You are on page 1of 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Leukemia adalah penyakit yang berawal dari sumsum tulang (1).
Leukemia limfoblastik akut (ALL) adalah penyakit ganas (klon)
sumsum tulang di mana prekursor limfoid awal berkembang biak dan
menggantikan sel hematopoietik normal sumsum tulang(2).
Leukemia limfoblastik akut (acute lymphoblastic leukemia, ALL)
disebabkan oleh akumulasi limfoblas di sumsum tulang dan
merupakan keganasan tersering pada anak(3).
B. Epidemiologi
Leukemia akut pada anak mencapai 97% dari semua leukemia
pada anak dan terdiri dari dua tipe yaitu leukemia limfoblastik akut
(LLA) 82% dan leukemia mieloblastik akut (LMA) 18%. Leukemia
kronik mencapai 3% dari seluruh leukemia pada anak(1).
Leukemia limfoblastik akut (ALL) adalah keganasan yang paling
umum didiagnosis pada anak-anak, mewakili seperempat dari semua
kanker anak(4). Leukemia limfoblastik akut adalah jenis kanker dan
leukemia yang paling umum pada anak-anak di Amerika Serikat.
Setiap tahun, sekitar 3000 anak di Amerika Serikat didiagnosis
dengan ALL. Insiden tahunan leukemia limfoblastik akut di Amerika
Serikat adalah 3,7-4,9 kasus per 100.000 anak usia 0-14 tahun,
dengan insidensi puncak pada anak usia 2-5 tahun. Insiden ALL
paling tinggi terjadi pada usia 3-7 tahun dengan 75% kasus terjadi
sebelum usia 6 tahun. Terjadi peningkatan kedua setelah usia 40
tahun. Delapan puluh lima persen kasus berasal dari turunan sel B
dan memiliki insiden jenis kelamin yang sama; untuk ALL sel T (T-
ALL) yang 15, terdapat sedikit predominansi pria(3).
C. Klasifikasi
Leukimia limfoblastik akut, sel B atau sel T, dibagi lagi oleh WHO
(2008) berdasarkan defek genetik yang mendasarinya (gambar 1).
Pada kelompok B-ALL terdapat beberpa subtipe genetik spesifik
misalnya subtipe dengan translokasi t(9; 22) atau t(12; 21), tata-ulang
gen (gene rearrangement) MLL atau perubahan jumlah kromosom
(diploid) (gambar 1). Subtipe merupakan petunjuk penting untuk
protokol pengobatan optimal dan prognosis. Pada T-ALL kariotipe
abnormal ditemukan pada 50-70% kasus dan jalur sinyal NOTCH
diaktifkan pada kebanyakan kasus(3).
D. Gambaran Klinis
Gambaran klinis terjadi karena hal-hal berikut(3):
1. Kegagalan sumsum tulang
 Anemia (pucat, letargi dan dispnea);
 Neutropenia (demam, malaise, gambaran infeksi mulut,
tenggorokan, kulit, saluran napas, perianus, atau bagian lain);
 Trombositopenia (memar spontan, purpura, gusi berdarah dan
menoragia)
2. Infiltrasi Organ
Nyeri tulang, limfadenopati, splenomegali moderat,
hepatomegali, dan sindrom meningen (nyeri kepala, mual dan
muntah, penglihatan kabur, dan diplopia). Pemeriksaan fundus
mungkin menunjukkan papil edema dan kadang perdarahan.
Banyak pasien mengalami demam yang biasanya mereda setelah
pemberian kemoterapi. Manifestasi yang lebih jarang adalah
pembengkakan testis atau tanda-tanda penekanan mediastinum
padaT-ALL.
Jika yang menonjol adlah kelenjar limfe dan massa ekstranodus
dengan blas <20% di sumsum tulang, penyakitnya disebut limfoma
limfoblastik, tetapi diterapi juga seperti ALL.
3. Pemeriksaan
Pemeriksaan hematologis memperlihatkan anemia normositik
normokromik normositik dengan trombositopenia pada sebagian
besar kasus. Hitung sel darah putih total mungkin menurun,normal
atau meningkat menjadi 200x109/L atau lebih. Apusan darah
biasanya memperlihatkan sel-sel blas dalam jumlah bervariasi.
Sumsum tulang hiperseluler dengan blas leukemik >20%. Sel-sel
blas di tandai dari morfologi, sitokimia, tes immunologis dan analisis
sitogenetiknya. Identifikasi tata-ulang gen (gene rearrangment)
imunoglobulin atau reseptor sel T (TCR), imunofenotipe
(menyimpang), dan genetika molekuler sel-sel tumor penting untuk
menentukan terapi serta mendeteksi minimal residual disease
(MRD) sewaktu pemantauan.
Pungsi lumbal untuk memeriksa cairan serebrospinal (CSS) tidak
secara umum dilakukan karena dapat mendorog penyebaran sel
tumor ke SSP. Tes biokimia mungkin memperlihatkan peningkatan
asam urat serum, laktat dehidrogenasi serum, atau, yang lebih
panjang hiperkalsemia. Tes fungsi hati dan ginjal dilakukan untuk
mengetahui data dasar sebelum pengobatan dimulai. Radiografi
mungkin memperlihatkan lesi-lesi litik di tulang dan massa di
mediastinum akibat pembesaran timus dan/atau kelenjar limfe
mediastinum yang khas untuk T-ALL.
4. Sitogenetika dan genetika molekuler
Analisi sitogenetik memperlihatkan frekuensi kelainan yang
berbeda-beda pada bayi, anak dan dewasa yang sebagian
menjelaskan perbedaan prognosis di antara berbagai kelompok ini
(gambar 17,4). Kasus-kasus digolong-golongkan berdasarkan
jumlah kromosom di sel tumor (ploidi) atau oleh kelainan molekuler
spesifik.
Sel hiperlipoid memiliki >50 kromosom dan umumnya
memperlihatkan prognosis baik sementara kasus hipodiploid (<44
kromosom) menunjukkan prognosis yang buruk. Kelainan spesifik
paling umum pada B-ALL anak adalah translokasi t(12;21)(p13;q22)
TEL-AML1. Protein AML1 berperan penting dalam kontrol
transkripsional hemopoiesis danditekan oleh protein fusi TEL-
AML1.
Frekuensi translokasi Philadelphia t(9;22) meningkat seiring usia
dan menunjukkan prognosis yang buruk. Translokasi kromosom
11q23 melibatkan gen MLL dan terutama dijumpai pada kasus-
kasus leukemia bayi. Dengan menggunakan tes-tes genetik
molekular yang lebih sensitif, seperti analisis fluoresensein situ
hybridization (FISH), sebagian kasus yang normal berdasarkan uji
sitogenetik ternyata terbukti memiliki gen-gen fusi, mis. BCR-ABL1
atau kelainan genetik lain. Kelainan-kelainan genetik molekuler ini
memiliki dampak prognostik tanpa memandang ada tidaknya
perubahan kromosom.
T-ALL membentuk 15% dari ALL anak dan 25% ALL dewasa dan
gambaran klinisnya sering didominasi oleh jumlah sel darah putih
yag sangat tinggi, massa di mediastinum atau efusi pleura. Gen
TCR (dan pada 20% gen IGH) mengalami tata ulang klonal.
Kelainan sitogenetik sering mengenai lokus yang berbeda.
sebagian besar kasus mengalami kelainan genetik didapat yang
menyebabkan pengaktifan terus-menerus jalur sinyal NOTCH dan
saat ini sedang dikembangkan obat-obat yang mengarah pada
kelainan ini.