You are on page 1of 9

ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PHLEBITIS

PADA PASIEN YANG TERPASANG INFUS DI RUANG MEDIKAL CHRYSANT


RUMAH SAKIT AWAL BROS PEKANBARU

Chandra Agustini (1) Wasisto Utomo 2)Agrina (3)

Program Studi Ilmu Keperawatan


Universitas Riau
Email: Chandra agustini @mail.com

Abstract

This research intends to analyze and find out about factors of phlebitis incidence for infused patient. For that purpose, this
research use correlation description as research method and cross sectional as observation method. This research is
conducted in Chrysant Medical Hospitalization room, Awal Bros Hospital, Pekanbaru by involving 92 respondents, using
purposive sample as sampling method, and observation sheet as measuring instrument. The method of analysis used in this
research is both univariate and bivariate data. The result of this test analysis research shows that there is relationship between
age and intravenous fluids towards phlebitis with significant influence p value = 0.000, in which elderly and hypertonic fluids
affect the phlebitis. Meanwhile, dressing and morbidities are not associated significantly by phlebitis with p value = 0.643
and p value = 1.00. The result of this research is expected to be reference for hospital, particularly for medical personnel in
order to keep consistent implementing procedure and policy ever been applied to prevent phlebitis incidence.

Key words: phlebitis, age, fluid, dressing, and morbidities.


References: 45 (2000-2013)

PENDAHULUAN yaitu menurunkan angka kejadian phlebitis yang


Infeksi nosokomial adalah adanya infeksi ada di Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru.
yang tampak pada pasien ketika berada di rumah Di Indonesia belum ada angka yang
sakit atau ketika berada di fasilitas kesehatan pasti tentang prevalensi kejadian phlebitis,
lainnya, dimana infeksi tersebut tidak tampak mungkin disebabkan penelitian yang berkaitan
pada saat pasien diterima di rumah sakit. dengan terapi intravena dan publikasinya masih
Phlebitis merupakan Infeksi nosokomial yaitu jarang. Menurut Depkes RI Tahun 2006 dikutip
infeksi oleh mikroorganisme yang dialami oleh Wijayasari jumlah kejadian Infeksi nosokomial
pasien yang diperoleh selama dirawat di rumah berupa phlebitis di Indonesia sebanyak
sakit diikuti dengan manifestasi klinis yang (17,11%). Sejalan dengan penelitian yang
muncul sekurang-kurangnya 3x24 jam (Darmadi, dilakukan di RSCM Jakarta, sebanyak 109
2008). pasien yang mendapat cairan intravena,
Pencegahan infeksi umumnya bergantung ditemukan 11 kasus phlebitis, dengan rata-rata
pada penempatan pembatas antara orang yang kejadian 2 hari setelah pemasangan, area
rentan dan mikroorganisme. Pembatas pelindung pemasangan di vena metacarpal, dan jenis cairan
adalah proses-proses fisikal, mekanikal atau yang digunakan adalah kombinasi antara Ringer
kimiawi yang dapat membantu mencegah Laktat dan Dekstrosa 5%, (Pujasari, 2002).
penyebaran mikroorganisme infeksi dari: orang Angka tersebut memang tidak terlalu besar
ke orang (pasien, klien, atau petugas kesehatan); namun masih di atas standard yang ditetapkan
dan atau peralatan, instrumen, dan permukaan oleh Intravenous Nurses Society (INS) 5%.
lingkungan sekitar manusia (Tietjen, 2004). Hasil studi pendahuluan melalui observasi
Menurut Awal Bros Hospital Group yang dilakukan peneliti dibantu oleh petugas
(2010), dalam membangun budaya keselamatan Infection Prevention and Control Nurse (IPCN)
di rumah sakit harus mengutamakan keselamatan Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru dari tanggal
pasien dengan memperhatikan aspek-aspek 1 sampai 31 mei 2013 yang penulis lakukan
seperti safe culture (budaya keselamatan), safe diruang Chrysant Rumah Sakit Awal Bros
care (perawatan yang aman), safe staff (staf yang Pekanbaru ditemukan kejadian phlebitis dari
aman), safe support system (sistem pendukung pasien yang telah dipasang infus terdapat
yang aman), safe place (tempat yang aman), safe 27 pasien yang mengalami phlebitis dari 145
patient (pasien yang aman). Rumah Sakit Awal pasien yang terpasang infus atau sekitar 18,6%,
Bros adalah rumah sakit yang sangat yang sudah menampakan adanya tanda-tanda
memperhatikan mutu pelayanan, salah satunya
plebitis seperti bengkak disekitar tusukan jarum peningkatan mutu pelayanan di rumah sakit
infus, kemerahan dan nyeri disepanjang vena. menjadi lebih baik.
Pemantauan indikator kejadian infeksi 3. Manfaat bagi pasien
Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru diantaranya Diharapkan angka kejadian phlebitis
adalah kejadian phlebitis, pada tahun 2012 bisa menurun sehingga jumlah hari rawat
ditemukan kasus phlebitis sebanyak 435 orang pasien bisa berkurang yang akan berefek
dari 15705 orang yang terpasang infus, atau langsung terhadap biaya pengobatan.
sekitar 2,76%, sedangkan antara bulan Januari 4. Manfaat bagi penelitian berikutnya
sampai dengan bulan April 2013 ditemukan 381 Hasil penelitian ini dapat dijadikan
kasus dari 5656 pasien yang terpasang infus atau sebagai data, informasi dasar, dan evidence
sekitar 6,7%, data ini menunjukkan peningkatan based untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut
yang cukup signifikan.
Karakteristik angka kejadian phlebitis yang METODOLOGI PENELITIAN
terjadi berdasarkan penyebabnya masih variatif, Desain; penelitian adalah deskripsi
penyebab yang sering terjadi pada pasien sering korelasi, yaitu mengetahui dan menganalisa
dipengaruhi diantaranya adalah faktor usia, faktor-faktor yang berhubungan dengan
penyakit kronis (misal diabetes mellitus, kejadian phlebitis pada pasien yang terpasang
hipertensi, gagal ginjal kronik, kanker), jenis infus.
cairan yang diberikan (osmolaritas cairan), juga Sampel: Metode pengambilan sampel yang
teknik pemasangan yang salah serta masih digunakan dalam penelitian ini adalah
ditemukan petugas yang tidak melakukan purpossive sampling . Menurut Putra (2012),
dressing atau perawatan luka infus yang jumlah sampel dapat dihitung menggunakan
seharusnya dilakukan setiap hari. tabel Krecjie dengan tingkat derajat kepercayaan
Berdasarkan hal tersebut di atas peneliti 95% atau tingkat penyimpangan kesalahan
tertarik untuk meneliti dan menganalisa tanda penelitian yang dikehendaki sebesar 0,05 (5%)
dan gejala lebih lanjut tentang faktor-faktor dengan jumlah populasi 120 maka ditetapkan
yang berhubungan dengan kejadian phlebitis sebanyak 92 sampel.
pada pasien yang terpasang infus di ruang rawat Instrument: Alat pengumpul data yang
inap medikal Chrysant Rumah Sakit Awal Bros digunakan adalah lembar observasi.
Pekanbaru. Analisa Data: analisis yang digunakan
adalah univariat dan bivariat. Univariat
TUJUAN PENELITIAN digunakan untuk menjelaskan atau
Mengetahui dan menganalisa faktor-faktor mendiskripsikan karakteristik setiap variabel
yang berhubungan dengan kejadian phlebitis independen yaitu osmolaritas atau jenis cairan,
pada pasien yang terpasang infus di ruang rawat usia, perawatan balutan atau aseptic dressing dan
inap medikal Chrysant Rumah Sakit Awal Bros faktor penyakit penyerta dan kejadian phlebitis.
Pekanbaru Analisa bivariat digunakan untuk mencari
hubungan antara data satu variabel independen
MANFAAT PENELITIAN dengan variabel dependen yang berupa data
1. Manfaat bagi perkembangan ilmu kategorik, dianalisa hubungan dengan
keperawatan menggunakan uji Chi- Square.
Merupakan masukan bagi perawat
dalam bekerja untuk selalu mengutamakan HASIL PENELITIAN
keselamatan pasien, bekerja sesuai standar Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
operasional prosedur sehingga angka terhadap 92 orang responden tentang analisis
kejadian phlebitis bisa diturunkan, selain itu faktor yang berhubungan dengan kejadian
juga dapat menambah informasi atau phlebitis pada pasien yang terpasang infus di
wawasan ilmu pengetahuan tentang faktor- ruang rawat inap medikal Chrysant Rumah Sakit
faktor yang berhubungan dengan angka Awal Bros Pekanbaru, dapat diperoleh analisa
kejadian phlebitis. hasil sebagai berikut:

2. Manfaat bagi rumah sakit


Merupakan masukan bagi manajemen Tabel 1
Distribusi frekuensi berdasarkan faktor yang
Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru dalam mempengaruhi phlebitis responden
No Karakteristik Frekuensi Persentase Tabel 5
Responden (Orang) (%) Distribusi frekuensi phlebitis dengan penyakit penyerta
1 Usia Plebitis
a. Remaja 6 6,5 Penyakit Tidak Total p
Ada
b. Dewasa 49 53,3 Peyerta Ada value
c. Lansia 37 40,2 F % F % F %
2 Cairan Tidak 45 78,9 12 21,1 57 100
a. Isotonik 67 72,8
b. Hipotonik 1 1,1 Ya 27 77,1 8 22,9 35 100 0,643
c. Hipertonik 24 26,1
3 Dressing Total 72 78,3 20 21,7 92 100
a. Tidak 7 7,6
b. Ya 85 92,4 PEMBAHASAN
4 Penyakit penyerta
Analisa Univariat
a. Tidak 57 62
1. karakteristik Responden
b. Ya 35 38
5 Phlebitis
a. Tidak 72 78,3 Umur
b. Ya 20 21,7 Berdasarkan hasil penelitian didapatkan
6 Derajat Plebitis data bahwa mayoritas responden berusia dewasa
a. Derajat 1 20 100 yaitu sebanyak 49 responden (53,3%). Menurut
Notoatmodjo (2005), usia adalah umur individu
Tabel 2 yang terhitung mulai dari dilahirkan sampai saat
Distribusi frekuensi phlebitis dengan usia berulang tahun. Usia adalah jumlah hari, bulan,
p tahun yang telah dilalui sejak lahir sampai waktu
Plebitis Total
Kategori value
Usia Tidak Ya
tertentu. Usia juga bisa diartikan sebagai satuan
F % F % F % waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu
Remaja 6 100 0 0 6 100 benda atau makhluk baik yang hidup maupun
Dewasa 46 93,9 3 6,1 49 100 yang mati.
0,000 Seiring dengan penambahan usia maka
Lansia 20 54,1 17 45,9 37 100
Total 72 78,3 20 21,7 92 100 akan terjadi berbagai perubahan fungsi tubuh
baik secara fisik, biologis, psikologi dan sosial.
Tabel 3 Salah satu perubahan fisik tersebut adalah
Distribusi frekuensi phlebitis dengan dressing penurunan sistem imun tubuh. Sistem imunitas
Plebitis tubuh memiliki fungsi yaitu membantu
Tidak Total p mencegah infeksi yang disebabkan oleh jamur,
Dressing Ada
Ada value bakteri, virus, dan organisme lain serta
F % F % F % menghasilkan antibodi (sejenis protein yang
Tidak 5 71,4 2 28,6 7 100
Ya 67 78,8 18 21,2 85 100 0,643
disebut imunoglobulin) untuk memerangi
Total 72 78,3 20 21,7 92 100 serangan bakteri dan virus asing ke dalam tubuh
(Fatmah, 2006).
Tabel 4 Fungsi sistem imunitas tubuh
Distribusi frekuensi phlebitis dengan cairan (immunocompetence) menurun sesuai umur, hal
p ini bukan berarti manusia lebih sering terserang
Plebitis Total
value penyakit, tetapi saat menginjak usia tua maka
Cairan
Tidak Ya
F % F % F %
resiko kesakitan meningkat seperti penyakit
Isotonik 60 89,6 7 10,4 67 100 infeksi, kanker, kelainan autoimun, atau
Hipotonik 1 100 0 0 1 100
penyakit kronik (Fatmah, 2006).
0,000 Tidak hanya fungsi imunitas tubuh yang
Hipertonik 11 45,8 13 54,2 24 100
menurun perubahan vena juga terjadi seiring
Total 72 78,3 20 21,7 92 100
dengan peningkatan usia dimana pasien yang
usianya >60 tahun, memiliki vena yang bersifat
rapuh, tidak elastis dan mudah hilang (kolap),
sedangkan pada pasien anak vena lebih bersifat
kecil, elastis dan mudah hilang (kolap) hal inilah
yang nantinya akan mempengaruhi kejadian
phlebitis pada seseorang (Potter & Perry 2005).
Dressing perifer berkurang sehingga jika terdapat luka
Dressing (perawatan infus) tindakan yang mudah mengalami infeksi. Berdasarkan hasil
dilakukan dengan mengganti balutan/plester penelitian didapatkan data bahwa sebagian kecil
pada area insersi. Aseptik dressing/perawatan responden memiliki penyakit penyerta yaitu
infus adalah perawatan pada tempat pemasangan sebanyak 35 responden (38%). Penyakit penyerta
infus terhadap pasien yang terpasang infus. yang diderita oleh pasien dalam penelitian ini
Frekuensi penggantian balutan ditentukan oleh adalah penyakit Diabetes Mellitus, kanker,
kondisi kulit klien yang terpasang infus. hipertensi dan gagal ginjal.
Dressing dipantau merupakan untuk memastikan
tetap kering, tertutup dan utuh. Dressing yang Phlebitis
utuh berarti pinggir-pinggirnya rapat ke kulit. Phlebitis merupakan masalah yang serius
Jika dressing lembab atau integritasnya tidak tetapi tidak menyebabkan kematian karena dapat
baik maka harus segera diganti. Dewasa ini ada merugikan pasien dengan menambah kesakitan
dressing transparan dan memiliki keuntungan pada pasien dan semakin tingginya biaya karena
cepat mendeteksi tanda dini phlebitis dan lamanya perawatan di rumah sakit (Aryani, 2009
infiltrasi (Otsuka, 2010). dalam Nurjanah, Kristiyawati dan Solechan,
Menurut Smeltzer and Bare (2002), 2011). Menurut data surveilans World Health
penggantian balutan dilakukan tiap hari, tapi saat Organisation (WHO) dinyatakan bahwa angka
ini telah dikurangi menjadi 48 sampai 72 jam kejadian infeksi nosokomial cukup tinggi yaitu
sekali yakni bersamaan dengan penggantian 5% per tahun, 9 juta orang dari 190 juta pasien
daerah pemasangan IV. Aseptik dressing yang yang di rawat di rumah rumah sakit. Penelitian di
pernah dilakukan di ruang rawat inap Brigman Young University tahun 2007
anak RSUD Syamrabu Bangkalan adalah tiap 48 menunjukkan tingkat kejadian phlebitis 5,79%
jam sekali. dari 432 pasien (Zarate, 2007 dalam Nurjanah,
Menurut Terry (2005) yang berkontribusi Kristiyawati dan Solechan, 2011). Berdasarkan
terhadap adanya phlebitis adalah frekuensi hasil penelitian didapatkan data bahwa terdapat
penggantian balutan yang jarang dilakukan yang beberapa responden yang mengalami phlebitis
dapat mengakibatkan kurangnya observasi pada yakni sebanyak 20 responden (21,7%). Skor
lokasi pemasangan sehingga kurang perhatian phlebitis yang ditemui dalam penelitian ini
pada gejala awal dari phlebitis. Berdasarkan semuanya berada pada skor 1 dengan kriteria
hasil penelitian didapatkan data bahwa mayoritas kulit sekitar lokasi insersi kemerahan dan
responden mendapatkan dressing yaitu sebanyak kadang disertai rasa nyeri.
85 responden (92,4%).
Analisa Bivariat
Cairan
Pemberian cairan intravena adalah Usia
pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh Berdasarkan hasil penelitian didapatkan
masuk ke pembuluh darah vena untuk data bahwa responden yang sering mengalami
memperbaiki atau mencegah gangguan cairan phlebitis berada pada rentang usia lansia yaitu
dan elektrolit, darah, maupun nutrisi (Perry & sebanyak 17 orang (85%) dan dewasa yaitu
Potter, 2006). Pemberian cairan intravena sebanyak 3 orang (15%) sedangkan pada remaja
disesuaikan dengan kondisi kehilangan cairan tidak terdapat kejadian phlebitis, dengan
pada klien, seberapa besar cairan tubuh yang pengaruh bermakna yakni p value= 0,000. Hal
hilang. Pemberian cairan intravena merupakan tersebut menginformasikan bahwa terdapat
salah satu tindakan invasif yang dilakukan hubungan antara kategori peningkatan usia
oleh tenaga kesehatan. Berdasarkan hasil dengan phlebitis. Hal ini sesuai dengan
penelitian didapatkan data bahwa sebagian besar pernyataan bahwa pertahanan terhadap infeksi
responden mendapatkan cairan isotonik yaitu dapat berubah sesuai usia. Lansia mengalami
sebanyak 67 orang (72,8%) perubahan dalam struktur dan fungsi kulit seperti
turgor kulit menurun dan epitel menipis, akibatnya
Penyakit Penyerta kulit menjadi lebih mudah abrasi atau luka. Pada
Penyakit yang diderita pasien dapat usia lanjut ( >60 tahun) vena menjadi rapuh, tidak
mempengaruhi terjadinya phlebitis, misalnya pada elastis dan mudah hilang (kolaps), pasien anak
pasien Diabetes Mellitus yang mengalami vena yang kecil dan keadaan yang banyak bergerak
aterosklerosis akan mengakibatkan aliran darah ke dapat mengakibatkan kateter bergeser dan hal ini
yang bisa menyebabkan phlebitis (Darmawan, bahwa tidak terdapat hubungan antara dressing
2008). dengan phlebitis. Data ini didukung oleh
Kejadian phlebitis didahului dengan adanya tingginya angka dressing dalam penelitian,
thrombus yang ada di dinding vena. Kejadian dimana perawat dalam rumah sakit ini telah
thrombus pada vena meningkat pada usia > 40 berupaya memaksimalkan untuk
tahun. Usia dianggap sebagi suatu faktor resiko membudidayakan dressing sebagai rutinitas
terjadinya thrombus. Diperkirakan keadaan dalam perawatan sehari-hari. Tidak hanya itu
hiperkoagulasi meningkat dengan berbanding lurus saja, penyebab terjadinya phlebitis pada pasien
usia yang disebabkan oleh peningkatan aktivasi sebenarnya tidak hanya di karenakan oleh
koagulasi dan faktor degenerasi sel-sel tubuh dressing saja namun bisa juga berasal dari
(Bakta, 2007).
tingkat usia, cairan, penyakit penyerta, status
Hasil penelitian ini sesuai dengan
gizi, stress, jenis kelamin, kepatuhan klien dan
penelitian yang telah dilakukan oleh Nurjannah,
sebagainya (Gayatri & Handayani, 2006)
Kristiyawati dan Solihin (2011) di Ruang Rawat
Menurut penelitian Jarumiyati (2009),
Inap Dewasa RSUD Tugurejo (n=70) didapatkan
dressing tidak ada kaitannya dengan phlebitis,
nilai p value = 0,000. Hasil analisa multivariat
sebenarnya hubungan antara lama pemasangan
yang dilakukan tidak hanya pada usia namun
kateter intravenalah yang mempengaruhi
juga pada lokasi penusukan, jenis cairan dan hari
kejadian phlebitis pada pasien dewasa rawat inap
infeksi menunjukkan bahwa terdapat hubungan
di Bangsal Menur dan Bakung RSUD Wonosari,
antara usia, lokasi penusukan, jenis cairan dan
ini dibuktikan dengan nilai korelasinya 0,007.
hari infeksi dengan kejadian phlebitis pada
Begitu juga dengan penelitian Pasaribu, (2006),
pasien Ruang Rawat Inap Dewasa RSUD
di Rumah Sakit Haji Medan menyimpulkan
Tugurejo Semarang.
bahwa yang paling dominan menimbulkan
kejadian phlebitis adalah sikap perawat yang
Dressing kurang baik pada saat melaksanakan
Dressing (perawatan infus) adalah suatu
pemasangan infus (OR=2.771) bukan proses
upaya atau cara untuk mencegah masuknya
perawatan infusnya.
mikroorganisme pada vaskuler sehingga tidak
menimbulkan terjadinya infeksi saat terpasang
Cairan
infus dengan cara: mencuci tangan, memakai
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan data
sarung tangan, membasahi plaster dengan
bahwa responden yang mengalami phlebitis
alkohol dan buka balutan dengan menggunakan
dengan cairan hipertonik yaitu sebanyak 13
pinset, membersikan bekas plaster, perawat
orang (65%) dan isotonik sebanyak 7 orang
memeriksa tempat penusukan IV setiap hari,
(35%), dengan pengaruh bermakna yakni
perawat mengganti seluruh infus set sedikitnya
p value= 0,000. Hal tersebut menginformasikan
setiap 3 hari, membersihkan daerah tusukan dan
bahwa terdapat hubungan antara cairan dengan
sekitarnya dengan NaCl, mengolesi tempat
phlebitis. Data penelitian ini didukung oleh
tusukan dengan iodin, dan menutup dengan kasa
pernyataan Perry dan Potter (2005) yang
steril dengan rapi. Sementara itu perawatan
menyatakan bahwa cairan yang bersifat hipertonis
pada tempat penusukan juga harus dilakukan, memiliki osmolaritas yang lebih tinggi
antara lain: Balutan steril diperlukan untuk dibandingkan serum, sehingga menarik cairan dan
menutup tempat masuk kanula IV perifer. elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh
Balutan harus di ganti jika balutan menjadi darah, misalnya Dextrose 5%, NaCl 45%
basah, kotor, atau lepas. Beberapa jenis balutan, hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate dan
meliputi balutan trasparan, perban steril, kasa, manitol. Larutan-larutan ini menarik air dari
dan plaster, dapat digunakan sepanjang sterilisasi kompartemen intraseluler ke ekstraseluler dan
dapat di pertahankan (Aprilin, 2011) menyebabkan sel-sel mengkerut. Jika diberikan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan dengan cepat dan dalam jumlah besar, dapat
data bahwa responden yang mengalami phlebitis menyebabkan kelebihan volume ekstraseluler dan
dengan dressing yaitu sebanyak 18 orang (90%) mencetuskan kelebihan cairan sirkulatori dan
sedangkan responden yang tidak mengalami dehidrasi.
phlebitis namun mendapatkan dressing ada pH dan osmolaritas cairan infus yang ekstrem
sebanyak 67 orang (93%), pengaruh kemaknaan selalu diikuti risiko phlebitis tinggi. pH larutan
yang didapatkan dalam penelitian ini yakni p dekstrosa berkisar antara 3-5, di mana keasaman
value= 0,643. Hal tersebut menginformasikan diperlukan untuk mencegah karamelisasi dekstrosa
selama proses sterilisasi autoklaf, jadi larutan yang infeksi, kanker, kelainan autoimun, atau penyakit
mengandung glukosa, asam amino dan lipid yang kronik (diabetes mellitus, hipertensi, gagal ginjal
digunakan dalam nutrisi parenteral bersifat lebih kronik dsb). Hal ini disebabkan oleh perjalanan
flebitogenik dibandingkan normal saline alamiah penyakit yang berkembang secara
(Darmawan, 2008) lambat dan gejala-gejalanya tidak terlihat sampai
Para ahli umumnya sepakat bahwa makin beberapa tahun kemudian. Di samping itu,
lambat infus larutan hipertonik diberikan makin produksi imunoglobulin yang dihasilkan oleh
rendah risiko phlebitis. Vena perifer yang paling tubuh orang tua juga berkurang jumlahnya
besar dan kateter yang sekecil dan sependek sehingga vaksinasi yang diberikan pada
mungkin dianjurkan untuk mencapai laju infus kelompok lansia kurang efektif melawan
yang diinginkan, dengan filter 0.45 mm. Kanula
penyakit. Masalah lain yang muncul adalah
harus diangkat bila terlihat tanda dini nyeri atau
tubuh orang tua kehilangan kemampuan untuk
kemerahan. Infus relatif cepat ini lebih relevan
membedakan benda asing yang masuk ke dalam
dalam pemberian infus juga sebagai jalan masuk
tubuh atau memang benda itu bagian dari dalam
obat, bukan terapi cairan maintenance atau nutrisi
parenteral.
tubuhnya sendiri (Fatmah, 2006).
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Berdasarkan hasil penelitian didapatkan data
Asrin, Triyanti dan Upoyo (2006) tentang bahwa responden yang sering mengalami
analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap phlebitis dan memiliki penyakit penyerta yaitu
kejadian phlebitis di RSUD Purbalingga, dimana sebanyak 8 orang (40%) dengan pengaruh
telah dibuktikan bahwa cairan intravena yang bermakna yakni p value= 1,00. Faktor pasien
yang dapat mempengaruhi angka phlebitis
diberikan merupakan salah satu penyebab
mencakup, usia, jenis kelamin dan kondisi dasar
terjadinya phlebitis. Penelitian ini terbukti secara
(yakni: diabetes mellitus, infeksi, luka bakar),
signifikan dengan angka signifikan
misalnya pada pasien Diabetes Militus dan
p value =0.01 pada cairan intravena hipertonis.
hipertensi yang mengalami aterosklerosis akan
Hal ini terjadi akibat cairan tersebut masuk sel
mengakibatkan aliran darah ke perifer berkurang
endotelial sehingga terjadi ruptur. Iritasi dapat
sehingga jika terdapat luka mudah mengalami
juga terjadi ketika cairan hipotonik seperti NaCl
infeksi (Darmawan 2008).
0.45% dicampurkan dengan air yang dimasukan
Penyakit penyerta gagal ginjal kronik juga
dalam terapi infus. Cairan hipertonik seperti
merupakan salah satu penyebab terjadinya
D5% dalam NaCl dan D5% dalam RL dapat
phlebitis, dimana phlebitis pada gagal ginjal
menyebabkan phlebitis dengan sel endotelial
kronik ini dikaitkan pada posisi pemasangan
terjadi kerusakan yaitu membran pembuluh
infus. Pemasangana infus pada daerah lengan
darah menyusut dan terbuka. Kokotis (2008)
bawah pada pasien gagal ginjal memiliki resiko
dalam Wahyunah (2011) menyatakan bahwa
lebih besar untuk menyebabkan phlebitis karena
kedua cairan (hipotonik dan hipertonik) dapat
daerah tersebut merupakan lokasi yang sering
mengakibatkan iritasi pada pembuluh darah.
digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena
(A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci
Penyakit Penyerta
darah) (Wiranata, 2012).
Sistem imunitas tubuh memiliki fungsi
yaitu membantu mencegah infeksi yang
Umur
disebabkan oleh jamur, bakteri, virus, dan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan
organisme lain; serta menghasilkan antibodi
data bahwa mayoritas responden berusia dewasa
(sejenis protein yang disebut imunoglobulin)
yaitu sebanyak 49 responden (53,3%). Menurut
untuk memerangi serangan bakteri dan virus
Notoatmodjo (2005), usia adalah umur individu
asing ke dalam tubuh. Tugas sistem imun adalah
yang terhitung mulai dari dilahirkan sampai saat
mencari dan merusak invader (penyerbu) yang
berulang tahun.
membahayakan tubuh manusia. Fungsi sistem
Seiring dengan penambahan usia maka
imunitas tubuh (immunocompetence) menurun
akan terjadi berbagai perubahan fungsi tubuh
sesuai umur. Kemampuan imunitas tubuh
baik secara fisik, biologis, psikologi dan sosial.
melawan infeksi menurun termasuk kecepatan
Salah satu perubahan fisik tersebut adalah
respons imun dengan peningkatan usia, hal ini
penurunan sistem imun tubuh. Sistem imunitas
bukan berarti manusia lebih sering terserang
tubuh memiliki fungsi yaitu membantu
penyakit, tetapi saat menginjak usia tua maka
mencegah infeksi yang disebabkan oleh jamur,
resiko kesakitan meningkat seperti penyakit
bakteri, virus, dan organisme lain serta responden mendapatkan cairan isotonik yaitu
menghasilkan antibodi (sejenis protein yang sebanyak 67 orang (72,8%).
disebut imunoglobulin) untuk memerangi
serangan bakteri dan virus asing ke dalam tubuh Penyakit Penyerta
(Fatmah, 2006). Penyakit yang diderita pasien dapat
Tidak hanya fungsi imunitas tubuh yang mempengaruhi terjadinya phlebitis, misalnya
menurun perubahan vena juga terjadi seiring pada pasien Diabetes Mellitus yang mengalami
dengan peningkatan usia dimana pasien yang aterosklerosis akan mengakibatkan aliran darah
usianya >60 tahun, memiliki vena yang bersifat ke perifer berkurang sehingga jika terdapat luka
rapuh, tidak elastis dan mudah hilang (kolap), mudah mengalami infeksi. Berdasarkan hasil
sedangkan pada pasien anak vena lebih bersifat penelitian didapatkan data bahwa sebagian kecil
kecil, elastis dan mudah hilang (kolap), hal responden memiliki penyakit penyerta yaitu
inilah yang nantinya akan mempengaruhi sebanyak 35 responden (38%). Penyakit penyerta
kejadian phlebitis pada seseorang (Potter & yang diderita oleh pasien dalam penelitian ini
Perry 2005). adalah penyakit Diabetes Mellitus, kanker,
hipertensi dan gagal ginjal.
Dressing
Dressing (perawatan infus) merupakan Plebitis
tindakan yang dilakukan dengan mengganti Phlebitis merupakan masalah yang serius
balutan/plester pada area insersi. Aseptik tetapi tidak menyebabkan kematian karena dapat
dressing/perawatan infus adalah perawatan pada merugikan pasien dengan menambah kesakitan
tempat pemasangan infus terhadap pasien yang pada pasien dan semakin tingginya biaya karena
terpasang infus. Frekuensi penggantian balutan lamanya perawatan di rumah sakit (Aryani, 2009
ditentukan oleh kondisi kulit klien yang dalam Nurjanah, Kristiyawati dan Solechan,
terpasang infus. Dressing dipantau untuk 2011).
memastikan tetap kering, tertutup dan utuh. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan
Dressing yang utuh berarti pinggir-pinggirnya data bahwa terdapat beberapa responden yang
rapat ke kulit. Jika dressing lembab atau mengalami phlebitis yakni sebanyak 20
integritasnya tidak baik maka harus segera responden (21,7%). Skor phlebitis yang ditemui
diganti (Otsuka, 2010). dalam penelitian ini semuanya berada pada
Menurut Terry (2005) yang berkontribusi skor 1 dengan kriteria kulit sekitar lokasi insersi
terhadap adanya phlebitis adalah frekuensi kemerahan dan kadang disertai rasa nyeri.
penggantian balutan yang jarang dilakukan yang
dapat mengakibatkan kurangnya observasi pada KESIMPULAN
lokasi pemasangan sehingga kurang perhatian Setelah dilakukan penelitian terhadap 92
pada gejala awal dari phlebitis. Berdasarkan responden tentang analisis faktor-faktor yang
hasil penelitian didapatkan data bahwa mayoritas berhubungan dengan kejadian phlebitis pada
responden mendapatkan dressing yaitu sebanyak pasien yang terpasang infus di ruang rawat inap
85 responden (92,4%) medikal Chrysant Rumah Sakit Awal Bros
Pekanbaru didapatkan angka kejadian phlebitis
Cairan sebanyak 21,7 %. Angka tersebut masih berada
Pemberian cairan intravena adalah diatas 5 % yang di tetapkan oleh INS (2006).
pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh Tingkatan yang paling umum phlebitis ada di
masuk ke pembuluh darah vena untuk skor satu. Dapat disimpulkan bahwa usia dan
memperbaiki atau mencegah gangguan cairan cairan mempengaruhi terjadinya phlebitis pada
dan elektrolit, darah, maupun nutrisi (Perry & pasien yang terpasang infus.
Potter, 2006). Pemberian cairan intravena Berdasarkan hasil penelitian yang
disesuaikan dengan kondisi kehilangan cairan dilakukan, dapat disimpulkan bahwa usia
pada klien, seberapa besar cairan tubuh yang responden memiliki pengaruh yang bermakna
hilang. Pemberian cairan intravena merupakan terhadap terjadinya phlebitis pada pasien yang
salah satu tindakan invasif yang dilakukan terpasang infus dengan p value=0,000 dan cairan
oleh tenaga kesehatan. Berdasarkan hasil infus yang digunakan oleh responden memiliki
penelitian didapatkan data bahwa sebagian besar pengaruh yang bermakna terhadap terjadinya
phlebitis pada pasien yang terpasang infus ejournal.unud.ac.id/.../6_thrombosis%20da
dengan p value=0,000. n%20usia%lanjut.pdf.
B Braun. (2012). Modul pemilihan pembuluh
SARAN darah vena. Jakarta: PT B Braun
Bagi rumah sakit hasil penelitian ini dapat Indonesia. CDC (Centers for Disease
digunakan sebagai masukan dan pertimbangan Control and Prevention). (2002)
dalam melakukan tindakan perawatan pada Dahlan, S. (2009). Statistik untuk kedokteran dan
pasien yang terpasang infus dengan kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.
memperhatikan faktor-faktor yang Darmadi. (2008). Infeksi nosokomial problema
mempengaruhi terjadinya phlebitis pada pasien dan pengendaliannya, Jakarta: Salemba
yakni usia, cairan infus, dressing dan penyakit Medika.
penyerta. Penelitian ini diharapkan dapat Darmawan.(2008). Kebutuhan Dasar Manusia.
dijadikan sebagai acuan untuk selalu konsisten Jakarta: Salemba Medika
menjalankan kebijakan atau standart yang sudah Darmawan, I. (30 Agustus 2008). Plebitis, apa
ditetapkan oleh rumah sakit dalam upaya penyebabnya dan bagaimana cara
mencegah kejadian phlebitis tersebut, sehingga mengatasinya? Diperoleh tanggal
mutu rumah sakit akan menjadi lebih baik. 1 Oktober 2013, dari
http://www.otsuka.co.id/? content=article_
UCAPAN TERIMA KASIH detail&id=68&lang=id.
Ucapan terima kasih kepada semua pihak yang Depkes RI. (2008). Standar pelayanan minimal
telah membantu dalam penelitian ini terutama rumah sakit. Direktorat Jendral Pelayanan
untuk seluruh responden, pembimbing I, II dan Rumah Sakit Umum: Jakarta.
penguji dalam penelitian ini. Erwin, Sunardi . M & Sekarsari. R. (2012).
Modul perawatan terkini pemberian terapi
DAFTAR PUSTAKA cairan melalui intravena perifer secara
Aprilin. (2011). Hubungan Perawatan Infus aman. Jakarta: PT Terumo Indonesia.
Dengan Terjadinya Flebitis Pada Pasien Fatmah. (2006). Respon imunitas yang rendah
Yang Terpasang Infus Di Puskesmas Krian pada tubuh manusia usia lanjut. Makara
Sidoarjo. Diperoleh pada tanggal kesehatan vol.10 no.1 Juni 2006:47-53.
02 Januari 2014 dari Diperoleh pada tanggal 01 Januari 2014
http://webcache.googleusercontent.com/se darihttp://webcache.googleusercontent.co
arch?q=cache:2UkYGZvzPDkJ:www. m/search?q=cache:HxUSfUR0r_UJ:
dianhusada.ac.id/jurnalimg/jurper1-2- journal.ui.ac.id/health/article/download/16
het.pdf+&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id&cl 9/165+&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&cl
ient= firefox-a ient=firefox.
Asrin., Triyanto, E., & Upoyo, A.S. (2006). Gayatri, D., Handayani, H. (2006). Hubungan
Analisis faktor-faktor yang berpengaruh Jarak Pemasangan Terapi Intravena Dari
terhadap kejadian plebitis di RSUD Persendian Terhadap Waktu Terjadinya
Purbalingga. (Vol 1 No.1). Diperoleh pada Plebitis. Jurnal Keperawatan Universitas
tanggal 31 Mei 2013 dari the soedirman Indonesia, Volume 11, No.1, hal 1-5;2007.
journal of nursing. Diperoleh pada tanggal 03 Januari 2014
Awal Bros. (2012). Laporan presentasi bidang darihttp://repository.ui.ac.id/.../6700d2fb
keperawatan tahun 2012. Pekanbaru. 60561 ed49a0e7b1dc8723c59f6dd9a32.pdf
Awal Bros. (2013). Laporan presentasi bidang INS. (2002). Setting the standard for infusion
keperawatan tahun 2013. Pekanbaru. care. Diperoleh tanggal 2 Oktober 2013,
Awal Bros Hospital Group. (2010). Buku saku dari http://www.ins1.org.
mengenai keselamatan pasien di rumah Jarumiati. (2009). Hubungan Lama Pemasangan
sakit Pekanbaru. Kateter Intravena Dengan Kejadian
Bakta, M. (2007). Thrombosis dan usia lanjut, Plebitis Pada Pasien Dewasa Diruang
divisi hematologi dan onkologi medik Rawat Inap Bangsal Menur Dan Bakung
bagian penyakit dalam fakultas kedokteran RSUD, Wonosari. Diperoleh pada tanggal
RS Sanglah Denpasar. Diperoleh pada 03 Januari 2014 dari
tanggal 05 Januari 2014 dari http://www.stikessmart@ymail.com pada
tanggal 15 Desember 2009.
Maria, I., & Kurnia, E. (2012). Kepatuhan Ratna, S & Nurrahman E. (2000) Buku saku
perawat dalam melaksanakan Standar prosedur keperawatan medikal-bedah.
Prosedur Operasional (SPO) pemasangan Septiari Jakarta: ECG, B. (2012). Infeksi
infus terhadap phlebitis. (Vol. 5 No. 1). nosokomial. Jogjakarta: Nuha medika.
Diperoleh pada tanggal 30 Juni 2013 dari Smeltzer, C. (2002). Buku ajar keperawatan
stikesbaptisjurnal@ymail.com. medikal / – bedah Brunner & Suddarth,
Notoatmodjo. (2005a). Promosi Kesehatan Teori Editor Suzanne C. Smeltzer. Alih bahasa
dan Aplikasi, Penerbit Rineka Cipta, Monika Ester. Edisi 8 Jakarta: EGC.
Jakarta. Smeltzer, C. (2001). Buku ajar keperawatan
Notoatmodjo. (2005b). Metodologi Penelitian medikal – bedah Brunner & Suddarth,
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Editor Suzanne C. Smeltzer. Alih bahasa
Notoatmojo, S. (2010). Metodologi penelitian Monika Ester. Edisi 8 Jakarta: EGC..
kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Terry. (2005). Terapi Intravena. Jakarta: EGC.
Nurjanah, Kristiyawati & Solechan. (2011). Tietjen L, Bossemeyer .D, & McIntosh. (2004).
Hubungan antara lokasi penusukan infus Panduan pencegahan infeksi untuk
dan tingkat usia dengan kejadian phlebitis fasilitas pelayanan kesehatan dengan
di ruang rawat inap dewasa RSUD sumber daya terbatas. Edisi 1 Jakarta:
Tugurejo Semarang. Diperoleh pada Yayasan Bina Pustaka Sarwono
tanggal 03 Januari 2014 dari Prawiryohardjo.
http://webcache.googleusercontent.com/se Triyanto, E. Upoyo, A.S & Asrin. (2006).
archq=cache:qkEI2U9Y9M4J:ejournal.stik Analisis faktor- faktor yang berpengaruh
estelogorejo.ac.id/ejournal/index.php/ilmu terhadap kejadian plebiitis di RSUD
keperawatan/article/view/161/185+&cd=1 Purbalingga di peroleh tanggal 1 Oktober
&hl=en&ct=clnk. 2013 dari http://keperawatan.unsoed.
Oliveira, A.S., Parreira, P., & Veiga, P. (2010). ac.id/sites/default/files/jks-200607-
Incidence of phlebitis in patients with 001107_43-52.pdf`.
peripheral intravenous catheters: the Wong. (2009). Buku ajar keperawatan pediatrik
influence of some risk factors. (Ed.2 edisi 6 Volume 2. Jakarta: EGC.
Vol.30). Diperoleh pada tanggal 31 Wayunah. (2011). Hubungan pengetahuan
Oktober 2013 dari www.ajan.co.au.. perawat tentang terapi infus dengan
Pasaribu. (2006). Analisis pelaksanaan standar kejadian plebitis dan kenyamanan pasien
operasional prosedur pemasangan infus di ruang rawat inap RSUD kabupaten
terhadap kejadian plebitis di ruang rawat Indramayu di peroleh tanggal 1 Oktober
inap rumah sakit haji Medan. Diperoleh 2013 dari http://digilib.ump.ac.id/files/
pada tanggal 03 Januari 2014 dari disk1/ 20/jhptump-ump-gdl-lintasfebr-955-
http://webcache.googleusercontent.com/ 2-babii.pdf.
search?q=cache:T7IWswQ4VoJ:repository Weinstein, S.M., (2000). Buku saku terapi
.usu.ac.id/xmlui/handle/123456789/6809+ intravena. Edisi 2. Jakarta: EGC.
&cd= 1&hl=en&ct=clnk&client=firefox-a.
Potter, P. A. & Perry, A. G. (2005). Buku saku
ketrampilan dan prosedur dasar. Edisi 5
Jakarta: EGC.
Potter, P. A. & Perry, A. G. (2006). Buku ajar
fundamental keperawatan, konsep, proses
dan praktik. Edisi 4 Volume 2 Jakarta:
EGC.
Primanggono, S. (2012). Plebitis Diperoleh
tanggal 1 Oktober 2013 dari
http://areamahasiswarantau. blogspot.com/
2012/07/plebitis_24.html.
Putra, SR. (2012). Panduan riset keperawatan
dan penulisan ilmiah Yogyakarta: D-
Medika.