You are on page 1of 9

ILMU DASAR KEPERAWATAN 2B

Insiden Atrial Fibrillation dan Risiko Kematian pada Orang


Dewasa dengan Penyakit Ginjal Kronis

oleh

Niken Oktaviani

NIM 142310101059

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2015
Latar belakang

Fibrilasi Atrium sering terjadi pada pasien dengan penyakit ginjal kronik atau
chronic kidney disease (CKD), Namun pengembangan atrium fibrasi (AF)
berdampak panjang pada risiko kematian yang tidak diketahui pasien dengan
CKD . atrium Fibrasi (AF) adalah aritmia atau denyut jantung yang paling umum
berkelanjutan di populasi dunia. Penjelasan sedikit mengenai AF yang dapat
menyababkan kematian adalah Ketidakteraturan denyut jantung (aritmia) yang
berbahaya ini menyebabkan ruang atas jantung (atrium), bergetar dan tidak
berdenyut sebagaimana mestinya, sehingga darah tidak terpompa sepenuhnya,
yang pada gilirannya dapat menyebabkan pengumpulan dan penggumpalan darah.
Gumpalan ini dapat terbawa sampai ke otak, menyumbat pembuluh arteri, dan
mengganggu pasokan darah ke otak. Situasi ini seringkali menjadi awal dari
serangan stroke yang gawat dan mematikan. FA meningkatkan kemungkinan
terjadinya serangan stroke iskemik (stroke akibat penyumbatan pembuluh darah)
sampai dengan 500% yang berpotensi melumpuhkan bahkan mematikan.
Prevalensi AF umumnnya lebih tinggi di antara pasien penyakit ginjal. Data
sistem US Renal melaporkan bahwa prevalensi AF terus meningkat diantara
pasien dengan ESRD (End Stage Renal Disease). Beberapa penelitian menemukan
insiden tinggi dan prevalensi AF antara populasi yang besar dari pasien dengan
penyakit ginjal kronik belum memerlukan dialisis. Dalam jurnal akan diuji
asosiasi kejadian AF pada risiko kematian yang berbasis komunitas orang dewasa
yang sudah mengenal CKD.

Metode

Sumber populasi

Sumber populasi termasuk anggota Kaiser Permanente Northern California,


sebuah kesehatan besar yang bersistem integrasi, pengiriman menyediakan
perawatan yang komprehensif untuk < 3,4 juta pasien di wilayah San Francisco
dan Area Bay yang besar.

Populasi Penelitian

Sampel penelitian termasuk semua anggota dewasa berusia > 21 tahun yang
memiliki laju filtrasi glomerulus yang diperkirakan <60 mL / menit per 1,73 m2.
Berdasarkan pedoman dari penyakit ginjal, dalam jurnal mengkategorikan filtrasi
ginjal sebagai berikut 45-59, 30-44, 15-29 dan <15 mL / menit per 1,73 m2.
Sebelumnya AF didefinisikan memiliki >1 rumah sakit primer atau sekunder,
kunjungan rawat jalan dan keadaan darurat . penelitian ini disetujui oleh dewan
peninjau kelembagaan dari Kaiser Yayasan Research Institute.
Variable predictor

Insiden AF didefinisikan menggunakan diskripsi sebelumnya, memvalidasi 13-15


berdasarkan kejadian pertama rawat inap dengan debit utama diagnosis AF atau
>2 kunjungan rawat jalan untuk AF berdasarkan International Classification of
Diseases.

Hasil

Tindak lanjut terjadi sampai semua hasil penyebab kematian tercapai. Kematian
diidentifikasi dari database administrasi rencana kesehatan, administrasi sosial
keamanan file statusnya penting, dan registrasi sertifikat kematian negara
California selama periode 16. Tindak lanjut pasien disensor pada ESRD yang
mana didefinisikan sebagai tanda terima dialisis kronis atau transplantasi ginjal
dan diidentifikasi dari rencana pengobatan kesehatan ESRD yang komprehensif.

Kovariat

Data dikumpulkan pada karakteristik demografis ( usia, jenis kelamin dan


dilaporkan ras atau etnis sendiri) dari administrasi kesehatan dan seleksi sosial
ekonomi yang dipilih ( tingkat pendidikan, pendapatan rumah tangga tahunan)
dari 2010 AS pada data 16,18 kondisi penyerta (diabetes militus, hipertensi,
penyakit jantung koroner, stroke, gagal jantung, penyekit arteri perifer,
disiplidemia, penyakit paru-paru, penyakit hati, dan hipertiroidisme) ditentukan
menggunakan algoritma divalidasi berdasarkan diagnosis prosedur yang relevan,
obat resep ditiadakan, hasil laboratorium. Algoritma adalah metode efektif
yang diekspresikan sebagai rangkaian terbatas dari instruksi-instruksi yang telah
didefinisikan dengan baik untuk menghitung sebuah fungsi.

Metode statistik

Semua analisa dilakukan menggunakan perangkat lunak statistik SAS versi 9.1.
uji student T menggunakan variable kontinyu dan uji-square untuk kategori
variabel. Dan juga melakukan multi variabel Cox proportional hazards regresi
untuk menguji hubungan antara pembangunan kejadian AF selama masa tindak
lanjut dan risiko kematian. Berdasarkan sebuah hipotesa, di jurnal dijelaskan telah
melakukan multivariabel analisis bertingakat untuk usia (<60, 60 sampai 70, dan
≥70 tahun), sex (laki-laki versus perempuan), ras (putih, hitam, dan Asia /
Kepulauan Pasifik), dan entry level eGFR (45 sampai 59, 30 sampai <45, dan <30
mL / menit per 1,73 m2). Dalam analisis sensitivitas, disesuaikan untuk stroke
sementara dan transient ischemic attack untuk menguji apakah peristiwa interim
dimediasi antara hubungan kejadian AF dan risiko kematian. Dalam jurnal juga
melakukan analisis sensitivitas kedua yaitu menentukan apakah pengembangan
AF adalah proxy untuk perkembangan penyakit ginjal dengan melakukan paralel
Analisis kohort cocok menggunakan Model regresi Cox.

Karakteristik dasar

Total populasi penelitian 81.088 orang dewasa dengan CKD. Pada awal kohort,
usia rata-rata adalah 72.911.3 tahun, 51,1% adalah perempuan, dan 67,1% berkulit
putih. Secara keseluruhan, 27,9% dari subyek memiliki diabetes mellitus, 80,5%
memiliki hipertensi, 6,4% memiliki penyakit jantung koroner, 8,5% mengalami
gagal jantung, dan 4,2% memiliki hipertiroidisme. Dalam analisis insiden AF
dikaitkan dengan peningkatan 2 kali lipat tingkat kematian terbesar. Dalam
tingkat kematian setelah penyesuaian usia, kemudian penyesuaian untuk
demografis, komorbiditas, dan obat-obatan yang digunakan, insiden AF dikaitkan
dengan relatif 66% lebih tinggi tingkat kematian pasien dengan CKD . Dalam
model dikelompokkan berdasarkan usia, jenis kelamin, ras, dan tingkat eGFR
awal, dalam jurnal dijelaskan telah menemukan insiden AF secara konsisten
dikaitkan dengan tingkat kematian yang lebih tinggi disesuaikan dalam semua
subkelompok pasien ditargetkan kecuali pasien berusia <60 tahun.

Dalam analisis sensitivitas, penyesuaian untuk stroke sementara dan peristiwa


serangan iskemik transien. Dengan penyesuaian akhir ini, hubungan antara
kejadian AF dan risiko kematian hanya sedikit dilemahkan. Dalam analisis
sensitivitas Pasien CKD dalam kelompok jurnal ini, setiap insiden AF pasien
cocok dengan pasien yang tidak mengembangkan AF, berdasarkan usia, sex,
kategori eGFR, dan status penting pada saat kejadian. eGFR (estimated
Glomerulus Filtration Rate) digunakan untuk mendeteksi layar dan kerusakan
ginjal dini dan untuk memonitori status ginjal. Hal ini dilakukan dengan memesan
dan menghitung laju filtrasi glomerulus. Tes kreatinin sering dipesan sebagai
bagian rutin yang Comprehensive Metabolic Panel (CMP) Basic Metabolic Panel
(BMP), atau bersama dengan tes Blood Urea Nitrogen (BUN) setiap kali seorang
praktisi kesehatan ingin mengevaluasi status ginjal pasien. Hal ini diperintahkan
untuk memantau orang dengan diketahui Chronic Kidney Disease (CKD) dan
orang-orang dengan kondisi seperti diabetes dan hipertensi yang dapat
menyebabkan kerusakan ginjal.

Diskusi

Beragam kelompok orang dewasa dengan CKD, peneliti menemukan insiden AF


secara independen terkait dengan 66% (95% CI 57% sampai 77%) tingkat yang
relatif lebih tinggi dari kematian. Journal of American Heart Association
konsisten di antara semua usia, jenis kelamin, ras, dan subkelompok dasar eGFR
(kecuali orang dewasa berusia <60 tahun). Sebuah studi tentang Medicare
Populasi CKD 5% menemukan bahwa kejadian 2 tahun AF adalah 14,4% pasien
dengan CKD stadium 3 sampai 5. Penelitian menegaskan tingginya insiden AF
pasien dengan CKD serupa dengan penelitian lain, penelitian pada pasien dalam
jurnal yang dikembangkan AF usia lebih tua, lebih cenderung menjadi putih, dan
memiliki beban yang lebih tinggi dari penyakit penyerta. peneliti tidak dapat
menentukan penyebab spesifik dari kematian. Peneliti juga tidak dapat
menentukan mekanisme yang tepat untuk menjelaskan hubungan antara AF dan
kematian.

AF dikaitkan dengan hasil seperti gagal jantung dan stroke yang mungkin juga
meningkatkan risiko kematian. Bahkan, satu studi mencatat bahwa pasien dengan
CKD dan AF memiliki dua kali lipat tingkat stroke dibandingkan dengan pasien
AF tanpa CKD. Selain itu, AF mungkin mencerminkan peningkatan umum dalam
beban kardiovaskular yang ditempatkan pasien dengan CKD pada risiko tinggi
untuk kematian. Penelitian dalam jurnal ini memiliki beberapa kekuatan.
Pemeriksaan yang besar dan beragam, berbasis masyarakat pada orang dewasa di
seluruh spektrum CKD, Kriteria untuk mengkonfirmasi keberadaan dan tingkat
keparahan CKD. Peneliti memiliki data rinci tentang penyakit penyerta, nilai-nilai
laboratorium, dan penggunaan obat yang bersangkutan, yang telah menjadi
pembatasan penelitian sebelumnya.

Titik akhir utama peneliti adalah kematian yang komprehensif dari kombinasi
rencana kesehatan seluruh negara bagian, dan sumber data nasional. Dalam
penelitian ini juga memiliki beberapa keterbatasan. Peneliti tidak dapat mengukur
tingkat keparahan proteinuria karena hasil dipstick urine yang tersedia. Peneliti
tidak dapat menentukan penyebab spesifik dari kematian. Peneliti juga tidak dapat
menentukan mekanisme yang tepat menjelaskan hubungan antara AF dan
kematian. Penelitian ini dipilih berdasarkan populasi klinis pasien rawat jalan
eGFR. Akibatnya, mereka yang termasuk dalam studi mungkin lebih mewakili
pasien berisiko lebih besar untuk CKD dan penyakit kardiovaskular, yang
mungkin diperkirakan dari asosiasi kejadian AF dengan risiko kematian.

Kesimpulan
Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami mekanisme dimana CKD
dikaitkan dengan AF dan untuk mengidentifikasi berpotensi faktor resiko
kematian selanjutnya. Diambil dari metode-metode sumber populasi, populasi
penelitian dan Variable predictor.

Penerapan di Indonesia

Dalam jurnal ini telah banyak digunakan berbagai metode yang canggih seperti
perangkat lunak statistik SAS versi 9.1. uji student T untuk variable kontinyu dan
uji-square untuk kategori variabel. Multi variabel Cox proportional hazards
regresi untuk menguji hubungan antara pembangunan kejadian AF. Jadi di luar
negeri dapat menggunakan alat-alat tersebut untuk menunjang perawatan sehingga
akan bekerja lebih cepat dan sangat teliti. Di indonesia masih banyak yang belum
menerapkan alat sperti yang disebut diatas. Apabila diterapkan di indonesia
mungkin masih butuh waktu untuk memahami cara kerja alat tersebut.

Daftar Pustaka
file:///C:/Users/dell/Downloads/J%20Am%20Heart%20Assoc-2014-Bansal-.pdf

https://www.signagainststroke.com/ms-id/atrial-fibrillation-and-stroke/

http://labtestsonline.org/understanding/analytes/gfr/tab/test/

Latihan kasus
1. Ketidakteraturan denyut jantung yang menyebabkan ruang atas jantung
(atrium) bergetar dan tidak berdenyut sebagaimana mestinya, sehingga
darah tidak terpompa sepenuhnya, yang pada gilirannya dapat
menyebabkan pengumpulan dan penggumpalan darah. Gumpalan ini dapat
terbawa sampai ke otak, menyumbat pembuluh arteri, dan mengganggu
pasokan darah ke otak. Situasi tersebut merupakan gejala penyakit?
a. Jantung koroner
b. Miningitis
c. Gagal jantung
d. Stroke
e. Hemofilia
2. Banyak metode-metode yang digunakan saat melakukan penelitian
penyakit ginjal kronik hingga menyebabkan kematian. Metode yang
apabila di Rumah sakit mengirimkan sejumlah >20.000 orang dan akan
ditangani menggunakan perawatan yang komprehensif oleh tenaga
kesehatan setempat. Termasuk dalam metode apakah hal tersebut....
a. Sumber populasi
b. Populasi penelitian
c. Variable prediktor
d. Metode statistik
e. Kovariat
3. Di rumah sakit citra Indah ada pasien dengan penyakit komplikasi yaitu
strock, jantung koroner dan juga hipertensi. Metode yang efektif
diekspresikan sebagai rangkaian terbatas dari instruksi-instruksi yang telah
didefinisikan dengan baik untuk menghitung sebuah fungsi. Metode
apakah yang digunakan?
a. Uji square
b. Algoritma
c. Prediktor
d. Kovariat
e. Logika
4. keadaan dimana fungsi ginjal mengalami penurunan yang progresif secara
perlahan tapi pasti, yang dapat mencapai 60% dari kondisi normal menuju
ketidakmampuan ginjal ditandai tubuh gagal untuk mempertahankan
metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan
uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). Namun masih
dapat melakukan aktifitas hidup jika memperhatikan kualitas hidup yang
cukup baik. Penyakit dengan gejala seperti tersebut dinamakan......

a. batu ginjal
b. glomerulonephiritis
c. ginjal kronik
d. ginjal akut
e. pyelonephritis
5. AF (Atrial Fibrillation) adalah proxy untuk perkembangan penyakit ginjal
dengan melakukan paralel Analisis kohort. Analisis kohort ini dimana
populasinya adalah anggota yang mengalami semua kejadian yang sama
pada periode waktu yang sama sampel biasanya diambil pada interval
waktu yang teratur misalnya kelahiran, Dengan menggunakan model
apakah yang cocok untuk analisis ini?
a. Model regresi Cox.
b. Model variable cox
c. Model multivariable cox
d. Model multiregrasi cox
e. Model idem