You are on page 1of 11

SISTEM ENDOKRIN

Fungsi tubuh diatur oleh dua sistem pengatur utama yaitu sistem saraf dan sistem hormonal
(sistem endokrin). Pada umumnya, sistem hormonal terutama berhubungan dengan pengaturan
berbagai fungsi metabolisme tubuh, mengatur kecepatan reaksi kimia di dalam sel atau transpor zat-
zat melalui membran sel atau aspek-aspek metabolisme sel lainnya seperti pertumbuhan dan
sekresi.

SIFAT HORMON

- Suatu hormon merupakan zat kimia yang disekresi dalam cairan tubuh oleh suatu sel atau
kelompok sel dan menimbulkan efek pengaturan fisiologis pada sel-sel tubuh lainnya.
- Hormon terbagi menjadi dua macam, yaitu :
o Hormon lokal
o Hormon umum

MEKANISME KERJA HORMON

Berbagai hormon berfungsi mengatur tingkat aktivitas jaringan sasaran. Untuk memberikan
fungsi pengaturan ini, mereka dapat mengubah reaksi-reaksi kimia dalam sel, mengubah
permeabilitas membran sel terhadap zat-zat khusus, atau mengaktifkan beberapa mekanisme sel
spesifik lain. Berbagai hormon melakukan efek ini dalam banyak cara. Akan tetapi, dua mekanisme
umum yang penting dengan mana banyak hormon berfungsi adalah :

1. Pengaktifan sistem AMP siklik sel yang selanjutnya menimbulkan fungsi sel tertentu
2. Pengaktifan gen sel yang menyebabkan fungsi sel tertentu.

KELENJAR PADA SISTEM HORMONE

1. Kelenjar hipofisis anterior posterior


2. Kelenjar thyroid
3. Empat kelenjar parathyroid
4. Dua kelenja adrenal
5. Pulau langerhans
6. Dua ovarium
7. Dua testis
8. Kelenjar pineal
9. Kelenjar timus

KELENJAR HIPOFISIS (PITUITARI)

Merupakan kelenjar kecil, garis tengahnya kurang dari 1 cmm dan berat sekitar 0,5 sampai 1
gram yang terletak dalam sel latursica pada basis otak dan dihubungkan dengan hipotalamus oleh
tangkai pituitaria, atau infudibulum hipotalami.

PEMBAGIAN HORMON HIPOFISIS

Secara fisiologis hipofisis dibagi dalam dua bagian:

a. Hipofisis anterior, juga dikenal sebagai adehipofisis


Sekresi hipofisis anterior diatur oleh hormon yang dinamakan “releasing” dan “inhibitory
hormones (“factor”) hipotalamus” yang disekresi dalam hipotalamus sendiri dan kemudian
dihantarkan ke hipofisis anterior melalui pembuluh darah kecil yang dinamakan pembuluh
portal hipotalamik-hipofisial. Kelenjar hipofisis anterior terdiri atas beberapa jenis sel. Pada
umumnya, terdapat satu jenis sel untuk setiap jenis hormon yang dibentuk pada kelenjar ini
dengan teknik perawatan khusus, berbagai jenis sel ini dapat dibedakan satu sama lain. Satu-
satunya kemungkinan pengecualiannya adalah sel dari jenis yang sama mungkin menyekresi
hormon luteinisasi dan hormon perangsang folikel.

b. Hipofisis posterior, juga dikenal sebagai neurohipofisis


Sekresi hipofisis posterior diatur oleh serabut saraf yang berasal dari hipotalamus dan
berakhir pada hipofisis posterior. Kelenjar hipofisis posterior, juga dinamakan neurohipofisis,
terutama terdiri atas sel-sel seperti sel glia yang dinamakan pituisit. Akan tetapi, pituisit
tidak menyekresi hormon, mereka bekerja sebagai struktur penyokong untuk serabut saraf
ternimal yang jumlahnya banyak dan ujung-ujung saraf terminal dari traktus saraf yang
berasal dari nuklei supraoptikus dan paraventrikularis hipotalamus. Traktus-traktus ini
berjalan ke neurohipofisis melalui infundibulum hipotalami. Ujung-ujung saraf merupakan
tombol-tombol bulosa yang terletak pada permukaan kapiler, tempat mereka menyekresi
hormon-hormon hipofisis posterior:
(1) Hormon antideuretik (ADH), juga dinamakan vasoprein dan
(2) Oksitosin. Kedua hormon ini merupakan polipeptida kecil, masing-masing mengandung
sembilan asam amino. Mereka identik satu sama lain kecuali untuk dua asam amino.
1. Hormon Hipofisis Anterior
a. Growth Hormone (GH) atau somatotropic hormone (STH)
Adalah sejenis hormon protein yang mengendalikan pertumbuhan seluruh sel tubuh
dengan merangsang seluruh jaringan tubuh untuk menambah ukuran sel dan
memperbanyak mitosis sehingga jumlah sel bertambah. GH mempunyai efek metabolik,
yaitu:
1. Protein sintesis lebih, dengan cara:
 Transport asam amino melalui membran sel kedalam sel meningkat.
 Ribosom dalam sel meningkat lebih aktif
 Pembentukan RNA dalam nucleus lebih
 Katabolisme protein dan asam amino berkurang
2. Penggunaan karbohidrat berkurang
 GH menyebabkan berkurangnya penggunaan glukosa untuk energi sehingga
mempunyai efek diabetogenik.
3. Mobilisasi lemak berlebih
 Jaringan lemak terjadi pelepasan fatty acid berkurang menimbulkan acetyl
Co-a berkurang untuk energi sehingga timbul ketosis
 Perlu diketahui bahwa GH disekresi dalam jumlah yang sama / hampir sama
waktu masa anak-anak
 Sekresi GH naik turun dalam beberapa menit sehubungan dengan nutrisi
dan stress antara lain: kelaparan, hipoglikemia, exercise, trauma, dan lain-
lain.
b. TSH (Thyroid Stimulating Hormone: Hormone perangsang thyroid)
Kelenjar Tiroid terletak tepat pada di bawah laring sebelah kanan dan kiri depan trakea,
menyekresi tiroksin, triyodotironin, yang mempunyai efek nyata pada kecepatan
metabolisme tubuh. Kelenjar ini juga menyekresi kalsitonin, suatu hormon yang penting
untuk metabolisme kalsium.
1) Pembentukan dan sekresi hormon tiroid
Hormon yang paling banyak disekresi oleh kelenjar tiroid adalah tiroksin. Zat hasil
sekresi dinamakan koloid yang dibatasi oleh sel epitel kuloid yang menyekresi ke bagian
dalam folikel. Unsur utama koloid adalah glikoprotein besar, firoglobulin, yang
mengandung hormon tiroid. Sekali sekresi memasuki folikel, kemudian diabsorbsi
kembali melalui epitel folikel dan masuk ke darah sebelum dapat berfungsi dalam tubuh.
2) Fungsi hormon tiroid
Hormon tiroid mempunyai 2 efek utama pada tubuh:
a. Meningkatkan kecepatan metabolisme secara keseluruhan
b. Pada anak-anak merangsang pertumbuhan
3) Peningkatan umum kecepatan metabolisme
c. Hormon tiroid meningkatkan aktifitas metabolisme hampir semua jaringan
tubuh
d. Efek hormon tiroid menyebabkan peningkatan sintesis protein
e. Efek hormon tiroid pada sistem enzim sel, dalam 1 minggu/lebih setelah
pemberian hormon tiroid paling sedikit 100 dan mungkin lebih banyak lagi
enzim intra sel meningkat jumlahnya.
f. Efek hormon tiroid pada mitokondria, bila tiroksin/triiodotironin diberikan
pada binatang, mitokondria pada sebagian besar sel tubuh bertambah
ukuran dan jumlahnya.
g. Efek hormon tiroid dalam meningkatkan transpor aktif ion melalui membran
sel, salah satu enzim yang meningkat sebagai respon terhadap hormon tiroid
adalah Na-K ATP Ase.
4) Efek hormon tiroid atas pertumbuhan
h. Hormon tiroid mempunyai efek umum dan khusus atas pertumbuhan pada
manusia
i. Efek hormon tiroid atas pertumbuhan terutama dimanifestasikan dalam
anak-anak yang sedang tumbuh
j. Pada orang dengan hipotiroidisme kecepatan pertumbuhan sangat
teretardasi
k. Pada orang dengan hipotiroidisme sering terjadi pertumbuhan rangka yang
berlebihan yang menyebabkan anak menjadi sangat lebih tinggi dari pada
yang lain
l. Tetapi epifise menutup pada usia yang dini sehingga kemudian tinggi orang
dewasa bisa menjadi lebih pendek.
5) Kelainan kelenjar tiroid
a) Kegagalan sekresi tiroid
Pada anak-anak dapat saja terjadi kegagalan sekresi tiroid, karena tidak terdapatnya
enzim dalam sel-sel tiroid yang diperlukan. Hal ini mengakibatkan kretinisme. Anak
tampak dwafisme dan mengalami retardasi mental, dengan kulit tebal, rambut
jarang, suara serak, dan lidah menonjol keluar.
Pada orang dewasa tiroid dapat mengalami kerusakan secara perlahan oleh penyakit
autoimun. Hal ini terjadi pada miksedemia dengan perlambatan semua fungsi tubuh,
ketumpulan mental, suhu tubuh abnormal, kulit kasar tebal, dan suara serak.
b) Kelebihan sekresi tiroid
Hipertiroidisme terjadi karena sintesis abnormal suatu senyawa di dalam tubuh yang
menyerupai TSH. Kondisi ini mengakibatkan suatu peningkatan aktifitas metabolik
dengan peningkatan nafsu makan dan pembentukan panas. Gejala-gejalanya
termasuk ansietas dan mudah terangsang, tremor halus pada tangan, intoleransi
terhadap hangat, penurunan berat badan, diare, berkeringat dan ekspresi melotot.
c. ACTH (adrenocorticotropik hormone), adrenocorticotropin, corticotropin
1) Pengaturan
 Pengaturan sekresi kortisol hampir seluruhnya diatur oleh hormon
adrenokortikotropin (ACTH) yang disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior.
 Hormon ini juga dinamakan kortikotropin dan adrenokortikotropin, yang
juga meningkatkan pembentukan androgen adrenal oleh korteks adrenal.
 ACTH dalam jumlah sedikit dibutuhkan untuk sekresi aldosteron,
memberikan peranan permisif yang memungkinkan faktor lain yang lebih
penting untuk menimbulkan pengaturannya yang lebih kuat.
2) Efek stress fisiologis pada sekresi ACTH
 Hampir setiap jenis stress fisik atau mental dapat mengakibatkan
peningkatan sekresi ACTH dan akibatnya dalam beberapa menit, sering
meningkatkan sekresi kortisol sebanyak 20 kali.
 Misalnya diakui bahwa rangsang nyeri atau isyarat saraf jenis lain yang
disebabkan oleh stress mula-mula dihantarkan ke berbagai area hpotalamus
dan selanjutnya isyarat ini dipancarkan kembali ke eminensia mediana,
tempat CRH disekresi ke dalam sistem porta hipofisis.
3) Efek penghambatan kortisol pada hipotalamus dan pada hipofisis anterior
 Kortisol mempunyai efek umpan balik negatif langsung, pada :
 Hipotalamus untuk menurunkan pembentukan CRH
 Kelenjar hipofisis anterior, yang mengurangi pembentukan ACTH.

Umpan balik ini membantu mengatur konsentrasi kortisol plasma, yaitu bila
konsentrasi terlalu besar, umpan balik ini secara otomatis mengurangi
konsentrasi ini kembali ke tingkat pengaturan normal.

d. Hormon perangsang folikel (FSH: follicle stimulating hormone) dan luteinizing


hormone (LH)
Hormon ini disebut gonadotropin karena hormon ini mengatur fungsi gonad.
1) Efek fisiologis FSH
 Pada perempuan FSH menstimulasi pertumbuhan folikel ovarium dan
membantu menstimulasi produksi estrogen ovarium.
 Pada laki-laki, merangsang pertumbuhan dan perkembangan spermatozoa
dalam tubulus seminiferus testis.
2) Efek fisiologis LH
 Pada perempuan, LH bekerja sama dengan FSH, menstimulasi produksi
estrogen. LH bertanggung jawab untuk ovulasi dan sekresi progesteron dari
folikel yang ruptur.
 Pada lai-laki, LH menstimulasi sel-sel interstitiel tubulus seminiferus testis
untuk memproduksi androgen (testosteron).
e. Prolaktin
Disekresi selama masa kehamilan dan saat menyusui setelah melahirkan Efek Fisiologis.
o Prolaktin memicu dan mempertahankan sekresi air susu dari kelenjar mammae yang
sebelumnya juga telah dipersiapkan untuk laktasi melalui kerja hormon lain.

2. Hormon Hipofisis Posterior ADH dan Oksitosin


Kedua hormon ini disintesis oleh sel-sel saraf dalam hipotalamus, di bawah disepanjang
aksonnya dan disimpan dalam neurohipofisis untuk dilepas ke ujung akson. Masing-masing
hormon disekresi oleh sekelompok neuron yang terpisah.
a. ADH (Antideuretik Hormone)
Efek fisiologis
o ADH menghemat air dan mengatur tekanan osmotic cairan tubuh 95% dari total
osmmotic pressure pada ECF ditentukan oleh konsentrasi ion Na. Jadi ADH mengatur
konsentrasi ion Na pada ECF.
o ADH pada konsentrasi sedang dan tinggi punya pressure effeck (meningkatkan
tekanan darah dengan merangsang kontriksi pembuluh darah perifer) karena itu
ADH sering disebut sebagai vasoprein. Misalnya perdarahan hebat >25% ADH
meningkat 25 – 50%

Faktor yang mempengaruhi sekresi ADH

o ADH meningkat pada trauma, rasa sakit, cemas dan obat-obatan, misal: morpin,
nikotin, tranquilizer.
o ADH menurun pada pemberian alkohol.

Sekresi abnormal ADH

o Hiposekresi mengakibatkan diabetes insipidus, yang ditandai dengan rasa haus yang
berlebihan, juga produksi urine berlebihan. Kondisi ini dapat di atasi dengan
pemberian ADH dalam jumlah kecil.
o Hipersekresi, menyebabkan retensi air, difusi cairan tubuh, dan peningkatan volume
darah.
b. Oxitocin
Efek fisiologis
Pada perempuanefek oksitosin tidak dikenal fungsinya pada laki-laki, walaupun dilepas
saat stimulasi seksual.
o Oksitoxin, menstimulasi kontraksi sel-sel otot polos uterus selama senggama, dan
saat persalinan serta kelahiran pada ibu hamil.
o Oksitoxin menyebabkan keluarnya air susu dari kelenjar mammae pada ibu
menyusui dengan menstimulasi sel-sel mio epitelliel disekitar alveoli kelenjar
mammae.

Kendali sekresi

o Penghisapan payudara, desahan suara napas atau suara bayi atau stimulating puting
atau areola pada ibu yang menyusui mengakibatkan stimulus saraf pada
hipotalamus, sekresi oksitoxin dan keluarnya air susu (ini disebut refleks keluar air
susu).
o Pelepasan oksitoxin dan air susu dihambat oleh stress emosional.

KELENJAR TIROID

Kelenjar tiroid terdiri dari dua lobus lateral yang dihubungkan melalui sebuah ismus yang
sempit. Organ terletak di atas permukaan anterior kartilago tiroid trakea, tepat di bawah laring.

Pembentukan dan pelepasan

Kelenjar tiroid mensekresi dua jenis hormon, yaitu :


- Tiroksin atau tetraiodotironin (T4), 90% dari seluruh sekresi kelenjar tiroid
- Triiodotironin (T3), sekresi dalam jumlah kecil

Efek fisiologis hormon tiroid

- Hormon ini meningkatkan laju metabolik hampir semua sel tubuh dengan menstimulasi
konsumsi oksigen dan memperbesar pengeluaran energi, terutama dalam bentuk panas.
- Pertumbuhan dan maturasi normal tulang dan gigi, jaringan ikat serta jaringan saraf.

Abnormalitas sekresi

- Hipotiroidisme, mengakibatkan penurunan aktivitas metabolisme. Konstipasi, letargi, reaksi


mental lambat, dan peningkatan simpanan lemak pada anak kecil mengakibatkan retardasi
mental (kretinisme)
- Hipertiroidisme, mengakibatkan aktivitas metabolik meningkat, berat badan turun, gelisah,
tremor, diarae, frekwensi jantung meningkat. Hipertiroidisme berlebihan dapat
mengakibatkan goiter eksoftalmik dengan gejala berupa pembengkakan jaringan di bawah
kantong mata, sehingga bola mata menonjol.

KELENJAR PARATIROID

Kelenjar paratiroid adalah empat organ kecil yang masing-masing berukuran sebesar biji
apel, terletak pada permukaan posterior kelenjar tiroid dan dipisahkan dari kelenjar tiroid oleh
kapsul jaringan ikat. Selama bertahun-tahun telah diketahui bahwa peningkatan aktifitas kelenjar
paratiroid menyebabkan absorpsi garam-garam kalsium yang cepat dari tulang dengan akibat
hiperkalsemia pada cairan ekstrasel; sebaiknya, hipofungsi kelenjar paratiroid menyebabkan
hipokalsemia, sering dengan akibat tetani. Hormon paratiroid juga penting pada metabolisme fosfat
serta metabolisme kalsium.

1. Anatomi Fisiologi Kelenjar Paratiroid


Dalam keadaan normal terdapat empat kelenjar paratiroid pada manusia; kelenjar ini
terletak tepat di belakang tiap kutub atas dan tiap di belakang kutub bawah setiap kelenjar
tiroid. Setiap kelenjar paratiroid kira-kira panjang 6 mm, lebar 3 mm, dan tebal 2 mm dan
mempunyai gambaran makroskopik lemak coklat tua; oleh karena itu kelenjar paratiroid
sukar ditemukan tempatnya.
Kelenjar paratiroid manusia dewasa mengandung sel-sel utama dan oksifil, tetapi sel oksifil
tidak terdapat pada banyak binatang dan manusia muda. Sel utama mensekresi sebagian
besar hormon paratiroid. Fungsi sel oksifil tidak diketahui; mungkin mereka merupakan sel
utama yang sudah tua yang tetap mengekskresi sedikit hormon.
2. Efek fisiologis
Paratiroid mengendalikan keseimbangan kalsium dan fosfat dalam tubuh melalui
peningkatan kadar fosfat darah.
o Ion kalsium sangat penting untuk pembentukan tulang dan gigi, koagulasi darah,
kontraksi otot, permeabilitas membran sel dan kemampuan eksitabilitas
neuromuskular yang normal.
o Ion fosfat sangan penting untuk metabolisme seluller, sistem buffer asam basa
tubuh, juga sebagai komponen nukleotida dan membran sel.
3. Abnormalitas sekresi
o Hipersekresi
Penyebab hiperparatiroidisme bianya adalah tumor dari salah satu kelenjar
paratiroid. Pada hiperparatiroidisme terjadi aktifitas osteoklastik yang hebat pada
tulang dan hal ini meningkatkan konsentrasi ion kalsium dalam cairan ekstrasel
sedangkan biasanya (tetapi tidak selalu) terjadi sedikit penurunan konsentrasi ion
fosfat karena peningkatan ekskresi fosfat oleh ginjal.
o Hiposekresi
Bila kelenjar paratiroid tidak mensekresi hormon paratiroid dalam jumlah cukup,
osteoklat tulang hampir tidak aktif sama sekali. Sebagai akibatnya reabsorpsi tulang
demikian tertekan sehingga kadar kalsium dalam cairan tubuh berkurang.
o Ricket
Terutama pada anak-anak sebagai akibat defisiensi kalsium atau fosfat dalam cairan
ekstrasel. Biasanya rickets disebabkan karena kekurangan vitamin D bukan
kekurangan kalsium atau fosfor dalam diet. Bila anak mendapatkan sinar matahri
yang cukup, sinar ultraviolet membentuk vitamin D3 (kolekalsiferol) yang mencegah
rickets dengan meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfat dari usus.

KELENJAR KALSITONIN

Kira-kira 20 tahun yang lalu, ditemukan suatu hormon baru yang mempunyai efek pada
kalsium darah yang berlawanan dengan efek hormon paratiroid yang ditemukan pada beberapa
binatang rendah, dan mula-mula diduga disekresi oleh kelenjar paratiroid. Hormon ini diberi nama
kalsitonin karena ia menurunkan konsentrasi ion kalsium darah. Segera setelah ditemukan, diketahui
bahwa pada manusia ia tidak disekresi oleh kelenjar paratiroid tetapi oleh sel parafolikular atau sel
“C” dalam interstisium kelenjar tiroid. Untuk alasan itu ia juga dinamai tirokalsitonin.

Kalsitonin mengurangi konsentrasi kalsium plasma dalam tiga cara :

1. Efek segera untuk mengurangi aktifitas osteoklat.


2. Efek kedua, yang dapat dilihat sekitar satu jam, adalah peningkatan aktifitas osteoblastik.
3. Efek ketiga dan terlama kalsitonin adalah memecah pembentukan osteoklat baru dari sel
osteoprogenitor.

Absorpsi Kalsium dan Fosfat

Kalsium sukar diabsorbsi dari saluran pencernaan karena banyak senyawanya relatif kurang
larut dan juga karena kation bivalen sukar diabsorbsi dengan baik setiap waktu kecuali bisa terdapat
kalsium berlebihan dalam diet; kalsium cenderung membentuk senyawa kalsium fosfat yang hampir
tidak larut sehingga sukar diabsorbsi dan dibuang melalui usus untuk di ekskresikan ke fese.

Vitamin D dan Peranannya pada Absorpsi Kalsium

Vitamin D mempunyai efek kuat dalam meningkatkan absorpsi kalsium dari saluran
pencernaan; ia juga mempunyai efek penting pada pengendapan tulang dan reabsorpsi tulang. Akan
tetapi vitamin D sendiri bukan merupakan zat aktif yang sebenarnya menyebabkan efek-efek ini.
Sebagai gantinya vitamin D pertama kali harus diubah melali serangkaian reaksi, 1, 25
dihidrokaikolekalsiferol.

KELENJAR ADRENAL

Adalah dua massa triangular pipih berwarna kuning yang terutama pada jaringan adiposa.
Organ ini berada dikutup atas ginjal.

Hormon yang Dihasilakan Adalah


1. Hormon medular, yang disekresi oleh sel-sel kromatin medula adrenal untuk merespom
stimulus preganglion simpatis. Hormon ini antara lain adalah katekolamin, epineprin dan
norepineprin.
Secara keseluruhan fungsi hormon ini adalah untuk mempersiapkan tubuh terhadap
aktivitas fisik yang merespons stress, kegembiraan, cedera, latihan dan penurunan kadar
gula darah.
2. Hormon kortikal adrenal, kelenjar adrenal terletak pada kutub superior kedua ginjal,
masing-masing terdiri atas dua bagian, medula adrenal dan korteks adrenal. Medula adrenal
secara fungsional berhubungan dengan susunan safar simpatis, dan ia mensekresi hormon
epinefrin dan norepinefrin akibat rangsangan simpatis. Selanjutnya hormon-hormon ini
menyebabkan efek yang hampir sama pada semua bagian tubuh.

Abnormalitas Hormone

1. Hipoadrenalisme – Penyakit Addison


Penyakit addison akibat dari kegagalan korteks adrenal menghasilkan hormon-hormon
korteks adrenal dalam hal ini selanjutnya paling sering disebabkan oleh atrofi primer korteks
adrenal, mungkin akibat autoimunitas terhadap korteks tetapi sering juga oleh kerusakan
tuberkulosis pada kelenjar adrenal atau invasi korteks adrenal oleh kanker.
2. Hiperadrenalisme – Penyakit Cushing
Hiperksekresi korteks adrenal menyebabkan kompleks efek hormonomal yang dinamakan
penyakit cushing. Ia akibat tumor salah satu korteks adrenal yang mensekresi kortisol atau
hiperplasia umum korteks adrenal. Hiperplasia selanjutnya disebabkan oleh peningkatan
sekresi ACTH oleh hipofisis anterior. Sedangkan besar kelainan sindroma Cushing
dihubungkan dengan jumlah kortisol yang abnormal, tetapi sekresi androgen juga bermakna.
Sifat khas sindroma Cushing adalah mobilisasi lemak dari bagian bawah tubuh, dengan
pengendapan lemak ekstra bersamaan pada daerah toraks, yang menimbulkan apa yang
dinamakan badan “sapi”. Sekresi steroid yang berlebihan juga mengakibatkan wajah yang
tampak edema, serta potensi androgenik beberapa hormon menyebabkan jerawat dan
hirsutisme (pertumbuhan rambut wajah yang berlebihan). Penampilan wajah total sering
dikatakan sebagai muka bulan (moon face).

PANKREAS ENDOKRIN

Sel endokrin dapat ditemukan dalam pulau langerhans, yaitu kumpulan sel kecil yang
tersebar diseluruh sel organ. Ada empat jenis sel penghasil hormon yang teridentifikasi dalam pulau-
pulau tersebut, yaitu:

1. Sel alfa, mensekresi glukagon yang meningkatkan kadar gula darah.


2. Sel beta, mensekresi insulin yang menurunkan kadar gula darah.
3. Sel delta, mensekresi somatostatin atau hormon penghalang hormon pertumbuhan yang
menghambat sekresi glukagon dan insulin.
4. Sel F, mensekresi polipotida pankreas, sejenis hormon pencernaan untuk fungsi yang tidak
jelas yang dilepaskan setelah makan.

1) Insulin
Insulin merupakan protein kecil dengan berat molekul 5808 unuk insulin manusia. Insulin
terdiri atas dua rantai asa amino, satu sama lain dihubungkan oleh ikatan disulfida. Sebelum
insulin dapat berfungsi, ia harus berikatan dengan protein reseptor yang besar di dalam
membran sel.
Pengaturan Sekresi Insulin
Sekresi insulin terutama diatur oleh konsentrasi glukosa darah. Akan tetapi asam amino
darah dan faktor-faktor lain juga memegang peranan penting, seperti kita akan lihat.
Perangsang Sekresi Insulin oleh Glukosa darah
Kadar glukosa darah normal waktu puasa adalah 80 sampai 90 mg/100 ml kecepatan sekresi
insulin minimum. Waktu konsentrasi glukosa darah meningkat di atas 100 mg/100 ml darah,
kecepatan sekresi insulin meningkat cepat, mencapai puncaknya yaitu 10 sampai 20 kali
tingkat basal konsentrasi glukosa darah antara 300 dan 400 mg/100 ml. Jadi peningkatan
sekresi insulin akibat rangsangan glukosa adalah dramatis dalam kecepatan da sangat
tingginya kadar sekresi yang dicapai. Selanjutnya penghentian sekresi insulin hampir sama
cepat, terjadi dalam beberapa menit setelah pengurangan konsentrasi glukosa darah
kembali ke tingkat puasa.
2) Glukagon, dan Diabetes Melitus
o Glukagon adalah suatu hormon yang disekresi oleh sel-sel alfa pulau Langerhans,
mempunyai beberapa fungsi yang berlawanan dengan insulin.
o Fungsinya yang terpenting adalah meningkatkan konsentrasi glukosa darah. Berat
molekul glukagon 3485 dan terdiri dari rantau 29 asam amino.
o Pada penyuntikan glukagon murni kepada bianatang terjadi efek hiperglikemia yang
nyata. Satu mikrogram glukagon per kilogram dapat meningkatkan konsentrasi gula
darah kira-kira 20 mg/100 ml darah dalam sekitar 20 menit.
o Karena alasan ini, glukagon sering dinamakan faktor hiperglikemia.
o Dua efek utama glukagon pada metabolisme glukosa adalah :
1) Pemecahan glikogen (glikogenesis) dan
2) Peningkatan glukoneogenesis
o Efek glukagon paling dramatis adalah kemampuannya menyebabkan glikogenesis
dalam hati, yang selanjutnya meningkatkan konsentrasi glukosa darah dalam
beberapa menit. Glukagon daapt melakukan hal ini dengan “cascade” peristiwa yang
kompleks.

Pengaturan Sekresi Glukagon

1) Efek Konsentrasi Glukosa Darah


Perubahan konsentrasi glukosa darah mempunyai efek yang jelas berlawanan pada
sekresi glukagon dibandingkan pada sekresi insulin. Yaitu, penurunan glukosa darah,
meningkatkan sekresi glukagon. Bila glukosa darah turun sampai serendah 70 mg/100 ml
darah, pankreas mensekresi glukagon dalam jumlah yang sangat banyak, yang cepat
memobilisasi glukosa dari hati. Jadi glukagon membantu melindungi terhadap
hipoglikemia.
2) Efek asam amino
Asam amino meningkatakan sekresi glukagon, suatu efek yang tepat berlawanan dengan
glukosa. Peranan fisiologis efek ini adalah bahwa efek ini diduga mencegah hipoglikemia
yang akan timbul bila makan protein murni, karena asam amino dari protein
meningkatkan sekresi insulin dan karena itu menurunkan glukosa darah. Peningkatan
sekresi glukagon secara teoritis dapat meniadakan efek ini.

Ringkasan Pengaturan Glukosa Darah

Pada orang normal, konsentrasi glukosa darah diatur sangat sempit, biasanya berkisar antara 80 dan
90 mg/100 ml darah pada orang yang puasa setiap pagi sebelum makan pagi.
Konsentrasi ini meningkat menjadi 120 sampai 140 mg/100 ml selama satu jam pertama atau lebih
setelah makan, tetapi sistem umpan balik yang mengatur glukosa darah mengembalikan konsentrasi
glukosa dengan cepat sekali ke tingkat pengaturan, biasanya dalam dua jam setelah absorpsi
karbohidrat yang terakhir. Sebaliknya pada kelaparan, fungsi glukogenesis hati menyediakan glukosa
yang dibutuhkan untuk mempertahankan kadar glukosa darah puasa.

1) Fungsi hati sebagai sistem buffer glukosa darah yag sangat penting, yaitu bila glukosa darah
meningkat ke konsentrasi sangat tinggi setelah makan dan kecepatan sekresi insulin juga
meningkat, sebanyak dua pertiga glukosa yang diabsorbir dari usus hampir segera disimpan
di dalam hati dalam bentuk glikogen. Kemudian selama jam berikutnya bila konsentrasi
glukosa darah dan kecepatan sekresi insulin turun, hati melepaskan glukosa kembali ke
dalam darah.
2) Jelas bahwa fungsi insulin dan glukagon sebagai sistem umpan balik terpisah dan penting
untuk mempertahankan konsentrasi glukosa darah yang normal. Bila konsentrasi meningkat
sampai kadar yang sangat tinggi, maka insulin disekresikan; sebaliknya insulin menyebabkan
konsentrasi glukosa darah menurun ke arah normal. Sebalikya penurunan glukosa darah
merangsang sekresi glukagon; yang berfungsi dalam arah sebaliknya yaitu meningkatkan
glukosa ke arah normal. Pada kebanyakan keadaan normal, mungkin mekanisme umpan
balik insulin jauh lebih penting daripada mekanisme glukagon.
3) Juga pada hipoglikemia, efek langsung glukosa darah yang rendah atas hipotalamus
merangsang susunan saraf simpatis. Sebaliknya, epinefrin yang disekresi oleh kelenjar
adrenal, masih menyebabkan pelepasan glukosa lebih lanjut dari hati. Ini juga membantu
melindungi terhadap hipoglikemia berat.
4) Dan akhirnya, dalam masa beberapa jam atau hari, hormon pertumbuhan dan kortisol
disekresikan dalam respon terhadap hipoglikemia yang berkepanjangan dan mereka
menurunkan kecepatan penggunaan glukosa oleh bagian terbesar sel-sel tubuh. Ini juga
membantu mengembalikan konsentrasi glukosa darah ke arah normal.

Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus disebabkan oleh penurunan kecepatan insulin oleh sel-sel beta pulau Langerhans.
Biasanya dibagi dalam dua jenis berbeda : diabetes juvenilis, yang biasanya tetapi tidak selalu,
dimulai mendadak pada awal kehidupan dan diabetes dengan awitan maturitas yang dimulai di usia
lanjut dan terutama pada orang kegemukan.

Herediter berperanan penting dalam perkembangan kedua jenis diabetes ini. Pada beberapa kasus,
jenis juvenilis disebabkan oleh presdisposisi herediter terhadap perkembangan antibodi terhadap
sel-sel beta atau degenerasi sederhana pada sel-sel ini. Diabetes jenis awitan maturitas jelas
disebabkan oleh generasi sel-sel beta berbagai akibat penuaan yang lebih cepat pada orang yang
lebih rentan daripada yang lain. Obesitas mempredisposisi seseorang terhadap jenis diabetes ini
karena diperlukan insulin dalam jumlah lebih besar untuk pengaturan metabolisme pada orang
kegemukan dibandingkan dengan orang normal.

Patofisiologi Diabetes

Sebagian besar patologi diabetes melitus dapat dikaitkan dengan satu dari tiga efek utama
kekurangan insulin sebagai berikut:

1) Pengurangan penggunaan glukosa oleh sel-sel tubuh, dengan akibat peningkatan


konsentrasi glukosa darah setinggi 300 sampai 1200 mg/100 ml
2) Peningkatan nyata mobilisasi lemak dari daerah-daerah penyimpanan lemak, menyebabkan
kelainan metabolisme lemak maupaun pengendapan lipid pada dinding vaskular yang
mengakibatkan aterosklerosis, dan
3) Pengurangan protein dalam jaringan tubuh.

Akan tetapi, selain itu terjadi beberapa masalah patofisiologis pada diabetes mellitus yang tidak
mudah tampak, yaitu Kehilangan Glukosa ke dalam Urina Penderita Diabetes. Bila jumlah
glukosa yang masuk tubulus ginjal dalam filtrat glomerulus meningkat kira-kira di atas 225 mg
per menit, glukosa dalam jumlah bermakna mulai dibuang ke dalam urina. Jika jumlah filtrasi
glomerulus yang terbentuk tiap menit tetap, maka luapan glukosa terjadi bila kadar glukosa
darah meningkat melebihi 180 mm persen. Akibatnya sering disebutkan bahwa “ambang” darah
untuk timbulnya glukosa di dalam urine sekitar 180 mg persen.

Kehilangan glukosa di dalam urina menyebabkan diuresis karena efek osmotik glukosa di dalam
tubulus mencegah reabsorpsi cairan oleh tubulus. Keseluruhan efeknya adalah dehidrasi
ruangan ekstrasel, yang kemudian menyebabkan dehidrasi ruangan intrasel juga. Jadi, salah satu
gambaran diabetes yang penting adalah kecenderungan timbulnya dehidrasi ekstrasel dan
intrasel, dan ini sering juga disertai dengan kolapsnya sirkulasi.

Asidosis pada Diabetes. Bila tubuh menggantungkan hampir seluruh energinya pada lemak,
kadar asam aseto-asetat dan asam b-hidroksibutirat dalam cairan tubuh dapat meningkat dari 1
mEq/liter sampai setinggi 10 mEq/liter. Jelas, hal ini mudah mengakibatkan asidosis.

KELENJAR PINEAL

Kelenjar pineal terbentuk dari jaringan syaraf dan terletak dilangit-langit ventrikel ketiga
otak. Kelenjar ini terdiri dari pinealosit dan sel neuroglia penopang.

Hormon yang disekresi Melatonin yang memiliki beberapa efek, yaitu:

- Pada binatang percobaan mempengaruhi fungsi endokrin kelenjar tiroid, korteks adrenal
dan gonad serta mempengaruhi perilaku perkawinan mereka.
- Pada manusia sepertinya memiliki efek inhibisi terhadap pelepasan gonadotropin dan
menghambat produksi melanin oleh melanosit di kulit.

KELENJAR TIMUS

Faktor yang diproduksi oleh kelenjar ini adalah meliputi enam peptida, yang secara kolektif
disebut timosin. Fungsi dari timosin adalah:

1. Mengendalikan perkembangan sistem imun dependen timus dengan menstimulasi


diferensiasi dan proliferasi sel limfosit T.
2. Mungkin berperan dalam penyakit immuno defisiensi kongenital, seperti
agamaglobulinemia, yaitu ketidakmampuan total untuk memproduksi antibodi.