You are on page 1of 16

PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA

DAN PERJUANGANNYA

Kelompok I

Nama Anggota :
1. Asyaf Fahrur Rifaldi
2. Hendri Setiyawan
3. Ananda Feri Kurniawan
4. Muh. Nur Fajri

MTS AL-MA’ARIF II TIRTOMOYO


Ismail Marzoeki

Lagu ciptaan karya Ismail Marzuki yang paling populer adalah Rayuan Pulau Kelapa yang
digunakan sebagai lagu penutup akhir siaran oleh stasiun TVRI pada masa pemerintahan Orde
Baru.

Ismail Marzuki mendapat anugerah penghormatan pada tahun 1968 dengan dibukanya Taman
Ismail Marzuki, sebuah taman dan pusat kebudayaan di Salemba, Jakarta Pusat. Pada tahun 2004
dia dinobatkan menjadi salah seorang tokoh pahlawan nasional Indonesia.

Ia sempat mendirikan orkes Empat Sekawan. Selain itu ia dikenal publik ketika mengisi musik
dalam film Terang Bulan.

Ismail Marzuki selama ini diyakini sebagian besar masyarakat Indonesia sebagai pencipta lagu
Halo, Halo Bandung yang terkenal. Lagu tersebut menggambarkan besarnya semangat rakyat
Bandung dalam peristiwa Bandung Lautan Api. Namun sebenarnya siapa pencipta lagu tersebut
yang sebenarnya masih diperdebatkan oleh sebagian masyarakat Indonesia.
Basuki Rahmat (Jenderal Basuki Rachmat)

Jenderal Basuki Rahmat adalah seorang jenderal dan politikus Indonesia. Ia merupakan
seorang pahlawan nasional Indonesia.

Sebelum menjadi militer, sebenarnya Basuki muda ingin menjadi guru hingga meneruskan
pendidikannya di Sekolah Guru Muhammadiyah, Yogyakarta. Akan tetapi jalan hidup
membuatnya mengikuti pendidikan Pembela Tanah Air. Selepas pendidikan Basuki
ditempatkan di Pacitan dengan pangkat shodancho (Komandan Pelopor).

Memasuki era perjuangan kemerdekaan, ia juga turut dalam pembentukan Badan Keamanan
Rakyat Maospati, Jawa Timur. Bakat kepemimpinannya yang menonjol membuat ia
ditunjuk menjadi Komandan Batalyon 2 Resimen 31 Divisi IV Ronggolawe dan kemudian
ditunjuk menjadi Komandan Batalyon 16 Brigade 5 Divisi I Jawa Timur.

Basuki Rahmat lalu ditunjuk sebagai Panglima Komando Daerah Militer (KODAM) VIII /
Brawijaya di Surabaya dengan pangkat Mayor Jenderal. Ia ikut mengambil peran penting
dalam menyadarkan Prajurit Jajaran Kodam agar tidak terhasut PKI.

Dalam posisi pemerintahan beliau pernah menjabat sebagai Menteri Veteran Letnan dalam
Kabinet Dwikora pimpinan Soekarno pada periode 1964-1966. Ia juga merupakan salah satu
saksi kunci perisitiwa Supersemar beserta Jenderal Amirmachmud dan Jenderal M. Jusuf.
Melalui Supersemar itu, terjadilah titik balik. PKI yang sebelumnya mulai melancarkan
tindak kekerasan, akhirnya bisa dihancurkan. Dalam memulihkan keadaan itu, jasa Basuki
Rahmat sangat besar.

Basuki tutup usia di Jakarta pada 8 Januari 1969 akibat penyakit jantung. Beliau
dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Atas jasanya pada negara, Jenderal TNI
Anumerta Basuki Rahmat diberi gelar pahlawan nasional pada 9 Januari 1969.
Untung Suropati (Tumenggung Wironegoro, Surawiroaji)

Untung Suropati (Tumenggung Wironegoro, Surawiroaji), lahir di Bali, 1660 - meninggal dunia di Bangil,
Jawa Timur, 5 Desember 1706 pada umur 46 tahun adalah Pahlawan Nasional (Keppres No.
106/TK/1975, tanggal 3 November 1975).

Untung Surapati merupakan seorang tokoh dalam sejarah Nusantara yang dicatat dalam Babad Tanah
Jawi. Kisahnya menjadi legendaris karena mengisahkan seorang anak dari Bangsawan Bali yang berasal
dari keturunan Prabu Kertajaya (Raja terakhir Panjalu/Kediri). Dan menjadi Raja/Adipati di Pasuruan dan
bergelar Tumenggung Wironegoro (Raden Adipati Wironegoro).

Ia terkenal sebagai Raja yang Pemberani dan Berhati Mulia, yang memimpin banyak pertempuran di
sebagian besar wilayah Jawa Timur melawan Pasukan Kolonial Belanda (VOC).

Pada bulan September 1706 gabungan pasukan VOC, Kartasura, Madura, dan Surabaya dipimpin Mayor
Goovert Knole menyerbu Pasuruan. Pertempuran di benteng Bangil akhirnya menewaskan Untung
Surapati alias Wiranegara tanggal 17 Oktober 1706. Namun ia berwasiat agar kematiannya dirahasiakan.
Makam Surapati pun dibuat rata dengan tanah.

Bangsa Indonesia menghargai Pahlawan Untung Suropati dalam berbagai bentuk, diantaranya Kapal
Perang 872 diberi nama KRI Untung Suropati, TMP di Malang diberi nama TMP Untung Suropati, nama
jalan di berbagai kota di Indonesia, dsb.
Oto Iskandar Dinata (Jalak Harupat, Raden Otto Iskandar di Nata)

Oto Iskandar di Nata lahir pada 31 Maret 1897 di Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Ayah Oto
adalah keturunan bangsawan Sunda bernama Nataatmadja. Oto adalah anak ketiga dari sembilan
bersaudara.[1]

Oto menempuh pendidikan dasarnya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Bandung,


kemudian melanjutkan di Kweekschool Onderbouw (Sekolah Guru Bagian Pertama) Bandung,
serta di Hogere Kweekschool (Sekolah Guru Atas) di Purworejo, Jawa Tengah. Setelah selesai
bersekolah, Oto menjadi guru HIS di Banjarnegara, Jawa Tengah. Pada bulan Juli 1920, Oto
pindah ke Bandung dan mengajar di HIS bersubsidi serta perkumpulan Perguruan Rakyat.

Oto Iskandar di Nata diangkat sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden
Republik Indonesia No. 088/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973. Sebuah monumen
perjuangan Bandung Utara di Lembang, Bandung bernama "Monumen Pasir Pahlawan"
didirikan untuk mengabadikan perjuangannya.

Nama Oto Iskandar di Nata juga diabadikan sebagai nama jalan di beberapa kota di Indonesia.
Maria Walanda Maramis (Maria Josephine Catherine Maramis)

Maria Josephine Catherine Maramis (lahir di Kema, Sulawesi Utara, 1 Desember 1872 –
meninggal di Maumbi, Sulawesi Utara, 22 April 1924 pada umur 51 tahun), atau yang lebih
dikenal sebagai Maria Walanda Maramis, adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia karena
usahanya untuk mengembangkan keadaan wanita di Indonesia pada permulaan abad ke-20[1].

Setiap tanggal 1 Desember, masyarakat Minahasa memperingati Hari Ibu Maria Walanda
Maramis, sosok yang dianggap sebagai pendobrak adat, pejuang kemajuan dan emansipasi
perempuan di dunia politik dan pendidikan. Menurut Nicholas Graafland, dalam sebuah
penerbitan "Nederlandsche Zendeling Genootschap" tahun 1981, Maria ditahbiskan sebagai
salah satu perempuan teladan Minahasa yang memiliki "bakat istimewa untuk menangkap
mengenai apapun juga dan untuk memperkembangkan daya pikirnya, bersifat mudah
menampung pengetahuan sehingga lebih sering maju daripada kaum lelaki".[2]

Untuk mengenang jasanya, telah dibangun Patung Walanda Maramis yang terletak di Kelurahan
Komo Luar, Kecamatan Wenang, sekitar 15 menit dari pusat kota Manado yang dapat ditempuh
dengan angkutan darat. Di sini, pengunjung dapat mengenal sejarah perjuangan seorang wanita
asal Bumi Nyiur Melambai ini. Fasilitas yang ada saat ini adalah tempat parkir dan pusat
perbelanjaan.[3]
Agung Hanyokrokusumo (Sultan Agung Anyokrokusumo)

Sultan Agung (Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo, lahir: Kutagede, Kesultanan Mataram,
1593 - wafat: Karta (Plered, Bantul), Kesultanan Mataram, 1645) adalah Sultan ke-tiga
Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1613-1645.

Di bawah kepemimpinannya, Mataram berkembang menjadi kerajaan terbesar di Jawa dan


Nusantara pada saat itu. Beliau berperang melawan penindasan Belanda.

Sultan Agung selain seorang pejuang juga seorang budayawan. Beliau memadukan Kalender
Hijriyah dengan Kalender Saka, menjadi Kalender Jawa Islam

Atas jasa-jasanya sebagai pejuang dan budayawan, Sultan Agung telah ditetapkan menjadi
pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November
1975.
Jamin Ginting (Letjen TNI Djamin Gintings)

Jamin Ginting (Letjen TNI Djamin Gintings) lahir di Desa Suka, Tiga Panah, Kabupaten Karo,
Sumatera Utara, 12 Januari 1921; meninggal di Ottawa, Kanada, 23 Oktober 1974 pada umur 53
tahun; adalah Pahlawan Nasional Indonesia (Keppres No. 115/TK/2014, tanggal 6 November
2014).

Beliau adalah tokoh perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia di Sumatera Utara dan
pernah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) Kabanjahe. Pasukannya aktif melucuti
persenjataan tentara Jepang di Berastagi dan bertempur melawan pasukan Inggris. Djamin juga
menjadi salah satu komandan pasukan Indonesia dalam pertempuran Medan Area melawan
pasukan Inggris di Sumatera Timur dan sempat pula memimpin pasukan dalam perjuangan
melawan Belanda dalam Agresi Militer I.

Karier militer Djamin Ginting meningkat setelah pengakuan kedaulatan pada 27 Desember
1949. Beliau adalah Komandan Pertama Komando Pangkalan atau Komando Basis Kota Medan
(KBKM) yang kemudian diubah menjadi Komando Militer Kota Besar (KMKB) Medan.

Jabatan yang pernah diduduki Djamin Ginting adalah Kepala Staf Kodam II/Bukit Barisan,
Assisten Dua Bagian Perang di TNI, Panglima TT I Bukit Barisan, Panglima Sumatera Utara, Wakil
Sekretaris Jenderal Front Nasional di Kabinet Dwikora Revisi Kedua, Sekretaris Presiden
merangkap Wakil Sekretaris Negara.

Jabatan terakhirnya adalah Duta Besar RI di Kanada. Beliau meninggal di Ottawa, Kanada, 23
Oktober 1974 pada umur 53 tahun, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata
Jakarta.

Semasa hidupnya, Djamin Gintings menulis beberapa buku. Satu diantaranya adalah "Bukit
Kadir" yang mengisahkan perjuangan di daerah Karo sampai ke perbatasan Aceh melawan
Hindia Belanda.
Ki Mangunsarkoro (Ki Sarmidi Mangunsarkoro)

Ki Sarmidi Mangunsarkoro lahir 23 Mei 1904 di Surakarta. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga


pegawai Keraton Surakarta. Pengabdian Ki Sarmidi Mangunsarkoro kepada masyarakat, diawali
setelah ia lulus dari Sekolah Guru "Arjuna" Jakarta langsung diangkat menjadi guru HIS
Tamansiswa Yogyakarta.

Kemudian pada Th 1929 Ki Sarmidi Mangunsarkoro diangkat menjadi Kepala Sekolah HIS Budi
Utomo Jakarta. Satu tahun kemudian, atas permintaan penduduk Kemayoran dan restu Ki Hadjar
Dewantara, ia mendirikan Perguruan Tamansiswa di Jakarta. Perguruan Tamansiswa di Jakarta
itu sebenarnya merupakan penggabungan antara HIS Budi Utomo dan HIS Marsudi Rukun yang
dua-duanya dipimpin oleh Ki Sarmidi Mangunsarkoro, dan dalam perkembangannya Perguruan
Tamansiswa Cabang Jakarta mengalami kemajuan yang pesat hingga sekarang.

Perjuangan Ki Sarmidi Mangunsarkoro dalam bidang pendidikan, di antaranya pada tahun 1930-
1938 menjadi Anggota Pengurus Besar Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) dan penganjur
gerakan Kepanduan Nasional yang bebas dari pengaruh kolonialisme Belanda. Selanjutnya pada
tahun 1932-1940 ia menjabat sebagai Ketua Departemen Pendidikan dan Pengajaran Majelis
Luhur Tamansiswa merangkap Pemimpin Umum Tamansiswa Jawa Barat. Pada tahun 1933 Ki
Sarmidi Mangunsarkoro memegang Kepemimpinan Taman Dewasa Raya di Jakarta yang secara
khusus membidangi bidang Pendidikan dan Pengajaran.

Ki Sarmidi Mangunsarkoro semakin dikenal di lingkungan pendidikan maupun di lingkungan


politik melalui Partai Nasional Indonesia (PNI). Ki Sarmidi Mangunsarkoro pada tahun 1928
ikut tampil sebagai pembicara dalam Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 menyampaikan pidato
tentang Pendidikan Nasional, yang mengemukakan bahwa anak harus mendapat pendidikan
kebangsaan dan dididik secara demokratis, serta perlunya keseimbangan antara pendidikan di
sekolah dan di rumah.

Ki Sarmidi Mangunsarkoro pernah terpilih menjadi Ketua PNI Pertama sebagai hasil Kongres
Serikat Rakyat Indonesia (SERINDO) di Kediri dan menentang politik kompromi dengan
Belanda (Perjanjian Linggarjati dan Renvile). Sewaktu terjadi agresi Belanda II di Yogyakarta,
Ki Sarmidi Mangunsarkoro pernah ditahan IVG dan dipenjara di Wirogunan.
Slamet Riyadi (Brigjen. Ignatius Slamet Rijadi)

Brigadir Jenderal Ignatius Slamet Rijadi (EYD: Ignatius Slamet Riyadi; lahir di Surakarta, 26
Juli 1927 – meninggal di Ambon, 4 November 1950 pada umur 23 tahun) adalah seorang tentara
Indonesia. Rijadi lahir di Surakarta, Jawa Tengah, putra dari seorang tentara dan penjual buah.
"Dijual" pada pamannya dan sempat berganti nama saat masih balita untuk menyembuhkan
penyakitnya, Rijadi tumbuh besar di rumah orangtuanya dan belajar di sekolah milik Belanda.
Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda, Rijadi menempuh pendidikan di sekolah pelaut yang
dikelola oleh Jepang dan bekerja untuk mereka setelah lulus; ia meninggalkan tentara Jepang
menjelang akhir Perang Dunia II dan membantu mengobarkan perlawanan selama sisa
pendudukan.

Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, Rijadi memimpin tentara Indonesia di
Surakarta pada masa perang kemerdekaan melawan Belanda yang ingin kembali menjajah
Indonesia. Dimulai dengan kampanye gerilya, pada 1947 ia berperang dengan sengit melawan
Belanda di Ambarawa dan Semarang, bertanggung jawab atas Resimen 26. Selama Agresi
Militer I, Belanda mengambil alih kota tapi berhasil direbut kembali oleh Rijadi, dan kemudian
mulai melancarkan serangan ke Jawa Barat. Pada tahun 1950, setelah berakhirnya revolusi,
Rijadi dikirim ke Maluku untuk memerangi Republik Maluku Selatan. Setelah operasi
perlawanan selama beberapa bulan dan berkelana melintasi Pulau Ambon, Rijadi tewas
tertembak menjelang operasi berakhir.

Sejak kematiannya, Rijadi telah menerima banyak penghormatan. Sebuah jalan utama di
Surakarta dinamakan menurut namanya, begitu juga dengan fregat TNI AL, KRI Slamet Riyadi.
Selain itu, Rijadi juga dianugerahi beberapa tanda kehormatan secara anumerta pada tahun 1961,
dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 9 November 2007.
Tan Malaka – Pahlawan Nasional

Tan Malaka – Pahlawan Nasional

Tan Malaka merupakan seorang aktivis kemerdekaan bangsa Indonesia, pemimpin Partai
Komunis Indonesia, pendiri Partai Murba dan merupakan seoarang Pahlawan Nasional
Indonesia. Tan Malaka lahir pada tanggal 2 Juni 1897 di Nagari Pandam Gadang, Siliki Sumatra
Barat. Beliau dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 28 Maret 1963.

Tan Malaka memiliki nama lengkap yaitu Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka, nama Ibrahim
merupakan nama aslinya, sedangkan nama Tan Malaka adalah nama semi bangsawan yang di
dapat dari garis ibunya. Untuk tanggal kelahirannya Tan Malaka tidak dapat dipastikan, tetapi
tempat kelahirannya saat ini dikenal sebagai Ngari Pandan Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota,
Sumatra Barat.
Sultan Mahmud Baharuddin – Pahlawan Nasional

Sultan Mahmud Baharuddin – Pahlawan Nasional

Sultan Mahmud Baharudin adalah seorang pemimpin kesultanan di Palembang-Darussalam


dalam dua periode mulai dari tahun 1803- 1821). Sebelum dipimpin oleh sultan Mahmud
Baharudin, Pemerintahannya dipimpin oleh ayahnya, Sultan Muhammad Bahaudin pada tahun
1776- 1803. Sebelum menjabat sebagai sultan, nama aslinya adalah Raden Hasan Pangeran Ratu.

Semenjak menjabat sebagai sultan di kerajaan Palembang menggantikan ayahnya, Sultan


Mahmud melakukan perlawanan terhadap Belanda dan Inggris. Pada masa pemerintahan Sultan
Mahmud Bharudin, beliau beberapa kali memimpin pertempuran melawan Belanda dan Inggris
salah satunya yaitu Perang Menteng.

Pada saat Batavia berhasil diduduki pada tahun 1811, Sultan Mahmud Baharudin tepat tanggal
14 Mei 1811 berhasil membebaskan kota Palembang dari cengkraman Belanda. Semenjak timah
ditemukan di kota Bangka, Palembang dan wilayah sekitarnya menjadi incaran Belanda dan
Britania pada abad ke-18.

Pada tanggal 13 Juli 1821, Sultan Baharudin bersama keluarganya menaiki sebuah kapal
Dageerad dengan tujuan ke Batavia. Dari Bativia beliau bersama keluarganya oleh Belanda
diasingkan ke Ternate hingga sampai akhir hayatnya pada tanggal 26 September 1852.
Halim Perdanakusuma (Marsda. Abdul Halim Perdana Kusuma)

Abdul Halim Perdanakusuma, dilahirkan tanggal 18 November 1922 di Sampang Madura, Jawa Timur,
meninggal di Malaysia, 14 Desember 1947 pada umur 25 tahun) adalah seorang pahlawan nasional
Indonesia.

Ayahnya, Haji Abdul Gani Wongsotaruno adalah Patih Sumenep, Madura, Jawa Timur. Beliau adalah
putra ketiga dari lima bersaudara.

Sesuai keahlian dan pengalaman yang dimilikinya selama perang dunia ke 2 di Asia maupun Eropa, Halim
diserahi tugas sebagai Perwira Operasi. Ia bertanggungjawab atas pelaksanaan tugas operasi udara.
Tugas itu meliputi banyak bidang, antara lain menembus blokade udara Belanda, mengatur siasat
serangan udara atas daerah lawan, operasi penerjunan pasukan di luar Jawa dan penyelenggaraan
operasi penerbangan dalam rangka pembinaan wilayah.

Dalam kaitan usaha mencari bantuan ke luar negeri, Halim bersama Opsir Udara Iswahjudi pergi ke
Bangkok pada bulan Desember 1947 menggunakan pesawat Avro Anson VH-BBY (RI-003). Sesudah
menyelesaikan tugas di Bangkok, RI-003 kembali berangkat menuju Singapura. Dalam perjalanan
kembali inilah tiba-tiba di daerah Perak-Malaysia pesawat tersebut terjebak dalam cuaca buruk. Pesawat
jatuh di Pantai Tanjung Hantu Perak-Malaysia sekitar pukul 16.30 tanggal 14 Desember 1947. Jenazah
Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma ditemukan, sedangkan jenazah Iswahjudi tidak ditemukan.

Pada tanggal 19 Desember 1947 dilakukan upacara pemakaman menurut agama Islam di Teluk Murok
terletak sekitar 5 km dari Lumut, Malaysia. Pada hari Pahlawan 10 November 1975, kerangka jenazah
almarhum dipindahkan dan dimakamkan kembali dengan upacara kemiliteran di tempat yang lebih
layak, yakni di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.

Sebagai penghargaan atas jasa dan pengabdiannya terhadap Angkatan Udara maka pimpinan TNI
Angkatan Udara menaikkan pangkatnya menjadi Laksamana Muda Udara (sekarang Marsekal Muda
Udara) Anumerta. Untuk mengabadikan namanya, pada tanggal 17 Agustus 1952 nama Pangkalan Udara
Cililitan diubah menjadi Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Pemerintah juga mengabadikan
namanya pada kapal perang KRI Abdul Halim Perdanakusuma. Selain itu juga memperoleh Bintang
Mahaputra tingkat IV (15 Februari 1961). Penghargaan tertinggi diberikan pemerintah berupa gelar
Pahlawan Nasional ((Keppres No. 63/TK/1975, tanggal 9 Agustus 1975).
Usman Janatin (Serda. KKO. Oesman Djanatin bin Haji Mohammad Ali)

Sersan Dua KKO Anumerta Usman Janatin bin H. Ali Hasan (lahir di Dukuh Tawangsari,
Desa Jatisaba, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, 18 Maret 1943 –
meninggal di Singapura, 17 Oktober 1968 pada umur 25 tahun) adalah salah satu dari dua
anggota KKO (Korps Komando Operasi; kini disebut Marinir) Indonesia yang ditangkap di
Singapura pada saat terjadinya Konfrontasi dengan Malaysia.

Bersama dengan seorang anggota KKO lainnya bernama Harun Thohir, ia dihukum gantung oleh
pemerintah Singapura pada Oktober 1968 dengan tuduhan meletakkan bom di wilayah pusat kota
Singapura yang padat pada 10 Maret 1965 (lihat Pengeboman MacDonald House).

Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.


Bau Massepe (Letjen. Andi Abdullah Bau Massepe)

Andi Abdullah Bau Massepe adalah putra dari Andi Mappanyukki (salah satu pahlawan Nasional
dari Sulawesi Selatan) dan ibunya Besse Bulo (putri Raja Sidenreng) di daerah Massepe,
Kabupaten Sidenreng Rappang. (Massepe dahulunya merupakan salah satu pusat kerajan
Addatuang (kerajaan) Sidenreng.

Beliau adalah pewaris tahta dari dua kerajaan besar di Sulawesi Selatan yaitu Kerajaan Bone dan
Gowa. Ia juga merupakan pewaris tahta dari lima kerajaan di sebelah barat Danau Sidenreng
yaitu Suppa, Allita, Sidenreng Rappang dan Sawito.

Bau Massepe merupakan anak Raja dari Kerajaan Bone yakni Andi Mappanyukki yang juga
seorang pejuang dari Sulawesi Selatan pada tanggal 10 November 2004 oleh Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional.

Semasa hidupnya Bau Massepe tiga kali beristri.

Semasa hidupnya pernah mengecap pendidikan formal pada Sekolah Rakyat selama 1 tahun
(1924), HIS (Hollands Inslander School (selesai 1932)

Jabatan/Keorganisasian yang pernah dilakoni oleh Beliau anatara lain; Datu Suppa tahun 1940,
Bunken Kanrekan Pare-Pare, Ketua Organisasi SUDARA Pare-Pare, Ketua Pusat Keselamatan
Rakyat Penasehat Pemuda/Pandu Nasional Indonesia, Ketua Umum BPRI (Badan Penunjang
Republik Indonesia), Kordinator perjuangan bersenjata bagi pemuda didaerah sekitar Pare-Pare

Andi Abdullah Bau Massepe wafat ditembak oleh pasukan Mayor Raymond Westerling -Korps
Baret Merah Belanda- pada tanggal 2 Februari 1947 setelah ditahan selama 160 hari. Wafat 10
hari sesudah konferensi Pacekke (tanggal 20 Januari 1947). Makam beliau dapat ditemukan di
Taman Makam Pahlawan kota Pare-Pare (110 kilometer utara Kota Makassar).

Beliau diakui sebagai pejuang yang teguh pendirian dan berani berkorban demi tegaknya NKRI.
Hal ini diakui oleh Westerling yang disampaikan kepada istrinya, A. Soji Petta Kanjenne, dia
berkata; “suamimu adalah jantan dan laki-laki pemberani. Ia bertanggung jawab atas semua
tindakannya, tidak mau mengorbankan orang lain demi kepentingan sendiri, sikap jantan ini
sangat saya hormati.”
I Gusti Ngurah Rai

Kolonel TNI Anumerta I Gusti Ngurah Rai (lahir di Desa Carangsari, Petang, Kabupaten
Badung, Bali, Hindia Belanda, 30 Januari 1917 – meninggal di Marga, Tabanan, Bali, Indonesia,
20 November 1946 pada umur 29 tahun) adalah seorang pahlawan Indonesia dari Kabupaten
Badung, Bali.

Ngurah Rai memiliki pasukan yang bernama "Ciung Wenara" melakukan pertempuran terakhir
yang dikenal dengan nama Puputan Margarana. (Puputan, dalam bahasa bali, berarti "habis-
habisan", sedangkan Margarana berarti "Pertempuran di Marga"; Marga adalah sebuah desa
ibukota kecamatan di pelosok Kabupaten Tabanan, Bali)

Bersama 1.372 anggotanya pejuang MBO (Markas Besar Oemoem) Dewan Perjoeangan
Republik Indonesia Sunda Kecil (DPRI SK) dibuatkan nisan di Kompleks Monumen de Kleine
Sunda Eilanden, Candi Marga, Tabanan. Detil perjuangan I Gusti Ngurah Rai dan resimen CW
dapat disimak dari beberapa buku, seperti "Bergerilya Bersama Ngurah Rai" (Denpasar: BP,
1994) kesaksian salah seorang staf MBO DPRI SK, I Gusti Bagus Meraku Tirtayasa peraih
"Anugrah Jurnalistik Harkitnas 1993", buku "Orang-orang di Sekitar Pak Rai: Cerita Para
Sahabat Pahlawan Nasional Brigjen TNI (anumerta) I Gusti Ngurah Rai" (Denpasar: Upada
Sastra, 1995), atau buku "Puputan Margarana Tanggal 20 November 1946" yang disusun oleh
Wayan Djegug A Giri (Denpasar: YKP, 1990).

Pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra dan kenaikan pangkat menjadi


Brigjen TNI (anumerta). Namanya kemudian diabadikan dalam nama bandar udara di Bali,
Bandara Ngurah Rai.