You are on page 1of 18

Anatomi dan Fisiologi Sistem Endokrin

Sistem endokrin, dalam kaitannya dengan sistem saraf, mengontrol dan memadukan
fungsi tubuh. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja untuk mempertahankan homeostasis
tubuh.Fungsi mereka satu sama lain saling berhubungan, namun dapat dibedakan dengan
karakteristiktertentu. Misalnya, medulla adrenal dan kelenjar hipofise posterior yang mempunyai
asal darisaraf (neural). Jika keduanya dihancurkan atau diangkat, maka fungsi dari kedua kelenjar
inisebagian diambil alih oleh sistem saraf
A. Struktur
Terdapat dua tipe kelenjar yaitu eksokrin dan endokrin. Kelenjar eksokrin melepaskan
sekresinya ke dalam duktus pada permukaan tubuh, seperti kulit, atau organ internal, seperti
lapisan traktus intestinal. Kelenjar endokrin termasuk hepar, pankreas (kelenjar eksokrin dan
endokrin),payudara, dan kelenjar lakrimalis untuk air mata. Sebaliknya, kelenjar endokrin
melepaskan sekresinya langsung ke dalam darah. Kelenjar endokrin termasuk:
1. Pulau Langerhans pada Pankreas
2. Gonad (ovarium dan testis)
3. Kelenjar adrenal, hipofise, tiroid dan paratiroid, sertatimus
B. Hormon dan fungsinya
Kata hormon berasal dari bahasa Yunani hormon yang artinya membuat gerakan atau
membangkitkan. Hormon mengatur berbagai proses yang mengatur kehidupan.
Sistem endokrin mempunyai lima fungsi umum:
1. Membedakan sistem saraf dan sistem reproduktif pada janin yang sedang berkembang
2. Menstimulasi urutan perkembangan
3. Mengkoordinasi sistem reproduktif
4. Memelihara lingkungan internal optimal
5. Melakukan respons korektif dan adaptif ketika terjadi situasi darurat
C. Klasifikasi
Dalam hal struktur kimianya, hormon diklasifikasikan sebagai hormon yang larut dalam air atau
yang larut dalam lemak. Hormon yang larut dalam air termasuk polipeptida (mis., insulin,
glukagon, hormon adrenokortikotropik (ACTH), gastrin) dan katekolamin (dopamin, norepinefrin,
epinefrin)Hormon yang larut dalam lemak termasuk steroid (estrogen, progesteron, testosteron,
glukokortikoid, aldosteron) dan tironin (tiroksin). Hormon yang larut dalam air bekerja melalui
sistem mesenger-kedua, sementara hormon steroid dapat menembus membran sel dengan bebas.
D. Regulasi Peran hipotalamus dan kelenjar hipofise
Dua kelenjar endokrin yang utama adalah hipotalamus dan hipofise. Aktivitas endokrin
dikontrol secara langsung dan tak langsung oleh hipotalamus, yang menghubungkan sistem
persarafan dengan sistem endokrin. Dalam berespons terhadap input dari area lain dalam otak dan
dari hormon dalam dalam darah, neuron dalam hipotalamus mensekresi beberapa hormon realising
dan inhibiting. Hormon ini bekerja pada sel-sel spesifik dalam kelenjar pituitary yang mengatur
pembentukan dan sekresi hormon hipofise. Hipotalamus dan kelenjar hipofise dihubungkan oleh
infundibulum.Hormon yang disekresi dari setiap kelenjar endokrin dan kerja dari masing-masing
hormon. Perhatikan bahwa setiap hormon yang mempengaruhi organ dan jaringan terletak jauh
dari tempat kelenjar induknya. Misalnya oksitosin, yang dilepaskan dari lobus posterior kelenjar
hipofise, menyebabkan kontraksi uterus. Hormon hipofise yang mengatur sekresi hormon dari
kelenjar lain disebut hormon tropik. Kelenjar yang dipengaruhi oleh hormon disebut kelenjar
target. Sistem umpan balik Kadar hormon dalam darah juga dikontrol oleh umpan balik negatif
manakala kadar hormon telah mencukupi untuk menghasilkan efek yang dimaksudkan, kenaikan
kadar hormon lebih jauh dicegah oleh umpan balik negatif. Peningkatan kadar hormon mengurangi
perubahan awal yang memicu pelepasan hormon. Misalnya peningkatan sekresi ACTH dari
kelenjar pituitari anterior merangsang peningkatan pelepasan kortisol dari korteks adrenal,
menyebabkan penurunan pelepasan ACTH lebih banyak. Kadar substansi dalam darah selain
hormon juga memicu pelepasan hormon dan dikontrol melalui Sistem umpan balik. Pelepasan
insulin dari pulau langerhan di pankreas didorong oleh kadar glukosa darah.Aktivasi sel-sel target
Manakala hormon mencapai sel target, hormon akan mempengaruhi cara sel berfungsi dengan satu
atau dua metoda, pertama melalui penggunaan mediator intraselular dan kedua mengaktifkan gen-
gen di dalam sel. Salah satu mediator intraselular adalah cyclic adenosine monophosphate
(CAMP), yang berikatan dengan permukaan dalam dari membran sel. Ketika hormon melekat pada
sel, kerja sel akan mengalami sedikit perubahan. Misalnya, ketika hormon pankreatik glukagon
berikatan dengan sel-sel hepar, kenaikan kadar AMP meningkatkan pemecahan glikogen menjadi
glukosa.
1. Struktur dan Fungsi Hipotalamus
Hipotalamus terletak di batang otak tepatnya di dienchepalon, dekat dengan ventrikel otak ketiga
(ventrikulus tertius) Hipotalamus sebagai pusat tertinggi sistem kelenjar endokrin yang
menjalankan fungsinya melalui humoral (hormonal) dan saraf. Hormon yang dihasilkan
hipotalamus sering disebut faktor R dan I mengontrol sintesa dan sekresi hormon hipofise anterior
sedangkan kontrol terhadap hipofise posterior berlangsung melalui kerja saraf, Hipotalamus
sebagai bagian dari sistem endokrin mengontrol sintesa dan sekresihormon-hormon hipofise.
Hipofise anterior dikontrol oleh kerja hormonal sedang bagian posterior dikontrol melalui kerja
saraf.
2. Struktur dan Fungsi Hipofise
Hipofise terletak di sella tursika, lekukan os spenoidalis basis cranii. Berbentuk oval dengan
diameter kira-kira 1 cm dan dibagi atas dua lobus Lobus anterior, merupakan bagian terbesar dari
hipofise kira-kira 2/3 bagian dari hipofise. Lobus anterior ini juga disebut adenohipofise. Lobus
posterior, merupakan 1/3 bagian hipofisedan terdiri dari jaringan saraf sehingga disebut juga
neurohipofise. Secara histologis, sel-sel kelenjar hipofise dikelompokan berdasarkan jenis hormon
yangdisekresi
a. Sel-sel somatotrof bentuknya besar, mengandung granula sekretori, berdiameter 350-500 nm
dan terletak di sayap lateral hipofise. Sel-sel inilah yang menghasilkan hormone somatotropin
atau hormon pertumbuhan.
b. Sel-sel lactotroph juga mengandung granula sekretori, dengan diameter 27-350 nm, prolaktin
atau laktogen.
c. Sel-sel Tirotroph berbentuk polihedral, mengandung granula sekretori dengan diameter 50-100
nm, menghasilkan TSH.
d. Sel-sel gonadotrof diameter sel kira-kira 275-375 nm, mengandung granula sekretori,
menghasilakan FSH dan LH. Ssel-sel kortikotrof diameter sel kira-kira 375-550 nm, merupakan
granula terbesar, menghasilkan ACTH.
e. Sel nonsekretori terdiri atas sel kromofob. Lebih kurang 25% “sel kelenjar hipofise tidak dapat
diwarnai dengan pewarnaan yang lazim digunakan dan karena itu disebut sel-sel kromofob.
Kelenjar tiroid menghasilkan tiga jenis hormon yaitu T3, T4 dan sedikitkalsitonin. Hormon T3
dan T4 dihasilkan oleh folikel sedangkan kalsitonin dihasilkanoleh parafolikuler. Bahan dasar
pembentukan hormon-hormon ini adalah yodium yangdiperoleh dari makanan dan minuman.
Yodium yang dikomsumsi akan diubah menjadi ion yodium (yodida) yang masuk secara aktif
ke dalam sel kelenjar dan dibutuhkan ATPsebagai sumber energi. Proses ini disebut pompa
iodida, yang dapat dihambat oleh ATP-ase, ion klorat dan ion sianat.
3. Struktur dan Fungsi Kelenjar Paratiroid
Kelenjar paratiroid menempel pada bagian anterior dan posterior kedua lobuskelenjar tiroid
oleh karenanya kelenjar paratiroid berjumlah empat buah. Kelenjar initerdiri dari dua jenis sel
yaitu chief cells dan oxyphill cells. Chief cells merupakanbagian terbesar dari kelenjar
paratiroid, mensintesa dan mensekresi hormon paratiroidatau parathormon disingkat PTH.
Parathormon mengatur metabolisme kalsium dan posfat tubuh. Organ argetnyaadalah
tulang, ginjal dan usus kecil (duodenum). Terhadap tulang, PTH mempertahankan resorpsi
tulang sehingga kalsium serum neningkat. Di tubulus ginjal, PTH mengaktifkan vitamin D.
Dengan vitamin D yang aktif akan terjadi peningkatan absorpsi kalsium dan posfat dari intestin.
Selain itu hormon inipun akan meningkatkan reabsorpsi Ca dan Mg di tubulus ginjal,
meningkatkan pengeluaran Posfat, HCO3 dan Na. karena sebagian besar kalsium disimpan di
tulang maka efek PTH lebih besar terhadap tulang. Factor yang mengontrol sekresi PTH adalah
kadar kalsium serum disamping tentunya PTSH.
4. Struktur dan fungsi kelenjar Pankreas
Pankreas terletak diretroperiotoneal rongga abdomen bagian atas, dan terbentanghorizontal
dari cincin duodenal ke lien. Panjang sekitar 10-20 cm dan lebar 2,5-5 cm.mendapat pasokan
darah dari arteri mensenterika superior dan splenikus.
Pankreas fungsinya sebagai organ endokrin didukung oleh pulau-pulau Langerhans. Pulau-
pulau Langerhans terdiri tiga jenis sel yaitu sel alpha yang menghasilkan yang menghasilkan
glukoagon, sel beta yang menghasilkan insulin, dan sel deltha yang menghasilkan somatostatin
namun fungsinya belum jelas diketahui. Organ sasaran kedua hormon ini adalah hepar, otot dan
jaringan lemak. Glukagon dan insulin memegang peranan penting dalam metabolisme
karbohidrat, protein dan lemak. Struktur dan Fungsi Kelenjar Adrenal
Terletak di kutub atas kedua ginjal. Disebut juga sebagai kelenjar suprarenaliskarena
letaknya di atas ginjal. Dan kadang juga disebut sebagai kelenjar anak ginjalkarena menempel
pada ginjal.
Patofisiologi Umum Gangguan Sistem Endokrin
patofisiologi pada berbagai kelainan kelenjar endokrin, berikut akan dihantarkan gambaran
sepintas tentang patofisiologi umum gangguan endokrin, mengingat fungsi sistem endokrin yang
kompleks dan rumit mencakup mekanisme kerja hormonal dan adanya mekanisme umpan balik
yang negatif yang sudah barang tentu akan mempengaruhi perjalanan penyakit Adanya hubungan
timbal balik antara kelenjar hipofise sebagai master of gland dengan kelenjar targetnya, hipofise
terhadap hipotalamus serta jaringan atau organ sasaran dengan kelenjar target,memungkinkan
penyebab dari suatu kasus dapat lebih dari satu artinya mungkin saja penyebabada pada
jaringan/organ sasaran, atau pada kelenjar target, atau pada kelenjar hipofise atau hipotalamus.
Seperti bila terjadi peningkatan ACTH (hormon hipofise) pada serum yang akan menyebabkan
hiperfungsi kelenjar adrenal sehingga terjadi hipersekresi hormon-hormon adrenal maka
penyebabnya disebut sekunder. Disebut penyebab primer bila penyebabnya ada pada kelenjar
adrenal sendiri.
Anatomi Sistem Endokrin

Hormon
Hormon adalah zat yang dilepaskan ke dalam aliran darah dari suatu kelenjar atau organ,
yang mempengaruhi kegiatan di dalam sel-sel. sebagian besar hormon merupakan protein yang
terdiri dari rantai asam amino dengan panjang yang berbeda-beda. Sisanya merupakan steroid,
yaitu zat lemak yang merupakan derivat dari kolesterol. Hormon dalam jumlah yang sangat kecil
bisa memicu respon tubuh yang sangat luas.
Beberapa hormon hanya mempengaruhi 1 atau 2 organ, sedangkan hormon yang lainnya
mempengaruhi seluruh tubuh. Misalnya,T SH dihasilkan oleh kelenjar hipofisa dan hanya
mempengaruhi kelenjar tiroid. Sedangkan hormon tiroid dihasilkan oleh kelenjar tiroid, tetapi
hormon ini mempengaruhi sel-sel di seluruh tubuh. Insulin dihasilkan oleh sel-sel pulau pankreas
dan mempengaruhi metabolisme gula, protein serta lemak di seluruh tubuh.
Pengendalian Endokrin
jika kelenjar endokrin mengalami kelainan fungsi, maka kadar hormone didalam darah bisa
menjadi tinggi atau rendah, sehingga mengganggu fungsi tubuh. Tubuh perlu merasakan dari
waktu ke waktu apakah diperlukan lebih banyak atau lebih sedikit hormon. Hipotalamus dan
kelenjar hipofisa melepaskan hormonnya jika mereka merasakan bahwa kadar hormon lainnya
yang mereka kontrol terlalu tinggi atau terlalu rendah. Hormon hipofisa lalu masuk ke dalam aliran
darah untuk merangsang aktivitas di kelenjar target. Jika kadar hormon kelenjar target dalam darah
mencukupi, maka hipotalamus dan kelenjar mengetahui bahwa tidak diperlukan perangsangan lagi
dan mereka berhenti melepaskan hormon.dari pengendalian oleh hipotalamus dan hipofisa
terhadap bioritmik ini masih belum dapat dimengerti. Tetapi jelas terlihat bahwa organ
memberikan respon terhadap semacam jam biologis.
Anatomi dan Fisiologi Sistem Imunologi
1. Pengertian sistem imun
Sistem Imun (bahasa Inggris: immune system) adalah sistem pertahanan manusia sebagai
perlindungan terhadap infeksi dari makromolekul asing atau serangan organisme, termasuk
virus, bakteri, protozoa dan parasit. Sistem kekebalan juga berperan dalam perlawanan
terhadap protein tubuh dan molekul lain seperti yang terjadi pada autoimunitas, dan melawan
sel yang teraberasi menjadi tumor. (Wikipedia.com).
Sistem kekebalan atau sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang
dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja
dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta
menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan melemah,
kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk
virus yang menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem kekebalan
juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor, dan terhambatnya sistem ini juga telah
dilaporkan meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker.
2. Fungsi dari Sistem Imun
a. Sumsum
Semua sel sistem kekebalan tubuh berasal dari sel-sel induk dalam sumsum tulang.
Sumsum tulang adalah tempat asal sel darah merah, sel darah putih (termasuk limfosit dan
makrofag) dan platelet. Sel-sel dari sistem kekebalan tubuh juga terdapat di tempat lain.
b. Timus
Dalam kelenjar timus sel-sel limfoid mengalami proses pematangan sebelum lepas ke
dalam sirkulasi. Proses ini memungkinkan sel T untuk mengembangkan atribut penting
yang dikenal sebagai toleransi diri.

c. Getah bening
Kelenjar getah bening berbentuk kacang kecil terbaring di sepanjang perjalanan
limfatik. Terkumpul dalam situs tertentu seperti leher, axillae, selangkangan dan para-
aorta daerah. Pengetahuan tentang situs kelenjar getah bening yang penting dalam
pemeriksaan fisik pasien.
d. Mukosa jaringan limfoid terkait (MALT)
Di samping jaringan limfoid berkonsentrasi dalam kelenjar getah bening dan limpa,
jaringan limfoid juga ditemukan di tempat lain, terutama saluran pencernaan, saluran
pernafasan dan saluran urogenital.
3. Mekanisme Pertahanan non Spesifik
Dilihat dari caranya diperoleh, mekanisme pertahanan non spesifik disebut juga respons
imun ilmiah.Yang merupakan mekanisme pertahanan non spesifik tubuh kita adalah kulit
dengan kelenjarnya, lapisan mukosa dengan enzimnya, serta kelenjar lain dengan enzimnya
seperti kelenjar air mata.
Demikian pula sel fagosit (sel makrofag, monosit, polimorfonuklear) dan komplemen
merupakan komponen mekanisme pertahanan non spesifik
4. Mekanisme Pertahanan Spesifik
a. Bila pertahanan non spesifik belum dapat mengatasi invasi mikroorganisme maka
imunitas spesifik akan terangsang. Mekanisme pertahanan spesifik adalah mekanisme
pertahanan yang diperankan oleh sel limfosit, dengan atau tanpa bantuan komponen sistem
imun lainnya seperti sel makrofag dan komplemen.
b. Dilihat dari caranya diperoleh maka mekanisme pertahanan spesifik disebut juga respons
imun didapat. Mekanisme Pertahanan Spesifik (Imunitas Humoral dan Selular).
c. Imunitas humoral adalah imunitas yang diperankan oleh sel limfosit B dengan atau tanpa
bantuan sel imunokompeten lainnya. Tugas sel B akan dilaksanakan oleh imunoglobulin
yang disekresi oleh sel plasma. Terdapat lima kelas imunoglobulin yang kita kenal, yaitu
IgM, IgG, IgA, IgD, dan IgE.
d. Imunitas selular didefinisikan sebagai suatu respons imun terhadap antigen yang
diperankan oleh limfosit T dengan atau tanpa bantuan komponen sistem imun lainnya.
5. Antibodi (Immunoglobulin)
Antibodi (bahasa Inggris antibody, gamma globulin) adalah glikoprotein dengan
struktur tertentu yang disekresi dari pencerap limfosit-B yang telah teraktivasi menjadi sel
plasma, sebagai respon dari antigen tertentu dan reaktif terhadap antigen tersebut.
Pembagian Immunglobulin.
Antibodi A (bahasa Inggris Immunoglobulin A, IgA) adalah antibodi yang
memainkan peran penting dalam imunitas mukosis (mucosal immune). IgA banyak
ditemukan pada bagian sekresi tubuh (liur, mukus, air mata, kolostrum dan susu) sebagai
sIgA (secretoryIgA) dalam perlindungan permukaan organ tubuh yang terpapar dengan
mencegah penempelan bakteri dan virus ke membran mukosa.
Antibodi D (bahasa Inggris Immunoglobulin D, IgD) adalah sebuah monomer
dengan fragmen yang dapat mengikat 2 epitop. IgD ditemukan pada permukaan pencerap
sel B bersama dengan IgM atau sIga, tempat IgD dapat mengendalikan aktivasi dan supresi
sel B. IgD berperan dalam mengendalikan produksi autoantibodi sel B. Rasio serum IgD
hanya sekitar 0,2%.
Antibodi E (bahasa Inggris antibody E, immunoglobulin E, IgE) adalah jenis
antibodi yang hanya dapat ditemukan pada mamalia. IgE memiliki peran yang besar pada
alergi terutama pada hipersensitivitas tipe 1. IgE juga tersirat dalam sistem kekebalan yang
merespon cacing parasit (helminth) seperti Schistosoma mansoni, Trichinella spiralis, dan
Fasciola hepatica, serta terhadap parasit protozoa tertentu seperti Plasmodium falciparum,
dan artropoda.
Antibodi G (bahasa Inggris: Immunoglobulin G, IgG) adalah antibodi monomeris
yang terbentuk dari dua rantai berat dan rantai ringan, yang saling mengikat dengan ikatan
disulfida, dan mempunyai dua fragmen antigen-binding. Populasi IgG paling tinggi dalam
tubuh dan terdistribusi cukup merata di dalam darah dan cairan tubuh dengan rasio serum
sekitar 75% pada manusia dan waktu paruh 7 hingga 23 hari bergantung pada sub-tipe.
Antibodi M (bahasa Inggris Immunoglobulin M, IgM, macroglobulin) adalah
antibodi dasar yang berada pada plasma B. Dengan rasio serum 13%, IgM merupakan
antibodi dengan ukuran paling besar, berbentuk pentameris 10 area epitop pengikat, dan
teredar segera setelah tubuh terpapar antigen sebagai respon imunitas awal (primary
immune response) pada rentang waktu paruh sekitar 5 hari. IgM adalah antibodi pertama
yang tercetus pada 20 minggu pertama masa janin kehidupan seorang manusia dan
berkembang secara fitogenetik (phylogenetic). Fragmen konstan IgM adalah bagian yang
menggerakkan lintasan komplemen klasik.
Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan
A. Pengertian
Sistem pencernaan adalah proses menerima makanan, merubahnya menjadi energi dan
menegeluarkan sisa proses tersebut. Pada dasarnya sistem pencernaan makanan dalam
tubuh manusia terjadi di sepanjang saluran pencernaan dan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu
proses penghancuran makanan yang terjadi dalam mulut hingga lambung. Selanjutnya
adalah proses penyerapan sari – sari makanan yang terjadi di dalam usus. Kemudian proses
pengeluaran sisa – sisa makanan melalui anus. Dalam pelaksanaan proses pencernaan
makanan organ pencernaan dibantu oleh enzim dan hormon yang prosesnya berbeda tiap
organ dan mempunyai fungsi masing-masing.
Berdasarkan prosesnya pencernaan makanan pada manusia terdiri dari proses
pencernaaan mekanis yaitu pengunyahan oleh gigi dengan dibantu lidah serta peremasan
yang terjadi di lambung dan proses pencernaan kimiawi yaitu pelarutan dan pemecahan
makanan oleh enzim-enzim pencernaan dengan mengubah makanan yang bermolekul
besar menjadi molekul yang berukuran kecil. Setiap organ dalam sistem pencernaan
manusia memiliki peranan penting dengan fungsi yang berbeda-beda, misalnya mulut
sebagai pintu masuk makanan dimana makanan akan dikunyah secara mekanik oleh gigi
dengan unsur kimiawi yang dimiliki oleh lidah yang mengandung enzim amylase ( Ptyalin)
akan mempermudah proses sistem pencernaan manusia dengan menghancurkan makanan
menjadi serpihan yang lebih kecil, pada tahap berikutnya menuju lambung disini makanan
akan dipecah kembali dan diproses menjadi zat-zat gizi yang selanjutnya diserap oleh
tubuh melalui usus dan sirkulasi darah.
B. Organ Sistem Pencernaan pada Manusia
1. Mulut ( Oris )
Mulut merupakan organ yang pertama dari saluran pencernaan yang terdiri atas 2
bagian yaitu bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu ruang di antara gusi, gigi,
bibir dan pipi, dan bagian rongga mulut atau bagian dalam, yaitu rongga mulut yang
dibatasi sisinya oleh tulang maksilaris, palatum dan mandibularis di sebelah belakang
bersambung dengan faring. Selaput lendir mulut ditutupi epitelium yang berlapis-lapis,
di bawahnya terletak kelenjar-kelenjar halus yang mengeluarkan lendir, selaput ini
kaya akan pembuluh darah dan juga memuat banyak ujung akhir saraf sensoris. Di
dalam mulut terdapat alat-alat yang membantu dalam proses pencernaan, yaitu: bibir,
gigi, lidah, dan kelenjar ludah (air liur). Dan di dalam ronggga mulut, makanan
menggalami pencernaan secara mekanik dan kimiawi.
Dimana gigi berfungsi untuk mengunyah makanan, pemecahan partikel besar
menjadi partikel kecil yang dapat ditelan tanpa menimbulkan terdesak. Proses ini
merupakan proses mekanik pertama yang dialami makanan pada waktu melalui saluran
pencernaan sehingga makanan menjadi halus. Dan lidah berfungsi untuk mengaduk
makanan di dalam rongga mulut dan membantu mendorong makanan (proses
penelanan). Selain itu lidah juga berfungsi sebagai alat pengecap yang dapat merasakan
manis, asin, pahit dan asam.
Sedangkan kelenjar ludah berfungsi untuk memudahkan penelanan makanan.
Selain itu, lidah juga melindungi selaput mulut terhadap panas, dingin, asam, dan
basa. Didalam ludah terdapat enzim ptialin (amilase). Enzim ptialin berfungsi
mengubah makanan dalam mulut yang mengandung zat karbohidrat (amilum) menjadi
gula sederhana (maltosa).

2. Faring
Merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan
(osofagus) di dalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kumpulan kelenjar
limfe yang banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi.
Disini terletak persimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya di
belakang rongga mulut dan rongga hidung, di depan ruas tulang belakang. Ke atas
bagian depan berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang
bernama koana.
Tekak terdiri dari atas tiga bagian:
1. Bagian superior: bagian yang sama tinggi dengan hidung, bagian superior
disebut nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan tekak
dengan ruang gendang telinga.
2. Bagian media: bagian yang sama tinggi dengan mulut, bagian media
disebut orofaring, bagian ini berbatas ke depan sampai di akar lidah
3. bagian inferior: bagian yang sama tinggi dengan faring, bagian inferior
disebut laringofaring yaitu pangkal lidah yang menghubungkan tekak dengan
tenggorokkan (trakea).
3. Esofagus (Kerongkongan)
Merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung, panjangnya
sekitar 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak di bawah lambung.
Lapisan dinding dari dalam ke luar; Lapisan selaput lender (mukosa), lapisan sub
mukosa, lapisan otot melingkar sirkuler dan lapisan otot memanjang longitudinal.
Osofagus terletak di belakang trakea dan di depan tulang punggung setelah melalui
toraks menembus diafragma masuk ke dalam abdomen menyambung dengan
lambung. Otot kerongkongan dapat berkontraksi secara bergelombang sehingga dapat
mendorong makanan masuk ke dalam lambung, gerak kerongkongan ini di sebut gerak
peristalis. Gerak peristalis merupakan gerak kembang kempis kerongkongan untuk
mendorong makanan ke dalam lambung. Makanan di dalam kerongkongan hanya
sekitar enam detik. Bagian pangkal kerongkongan (paring) berotot lurik, artinya kita
menelan makanan jika telah di kunyah sesuai dengan kehendak kita. Akan tetapi,
sesudah proses penelanan sehingga mengeluarkan proses. Kerja otot-otot organ
pencernaan selanjutnya tidak menurut kehendak kita (tidak di sadari).

4. Lambung
Lambung (ventrikulus) merupakan kantung besar yang terletak disebelah kiri
rongga perut. Lambung sering pula disebut perut besar atau kantung nasi. Lambung
terdiri dari 3 bagian yaitu bagian atas (kardiak), bagian tengah yang membulat (fundus),
dan bagian bawah (pilorus). Kardiak berdekatan dengan hati dan berhubungan dengan
kerongkongan. Pilorus berhubungan langsung dengan usus dua belas jari.
Dinding lambung terdiri dari otot yang tersusun melingkar, memanjang, dan
menyerong. Otot-otot tersebut menyebabkan lambung berkontraksi. Akibatnya
kontraksi otot lambung, makanan teraduk dengan baik sehingga akan bercampur
merata dengan getah lambung. Hal ini menyebabkan makanan didalam lambung
berbentuk seperti bubur. Dinding lambung mengandung sel-sel kelenjar yang berfungsi
sebagai kelenjar pencernaan yang menghasilkan getah lambung. Getah lambung
mengandung air lender (musin), asam lambung, enzim renin, dan enzim pepsinogen.
Getah lambung bersifat asam karena banyak mengandung asam lambung.
Asam lambung berfungsi membunuh kuman penyakit atau bakteri yang masuk bersama
makanan dan juga berfungsi untuk mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin-pepsin
yang berfungsi memecah protein menjadi pepton dan proteosa enzim renin berfungsi
menggumpalkan protein susu (kasein) yang terdapat dalam susu. Adanya enzim renin
dan enzim pepsin menunjukkan bahwa didalam lambung terjadi proses pencernaan
kimiawi-selain menghasilkan enzim pencernaaan, dinding lambung juga menghasilkan
hormon gastrin. Hormon gastrin berfungsi untuk mengeluarkan (sekresi) getah
lambung. Lambung dapat meregang sampai dapat menyimpan 2 liter cairan, makanan
umumnya dapat bertahan 3-4 jam didalam lambung. Dari lambung , makanan sedikit
demi sedikit keluar menuju usus 12 jari melalui sfingter pilorus.

5. Usus Halus
Usus halus (Intestinum minor) adalah bagian dari sistem pencernaan makanan
yang berpangkal pada pilorus dan berakhir pada seikum panjangnya sekitar 6 m,
merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan absorpsi hasil
pencernaan.

Bagian –bagian usus halus yaitu :


Disebut juga usus 12 jari, panjangnya sekitar 25cm berbentuk sepatu kuda
melengkung kekiri, pada lengkungan ini terdapat pankreas. Dan bagian kanan
duodenum ini terdapat selaput lendir yang membukit disebut Papila vateri. Pada papila
vateri ini bermuara saluran empedu (duktus koledokus) dan saluran pankreas (duktus
wirsungi / duktus pankreatikus). Empedu dibuat di hati, untuk dikeluarkan ke
duodenum melalui duktus koledokus yang fungsinya mengemulsikan lemak dengan
bantuan lipase. Empedu dihasilkan oleh hati dan ditampung oleh empedu dan di alirkan
ke usus dua belas jari. Empedu mengandung garam- garam empedu dan zat pewarna
empedu (bilirubin). Garam empedu berfungsi mengemulsikan lemak, zat warna
empedu berwarna kecoklatan, dan dihasilkan dengan cara perombakansel darah merah
yang sudah tua di hati.
1. Jejunum
Panjangnya 2-3 meter berkelok-kelok terdapat sebelah kiri atas dari intestinum
minor dengan perantaraan lipatan peritoneum, berbentuk kipas (mesenterium).
Akar mesenterium memungkinkan keluar masuk arteri dan vena mesenterika
superior. Pembuluh limfe dan saraf ke ruang antara lapisan peritoneum yang
membentuk mesenterium penampung jejunum lebih lebar, dindingnya lebih tebal
dan banyak mengandung pembuluh darah.
2. Ileum
Ujung batas antara jejunum dan ileum tidak jelas, panjangnya kira-kira 4-5
meter. ujung bawah ileum berhubungan dengan seikum dengan perantaraan lubang
yang bernama orifisium ileoselkalis. Orifisium ini diperkuat oleh spinter
ileoselkalis dan pada bagian ini terdapat katup valvula seikalis atau valvula
baukini, berfungsi untuk mencegah cairan dalam kolom assendens tidak masuk
kembali kedalam ileum.
Di dalam usus halus terjadi proses pencernaan kimiawi dengan melibatkan
berbagai enzim pencernaan. Karbohidrat di cerna menjadi glukosa, lemak di cerna
menjadi asam lemak dan gliserol dan protein di cerna menjadi asam amino. Jadi,
pada usus dua belas jari, seluruh proses pencernaan karbohidrat, lemak, dan protein
di selesaikan. Selanjutnya, proses penyerapan (absorpsi) akan berlangsung di usus
kosong dan sebagian di usus penyerap karbohidrat setiap dalam bentuk glukosa.
Lemak diserap dalam bentuk asam lemak dan gliserol. Vitamin dan mineral
tidak mengalami pencernaan dan dapat di tarima langsung oleh usus halus. Pada
dinding usus penyerap terdapat jonjot-jonjot usus yang disebut vili. Vili berfungsi
untuk memperluas daerah penyerapan usus halus sehingga sari-sari makanan dapat
terserap lebih banyak dan cepat, dinding vili banyak mengandung kapiler darah
atau pembuluh limfe. (pembuluh getah bening usus). Agar dapat mencapai darah.
Sari-sai makanan harus menembus sel dinding usus halus yang selanjutnya masuk
pembuluh darah atau pembuluh limfe, Glukosa, Asam amino, Vitamin, dan Mineral
setalah diserap oleh usus halus melalui kapiler darah akan dibawah oleh darah
melalui pembuluh vena porta hepar ke hati. Selanjutnya, dari hati ke jantung
kemudian di edarkan ke seluruh tubuh. Umumnya makanan diserap saat mencapai
akhir usus halus. Sisa makanan yang tidak diserap, secara perlahan-lahan bergerak
menuju usus besar. Absorpsi makanan yang sudah dicernakan seluruhnya
berlangsung di dalam usus halus melalui 2 (dua) saluran yaitu pembuluh kapiler
dalam darah dan saluran limfe di sebelah dalam permukaan vili usus.
Fungsi usus halus terdiri dari :
a. Menerima zat-zat rnakanan yang sudab dicerna untuk diserap melalu i kapiler-
kapiler darah dan saluran-saluran limfe.
b. Menyerap protein dalam bentuk asam amino.
c. Karbohidrat diserap dalam bentuk emulsi, lemak.
6. Usus Besar
Usus besar (intestinum mayor) merupakan saluran pencernaan berupa usus
berpenampang luas atau berdiameter besar dengan panjang kira-kira 1,5-1,7 meter, dan
lebarnya 5 – 6 cm. Lapisan-lapisan usus besar dari dalam ke luar, lapisan selaput lendir,
lapisan otot melingkar, lapisan otot memanjang, lapisan Jaringan ikat.

Fungsi usus besar, terdiri dari:


1. Menyerap air dan makanan.
2. Tempat tinggal baktert koli.
3. Tempat feses.
Bagian dari usus besar yaitu kolon asenden, kolon tranversum, kolon descenden,
rectum dan sigmoid.
Makanan yang tidak dicerna diusus halus, misalnya selulosa bersama dengan lendir
akan menuju ke usus besar menjadi fases. Dalam usus besar juga terdapat bakteri
escherichia coli. Bakteri ini membantu dalam proses pembusukan sisa makanan. Bakteri
e.coli juga menghasilkan vitamin K. Vitamin K berperan penting dalam proses
pembekuan darah.
Usus besar terdiri dari bagian yang naik, yaitu mulai dari usus buntu (apendiks),
bagian mendatar, bagian menurun, dan berakhir pada anus. Didalam usus besar fases di
dorong secara teratur dan lambat oleh gerakan pristalsis menuju ke rektum (poros usus).
Gerakan pristalsis dikendalikan oleh otot polos (otot tak sadar). Pada saat buang air
besar otot sfingeres dianus di pengaruhi oleh otot lurik (otot sadar). Jadi, proses defekasi
(buang air besar) dilakukan dengan adanya konstrasi otot dinding perut yang di ikuti
dengan mengendurnya otot sfingeter anus dan konstraksi kolon serta rektum, akibatnya
feses dapat terdorong keluar anus.
7. Rektum dan Anus
Rectum merupakan lanjutan dari kolon sigmoit yang menghubungkan intestinum
mayor dengan anus sepanjang 12 cm, dimulai dari pertengahan sacrum dan berakhir
pada kanalis anus. Rectum terletak dalam rongga pelvis di depan os sacrum dan os
koksigis.
Rectum terdiri dari dua bagian:
1. Rectum propia bagian yang melebar disebut ampula rekti. Jika ampula rekti terisi
makanan akan timbul hasrat defekasi.
2. Pars analis rekti: sebelah bawah ditutupi oleh serat-serat otot polos (M. sfingter
ani internus) dan serabut otot lurik (M sfingter ani eksterna). Kedua otot ini
berperan pada waktu defekasi. Tunika mukosa rectum banyak mengandung
pembuluh darah. Jaringan mukosa dan jaringan otot membentuk lipatan disebut
kolomna rektalis. Bagian bawah kolomna rektalis terdapat pembuluh darah V.
rektalis. Sering terjadi pelebaran atau varises yang disebut hemorid (wasir).
Defekasi adalah hasil repleks apabila bahan feses masuk kedalam rectum.
Dinding rectum akan meregang dan menyalurkan impuls aferens melalui pleksus
mesentrikus dan menimbulkan gerakan peristaltic pada kolon desendens. Kolon
sigmoid mendorong feses ke arah anus. Apabila gelombang peristaltic sampai di anus,
sfingter ani internus di hambat, sfingter ani eksternus melemas sehingga terjadi
defekasi.
Anatomi dan Fisiologi Sistem Perkemihan
A. Anatomi Sistem Perkemihan
Anatomi sistem perkemihan terdiri dari organ makroskopik dan organ mikroskopik
dibawah ini adalah organ makroskopik:
a. Bagian pembentuk urin, yaitu kedua ginjal.
b. Bagian penyalur saluran ginjal, kandung kemih dan saluran kandung kemih.
c. Anak ginjal tidak tergolong alat ekskresi.

1. Ginjal
Terdiri dari dua buah, berbentuk sperti kacang yang terletak diretroperitoneal intra
abdomen, terletak pada dinding belakang rongga perut setinggi ruas-ruas tulang pinggang
sebelah atas. Ginjal kiri lebih tinggi dari ginjal kanan. Urin yang terbentuk pada penyaringan
terkumpul dalam pelvis renalis, yaitu sebuah rongga yang terletak ditengah ginjal.
2. Ureter
Ureter menyilang pintu atas panggul (pelvic inlet) didepan bifucartio iliaca communis,
kemudian menuju ke kaudal dan dorsal di ventral a. iliaca interna, sampai daerah spina
ischiadika, ureter membelok ke ventral dan medial untuk bermuara ke vesika urinaria pada
sudut lateralnya.
3. Kandung Kemih (vesikula Urinaria)
Teletak dibelakang os pubis. VU yang kosong berbentuk limas yang mempuunyai puncak
(apex), permukaan dorsal (sebagai dasar), dinding superior dan dua dinding lateroinferior.
Jika VU terisi penuh, permukaan atasnya akan menonjol ke rongga perut, dan berbentuk
ovoid (seperti telur), membran mukosa tidak lagi berbentuk lipatan-lipatan. Pada sudut
superior terdapat ureter, pada sudut inferior terdapat orificium urethra internum.
4. Urethra
Pria panjangnya 20cm terbentang dari collum vesical urinaria sampai orificium urethra
externum pada glans penis sedangkan wanita panjangnya +3,8cm terbentang dari collum
vesical urinaria sampai vestribulum, +2,5cm dibawah clitoris.
Struktur Makroskopik Sistem Perkemihan
a. Pyelum adalah bagian atas dari ureter
b. Hilus adalah cekungan dibagian tengah ginjal
c. Calyces mayor/minor adalah cabang-cabang pyelum yang masuk kedalam ginjal
d. Pyramis renalis adalah kumpulan-kumpulan tubulus rectus yang bermuara dicalyces
e. Tunika Fibrosa adalah selaput pembungkus ginjal
Organ dan Struktur Mikroskopik Sistem Perkemihan:
A. Nefron adalah unit structural dan fungsional ginjal terdiri dari
a. Glumelurus adalah gelungan kapiler tempat filtrasi darah. Filtratnya disebut urine
primer
b. Capsula bowman adalah kantong yang menerima filtrate dari glomelurus
c. Tubulus contortus proximal adalah saluran mikroskopik yang menghisap sebagian
filtrate
d. Anse henle adalah saluran yang sempit dan melengkung terletak diantara tubulus
kortus proximal distal
e. Tubulus contortus distal adalah saluran mikroskopik yang menghisap hasil filtrasi
lanjutan, filtratnya disebut urine sekunder
f. Tubulus rektus/ductus coligentes adalah saluran penampung yang mengalirkan hasil
filtrasi kedalam pyelum
B. Fisiologi Sistem Perkemihan
1. Ginjal
Fungsi utama ginjal adalah
a. Fungsi ekresi yaitu mempertahankan osmolalitas PH, dan kadar elektrolit plasma selain
itu ginjal juga mengekresi produk akhir metabolisme protein (urea, kreatinin, asam
urat).
b. Fungsi non sekresi yaitu menghasilkan enzim renin, erirtoprotein dan prostaglandin,
memetabolisme vitamin D menjadi bentuk aktif, dan degradasi insulin.
Proses Pembentukan Urine
Pembentukan urine dilaksanakan oleh nefron.
a. Ultrafiltrasi (penyaring)
Proses ini terjadi diglomelurus, dimana semua zat yang dapat menembus dinding semi
permeable glomelurus (air, garam, glukosa, urea, asam urat, dan creatini) untuk memasuki
capsula bowman. Sedangkan sel darah dan protein tidak dapat masuk. Ultrafiltrasi
dipengaruhi oleh volume, tekanan hidrostatis dan osmotis darah dan tekanan di capsula
bowman.
b. Reabsorbsi (penyerapan kembali)
Proses ini terjadi dilakukan oleh tubulus contortus proximal, ansa henle, dan tubulus
contortus distal, yang terdiri dari:
1. Reabsorsbi air: diatur oleh hormone vasopressin dari kelenjar hipopise posterior dan
hipotalamus. 90% terjadi di tubulus contortus proximal dan 15% di tubulus contortus
distal, dan 5% dikeluarkan sebagai urine.
2. Reabsorbsi zat terlarut terjadi ditubulus contortus proximal secara efektif terdiri dari:
a) Non elektrolit (glukosa, asam amino dihisap seluruhnya, metabolit protein: urea,
asam urat, cretinin dihisap sedikit).
b) Elektrolit ion-ion nartium (Na+), Kalium (K+), Calcium (Ca+), Magnesium (Mg+),
Chlorida (Cl-), Carbonat (HCO3-), Phospat (HPO4-) dihisap sebagai tergantung
jumlahnya dalam plasma.
c) Sekresi
Ada beberapa zat yang disekresi dari kapiler peritubular kedalam tubulus yaitu
PAH (Para Amino Hipurat), Creatinin, Ion Hidrogen (H+), Penisilin, Amoniak
(NH3), Kalium (K+).
2. Ureter
Dengan gerak peristaltik ureter mendorong urine menuju vesika urinaria, banyaknya
urine yang masuk kedalam vesika urinaria adalah 1-5 tetes/menit. Dalam ureter biasanya
terjadi penyumbatan bila tertekuk, tertekan dari luar, dan adanya batu. Penyumbatan
tersebut menimbulkan akumulasi urine dalam pyelum sehingga menimbulkan infeksi.
3. Vesika Urinaria
Rangsangan berkemih muncul bila volume urine telah mencapai 300cc. pada saat itu
muskulus detrusor contraksi akan menciut dan muskulus spincter relaksasi atau
mengendor, rangsangan ini dikontrol oleh pusat refleks dari syaraf autonomy sacralis.
Pikiran mendapat stress. Stress pikiran musculus detrusor relaksasi dan musculus sphincter
kontraksi, rangsangan ini dikontrol oleh corteks motoric cerebri.
Proses Berkemih
Suatu proses reflex yang diatur oleh pusat-pusat reflex diotak. Rangsangan (impuls) yang
terjadi akibat teregangnya dinding VU dihantarkan oleh neuron-neuron sensoris viseral aferen
melalui n. splanchnicus memasuki medulla spinalis segmen sacral 2,3, dan 4. Rangsang saraf
menyebabkan otot-otot polos VU berkontraksi, m. sphincter vesicae melemas. Neuron-neuron
eferen para simpatis mengambil jalan melalui pudendus menuju ke sphincter urethra.
Pengontrolan berkemih anak-anak mulai umur 3-4 tahun.