You are on page 1of 5

Anatomi payudara dan fisiologi laktasi

Anatomi payudara
Secara vertikal payudara terletak diantara kosta II dan VI , secara horizontal mulai dari
pinggir sternum sampai linea akselris medialis. Kelenjar susu berada dijaringan sub kutan,
tepatnya diantara jaringan subkutan superfisial dan profundus, yang menutupi muskulus
pektoralis, mayor, sebagian kecil 100 anterior dan obliqus eksternal.
Bentu dan ukuran payudara akan bervariasi menurut aktivitas fungsionilnya seperti
apa yang didapatkan pada masa sebelum pubertas, pupertas, adolasen, dewasa, menyusui, dan
multipara.
Payudara menjadi besar saat hamil dan menyusui dan biasanya mengecil setelah
menopause. Pembesaran ini terutama disebabkan oleh pertumbuhan stroma jaringan
penyangga dan penimbunan jaringan lemak.

Kalang payudara
Letaknya mengelilingi puting susu dan berwarna kegelapan yang disebabkan oleh penipisan
dan penimbunan pigmen pada kulitnya. Perubahan warna ini tergantung dari corak kulit dan
adanya kehamilan. Pada wanita yang corak kulitnya kuning langsat akan berwarna jingga
kemerahan, bila kulitnya kehitaman maka warnanya akan lebih gelap. Selama kehamilan
warnanya akan menjadi lebih gelap dan warna ini akan menetap untuk selanjutnya, jadi tidak
kembali lagi seperti warna aslinya semula.
Pada daerah ini akan didapatkan kelenjar keringat,kelenjar lemak, dari montgomery
yang membentuk tuberkel dan akan membesar selama kehamilan. Kehamilan lemak ini akan
menghasilkan suatu bahan yang dapat melicinkan kalang payudara selama menyusui.

Puting susu
Terletak setinggi interkosta IV, tetapi berhubung adanya variasi bentuk dan ukuran payudara
maka letaknya pun akan bervariasi pula. Pada tempat ini terdapat lubang-lubang kecil yang
merupakan muara dari duktus laktiferus, ujung-ujung serat syaraf, pembuluh darah,
pembuluh getah bening, serat-serat otot polos yang tersusun secara sirkuler sehingga bila ada
kontraksi maka duktus laktiferus akan memadat dan menyebabkan puting susu ereksi,
sedangkan serat-serat otot yang longitudinal akan menarik kembali puting susu tersebut.
Payudarea terdiri dari 15-25 lobus. Masing-masing lobus terdiri dari 20-40 lobulus,
selanjutnya masing-masing lobulus terdiri dari 10-100 alveoli dan masing-masing
dihubungkan dengan saluran air susu (sistem duktus) sehingga merupakan suatu pohon.bila
diikuti pohon tersebut dari akarnya pada puting susu, akan didapatkan saluran air susu yang
disebut duktus laktiferus.

Fisiologi pengeluaran air susu ibu


Pengeluaran asi merupakan suatu interaksi yang sangat kompleks antara rangsangan
mekanik,saraf, dan bermacam-macam hormon. Pengaturan hormon terhadap pengeluaran asi
dapat dibedakan menjadi tiga bagian yaitu:
1. Pembentukan kelenjar payudara
2. Pembentukan air susu
3. Pemeliharaan pengeluaran air susu

Mekanisme menyusui
1. Refleks mencari (rooting reflex)
Payudara ibu yang menempel pada pipi atau daerah sekeliling mulut merupakan
rangsangan yang menimbulkan refleks mencari pada bayi. Ini menyebabkan kepala
bayi berputar menuju puting susu yang menempel tadi diikuti dengan membuka mulut
kemudian puting susu ditarik masuk ke dalam mulut.
2. Refleks menghisap (sucking reflex)
Tehnik menyusui yang baik adalah apabila kalang payudaranya sedapat mungkin
semuannya masuk kedalam mulut bayi, tetapi hal ini tidak mungkin dilakukan pada
ibu yang kalang payudaranya besar. Untuk ini maka sudah cukup bila rahang bayi
supaya menekan sinus laktiferus yang terletak di puncak kalang payudara di belakang
puting susu; adalah tidak dibenarkan bila rahang bayi hanya menekan puting susu
saja, karna bayi hanya dapat mengisap susu sedikit dan pihakibu akan timbul lecet-
lecet pada puting susunya.
3. Reflek menelan (swallowing reflex)
Pada saat air susu keluar dari puting susu, akan disusul dengan gerakan menghisap
(tekanan negatif) yang ditimbulkan oleh otot-otot pipi, sehingga pengeluaran air susu
akan bertambah dan diteruskan dengan mekanisme menelan masuk ke lambung.
Aspek gizi suu ibu
Petunjuk yang dapat dipakai untuk mengetahui produksi asi
Untuk mengetahui banyaknya produksi ASI, beberapa kriteria yang dapat dipakai
sebagai patokan untuk mengetahui jumlah ASI cukup atau tidak adalah:
- ASI yang banyak dapat merembes keluar melaui puting.
- Sebelum disusukan payudara terasa tegang
- Berat badan naik dengan memaukkan sesuai dengan umur.
umur Kenaikan berat badan rata-rata
1-3 bulan 700gr/bulan
4-6 bulan 600gr/bulan
7-9 bulan 400gr/bulan
10-12 bulan 300gr/bulan

Pada umur 5 bulan tercapai 2 x berat badan waktu lahir.


Pada umur 1 tahun tercapai 3x berat badan waktu lahir.
- Jika asi cukup, setelah menysui bayi akan tertidur/tenang selama 3-4 jam.
- Bayi kencing lebih sering, ekitar 8x sehari.

Langkah-langkah menyusui yang benar


1. Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit, kemudian dioleskan pada puting dan
disekitar kalang payudara. Cara ini mempunyai manfaat sebagai disinfektan dan
menjaga kelembaban puting susu.
2. Bayi diletakkan menghadap perut ibu/ payudara
 Ibu duduk atau berbaring dengan santai, bila duduk lebih baik
menggunakan kursi yang rendah(agar kaki ibu tidak menggantung) dan
punggung ibu bersandar pada sandaran kursi
 Bayi dipegang pada belakang bahunya dengan satu lengan,kepala bayi
terletak pada lengkung siku ibu (kepala tidak boleh mengadah, dan
bokong bayi ditahan dengan telapak tangan)
 Satu tangan bayi diletakkan dibelakang badan ibu, dan yang satu di
depan.
 Perut bayi menempel pada badan ibu, kepala bayi menghadap
payudara (tidak hanya membelokkan kepala bayi)
 Telinga dan lengan bayi terletak poda suatu garis lurus
 Ibu menatap bayi dengan kasih sayang
3. Payudara dibegang dengan ibu jari di atas dan jari yang lain menopang di bawah,
jangan menekan puting susu atau kalang payudara saja.
4. Bayi diberi rangsangan agar membuka mulut (rooting reflex) dengan cara:
 Menyentuh pipidengan puting susu atau,
 Menyentuh sisi mulut bayi

Pengeluaran ASI

Apabila ASI berlebihan sampai keluar memancar, maka sebelum menyusui sebaiknya ASI
sebaiknya ASI dikeluarkan terlebih dahulu, untuk menghindari bayi tersedak atau enggan
menyusu.
Pengeluaran ASI dapat dilakukan dengan dua cara:
1. Pengeluaran ASI dengan tangan
Cara ini yang lazim digunakan karena tidak banyak membutuhkan sarana dan lebih
mudah.
a. Tangan dicuci sampai bersih
b. Siapkan cangkir/ gelas bertutup yang telah dicuci dengan air mendidih
c. Payudara dikompresi dengan kain handuk yang hangat dan dimasase dengan
kedua telapak tangan dari pangkal ke arah kalang payudara, ulangi pemijatan ini
pada sekitar payudara secara merata
d. Dengan ibu jari di sekitar kalang payudara bagian atas dan jari telunjuk pada sisi
yang lain, lalu daerah kalang payudara ditekan ke arah dada
e. Daerah kalang payudara diperas dengan ibu jari dan telunjuk, jangan memijat/
menekan puting, karena dapat menyebabkan rasa nyeri/lecet
f. Ulangi tekan-peras-lepas,pada mulanya ASI taj keluar, setelah beberapa kali maka
ASI akan keluar
g. Gerakan ini diulang pada sekitar kalang payudara pada semua sisi, agar yakin
bahwa ASI telah diperas dari semua segmen payudara.
2. Pengeluaran dengan pompa
bila payudara benkak/terbendung (engorgement) dan puting susu terasa nyeri, maka
lebih baik bila ASI dikeluarkan dengan pompa payudara.
Cara pengeluaran ASI dari pompa payudara:
a. Tekan bola karet untuk mengeluarkan udara
b. Ujung leher tabung diletakkan pada payudara dengan puting susu dapat di tengah,
dan tabung benar-benar melekat pada kulit
c. Bola karet dilepas, sehingga puting susu dan kalang payudara tertarik ke dalam.
d. Tekan dan lepas beberapa kali, sehingga ASI akan keluar dan terkumpul pada
lekukan penanpung pada sisi tabung.
e. Setelah selesai dipakai atau akan dipakai, maka alat harus dicuci bersih dengan
menggunakan air mendidih. Bola karet sukar dibersihkan, oleh karenanya bila
memungkinkan lebih baik pengeluaran ASI dengan menggunakan tangan.

Nasihat praktis pada ibu menyusui


Nasihat perlu diberikan terutama pada ibu-ibu yang baru pertama kali mempunyai
anak, dan belum mengetahui cara menyusui yang benar.
1. Dukungan psikologi
Untuk menyusui secara lebih berhasil, sseorang ibu perlu rasa percaya diri
(konfidens), yaitu:
a. Ibu yakin bahwa ia dapat menyusui dan ASI adalah yang terbaik untuk
bayinya terutama pada awal-awal bulan setelah lahir, dan produksi ASI
tidak tergantung pada besar kecilnya payudara.
b. Diperlukan dukungan psikologi dari:
 Keluarga dekat, terutama wanita seperti ibu, ibu mertua, kakak
wanita, atau teman/wanita lain yang telah berpengalaman dan
berhasil dalam menyusui.
 Suami yang mengerti bahwa ASI adalah makanan yang terbaik
untuk bayinya, merupakan pendukung yang baik demi kehamilan
menyusui.
 Kelompok pendukung ASI (KP-ASI)
 Petugas kesehatan.
2. Pesan-pesan penting dalam menyusui bayi adalah:
a. Susui bayi segera dalam 30 menit pertama setelah lahir.
b. Berikan kolostrum.
c. Hindarkan pemberian minuman pralakteal(air gula,aqua,dan lainnya) sebelum
ASI keluar,tetapi usahakan agar bayi diberi kesempatan menghisap untuk
merangsang produksi ASI. Sehingga ASI akan lebih cepat keluar.
d. Susui bayi pada kedua payudara secara bergantian.
e. Hanya diberikan ASI selama 4 bulan pertama ( ASI eksklusif ).
f. Berikan ASI tanpa dijadwal.
g. Perhatikan cara/posisi menyusui yang benar, yaitu puting dan sebagian kalang
payudara harus masuk ke mulut bayi, untuk menghindari puting susu lecet.
h. Mulai memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada umur 4 bulan
dalam bentuk makanan lumat.
i. Menyusui sebaiknya dilanjutkan sampai anak berumur 2 tahun. Penyapihan
dilakukan secara bertahap.
j. Teruskan menyusui walaupun ibu/anak sedang sakit. Kecuali ibu/anak yang
sedang sakit berat, sesuai dengan petunjuk dokter.
k. Perhatikan gizi ibu hamil/ menyusui, ibu memerlukan ekstra makanan dan
minum lebih banyak.
l. Kalau ibu bekerja di luar rumah, beri ASI sebelum dan sesudah pulang kerja.
Hanya selama ibu bekerja saja, bayi boleh diberikan susu formula.
3. Perawatan Payudara
Untuk mencegah masalah-masalah yang mungkin timbul pada ibu menyusui,
maka sebaiknya perawatan payudara dilakukan secara rutin.