You are on page 1of 6

Anatomi dan Fisiologi Ginjal

1. Anatomi

Gambar Anatomi Ginjal


Ginjal merupakan suatu organ yang terletak retroperitoneal pada
dinding abdomen di kanan dan kiri columna vertebralis setinggi vertebra
T12 hingga L3. Ginjal kanan terletak lebih rendah dari yang kiri karena
besarnya lobus hepar. Ginjal dibungkus oleh tiga lapis jaringan. Jaringan
yang terdalam adalah kapsula renalis, jaringan pada lapisan kedua adalah
adiposa, dan jaringan terluar adalah fascia renal. Ketiga lapis jaringan ini
9 berfungsi sebagai pelindung dari trauma dan memfiksasi ginjal
(Tortora, 2011). Ginjal memiliki korteks ginjal di bagian luar yang
berwarna coklat terang dan medula ginjal di bagian dalam yang berwarna
coklat gelap. Korteks ginjal mengandung jutaan alat penyaring disebut
nefron. Setiap nefron terdiri dari glomerulus dan tubulus. Medula ginjal
terdiri dari beberapa massa-massa triangular disebut piramida ginjal
dengan basis menghadap korteks dan bagian apeks yang menonjol ke
medial. Piramida ginjal berguna untuk mengumpulkan hasil ekskresi yang
kemudian disalurkan ke tubulus kolektivus menuju pelvis ginjal (Tortora,
2011).

2. Fisiologi
Ginjal menjalankan fungsi yang vital sebagai pengatur volume dan
komposisi kimia darah dan lingkungan dalam tubuh dengan
mengekresikan zat terlarut dan air secara selektif. Fungsi vital ginjal
dicapai dengan filtrasi plasma darah melalui glomerulus dengan
reabsorpsi
sejumlah zat terlarut dan air dalam jumlah yang sesuai di sepanjang
tubulus ginjal. Kelebihan zat terlarut dan air di eksresikan keluar tubuh
dalam urin melalui sistem pengumpulan urin (Price dan Wilson, 2012).
MenurutSherwood(2011),ginjalmemilikifungsiyaitu:
- Mempertahankan keseimbangan H2O dalam tubuh.
- Memelihara volume plasma yang sesuai sehingga sangat
berperan dalam pengaturan jangka panjang tekanan darah arteri
10
- Membantu memelihara keseimbangan asam basa pada tubuh.
- Mengekskresikan produk-produk sisa metabolisme tubuh.
- Mengekskresikan senyawa asing seperti obat-obatan.
- Ginjal mendapatkan darah yang harus disaring dari arteri. Ginjal
kemudian akan mengambil zat-zat yang berbahaya dari darah.
Zat-zat yang diambil dari darah pun diubah menjadi urin. Urin
lalu akan dikumpulkan dan dialirkan ke ureter. Setelah ureter,
urin akan ditampung terlebih dahulu di kandung kemih. Bila
orang tersebut merasakan keinginan berkemih dan keadaan
memungkinkan, maka urin yang ditampung dikandung kemih
akan di keluarkan lewat uretra (Sherwood, 2011). Tiga proses
utama akan terjadi di nefron dalam pembentukan urin,
yaitu filtrasi, reabsorpsi, dan sekresi. Pembentukan urin dimulai
dengan filtrasi sejumlah besar cairan yang hampir bebas protein
dari kapiler glomerulus ke kapsula Bowman. Kebanyakan zat
dalam plasma, kecuali protein, di filtrasi secara bebas sehingga
konsentrasinya pada filtrat glomerulus dalam kapsula bowman
hampir sama dengan plasma. Awalnya zat akan difiltrasi secara
bebas oleh kapiler glomerulus tetapi tidak difiltrasi, kemudian
di reabsorpsi parsial, reabsorpsi lengkap dan kemudian akan
dieksresi (Sherwood, 2011).
3. Definisi
Glomerulonefritis adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk
menjelaskan berbegai macam penyakit ginjal yang mengalami proliferasi
dan inflamasi di glomerulus akibat suatu proses imunologis.
Glomerulonefritis kronik merupakan penyakit parenkim ginjal progresif
dan difus yang seringkali berakhir dengan gagal ginjal kronik.
Glomerulonefritis berhubungan dengan penyakit-penyakit sistemik
seperti lupus aritomatosus sistemi, poliartritis nodosa, granulomatosus
wagener. Glomerulonenefritis (glomerulopati) yang berhubungan
dengan diabetes melitus (glomerulosklerosis tidak jarang dijumpai dan
dapat berakhir dengan penyakit ginjal glumerulonefritis yang
berhubungan dengan amilodois sering dijumpai pada pasien dengan
penyakit menahun seperti tuberkulosis, lepra, osteomielitis arthritis
rheumatoid dan myeloma). Sukandar, 2006.
4. Glomerulonefritis kronik adalah peradangang yang lama dari sel-sel
glomurulus. Kelainan ini dapat terjadi glomerulonefritis akut yang tidak
membaik atau timbul secara spontan. Glomerulonefritis kronik sering
timbul beberapa tahun setelah cedera dan peradangan glomerulus sub
klinis yang disertai oleh hematurial (darah dalam urine) dan proteinuria
(protein dalam urin) ringan, yang sering menjadi penyebab adalah
diabetes militus dan hipertensi kronik. Hasil dari peradangan adalah
pembentuk jaringan parut dan menurun fungsi glumerulus. Pada
pengidap diabetes yang mengalami hipertensi ringan, memiliki prognosis
fungsi ginjal jangka panjang yang kurang baik.
Penyebab dari glumerulonefritis kronis yaitu:
- Lanjutan GNA, sering tanpa riwayat infeksi
(streptococcus betahemoliticus group A).
- Keracunan.
- Diabetes militus
- Trombosis vena renalis
- Hipertensi kronis
- Penyakit kolagen

5. Klasifikasi
Glumeruloneftritis dibedakan menjadi 3 :
a. Difus
Mengenal semua glomerulus, bentuk yang paling sering ditemui
timbul akibat gagal ginjal kronik. Bentuk klinisnya ada 3:
- Akut : jenis gangguan yang klasik dan jinak, yang selalu
diawali oleh infeksi stroptococcus dan disertai endapan
kompleks imun pada membran basalis glomerulus dan
perubahan proliferasi seluler.
- Sub akut : bentuk glomerulonefritis yang progresif cepat
yang ditandai dengan perubahan-perubahan proliferatif
seluler nyata yang merusak glomerulus sehingga dapat
mengakibatkan kematian akibat uremia.
- Kronik : glomerulonefritis progesif lambat yang berjalan
menuju perubahan sklerotik dan abliteratif pada
glomerulus, ginjal mengisut dan kecil, kematian akibat
uremia
b. Fokal
Hanya sebagian glomerulus yang abnormal.
c. Lokal
Hanya sebagian rumbai glomerulus yang abnormal misalnya
sampai kapiler
6. Fatofisiologi
7. Manifestasi
Dari segi klinis suatu kelainan glomerulus yang sering dijumpai adalah
hipertensi, sembab, dan penurunan fungsi ginjal. Meskipun gambaran
klinis biasanya telah dapat membedakan berbagai kelianan glomerulus
dan non glomerulus, biopsi ginjal masih sering dibutuhkan untuk
menegakkan diagnosis pasti.
a. Hematuria
b. Silinder sel darah merah didalam urine
c. Proteinuria lebih dari 3-5 mg/hari
d. Penurunan GFR
e. Penurunan volume urine
f. Retensi cairan
g. Apabila keadaan tersebut disebabkan oleh glomerulonefritis pasca
streptococcus akut, akan dijumpai enzim-enzim stroptococcus,
misalnya antistreptolisin-O dan antistreptokinase.
8. Komplikasi
Ada beberapa komplikasi yang muncul, antara lain:
a. Oliguria sampai anuria yang dapat berlangsung 2-3 hari.
b. Ensefalopati hipertensi
c. Gangguan sirkulasi berupa dispnea
d. Ketidak keseimbangan cairan dan eletrolit pada fase akut
e. Malnutrisi
f. Hipertensi
9. Penatalaksanaan medis
a. Pemberian penisilin pada fase akut. Pemberian antibiotik ini tidak
mempengaruhi berat nya glomerulunefritis, melainkan
mengurangi menyebarnya infeksi streptococcus yang mungkin
masih, dapat dikombinasi dengan amoksislin 50mg/kg BB dibagi 3
dosis selama 10. Jika alergi terhadap golongan penisillin, diganti
dengan eritromisin 30 mg/kg BB/hari dibagi 3 dosis.
b. Pengobatan terhadap hipertensi pemberian cairan dikurangi,
pemberian sedativa untuk menenangkan penderita sehingga
dapat cukup beristirahat. Pada hipertensi dengan gejala serebral
diberikan reserpin dan hidralazin. Mula-mula diberikan reserpin
sebanyak 0,07 mg/kg BB/hari secara intramuscular. Bila terjadi
diuresis 5-10 jam kemudian, maka selanjutnya reserpin diberikan
peroral dengan dosis rumat 0,3 mg/kgbb/hari. Magnesium sulfat
parenteral tidak dianjurkan lagi karena memberi efek toksis.
c. Pemberian furosemid (lasix) secara intravena (1 mg/kgbb/kali)
dalam 5-10 menit tidak berakibat buruk pada hemodinamika ginjal
dan filtrasi glomerulus
d. Bila timbul gagal jantung, maka diberikan digitalis, sedativa dan
oksigen