You are on page 1of 12

ANATOMI IKAN NILEM (Osteochilus vittatus)

DAN IKAN LELE (Clarias gariepinus)

Oleh :
Nama : Jehan Fauziah Hafsah
NIM : B1A017057
Rombongan : III
Kelompok :1
Asisten : Hanif Tri Hartanto

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR HEWAN

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ikan adalah hewan vertebrata yang berdarah dingin yang hidup dalam
lingkungan perairan, baik di perairan tawar maupun perairan laut. Ikan merupakan
kelompok vertebrata yang memiliki keanekaragaman lebih dari 27.000 spesies di
seluruh dunia. Ikan merupakan organisme akuatik yang memiliki organ kompleks,
bernafas dengan insang (beberapa jenis ikan bernafas dengan alat tambahan berupa
modifikasi gelembung renang atau gelembung udara) dan terdiri atas beberapa sistem
organ yang saling bekerja sama melakukan aktivitas hidup (Sugeng, 1983).
Ikan Nilem (Osteochilus vittatus) adalah salah satu hewan vertebrata atau
ikan yang hidup di air tawar dan bernafas dengan insang. Bentuk badan mirip Ikan
Mas, tetapi badannya lebih memanjang dan pipih dengan sirip punggung relative
lebih panjang. Ikan Nilem merupakan jenis ikan herbivore yang makanannya terdiri
atas lumut dan tumbuhan pelekat (Radiopoetro, 1991).
Ikan Lele (Clarias gariepinus) mudah dikenali karena tubuhnya yang licin,
agak pipih dan memanjang, serta memiliki “sungut” yang panjang, yang mencuat
dari sekitar bagian tubuhnya. Ikan Lele bisa hidup di tempat yang tercemar karena
biasa menghilangkan kotoran-kotoran. Ikan Lele (Clarias gariepinus) tidak pernah
ditemukan di air payau atau air asin, kecuali Ikan Lele laut yang tergolong ke dalam
marga dan suku yang berbeda (Ariidae). Habitatnya di sungai dengan arus air yang
perlahan, rawa, telaga, waduk, dan sawah yang tergenang air (Brotowidjoyo, 1993).
Ikan Nilem (Osteochilus vittatus) dan Ikan Lele (Clarias gariepinus) dipilih
sebagai preparat untuk mewakili species dari class Pisces karena cara hidupnya
sederhana, harganya murah dan mudah diperoleh. Selain itu ukurannya cukup besar,
menunjukkan banyak persamaan dalam bentuk dan fungsi dengan vertebrata tingkat
tinggi, serta letak organ-organnya mudah untuk dipelajari.

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui morfologi dan
anatomi ikan nilem (Osteochilus vittatus) dan ikan lele (Clarias gariepinus).
II. MATERI DAN CARA KERJA

A. Materi
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah ikan nilem
(Osteochilus vittatus) dan ikan lele (Clarias gariepinus).
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah gunting bedah, pinset,
dan baki preparat.

B. Cara Kerja
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Ikan dilumpuhkan syaraf pusatnya dengan cara ditusuk otaknya
menggunakan gunting atau dengan cara dipatahkan lehernya.
2. Ikan mulai dibedah dari mulai lubang urogenital (dubur) sampai ke arah
anterior sepanjang medio-ventral mengikuti arah depan sirip dada.
3. Pemotongan dilakukan dengan membelah dari lubang urogenital ke samping
kanan terlebih dahulu. setelah itu, pemotongan dari lubang urogenital ke
samping kiri. Hal ini harus dilakukan secara perlahan dan hati-hati agar tidak
ada organ dalam yang terkoyak sehingga banyak darah yang keluar menutupi
organ yang akan diamati.
4. Setelah digunting, bagian belahan daging dibuka dengan menggunakan pinset
atau tangan.
5. Organ dalam ikan diamati. Pengguntingan dilanjutkan jika organ yang akan
diamati belum terlihat jelas. Bagian yang digunting jangan sampai putus.
B. Pembahasan
1. Ikan Nilem (Osteochilus vittatus)
Ikan Nilem (Osteochilus vittatus), menurut (Nelson, 1994) dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Super Class : Taleostomi
Class : Actinopterygii
Subclass : Nepterygii
Divison : Teleostei
Subdivision : Euteleostei
Superorder : Ostariophysi
Ordo : Cypriniformes
Familia : Cyprinidae
Genus : Osteochilus
Spesies : Osteochilus vittatus
Hasil pengamatan anatomi praktikum ini didapatkan morfologi luar Ikan
Nilem dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu caput, truncus dan cauda. Caput
terbentang mulai dari ujung moncong sampai dengan akhir operculum. Truncus
membentang dari akhir operculum sampai dengan anus. Cauda terbentang dari
belakang anus sampai dengan ujung sirip ikan. Caput Ikan Nilem meliputi mulut
terdapat pada ujung moncong terdapat gigi pada rahangnya, organon visus (mata)
terletak sebelah lateral tanpa kelopak mata dan operculum, dan nostril (lubang
hidung). Bagian truncus dari Ikan Nilem terdiri dari berbagai jenis sirip. Sirip-sirip
tersebut berfungsi membantu pergerakan Ikan Nilem di dalam air. Sirip-sirip tersebut
terdiri dari sirip punggung (pinna dorsalis), sepasang sirip dada (pinna pectoralis),
dan sirip perut (pinna abdominalis). Selain sirip pada bagian truncus juga terdapat
porus urogenitalis, yaitu lubang tempat alat reproduksi dan tempat pengeluaran hasil
ekskresi. Cauda Ikan Nilem terdapat sirip ekor tunggal (pinna analis). Diseluruh
bagian tubuh Ikan Nilem juga terdapat sisik dengan bentuk pipih dan bulat sehingga
disebut cycloid (Jasin, 1989).
Ikan nilem (Osteochilus vittatus) merupakan ikan dari family Cripnidae yang
tersebar di perairan Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Ikan ini adalah salah satu
komoditas budidaya ikan air tawar yang terkonsentrasi di pulau Jawa. Umumnya
juga merupakan produk sampingan dari hasil budidaya ikan mas, mujaer, nila atau
gurameh (Putri et al, 2015).
Menurut (Smith, 1963), ciri khas pada ikan nilem (Osteochilus vittatus)
terletak pada warna tubuhnya yaitu berwarna coklat atau hijau kehitaman dan merah.
Ikan nilem bersisik, memiliki linnea lateralis dari kiri ke kanan yang
menghubungkan badan dari depan sampai ujung ekor. Linnea lateralis berfungsi
untuk mengetahui besarnya arus dalam air. Ikan nilem (Osteochilus vittatus)
memiliki sepasang sirip dada (pectoral fin), sepasang sirip perut (abdominal fin),
sirip dubur (anal fin), sirip punggung (dorsal fin), sirip ekor (caudal fin). Hasil
pengamatan ikan nilem (Osteochilus vittatus) didapati bahwa ikan nilem memiliki
insang, gelembung udara dan gurat sisi (Djuhanda, 1984).
Proses pembedahan pada ikan nilem yaitu pertama-tama ikan dilumpuhkan
syaraf pusatnya dengan cara ditusuk otaknya menggunakan gunting, namun karena
saat praktikum ikan sudah dalam kondisi mati maka langsung dilakukan
pembedahan. Ikan mulai dibedah dari mulai lubang urogenital (dubur) sampai ke
arah anterior sepanjang medio-ventral mengikuti arah depan sirip dada. Selanjutnya,
pemotongan dilakukan dengan membelah dari lubang urogenital ke samping kanan
terlebih dahulu. setelah itu, pemotongan dari lubang urogenital ke samping kiri. Hal
ini harus dilakukan secara perlahan dan hati-hati agar tidak ada organ dalam yang
terkoyak sehingga banyak darah yang keluar menutupi organ yang akan diamati.
Setelah digunting, bagian belahan daging dibuka dengan menggunakan pinset atau
tangan. Organ dalam ikan diamati. Pengguntingan dilanjutkan jika organ yang akan
diamati belum terlihat jelas.
Sistem pencernaan pada Ikan Nilem dimulai dari mulut, pharynx,
oesophagus, ventriculus dan intestinum yang bermuara di kloaka atau anus. Cavum
oris (rongga mulut) relatif kecil, pada rahangnya tidak bergigi. Di dalam dinding
kanan kiri pharynx terdapat sel-sel insang. Oesophagus berbentuk seperti pita
pendek, sedangkan bentuk ventriculus melengkung seperti huruf U. Sistem
pencernaan Ikan Nilem juga terdiri dari intestine (usus) yang berupa saluran yang
berliku-liku dan bermuara pada anus (Radiopoetro, 1977).
Menurut (Hildebrand, 1995) Ikan Nilem memiliki organ-organ pencernaan
berupa intestine, hepar dan vesica felea yang terdapat di sebelah dalam intestine.
Organ-organ tersebut akan tampak terlihat jelas setelah direntangkan. Ductus
Choleodocus merupakan saluran pada empedu yang menghubungkan kantong
empedu dengan usus melalui saluran empedu pendek.
Alat respirasi yang terdapat pada Ikan Nilem adalah insang yang terdiri dari
empat ruang yang setiap ruangnya terdiri dari dua filamen insang tipis. Selain insang
juga terdapat operculum yang berfungsi untuk melindungi insang agar saat
melakukan respirasi udara yang masuk tidak bercampur dengan masuknya air yang
mengikat oksigen ke rongga mulut. Setelah itu, air melewati insang. Pada insang
terjadi penyaringan oksigen dan disini terjadi pertukaran gas karbondioksida, di
dalam darah yang dikeluarkan melalui insang dan suplai oksigen masuk melalui arus
air ketika insang terbuka. Oksigen yang telah disaring kemudian diedarkan melalui
kapiler-kapiler darah yang terdapat pada insang (Storer, 1961).
Menurut (Sugeng, 1983) susunan bagian dalam ikan yang dimiliki oleh Ikan
Nilem antara lain gelembung renang, berupa kantung yang menggelembung
berwarna agak keputih-putihan, berperan sebagai alat keseimbangan agar ikan dapat
naik turun di dalam air. Ikan menjadi mudah mengapung karena memiliki gelembung
renang. Gelembung ini berisi oksigen, hidrogen, dan karbondioksida.
Sistem urinaria atau eksresi pada Ikan Nilem adalah ren yang terjadi dari
mesonephros, ureter yang terjadi dari ductus mesonephridicus, vesica urinaria, dan
sinus urogenitalis. Sepasang ren yang memanjang sepanjang dinding dorsal
abdomen, kanan dan kiri dari linea mediana. Ureter ialah saluran yang keluar dari
ren. Selanjutnya, ureter membesar dan membentuk vesica urinaria. Ureter bermuara
ke dalam sinus urogenitalis. Sinus urogenitalis bermuara keluar melalui porus
urogenitalis yang terdapat caudal dari anus, cranial dari pangkal pinna analis (Noris
dan Rhicard, 1987).
Sistem genitalia pada Ikan Nilem ini terdiri dari gonad dengan saluran
kelenjar asesorisnya. Ada dua macam gonad, yaitu gonad yang menghasilkan sel
kelamin betina (ovum) yang disebut ovarium dan gonad yang menghasilkan sel
kelamin jantan (spermatozoa) yang disebut dengan testis. Ovarium terdapat dalam
hewan betina yang ditambatkan oleh mesentrium khusus pada dinding tubuh
(mesovarium). Ovarium selain sebagai gonad, juga sebagai kelenjar endokrin yang
menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Testis terdapat pada hewan jantan.
Letak testis pada vertebrata rendah tersimpan dalam rongga perut dengan
ditambatkan ke dinding tubuh oleh mesentrium khusus (mesorchium). Testis pada
vertebrata tingkat tinggi terletak diluar rongga perut, tersimpan dalam bangunan
khusus yang disebut skrotum. Testis selain sebagai gonad juga sebagai kelenjar
endokrin yang menghasilkan hormon testosteron (Radiopoetro, 1991).
Ovarium tersusun dari jaringan ikat fibrosa sebagai membrana basalis yang
di sebelah dalamnya terdapat banyak sarang-sarang telur yang berisi sel gamet
primordial (oogonia atau oosit) dan dibagikan tengahnya berisi jaringan ikat stroma.
Umumnya setiap individu mempunyai sepasang ovarium yang secara simetris berada
pada sisi kanan dan kiri tubuh. Oogonia atau oosit terkandung di dalam sarang telur
dan masing-masing terbungkus oleh selapis sel granulosa disebut sel folikel. Testis
sebagai organ kelamin jantan berupa organ yang jumlahnya sepasang dan dilengkapi
dengan saluran spermatozoa dan organ asesoria. Saluran testis pada vertebrata tinggi
dan rendah berhubungan langsung dengan testisnya. Sel-sel yang berkembang
menjadi gamet berada di bagian medulla sehingga gamet-gamet yang diproduksi
akan terkumpul di dalam lumen tubulus dan kemudian disalurkan ke saluran-saluran
dari tubulus atau testis yang kemudian bergabung menjadi epididmis (Radiopoetro,
1991).
Ikan Nilem jantan dan Ikan Nilem betina dapat dibedakan setelah ikan masak
kelamin. Permukaan luar operkulum (tutup insang) ikan jantan apabila diraba terasa
kasar sedangkan ikan betina terasa halus. Ikan jantan apabila diurut perutnya dari
operkulum ke papilla genital maka akan keluar cairan seperti santan (milt) sedangkan
ikan betina tidak. Perut ikan jantan langsing sedangkan ikan betina membuncit dan
lunak. Ikan betina biasanya lebih jinak daripada ikan jantan (Radiopoetro, 1991).

2. Ikan Lele (Clarias gariepinus)


Berikut ini klasifikasi Ikan Lele menurut Jasin (1989) sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phyllum : Chordata
SubPhyllum : Vertebrata
Classis : Pisces
Ordo : Ostariophysi
Family : Claridae
Genus : Clarias
Spesies : Clarias gariepinus
Clarias gariepinus atau mudfish (ikan lele) memiliki tubuh panjang dengan
punggung rata dan kepalanya tertutup oleh lempeng tulang. Ia memiliki mulut
terminal besar dan empat pasang barbel yang menyerupai kumis kucing, sehingga
dinamakan; (catfish) ikan lele. Lubang hidungnya jauh terpisah dengan tubulus
anterior dan yang posterior dilengkapi dengan tentakel panjang. Sirip punggung dan
sirip duburnya, keduanya tidak memiliki duri dan sangat panjang hingga hampir
mengenai sirip ekor yang merupakan satu lobus bulat. Sirip dadanya masing-masing
memiliki tulang belakang, dan kandung kemihnya juga dalam satu lobus. Gigi
kecilnya tersusun di dalam gusi di rahang dan juga di atap mulutnya. Karakter dari
pita gigi ini adalah cara yang paling dapat diandalkan untuk menentukan spesies
pada ikan lele. Ikan lele jantan dewasa dapat dibedakan dari betina dengan fakta
bahwa mereka memiliki papilla, panjang kerucut, proyeksi dari ventilasi yang
mengandung pembukaan seksual, tapi ini tidak selalu terkena. Warnanya sangat
bervariasi, tetapi biasanya kehitaman di dorsal (punggung) dan putih atau sedikit
kekuningan pada sisi ventral (perut) (Zakariah et al, 2017).
Ikan Lele (Clarias gariepinus) berdasarkan habitusnya dibagi menjadi 3
bagian, yaitu caput (kepala) dimulai dari moncong hingga batas tutup insang.
Truncus (badan) mulai dari belakang tutup insang hingga anus. Cauda (ekor) mulai
dari anus hingga ujung sirip ekor. Bagian caput pada ikan Ikan Lele terdapat mulut
dengan sepasang sungut yang terdiri dari sungut anterior (barbels superior) dan
sepasang sungut bawah (barbels inferior), nostril, rahang atas, rahang bawah. Bagian
truncus (badan) Ikan Lele berbentuk memanjang dengan kepala pipih dibawah.
Badannya tidak diselubungi dengan sisik melainkan licin pada permukaan tubuhnya
dan sedikit berlendir. Ikan Lele mempunyai senjata yang sangat ampuh dan berbisa
berupa sepasang patil yang berada pada pectoral fin (sirip dada), selain itu patil juga
beguna untuk melompat atau berjalan di atas tanah. Tipe ekor pada Ikan Lele
berbentuk membulat dan agak ramping seperti kipas (Sumantadinata, 1981).
Ikan jantan dan ikan betina dapat dibedakan dengan cara memijit bagian perut
ke arah anus. Ikan jantan akan mengeluarkan cairan putih susu dari lubang
genitalnya. Induk betina yang sudah matang telurnya dicirikan dengan perut yang
relatif besar dan lunak bila diraba (Sumantadinata, 1981).
Proses pembedahan pada ikan lele yaitu pertama-tama ikan dilumpuhkan
syaraf pusatnya dengan cara ditusuk otaknya menggunakan gunting atau dengan cara
dipatahkan lehernya. Kemudian, ikan mulai dibedah dari mulai lubang urogenital
(dubur) sampai ke arah anterior sepanjang medio-ventral mengikuti arah depan sirip
dada. Selanjutnya, oemotongan dilakukan dengan membelah dari lubang urogenital
ke samping kanan terlebih dahulu. setelah itu, pemotongan dari lubang urogenital ke
samping kiri. Hal ini harus dilakukan secara perlahan dan hati-hati agar tidak ada
organ dalam yang terkoyak sehingga banyak darah yang keluar menutupi organ yang
akan diamati. Setelah digunting, bagian belahan daging dibuka dengan menggunakan
pinset atau tangan. Organ dalam ikan diamati. Pengguntingan dilanjutkan jika organ
yang akan diamati belum terlihat jelas.
Sistem pencernaan pada Ikan Lele dimulai dari mulut, rongga mulut, faring,
oesophagus, lambung, pilrus, usus, rectum dan anus. Struktur anatomi mulut ikan
lele erat kaitannya dengan caranya mendapatkan makanan. Sungut terdapat disekitar
mulut lele yang berperan sebagai alat peraba atau pendeteksi makanan dan ini
terdapat pada ikan yang aktif mencari makan pada malam hari (nokturnal). Rongga
mulut pada ikan lele diselaputi oleh sel-sel penghasil lendir yang mempermudah
jalannya makanan ke segmen berikutnya. Rongga mulut ikan lele juga terdapat organ
pengecap yang berfungsi untuk menyeleksi makanan. Faring pada ikan berfungsi
untuk menyaring makanan yang masuk, karena insang mengarah pada faring maka
material bukan makanan akan dibuang melalui celah insang (Djuhanda, 1984).
Sistem respirasi utama pada Ikan Lele (Clarias gariepinus) menggunakan
insang yang berada di bagian kepala ikan, sedangkan Ikan Lele juga memiliki alat
pernapasan tambahan yang disebut arborescent, organ yang merupakan membran
yang berlipat-lipat penuh dengan kapiler darah. Alat ini terletak di dalam ruang
sebelah atas insang dan mempunyai fungsi untuk mengikat oksigen ketika Ikan Lele
berada di tempat yang memiliki konsentrasi air yang sedikit, misalnya pada saat di
dalam lumpur (Suyanto, 1991).
Organ utama pada sistem ekskresi Ikan Lele (Clarias gariepinus) adalah
ginjal. Urin yang dihasilkan ginjal disalirkan melalui ureter yang berjalan di
pinggiran rongga-rongga abdomen sebelah dorsal menuju ke belakang. Ureter yang
kiri dan yang kanan bertemu di bagian belakang menjadi kantong urin (vesica
urinaria) dan dari urin dikeluarkan melalui uretra yang bermuara di anus
(Radiopoetro, 1991).
Ikan Lele (Clarias gariepinus) memiliki sistem genitalia berupa gonad.
Gonad Ikan Lele jantan dapat dibedakan dari ciri-cirinya yang memiliki gerigi pada
salah satu sisi gonadnya, warna lebih gelap, dan memiliki ukuran gonad lebih kecil
daripada betinanya, selain itu Ikan Lele juga memiliki sebuah organ yang disebut
dengan clasper, dimana organ ini memiliki fungsi yang sama persis dengan penis
yaitu sebagai organ ovulasi yang terletak di bagian bawah tubuh dekat dengan anus.
Gonad betina Ikan Lele berwarna lebih kuning, terlihat bintik-bintik telur yang
terdapat di dalamnya dan kedua bagian sisinyameluas tidak bergerigi (Radiopoetro,
1991).
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa


habitusnya atau morfologi ikan nilem (Osteochilus vittatus) dan ikan lele (Clarias
gariepinus) dapat dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu kepala, badan dan ekor. Di bagian
kepala (caput) terdapat sepadang mata, sepasang hidung, celah insang, sepasang tutup
insang dan alat pendengar serta alat keseimbangan. Sedangkan bagian badan (truncus)
terdapat kulit luar, gurat sisi, tiga lubang pengeluaran dan sirip. Dan bagian ekornya (cauda)
mulai dari anus hingga ujung sirip ekor.
Sistem pencernaan pada ikan nilem (Osteochilus vittatus) dan ikan lele
(Clarias gariepinus) hampir sama. Pencernaannya dimulai dari mulut, rongga
mulut, faring, oesophagus, lambung, pilorus, usus, rectum dan anus. Sistem respirasi
pada ikan nilem (Osteochilus vittatus) dan ikan lele (Clarias gariepinus) juga hampir
sama, yaitu menggunakan insang. Hanya saja pada ikan lele ada alat tambahan
berupa arborescent yang berfungsi untuk mengikat oksigen saat lele berada di
dalam lumpur.
Sistem ekskresi pada ikan nilem (Osteochilus vittatus) dan ikan lele (Clarias
gariepinus) hampir sama, yaitu terdiri dari ren, ureter, vesica urinaria, dan porus
urogenitalis. Sistem reproduksi pada ikan nilem (Osteochilus vittatus) dan ikan lele
(Clarias gariepinus) sama. Yang membedakan hanya alat kelamin pada ikan lele
jantan, yaitu memiliki clasper.
DAFTAR PUSTAKA

Brotowidjoyo, M. 1993. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.


Djuhanda. 1994. Pengantar Anatomi Perbandingan Vertebrata 2. Bandung: Americo
Hildebrand, M. 1974. Analisa Struktur Vertebrata. Surabaya: Sinar Jaya.
Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan Vertebrata dan Invertebrata untuk Universitas.
Jakarta: Sinar Wijaya.
Masayu Rahmia Anwar Putri, et al. 2015. Beberapa aspek biologi ikan nilem di
danau talaga, sulteng.balai penelitian pemulihan dan konservasi sumberdaya
ikan, Jatiluhur. Vol 7(2):110-120.
Nelson Js. 1994. Fishes of the Word. Third edition. John Wiley & Sons. Inc., New
York, USA.
Norris, David O. and Rhicard E. Jones. 1987. Hormones and Reproduction in Fishes,
Amphibians, and Reptiles. New York and London: Plenum Press.
Radiopoetro. 1977. Zoologi. Jakarta: Erlangga.
Smith, E. Frederick. 1963. General Zoology. London: Saunders Company WB.
Storer, T. J. 1957. General Zoology. Tokyo: Kagashusa Company LTD.
Sugeng. 1983. Berternak Ikan di Kolam. Semarang: Aneka Ilmu.
Sumantadinata, K. 1981. Pengembangan Ikan-ikan Peliharaan di Indonesia. Jakarta:
Sastra Hudaya.
Suyanto, SR. 1991. Budidaya Ikan Lele. Jakarta: Penebar Swadaya.
Zakariah, et al. 2017. Gross morphometry of The Heart of Farmed African Catfish
(Clarias gariepinus) in Maiduguri, Nigeria. Nigeria: International Journal of
Fisheries and Aquatic Studies.