You are on page 1of 11

Catatan Kuliah Devi

Selasa, 21 Februari 2017


Makalah preeklamsi dan eklamsi dengan pengobatan diuretik

PREKLAMSI DENGAN PENGOBATAN DIURETIK


Dosen Pengampu :Indrawati Kurnia Setyani,S.Farm.,Apt

Disusun Oleh kelompok 3 :


Listi Eka Fitriana 16150014
Rina Setiawati 16150015
Devi Nala Sari 16150016
Listiyo Natarici 16150017
Leni marlina 16150018
Elityas Suprabawati 16150019
Endah Lestari 16150020

Kelas: A.13.1
PROGRAM STUDI D3 KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
TAHUN AKADEMIK
2016/2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang maha Esa Yang telah melimpahkan Rahmat dan
Hidayah-Nya sehingga Makalah dengan judul “unsur-unsur kebudayaan dan sistem budaya serta
sistem sosial” ini dapat selesai dengan tepat waktu. Terwujudnya makalah ini, tidak terlepas dari
bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu kami selaku penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Indrawati Kurnia Setyani,S.Farm.,Apt selaku dosen pengampu pada mata kuliah ilmu sosial
budaya dasar yang telah memberikan ilmu dan sumbangsinya dalam menyusun makalah ini.
2. Bapak dan Ibu tercinta yang telah memberikan motivasi dan dukungan baik moral maupun
spiritual.
3. Teman-teman yang tercinta yang telah sabar untuk meluangkan waktunya untuk berdiskusi
dalam menyusun makalah ini.
4. Dan semua pihak yang telah membantu dalam menyusun makalah ini.
Dalam makalah ini terdapat beberapa pembahasan materi mengenai “Diuretik dan Hipertensi”.
Namun dalam penyusunannya masih terdapat banyak kekurangan oleh karena itu kritik dan saran
yang membangun diharapkan penulis dari semua pihak, agar kedepannya lebih baik lagi dalam
menyusun makalah.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, baik itu penulis terlebih
kepada pembacanya.

Yogyakarta,13 Februari 2017

DAFTAR ISI

Kata pengantar ........................................................................... i


Daftar isi ..................................................................................... ii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................... 1
B. Tujuan .................................................................................. 1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hipertensi ...……………………………….....
B. Preklamsi........................................................................
C. Eklamsi..........................................................................
D. Diuretik................................................................
E. Studi kasus mengenai bayi baru lahir dengan ibu preklamsi berat
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan ……………………………...........................
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………......
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Preeklampsia dan eklampsia merupakan kesatuan penyakit yang disebabkan oleh kehamilan
walaupun belum jelas bagaimana terjadi. Diindonesia preeclampsia, eklampsia, disamping
perdarahan dan infeksi masih merupakan sebab utama kematian ibu dan sebab kematian perinatal
yang tinggi. (professor dotor dokter sarwono prawirhadjo, DSOG).
Angka kematian Ibu dan bayi saat ini masih sangat tinggi. Terutama untuk ibu hamil yang
tinggal di desa-desa, selain karena pengetahuan ibu hamil yang kurang dan tidak begitu mengerti
tentang kesehatan juga karena perawatan dalam persalinan masih di tangani oleh petugas non
medik dan sistem rujukan yang belum sempurna. (Prof. dr.H. Muh.Dikman Angsar, SpOG, tahun
2005).
Salah satu penyebab dari tingginya mortalitas dan morbiditas ibu bersalin adalah hipertensi yang
karena tidak di tangani dengan benar berujung pada preeklsamsia dan eklamsia. Hipertensi
dalam kehamilan merupakan 5 – 15 % penyulit kehamilan. Oleh karena itu, ditekankan bahwa
pengetahuan tentang pengelolaan sindroma preeklamsi ringan dengan hipertensi, odema dan
protein urine harus benar–benar dipahami dan ditangani dengan benar oleh semua tenaga medis.
(Prof. dr.H. Muh.Dikman Angsar, SpOG, tahun 2005).
Preeklampsia adalah penyakit pada wanita hamil yang secara langsung disebabkan oleh
kehamilan. Pre-eklampsia adalah hipertensi disertai proteinuri dan edema akibat kehamilan
setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum
20 minggu bila terjadi. Preeklampsia hampir secara eksklusif merupakan penyakit pada
multipara. Biasanya terdapat pada wanita masa subur dengan umur ekstrem yaitu pada remaja
belasan tahun atau pada wanita yang berumur lebih dari 35 tahun.
Eklampsia merupakan kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau nifas, yang
ditandai dengan timbulnya kejang dan / atau koma. Biasanya Sebelumnya wanita hamil itu
menunjukkan gejala-gejala pre-eklampsia (kejang-kejang dipastikan BUKAN timbul akibat
kelainan neurologik lain).

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui lebih banyak tentang preklamsi
2. Untuk mengetahui lebih banyak tentang eklamsi
3. Untuk mengetahui pengobatan preklamsi dengan menggunakan pengobatan diuretik
HIPERTENSI
Hipertensi adalah kondisi tekanan darah tingi dan dapat mengakibatkan penyakit lain seperti
penyakit jantung. Tekanan darah adalah kekuatan darah yang mendorong melawan dinding
arteri, dan jantung yang memompa darah melawan arteri.
Hipertensi dibagi menjadi 2 yaitu
hipertensi primer
Juga disebut hipertensi ‘esensial’ atau ‘idiopatik’ dan merupakan 95% dari kasus-kasus
hipertensi. Tekanan darah merupakan hasil curah jantung dan resistensi vaskular, sehingga
tekanan darah meningkat jika curah jantung meningkat, restensi vaskular perifer bertambah, atau
keduanya. Pada hipertensi, curah jantung cenderung menurun dan resistensi perifer meningkat.
Adanya hipertensi juga menyebabkan penebalan dinding arteri dan arteriol, mungkin sebagian
diperantari oleh faktor yang dikenal sebagai pemicu hipertrofi vaskular dan vasokonstriksi
(insulin, katekolamin, angiotensin, hormon pertumbuhan), sehingga menjadi alasan sekunder
dari hipertensi yang sudah ada telah menyebabkan penelitian etiologi semakin sulit dan observasi
ini terbuka untuk berbagai interpretasi.
hipertensi sekunder
hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari adanya penyakit lain
yaitu akibat penyakit jantung/ginjal, diabetes, atau tumor dari kelenjar adrenal, obat-obatan,
maupun kehamilan.

PREEKLAMSI
Adalah peningkatan tekenan darah setelah 20 minggu kehamilan disertai proteinuria. Kondisi ini
dapat membahayakan organ-organ lainnya, seperti ginjal, hati, dan mata

Penyebab Preeklampsi

Plasenta adalah salah satu organ penting yang berfungsi untuk menyalurkan darah dari ibu ke
bayi di dalam kandungan. Munculnya preeklampsia diduga karena adanya gangguan
perkembangan pada plasenta, yang disebabkan oleh masalah pada pembuluh darah pemasok
plasenta. Faktor genetik atau adanya riwayat keluarga yang pernah mengalami preeklampsia juga
diduga berperan dalam mekanisme penyakit ini. Namun, penyebab pasti kondisi ini belum
sepenuhnya dipahami.

Pada keadaan normal, plasenta mendapatkan suplai darah yang banyak dan konstan untuk
mendukung perkembangan bayi. Namun pada kondisi preeklampsia, plasenta diduga tidak
mendapatkan cukup darah. Hal ini mengakibatkan suplai darah kepada bayi terganggu. Berbagai
sinyal dan substansi dari plasenta yang terganggu menyebabkan tingginya tekanan darah.

Faktor lain yang mungkin dapat memengaruhi munculnya preeklampsia, antara lain:
Kehamilan pertama
Pernah mengalami preeklampsia pada kehamilan sebelumnya
Mempunyai masalah medis lain, yaitu tekanan darah tinggi, diabetes, dan lupus
Usia lebih dari 40 tahun
Jarak kehamilan lebih dari 10 tahun dari kehamilan sebelumnya
Obesitas pada awal kehamilan

Gejala-gejala Preeklampsi
Preeklampsia umumnya jarang disertai dengan gejala-gejala tertentu, maka wanita hamil perlu
melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur dan mengecek tekanan darah. Tekanan darah
yang tinggi bisa menjadi gejala awal preeklampsia. Waspadai jika tekanan darah mencapai
140/90 mm/Hg atau lebih.

Gejala lainnya yang mungkin muncul dapat berupa sakit kepala hebat, mengalami gangguan
penglihatan, sensitif terhadap cahaya, sesak nafas, mual, dan muntah. Selain itu, nyeri dapat
muncul pada perut bagian atas, tepatnya di bawah rusuk sebelah kanan.

Pre-eklamsia digolongkan menjadi 2 golongan :


Pre-eklamsia ringan

kenaikan tekanan darah diastolik 15 mmHg atau >90 mmHg dengan 2 kali pengukuran
berjarak 1jam atau tekanan diastolik sampai 110mmHg
kenaikan tekanan darah sistolik 30 mmHg atau > atau mencapai 140 mmHg.
protein urin positif 1, edema umum, kaki, jari tangan dan muka. Kenaikan BB > 1Kg/mgg.

Pre-eklampsia berat :

tekanan diastolik >110 mmhg


protein urin positif 3, oliguria (urine, 5gr/L). hiperlefleksia, gangguan penglihatan, nyeri
epigastrik, terdapat edema dan sianosis, nyeri kepala, gangguan kesadaran.

PATALOGI
Pre-eklamsi ringan jarang sekali menyebabkan kematian ibu. Oleh karena itu, sebagian besar
pemeriksaaan anatomik patologik berasal dari penderita eklampsi yang meninggal. Pada
penyelidikan akhir-akhir ini dengan biopsi hati dan ginjal ternyata bahwa perubahan anatomi-
patologik pada alat-alat itu pada pre-eklamsi tidak banyak berbeda dari pada ditemukakan pada
eklamsi. Perlu dikemukakan disini bahwa tidak ada perubahan histopatologik khas pada pre-
eklamsi dan eklamsi. Perdarahan, infark, nerkosis ditemukan dalam berbagai alat tubuh.
Perubahan tersebut mungkin sekali disebabkan oleh vasospasmus arteriola. Penimbunan fibrin
dalam pembuluh darah merupakan faktor penting juga dalam patogenesis kelainan-kelainan
tersebut.

PERUBAHAN-PERUBAHAN PADA ORGAN SAAT PREEKLAMSI

Perubahan hati
Perdarahan yang tidak teratur, Terjadi nekrosis, trombosis pada lobus hati, Rasa nyeri di
epigastrium karena perdarahan subkapsuler

Retina
Spasme areriol, edema sekitar diskus optikus, Ablasio retina (lepasnya retina), Menyebabkan
penglihatan kabur

Otak
Spasme pembuluh darah arteriol otak menyebabkan anemia jaringan otak, perdarahan dan
nekrosis. Menimbulkan nyeri kepala yang berat
Paru-paru
Berbagai tingkat edema, Bronkopnemonia sampai abses. Menimbulkan sesak nafas sampai
sianosis

Jantung
Perubahan degenerasi lemak dan edema, Perdarahan sub-endokardial. Menimbulkan
dekompensasio kordis sampai terhentinya fungsi jantung

Aliran darah keplasenta


Spasme arteriol yang mendadak menyebabkan asfiksia berat sampai kemaian janin. Spasme yang
berlangsung lama, mengganggu pertumbuhan janin

Perubahan ginjal
Spasme arteriol menyebabkan aliran darah ke ginjal menurun sehingga fitrasi glomerolus
berkurang Penyerapan air dan garam tubulus tetap terjadi retensi air dan garam Edema pada
tungkai dan tangan, paru dan organ lain

Perubahan pembuluh darah


Permeabilitasnya terhadap protein makin tinggi sehingga terjadi vasasi protein ke jaringan
Protein ekstravaskuler menarik air dan garam menimbulkan edema Hemokonsentrasi darah yang
menyebabkan gangguan fungsi metabolisme tubuh dan trombosis.

Cara Mengatasi Preeklampsi


Jika wanita hamil terdeteksi mengalami preeklampsia, akan melakukan pemeriksaan lebih sering
dibandingkan pemeriksaan rutin yang biasa dilakukan akan melakukan beberapa tes guna
mengetahui kondisi bayi dalam kandungan.
Tata laksana preeklamsia yang paling utama adalah persalinan. Apabila usia kandungan tidak
terlalu muda, biasanya akan menyarankan untuk melakukan proses kelahiran lebih cepat agar
tidak membahayakan kondisi ibu dan bayi dalam kandungan.
Namun, jika usia kandungan masih terlalu muda dan preeklampsia telah terdeteksi sejak dini,
akan melakukan beberapa hal untuk mengatasinya.
cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi preeklampsi.
Penurunan tekanan darah. Pada kondisi preeklampsia tekanan darah akan tinggi, sehingga
dibutuhkan perawatan yang dapat menurunkan antihipertensi. Tidak semua obat antihipertensi
aman bagi ibu hamil. Jadi sebelum tekanan darah atau disebut mengonsumsi obat tersebut,
diskusikan terlebih dahulu dengan dokter.
Obat antikejang. Magnesium sulfat sering dipakai untuk mengatasi dan mencegah kejang. Dokter
akan memberikan obat ini jika preeklampsia tergolong berat.
Kortikosteroid. Kortikosteroid biasanya diberikan jika ibu hamil mengalami kondisi
preeklampsia atau sindrom HELLP (hemolisis, peningkatan enzim hati, dan kadar platelet
rendah). Kortikosteroid dapat meningkatkan fungsi trombosit dan hati untuk mencegah
persalinan terlalu awal. Selain itu, kortikosteroid juga dapat membantu mematangkan paru-paru
bayi agar jika harus lahir prematur, bayi dapat bernapas dengan baik.
Rawat inap. Jika preeklampsia yang dialami ibu hamil tergolong berat, kemungkinan dokter akan
meminta untuk melakukan rawat inap agar dokter dapat dengan mudah mengontrol kondisi ibu
hamil, bayi di dalam kandungan, dan kadar cairan amniotik. Kurangnya cairan amniotik
merupakan tanda adanya masalah dengan suplai darah pada bayi.

EKLAMSI
Eklamsi adalah kelainan akut pada ibu hamil, saat hamil tua, persalinan atau masa nifas ditandai
dengan timbulnya kejang atau koma, dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre
eklamsi (hipertensi, edema, proteinuri).
Istilah eklampsia berasal dari bahasa Yunani dan berarti "halilintar". Kata tersebut dipakai karena
seolah-olah gejala-gejala eklampsia timbul dengan tiba-tiba tanpa didahului oleh tanda-tanda
lain.
Penyebab Etiologi Eklamsi
Sebab eklamsi belum diketahui benar. Salah satu teori yang dikemukakan ialah bahwa eklamsi
disebabkan ischaemia rahim dan plasenta (ischaemia uteroplasenta). Selama kehamilan uterus
memerlukan darah lebih banyak.
Pada molahidatidosa, hydramnion, kehamilan ganda, multipara, pada akhir kehamilan, pada
persalinan, juga pada penyakit pembuluh darah ibu, diabetes, peredaran darah dalam dinding
uterus kurang, maka keluarlah zat-zat dari plasenta atau decidua yang menyebabkan
vasospasmus dan hipertensi.
Gejala eklamsi
. Eklampsia pada umumnya timbul pada wanita hamil atau dalam nifas dengan tanda-tanda
preeklampsia. Pada wanita yang menderita eklampsia timbul serangan kejang yang diikuti oleh
koma bila tidak segera mendapatkan penanganan medis pengobatan dan perawatan eklamsia
yang tepat.Tanda dan gejalanya sebagai berikut:
Sakit kepala hebat
Gangguan penglihatan
Nyeri epigastrik
Muntah
Nyeri tekan dihati
Klonus/hiperrefleksia
Trombosit rendah
Papiloedema
Fungsi hati abnormal (ALT [alanine transminase] atau AST [aspartate transaminase] > 70 IU/l)
Penanganan eklamsi
Pengobatan medikamentosa
Tujuan utama pengubatan medikamentosa eklampsia ialah mencegah dan menghentikan kejang,
mencegah dan mengatasi penyulit, khususnya hipertensi krisis, mencapai stabilisasi ibu
seoptimal mungkin sehingga dapat melahirkan janin pada saat dan dengan cara yang tepat.
1) Obat anti kejang
Antikejang yang menjadi pilihan utama ialah mangnesium sulfat. Bila dengan jenis obat ini
kejang masih sukar diatasi, dapat dipakai obat jenis lain, misalnya thiopental. Diazepam dapat
dipakai sebagai alternative pilihan, namun mengingat dosis yang diperlukan sangat tinggi,
pemberian diazepam hanya dilakukan oleh mereka yang telah berpengalaman. Pemberian
diuretikum hendaknya selalu disertai dengan memonitor plasma elektrolit. Obat kardiotonika
ataupun obat-obat antihipertensi hendaknya selalu disiapkan dan diberikan benar-benar atas
indikasi.
2) Magnesium sulfat (MgSO4)
Pemberian magnesium sulfat pada dasarnya sama seperti pemberian magnesium sulfat pada
preeklampsia berat. Pengobatan suportif terutama ditujukan untuk gangguan fungsi organ-organ
penting, misalnya tindakan-tindakan untuk memperbaiki asidosis, mempertahankan ventilasi
paru-paru, mengatur tekanan darah, mencegah dekompensasi kordis.
2. Pengobatan obstetric
Sikap terhadap kehamilahn ialah semua kehamilan dengan eklampsia harus diakhiri, tanpa
memandang umur kehamilan dan keadaan janin. Persalinan diakhiri bila sudah mencapai
stabilisasi (pemulihan) hemodinamika dan metabolisme ibu. Pada perawatan pasca persalinan,
bila persalinan terjadi pervaginam, monitoring tanda-tanda vital dilakukan sebagimana lazimnya.
Prognosis
Bila penderita tidak terlambat dalam pemberian pengobatan, maka gejala perbaikan akan tampak
jelas setelah kehamilannya diakhiri. Segera setelah persalinan berakhir perubahan patofisiologik
akan segera pula mengalami perbaikan. Dieresis terjadi 12 jam kemudian setelah persalinan.
Keadaan ini merupakan tanda prognosis yang baik, karena hal ini merupakan gejala pertama
penyembuhan. Tekanan darah kembali normal dalam beberapa jam kemudian.
JENIS-JENIS OBAT YANG DIGGUNAKAN
Magnesium sulfat
Merupakan antikonvulsan yang efektif dan membantu mencegah kejang kambuhan dan
mempertahankan aliran darah ke uterus dan aliran darah ke fetus. Magnesium sulfat berhasil
mengontrol kejang eklamptik pada >95% kasus. Selain itu zat ini memberikan keuntungan
fisiologis untuk fetus dengan meningkatkan aliran darah ke uterus.
Fenitoin
Fenitoin telah berhasil digunakan untuk mengatasi kejang eklamptik. Fenitoin bekerja
menstabilkan aktivitas neuron dengan menurunkan flux ion di seberang membran depolarisasi.
Keuntungan fenitoin adalah dapat dilanjutkan secara oral untuk beberapa hari sampai risiko
kejang eklamtik berkurang.
Diazepam
Telah lama digunakan untuk menanggulangi kegawatdaruratan pada kejang eklamptik.
Mempunyai waktu paruh yang pendek dan efek depresi SSP yang signifikan.
Hidralazin
Merupakan vasodilator arteriolar langsung yang menyebabkan takikardi dan peningkatan cardiac
output. Hidralazin membantu meningkatkan aliran darah ke uterus dan mencegah hipotensi.
Hidralazin dimetabolisir di hati. Dapat mengontrol hipertensi pada 95% pasien dengan
eklampsia.
Labetalol
Merupakan beta-bloker non selektif. Tersedia dalam preparat IV dan per oral. Digunakan sebagai
pengobatan alternatif dari idralazin ada penderita eklampsia.
Nifedipin
Merupakan Calcium Channel Blocker yang mempunyai efek vasodilatasi kuat arteriolar. Hanya
tersedia dalam bentuk preparat oral.

DIURETIK
Diuretik : golongan obat-obatan yang sifatnya meningkatkan produksi air kencing, digunakan
sebagai terapi pada penderita tekanan darah tinggi.
Golongan obat diuretik yang umum diresepkan contohnya HCT (hydrochlorothiazide) dan
Spironolakton.
Efek samping dari penggunaan jangka panjang bisa berupa hipokalemi (kadar kalium rendah
dalam darah), dan hiperurisemia (kadar asam urat meningkat dalam darah) Penggunaan diuretik
harus dihindari pada pasien tekanan darah tinggi disertai kencing manis (diabetes) atau pada
penderita kolesterol.
GOLONGAN DIURETIK
Diuretik dapat dibagi menjadi 5 golongan yaitu :
1. Diuretik osmotik
Diuretik osmotik mempunyai tempat kerja :
a. Tubuli proksimal
Diuretik osmotik ini bekerja pada tubuli proksimal dengan cara menghambat reabsorpsi natrium
dan air melalui daya osmotiknya.
b. Ansa enle
Diuretik osmotik ini bekerja pada ansa henle dengan cara menghambat reabsorpsi natrium dan
air oleh karena hipertonisitas daerah medula menurun.
c. Duktus Koligentes
Diuretik osmotik ini bekerja pada Duktus Koligentes dengan cara menghambat reabsorpsi
natrium dan air akibat adanya papillary wash out, kecepatan aliran filtrat yang tinggi, atau
adanya faktor lain.
Istilah diuretik osmotik biasanya dipakai untuk zat bukan elektrolit yang mudah dan cepat
diekskresi oleh ginjal. Contoh dari diuretik osmotik adalah ; manitol, urea, gliserin dan isisorbid.
2. Diuretik golongan penghambat enzim karbonik anhidrase
Diuretik ini merintangi enzim karbonanhidrase di tubuli proksimal sehingga di samping karbonat
, juga Na dan K di ekskresikan lebih banyak bersama dengan air. Khasiat diuretiknya hanya
lemah, setelah beberapa hari terjadi tachyfylaxie, maka perlu digunakan secara selang seling
(intermittens). Diuretic bekerja pada tubuli Proksimal dengan cara menghambat reabsorpsi
bikarbonat.
Yang termasuk golongan diuretik ini adalah asetazolamid, diklorofenamid dan meatzolamid.
3. Diuretik golongan tiazid
Diuretik golongan tiazid ini bekerja pada hulu tubuli distal dengan cara menghambat reabsorpsi
natrium klorida. Efeknya lebih lemah dan lambat tetapi tertahan lebih lama (6-48 jam) dan
terutama digunakan dalam terapi pemeliharaan hipertensi dan kelemahan jantung
(dekompensatio cardis). Obat-obat ini memiliki kurva dosis efek datar, artinya bila dosis optimal
dinaikkan lagi efeknya (dieresis, penurunan tekanan darah) tidak bertambah.Obat-obat diuretik
yang termsuk golongan ini adalah ; klorotiazid, hidroklorotiazid, hidroflumetiazid,
bendroflumetiazid, politiazid, benztiazid, siklotiazid, metiklotiazid, klortalidon, kuinetazon, dan
indapamid.
4. Diuretik hemat kalium
Diuretik hemat kalium ini bekerja pada hilir tubuli distal dan duktus koligentes daerah korteks
dengan cara menghambat reabsorpsi natrium dan sekresi kalium dengan jalan antagonisme
kompetitif (sipironolakton) atau secara langsung (triamteren dan amilorida).efek obat-obat ini
hanya melemahkan dan khusus digunakan terkombinasi dengan diuretika lainnya guna
menghemat ekskresi kalium. Aldosteron menstimulasi reabsorbsi Na dan ekskresi K. proses ini
dihambat secara kompetitif (saingan) oleh obat-obat ini. Amilorida dan triamteren dalam
keadaan normal hanyalah lemah efek ekskresinya mengenai Na dan K. tetapi pada penggunaan
diuretika lengkungan dan thiazida terjadi ekskresi kalium dengan kuat, maka pemberian bersama
dari penghemat kalium ini menghambat ekskresi K dengan kuat pula. Mungkin juga ekskresi dari
magnesium dihambat.
5. Diuretik kuat
Diuretik kuat ini bekerja pada Ansa Henle bagian asenden pada bagian dengan epitel tebal
dengan cara menghambat transport elektrolit natrium, kalium, dan klorida. Obat-obat ini
berkhasiat kuat dan pesat tetapi agak singkat (4-6 jam). Banyak digunakan pada keadaan akut,
misalnya pada udema otak dan paru-paru. Memperlihatkan kurva dosis efek curam, artinya bila
dosis dinaikkan
Yang termasuk diuretik kuat adalah ; asam etakrinat, furosemid dan bumetamid

STUDI KASUS
BAYI BARU LAHIR PADA BAYI NY. M DENGAN IBU PRE EKLAMSI BERAT
Hari/ Tanggal : Jumat, 18.07.2014
Waktu : 19.47
Tempat : Ruang Perinatologi RSUD Indramayu
A. DATA SUBJEKTIF
1. Identitas bayi
Nama bayi : By Ny. M
Umur : 0 jam
Tanggal/jam lahir : 18.07.2014/ 19.47 WIB
Jenis kelamin : Laki-laki
2. Identitas orang tua
Nama Ibu : Ny. M Nama Suami : Tn. M
Umur : 20 Tahun Umur : 29 Tahun
Pendidikan : SMA Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Nelayan
Agama : Islam Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa Suku bangsa : Jawa
Alamat : Desa Paoman rt/rw 04.02 Kec. Indramayu

B. DATA OBJEKTIF
Tanggal 18 Juli 2014 jam 19.47 WIB bayi lahir hidup, spontan segera menangis, warna kulit
kemerahan kecuali daerah ekstremitas, gerakan aktif, presentasi kepala, ketuban (-), jenis
kelamin Perempuan, keadaan umum cukup baik, gerakan cukup aktif, tangisan kuat, warna kulit
kemerahan, Apgar Skor 6/8, ibu dengan PEB.
C. PENATALAKSANAAN
1. Membina hubungan baik dengan ibu dan keluarga bayi àHubungan dengan ibu dan
keluarga bayi terbina dengan baik
2. Melakukan informed consent untuk dilakukan pemeriksaan pada bayi à ibu dan keluarga
bayi menyetujui tindakan yang akan dilakukan
3. Menilai keadaan bayi baru lahir bayi lahir spontan segera menangis, warna kulit
kemerahan, gerakan aktif.
4. Melakukan penjepitan, pemotongan dan pengikatan tali pusat àtindakan telah dilakukan,
tali pusat terpotong dan terikat
5. Bayi dibungkus dengan kain kemudian bayi di bawa ke ruang perinatologi untuk diberikan
tindakan lebih lanjut à bayi langsung dibawa ke ruang perinatologi
6. Menghangatkan bayi àmeletakan bayi di penghangat.
7. Bersihkan bayi dengan rangsang taktil à bayi menangis kuat
8. Pemberian Vit K dan cairan tetes mata à Vit K dan cairan tetes mata telah di berikan
9. Pemberian Antibiotik Antilaksis à diberikan secara peroral
10. Pemeriksaan Antropometri à Berat Badan : 2500 gram Panjang Badan : 49 cm Lingkar
Kepala : 33 cm Lingkar Dada : 31 cm
11. Observasi tanda – tanda vital à jam 19.47 Denyut jantung: 140x/menit, R: 40x/menit, S:
36,5oC
12. Memberitahu ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan bahwa keadaan umum bayi baik
àibu dan keluarga mengetahui hasil pemeriksaan
13. Hangatkan kembali tubuh bayi dengan di bedong à memakai kain bersih dan kering

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Hipertensi adalah kondisi tekanan darah tingi dan dapat mengakibatkan penyakit lain seperti
penyakit jantung. Tekanan darah adalah kekuatan darah yang mendorong melawan dinding
arteri, dan jantung yang memompa darah melawan arteri.
Preklamsi adalah peningkatan tekenan darah setelah 20 minggu kehamilan disertai proteinuria.
Kondisi ini dapat membahayakan organ-organ lainnya, seperti ginjal, hati, dan mata
Eklamsi adalah kelainan akut pada ibu hamil, saat hamil tua, persalinan atau masa nifas ditandai
dengan timbulnya kejang atau koma, dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre
eklamsi (hipertensi, edema, proteinuri).
Diuretik : golongan obat-obatan yang sifatnya meningkatkan produksi air kencing, digunakan
sebagai terapi pada penderita tekanan darah tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
http://mustikacintaku.blogspot.co.id/p/golongan-diuretik_05.html
http://www.alodokter.com/waspadai-preeklampsia-di-masa-kehamilan
http://ayouaone.blogspot.co.id/2013/05/preeklamsi-dan-eklamsia-obstetri.html
http://portalkesehatanku.blogspot.co.id/2015/01/tanda-gejala-preeklamsia-eklamsia-dan.html
http://zesranita.blogspot.co.id/2015/03/penanganan-kegawat-daruratan-pada-kasus.htm