You are on page 1of 7

1.

Wajib

Hukum nikah menjadi wajib bagi seseorang jika dia termasuk orang yang mempunyai libido yang tinggi,
sehingga tidak dapat menahan hawa nafsunya. Jika tidak segera menikah, dikhawatirkan dan sangat
memungkinkan dia akan berzina. Ataupun hal lain yang menyebabkan seseorang terkena hukum wajib
untuk menikah

adalah apabila dia memilki nazar untuk menikah.

2. Sunnah

Hukum nikah menjadi sunnah bagi seorang muslim jika dia memenuhi dua syarat. Yang pertama adalah
jika dia mempunyai keinginan untuk menikah dan yang kedua adalah dia mempunyai bekal yang cukup
untuk menikah. Batas bekal yang cukup menurut syara’ dalam hal ini adalah dia mempunyai mahar atau
mas kawin

untuk istrinya dan mampu menafkahi istrinya pada hari dan malam pernikahannya serta uang yang
cukup untuk sekiranya membeli pakaian yang layak bagi istrinya di hari pernikahannya.

Misalnya adalah seseorang yang ingin menikah

mempunyai uang minimal sebanyak 350.000 rupiah. Untuk mas kawin 50.000 rupiah, untuk makan pada
hari dan malam pernikahannya 50 ribu rupiah dan untuk membeli pakaian 250.000 rupiah. Belum lagi
jika ditambah biaya nikah di KUA seperti sekarang.

3. Makruh

Hukum nikah dalam Islam bisa menjadi makruh jika dia tidak memiliki dua syarat yang disebutkan pada
nomor dua di atas. Dia tidak memiliki

keinginan untuk menikah serta tidak punya bekal yang cukup seperti yang disebutkan di atas.

Memahami hukum-hukum nikah dalam Islam

(foto dari: barajanulih.blogspot.com)

4. Khilaful Aula

Hukum perkawinan dalam Islam bisa jadi khiaful Aula jika hanya memenuhi salah satu syarat yang
disebutkan pada nomor 2 di atas. Misalnya dia memiliki keinginan untuk menikah akan tetapi tidak
punya bekal yang cukup atau sebaliknya, punya bekal yang cukup tapi tidak berkeinginan untuk menikah.
Menurut ulama muta’akhirin arti khilaful aula adalah sesuatu yang dianjurkan untuk ditinggalkan, namun
tidak berdasarkan larangan secara jelas, sedangkan ulama mutaqaddimin menyamakan khilaful aula
dengan makruh.

5. Haram
Hukum nikah bisa juga berubah menjadi haram jika dia tidak memiliki kempampuan untuk melaksanakan
hak-hak istri jika menikah. Misalnya tidak mampu memberi nafkah ataupun hak-hak lainnya.
Pembahasan mengenai hak-hak istri dalam Islam insya Allah akan saya jelaskan lebih rinci pada postingan
lainnya. Nikah juga menjadi haram hukumnya apabila kedua mempelai merupakan pasangan yang tidak
boleh dinikahi karena adanya hubungan darah atau saudara sepersusuan. Atau juga menikah dengan niat
untuk menceraikan dan nikah kontrak (nikah mut’ah).

https://www.fanind.com/hukum-hukum-nikah-dalam-islam.html

Apakah menikah itu wajib ataukah sunnah? Apakah berdosa orang yang tidak menikah padahal ia
mampu untuk menikah?

Allah Ta’ala berfirman:

‫ﻀﻠﻜﻜﻪ ﺃﻭ ﺼ‬
‫ﺍﺤ ﺃﻭﺍﻜﺳﻊِﻊ ﺃﻋﻜﻠﻴِﻊِﻢ‬ ‫ﺃﻭﺃﺃﻧﻧﻜﻜﺤﺤﻮُﺍ ﺍﻧﻟﺃﺃﻳﺎَﺃﻣﻰَ ﻜﻣﻧﻨﺤﻜﻧﻢ ﺃﻭﺍﻟ ﺼ‬
‫ﺼﺎَﻟﻜﻜﺤﻴِﺃﻦ ﻜﻣﻧﻦ ﻜﻋﺃﺒﺎَﻜﺩﺤﻛﻧﻢ ﺃﻭﺇﻜﺃﻣﺎَﺋﻜﺤﻜﻧﻢ ﺇﻜﻧﻥ ﻳﺃﺤﻜﻮُﺤﻧﻮُﺍ ﻓﺤﻘﺃﺃﺮﺍﺃﺀ ﻳﺤﻧﻐﻨﻜﻜﻬﺤﻢ ﺼ‬
‫ﺍﺤ ﻜﻣﻧﻦ ﻓﺃ ﻧ‬

“ Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin)
dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka
miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi
Maha Mengetahui ” (QS. An Nur: 32).

Dalam ayat ini terdapat perintah untuk menikah. Namun para ulama berbeda pendapat mengenai
apakah menikah itu wajib ataukah sunnah menjadi 3 pendapat:

Pendapat pertama

Madzhab zhahiri berpendapat bahwa hukum menikah adalah wajib, dan orang yang tidak menikah itu
berdosa. Mereka berdalil dengan ayat di atas, yang menggunakan kalimat perintah ‫( ﺃﻭﺃﺃﻧﻧﻜﻜﺤﺤﻮُﺍ‬dan
nikahkanlah..) dan perintah itu menunjukkan hukum wajib.
Mereka juga mengatakan bahwa menikah adalah jalan untuk menjaga diri dari yang haram. Dan kaidah
mengatakan:

‫ﻣﺎَ ﻻ ﻳﺘﻢ ﺍﻟﻮُﺍﺟﺐ ﺇﻻ ﺑﻪ ﻓﻬﻮُ ﻭﺍﺟﺐ‬

“kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu tersebut hukumnya wajib”

Pendapat kedua

Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa hukum menikah adalah mubah, dan orang yang tidak menikah itu
tidak berdosa. Imam Asy Syafi’i mengatakan bahwa menikah itu adalah sarana menyalurkan syahwat dan
meraih kelezatan syahwat (yang halal), maka hukumnya mubah saja sebagaimana makan dan minum.

Pendapat ketiga

Pendapat jumhur ulama, yaitu madzhab Maliki, Hanafi dan Hambali berpendapat bahwa hukum menikah
itu mustahab (sunnah) dan tidak sampai wajib.

Mereka berdalil dengan beberapa poin berikut:

1. Andaikan menikah itu wajib maka tentu ternukil riwayat dari Nabi

Shallallahu’alaihi Wasallam yang menyatakan hal itu karena menikah adalah kebutuhan yang dibutuhkan
semua orang. Sedangkan kita temui diantara para sahabat Nabi ada yang tidak menikah. Demikian juga
kita temui orang-orang sejak zaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam hingga zaman kita sekarang ini
ada yang sebagian yang tidak menikah sama sekali. Dan tidak ternukil satu pun pengingkaran beliau
terhadap hal ini.

2. Jika menikah itu wajib, maka seorang wali boleh memaksakan anak gadisnya untuk menikah. Padahal
memaksakan anak perempuan untuk menikah justru dilarang oleh syariat. Berdasarkan sabda Nabi

Shallallahu’alaihi Wasallam :

‫ﻭﻻ ﺗﺤﻧﻨﺃﻜﺢَ ﺍﻟﺜﻴِﺐ ﺣﺘﻰَ ﺗﺴﺘﺄﻣﺮ‬

“ jangan engkau nikahkan seorang perawan hingga ia mau (ridha) ”

maksudnya hingga gadis tersebut mau dan ridha untuk menikah

3. Al Jashash berkata:

‫ﻭﻣﻤﺎَ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰَ ﺃﻧﻪ ﻋﻠﻰَ ﺍﻟﻨﺪﺏ ﺍﺗﻔﺎَﻕ ﺍﻟﺠﻤﻴِﻊ ﻋﻠﻰَ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﺒﺮ ﺍﻟﺴﻴِﺪ ﻋﻠﻰَ ﺗﺰﻭﻳﺞ ﻋﺒﺪﻩ ﻭﺃﻣﺘﻪ ﻭﻫﻮُ ﻣﻌﻄﻮُﻑ ﻋﻠﻰَ ﺍﻟﻳﺎَﻣﻰَ ﻓﺪﻝ ﻋﻠﻰَ ﺃﻧﻪ ﻣﻨﺪﻭﺏ‬
‫ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻤﻴِﻊ‬

“diantara yang menunjukkan sunnahnya menikah (tidak wajibnya), yaitu ulama sepakat bahwa seorang
tuan tidak boleh memaksakan budak laki-laki atau budak wanitanya untuk menikah. Padahal budak
dalam ayat di atas di- athaf -kan dengan al ayaama (orang yang sendirian). Ini menunjukkan bahwa
hukum menikah adalah sunnah untuk semua (yang disebutkan dalam ayat)”
Maka yang rajih adalah pendapat jumhur ulama, bahwa menikah hukumnya adalah sunnah dan tidak
sampai wajib,

wallahu a’lam .

Namun perlu digaris-bawahi, khilafiyah yang di bahas di atas adalah jika seseorang dalam kondisi yang
aman dari fitnah dan aman dari resiko terjerumus dalam hal-hal yang diharamkan oleh Allah terkait
syahwat kepada wanita. Adapun jika seseorang khawatir terjerumus ke dalam fitnah semisal zina dan
lainnya, tidak ada khilaf di antara para ulama bahwa nikah dalam keadaan ini adalah wajib. Karena
membentengi dan menjaga diri dari perkara haram itu wajib, sehingga dalam kondisi ini menikah
hukumnya wajib. Al Qurthubi berkata:

‫ ﻭﺯﻭﺍﻝ ﺧﺸﻴِﺔ‬،‫ ﻭﻣﻦ ﻗﻮُﺗﻪ ﻋﻠﻰَ ﺍﻟﺼﺒﺮ‬،‫ ﻭﻣﻦ ﻋﺪﻡ ﺻﺒﺮﻩ‬،َ‫ ﻳﺨﺘﻠﻒ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺑﺎَﺧﺘﻼﻑ ﺣﺎَﻝ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻣﻦ ﺧﻮُﻑ ﺍﻟﻌﻨﺖ ﺍﻟﺰﻧﻰ‬: َ‫ﻗﺎَﻝ ﻋﻠﻤﺎَﺅﻧﺎ‬
‫ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺠﺪ‬. ‫ﺍﻟﻌﻨﺖ ﻋﻨﻪ ﻭﺇﺫﺍ ﺧﺎَﻑ ﺍﻟﻬﻼﻙ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺃﻭ ﺍﻟﺪﻧﻴِﺎَ ﻓﺎَﻟﻨﻜﺎَﺡ ﺣﺘﻢ ﻭﻣﻦ ﺗﺎَﻗﺖ ﻧﻔﺴﻪ ﺇﻟﻰَ ﺍﻟﻨﻜﺎَﺡ ﻓﺈﻥ ﻭﺟﺪ ﺍﻟﻄﺼﻧﻮُﻝ ﻓﺎَﻟﻤﺴﺘﺤﺐ ﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﺘﺰﻭﺝ‬
َ‫ﺍﻟﻄﻮُﻝ ﻓﻌﻠﻴِﻪ ﺑﺎَﻻﺳﺘﻌﻔﺎَﻑ ﻣﺎَ ﺃﻣﻜﻦ ﻭﻟﻮُ ﺑﺎَﻟﺼﻮُﻡ ﻟﻥ ﺍﻟﺼﻮُﻡ ﻟﻪ ﻜﻭﺟﺎَﻊِﺀ ﻛﻤﺎَ ﺟﺎَﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﺨﺒﺮ ﺍﻟﺼﺤﻴِﺢ‬

“Para ulama kita berkata, hukum nikah itu berbeda-beda tergantun keadaan masing-masing orang dalam
tingkat kesulitannya menghindari zina dan juga tingkat kesulitannya untuk bersabar. Dan juga tergantung
kekuatan kesabaran masing-masing orang serta kemampuan menghilangkan kegelisahan terhadap hal
tersebut. Jika seseorang khawatir jatuh dalam kebinasaan dalam agamanya atau dalam perkara
dunianya, maka nikah ketika itu hukumnya wajib. Dan orang yang sangat ingin menikah dan ia memiliki
sesuatu untuk dijadikan mahar untuk menikah hukumnya mustahab baginya. Jika ia tidak memiliki
sesuatu yang tidak bisa dijadikan mahar, maka ia wajib untuk isti’faf (menjaga kehormatannya) sebisa
mungkin. Misalnya dengan cara berpuasa, karena dalam puasa itu terdapat perisai sebagaimana
disebutkan dalam hadits shahih”.

https://muslim.or.id/25059-apakah-menikah-itu-wajib.html

5 Hukum Pernikahan Dalam Islam, Anda Masuk di Kondisi Yang Mana?


Hukum Pernikahan – Tulisan kali ini akan membahas tentang hukum pernikahan dalam pandangan islam.
Agama islam adalah agama yang lengkap dengan segalanya yang telah diatur dan memiliki ketentuan,
termasuk pernikahan.

Urusan dan detail-detail pernikahan mulai dari yang sederhana sampai yang paling rumit pun sudah
diatur dalam islam secara lengkap.

www.madinaonline.id

Tentang pernikahan ini, Allah SWT berfirman:

“…Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut
tidak bisa berlaku adil maka kawinilah satu saja ”.(QS. An-Nisa’ : 3).

“ Dan kawinilah orang-orang yang sendirian (janda) diantaramu, dan hamba sahaya laki-laki dan hamba-
hamba sahayamu yang perempuan”.(Q.S. An-Nur : 32).

Nabi Muhammad SAW juga menjelaskan dalam haditsnya:

“ Kawinlah kamu, karena sesungguhnya dengan kamu kawin, aku akan berlomba-lomba dengan umat-
umat yang lain ”.

rezalawpage.wordpress.com

Berdasarkan Al-qur’an dan As-sunnah, agama islam sangat menganjurkan kepada kaum muslimin yang
sudah mampu untuk segera melangsungkan pernikahan.

Para ulama ketika membahas tentang hukum pernikahan, mengatakan bahwa hukum pernikahan itu
bersifat kondisional, yang artinya dapat berubah menurut situasi dan kondisi seseorang serta
permasalahannya.

Jika dilihat dari segi situasi, kondisi orang yang melaksanakan pernikahan, tujuan dari pernikahan dan
permasalahannya, maka melaksanakan suatu pernikahan itu dapat dikenakan hukum wajib, sunnah,
haram, makruh ataupun mubah.

Contents [ show]

Hukum-hukum Pernikahan Dalam Islam

1. Hukum Pernikahan Yang Wajib

Menikah menjadi wajib hukumnya bagi seseorang jika ia dalam keadaan mampu secara finansial dan ia
sangat beresiko masuk ke dalam perzinaan. Menjaga diri dari perbuatan zina adalah wajib, maka dari itu
jalan keluarnya hanyalah dengan cara menikah.

Abdullah bin Mas’ud berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW kepada kami : “ Hai golongan orang-orang
muda! Siapa-siapa dari kamu mampu berkawin, hendaklah dia berkawin, karena yang demikian lebih
menundukkan pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan, dan barang siapa tidak mampu, maka
hendaklah ia bersaum, karena ia itu pengebiri bagimu ”.

Imam Al-Qurtubi berkata : “ Orang bujang yang sudah mampu kawin dan takut dirinya dan agamanya
jadi rusak, sedang tidak ada jalan untuk menyelamatkan diri kecuali dengan kawin, maka tidak ada
perselisihan pendapat tentang wajibnya dia kawin ”. Allah berfirman :

“Hendaklah orang-orang yang tidak mampu kawin menjaga dirinya sehingga nanti Allah mencukupkan
mereka dengan karunia-Nya ” (QS. An-Nuur : 33).

2. Hukum Pernikahan Yang Sunnah

Menikah menjadi sunnah hukumnya bagi seseorang yang sudah mampu untuk melaksanakan pernikahan
namun masih tidak merasa takut jatuh kepada perbuatan zina.

Hal ini mungkin karena ia masih berusia muda dan lingkungan tempat tinggalnya baik, kondusif dan jauh
dari pergaulan-pergaulan bebas.

Sebenarnya jika dia menikah, tentu akan mendapatkan keutamaan yang lebih dibandingkan dengan dia
tidak menikah. Paling tidak, dia telah melaksanakan anjuran Rasulullah SAW untuk memperbanyak
jumlah umat Islam.

Anas bin Malik RA berkata: bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Nikahilah wanita yang banyak anak,
karena Aku berlomba dengan nabi lain pada hari kiamat “.

3. Hukum Pernikahan Yang Haram

Hukum pernikahan menjadi haram bagi seseorang jika ia tidak mampu memenuhi nafkah lahir dan batin
kepada istrinya, serta nafsunya pun tidak mendesak.

Imam Al-Qurtubi berkata : “ Bila seorang laki-laki sadar tidak mampu membelanjai istrinya atau
membayar maharnya atau memenuhi hak-hak istrinya, maka tidaklah boleh ia kawin, sebelum ia terus
terang menjelaskan keadaannya kepada istrinya atau sampai datang saatnya ia mampu memenuhi hak-
hak istrinya ”. Allah berfirman :

“…Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan dengan tanganmu sendiri… ”
(QS. Al-Baqarah : 195).

Selain itu ada beberapa hal lain yang membuat hukum pernikahan menjadi haram seperti, menikahi
wanita pezina dan pelacur, wanita muslimah yang menikah dengan laki-laki yang berbeda agama atau
atheis, menikahi wanita yang haram dinikahi (mahram), menikahi wanita yang punya suami dan wanita
yang berada dalam masa iddah.

Ada juga pernikahan yang tidak memenuhi syarat dan rukun seperti menikah tanpa wali atau tanpa saksi.
Atau menikah dengan niat untuk mentalak, sehingga menjadi nikah untuk sementara waktu yang biasa
disebut nikah kontrak.
4. Hukum Pernikahan Yang Makruh

Hukum pernikahan menjadi makruh bagi seseoang yang lemah syahwat dan tidak mampu memberi
nafkah istri.

Namun jika calon istrinya rela dan punya harta yang bisa mencukupi hidup mereka, maka masih
diperbolehkan bagi mereka untuk menikah meski dengan karahiyah. Karena idealnya wanita bukanlah
orang yang menanggung beban dan memberi nafkah suami.

5. Hukum Pernikahan Yang Mubah

Hukum pernikahan menjadi mubah atau boleh bagi seseorang jika ia berada pada posisi tengah-tengah
antara hal-hal yang mendorong keharusannya untuk menikah dengan hal-hal yang mencegahnya untuk
menikah.

Dalam hal ini orang tersebut tidak dianjurkan untuk segera menikah, namun juga tidak ada larangan
untuk mengakhirkannya.

Demikianlah penjelasan lengkap mengenai hukum-hukum pernikahan dalam islam. Semoga bermanfaat
dan semoga yang belum bertemu dengan jodohnya, maka segera dipertemukan.

https://pasberita.com/hukum-pernikahan/