You are on page 1of 4

PESAN HAJI RAHBAR

(8 Februari 2003 M – 5 Zulhijjah 1423 H)

Bismillahirrahmanirrahim

Pertemuan jutaan umat Islam di musim haji adalah peristiwa besar dan memukau perhatian.
Dalam beberapa hari ini, segenap bangsa Muslim dari berbagai pelosok dunia dan dari
berbagai elemen masyarakat tumpah ruah di sekitar Baitullah dan di tanah tempat lahirnya
Islam dan Nabi Besar Muhammad SAWW untuk menunaikan ritus-ritus ibadah haji yang
sarat dengan rahasia itu. Dalam syiar-syiar akbar dan penuh makna ini, segenap umat Islam
ditempa dengan pelajaran tentang keterikatan hati manusia dengan Allah Yang Maha Besar,
keterikatan hati manusia satu dengan yang lain, gerakan yang berorientasikan Tauhid,
perjuangan yang universal, pelemparan terhadap syaitan, pembebasan diri dari thaghut,
pembekalan diri dengan zikir, ratapan, dan kekhusyuan di depan Allah, serta kesadaran akan
kehormatan dan keagungan di bawah panji Islam. Dalam manasik haji tergambar secara utuh
semangat kasih sayang dan keharmonisan hidup bersaudara, ketangguhan di depan musuh,
pembebasan diri dari praktik pemberhalaan diri, dan semangat untuk mengarungi samudera
keagungan Ilahi.

Haji adalah simbol umat Islam dan merupakan sebuah pendidikan tentang bentuk perilaku
yang harus dipraktikkan oleh umat ini demi tercapainya kesejahteraan. Ibadah haji bisa
disimpulkan sebagai gerakan yang bervariasi namun terarah dan penuh kesadaran kepada satu
tujuan. Inti gerakan ini ialah zikrullah dan kesehatian antar sesama hamba Allah, sedangkan
tujuannya ialah terbangunnya basis spiritual yang kokoh bagi kesejahteraan hidup umat
manusia. Allah SWT berfirman:

“Ja’alallaahul Ka’batal Baital Harooma qiyaamal linnaasi wasy syahrol harooma wal hadya
wal qolaaida.........”

Yang artinya : “Allah telah menjadikan Ka’bah (yaitu) Rumah Allah yang suci, sebagai pusat
kebangkitan bagi manusia, dan (demikian pula) bulan suci, pemberian korban…..”

Umat Islam sekarang sedang memerlukan gerakan yang masif dan terarah dalam realitas
kehidupan mereka. Segenap umat Islam, baik pemerintah maupun rakyatnya, sama-sama
bertanggungjawab melakukan gerakan ini.

Dalam satu abad terakhir, negara-negara Islam banyak menanggung beban keburukan yang
amat fatal. Yang paling tertimpa badai imperialisme dan kolonialisasi orang-orang Barat
adalah bangsa-bangsa Muslim. Bangsa-bangsa ini beserta harta benda dan sumber-sumber
kekayaan mereka telah menjadi sesaran serangan multidimensional negara-negara imperialis.
Akibatnya untuk umat Islam ialah ketertawanan politik dan ekonomi serta keterbelakangan
ilmu pengetahuan dan materi, sedangkan untuk kaum imperialis ialah eksploitasi mereka
terhadap sumber-sumber daya alam dan manusia umat Islam serta melimpahnya harta
kekayaan dan kekuasaan mereka melalui perampasan, kezaliman, dan peperangan.

Setelah masa berjalan sekian lama, bangsa-bangsa Muslim mulai menyadari dirinya sehingga
muncullah kebangkitan umat Islam dan berkibar pula bendera-bendera perjuangan menuntut
kebenaran dan keadilan di seantero Dunia Islam, dan dengan demikian terbukalah cakrawala
cerah di depan mereka. Pada puncaknya, Islam di Iran meraih kemenangan yang
menghasilkan tegaknya pemerintahan Republik Islam serta bermulanya era baru bagi Dunia
Islam.
Sudah barang tentu, sentra-sentra kekuasaan dunia tidak mungkin akan menyerah dengan
mudah kepada kebenaran. Bangsa-bangsa Muslim masih harus menempuh perjalanan yang
panjang dan terjal namun penuh berkah dan sangat menjanjikan kebahagiaan. Jika mereka
yang menempuh perjalanan ini terus bergerak dengan istiqamah, maka baik mereka sendiri
maupun para generasi mereka di masa yang akan datang pasti akan bebas dari keterhinaan,
keterbelakangan, dan keterpasungan politik, ekonomi, kebudayaan, dan akan menikmati
kesejahteraan hidup di bawah naungan Islam.

Perjalanan tersebut ialah perjuangan di bidang keilmuan, politik, dan pertahanan teguh atas
kebenaran. Di gelanggang perjuangan ini, umat Islam harus mempertahankan kehormatan,
martabat, dan hak-haknya yang telah dinistakan. Keinsafan jiwa dan hati nurani manusia
adalah juri cerdas dan jujur yang pasti mendukung perjuangan ini, sedangkan sunnatullah juga
memastikan kemenangan untuk mereka.

“Udzina lilladziina yuqootaluuna biannahum dhulimuu wa innallaaha ‘alaa nashrihim


laqodiir.”

Yang artinya : “Telah diizinkan (berperang) bagi orang yang diperangi karena dizalimi dan
sesungguhnya Allah Maha Berkuasa untuk menolong mereka.”

Para kekuatan besar dunia, yaitu jaringan rumit kartel-kartel minyak dan senjata serta
zionisme internasional dan negara-negara bonekanya pasti mengendus bahaya kebangkitan
umat Islam untuk mereka, dan karena itu mereka gigih melancarkan serangan masif. Serangan
yang berdimensi politik, propaganda, militer, dan teror ini sekarang tercermin jelas dalam
perilaku dan kata-kata berbau kekerasan yang ditunjukkan oleh kaum militer yang berkuasa di
AS dan rezim Zionis.

Adalah Palestina yang selalu teraniaya, mandi darah, dan setiap hari menjadi korban aksi
kekerasan rezim penjajah Zionis. Bangsa Palestina harus menerima segala bentuk bencana
pembunuhan, perampasan, perusakan, penyiksaan, dan penghinaan hanya karena dosa
keberanian mereka menuntut hak yang sudah dinistakan sejak setengah abad silam.

Di saat yang sama, bangsa Irak sedang menerima ancaman perang hanya karena penguasa AS
merasa perlu bercokol di Irak untuk mendominasi aliran minyak dan menjarah sumber-
sumber minyak yang tersisa di kawasan ini sekaligus bercokol di tempat yang berbatasan
dengan Palestina, Iran, Suriah, dan Arab Saudi. Rezim AS ingin mencengkram nasib Irak
sebelum kemudian nasib negara-negara Timteng lainnya. Dengan alasan serupa, bangsa
Afganistan sejak setahun beberapa bulan silam harus mengenyam bencana bom dan senjata-
senjata perusak massal AS dan Inggris serta intervensi mereka yang sangat menghina dan
berbau kolonialisme.

Keserakahan jaringan arogan dan tak berperikemanusiaan ini sama sekali tidak mengenal
batas. Kalau pada setengah abad silam AS menginginkan dirinya sebagai pemegang
kekuasaan di negara-negara Amerika Latin, maka pada setengah abad belakangan ini AS
merasa dirinya sebagai penguasa dan diktator mutlak atas semua negara Islam. Berbagai
target dan proyek destruktif yang dijalankan AS dalam skala internasional adalah bukti klaim-
klaim arogan sekaligus bodoh tersebut.

Tidak bisa tidak, AS dan para sekutunya pasti akan gagal dan dunia akan menyaksikan lagi
ambruknya sebuah imperium yang kuat tapi mabuk, sebagaimana mereka mabuk lantas keliru
dalam membuat pertimbangan di Afganistan dan Palestina. Namun, jika umat Islam, baik
pemerintah maupun rakyatnya, tidak mengambil keputusan secara cerdas, berani, dan tepat
pada waktunya, maka mereka akan kembali menanggung kerugian yang besar dan lama
proses penyembuhannya.

Dalam babak baru gerakannya yang kalap pasca tragedi 11 September yang sangat misterius
itu, AS melancarkan serangan propaganda yang mengacungkan bendera demokrasi dan
semangat anti teror di ujung tombak, dan untuk merongrong bangsa-bangsa Muslim, AS
memekikkan kutukan terhadap senjata destruksi massal dan kimia. Apakah penguasa AS tidak
memikirkan kemungkinan umat Islam akan bertanya-tanya:
“Negara-negara dan perusahaan-perusahaan manakah yang mereka serahkan ke tangan rezim
Ba’ats Irak? Sembilanbelas ribu (19.000) bom kimia yang kalian katakan bahwa rezim Ba’ats
Irak menyimpannya di gudang-gudang; dan tigabelas ribu (13.000) darinya telah dijatuhkan
di atas kepala rakyat Iran, berarti masih ada sisa sebanyak enam ribu (6000) buah bom. Dan
dengan alasan inilah kalian menjustifikasi serangan kalian terhadap Irak. Darimanakah
sejumlah besar senjata dan bahan-bahan kimia tersebut sampai ke tangan rezim Irak? Adakah
selain kalian dan sekutu kalian, turut serta dalam kejahatan tragis ini?

Apakah mereka tidak berpikir bahwa klaim pemberantasan terorisme dan tuduhan terhadap
sejumlah kelompok tak dikenal, tidak akan dapat menipu bangsa-bangsa muslim, karena
justru pemerintahan dukungan AS, yaitu rezim Israel, termasuk sebagai teroris dunia yang
paling kejam?! Dengan gerakan propaganda berbiaya besar dan gila-gilaan, kini AS tampil di
mata bangsa-bangsa muslim sebagai tukang dusta dan penipu besar.

Sang arogan AS tidak berhasil mencapai tujuan-tujuannya di Palestina dan Afganistan, dan
biaya besar materi dan maknawi itu, tidak mendatangkan apa pun selain kerugian. Untuk
seterusnya pun, AS akan mengalami yang seperti itu, insya Allah.

Di Irak pun AS mengklaim bahwa tujuannya ialah menyingkirkan Saddam dan rezim Ba’ats.
Tentu saja, kali ini pun ia berbohong. Karena tujuan AS yang sebenarnya ialah mencengkeram
OPEC dan menelan minyak kawasan ini serta mendukung secara lebih besar rezim zionis,
juga untuk merancang berbagai konspirasi terhadap Republik Islam Iran, Suriah dan Arab
Saudi. Diyakini bahwa jika AS berhasil menguasai Irak, baik dengan perang maupun tanpa
perang, maka korban pertama dari penjajahan angkara murka ini ialah bangsa Irak, kemuliaan,
harga diri, kehormatan dan kekayaan bangsa bersejarah ini. Jika bangsa dan negara-negara
tetangga Irak sadar akan hal ini, maka insya Allah, AS pun tidak akan mencapai tujuan-
tujuannya ini.

Kekuatan arogan menyadari bahwa sumber perlawanan bangsa-bangsa dan pemerintahan-


pemerintahan muslimin ialah Islam dan ajaran-ajarannya yang menyerukan kemerdekaan.
Oleh karena itu, AS memulai perang mental besar-besaran terhadap Islam dan muslimin.
Setelah peristiwa teror 11 September, dimana berbagai gelagat yang tak terhitung jumlahnya
mengindikasikan campurtangan lembaga-lembaga bawah tanah dan jaringan-jaringan zionis,
AS dengan segera memasukkan nama sejumlah muslimin dan Islam ke dalam daftar para
tertuduh.

Mereka menawan, memenjarakan, dan menyiksa dengan sadis sebagian orang Islam dari AS,
Afganistan, dan negara-negara lainnya. Padahal, tuduhan atas mereka tidak terbukti dan tidak
ada para tersangka beridentitas jelas yang jatuh ke tangan orang-orang Amerika. Namun,
perang urat saraf terhadap umat dan agama Islam tetap tidak berhenti dan nampaknya tidak
secepat itu terhenti.
Islam adalah agama kebebasan, keadilan, dan kebenaran. Kerakyatan yang sejati adalah
kerakyatan religius yang dikemukakan dengan dukungan iman dan tanggungjawab
keagamaan. Dan sebagaimana yang terlihat di Republik Islam Iran, kerakyatan tersebut jauh
lebih meyakinkan, lebih tulus, dan lebih merakyat ketimbang demokrasi seperti yang ada di
AS. Demokrasi yang dikatakan AS dan akan disodorkan kepada negara-negara Islam dan
Arab itu sama bahayanya dengan peluru, bom, dan rudal AS. Pihak musuh, seandainya pun
memberi kita sebuah kurma, kita tetap tidak akan bisa yakin apakah kurma itu tidak dibubuhi
dengan racun. Hal ini sudah berulangkali dialami oleh umat Islam di Afrika, Timteng, dan
Asia Barat, termasuk selama beberapa tahun terakhir ini.

Dalam situasi sedemikian krusial dan berbahaya ini, dibanding masa-masa sebelumnya, umat
Islam sekarang jauh lebih dituntut bisa mengambil pelajaran dari ibadah haji, yaitu tentang
gerakan dan kebangkitan yang cerdas, bervariasi, komprehensif, dan terarah kepada tujuan-
tujuan Qurani dan berjalan di atas jalan Islam yang lurus. Allah SWT berfirman:
“Alladziina aamanuu yuqootiluuna fii sabiilillaahi, walladziina kafaruu yuqootiluuna fii
sabiilit thaghuut; faqootiluu auliyaa-asy syaithoon. Inna kaidasy syaithooni kaana dlo’iifaa.”

Yang artinya : ”Orang-orang yang beriman berperang di atas jalan Allah, sedangkan orang-
orang kafir berperang di atas jalan taghut, maka perangilah para pengikut syaitan,
sesungguhnya tipu daya syaitan itu amat lemah.”

“Wa qoola Muusaa liqoumihista’iinuu billaahi washbiruu innal ardlo lillaahi yuuritsuhaa
mayyasyaa-u min ibaadihii wal ‘aaqibatu lil muttaqiin. Shodaqollaahul ‘aliyyul ‘adhiim.”

Yang artinya : ”Dan Musa berkata kepada kaumnya : ‘Mintalah pertolongan kepada Allah
dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi ini milik Allah. Dia akan mewariskannya kepada
hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki, dan kemenangan adalah untuk orang-orang yang
bertakwa.”

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya

Wassalamualaikum
Sayid Ali AlHusaini AlKhamenei
5 Zulhijjah 1423

Penerjemah : Musa Muzawir