You are on page 1of 4

BAB I

PENDAHULUAN

Gangguan pendengaran atau tuli bukan saja merupakan masalah kesehatan perorangan,
namun menimbulkan masalah psikologis dan kesehatan komunitas. Gangguan pendengaran
sering kali menimbulkan masalah sosial, seperti rasa malu dan berkurangnya kualitas hidup
seseorang. Hearing loss atau kurang pendengaran didefinisikan sebagai kurangnya
pendengaran lebih dari 40 desibel (dB) dari pendengaran normal orang dewasa dan lebih dari
30 desibel (dB) dari pendengaran normal anak-anak. Kurang pendengaran secara umum
dibagi menjadi tiga tipe, yaitu conductive hearing loss (CHL) atau kurang pendengaran tipe
konduktif, disebabkan oleh masalah yang terjadi pada telinga luar atau tengah. Kemungkinan
penyebab tuli konduktif bisa dari menumpuknya kotoran telinga atau infeksi. Sensorineural
hearing loss (SNHL) atau kurang pendengaran tipe sensorineural menggambarkan masalah
berada pada telinga dalam. Gangguan tipe ini bisa disebabkan oleh berbagai hal seperti
kerusakan pada sel rambut didalam koklea akibat penuaan atau rusak akibat suara yang
terlalu keras. Mixed hearing loss (MHL) atau kurang pendengaran tipe campuran dimana
gangguan ini melibatkan 2 unsur yaitu, tuli konduktif dan sensorineural.(1,2,3)

Prevalensi gangguan pendengaran 1 : 10.000 jiwa pertahun, tidak dipengaruhi oleh ras dan
jenis kelamin. Kebanyakan kasus gangguan pendengaran pada usia 30-60 tahun, biasanya
gangguan pendengaran bersifat unilateral sekitar 1,7% dan bilateral 2%. Gangguan
pendengaran yang mengenai anak-anak menyebabkan konsekuensi yang berat seperti
gangguan perkembangan bicara, bahasa dan kognitif, sementara gangguan pendengaran yang
mengenai orang dewasa dapat menurunkan kualitas hidup seseorang.(4)
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi telinga

Telinga dibagi menjadi 3 bagian, yaitu telinga luar, yang berfungsi untuk mengumpulkan
gelombang suara dan meneruskan ke telinga tengah, telinga tengah, yang berfungsi untuk
menyalurkan getara suara ke oval window, dan telinga dalam yang berfungsi sebagai reseptor
pendengaran dan keseimbangan.

2.1.1 Telinga luar

Telinga bagian luar terdiri dari, daun telinga , canalis auditiva eksterna dan gendang telinga.
Daun telinga merupakan bagian tulang rawan yang elastis seperti ujung terompet dan dilapisi
oleh kulit. Tepi dari daun telinga adalah helix, dan dibagian bawah membentuk lobulus.
Ligamen dan otot menempel pada daun telinga hingga ke kepala. Canalis auditiva eksterna
adalah tabung melengkung sekitar 2,5 cm, memanjang pada tulang temporal dan menuju
gendang telinga. Membran gendang telinga adalah bagian yang tipis, semitransparan yang
terletak diantara canalis auditiva eksterna dan telinga tengah. Membran gendang telinga
dilapisi oleh epidermis dan epitel selapis kuboid. Diantara lapisan epitel terdapat jaringan
kolagen, serat fibroelastis dan fibroblas. Robeknya membran gendang telinga disebut
perforasi gendang telinga. Perforasi gendang telinga dapat disebabkan oleh tekanan dari
cotton swab, trauma atau infeksi telinga tengah, dan biasanya membaik dalam beberapa
bulan. Membran gendang telinga dapat diperiksa dengan menggunakan alat yaitu otoskop,
alat tersebut dapat melihat bentuk dari canalis auditiva eksterna dan refleks cahaya dari
gendang telinga.

Dekat dengan celah telinga bagian luar, canalis auditiva eksterna terdiri dari sedikit rambut
dan kelenjar keringat yang disebut kelenjar seruminosa. Kelenjar seruminosa adalah kelenjar
yang berfungsi untuk menghasilkan sekret dan serumen. Kombinasi antara rambut-rambut
dan serumen membantu untuk mencegah debu atau benda asing masuk ke dalam telinga.
Serumen juga mencegah terjadinya kerusakan kulit pada canalis auditiva eksterna oleh cairan
dan serangga. Serumen biasanya mengering dan keluar dari kanal telinga. Namun, beberapa
orang menghasilkan serumen dalam jumlah yang sangat banyak yang dapat mempengaruhi
suara yang masuk ke dalam telinga. Pengobatan akibat dari menumpuknya serumen ini
biasanya dengan cara irigasi atau pengangkatan lilin serumen dengan pengait tumpul yang
dilakukan oleh dokter.

2.1.2 Telinga tengah

Telinga tengah merupakan organ yang sempit. Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas
luar adalah membran timpani, batas depan adalah tuba eustachius, batas bawah adalah vena
jugularis, batas belakang adalah aditus ad antrum dan kanalis fasialis pars vertikalis, batas
atas adalah tegmen timpani dan batas dalam berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semi
sirkularis horizontal, kanalis fasialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar (round
window) dan promontorium.
Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan
terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas disebut pars flaksida, sedangkan
bagian bawah pars tensa. Pars flaksida hanya berlapis dua, yaitu bagian luar ialah lanjutan
epitel kulit liang telinga dan bagian dalam di lapisi oleh sel kubus bersilia, seperti epitel
mukosa saluran napas. Pars tensa mempunyai satu lapis lagi di tengah, yaitu lapisan yang
terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier dibagian luar dan
sirkuler pada bagian dalam.

Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran timpani disebut sebagai umbo.
Dari umbo bermula suatu reflek cahaya (cone of light) ke arah bawah yaitu pada pukul 7
untuk membran timpani sebelah kiri dan pukul 5 untuk membran timpani kanan. Reflek
cahaya ialah cahaya dari luar yang dipantulkan oleh membran timpani. Di membran timpani
terdapat 2 macam serabut, sirkuler dan radier. Serabut inilah yang menyebabkan timbulnya
refleks cahaya yang berupa kerucut itu. Secara klinis reflek cahaya ini dinilai, misalnya bila
letak reflek cahaya mendatar , berarti terdapat gangguan pada tuba austachius.

Membran timpani dibagi dalam 4 kuadran, dengan menarik garis searah dengan prosesus
longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga didapatkan bagian
atas-depan, atas-belakang, bawah-depan serta bawah-belakang, untuk menyatakan letak
perforasi membran timpani. Bila melakukan miringotomi atau parasentesis, dibuat insisi di
bagian bawah belakang membran timpani, sesuai dengan arah serabut membran timpani. Di
daerah ini tidak terdapat tulang pendengaran. Di dalam telinga tengah terdapat tulang-tulang
pendengaran yang tersusun dari luar ke dalam, yaitu maleus, inkus, dan stapes.

Tulang pendengaran di dalam telinga tengah saling berhubungan. Prosesus longus maleus
melekat pada membran timpani, maleus melekat pada inkus, dan inkus melekat pada stapes.
Stapes terletak pada tingkap lonjong yang berhubungan dengan koklea. Hubungan antar
tulang-tulang pendengaran merupakan persendian. Pada pars flaksida terdapat daerah yang
disebut atik. Di tempat ini terdapat aditus ad antrum, yaitu lubang yang menghubungkan
telinga tengah dengan antrum mastoid. Tuba eustachius termasuk dalam telinga tengah yang
menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah.

2.1.3 Telinga dalam

Telinga dalam terdiri dari koklea yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang
terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema,
menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli. Kanalis semisirkularis saling
berhubungan secara tidak lengkap. Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibuli
sebelah atas, skala timpani sebelah bawah dan skala media diantaranya. Skala vestibuli dan
skala timpani berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa. Ion dan garam yang
terdapat di perilimfa berbeda dengan endolimfa. Hal ini penting untuk pendengaran. Dasar
skala vestibuli disebut sebagai membran vestibuli, sedangkan dasar skala media adalah
membran basalis. Pada membran ini terletak organ corti.
Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran tektoria, dan
pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel rambut luar
dan kanalis corti, yang membentuk organ corti.

2.1.4 Fisiologi pendengaran

Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam bentuk
gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut
menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang
pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan
perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah
diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga
perilimfa pada skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan melalui membrana reissner yang
mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris
dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan
terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi
penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses
depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam sinapsis yang akan
menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius
sampai ke korteks pendengaran (area asosiasi 39-40) di lobus temporalis.