You are on page 1of 2

BAB VI

PENUTUP

PT.Pertamina (Persero) RUIII Plaju-Sungai Gerong mengolah minyak mentah


(crude oil) menjadi produk bahan bakar minyak (BBM) maupun produk Non-
BBM yang sebagian besar berasal dari daerah Sumatera Selatan serta mengolah
produk petrokmia berupa Polytam (biji plastik).Proses pengolahan minyak mentah
di PT. Pertamina (Persero) RU III terdiri dari dua tahapan, yaitu Primary Process
dan Secondary Process. Pada Primary Process terdapat pada CD II, CD III, CD
IV, CD V, dan CD VI yang mengolah crude oil menjadi produk BBM. Sedangkan
pada Secondary Process terdapat pada unit HVU II, RFCCU,Polypropilene,
Alkilasi, Polimerisasi, Stabilizer C/A/B dan BB Distiller yang mengolah side
product pada Primary Process menjadi produk Non-BBM dan Petrokimia.Unit-
unit proses di utilitas PT.Pertamina (Persero) RUIII terdiri dari Water Treating
Unit,Demineralization Plant, Cooling Water, Drinking Water Plant, Air Plant, N2
Plant, Boiler, Gas Turbine dan Rumah Pompa Air (RPA). Kebutuhan bahan
penunjang tersebut dipenuhi oleh unit utilitas PT.Pertamina (Persero) RUIII yang
dibagi kedalam tiga Power Station (PS) berdasarkan lokasinya.Di PT.Pertamina
(Persero) RU III ini terdapat 3 jenis limbah, yaitu limbah cair, limbah gas dan
limbah padat. Untuk limbah gas, misalnya CO dapat dikurangi dengan jalan
memperbaiki sistem pembakaran, dilakukan menggunakan udara yang melebihi
kebutuhan (excess air), sehingga pembakaran berlangsung sempurna.Sedangkan
untuk jenis particular dapat dilakukan pengolahan dengan bantuan alat seperti
Dust, Collector, Cyclone, Scrubber, Filter ataupun Electrostatic Prescipitator.
Pada laporan hasil kerja praktek ini tugas khususnya yaitu Menghitung Neraca
Energi dan Efisiensi pada Furnace FC-F2. Setelah melakukan perhitungan
didapatkan pada efisiensi aktual selama 5 hari, didapatlan efisiensi aktual rata-rata
sebesar 65,59 % dari efisiensi desain nya yaitu 85 %. Namun, kinerja pada
Furnace FC-F2 masih berjalan dengan baik, sehingga dapat disimpulkan bahwa
Furnace FC-F2 masih memiliki nilai efisiensi yang baik walaupun sudah
berkurang jauh dari efisiensi desain. Penurunan efisiensi disebabkan terdapat
nilai heat loss salah satunya melalui dinding furnace dan flue gas , serta jumlah

81
82

flowrate yang cukup berbeda dengan desain. Selain itu, telah lamanya
penggunaan dari alat ini sehingga sensitifitas alat ini telah berkurang dan
diperlukan pengecekan secara berkala. Oleh karena itu, saat telah dilakukan
perencanaan untuk perbaikan dengan menambahkan line baru, sehingga
diharapkan nantinya flow yang masuk akan sama terhadap pengukuran
dilapangan. Flowmeter yang tidak baik menyebabkan pendataan tidak sesuai
dengan data lapangan yang menyebabkan efisiensi tidak sesuai nilainya, dan
diperlukan pengecekan secara berkala maupun perbaikan dan penggantian alat
flowmeter agar kinerja alat di lapangan akan lebih efisien dan mendekati dengan
efisiensi desain.