You are on page 1of 26

UJIAN AKHIR SEMESTER

“PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN”

Diajukan untuk Memenuhi Salah satu Tugas Mata Kuliah


Teori Dan Model-Model Pembelajaran Pkn

Dosen Pembimbing
Prof. Dr. Hj. Kokom Komalasari, M.Pd.

Disusun oleh:
Kelompok I
Nama NIM
Muhammad David 1706748

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN


SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penyusun panjatkan ke Hadirat Illahi Robbi, karena atas
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah ini.
Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, para
sahabat, keluarga serta umatnya hingga akhir zaman.
Makalah pengembangan model pembelajaran ini disusun untuk memenuhi
salah satu tugas Ujian Akhir Semester, pada mata kuliah Teori Dan Model-Model
Pembelajaran PKn pada Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan, Sekolah
Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.
Penulis menyadari bahwa Makalah ini belum sepenuhnya mencapai
kesempurnaan, hal ini dikarenakan keterbatasan Penulis. Oleh karena itu jika
terdapat kekurangan dan kesalahan, dengan segala kerendahan hati saya
mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan Makalah ini.
Pada Akhirnya Penulis berharap semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca.

Bandung, Desember 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................................... 3
C. Tujuan Penulisan ............................................................................................. 3
D. Sistematika Makalah ....................................................................................... 3

BAB II KAJIAN TEORI

A. Belajar dan Pembelajaran ................................................................................ 4


B. Model Pembelajaran........................................................................................ 6
C. Model Pembelajaran Kooperatif ..................................................................... 7
D. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Talking Stick ........................................ 12

E. Sintaks Model Pembelajaran Talking Stick ..................................................... 15

BAB III RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ..................................... 16


DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 21
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan
yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan
pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan
kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses
untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses
pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di
manapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan
pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda.
Konsep pembelajaran dapat kita anggap sebagai suatu proses dimana
lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut
serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan
respons terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari
pendidikan. Pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk
membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan nilai yang baru. Proses
pembelajaran pada awalnya meminta guru untuk mengetahui kemampuan dasar
yang dimiliki oleh siswa meliputi kemampuan dasarnya, motivasinya, latar
belakang akademisnya, latar belakang ekonominya, dan lain sebagainya.kesiapan
guru untuk mengenal karakteristik siswa dalam pembelajaran merupakan modal
utama penyampaian bahan belajar dan menjadi indikator suksesnya pelaksanaan
pembelajaran.
Ciri utama kegiatan pembelajaran adalah adanya interaksi. Interaksi yang
terjadi antara siswa dengan lingkungan belajarnya, baik dengan guru, teman-
temannya, tutor, media pembelajaran, dan sumber-sumber belajar lainnya. Ciri
lain dari pembelajaran adalah merupakan suatu system, yang di dalamnya terdapat
komponen-komponen sebagai berikut: tujuan, materi / bahan ajar, metode
pengajaran, media, evaluasi, siswa dan guru. Strategi dan metode pengajaran
merupakan salah satu komponen di dalam system pembelajaran, tidak dapat
dipisahkan dari komponen lain yang dipengaruhi oleh factor-faktor, antara lain:
tujuan pembelajaran, materi ajar, peserta didik / siswa, fasilitas, waktu dan guru.
Untuk melaksanakan proses pembelajaran perlu dipikirkan metode pembelajaran
yang tepat. Ketepatan penggunaan metode pembelajaran tergantung pada
kesesuaian metode pembelajaran materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi
siswa, sumber atau fasilitas, situasi dan kondisi dan waktu.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses untuk membantu
peserta didik dapat berjalan dengan baik. Tentunya kajian diatas menunjukkan
konsep dasar bagaimana proses pembelajaran itu disiapkan, termasuk juga soal
kemampuan dalam hal memahami siswa berdasarkan kecerdasan belajarnya
secara mendalam, yaitu melalui pengenalan cara kerja otak pada setiap peserta
didik. Ini menjadi penting, mengingat tiap orang memiliki kemampuan yang
berbeda dalam hal menerima dan menganalisis sebuah informasi yang ia temukan,
baik di sekolah maupun di luar sekolah. Kecerdasan-kecerdasan yang berbeda
dimiliki seorang peserta dapat menjadi bahan kajian terpenting untuk guru sebagai
pengajar demi terwujudnya program pembelajaran yang sesuai dengan harapan
tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, melalui makalah ini penulis
akan menyajikan secara mendalam tentang Model Pembelajaran Talking Stick
dalam mata pelajaran PPKn Kelas XII, yang dimuat dalam beberapa rumusan
masalah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka yang
menjadi rumusan masalah dalam makalah ini ialah “Bagaimana konsep dan
implementasi model pembelajaran Talking Stick pada mata pelajaran PPKn kelas
XII ?”

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan, maka yang menjadi
tujuan penulisan makalah ini ialah untuk mendeskripsikan konsep dan
implementasi model pembelajaran Talking Stick pada mata pelajaran PPKn kelas
XII.

D. Sistematika Makalah
1. Bab I, berisi tentang dengan latar belakang masalah, dilanjutkan
rumusan masalah, tujuan penulisan dan sistematika makalah.
2. Bab II, berisi tentang kajian teori dan sintaks model pembelajaran
Talking Stick.
3. Bab III, berisi RPP Kurikulum 2013 pelajaran PPKn yang menerapkan
model pembelajaran berbasis Talking Stick.
4. Daftar Pustaka
BAB II
KAJIAN TEORI

A. Belajar dan Pembelajaran


1. Konsep Belajar
Belajar merupakan kegiatan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan
mengubah pola pikir serta perilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan.
Susanto (2014: 4) mengemukakan belajar merupakan suatu aktivitas yang
dilakukan seseorang dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep,
pemahaman, atau pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya
perubahan prilaku yang relatif tetap baik dalam berfikir, merasa, maupun dalam
bertindak.
Sagala (2012: 34) belajar adalah perubahan kualitas kognitif, afektif, dan
psikomotorik untuk meningkatkan taraf hidupnya sebagai pribadi, sebagai
masyarakat, maupun sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Lebih lanjut
Hamalik (2012: 27- 28) menjelaskan pengertian belajar merupakan suatu proses,
suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat,
akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Berbeda menurut Walker dalam
Riyanto (2009:5) bahwa belajar adalah suatu perubahan dalam pelaksanaan tugas
yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman dan tidak ada sangkut pautnya dengan
kematangan rohaniah, kelelahan, motivasi, perubahan dalam situasi stimulus atau
faktor-faktor samar-samar lainnya yang tidak berhubungan langsung dengan
belajar.
Hamalik (2012: 30) mengemukakan bukti bahwa seseorang telah belajar
ialah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak
tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Tingkah laku
memiliki unsur subjektif dan unsur motoris. Unsur subjektif adalah unsur
rohaniah sedangkan unsur motoris adalah unsur jasmaniah. Bahwa seseorang
sedang berpikir dapat dilihat dari raut mukanya, sikapnya dalam rohaniahnya
tidak bisa kita lihat.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, penulis menyimpulkan bahwa
belajar adalah suatu proses yang dialami oleh setiap individu meliputi perubahan
tingkah laku berupa pengetahuan, pemahaman, maupun sikap. Perubahan tingkah
laku yang diperoleh merupakan suatu hasil dari belajar. Dengan belajar setiap
individu akan mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas dari
sebelumnya, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

2. Konsep Pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu proses yang disengaja dan bertujuan agar
siswa memperoleh hasil belajar. Dalam kegiatan pembelajaran terjadi interaksi
antara siswa dengan guru. Hamalik (2013: 57) pembelajaran adalah suatu
kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas,
perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Lebih lanjut Rusmono (2012: 6) menyatakan bahwa pembelajaran
merupakan suatu upaya untuk menciptakan suatu kondisi bagi terciptanya suatu
kegiatan belajar yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar
yang memadai. Mohammad Surya dalam Masitoh (2009: 7-8) menjelaskan bahwa
pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh
suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari
pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, maka penulis menyimpulkan
bahwa pembelajaran adalah suatu kegiatan belajar yang dirancang oleh guru yang
merupakan kombinasi dari beberapa unsur yang saling mendukung untuk
mencapai tujuan pembelajaran yaitu perubahan perilaku pada diri siswa sebagai
hasil dari belajar. Agar tujuan pembelajaran tercapai sebagaimana diharapkan,
oleh karenanya kita perlu menggunakan model pembelajaran yang mendukung
tujuan tersebut dapat tercapai.
B. Model Pembelajaran
Pada proses pembelajaran guru harus menggunakan model pembelajaran
yang tepat agar pembelajaran dapat berjalan efektif dan efisien sehingga tujuan
pembelajaran tercapai. Komalasari (2010: 57) menyatakan bahwa model
pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari
awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.
Menurut Joyce & Well dalam Rusman (2013: 133) model pembelajaran
adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk
kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan
pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Menurut
Prastowo (2013: 65) model pembelajaran adalah acuan pembelajaran yang secara
sistematis dilaksanakan berdasarkan pola-pola pembelajaran tertentu. Selanjutnya
Hanafiah & Cucu (2010: 41) mengemukakan model pembelajaran merupakan
salah satu pendekatan dalam rangka mensiasati perubahan perilaku peserta didik
secara adaptif maupun generatif.
Berdasarkan penjelasan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran adalah acuan yang digunakan dalam proses pembelajaran berupa
pola-pola yang disusun secara sistematis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan model pembelajaran yang efektif dan
efisien. Oleh karena itu guru harus paham dan bijak dalam memilih jenis-jenis
model pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas.
Pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas guru dapat menggunakan
berbagai macam model pembelajaran supaya aktivitas pembelajaran lebih relevan
dan bermakna. Menurut Sanjaya (2011: 239) jenis-jenis model pembelajaran yang
populer dan relevan dengan kurikulum KTSP 2006 diantaranya adalah:
Pertama, Model Contextual Teaching and Learning (CTL). Model
pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh
untuk menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan
kehidupan nyata. Kedua, Model Pembelajaran Kooperatif. Suatu model dimana
siswa belajar dibagi dalam kelompok- kelompok yang menekankan kerjasama
antar siswa dan kelompok. Ketiga, Model Problem Solving. Model pembelajaran
yang mewajibkan siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar secara
mandiri. Keempat, Model Inquiry. Model ini menekankan kepada proses mencari
dan menemukan materi pelajaran tidak diberikan secara langsung.
Berdasarkan jenis-jenis model pembelajaran di atas maka penulis memilih
menggunakan model pembelajaran kooperatif. Pada pembelajaran ini siswa
dituntut untuk bisa saling bekerja sama dalam kelompok dan memiliki sikap sosial
yang tinggi.

C. Model Pembelajaran Kooperatif


Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara berkelompok
yang sistem pengajarannya memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja
sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Menurut Hosnan
(2014: 235) pembelajaran kooperatif mengandung pengertian sebagai suatu sikap
atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam
struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau
lebih, dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap
anggota kelompok itu sendiri.
Rusman (2013: 202) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif
merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat
sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Hal
senada juga diungkapkan Komalasari (2010: 62) bahwa pembelajaran kooperatif
adalah suatu strategi kelompok kecil dimana siswa belajar dan bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari dua
sampai lima orang, dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, penulis menyimpulkan bahwa
pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran dimana siswa
bekerja dan berinteraksi satu sama lain dalam sebuah kelompok yang heterogen
dan mereka saling bekerja sama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.
1. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Konsep utama dari pembelajaran kooperatif adalah siswa bekerjasama
dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Suprijono (2015:
80) model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar
berupa prestasi akademik, toleransi, menerima keragaman, dan pengembangan
keterampilan sosial. Lebih lanjut Johnson and Johnson dalam Trianto (2011: 57)
menyatakan bahwa tujuan pokok pembelajaran kooperatif adalah memaksimalkan
belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara
individu maupun secara kelompok. Stahl dalam Isjoni (2011: 42-43) menyatakan
bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif, siswa
memungkinkan dapat meraih keberhasilan dalam belajar, di samping itu juga bisa
melatih siswa untuk memiliki keterampilan, baik keterampilan berpikir (thinking
skill) maupun keterampilan sosial (social skill) seperti keterampilan untuk
mengemukakan pendapat, menerima saran dan masukan dari orang
lain,bekerjasama, rasa setia kawan, dan mengurangi perilaku yang menyimpang
dalam kelas.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, penulis menyimpulkan bahwa
tujuan pembelajaran kooperatif adalah meningkatkan kinerja siswa sehingga
memiliki prestasi akademik yang cemerlang dan memiliki solidaritas sosial yang
tinggi.

2. Unsur-unsur Model Pembelajaran Kooperatif


Model pembelajaran kooperatif mempunyai unsur-unsur dalam
pembelajarannya. Menurut Lungdren dalam Isjoni (2011: 16) unsur-unsur
pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut.
Pertama, Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka tenggelam atau
berenang bersama. Kedua, Para siswa harus memiliki tanggung jawab terhadap
siswa atau peserta didik lain dalam kelompoknya, selain tanggung jawab terhadap
diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi. Ketiga, Para siswa harus
berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama. Keempat, Para
siswa membagi tugas dan berbagi tanggung jawab di antara para anggota
kelompok. Kelima, Para siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang
akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok. Keenam, Para siswa berbagi
kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama
belajar. Ketujuh, Setiap siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara
individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Sedangkan menurut Johnson dan Sutton dalam Trianto (2011: 60) terdapat
lima unsur penting dalam pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) yaitu:
Pertama, saling ketergantungan yang bersifat positif antara siswa. Dalam
cooperative learning siswa merasa bahwa mereka sedang bekerjasama untuk
mencapai satu tujuan terikat satu sama lain. Seorang siswa tidak akan sukses
kecuali semua anggota kelompoknya juga sukses. Siswa akan merasa bahwa
dirinya merupakan bagiaan dari kelompok yang juga mempunyai andil
terhadap suksesnya kelompok.
Kedua, interaksi antara siswa yang semakin meningkat. Cooperative
learning akan meningkatkan interaksi antara siswa. Hal ini, terjadi dalam hal
seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai anggota kelompok.
Saling memberikan bantuan ini akan berlangsung secara alamiah karena
kegagalan seseorang dalam kelompok memengaruhi suksesnya kelompok. Untuk
mengatasi masalah ini, siswa yang membutuhkan bantuan akan mendapatkan dari
teman sekelompoknya. Interaksi yang terjadi dalam pembelajaran kooperatif
adalah tukar menukar ide mengenai masalah yang sedang dipelajari bersama.
Ketiga, tanggung jawab individual. Tanggung jawab individual dalam
belajar kelompok dapat berupa tanggung jawab siswa dalam hal membantu siswa
yang membutuhkan bantuan, dan siswa tidak dapat hanya sekedar “membonceng”
pada hasil kerja teman jawab siswa dan teman sekelompoknya.
Keempat, keterampilan interpersonal dan kelompok kecil. Dalam
cooperative learning, selain dituntut untuk mempelajari materi yang diberikan
seorang siswa dituntut untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan siswa lain
dalam kelompoknya. Bagaimana siswa bersikap sebagai anggota kelompok dan
menyampaikan ide dalam kelompok akan menuntut keterampilan khusus.
Kelima, proses kelompok. Cooperative learning tidak akan berlangsung
tanpa proses kelompok. Proses kelompok terjadi jika anggota kelompok
mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai tujuan dengan baik dan
membuat hubungan kerja yang baik.
Berdasarkan paparan para ahli di atas, penulis menyimpulkan bahwa
unsur-unsur model pembelajaran kooperatif diantaranya saling ketergantungan
yang bersifat positif, interaksi antara siswa, tanggung jawab individual,
keterampilan interpersonal dan kelompok kecil, dan proses kelompok.

3. Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif


Pembelajaran model pembelajaran kooperatif memiliki karakteristik yang
berbeda dengan model pembelajaran lainnya. Model pembelajaran kooperatif
merupakan kegiatan yang dilakukan oleh siswa secara berkelompok yang saling
bekerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Rusman (2013: 207) ada
empat karakteristik Cooperative Learning, yaitu (1) pembelajaran secara tim, (2)
didasarkan pada manajemen kooperatif, (3) kemauan untuk bekerja sama, (4)
keterampilan bekerja sama.
Menurut Lonning dan Slavin dalam (Suwarjo, 2008: 29) menjelaskan ada
empat hal penting dalam model cooperative learning, yakni: (1) adanya peserta
didik dalam kelompok, (2) adanya aturan main dalam kelompok, (3) adanya
upaya belajar dalam kelompok, (4) adanya kompetensi yang harus dicapai oleh
kelompok.
Berdasarkan pendapat ahli di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa
karakteristik pembelajaran kooperatif (cooperative learning) yaitu pembelajaran
secara tim, didasarkan pada manajemen kooperatif, kemauan untuk bekerjasama,
keterampilan bekerjasama, mendapatkan penghargaan tim, tanggung jawab
individu dan kesempatan sukses yang sama.
4. Jenis-jenis Pembelajaran Kooperatif
Untuk memilih tipe yang tepat untuk digunakan dalam pembelajaran,
penulis harus mengetahui tipe-tipe dari model pembelajaran kooperatif seperti tipe
NHT, Cooperative Script, STAD, TGT, Snowball Throwing dan Talking Stick.
Menurut Komalasari (2010: 62) terdapat beberapa tipe dalam pembelajaran
kooperatif diantaranya:
Pertama. NHT yaitu model pembelajaran dimana setiap siswa diberi nomor
kemudian dibuat suatu kelompok, siswa diacak selanjutnya guru memanggil
nomor dari siswa. Kedua, Cooperative Script yaitu metode belajar dimana siswa
bekerja berpasangan, dan secara lisan bergantian mengihtisarkan bagian- bagian
dari materi yang dipelajari. Ketiga, STAD yaitu model pembelajaran yang
mengelompokkan siswa secara heterogen, kemudian siswa yang pandai
menjelaskan pada anggota lain sampai mengerti. Keempat, TGT yaitu model
pembelajaran yang melibatkan seluruh aktivitas siswa tanpa harus ada perbedaan
status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur
permainan. Kelima, Snowball Throwing yaitu model pembelajaran yang menggali
potensi kepemimpinan siswa dalam kelompok dan keterampilan membuat
pertanyaan dan menjawab pertanyaan yang dipadukan melalui suatu permainan
imajinatif membentuk dan melemparkan bola salju. Keenam, Talking Stick yaitu
model pembelajaran yang mampu mendorong siswa untuk berani mengemukakan
pendapat dan melatih daya ingat siswa dalam memahami materi pokok.
Dari model-model yang telah dijelaskan di atas maka penulis memilih
model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick. Pada pembelajaran ini siswa
dituntut untuk bisa saling bekerja sama dalam kelompok serta mendorong
keberanian siswa mengemukakan pendapat dan melatih daya ingat siswa dalam
memahami materi pokok pelajaran.
D. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Talking Stick
Belum banyak referensi yang dapat dijadikan pegangan khusus dalam
membahas model pembelajaran talking stick. Namun demikian, talking stick salah
satu dari sekian banyak model pembelajaran kooperatif yang dapat menciptakan
keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar. Suprijono (2015: 128)
menambahkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe talking stick adalah
pembelajaran yang mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat.
Kurniasih (2015: 82) mengemukakan model pembelajaran talking stick
merupakan satu dari sekian banyak model pembelajaran kooperatif. Model
pembelajaran ini dilakukan dengan bantuan tongkat. Tongkat dijadikan sebagai
jatah atau giliran untuk berpendapat atau menjawab pertanyaan dari guru setelah
siswa mempelajari materi pelajaran. Sejalan dengan Kurniasih, Huda (2014: 224)
menyatakan talking stick merupakan model pembelajaran kelompok dengan
bantuan tongkat. Kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib
menjawab pertanyaan dari guru setelah mereka mempelajari materi pokok.
Carol Locust dalam Huda (2014: 224) menyatakan bahwa:
The talking stick has been used for centuries by many indian tribes as a
mean of just and impartial hearing. The talking stick was commonly used
in council circles to decide who had the right to speak. When maters of
great concern would come before the council, the leading elder would
hold the talking stick, and begins the discussion. When he would finish
what he had to say, he would hold out the talking stick , and whoever
would speak after him would take it. In this manner, the stick would be
passed from one individual to another until all who wanted to speak had
done so. The stick was then passed back to the elder for safe keeping.

Jadi, pada mulanya talking stick (tongkat berbicara) adalah model yang
digunakan oleh penduduk asli Amerika (suku Indian) untuk mengajak semua
orang berbicara atau menyampaikan pendapat dalam suatu forum (pertemuan
antar suku). Kini model itu sudah digunakan sebagai model pembelajaran di ruang
kelas. Sebagaimana namanya, talking stick merupakan model pembelajaran
kelompok dengan berbantuan tongkat.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, penulis menyimpulkan bahwa
model pembelajaran kooperatif tipe talking stick adalah pembelajaran yang
menggunakan kelompok-kelompok dimana guru menggunakan tongkat sebagai
media agar mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta
menumbuhkan rasa percaya diri siswa.

1. Kelemahan dan Kelebihan Talking Stick


Setiap pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, demikian pula
dengan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick memiliki kelebihan dan
kekurangan. Menurut Suprijono (2009: 110) bahwa kelebihan dan kekurangan
pembelajaran kooperatif tipe talking stick sebagai berikut:
Kelebihan model talking stick
 Menguji kesiapan siswa
 Melatih siswa membaca dan memahami materi dengan cepat.
 Memacu siswa agar lebih giat belajar.
 Siswa berani mengemukakan pendapat.
Kekurangan model talking stick
 Membuat siswa senam jantung.
 Ketakutan akan pertanyaan yang akan diberikan oleh guru.
 Tidak semua siswa siap menerima pertanyaan.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa


kelebihan talking stick adalah menguji kesiapan siswa, melatih keterampilan
mereka dalam membaca, memahami materi pelajaran dengan cepat, dan siswa
berani mengemukakan pendapat. Sedangkan kelemahan talking stick adalah
ketakutan siswa akan pertanyaan yang akan diberikan oleh guru, tidak semua
siswa siap menerima pertanyaan, dan bagi siswa yang secara emosional belum
terlatih untuk bisa berbicara di hadapan guru, model ini mungkin kurang sesuai.

2. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stick


Menurut Suprijono (2009: 109-110) bahwa terdapat langkah- langkah
dalam pembelajaran kooperatif tipe talking stick yakni sebagai berikut:
a. Guru membentuk kelompok yang terdiri atas 4 orang.
b. Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm.
c. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian
memberi kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari
materi pelajaran.
d. Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
e. Setelah kelompok selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari
isinya, guru mempersilahkan anggota kelompok untuk menutup isi
bacaan.
f. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu anggota
kelompok, setelah itu guru memberi pertanyaan dan anggota
kelompok yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya,
demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian
untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
g. Siswa lain boleh membantu menjawab pertanyaan jika anggota
kelompoknya tidak bisa menjawab pertanyaan.
h. Ketika tongkat bergulir dari kelompok ke kelompok lainnya sebaiknya
diiringi musik atau lagu.
i. Guru melakukan evaluasi/penilaian, baik secara kelompok maupun
individu.
j. Guru memberi ulasan terhadap seluruh jawaban siswa, selanjutnya
bersama-sama siswa merumuskan kesimpulan.
k. Guru menutup pembelajaran.
E. Sintaks Model Pembelajaran Talking Stick
1. Perencanaan
Pada tahap ini penulis melakukan persiapan awal pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick dengan langkah-
langkah sebagai berikut:
a. Melakukan analisis Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan
materi pelajaran yang akan disampaikan.
b. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe talking stick.
c. Membuat media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan model
pembelajaran kooperatif tipe talking stick.
d. Menyiapkan instrumen penilaian yang berupa lembar observasi untuk
mengamati sikap dan keterampilan siswa serta kinerja guru.
e. Membuat soal-soal tes untuk mendapatkan data hasil belajar kognitif
siswa. Bentuk tes dalam hal ini berupa tes formatif.
f. Menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya ± 20 cm.

2. Pelaksanaan
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan rencana pembelajaran yang telah
disusun pada tahap perencanaan, yaitu sebagai berikut:
Kegiatan awal
a. Salam dan berdoa
b. Pengkondisian kelas dan mengecek kesiapan siswa (merapikan tempat
duduk dan mengabsen)
c. Guru melakukan apersepsi dengan cara tanya jawab tentang materi
pembelajaran yang akan dipelajari.
d. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
e. Guru memberikan motivasi kepada siswa
Kegiatan Inti
a. Guru membentuk kelompok yang terdiri atas 4 orang
b. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian
memberi kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari
materi pelajaran.
c. Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
d. Setelah kelompok selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari
isinya, guru mempersilahkan anggota kelompok untuk menutup
kembali bukunya.
e. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu anggota
kelompok.
f. Setelah itu guru memberikan pertanyaan dan anggota kelompok yang
memegang tongkat tersebut harus menjawab pertanyaan yang
diberikan guru, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa
mendapat bagian untuk menjawab pertanyaan dari guru. Siswa lain
boleh membantu menjawab pertanyaan jika anggota kelompoknya
tidak bisa menjawab pertanyaan.
g. Ketika tongkat bergulir dari satu kelompok menuju kelompok lainnya
dengan iringan musik atau lagu.
h. Guru memberi ulasan terhadap seluruh jawaban kelompok.
i. Guru memberikan apresiasi kepada siswa atau kelompok yang terbaik.
j. Siswa mengerjakan soal tes (tes formatif) secara individu.

3. Kegiatan akhir
a. Guru bersama siswa menyimpulkan kegiatan pembelajaran yang telah
dilakukan.
b. Guru memberikan tindak lanjut terhadap materi pelajaran yang telah
dipelajari.
c. Berdoa.
d. Salam penutup.
BAB III
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMAS Sukma Bangsa Pidie


Mata Pelajaran : PPKn
Kelas/Semester : XII/2
Alokasi Waktu : 2 x 45 Menit (1 X pertemuan)

A. Kompetensi Inti (KI)


No. Kompetensi Inti (KI)
KI. 1 Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KI. 2 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab,
peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif
dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas
berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai
cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI. 3 Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin
tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan
humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan,
dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta
menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik
sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI. 4 Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah
abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di
sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta
mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

B. Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)


No Kompetensi Dasar No Indikator Pencapaian Kompetensi
(KD) (IPK)
1.5. Menghargai karakter 1.5.1. Berserah diri (tawakal) kepada Tuhan
berahklak mulia setelah berikhtiar atau melakukan usaha.
dalam memperkuat 1.5.2. Menjaga lingkungan hidup disekitar
komitmen negara rumah tempat tinggal, sekolah dan
kesatuan. 1.5.3. masyarakat.
Memelihara hubungan baik dengan
sesama umat beragama yang berbeda-
beda.
No Kompetensi Dasar No. Indikator Pencapaian Kompetensi
(IPK)
2.5. Mengamalkan nilai- 2.5.1. Menunjukan perilaku jujur dalam proses
nilai Pancasila pembelajaran.
sebagai pandangan 2.5.2 Menunjukan perilaku disiplin dalam
hidup dan ideologi proses pembelajaran.
nasional dalam 2.5.3. Menunjukan perilaku tanggung jawab
kehidupan dalam proses pembelajaran.
bermasyarakat, 2.5.4 Menumbuhkan rasa empati terhadap
berbangsa dan persoalan dalam hubungan internasional
bernegara.
No Kompetensi Dasar No. Indikator Pencapaian Kompetensi
(IPK)
3.5. Mengevaluasi peran 3.5.1. Menjelaskan makna hubungan
Indonesia 3.5.2. internasional.
dalamhubungan Menganalisis pentingnya hubungan
internasional. 3.5.3. internasional bagi Indonesia.
Mengidentifikasi manfaat yang diperoleh
bangsa Indonesia dalam menjalin
3.5.4. hubungan internasional.
Mengidentifikasi bentuk-bentuk kerjasama
yang dikembangkan Indonesia
berdasarkan politik luar negeri bebas aktif.
No. Kompetensi Dasar No. Indikator Pencapaian Kompetensi
(IPK)
4.5. Menyaji hasil evaluasi 4.5.1. Menyusun hasil evaluasi dari berbagai
dari berbagai media media massa tentang peran Indonesia
massa tentang peran dalam hubungan internasional.
Indonesia dalam 4.5.2. Menyaji hasil evaluasi dari berbagai media
hubungan massa tentang peran Indonesia dalam
internasional. hubungan internasional

C. Tujuan Pembelajaran
Melalui model pembelajaran kooperatif Talking Stick, peserta didik dapat
memberikan alternatif solusi permasalahan internasional melalui evaluasi
terhadap optimalisasi peran Indonesia dalam hubungn internasional, memiliki
ketrampilan menyaji hasil, memiliki rasa empati permasalahan hubungan
internasional, serta meningkatkan pengamalan agama untuk berperan
menjaga perdamaian Internasional.
D. MateriPembelajaran
a. Perlunya hubungan antar bangsa
b. Aturan hubungan antar bangsa
c. Arah politik luar negeri Indonesia
d. Asas-asas perjanjian internasional
e. Peran Indonesia dalam hubungan internasional
f. Pola Hubungan Internasional yang dibangun Indonesia
1) Makna Hubungan Internasional.
2) Politik luar negeri Indonesia dalam menjalin hubungan internasional.

E. KegiatanPembelajaran
1. PertemuanPertama ( 2 x 45 menit )
Proses pembelajaran menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif,
Model: pembelajaran Talking Stick. Pelaksanaan pembelajaran secara
umum dibagi menjadi tiga tahapan yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan
inti, dan kegiatan penutup.

NO KEGIATAN
a. PENDAHULUAN (10 Menit)
1) Guru mempersiapkan kelas agar lebih kondusif dan menyenangkan
untuk proses belajar; kerapian dan kebersihan ruang kelas, presensi
(kehadiran, agenda kegiatan, menyiapkan media dan alat serta buku
yang diperlukan).
2) Peserta didik bersama guru mengawali pembelajaran dengan berdoa
3) Guru menyampaikan kompetensi dan tujuan yang akan dicapai dan
manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
4) Guru menyampaikan garis besar cakupan materi dan kegiatan yang
akan dilakukan.
5) Guru menyampaikan lingkup dan teknik penilaian yang akan
digunakan.

b. KEGIATAN INTI (65 Menit)


k. Guru membentuk kelompok yang terdiri atas 4 orang
l. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian
memberi kesempatan para kelompok untuk membaca dan
mempelajari materi pelajaran.
m. Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam
wacana.
n. Setelah kelompok selesai membaca materi pelajaran dan
mempelajari isinya, guru mempersilahkan anggota kelompok
untuk menutup kembali bukunya.
o. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu
anggota kelompok.
p. Setelah itu guru memberikan pertanyaan dan anggota kelompok
yang memegang tongkat tersebut harus menjawab pertanyaan yang
diberikan guru, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa
mendapat bagian untuk menjawab pertanyaan dari guru. Siswa lain
boleh membantu menjawab pertanyaan jika anggota kelompoknya
tidak bisa menjawab pertanyaan.
q. Ketika tongkat bergulir dari satu kelompok menuju kelompok
lainnya dengan iringan musik atau lagu.
r. Guru memberi ulasan terhadap seluruh jawaban kelompok.
s. Guru memberikan apresiasi kepada siswa atau kelompok yang
terbaik.
t. Siswa mengerjakan soal tes (tes formatif) secara individu.
c. PENUTUP ( 15 Menit )
1) Guru dan Peserta didik menyimpulkan materi yang telah dibahas
pada pertemuan ini.
2) Peserta didik dengan bimbingan guru melakukan refleksi terhadap
pembelajaran pada pertemuan ini
3) Peserta didik di tugaskan untuk mengerjakan Tugas Mandiri 5.3.
4) Peserta didik diberi tugas kelompok menyelesaikan analisis dan
alternatif solusi permasalahan yang menjadi kajian kelas.
5) Guru dan peserta didik menutup kegiatan dengan mengucapkan
rasa
syukur kepada Tuhan YME bahwa pertemuan kali ini telah
berlangsung dengan baik dan lancar.
F. Penilaian, Pembelajaran Remedial dan Pengayaan
1. Teknik penilaian:
a. Penilaian Sikap : Observasi/Pengamatan
b. Penilaian Pengetahuan : Tes Tertulis dan Lisan
c. Penilaian Keterampilan : Unjuk kerja; Presentasi; Laporan
Penugasan
2. Bentuk Penilaian :
a. Observasi : Jurnal guru
b. Tes Tertulis : Uraian ; Laporan ; Paparan
c. Unjuk Kerja : Laporan ; Paparan
3. Instrumen penilaian sikap, pengetahuan dan keterampilan (terlampir)

G. Media/alat, Bahan, dan Sumber Belajar


1. Media/Alat : Laptop, Tablet/Smartphone/Web yang berisi blog
materi pelajaran dari guru mata pelajaran.
2. SumberBelajar :
a. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Pendidikan Pancasila
dan Kewarganegaraan, Kelas XII. Jakarta: Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan. Halaman: 137 -172
b. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Buku Guru
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Kelas XII. Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Halaman: 186 – 233
c. Konvensi Wina 1815; Konvensi Wina 1815; (www.hukumonline.com)
d. Piagam PBB (http://id.m.wilkipedia.org)
e. UUD NRI Tahun 1945

Mengetahui Banda Aceh, 20 Desember 2018


Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

Rahmanita, S.Pdi Muhammad David


NIP.11091013 NIP. 11166022
DAFTAR PUSTAKA

Andi Prastowo. (2013). Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif.


Yogyakarta: Diva Press.
Hosnan. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad
21. Bogor: Ghalia Indonesia.
Huda, M. (2014). Model-model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Isjoni. (2011). Pembelajaran Kooperatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Komalasari, Kokom. (2010). Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasi.
Bandung: Refika Aditama.
Kurniasih dan Sani. (2015). Model Pembelajaran. Yogyakarta: Kata Pena
Masitoh, dkk. (2009). Strategi Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka
Rusman. (2013). Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Riyanto. (2009). Model-Model Pembelajaran. Bandung: Pustaka Pelajar
Rusmono. (2012). Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.
Susanto Ahmad. (2014). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sagala. (2012). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta
Sanjaya. (2011). Model-model Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Suwarjo. (2008). Pembelajaran Kooperatif dalam Apresiasi Prosa Fiksi. Jakarta:
Surya.
Suprijono. (2015). Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Belajar.