You are on page 1of 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diabetes mellitus merupakan suatu penyakit degenerative dengan gangguan


metabolism karbohidrat, lemak dan protein serta ditandai dengan tingginya kadar glukosa
darah dan urin. Saat ini, diabetes mellitus menjadi penyakit dengan angka kejadian yang
cukup tinggi di berbagai Negara dan merupakan salah satu penyakit yang menjadi
masalah kesehatan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya jumlah kasus
diabetes melitus di Indonesia yang berada di urutan ke- 4 setelah negara India, China dan
Amerika dengan jumlah Diabetesi sebesar 8,4 juta orang dan diperkirakan akan terus
meningkat sampai 21,3 juta orang di tahun 20302. Dilihat dari semakin meningkatnya
jumlah penderita diabetes, maka perlu adanya kesadaran dari masyarakat terhadap
pentingnya peran dari masyarakat untuk peduli terhadap masalah ini. Maka dari itu,
tujuan penulisan makalah ini akan memberikan pengetahuan tentang diabetes serta cara
untuk mengendalikannya, dengan harapan agar tingkat kematian penderita diabetes dapat
berkurang.

Di Indonesia jumlah penderita DM cenderung terus meningkat. Karena sifat


penyakit yang menahun, maka disetiap fasilitas kesehatan penderita lama masih terus
berdatangan. Apalagi dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, maka penderita
banyak ditemukan melalui chek – up atau skrining calon – calon pegawai di kantor –
kantor atau perusahaan serta penderita yang datang sendiri ke klinik. Badan statistik 2003
penduduk usia > 20 th 133 juta. DM di Indonesia antara 7,2 – 14,7 %. Jadi jika penduduk
Indonesia 133 juta jiwa, maka kira-kira terdapat penderita DM antara 5,5 – 8,2 juta jiwa.
Tetapi yang diketahui berobat berdasarkan data-data publikasi kira – kira baru 1,3 – 1,5
juta jiwa. Sisanya belum diketahui atau belum terjangkau oleh sarana kesehatan yang ada.
Biaya pengobatan sangat mahal, apalagi penderita DM terus menerus berobat supaya
tidak terjadi komplikasi-komplikasi atau paling tidak memperlambat komplikasi yang
sangat merugikan kehidupan penderita DM.

Oleh sebab itu penderita DM harus dideteksi sedini mungkin supaya komplikasi –
komplikasi dapat diperlambat.Untuk itu alangkah baiknya apabila semua orang mengenal

1
gejala-gejala klinis utama dan gejala-gejala yang diakibatkan oleh komplikasi –
komplikasi penyakit DM tersebut.

Penyakit gula darah alias diabetes menjadi salah satu penyakit yang perlu
diseriusi keberadaannya. The Centers for Disease Control memperkirakan bahwa 1 dari
10 orang dewasa di Amerika Serikat hidup dengan diabetes. Tentunya, penderita diabetes
tidak bisa makan makanan yang mengandung gula secara berlebih. Hidup mereka
memiliki batasan pada apapun yang masuk ke tubuh.

Meski begitu, bukan berarti penderita diabetes nggak bisa menikmati camilan di
kesehariannya. Bisa, kok. Tapi nggak semua makanan ringan bisa dimakan. Tapi,
setidaknya ada beberapa makanan yang masih bisa dimakan. Berikut daftar makanan
yang bisa dikonsumsi oleh penderita diabetes.

1.2 Tujuan
Untuk mengetahui makanan ringan apa saja yang baik untuk dikonsumsi oleh
penderita Diabetes.
1.3 Rumusan Masalah
1. Apakah makanan ringan baik untuk penderita Diabetes Melitus ?
2. Makanan apa saja yang dapat dikonsumsi oleh penderita penyakit Diabetes
Melitus ?
3. Kenapa makanan yang mengandung gula tidak boleh dikonsumsi oleh
penderita Diabetes ?

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Diabetes


Diabetes mellitus adalah penyakit yang ditandai dengan kadar gula darah yang
tinggi yang disebabkan oleh gangguan pada sekresi insulin atau gangguan kerja
insulin atau keduanya. Tubuh pasien dengan diabetes mellitus tidak dapat
memproduksi atau tidak dapat merespon hormon insulin yang dihasilkan oleh organ
pankreas, sehingga kadar gula darah meningkat dan dapat menyebabkan komplikasi
jangka pendek maupun jangka panjang pada pasien tersebut.
Diabetes mellitus (DM) dibagi menjadi beberapa tipe. DM tipe I biasanya
menimbulkan gejala sebelum usia pasien 30 tahun, walaupun gejala dapat muncul
kapan saja. Pasien DM tipe I memerlukan insulin dari luar tubuhnya untuk
kelangsungan hidupnya. DM tipe II biasanya dialami saat pasien berusia 30 tahun
atau lebih, dan pasien tidak tergantung dengan insulin dari luar tubuh, kecuali pada
keadaan-keadaan tertentu. Saat ini jumlah pasien DM tipe II semakin meningkat,
dikarenakan pola hidup yang semakin tidak sehat, misalnya kurang aktivitas fisik
serta pola makan yang tidak sehat. Faktor risiko untuk DM tipe II antara lain: genetik,
lingkungan, usia tua, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, riwayat DM gestasional,
serta ras atau etnis tertentu.Tipe DM lainnya adalah DM gestasional, yakni DM yang
terjadi pada ibu hamil, yang disebabkan oleh gangguan toleransi glukosa pada pasien
tersebut.. Diabetes gestasional adalah diabetes yang terjadi saat kehamilan dan
biasanya hanya berlangsung hingga proses melahirkan. Diabetes gestasional yang
menyerang 9,2 persen wanita hamil ini umumnya terjadi di antara minggu ke-24
hingga 28 kehamilan, walau tidak menutup kemungkinan dapat terjadi di minggu
manapun.
Tidak berbeda dengan diabetes pada umumnya, diabetes gestasional terjadi
ketika produksi insulin tidak mencukupi untuk mengontrol kadar glukosa tubuh pada
saat kehamilan. Kadar glukosa yang tinggi dalam darah ini dapat membahayakan ibu
dan anak, namun risiko tersebut dapat ditekan jika ditangani dengan cepat dan tepat.
Penyebab diabetes gestasional belum diketahui secara pasti, namun faktor
yang sering memicu adalah perubahan hormon. Saat hamil, plasenta akan
memproduksi hormon tambahan seperti hormon estrogen, HPL (human placental
lactogen), dan hormon yang meningkatkan resistensi insulin. Seiring berjalannya

3
waktu, hormon-hormon tersebut akan meningkat dan mempengaruhi kinerja
insulin.Semakin tinggi pengaruh hormon terhadap insulin, kadar gula dalam darah
pun akan meningkat dan hal ini meningkatkan risiko terkena diabetes gestasional.
Selain itu, seorang wanita juga berisiko terkena penyakit jika sudah memasuki usia 25
tahun ke atas saat hamil, memiliki tekanan darah tinggi (hipertensi), memiliki
keluarga dengan sejarah diabetes, kelebihan berat badan sebelum hamil (BMI di atas
25), pernah melahirkan bayi di atas 4.5 kg, pernah keguguran, pernah mengalami
diabetes gestasional sebelumnya, atau faktor ras seperti keturunan Afrika – Amerika,
Asia, Hispanik, Amerika asli, Timur Tengah atau Afrika-Karibia.
2.2 Tipe – Tipe Diabetes
1. Diabetes tipe 1
Gejala umum diabetes pada awal penyakit, yang juga dikenal dengan
gejala klasik di kalangan medis, adalah sering kencing (polyuria), sering haus
(polydipsia) dan sering lapar (polyphagia). Gejala-gejala ini akan berkembang dan
memburuk seiring dengan tidak terkontrolnya kadar gula yang sangat tinggi dalam
darah (hiperglikemia) sehingga merusak jaringan dan organ-organ tubuh, dan
berkomplikasi.
Tanpa insulin, gula dalam darah tidak dapat masuk dan digunakan oleh
sel-sel tubuh. Akhirnya tubuh akan mengolah lemak dan otot menjadi energi
sehingga menyebabkan penurunan berat badan. Ini dapat mengakibatkan kondisi
akut yang disebut ketoasidosis diabetik , yaitu kondisi di mana darah menjadi
terlalu asam dan terjadinya dehidrasi yang membahayakan.
Kadar glukosa darah yang tinggi juga bisa menyebabkan kerusakan pada
pembuluh darah, saraf, dan organ tubuh. Karena itu, diabetes bisa mengakibatkan
sejumlah komplikasi jika tidak dikendalikan dengan baik. Peningkatan kadar gula
darah yang tidak signifikan dan tidak memicu gejala pun bisa mengakibatkan
kerusakan bila terjadi dalam jangka panjang.

2. Diabetes tipe 2
a. Gejala Dm tipe 2
 Rasa haus yang berlebih,
 Buang air kecil lebih sering (frekuensi terbangun dari tidur untuk
berkemih saat malam hari menjadi lebih sering dari biasanya),

4
 Banyak makan,
 Penurunan berat badan tiba-tiba tanpa sebab yang jelas
Meski diabetes tidak bisa disembuhkan, pendeteksian sejak dini
memungkinkan kadar gula darah penderita diabetes bisa dikendalikan. Tujuan
pengobatan diabetes adalah untuk memertahankan keseimbangan kadar gula
darah dan meminimalisasi risiko komplikasi. Berikut penjelasan mendetail
mengenai penanganan diabetes yang umumnya dianjurkan.
 Memulai Gaya Hidup yang Sehat
Ini merupakan penanganan awal bagi penderita diabetes tipe 2 sekaligus
membantu proses pengobatan dan mencegah komplikasi. Langkah-langkah
sederhana tersebut dapat berupa:
 Menerapkan pola makan yang sehat
misalnya meningkatkan konsumsi makanan kaya serat, menghindari
makanan berlemak atau berkadar gula tinggi.
 Teratur berolahraga
setidaknya selama 2,5 jam dalam seminggu.
 Menurunkan berat badan, khususnya bagi yang mengalami kegemukan
atau obesitas (indeks berat badan 30 atau lebih).
 Berhenti merokok karena dapat meningkatkan risiko penyakit
kardiovaskular pada pengidap diabetes.
 Membatasi atau berhenti mengonsumsi minuman beralkohol. Kandungan
alkohol dalam minuman keras dapat mempertinggi risiko hiperglikemia
dan hipoglikemia. Jangan mengonsumsi minuman beralkohol pada saat
perut kosong.
 Menjaga kondisi kaki. Borok pada kaki merupakan komplikasi yang
umum dialami oleh penderita diabetes tipe 2. Karena itu, jagalah kondisi
kaki Anda dan waspadai luka yang tidak kunjung sembuh.
 Memeriksakan kondisi mata secara rutin. Frekuensi pemeriksaan mata
rutin yang dianjurkan adalah sekali setiap 2 tahun.
b. Obat-obatan yang Tepat untuk Mengatasi Diabetes Tipe 2
Keseimbangan kadar gula darah pada diabetes terkadang tidak bisa terjaga
dengan baik hanya melalui penerapan pola makan sehat dan olahraga teratur.
Anda juga mungkin membutuhkan obat-obatan untuk menanganinya.

5
Ada beberapa jenis obat (biasanya dalam bentuk tablet) yang dapat
digunakan untuk diabetes tipe 2. Anda juga mungkin diberikan kombinasi dari
dua jenis obat atau lebih untuk mengendalikan kadar gula darah Anda.
 Metformin untuk mengurangi kadar gula darah
Metformin bekerja dengan mengurangi kadar gula yang disalurkan hati ke
aliran darah dan membuat tubuh lebih responsif terhadap insulin. Ini obat
pertama yang sering dianjurkan bagi penderita diabetes tipe 2.
Berbeda dengan obat-obat lain, metformin tidak menyebabkan kenaikan
berat badan. Karena itu obat ini biasanya diberikan untuk penderita yang
mengalami kelebihan berat badan.
Tetapi metformin kadang-kadang dapat menyebabkan efek samping yang
ringan, misalnya mual dan diare. Dokter juga tidak menganjurkan obat ini
untuk penderita diabetes yang mengalami masalah ginjal.
 Sulfonilurea untuk meningkatkan produksi insulin dalam pankreas
Sulfonilurea berfungsi meningkatkan produksi insulin dalam pankreas.
Penderita diabetes yang tidak dapat meminum metformin atau tidak
kelebihan berat badan mungkin akan diberikan obat ini. Jika metformin
kurang efektif untuk mengendalikan kadar gula darah Anda, dokter
mungkin akan mengombinasikannya dengan sulfonilurea. Contoh-contoh
obat ini adalah glimepiride, glibenclamide, glipizide, gliclazide, dan
gliquidone.
sulfonilurea akan meningkatkan kadar insulin dalam tubuh sehingga dapat
mempertinggi risiko hipoglikemia jika ada kesalahan dalam
penggunaannya. Obat ini juga memiliki efek samping seperti kenaikan
berat badan, mual, muntah, serta diare.
 Pioglitazone sebagai pemicu insulin
Pioglitazone biasanya dikombinasikan dengan metformin, sulfonilurea,
atau keduanya. Obat ini akan memicu sel-sel tubuh agar lebih sensitif
terhadap insulin, sehingga lebih banyak glukosa yang dipindahkan dari
dalam darah.
Obat ini dapat menyebabkan kenaikan berat badan dan pembengkakan
pada pergelangan kaki. Anda tidak dianjurkan untuk meminum

6
pioglitazone jika pernah mengalami gagal jantung atau berisiko mengalami
patah tulang.
 Gliptin (penghambat DPP-4 ) sebagai pencegah pemecahan GLP-1
Gliptin atau penghambat DPP-4 mencegah pemecahan hormon GLP-1
(glucagon-like peptide-1). GLP-1 adalah hormon yang berperan dalam
produksi insulin saat kadar gula darah tinggi. Dengan demikian, gliptin
membantu menaikkan tingkat insulin saat kadar gula naik.
Gliptin (misalnya, linagliptin, saxagliptin, sitagliptin, dan vildagliptin)
dapat menghambat peningkatan kadar gula darah tinggi tanpa
menyebabkan hipoglikemia. Obat ini tidak menyebabkan kenaikan berat
badan dan biasanya diberikan jika penderita tidak bisa meminum
sulfonilurea atau glitazone, atau dikombinasikan dengan keduanya.
 Penghambat SGLT-2 yang berdampak pada urine
Penghambat SGLT-2 akan meningkatkan kadar gula yang dikeluarkan
melalui urine. Namun, obat ini meningkatkan risiko infeksi pada saluran
kemih dan kelamin bagi pengidap diabetes.
Obat ini dianjurkan apabila metformin dan DPP-4 tidak cocok digunakan
oleh pengidap. Contoh penghambat SGLT-2 meliputi dapagliflozin,
canagliflozin, dan empagliflozin.
 Agonis GLP-1 sebagai pemicu insulin tanpa risiko hipoglikemia
Agonis GLP-1 memiliki kinerja yang mirip hormon GLP-1 alami. Obat ini
diberikan melalui suntikan untuk merangsang produksi insulin saat kadar
gula darah tinggi tanpa memicu risiko hipoglikemia.
 Acarbose untuk memperlambat pencernaan karbohidrat
Acarbose akan memperlambat proses pencernaan karbohidrat menjadi
gula. Obat ini mencegah peningkatan kadar gula darah yang terlalu cepat
setelah penderita diabetes makan.
Obat ini dapat menyebabkan efek samping diare serta perut kembung.
Acarbose juga jarang digunakan untuk mengobati diabetes tipe 2, kecuali
jika penderita tidak cocok meminum obat lain.
 Nateglinide dan repaglinide untuk melepas insulin ke aliran darah
Kedua obat ini akan merangsang pankreas untuk melepaskan lebih banyak
insulin ke aliran darah. Fungsi nateglinide dan repaglinide tidak dapat

7
bertahan lama, tapi efektif saat diminum sebelum makan. Meski jarang
digunakan, keduanya dianjurkan apabila penderita memiliki jadwal makan
pada jam-jam yang tidak biasa.
Semua obat tetap memiliki efek samping, termasuk nateglinide dan
repaglinide . Efek samping dari kedua obat ini adalah hipoglikemia dan
kenaikan berat badan.
 Terapi Insulin Sebagai Pendamping Obat-obatan Lain
Obat-obatan dalam bentuk tablet mungkin akan kurang efektif untuk
mengobati diabetes, sehingga Anda membutuhkan terapi insulin.
Berdasarkan dosis dan cara pemakaiannya, terapi ini dapat diberikan untuk
menggantikan atau diberikan bersamaan dengan obat-obatan di atas.
Obat-Obatan Lain yang Umumnya Dibutuhkan Penderita Diabetes Tipe 2

Penderita diabetes tipe 2 memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami


komplikasi (penyakit jantung, stroke, atau penyakit ginjal). Dokter biasanya akan
menyarankan obat-obat berikut ini untuk mengurangi risiko komplikasi:

 Statin (misalnya, simvastatin) untuk mengurangi kadar kolesterol tinggi.


Obat penurun hipertensi.
Obat-obatan ACE Inhibitor, seperti lisinopril, enalapril, atau ramipril,
apabila ada indikasi penyakit ginjal diabetik. Perkembangan penyakit yang
ditandai dengan adanya protein albumin dalam urine ini dapat disembuhkan
jika segera ditangani.
Pemantauan Kadar Gula Darah
Risiko hipoglikemia (kadar gula darah yang terlalu rendah) umumnya
menyertai penderita diabetes tipe 2 yang menggunakan insulin atau tablet
tertentu dalam pengendalian kadar gula darah mereka. Gejala hipoglikemia
ringan meliputi lemas, gemetaran, dan lapar.
Penanganan awal untuk penderita diabetes yang mengalami
hipoglikemia adalah dengan mengonsumsi sumber karbohidrat (minuman
bergula atau tablet glukosa) yang dapat diserap dengan cepat. Setelah itu,
penderita boleh mengonsumsi sumber karbohidrat yang dapat bertahan lebih
lama seperti sepotong wafer, sepotong roti isi, atau mengonsumsi buah.

8
Langkah-langkah di atas umumnya dapat meningkatkan kadar gula
darah agar kembali normal. Tetapi proses ini bisa membutuhkan waktu
beberapa jam.
Hipoglikemia berat akan mengakibatkan penderita diabetes merasa
linglung, mengantuk, bahkan kehilangan kesadaran. Ketika mengalami
kondisi ini, penderita diabetes harus segera diberi suntikan glukagon (hormon
yang dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cepat) langsung pada otot
atau vena.

3. Tipe DM lainnya
Tipe DM lainnya adalah DM gestasional, yakni DM yang terjadi pada ibu
hamil, yang disebabkan oleh gangguan toleransi glukosa pada pasien tersebut..
Diabetes gestasional adalah diabetes yang terjadi saat kehamilan dan biasanya hanya
berlangsung hingga proses melahirkan. Diabetes gestasional yang menyerang 9,2
persen wanita hamil ini umumnya terjadi di antara minggu ke-24 hingga 28
kehamilan, walau tidak menutup kemungkinan dapat terjadi di minggu manapun.
Tidak berbeda dengan diabetes pada umumnya, diabetes gestasional terjadi ketika
produksi insulin tidak mencukupi untuk mengontrol kadar glukosa tubuh pada saat
kehamilan. Kadar glukosa yang tinggi dalam darah ini dapat membahayakan ibu dan
anak, namun risiko tersebut dapat ditekan jika ditangani dengan cepat dan tepat.
Penyebab diabetes gestasional belum diketahui secara pasti, namun faktor yang sering
memicu adalah perubahan hormon. Saat hamil, plasenta akan memproduksi hormon
tambahan seperti hormon estrogen, HPL (human placental lactogen), dan hormon
yang meningkatkan resistensi insulin. Seiring berjalannya waktu, hormon-hormon
tersebut akan meningkat dan mempengaruhi kinerja insulin.
Semakin tinggi pengaruh hormon terhadap insulin, kadar gula dalam darah pun akan
meningkat dan hal ini meningkatkan risiko terkena diabetes gestasional. Selain itu,
seorang wanita juga berisiko terkena penyakit jika sudah memasuki usia 25 tahun ke
atas saat hamil, memiliki tekanan darah tinggi (hipertensi), memiliki keluarga dengan
sejarah diabetes, kelebihan berat badan sebelum hamil (BMI di atas 25), pernah
melahirkan bayi di atas 4.5 kg, pernah keguguran, pernah mengalami diabetes
gestasional sebelumnya, atau faktor ras seperti keturunan Afrika – Amerika, Asia,
Hispanik, Amerika asli, Timur Tengah atau Afrika-Karibia.

9
Diagnosis DM ditegakkan dengan pemeriksaan kadar gula darah, yakni gula
darah setelah puasa 8 jam atau gula darah sewaktu.
Yang penting dilakukan oleh pasien DM adalah mengontrol kadar gula darahnya.
Kadar gula darah yang tidak terkontrol (selalu tinggi, atau kadang tinggi kadang
rendah, atau terlalu rendah) dapat menimbulkan komplikasi pada pasien DM.
Komplikasi jangka pendek misalnya hipoglikemia, yaitu keadaan di mana kadar gula
darah yang terlalu rendah (<70 mg/dl). Gejala yang dirasakan pada saat pasien
hipoglikemia adalah berkeringat, jantung berdebar, rasa lapar, dan gemetar. Jika tidak
diterapi segera, pasien dapat kehilangan kesadaran, meracau dan kejang-kejang.
Komplikasi jangka panjang yang dapat terjadi biasanya melibatkan pembuluh darah
besar maupun kecil serta sistem saraf. Komplikasi dapat mengenai organ-organ vital
seperti otak, jantung, ginjal, mata, persarafan dan lain-lain, sehingga diperlukan
pemeriksaan rutin secara teratur.
 Gejala Diabetes Gestasional
Tidak semua wanita hamil dapat merasakan gejala diabetes gestasional, namun
gejala tersebut dapat dirasakan saat gula darah melonjak tinggi (hiperglikemia),
seperti:
a. Sering merasa haus.
b. Sering buang air kecil.
c. Mulut terasa kering.
d. Mudah merasa lelah.
e. Penglihatan buram.
Namun, tidak semua gejala yang tertera mengindikasikan kondisi diabetes
gestasional. Bicarakan dengan dokter untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kondisi
yang dialami.
 Diagnosis Diabetes Gestasional
Pada umumnya, dokter akan melakukan tes fisik dan menanyakan beberapa
hal seperti gejala yang dialami, lamanya gejala, riwayat medis pribadi dan keluarga
(khususnya diabetes), kondisi yang dialami pada kehamilan sebelumnya, adanya
kenaikan atau penurunan berat badan drastis dan berat badan bayi dari kehamilan
sebelumnya. Jika dokter merasa gejala yang dialami mengarah pada penyakit diabetes
gestasional, serangkaian tes mungkin akan disarankan, seperti:

10
1. Tes toleransi glukosa oral (TTGO) awal. Dalam tes ini, dokter akan memeriksa
kadar glukosa dalam darah 1 jam sebelum dan sesudah mengkonsumsi cairan
sirup gula yang diberikan dokter. Jika hasil tes tersebut di atas 130 – 140 ml/dL,
dokter mungkin akan menyarankan untuk melakukan tes toleransi glukosa oral
lanjutan.
2. Tes toleransi glukosa oral (TTGO) lanjutan. Dalam tes ini, pasien diminta untuk
berpuasa semalaman sebelum menjalani pemeriksaan darah di pagi hari. Setelah
darah pertama diambil, dokter akan memberikan cairan sirup dengan kadar gula
lebih dibanding TTGO awal. Setelah itu, pengambilan darah akan dilakukan setiap
jam selama 3 kali. Jika terdapat 2 hasil dengan kadar yang tinggi, pasien tersebut
mungkin akan didiagnosa diabetes gestasional.
Pada umumnya, dokter akan menyarankan untuk melakukan pemeriksaan
darah pada awal kehamilan jika memiliki gejala atau kondisi yang berisiko tinggi.
Pasien yang sudah didiagnosa mengindap diabetes gestasional biasanya disarankan
untuk melakukan pemeriksaan rutin, khususnya pada 3 bulan terakhir kehamilan.
Pemeriksaan pada bayi juga mungkin akan dilakukan untuk memastikan bayi
mendapatkan oksigen dan nutrisi yang tepat dalam rahim. Dalam beberapa kasus,
pemeriksaan pasca melahirkan pada kedua ibu dan bayi mungkin dilakukan untuk
mendeteksi adanya risiko lanjutan.
Di sisi lain, jika pasien didiagnosa bebas dari diabetes gestasional, dokter
mungkin akan tetap menyarankan untuk melakukan pemeriksaan rutin, khususnya
bagi pasien yang berpotensi, agar dapat terus termonitor dengan baik.
 PengobatanDiabetes Gestasional
Demi kesehatan ibu dan bayi, terdapat beberapa langkah pengobatan yang
biasa disarankan dokter, meliputi:
Memonitor kadar glukosa dalam darah. Untuk menghindari komplikasi lebih lanjut,
dokter mungkin akan menganjurkan untuk memeriksa darah secara rutin, seperti 4
hingga 5 kali sehari, agar dapat dimonitor dengan baik. Hal ini biasa dilakukan
dengan menggunakan suntikan jari kecil (lanset) dan kadar glukosa dideteksi
langsung menggunakan alat khusus. Jika diperlukan, dokter mungkin akan
menyarankan untuk menyuntik atau mengkonsumsi insulin agar kadar glukosa terjaga
hingga melahirkan.
Pemeriksaan ultrasound. Selain ibu, dokter mungkin akan melakukan
pemeriksaan rutin bayi dengan bantuan ultrasound untuk memantau pertumbuhan
11
danperkembangan bayi. Selain itu, dokter juga dapat melihat Perkiraan Hari Lahir
(PHL) sang bayi dan jika ibu tidak melahirkan sesuai dengan waktu yang diperkiraan,
dokter dapat langsung mengambil tindakan secepatnya, seperti induksi atau operasi
caesar. Dalam kasus tertentu, dokter mungkin akan menyarankan untuk melahirkan
sebelum waktunya untuk menghindari komplikasi lanjutan.
Diet sehat. Bagi ibu hamil, khususnya yang didiagnosa penyakit diabetes
gestasional, mengatur pola diet sehat sangat penting dilakukan, seperti mengkonsumsi
sayur-sayuran, buah-buahan, biji-bijian, hingga makanan dengan asupan serat, nutrisi
dan rendah lemak. Penurunan berat badan sata hamil biasa tidak disarankan, namun
hal ini dapat dilakukan saat merencanakan kehamilan. Bicarakan dengan dokter untuk
mengetahui diet dan kadar nutrisi yang tepat untuk kondisi Anda.
Olahraga. Selain menjaga asupan makanan, olahraga juga kerap menjadi hal
yang patut diperhatikan sebelum, saat dan setelah hamil. Dengan melakukan olahraga
teratur, tubuh akan menstimulasi pemindahan glukosa menuju sel dan mengubahnya
menjadi tenaga. Selain itu, olahraga juga dapat meningkatkan kepekaan sel terhadap
insulin sehingga kadar gula dalam darah lebih terkontrol. Sebagai tambahan, dokter
biasanya menyarankan beberapa olahraga khusus untuk membantu mengurangi rasa
tidak nyaman saat hamil seperti sakit punggung, kram otot, pembengkakan,
konstipasi, kesulitan tidur hingga mempersiapkan pasien melewati masa melahirkan
kelak.Pengobatan untuk mengontrol diabetes gestasional berbeda untuk setiap kasus.
Tanyakan pada dokter untuk pengobatan yang tepat untuk Anda.
 Komplikasi Diabetes Gestasional
Pada umumnya, wanita hamil yang mengindap penyakit diabetes gestasional
melahirkan bayi yang sehat. Namun, jika kondisi ini tidak ditangani dengan tepat, ada
beberapa komplikasi dapat terjadi pada bayi saat lahir, seperti:
 Kelebihan berat badan yang disebabkan oleh kadar glukosa berlebih dalam
darah (macrosomia).
 Lahir prematur yang mengakibatkan bayi kesulitan bernafas (respiratory
distress syndrome). Hal ini juga dapat terjadi pada bayi yang lahir tepat
waktu.
 Lahir dengan gula darah rendah (hipoglikemia) karena produksi insulin yang
tinggi. Kondisi ini juga dapat mengakibatkan kejang pada bayi, namun dapat
ditangani dengan memberinya asupan gula.
 Berisiko mengalami obesitas dan diabetes tipe- 2 saat dewasa.
12
Selain bayi, ibu yang baru melahirkan pun juga berpotensi mengalami komplikasi,
seperti:
 Kondisi hipertensi atau preeklamsia yang dapat membahayakan nyawa ibu juga
bayi.
 Berpotensi terserang diabetes gestasional pada kehamilan berikutnya atau
mengindap diabetes tipe- 2 setelah jangka waktu tertentu. Hal ini dapat dicegah
dengan mengkonsumsi asupan tinggi serat dan nutrisi.
Komplikasi yang terjadi harus segera ditangani untuk mencegah terjadinya
komplikasi lanjutan ataupun kematian, khususnya pada bayi.
 Pencegahan Diabetes Gestasional
Hingga saat ini, belum ada kepastian jika diabetes gestasional dapat dicegah
sepenuhnya, namun ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menekan risiko
terkena penyakit ini, meliputi:
- Rutin mengonsumsi makanan dengan asupan nutrisi dan tinggi serat, seperti
sayur-sayuran, buah-buahan dan biji-bijian. Biasakan untuk mengatur porsi
seimbang dan mengurangi makanan dengan kandungan lemak atau kalori
berlebih.
- Olahraga teratur untuk menjaga kebugaran tubuh sebelum dan saat hamil.
Disarankan untuk berolahraga ringan hingga sedang seperti berenang, jalan cepat
atau bersepeda setidaknya 30 menit per hari. Jika tidak memungkingkan, lakukan
olahraga singkat namun berkala untuk memenuhi kebutuhan tersebut, seperti
berjalan kaki atau melakukan pekerjaan rumah.
- Mengurangi berat badan saat berencana hamil dengan menganut pola makan
sehat untuk efek jangka panjang yang lebih baik.
- Lakukan pemeriksaan lengkap sebelum merencanakan kehamilan untuk
memastikan kondisi tubuh prima.

2.3 Diagnosa dan Gejala Klinis


Gejala klinis penyakit DM yang terutama adalah adanya ” TRIAS DM ” yaitu
selalu haus, banyak makan, banyak kencing (polidipsi, poliphagi, poliuria) ditambah
badan lemas dan berat badan menurun secara drastis, meskipun yang bersangkutan
makan dan minum banyak.

13
Gejala – gejala utama ini sering tidak lengkap atau tidak begitu jelas dirasakan
sehingga tidak begitu disadari oleh sebagian besar penderita. Penderita kebanyakan
datang ke dokter, klinik atau rumah sakit karena adanya keluhan atau gejala – gejala
yang diakibatkan oleh komplikasi-komplikasi DM yang timbul.
Komplikasi-komplikasi yang dapat dikenal, terjadi secara akut dan secara
kronik. Komplikasi-komplikasi akut misalnya penderita datang dengan koma diabetik
baik yang disebabkan oleh kadar gula darah yang tinggi maupun yang disebabkan
oleh kadar gula darah yang terlalu rendah; berbagai infeksi di kulit, selaput lendir
kemaluan dengan adanya gatal – gatal di kulit yang tidak sembuh – sembuh;
keputihan yang tidak sembuh – sembuh meskipun diobati; borok atau luka yang
menahun dan sukar sembuh sehingga menjadi gangren dan lain – lain.
Komplikasi-komplikasi kronik pada organ-organ tubuh, misalnya :
 Gagal ginjal ringan sampai berat
 Mata kabur disebabkan adanya katarak atau kerusakan retina
 Gangguan pada syaraf tepi yang ditandai dengan gejala kesemutan, baal – baal
pada anggota tubuh.
 Gangguan syaraf pusat yang dapat menimbulkan gangguan peredaran darah
otak sehingga memudahan terjadinya stroke
 Gangguan pada jantung berupa penyakit jantung koroner
 Gangguan pada hati berupa perlemakan hati dan sirosis hati
 Gangguan pada pembuluh darah berupa penyakit hipertensi dan penebalan
dinding pembuluh darah (arterosklerosis)
 Gangguan pada syaraf dan pembuluh darah dapat menimbulkan impotensi
Paru – paru mudah terserang penyakit tuberkulosis
Panyakit DM tersebut selain didasarkan pada gejala-gejala dan pemeriksaan fisik,
juga berdasarkan pemeriksaan penunjang dengan alat-alat EKG, USG alat
pemeriksaan mata funduskopi , tensimeter, routgen dan lain – lain yang dilakukan
untuk mengetahui komplikasi – komplikasi yang sudah terjadi. Penting sekali juga
mengetahui hasil pemeriksaan darah, khususnya kadar gula darah penderita.
Diagnosis penderita DM untuk pemeriksaan penyaring ; apabila kadar gula darah
vena puasa, lebih atau sama dengan 126 mg % dan 2 jam sesudah pembebanan
glukose 75 gram lebih atau sama dengan 200 mg %, apabila darah diambil melalui
kapiler, gula darah puasa lebih atau sama dengan 100 mg% dan 2 jam setelah

14
pembebanan glukose lebih atau sama dengan 200 mg%. Kriteria ini berdasarkan
WHO 1999.
Apabila hasil pemeriksaan gula darah vena : puasa 100 S/d 125 mg%, maka
ditegakkan diagnosis Gula darah puasa terganggu (GDPT) dan apabila 2 jam
setelah pembebanan gluose 140 – 199 mg % maka diagnosis adalah toleransi glukosa
terganggu.
Selanjutnya penderita DM diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, tetapi
disini hanya akan disinggung kelompok-kelompok yang banyak dijumpai di
masyarakat yaitu :
 DM tipe 2 / NIDDM (Non Insulin Dependent DM) yaitu kelompok penderita DM
yang untuk pengobatan dan kehidupannya tidak tergantung pada insulin dan
kelompok ini di Indonesia adalah yang terbanyak , diduga jumlahnya sampai 95
%.
 DM tipe 1 / IDDM ( Insulin Dependent DM ) yaitu kelompok penderita DM yang
untuk kehidupannya harus tergantung pada terapi insulin. Penderitanya tidak
banyak, kira-kira kurang dari 5 %.
Kelompok yang lain adalah diabetes kehamilan, diabetes yang berhubungan
dengan malnutrisi/ kurang gizi, diabetes yang disebabkan penyakit lain dan DM
akibat pemakaian obat-obatan tertentu . Jumlah penderitanya sangat sedikit
ditemukan.

 Faktor penyebab diabetes melitus

1. Faktor Keturunan ( genetik )

Diabetes Millitus kebanyakan adalah penyakit keturunan, bukan penyakit


menular. Meskipun demikian bukan berarti penyakit tersebut pasti menurun kepada
anak, Walaupun kedua orang tuanya menderita penyakit Diabetes Millistus. Apabila
djbandingkan dengan kedua orangtuanya yang normal (non-DM), yang jelas
penderita Diabetes Millistus lebih cenderung mempunyai anak yang menderita
penyakit Diabetes Millistus.

15
2. Obesitas (Kegemukan)

Obesitas (kegemukan) termasuk hal yang rnenyebabkan terjadinya Diabetes


Millistus. Kebutuhan kalori per hari untuk setiap orang berbeda satu dengan lainnya.
Seorang lelaki dewasa membutuhkan antara 2000-2500 kalori per hari, sedangkan
perempuan dewasa rnembutuhkan 1600-2000 kalori per hari. Jika asup an kalori per
hari seseorang berlebihan, maka kalori yang tidak terpakai akan diubah menjadi
lemak. Jadi, kelebihan kalori dapat menyebabkan seseorang menj adi kegemukan.
Kalau berat badan Anda naik 1 kg, itu sama artinya ada kelebihan asupan 8000
kalori yang diubah menjadi lemak (8000 kalori = 1 kg berat badan rnanusia).

Semua makanan berkarbohidrat pasti mengandung kalori. jadi dapat ditarik


kesimpulan, jika seseorang mengonsumsi makanan berkalori dapat dipastikan
asupan kabohidrat ke dalam tubuh akan bertambah.

Karbohidrat di dalam tubuh akan diubah menjadi gula untuk dijadikan energi
(tenaga). Jika jumlah insulin yang dihasilkan pankreas tidak mencukupi untuk
mengendalikan tingkat kadar gula di dalam tubuh, maka kelebihan gula tersebut
akan menyebabkan gula darah menjadi tinggi, yang disebut dengan diabetes.

Itulah sebabnya, sekarang ini banyak makanan yang diberi label rendah kalori,
yang arti sebenarnya adalah rendah karbo- hidrat. Sebagai Contoh pernanis buatan
rendah kalori, makanan rendah kalori, dan minuman rendah kalori.

3. Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)

Penyakit hiperrensi (tekanan darah tinggi) Sangat berbahaya bagi kesehatan.


Dengan tingginya kadar lemak dalam darah, sensitivitas darah terhadap insulin
menjadi sangat rendah. Oleh karena itu, mereka yang menderita tekanan darah tingi
diharapkan mengonsumsi makanan tinggi serat dan rendah lemak, seperti buah dan
sayuran, sehingga mampu meningkatkan sensitivitas insulin.

Jika sensitivitas insulin meningkat maka kontrol gula akan lebih baik dan
kadar lemak dalam darah rnenjadi rendah. Rendahnya kadar lemak dalam darah akan
menurunkan kemungkinan tirnbulnya komplikasi penyakit jantung sehinga ikut
menurunkan angka kematian pada penderita Diabetes Millistus.

16
4. Angka Triglycerid (Trigliserida) yang Tinggi

Triglycerid (trigliserida) adalah salah satu jenis molekul lemak yang tinggi.
Selain LDL (Low Density Lipoprotein), yaitu jenis kolesterol berbahaya (kolesterol
jahat) dan HDL (High Density Lfpoprotein), yaitu jenis kolesterol bersahabat
(kolesterol baik), yang penting unluk cliketahui juga adalah Trigliserida, yaitu satu
jenis lernak yang terdapat dalam darah dan berbagai organ dalam tubuh.
Meningkatnya kadar trigliserida dalam darah juga dapat meningkatkan kadar
kolesterol. Sejumlah faktor dapat mempengaruhi kadar trigliserida dalam darah
seperti kegemukan, konsumsi alkohol, gula, dan makanan berlemak.

Tingginya kadar trigliserida akan mempengaruhi sensitivitas insulin. Apabila


kadar trigliserida tinggi, sensitivitas insulin akan menurun. Hal ini akan memicu
terjadinya Diabetes Millistus. Salah satu Cara untuk menurunkan kadar trigliserida
ini adalah dengan diet rendah karbohidrat. Diet ini sekaligus akan menjadi
pencegahan terjadinya Diabetes Millistus.

5. Level Kolesterol yang Tinggi

Diabetes Millistus adalah keadaan di mana kadar gula darah nielebihi batas
normal. Diabetes yang tidak terkontrol dengan kadar glukosa yang tinggi cenderung
Ineningkatkan kadar kolesterol dan trigliserida dalam tubuh.

Kolesterol LDL pada penderita Diabetes lebih ganas karena bentuknya lebih
padat dan ukmralmya lebih kecil (Small Dense LDL) sehingga sangat mudah masuk
dan menempel pada lapisan pembuluh darah yang lebih dalam (aterogenik). Pada
penderita Diabetes Millistus, kematian utama disebabkan oleh penyakit
kardioserebrovaskular (penyakit pembuluh darah jantung dan otak). Oleh karena itu,
pasien DM sangat penting untuk menekan kolesterol, khususnya LDL hingga <1
00mg/dL.

Hal ini disebabkan karena DM adalah kondisi yang dianggap sama dengan
orang yang terkena penyakit jantung koroner. Bahkan, pada diabetisi yang sudah
terkena penyakit jantung koroner, target LDL-nya lebih rendah lagi, yakni <70
mg/dL.

17
Kadar gula darah yang tinggi dan berlangsung lama akan memicu terjadinya
aterosklerosis (kerusakan dinding pembuluh darah) pada arteri koroner dan
menyebabkan penyakit jantung koroner. Bahkan, pasien dengan DM cenderung
mengalami gangguan jantung pada usia yang masih muda.

6. Mengonsumsi Makanan Instan

Zaman semakin maju dan terus berkembang. Hal ini membuat manusia
semakin terdorong untuk meraih prestasi setlnggi-tingginya dan menjadi yang
terbaik. Kondisi ini sering dlwarnai dengn gaya hidup modern yang tidak sehat.
Mereka kurang bergerak karena segala sesuatunya menggunakan alat, seperti lift,
escalator, dan lain-lain.

Mereka juga demikian sibuk sehinga tidak ada waktu untuk berolahraga secara
rutin. Akibatnya, sirkulasi darah di dalam lubuh tidak normal. Kinerja jantung
terganggu sehingga secara keseluruhan kerja organ tubuh pun terganggu, termasuk
sensitivitas insulin.

Selain itu, mereka juga terbiasa mengonsumsi makanan instan atau rnakanan
cepat saji yang banyak mengandung garam dan penyedap rasa. Kandungan ini bila
dikonsumsi secara terus-menerus dan tidak diirnbangi dengan pola hidup yang
sehag, akan menyebabkan terganggunya kesehatan, seperti kegemukan, tingginya
kolesterol, dan lain-lain. Inilah yang memicu terganggunya metabolisme dalam
tubuh, termasuk sensitivitas insulin yang menyebabkan Diabetes Millistus.

7. Merokok dan Stres

Rokok adalah musuh terbesar kesehatan. Nikotin yang rnenyebar di dalam


darah akan mempengaruhi seluruh kerja organ tubuh. Darah yang sudah teracuni
oleh nikotin akan menyebabkan sensitivitas insulin terganggu. Apabila kondisinya
sudah demikian, maka Diabetes Millistus siap mengintai.

Stres sebenarnya tidak menyebabkan penyakit fisik secara langsung. Namun,


karena pada saat stres hormon-horrnon racun diproduksi, maka kondisi stres yang
berlangsung terus-menerus akan menyebabkan terjadi kandungan racun yang

18
melimpah di dalam tubuh. Inilah yang kemudian mengacaukan seluruh metabolisme
tubuh. Sensitivitas insulin pun terganggu dan menyebabkan terjadinya DM.

8. Terlalu Banyak Mengonsumsi Karbohidrat

Bagi diabetes, disarankan untuk makan makanan yang bervariasi agar tercapai
keseimbangan antara karbohidrat, protein, dan lemak. Sebagian penderita Diabetes
Millistus bisa mengendalikan gula darahnya hanya dengan makan tiga kali sehari
dan menghindari makanan manis. Sementara, sisanya perlu diet ketat. Orang yang
terlalu banyak mengonsumsi karbohidrat dapat terancarn DM karena di dalam
karbohidrat ini terdapat banyak zat gula yang akan memicu pertambahan kadar gula
darah.

9. Kerusakan pada Sel Pankreas

Diabetes Millistus dapat terjadi jika pankreas-suatu kelenjar di bagian atas


perut-tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Biasanya pankreas menghasilkan
insulin, yaitu hormon yang penting untuk penyimpanan glukosa dalam tubuh.
Apabila pankreas berhenti menghasilkan insulin atau hanya sedikit insulin yang
diproduksi, penyakit DM pasti akan terjadi.

2.4 Pencegahan diabetes melitus


1. Tahu apa itu diabetes
Sebelum memulai tindakan pencegahan terhadap diabetes, sangat
penting untuk mengetahui apa sebenarnya diabetes itu. Setelah Anda akrab
dengan penyakit ini, Anda dapat memulai terapi pencegahan Anda dengan
mudah.
2. Mengurangi porsi makan
Mengurangi porsi makan setiap hari bisa menjadi cara terbaik untuk
menghindari diabetes.
3. Olahraga
Berolahraga setiap hari membantu menjaga berat badan yang sehat,
menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan sensitivitas Anda terhadap

19
insulin. Jadi, berolahragalah setiap hari selama minimal 30 menit
untukmenjaga tingkat gula darah dalam rentang normal
4. Menurunkan berat badan
Berat badan berlebih dapat menjadi memperbesar risiko seseorang
terkena diabetes. Jadi, pastikan bahwa Anda dapat menurunkan berat badan
dan menjaganya tetap normal
5. Sarapan sangat penting
Tidak peduli seberapa bencinya Anda pada sarapan, sangat penting
untuk sarapan setiap hari. Hal itu membantu mengurangi risiko terkena
diabetes. Makan sarapan yang sehat tidak hanya membantu mengontrol nafsu
makan, tetapi juga membantu mengontrol konsumsi kalori.
6. Hindari makanan berlemak
Junk food dan makanan yang biasa Anda beli di jalan umumnya tinggi
lemak jenuh, yang dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat di tubuh. Ini
pada gilirannya juga dapat mempengaruhi tingkat gula darah dalam tubuh.
Jadi, hindari junk food dan makanan berlemak lainnya.
7. Hindari minuman manis
Soda, minuman ringan atau berperasa dapat meningkatkan risiko
terkena diabetes. Semua minuman berpemanis merupakan sumber gula yang
tak terlihat, yang dapat meningkatkan kadar gula darah Anda.
8. Makan banyak sayuran
Daging memang lezat, namun Anda tidak harus memakannya setiap
hari, karena dapat menimbulkan risiko diabetes. Dengan demikian, perbanyak
konsumsi sayuran setiap hari. Mereka akan membantu Anda mencegah
diabetes.
9. Hindari stres
Stres yang berlebihan dapat meningkatkan kadar gula darah Anda.
Jadi, kurangi tingkat stres dengan berlatih yoga, meditasi atau latihan
pernapasan.
10. Tidur nyenyak
Mendapatkan setidaknya enam jam tidur di malam hari sangat penting
untuk mencegah diabetes. Kurang tidur dapat meningkatkan hormon kortisol
dalam tubuh, yang dapat meningkatkan tingkat insulin dan menyebabkan

20
ketidakseimbangan gula darah. Selain itu, tidur yang tidak nyenyak juga bisa
membuat nafsu makan menggila.

2.5 Komplikasi pada penderita diabetes


Kadar gula darah yang sangat tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada
pembuluh darah, saraf, dan organ tubuh. Diabetes termasuk penyakit kronis yang
berkembang secara bertahap, hingga akhirnya bisa memicu sejumlah komplikasi
jika tidak ditangani dengan baik. Berikut adalah sejumlah komplikasi yang
umumnya dialami oleh penderita diabetes.
 Penyakit kardiovaskular. Penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi
untuk terkena penyakit jantung, stroke, aterosklerosis, dan tekanan darah
tinggi.
 Kerusakan saraf atau neuropati. Kadar gula darah yang berlebihan dapat
merusak saraf dan pembuluh darah halus. Kondisi ini bisa menyebabkan
munculnya sensasi kesemutan atau perih yang biasa berawal dari ujung jari
tangan dan kaki, lalu menyebar ke bagian tubuh lain. Neuropati pada sistem
pencernaan dapat memicu mual, muntah, diare, atau konstipasi.
 Kerusakan pada organ kaki. Neuropati atau terhambatnya aliran darah pada
kaki penderita diabetes berkemungkinan meningkatkan risiko komplikasi
kesehatan kaki yang biasanya terlambat disadari. Sekitar 10 persen penderita
diabetes mengalami infeksi serius akibat luka atau goresan kecil pada kaki.
Gejala komplikasi kaki yang harus diwaspadai adalah pembengkakan, kulit
yang terasa panas saat disentuh, serta luka yang tidak kunjung sembuh.
 Kerusakan mata, khususnya retina. Retinopati muncul saat terjadi masalah
pada pembuluh darah di retina yang dapat mengakibatkan kebutaan jika
dibiarkan. Glaukoma dan katarak juga termasuk komplikasi yang mungkin
terjadi pada penderita diabetes.
Kerusakan ginjal. Ginjal memiliki jutaan pembuluh darah halus yang
menyaring limbah dari darah. Jika pembuluh darah halus tersebut tersumbat atau
bocor, kinerja ginjal Anda bisa menurun. Kerusakan parah pada ginjal dapat
menyebabkan gagal ginjal yang membutuhkan dialisis (proses cuci darah) atau
bahkan transplantasi ginjal.

21
Disfungsi seksual. Kerusakan pembuluh darah halus serta saraf pada para
penderita diabetes pria (terutama perokok) dapat mengakibatkan disfungsi ereksi.
Pada penderita diabetes wanita, komplikasi ini mungkin berupa kepuasan seksual
yang menurun, kurangnya gairah seks, vagina yang kering, atau gagal mencapai
orgasme.
Gangguan kulit. Diabetes akan membuat penderitanya rentan terkena
penyakit kulit seperti infeksi jamur maupun bakteri.
Keguguran atau kelahiran mati. Kadar gula darah yang tinggi dapat
membahayakan sang ibu dan janin. Risiko keguguran dan kelahiran mati akan
meningkat jika diabetes gestasional tidak segera ditangani. Kadar gula darah yang
tidak terjaga pada awal kehamilan juga bisa mempertinggi risiko cacat lahir. Ibu
hamil yang menderita diabetes dianjurkan untuk memantau kadar gula darahnya
secara teratur.

2.6 Pengobatan Diabetes Melitus


Pendekatan pengobatan DM dewasa ini telah sangat berkembang. Pengobatan
DM tidak hanya bertujuan menurunkan gula darah saja, tetapi juga mencegah,
memperlambat dan mengobati komplikasi. Oleh karena itu sifat penyakit ini
menahun dan progresif. Maka tujuan pengobatan adalah mengurangi angka
mortalitas (kematian) dan angka mordibilitas (kesakitan) serta meningkatkan
kualitas hidup penderita.
A. DIET
Diet penderita diabetes mellitus pada dasarnya terdiri atas diet :
a. Untuk kebutuhan metabolisme basal
b. Untuk kebutuhan aktifitas sehari – hari
c. Untuk kebutuhan yang lain, misalnya ada infeksi, anemia, terlalu kurus
dan lain-lain.
Kebutuhan kalori orang berbaring di rumah sakit dan orang yang
bekerja/olahraga sangat berbeda. Pengertian diet yang salah adalah
mengurangi makanan, padahal sebenarnya diet pada penderita DM harus
disesuaikan dengan kebutuhan penderita sesuai dengan umur, berat badan,
aktifitas fisik, penyakit-penyakit yang ada, kehamilan dan lain – lain.
Kebutuhan kalori basal 25 – 30 kal/kg BB; pemberian takaran
makanan kepada penderita diabetes mellitus terutama ditujukan agar berat

22
badan tetap ideal, sehingga kebutuhan kalori basal bisa ditambah atau
dikurangi sesuai dengan aktifitas dan keadaan penderita . Untuk orang berusia
lanjut , jumlah kalori bisa dikurangi 5 – 20 % .Untuk orang beraktifitas sangat
berat, kalori harus ditambah sampai 50 % dari kalori basal yang dibutuhkan,
sedangkan untuk penderita yang bekerja ringan, kalori hanya ditambah 20 % ;
pada inteksi kenaikan suhu badan 1 derajat C kalori ditambah 13 %. Untuk
penderita hamil trimester 1, kalori ditambah 150 kalori, trimester 2 – trimester
3 ditambah 350 kalori perharinya . Untuk penderita-penderita kegemukan,
kalori yang diperlukan harus dikurangi 20 % – 30 % . Sedang untuk
penderita yang kurus, kalori basal harus ditambah 20% – 30 %. Untuk
menentukan kebutuhan kalori tiap penderita diabetes secara tepat, memang
diperlukan perhitungan dan waktu agak lama , sehingga ia perlu tinggal
dirumah sakit atau klinik untuk mempermudah penentuan diet standar.

-----------------------------------------------------------------------
Standar I 1100 kalori
II 1300 kalori
III 1500 kalori
IV 1700 kalori
V 1900 kalori
VI 2100 kalori
VII 2300 kalori
VIII 2500 kalori

Standar I – III untuk orang gemuk


Standar IV – V untuk orang berat badan ideal
Standar VI – VII untuk orang kurus
-----------------------------------------------------------------------

B. OLAHRAGA
Telah terbukti bahwa olahraga yang teratur dengan porsi yang cukup
dapat membantu mengontrol kadar gula darah penderita. Olahraga yang
dianjurkan adalah olahraga rithmis dan dinamis seperti joging, senam aerobik,
disco dll.

23
Olahraga harus disesuikan dengan kondisi penderita. Apakah sudah
ada komplikasi atau belum, misalnya adanya gagal ginjal , penyakit jantung
iskemik, hipertensi dan lain-lain.
Senam diabetes adalah olahraga yang diawasi dan yang diadakan oleh
Klub Olahraga diabetes dan Persadia ( Persatuan Diabetes). Dalam klub
pemeriksaan gula darah dikerjakan sebelum dan sesudah latihan.
Pada waktu latihan dilaksanakan (senam dan jogging) harus tercapai
target zone nadi penderita yaitu 60 – 80 % x (220 – umur). Presentase target
nadi harus disesuaikan dengan komplikasi yang sudah terjadi. Apabila terget
zone tercapai, maka tingat kesegaran jasmani tercapai penuh (cukup fit). Efek
olahraga selain meninggkatkan pembakaran juga mempengaruhi jantung dan
sistem sirkulasi darah. Oleh sebab itu olahraga mempunyai manfaat dalam
terapi DM.

C. PENYULUHAN
Penyuluhan terhadap penderita DM sangat penting, karena penyakit ini
menahun dan progresif. Prinsipnya meningkatkan kualitas hidup penderita.
Penyuluhan dapat dilakukan oleh dokter , perawat , petugas kesehatan lain
atau penderita/keluarga serta masyarakat awam yang telah dididik menjadi
diabetik edukator . Penyuluhan ini sangat penting untuk penderita dan
keluarganya , sehingga mereka dapat memahami penyakit serta komplikasi
yang mungkin dapat terjadi kemudian. Penyuluhan ini dapat berupa seminar,
simposium, ceramah, diskusi kelompok dan pendidikan personal.

D. PENGENDALIAN DIRI
Keberhasilan terapi DM sangat ditentukan oleh peranan pasien dalam
mengontrol dan merawat dirinya sendiri. Melalui edukasi pasien akan
mengetahui bagaiman usahanya sendiri atau peranannya dalam membantu
terapi dokter.
Hal-hal yang dapat dilakukan oleh pasien sendiri dalam meningkatkan
keberhasilan terapi DM adalah :
 Mengatur dietnya / variasi dietnya
 Merawat kaki sehat
 Merawat luka , ulcus

24
 Menyuntik insulin sendiri
 Mengatur porsi olahraga
 Memonitor gula darah dan reduksi urin
Terdapat perbedaan pengelolaan diabetes mellitus waktu dulu dengan
dan sekarang. Dulu penderita hanya menurut petunjuk-petunjuk
dokter/perarat, sedangkan sekarang penderita dituntut lebih aktif. Selain untuk
terapi dirinya sendiri, ia juga diharapkan dapat membantu pengobatan orang
lain, misalnya menjadi diabetic edukator ( sekarang pandu diabetes),
mengikuti kegiatan-kegiatan klub diabetes dan lain-lain, sehingga penderita
menjadi lebih bergairah dan lebih berkualitas menjalani kehidupan sehari-
hari, meskipun ia adalah seorang penderita diabetes.

E. BERKEMBANG PESAT
Dibeberapa negara maju sudah mulai dilakukan penelitian dan
percobaan untuk melakukan transplantasi pankreas. Di Indonesia sendiri hal
itu belum mulai dilakukan.
Bagaimanapun juga diagnosis dan penanganan diabetes sudah sangat
berkembang dan telah terjadi pula beberapa perkembangan variasi peranan
dokter, perawat, pasien dan keluarganya dalam usaha meningkatkan mutu
pengobatan. Secara keseluruhan prinsip pengobatan DM adalah diet, obat-
obatan, olahraga, pendidikan, mengontrol diri sendiri.

F. OBAT-OBATAN ANTI DIABETES


Obat-obatan anti diabetes berbentuk tablet (oral) atau injeksi (insulin).
Insulin mempunyai daya kerja yang berbeda-beda. Ada yang mempunyai
daya kerja cepat ( 6 – 10 jam), sedang (12 – 18 jam) dan lambat (24 – 36
jam). Yang menjadi persoalan pemberian obat-obatan anti diabetes adalah :
apakah penderita dapat menghabiskan porsi makannya ? Dosis obat yang
diberikan sudah sesuai atau belum ? Apabila penderita tidak bisa
menghabiskan makanannya atau dosis obat terlalu besar meskipun
makanannya habis, maka bahayanya adalah dapat terjadi hipoglikemia.
Hipoglikemia adalah keadaan kadar gula darah sangat rendah (kurang
dari 90 mg%). Tanda-tanda hipoglikemia adalah : kepala pusing, mata kabur,
pandangan berputar-putar, mual-mual, gemetar, keringat dingin, kesadaran

25
menurun dan akhirnya koma ( koma hipoglikemik). Oleh karena itu perlu
pengertian penderita untuk mengenal tanda-tanda ini dan bagaimana coba
mengatasinya.
Untuk mengetahui dosis obat-obatan anti diabetes perlu dilakukan
monitor gula darah dan reduksi urine secara teratur baik untuk penderita
poliklinik,lebih-lebih lagi untuk penderita yang dirawat. Untuk golongan
yang terakhir disebut, monitoring harus dilakukan lebih ketat. Pengobatan
insulin terutama pada DM tipe 1, DM & kehamilan, DM tipe 2 dengan
komplikasi akut.

BAB III

26
ANALISA

3.1 Sampel
3.1.1 Sampel A
Kandungan gula pada sampel A tidak sama dengan kandungan gula yang
terdapat pada nasi, walaupun jenisnya adalah makanan penghasil karbohidrat.
Saat mengkonsumsi sampel A, disarankan tidak menambahkan lagi gula di
dalam samel A Anda. Marisa More (American Diabetic Association)
mengatakan bahwa sampel A tanpa gula memiliki serat yang tinggi, sehingga
tidak meningkatkan gula darah dengan cepat dan tinggi. Cara kerja serat
sampel A sangat baik untuk mengontrol gula darah.

3.1.2 Sampel B

27
Sampel B adalah sejenis snack atau makanan ringan berbentuk keripik
yang berbahan dasar jagung dengan rasa gurih asin. Dari bau snack ini dapat
tercium aroma jagung dengan campuran beberapa bumbu yang agak tajam,
warna keripik kuning kecoklatan dengan tekstur tidak rata, dan ketika
dirasakan benar-benar sedap. Dari observasi yang dilakukan ini, kami tertarik
untuk membahas lebih jauh apa saja komposisi dari snack sampel B dengan
kemasan hijau.
Berdasarkan data informasi gizi yag tertera pada kemasan dapat ditinjau
persentase penyusuunya, yakni lemak, protein, karbohidrat dan natrium. Dari
data dapat diketahui bahwa persentase lemak yang paling dominan. Kemudian
berikutnya akan dibahas tentang komposisi bahan-bahan untuk pembuatan
snack ini.
Pemanis Buatan (Aspartam)
Aspartame adalah bahan pemanis rendah kalori pengganti gula biasa
(sukrosa) yang ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1965 oleh James
Schlatter, peneliti yang pada waktu itu bekerja di G.D.Searle and Co. dan
sedang berusaha mencari obat baru untuk luka dalam. Ketika ia menjilat
jarinya untuk memudahkannya mengambil selembar kertas, Schlatter
menyadari betapa manisnya rasa senyawa sintesis yang telah ia buat. Senyawa
inilah yang kemudian diberi nama aspartame, yang telah menjadi bagian menu
sehari-hari masyarakat modern. Rasa manisnya dianggap paling mendekati
sukrosa dibandingkan pemanis tidak bernutrisi lainnya, tanpa meninggalkan
rasa pahit. Tidak stabil pada temperatur tinggi sehingga tidak cocok untuk
makanan yang dimasak atau dibakar (meskipun dapat juga ditambahkan
belakangan, jika memungkinkan). Tidak stabil pada cairan dengan keasaman
yang tinggi dan netral. Dianggap sangat aman karena dapat diproses dalam
tubuh melalui metabolisme protein normal dan tidak menghasilkan asam pada
plak. Konsumsi per hari yang diperbolehkan adalah 40 mg/kg BB. Karena
komposisinya, aspartame tidak cocok untuk digunakan oleh penderita penyakit
genetic yang langka ‘Fenilketouria’ (PKU); dimana penderita penyakit ini
tidak dapat memetabolisme komponen fenilalanin.
Aspartame adalah bahan kimia beracun yang dapat merubah kimiawi pada
otak dan sungguh mematikan bagi orang yang menderita karena penyakit
parkinson. Bagi penderita diabetes, hati-hatilah bila mengkonsumsi untuk

28
jangka waktu yang lama atas produk yang mengandung Aspartame ini, karena
dapat menyebabkan koma, bahkan meninggal.

3.1.3 Sampel C

Informasi Nilai Gizi:


Lemak Total 6g
Lemak jenuh 2,5g
Kolesterol 4g
Protein 5g
Karbohidrat Total 14g
Serat pangan 4g
Gula 11g

3.1.4 Sampel D

29
Informasi Nilai Gizi:
Lemak Total 12g
Protein 7g
Karbohidrat Total 10g
Gula 1g
Natrium 105mg

3.1.5 Sampel E

Informasi Nilai Gizi :


Lemak Total 30g
Protein 11g
Karbohidrat Total 17g
Gula 0,17g
BAB IV

30
PENUTUP

4.1. KESIMPULAN
Jadi dari ke 5 sampe diatas, sampel soyjoy lah yang paling baik untuk
penderita diabetes karena soyjoy memiliki Nilai GI (Glikemik Indeks) yang rendah.
Nilai GI dapat melihat kadar gula darah. Semakin rendah nilai GI akan semakin baik,
soyjoy satu satunya snack yang mendapat sertifikat Low GI di indonesia karena
soyjoy menjaga gula darah lebih stabil dibandingkan snack lain.

4.2. SARAN
Bagi penderita diabetes secara prinsip dapat hidup normal asalkan disiplin
menjalani 4 modalitas utama yaitu mengikuti penyuluhan agar paham dan mandiri
mengatasi diabetes, mengatur pola makan, melakukan olahraga secara teratur dan
terapi obat obatan. Bahkan seorang diabetisi tidak perlu mengkonsumsi obat obatan
bila ia disiplin dalam memantau kadar gula darah dan melakukan pengontrolan
terhadap pola makan serta melakukan olahraga secara teratur.
Catatan : Lebih baik kita tidak terpacu pada komposisi di kemasan, karena
komposisi pada kemasan belum tentu benar tidak mengandung gula.

DAFTAR PUSTAKA

http://diabetesmelitus.org/penyakit-diabetes-melitus/DiabetesMelitus.org

31
ArsitoHidayatullah:Rabu,06April2016pukul05:42WIB

ArleneHodgkins:Jum’at,26April2013at10.34WIB

Damarblog.com27November2014

Destriyana,cara ampuh mencegah diabetes.1Juli2013.12:43[online]tersedia:

https://www.merdeka.com/sehat/10-cara-ampuh-mencegah-diabetes.html

HealtylifeIndonesia,tentang diabetes.25Januari2013.11:46[online]tersedia:

http://www.healthylifeindonesia.com/penyebab-diabetes/

32