravenous catheter with
the incidences of phlebitis at Ambarawa hospital (p value 0.027). There is a relation between the location
of intravenous catheter with the phlebitis incidences at the hospital (p value 0.007).
An advice for nurse is to increase competence of insertion technique and the site selection of
intravenous catheter to reduce the incidences of phlebitis. For hospital needs refresh about intravenous
procedurs to prevent complication. The next research about prevention phlebitis need to be done.

Keywords: location, insertion technique, phlebitis, intravenous catheters


References: 26 (2000-2012)

142 Jurnal Keperawatan Medikal Bedah . Volume 1, No. 2, November 2013; 142-149
Pendahuluan observasi secara berkala sebagai upaya
Lebih dari 80 % pasien rawat akut pencegahan terjadinya phlebitis. Penelitian
mendapatkan terapi intravena sebagai Prajoko (2007), faktor resiko terjadinya
bagian rutin dari perawatan di rumah sakit phlebitis pada pemasangan infus didapatkan
(Steven dan Anderson, 2003). Sistem terapi 24 penderita diamati selama 3 hari dalam
ini memungkinkan terapi berefek langsung, 15 hari terdapat 8 orang (33,33%) yang
lebih cepat, lebih efektif, dapat dilakukan menderita phlebitis dengan gejala klinis
secara kontinu dan penderitapun merasa (gatal, merah, bengkak, nyeri tekan, panas
lebih nyaman jika dibandingkan dengan > 38 derajat celcius).
cara lainnya. Penelitian Uslusoy dan Mete (2006)
Pemasangan terapi intravena tentang faktor predisposisi phlebitis pada
membutuhkan bantuan peralatan yang tetap pasien yang dipasang infus pada vena
tertanam pada tubuh pasien dalam waktu perifer didapatkan bahwa lokasi
yang lama sampai dinyatakan pemasangan pemasangan infus dengan infus pump dan
intravena tidak lagi diperlukan. Alat yang kateter intravena pada vena di sekeliling
tertanam pada tubuh pasien ini meskipun siku meningkatkan resiko phlebitis. Angka
telah dipertahankan tingkat sterilitasnya, kejadian phlebitis di RSUD Ambarawa
tetapi karena dalam jangka waktu yang sendiri selama bulan Juni 2012 didapatkan
lama tentunya akan meningkatkan angka 3,3% dari seluruh pasien yang
kemungkinan terjadinya komplikasi pada dirawat di Ruangan bedah (Cempaka).
lokasi pemasangan infus, salah satunya Keterlibatan perawat terkait
adalah phlebitis. dengan tindakan intravena sangat besar,
Selain pada lokasi pemasangan perawat terlibat mulai dari persiapan alat,
infus, kejadian plebitis juga dapat terjadi persiapan pasien, pemasangan kateter
karena tehnik pemasangan yang kurang intravena sampai dengan memonitor
memperhatikan tingkat sterilitas dan kelangsungan selama pasien terpasang
kenyamanan pasien. Tehnik pemasangan kateter intravena. Perawat perlu
kateter intravena yang tepat ada 2 metode mengidentifikasi kejadian phlebitis pada
yaitu pemasangan dengan jarum pasien yang terpasang kateter intravena
menghadap ke atas dari atas vena yang berdasarkan lokasi pemasangan, karena
lurus, memasukkan jarum antara ¼-1/2 kejadian phlebitis memiliki pengaruh
kemudian mendorong styletnya sampai terhadap kemampuan gerak ekstremitas,
stylet masuk semua ke dalam vena (Rocca, keefektifan pengobatan dan suplai cairan
1998). serta nutrisi bagi pasien selama menjalani
Phlebitis merupakan inflamasi vena masa perawatan. Berdasarkan latar
yang disebabkan oleh iritasi kimia maupun belakang tersebut, peneliti tertarik untuk
mekanik. Hal ini ditunjukkan dengan mengetahui hubungan antara lokasi
adanya daerah yang merah, nyeri dan pemasangan kateter intravena dengan
pembengkakan di daerah penusukan atau kejadian phlebitis di RSUD Ambarawa.
sepanjang vena. Insiden phlebitis
meningkat sesuai dengan lamanya Metode
pemasangan jalur intravena. Komplikasi Penelitian ini menggunakan metode
cairan atau obat yang diinfuskan (terutama penelitian kuantitatif dengan desain
PH dan tonisitasnya), ukuran dan tempat penelitian korelasional. Subyek penelitian
kanula dimasukkan. Kejadian phlebitis diobservasi dengan menggunakan
yang terjadi pada pasien dipengaruhi oleh rancangan kohort prospektif.
beberapa faktor (Steven & Anderson, 2003) Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah
antara lain jenis cairan, lokasi pemasangan tindakan yang dilakukan perawat dalam
dan tehnik insersi kateter intravena. pemasangan kateter intravena di ruang
Lokasi pemasangan infus pada rawat inap RSUD Ambarawa. Penelitian ini
punggung tangan dapat mengganggu dilaksanakan selama 5 minggu pada bulan
kemandirian pasien serta rentan terhadap Februari 2013 di ruang rawat inap RSUD
pergeseran. Tehnik insersi harus dilakukan Ambarawa. Sampel penelitian

Hubungan Antara Tehnik Insersi Dan Lokasi Pemasangan Kateter Intravena 143
dengan Kejadian Phlebitis di RSUD Ambarawa
Ninik Lindayanti, Priyanto
menggunakan penghitungan rumus Slovin yang dilakukan pemasangan kateter
sejumlah 81 kasus pemasangan kateter intra intravena dengan insersi tidak baik.
vena dengan teknik purposive sampling. 2. Gambaran Lokasi Pemasangan Kateter
Alat pengumpul data yang digunakan Intravena di RSUD Ambarawa.
adalah lembar observasi tentang teknik Tabel 5.2: Distribusi frekuensi lokasi
pemasangan kateter intravena dan lokasi pemasangan kateter
pemasangan kateter intravena yang meliputi intravena di RSUD
vena proksimal, vena medial dan vena Ambarawa.
distal. Lembar observasi plebitis yang Lokasi Frekuensi Persentase
pemasangan
dikembangkan sendiri oleh peneliti kateter intravena
berdasarkan teori yang digunakan dan telah Proksimal 3 3,7
dilakukan uji expert validity. Medial 54 66,7
Proses pengumpulan data dilakukan di Distal 24 29,6
ruang IGD dan dilakukan pengamatan Jumlah 81 100,0
sampai dengan pasien berada di ruangan
rawat inap. Tim peneliti secara bergantian Berdasarkan tabel 5.2 diketahui bahwa
melakukan proses pengambilan data lokasi pemasangan kateter intravena
dimulai dari mengamati tehnik insersi dan sebagian besar di vena medial yaitu
lokasi terpasangnya kateter intravena yang sebanyak 54 responden (66,7%),
dilakukan di IGD, dan penilaian kejadian pemasangan kateter intravena di vena
phlebitis dilakukan mulai hari pertama distal sebanyak 24 responden (29,6%)
pemasangan kateter intravena sampai dan sebanyak 3 responden (3,7%)
dengan hari ke 3 pada saat pasien berada di pemasangan kateter intravena di vena
ruang rawat inap. Uji analisis untuk proksimal.
mengetahui hubungan antara tehnik insersi 3. Gambaran Kejadian Phlebitis di RSUD
pemasangan kateter intravena terhadap Ambarawa.
kejadian phlebitis menggunakan uji kai Tabel 5.3: Distribusi frekuensi
kuadrat (chi-square) dan untuk mengetahui kejadian plebitis di RSUD
hubungan antara lokasi pemasangan kateter Ambarawa.
intravena terhadap kejadian phlebitis Kejadian 0-24 25-48 49-72 Total
digunakan uji Kruskal Wallis. Hasil uji plebitis jam jam jam
Kruskal Wallis digunakan derajat f % f % f % f %
kepercayaan (Confident Interval 95%), dan Tidak 79 97,5 78 96,3 75 92,6 70 86,4
phlebitis
batas kemaknaan alfa 5% (0,05).
Phlebitis 2 2,5 3 3,7 6 7,4 11 13,6
Jumlah 81 100,0 81 100,0 81 100,0 81 100,0
Hasil
1. Gambaran Tehnik Insersi Kateter
Berdasarkan tabel 5.3 diketahui bahwa
Intravena di RSUD Ambarawa
kejadian phlebitis pada hari pertama
pemasangan kateter intravena sebanyak
Tabel 5.1: Distribusi frekuensi tehnik
insersi kateter intravena di
2 kejadian phlebitis (2,5%). Kejadian
RSUD Ambarawa phlebitis pada hari kedua pemasangan
Tehnik insersi Frekuensi Persentase kateter intravena sebanyak 3 kejadian
Tidak baik 15 18,5 phlebitis (3,7%). Kejadian phlebitis
Baik 66 81,5 pada hari ketiga pemasangan kateter
Jumlah 81 100,0 intravena sebanyak 6 kejadian phlebitis
(7,4%). Secara keseluruhan kejadian
Berdasarkan tabel 5.1 diketahui bahwa phlebitis yang diamati dari 81
tehnik insersi pemasangan kateter responden terdapat 11 kejadian
intravena pada pasien di RSUD phlebitis (13,6%).
Ambarawa sebagian besar adalah baik
yaitu sebanyak 66 responden (81,5%)
dan sebanyak 15 responden (18,5%)

144 Jurnal Keperawatan Medikal Bedah . Volume 1, No. 2, November 2013; 142-149
4. Hubungan antara Tehnik Insersi Kateter banyak terjadi pada daerah vena distal
Intravena dengan Kejadian Phlebitis di sebanyak 5 responden (45,5%),
RSUD Ambarawa sedangkan kejadian tidak phlebitis
Tabel 5.4: Hubungan antara tehnik paling banyak pada lokasi pemasangan
insersi kateter intravena kateter intravena pada vena medial.
dengan kejadian phlebitis Hasil analisis statistik dengan
di RSUD Ambarawa menggunakan uji Kruskal Wallis
Phlebitis didapatkan nilai p sebesar 0,007 berarti
Tehnik Total p
Tidak Phlebitis OR
insersi value terdapat hubungan yang signifikan
f % F % f %
antara lokasi pemasangan kateter
Tidak 10 14,3 5 45,5 15 18,5 5,0 0,027
baik (1,2; intravena dengan kejadian phlebitis di
Baik 60 85,7 6 54,5 66 81,5 19,5) RSUD Ambarawa.
Jumlah 70 100,0 11 100,0 81 100,0
Berdasarkan tabel 5.4 diketahui bahwa Pembahasan
kejadian phlebitis pada pemasangan Berdasarkan hasil penelitian
kateter intravena dengan tehnik insersi diketahui bahwa kejadian phlebitis pada
kurang baik sebanyak 5 responden hari pertama pemasangan kateter intravena
(45,5%) sedangkan kejadian phlebitis sebanyak 2 kejadian phlebitis (2,5%).
pada pemasangan kateter intravena Kejadian plebitis pada hari kedua
dengan tehnik insersi baik sebanyak 6 pemasangan kateter intravena sebanyak 3
responden (54,5%). Kejadian tidak kejadian phlebitis (3,7%). Kejadian
phlebitis didapatkan pada 60 responden phlebitis pada hari ketiga pemasangan
(85,7%). Hasil analisis statistik dengan kateter intravena sebanyak 6 kejadian
menggunakan uji Chi Square phlebitis (7,4%). Secara keseluruhan
didapatkan nilai p sebesar 0,027 berarti kejadian phlebitis yang diamati dari 81
terdapat hubungan yang signifikan responden terdapat 11 kejadian phlebitis
antara tehnik insersi kateter intravena (13,6%).
dengan kejadian phlebitis di RSUD Hal ini dikarenakan pada pertama
Ambarawa. Hasil uji statistik juga kali penusukan terjadi kerusakan jaringan,
didapatkan nilai OR 5,0 artinya bahwa di mana apabila ada jaringan yang terluka
tehnik insersi yang baik memiliki atau terbuka akan memudahkan
peluang sebesar 5 kali untuk mencegah mikroorganisme masuk. Dengan masuknya
terjadinya phlebitis dibandingkan mikroorganisme tersebut maka tubuh akan
dengan tehnik insersi yang tidak baik. merespon dan ditandai adanya proses
5. Hubungan antara lokasi pemasangan inflamasi. Proses inflamasi yang merupakan
kateter intravena dengan kejadian reaksi tubuh terhadap luka dimulai setelah
phlebitis di RSUD Ambarawa beberapa menit dan berlangsung selama 3
Tabel 5.5: Hubungan antara lokasi hari setelah cedera (Potter & Perry, 2005)
pemasangan kateter Phlebitis dapat terjadi akibat tidak
intravena dengan kejadian adanya mekanisme untuk mempertahankan
phlebitis di RSUD lokasi insersi maupun tehnik insersi pada
Ambarawa pertama kali. Hasil penelitian ini sesuai
Phlebitis dengan hasil penelitian Pearson (2001)
Lokasi Total p
Tidak Phlebitis yang mengatakan bahwa insersi pada vena
pemasangan value
f % F % f % yang terpasang infus mempunyai resiko
Proksimal 1 1,4 2 18,2 3 3,7 0,007 terjadi plebitis. Kejadian phlebitis juga
Medial 50 71,4 4 36,4 54 66,7
Distal 19 27,1 5 45,5 24 29,6
dapat terjadi akibat perawatan kateter
Jumlah 70 100,0 11 100,0 81 100,0 intravena dengan tidak menggunakan kassa
antibiotik yang steril. Sesuai dengan
Berdasarkan tabel 5.5 diketahui bahwa penelitian Asrin, Triyanto, & Upoyo (2006)
kejadian phlebitis berdasarkan lokasi yang meemukan bahwa faktor-faktor yang
pemasangan kateter intravena paling mempengaruhi terjadinya phlebitis adalah
jenis, ukuran dan bahan kateter; lama waktu

Hubungan Antara Tehnik Insersi Dan Lokasi Pemasangan Kateter Intravena 145
dengan Kejadian Phlebitis di RSUD Ambarawa
Ninik Lindayanti, Priyanto
pemasangan; pemilihan tempat insersi; adanya mekanisme untuk mempertahankan
jenis penutup tempat penusukan (dressing); tehnik insersi pada pertama kali.
teknik insersi/penusukan; sterilitas Kejadian phlebitis terjadi
perawatan terapi intravena; cairan disebabkan karena tehnik insersi intravena
intravena; obat parenteral; dan frekuensi yang tidak dilakukan dengan benar dapat
perawatan terapi intravena, sedangkan menyebabkan perlukaan pada lokasi insersi
faktor paling dominan adalah lama yang dapat dijadikan sebagai port de entry
pemasangan kateter. bagi mikroorganisme. Adanya luka
Adanya bengkak, rasa nyeri dan menyebabkan mikroorganisme berkembang
merah pada area lokasi penusukan dan menyebabkan adanya tanda-tanda
merupakan respon inflamasi yang phlebitis yang ditunjukkan dengan adanya
menyebabkan ketidaknyamanan pada bengkak pada daerah pemasangan, teraba
responden. Ketidaknyamanan tersebut nyeri, kemerahan dan teraba hangat (Perry
membuat kondisi responden semakin buruk & Potter, 2005).
karena menambah penyakit yang Bengkak pada daerah pemasangan
dideritanya, sehingga perlu penanganan dari dan teraba nyeri yang terjadi muncul akibat
petugas kesehatan. Dalam hal ini sesuai aliran cairan infus tertahan pada daerah
dengan teori yang dikemukakan oleh insersi yang kemungkinan disebabkan oleh
Aryani, et al., (2009) bahwa kejadian karena perubahan posisi abocath dalam
phlebitis pada skala 2 memiliki tanda gejala pembuluh darah vena. Sedangkan nyeri
nyeri, bengkak dan terdapat eritema di area muncul akibat adanya bengkak pada daerah
penusukan. insersi infus. Kemerahan serta teraba
hangat merupakan tanda peradangan lanjut
Hubungan antara Tehnik Insersi Kateter setelah bengkak dan nyeri. Kemerahan serta
Intravena dengan Kejadian Phlebitis di teraba hangat merupakan indikasi telah
RSUD Ambarawa terjadinya peradangan dalam waktu yang
lama (Prajoko, 2007).
Berdasarkan hasil penelitian diketahui Selain teknik insersi kateter
bahwa kejadian phlebitis pada pemasangan intravena yang mempengaruhi tingginya
kateter intravena dengan tehnik insersi angka kejadian phlebitis di RSUD
kurang baik sebanyak 5 responden (45,5%) Ambarawa yaitu jenis kateter intravena
sedangkan kejadian phlebitis pada yang bervariatif, lama pemasangan kateter
pemasangan kateter intravena dengan intravena yang seharusnya minimal 72 jam
tehnik insersi baik sebanyak 6 responden tetapi ada sebagian yang lama
(54,5%). Kejadian tidak phlebitis pemasangannya lebih dari 72 jam, jarang
didapatkan pada 60 responden (85,7%). dilakukanya perawatan terapi intravena.
Hasil analisis statistik dengan Sesuai dengan penelitian Asrin, Triyanto, &
menggunakan uji chi square didapatkan Upoyo (2006) yang menemukan bahwa
nilai p sebesar 0,027 berarti terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi
hubungan yang signifikan antara tehnik terjadinya phlebitis adalah jenis, ukuran dan
insersi kateter intravena dengan kejadian bahan kateter; lama waktu pemasangan;
phlebitis di RSUD Ambarawa. Hasil uji pemilihan tempat insersi; jenis penutup
statistik juga didapatkan nilai OR 5,0 tempat penusukan (dressing); teknik
artinya bahwa tehnik insersi yang baik insersi/penusukan; sterilitas perawatan
memiliki peluang sebesar 5 kali untuk terapi intravena; cairan intravena; obat
mencegah terjadinya phlebitis dibandingkan parenteral; dan frekuensi perawatan terapi
dengan tehnik insersi yang tidak baik. intravena, sedangkan faktor paling dominan
Hasil penelitian ini sesuai dengan adalah lama pemasangan kateter.
hasil penelitian Pearson (2001) yang Hal yang sama juga dikemukakan
mengatakan bahwa insersi pada vena yang oleh Rocca (2007) perlu diperhatikan dalam
terpasang infus mempunyai resiko terjadi pemasangan infus antara lain: usia, pada
phlebitis. Phlebitis dapat terjadi akibat tidak lanjut usia (lansia) vena menjadi lebih
rapuh, tidak elastis dan mudah hilang

146 Jurnal Keperawatan Medikal Bedah . Volume 1, No. 2, November 2013; 142-149
(kolaps) serta struktur anatomi vena relatif aman dan mudah dimasuki &
mempengaruhi dalam pemberian terapi sebaliknya pada vena ekstremitas bawah /
intravena karena proses perubahan vena-vena kaki sangat jarang digunakan
fisiologis dengan bertambahnya usia; kalaupun pernah digunakan karena resiko
ukuran jarum atau abocath, dalam tinggi terjadi tromboemboli, dikarenakan
penggunaan jarum disesuaikan dengan bengkak pada pembuluh vena terjadi akibat
kebutuhan pasien biasanya pada dewasa infus yang dipasang tidak dipantau terlalu
nomor 24-26 dan pada anak-anak nomor ketat dan benar dan karena masuknya udara
22-24; jenis cairan, dalam larutan cairan kedalam sirkulasi darah, terjadi akibat
infus memiliki osmolaritas yang berbeda masuknya udara yang ada dalam cairan
sehingga kebutuhan jenis cairan infus kedalam pembuluh darah.
disesuaikan dengan kebutuhan pasien; Phlebitis dapat terjadi karena
rotasi tempat penusukan, tempat pungsi berbagai faktor yaitu: pemilihan vena yang
vena perlu diganti setiap 48-72 jam atau terlalu dekat dengan pergelangan tangan
diganti jika terjadi kemerahan, nyeri tekan, yang memudahkan untuk terjadinya aliran
yang bertujuan untuk mengurangi balik darah sehingga terjadi phlebitis atau
kemungkinan terjadi phlebitis. mudahnya kateter infus untuk bergerak dan
terlepas. Hal ini dijelaskan oleh Potter dan
Hubungan antara Lokasi Pemasangan Perry (2010) bahwa posisi ekstremitas yang
Kateter Intravena dengan Kejadian berubah, khususnya pada pergelangan
Phlebitis di RSUD Ambarawa tangan atau siku dapat mengurangi
kecepatan aliran infus dan mempengaruhi
Berdasarkan hasil penelitian aliran dalam darah. Penggunaan vena
diketahui bahwa kejadian phlebitis sefalika (lokasi jauh dari pergelangan
berdasarkan lokasi pemasangan kateter tangan) lebih baik untuk digunakan.
intravena paling banyak terjadi pada daerah Hasil penelitian ini sepaham dengan
vena distal sebanyak 5 responden (45,5%), hasil penelitian Pearson (1995) yang
sedangkan kejadian tidak phlebitis paling mengatakan bahwa insersi pada vena
banyak pada lokasi pemasangan kateter ekstremitas bawah (distal) mempunyai
intravena pada vena medial. Hasil analisis resiko terjadi phlebitis lebih besar daripada
statistik dengan menggunakan uji Kruskal insersi pada vena ekstremitas atas.
Wallis didapatkan nilai p sebesar 0,007 Ruswoko (2005), mengemukakan letak
berarti terdapat hubungan yang signifikan vena mempunyai hubungan yang signifikan
antara lokasi pemasangan kateter intravena dengan kejadian phlebitis disebabkan vena
dengan kejadian phlebitis di RSUD metacarpal (vena distal) letaknya lebih
Ambarawa. Hal ini sesuai dengan teori dekat dengan persendian dan mudah untuk
Rocca (2007) bahwa pemilihan lokasi digerakkan sehingga terjadi gesekan
penusukan yaitu vena yang akan digunakan dinding vena oleh kateter intravena, hal ini
untuk memasukkan jarum atau abocath juga sering terjadi pada pemasangan vena
mempengaruhi terjadinya kejadian ekstremitas atas yang sering terpasang infus
phlebitis. dekat persendian.
Hal ini terjadi karena vena Menurut Perry dan Potter (2005),
ekstremitas atas bagian distal mudah terjadi tempat atau lokasi vena perifer yang sering
phlebitis sehingga pemasangan infus pada digunakan pada pemasangan infus adalah
vena ekstremitas atas bagian distal jarang vena supervisial atau perifer kutan terletak
dilakukan karena untuk mengurangi resiko di dalam fasia subcutan dan merupakan
tinggi terjadi phlebitis. Menurut Steven & akses paling mudah untuk terapi intravena.
Anderson (2003) menyatakan bahwa Daerah tempat infus yang memungkinkan
banyak tempat yang dapat digunakan untuk adalah permukaan dorsal tangan (vena
terapi intravena. Tetapi kemudahan akses & supervisial dorsalis, vena basalika, vena
potensi bahaya berbeda diantara tempat- sefalika), lengan bagian dalam (vena
tempat ini vena-vena ekstremitas atas basalika, vena sefalika, vena kubital
paling sering digunakan karena vena ini median, vena median lengan bawah, dan

Hubungan Antara Tehnik Insersi Dan Lokasi Pemasangan Kateter Intravena 147
dengan Kejadian Phlebitis di RSUD Ambarawa
Ninik Lindayanti, Priyanto
vena radialis), permukaan dorsal (vena Terhadap Waktu Terjadinya
safena magna, ramus dorsalis). Plebitis. Jurnal Keperawatan
Indonesia, vol (1) 1 – 5.
Kesimpulan Hidayat, A, (2005), Buku saku: praktikum
Dari 81 responden yang diamati terdapat 11 kebutuhan dasar manusia. Jakarta:
kejadian phlebitis (13,6%). Kejadian EGC
phlebitis pada hari pertama pemasangan Nurachmah, (2000), Buku saku: prosedur
kateter intravena sebanyak 2 kejadian keperawata medikal bedah. Jakarta:
(2,5%). 3 kejadian phlebitis (3,7%) pada GC
hari kedua dan 6 kejadian phlebitis (7,4%) Nursalam, (2003), Konsep dan praktik
pada hari ketiga. pendekatan metodologi penelitian,
Ada hubungan yang signifikan antara Salemba Medika, Jakarta.
tehnik insersi kateter intravena dengan Polit & Hungler (2007), Nursing research
kejadian phlebitis di RSUD Ambarawa (p design, Mosby Company, USA
value 0,027) dan ada hubungan yang Polit, Beck dan Hungler (2012), Nursing
signifikan antara lokasi pemasangan kateter research design, Mosby Company,
intravena dengan kejadian phlebitis di USA
RSUD Ambarawa (p value 0,007). Potter P.A., & Perry, A.G., (2005), Buku
Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan saku: ketrampilan & prosedur
perlunya penyelenggaraan peningkatan dasar. Alih bahasa: Yasmin Asih,
kompetensi terhadap tehnik insersi dan dkk, Edisi 5. Jakarta: EGC.
pemilihan lokasi pemasangan kateter Prajoko, Rino tri. 2007. Faktor Resiko
intravena untuk mengurangi terjadinya Terjadinya Plebitis pada
phlebitis serta sosialisasi tentang tehnik Pemasangan Infus di ruang Rawat
insersi dan lokasi pemasangan kateter Inap RS PKU Muhammadiyah
intravena terkait dengan hasil-hasil Gombong. Stikes Muhammadiyah
penelitian tentang kejadian plebitis, Gombong.
sehingga kejadian plebitis dapat dikurangi Rocca, et.al., (2007), Seri pedoman praktis:
dan dicegah. terapi intravena. Alih Bahasa: Anik
Maryunani, Edisi 2. Jakarta: EGC
Ucapan Terima Kasih Sabri, L., & Hastono, SP., (2010), Statistik
Ketua STIKES Ngudi Waluyo; Direktur analisa kesehatan, Rajawali Press,
RSUD Ambarawa, Kepala Ruang beserta Jakarta.
tim Perawat Ruang UGD dan Rawat Inap Slim, A. M, Roth, J.E, Dufiy, B. Boyd SY,
RSUD Ambarawa Kabupaten Semarang. and Rubal, BJ, (2007), The
Incidence of Phlebitis with
Referensi Intravenous Amiodarone at
Banks & Meadows, (2005), The Guideline Dose Recommendations,
management of short saphenous MILITARY MEDICINE, 172,
varicose veins: a survey of the 12:1275, 2007
members of the vascular surgical Stevens & Anderson (2003). The Practice
society of Great Britain and of intravenous therapy improved
Ireland. Eur J Vasc Endovasc through research utilization.
Surg.;28(4):400-403. Sugiyono, (2006), Statistik untuk penelitian,
Baranowsky, S., et. al., (2004), Nursing Bandung, Alfabeta.
prosedures. 4th edition. USA: Suharsimi, A., (2006), Prosedur penelitian
Lippincoth William & Wilkins suatu pendekatan praktek, Jakarta,
Dahlan, S., (2009), Statistik kedokteran dan Penerbit Rineka Cipta.
kesehatan, Salemba Medika, Swearingen, P. et al., (2001), Seri pedoman
Jakarta praktis: keseimbangan cairan,
Gayatri, D dan Handayani, H. (2007). elektrolit dan asam basa. Edisi 2.
Hubungan Jarak Pemasangan Jakarta: EGC
Terapi Intravena dari Persendian

148 Jurnal Keperawatan Medikal Bedah . Volume 1, No. 2, November 2013; 142-149
Uslusoy, E., & Mete, S., (2006), Wahyuningsih, T., (2011), Pengaruh
Predisposing factors to phlebitis in perawatan infus terhadap kejadian
patients with peripheral plebitis di RSUD Ambarawa
intravenous catheters: A Waitt & Waitt, (2004), Endovenouslaser
descriptive study, Health Science ablation of the small saphenous
Institute, Dokuz Eylul University, vein: prospective analysis of 150
Balcxova, Izmir, Turkey, Journal of patients, a cohort study. Eur J Vasc
the American Academy of Nurse Endovasc Surg.;38(2):199-202.
Practitioners 20. Weinstein, S., (2001), Buku saku: terapi
intravena. Edisi 2. Jakarta: EGC

Hubungan Antara Tehnik Insersi Dan Lokasi Pemasangan Kateter Intravena 149
dengan Kejadian Phlebitis di RSUD Ambarawa
Ninik Lindayanti, Priyanto