You are on page 1of 17

AGENT

MAKALAH

oleh
1. Miftahuddin (142310101035)
2. Nita Ratna Dewi (142310101099)
3. Zahra Marseliya Khusnah (142310101143)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2015
AGENT

MAKALAH

Diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Dasar Keperawatan IIB dengan dosen
pengampu Ns. Latifa Aini,S.Kep., M.Kep.,Sp.Kom

oleh
1. Miftahuddin (142310101035)
2. Nita Ratna Dewi (142310101099)
3. Zahra Marseliya Khusnah (142310101143)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2015
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia tidak pernah terlepas dari adanya penyakit, dari penyakit yang
tidak menular hingga menular. Penyakit-penyakit tersebut pastinya datang
dengan suatu sebab, pada negara-negara berkembang seperti halnya indonesia,
infeksi penyakit menular tetap menjadi penyebab utama tingginya angka
kesakitan (mordibity) dan angka kematian (mortality). Hal ini dapat dilihat
dari kasus-kasus yang terjadi di indonesia seperti kasus demam berdarah,
diare, tuberkulosis, dan masih banyak lagi yang saat ini bahkan merebak di
beberapa daerah indonesia, misalnya di daerah DKI jakarta, yang notabene
berada/tidak jauh dengan pusat pemerintahan. Kasus-kasus tersebut banyak
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti manusia, faktor lingkungan serta
faktor penyebab penyakit itu sendiri yang sering disebut dengan agen (agent).
Agen merupakan faktor penyebab penyakit infeksi yang sangat
berperan besar dalam terjadinya penyakit atau infeksi, misalnya virus, riketsia,
bakteri, helminthes, arthropoda dan masih banyak lagi. Sebagai contoh kasus
Trypanosomiasis atau Surra merupakan penyakit yang disebabkan oleh agen
Trypanosoma evansi dan agen tersebut telah tersebar luar di kawasan Asia
Tenggara, Afrika dan Amerika Selatan (Jones TW et al.,1996 ; Powar RM et
al.,2006). Dilihat dari kasus tersebut, agen penyakit menjadi sebuah hal yang
harus diperhatikan, oleh karena itu penulis mengulas bagaimana transmisi
penyakit menular atau menginfeksi manusia, konsep agen mulai dari agen
hidup, agen tak hidup dan apa saja yang menjadi klasifikasi dari agen, dan
juga karakteristik dari agen, yaitu reservoir, spesifitas, selektivitas,
patogenesis, infektivitas dan virulensi sehingga dapat meningkatkan
pemahaman tentang agen, cara agen mentransmisikan penyakit, dan
sebagainya, sehingga diharapkan dapat mengantisipasi atau mencegah agen
menginfeksi tubuh kita.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana konsep dasar tentang transmisi penyakit?
1.2.2 Bagaimana konsep agen?
1.2.3 Apa yang merupakan agen hidup dan agen tak hidup?
1.2.4 Apa saja yang menjadi karakteristik agen penyakit?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk dapat mengetahui konsep dasar tentang transmisi penyakit;
1.3.2 Untuk dapat mengetahui konsep agen;
1.3.3 Untuk dapat mengetahui apa saja yang termasuk agen hidup dan
agen tak hidup;
1.3.4 Untuk dapat mengatahui karakteristik dari agen penyakit.
1.4 Manfaat
1.2.5 Dapat mengetahui memahami konsep transmisi penyakit;
1.2.6 Dapat mengetahui konsep agen;
1.2.7 Dapat mengetahui apa saja yang termasuk ke dalam klasifikasi
agen hidup atau agen tak hidup;
1.2.8 Dapat mengetahui karakteristik dari agen penyakit.
BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Transmisi Penyakit


Dalam pandangan Epidemiologi Klasik dikenal “segitiga epidemiologi”
(epidemiologic triangle) yang digunakan untuk menganalisis terjadinya penyakit
disebabkan adanya interaksi antara “agen” atau faktor penyebab penyakit,
manusia sebagai “pejamu” atau host, dan faktor lingkungan yang mendukung.
Interaksi tersebut meliputi enam komponen, yaitu adanya penyebab penyakit
(agen), reservoir penyebab penyakit, tempat keluarnya bibit penyakit (portal of
exit), transmisi, tempat masuknya bibit penyakit (portal of entry), dan dipengaruhi
adanya perentanan penjamu (imunity). Proses interaksi ini disebabkan adanya
“agen” penyebab penyakit kontak dengan manusia sebagai pejamu yang rentan
dan didukung oleh keadaan lingkungan. Proses interaksi ini dapat digambarkan
sebagai berikut.

Konsep ini bermula dari upaya untuk menjelaskan proses timbulnya


penyakit menular dengan unsur-unsur mikrobiologi yang infeksius sebagai agen,
namun selanjutnya dapat pula digunakan untuk menjelaskan proses timbulnya
penyakit tidak menular dengan memperluas pengertian agen. Ruang tengah pada
gambar tersebut menunjukkan akibat dari terjadinya interaksi antara ketiga faktor
tersebut. Proses interaksi ini dapat terjadi secara individu atau kelompok,
misalnya proses terjadinya penyakit TBC karena adanya mikrobakterium
tuberkulosa yang kontak dengan manusia sebagai pejamu yang rentan, daya tahan
tubuh yang rendah dan perumahan yang tidak sehat sebagai faktor lingkungan
yang menunjang. Proses terjadinya penyakit di atas sebenarnya telah dikenal sejak
zaman Romawi yaitu pada masa Galenus (205-130 SM) yang mengungkapkan
bahwa penyakit dapat terjadi karena adanya faktor predisposisi, faktor penyebab,
dan faktor lingkungan.
Mekanisme Transmisi
Telah diuraikan bahwa terjadinya suatu penyakit karena adanya agen
penyebab penyakit yang masuk ke dalam tubuh manusia sebagai pejamu.
Bagaimana mikroorganisme patogen dapat masuk ke dalam tubuh manusia dan
mengadakan interaksi serta berkembang biak memiliki suatu mekanisme yang
dikenal dengan mekanisme transmisi. Mekanisme transmisi terdiri dari keluarnya
mikroorganisme dari reservoir dan mencapai serta mikroorganisme ke dalam
tubuh manusia sebagai pejamu yang rentan.
Setelah mikroorganisme masuk kedalam tubuh manusia, terjadi berbagai
rangkaian interaksi sampai menimbulkan gejala klinis. Rangkaian interaksi
tersebut adalah :
2.1.1 Kolonisasi, tempat mikroorganisme berkembang biak tanpa
menimbulkan reaksi pada pejamu. Misalnya, staphylococcus aureus
yang terdapat di mukosa hidung;
2.1.2 Infeksi subklinis, tempat mikroorganisme selain berkembang biak
juga menimbulkan reaksi, tetapi belum menimbulkan gejala hingga
secara klinis belum tampak;
2.1.3 Infeksi klinis, hal ini terjadi bila mikroorganisme berkembang biak,
menimbulkan reaksi, dan menimbulkan gejala.
Dalam garis besarnya mekanisme transmisi mikroba patogen ke pejamu yang
rentan melalui dua cara :
1. Transmisi Langsung
Penularan langsung oleh mikroba patogen ke pintu masuk yang sesuai dari
pejamu. Sebagai contoh adalah adanya sentuhan, gigitan, ciuman, atau
adanya droplet nuclei saat bersin, batuk, berbicara atau saat transfusi darah
dengan darah yang terkontaminasi mikroba patogen.
2. Transmisi Tidak Langsung
Penularan mikroba patogen yang memerlukan media perantara baik berupa
barang/bahan, air, udara, makanan/minuman, maupun vektor.

2.2 Agen
Agen merupakan faktor penyebab penyakit. Agen penyakit dapat berupa
benda hidup atau mati, agen bisa disebabkan oleh bakteri, virus, parasit, jamur,
atau kapang yang merupakan agen yang ditemukan sebagai penyebab penyakit
infeksius. Pada penyakit, kondisi, ketidakmampuan, cedera, atau situasi kematian
lain, agen dapat berupa zat kimia, faktor fisik seperti radiasi atau panas, defisiensi
gizi, atau beberapa substansi lain seperti racun ular berbisa. Satu atau beberapa
agen dapat berkontribusi pada satu penyakit. Faktor agen juga dapat digantikan
dengan faktor penyebab, yang menyiratkan perlunya dilakukan identifikasi
terhadap faktor penyebab atau faktor etiologi penyakit, ketidakmampuan, cedera,
dan kematian. Pada kejadian kecelakaan faktor agen dapat berupa mekanisme
kecelakaan, kendaraan yang dipakai. Agen penyakit dapat diklasifikasikan
menjadi lima kelompok yaitu:
2.2.1 Agen Biologis
Agen biologis bersifat menular (infeksius). Agen biologis
antaranya Virus, Bakteri, Fungi, Riketsia, Protozoa, Metazoa
2.2.2 Agen nutrisi
Protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral dan lainnya.
2.2.3 Agen fisik
Panas, radiasi, dingin, kelembapan, tekanan, cahaya dan
kebisingan.
2.2.4 Agen kimiawi
Dapat bersifat endogen seperti asidosis, diabetes (hiperglikemia),
uremia dan bersifat eksogen seperti zat kimia, alergen, gas, debu
dan lainnya.
2.2.5 Agen mekanis
Gesekan, benturan, pukulan yang dapat menimbulkan kerusakan
jaringan pada tubuh host (pejamu).

2.3 Agen Hidup dan Agen Tidak Hidup


“Agen” sebagai faktor penyebab penyakit dapat berupa unsur hidup atau
mati yang terdapat dalam jumlah yang berlebih atau kekurangan.
Agen berupa unsur hidup terdiri dari :
2.3.1 Virus
Virus adalah penyebab penyakit yang berukuran sangat kecil.
Penyakit yang disebabkan oleh virus umumnya ditularkan secara
langsung.
2.3.2 Bakteri
Bakteria adalah tumbuhan bersel satu yang dapat menyababkan
berbagai penyakit. Bakteri berkembang biak di lingkungan sekitar
manusia, dapat ditularkan dari orang ke orang atau mendapatkanya
dari lingkungan tersebut.
2.3.3 Jamur
Fungi/jamur adalah tumbuhan yang bersifat uniselular maupun
multiselular yang dapat menimbulkan penyakit.
2.3.4 Riketsia
Riketsia adalah parasit yang sifatnya intraselular dengan ukuran
sebesar antara ukuran bakteri dan virus, sifatnya sama dengan
virus, yakni membutuhkan sel hidup untuk pertumbuhan dan
perkembanganya.
2.3.5 Protozoa
Protozoa adalah hewan bersel satu yang memerlukan
perkembangan diluar tubuh manusia.
2.3.6 Metazoa
Metazoa adalah parasit multiselular yang memerlukan
perkembangan di luar tubuh manusia, sehingga penularanya terjadi
secara tidak langsung.
Agen berupa unsur mati:
2.4.1 Fisika: sinar radioaktif;
2.4.2 Kimia : karbon monoksida, obat-obatan, pestisida, Hg, Cadmium,
arsen;
2.4.3 Fisik : benturan atau tekanan.
Tabel 4.1 Jenis agen dan penyakit spesifiknya
Jenis Agen Spesies Ages Nama penyakit
Protozoa Entamoeba histolytica Amebiasis
Plasmodium falsiparum Malaria Tropikana
Plasmodium vivax Malaria Kuartana
Metazoa Ascaris lumbricoides Askariasis
Necator americanus Ancylostamiasis
Schistosoma japonicum Skistosomiasis
Bakteri Mycobacterium Tuberkulosis
tuberculosis Kolera
Vibrio cholera Tifus abdominalis
Salmonella typhi
Virus Human HIV –AIDS
Immunodeficiency
Virus (HIV) Influenza
Virus Influenza Hepatitis A
Virus morbili Poliomielitis
Virus Hepatitis A Morbili
Virus poliomielitis
Fungi/jamur H.capsulatum Histoplamosis
P.Orbiculare Tinea vesicolor
Candida Albicans Kandidiasis
Riketsia R.tsutsugamushi scrubtyphus

2.5 Karakteristik Agen Penyakit


Reservoir
Reservoir merupakan habitat normal tempat suatu agen infeksi hidup,
berkembang biak, dan tumbuh didalamnya. Reservoir untuk agen infeksius
banyak terdapat pada manusia, binatang, dan lingkungan. Beberapa reservoir
dapat bertindak sebagai sumber infeksi terhadap pejamu yang rentan. Virus
membutuhkan suatu teservoir hidup (manusia, tanaman, dan hewan) untuk
tumbuh dan berkembang biak. Bakteri gram-positif seperti Staphylococcus dan
Streptococcus akan berkembang dengan baik dalam reservoir manusia, tetapi
bakteri tersebut berkembang dengan baik jika berada dalam lingkungan. Bakteri
gram-negatif dapat mempunyai reservoir manusia, binatang, atau lingkungan.
Istilah “reservoir” dan “sumber (source)” sering disalahartikan. Suatu
reservoir adalah tempat suatu organisme hidup dan bereproduksi secara normal,
sedangkan sumber adalah tempat datangnya suatu organisme yang ditransmisikan
pada pejamu melalui beberapa jalan transmisi. Kadangkala reservoir dan sumber
merupakan suatu objek yang sama (contoh : reservoir dan sumber wabah pada
suatu wabah cacar air mungkin adalah orang yang sama) dan kadang-kadang
reservoir dan sumber adalah objek yang berbeda (contohnya : air adalah reservoir
bagi Pseudomonas aeruginosa yang dapat mengontaminasi pemutar pusaran air
kamar mandi. Alat tersebut yang kemudian menjadi sumber suatu wabah infeksi
luka). Perbedaan ini sangatlah penting dalam mengidentifikasi suatu sumber
wabah sehingga tindakan pengendalian dapat dilakukan. Benda mati, khususnya
zat cair, dapat terkontaminasi oleh suatu reservoir dan dapat bertindak sebagai
suatu sumber wabah dalam tatanan pelayanan kesehatan (contohnya, larutan
intravena dapat terkontaminasi Enterobacter, lotion tangan dapat terkontaminasi
Serratia, pembuatan eggnog (sejenis minuman) dengan telur yang tidak
dipasteurisasi dapat mengandung Salmonella).
Reservoir manusia. Berikut tiga tipe reservoir manusia :
2.5.1 Carrier merupakan seseorang yang telah terkena infeksi, namun belum
memiliki tanda-tanda atau gejala yang jelas dan dapat menularkan
infeksinya kepada orang lain atau menurunkannya kepada keturunannya.
Seseorang carrier adalah sumber infeksi yang potensial bagi orang lain,
terutama karena para carrier tersebut tidak mengetahui jika dirinya
terinfeksi dan tidak melakukan tindakan pencegahan untuk menghindari
penyebaran infeksi tersebut. Mikroorganisme patogen membutuhkan
tempat bersarang dan berkembang biak untuk dapat menularkan penyakit.
Pada pejamu, tempat tersebut dinamakan reservoir. Jadi, reservoir adalah
tempat hidup dan berkembang biaknya agen penyebab penyakit.
2.5.2 Orang yang terkolonisasi adalah orang yang “menyimpan” suatu agens
infeksius namun orang tersebut tidak terinfeksi. Orang yang
terkolonialisasi dengan suatu agens infeksius merupakan reservoir dan
juga bertindak sebagai sumber infeksi bagi organisme tersebut dengan
menularkan infeksinya kepada orang lain, baik dengan kontak langsung
maupun tidak langsung dengan objek atau permukaan benda mati, atau
bisa juga mentransfer organisme tersebut ke bagian tubuh mereka yang
lain. Sebagai contoh, kira-kira 20-30% orang yang sehat membawa
Staphylococcus aureus (staphylokoki positif koagulase) dalam nares
anterior (hidung bagian depan) mereka. Organisme ini dapat disebarkan
kepada orang lain atau dapat masuk dalam kulit orang yang terkolonisasi.
2.5.3 Orang yang sakit maksudnya adalah orang yang terinfeksi dan mempunyai
tanda serta gejala penyakit yang terlihat dan tindakan pencegahan dapat
dilakukan untuk menghindari terjadinya penularan penyakit. Sebagai
contoh jika seorang penghuni fasilitas perawatan jangka panjang terjangkit
penyakit diare yang disebabkan oleh Clostridium difficile, tindakan
pencegahan seperti mencuci tangan dan disinfektan lingkungan dapat
dilakukan untuk menghindari penularan organisme ke penghuni yang lain.
Reservoir binatang. Binatang dapat bertindak sebagai reservoir untuk beberapa
agen yang menginfeksi manusia. Seekor binatang mungkin dapat bertindak
sebagai carrier (seperti seekor ayam yang membawa salmonella) atau bisa juga
terinfeksi secara klinis (seperti seekor kucing yang terinfeksi penyakit kurap).
Beberapa wabah penyakit yang yang ditularkan melalui makanan dalam tatanan
pelayanan kesehatan dihubungkan dengan reservoir binatang terutama, wabah
yang disebabkan oleh spesies salmonella pada telur, unggas, dan daging hewan
lainnya. Agens infeksius dapat ditularkan secara langsung dari seekor hewan ke
manusia (seperti pasteurella multocida yang ditransfer dari mulut seekor kucing
ke manusia melalui gigitan kucing) atau dapat juga dibawa oleh seekor vektor
serangga (seperti Borrelia burgdorferi, agens penyebab penyakit Lyme, yang
ditularkan melalui gigitan kutu).
Reservoir lingkungan. Air dan tanah merupakan reservoir lingkungan utama untuk
beberapa agens yang patogenik bagi manusia. Pseudomonas, Legionellae,
Cryptosporidium, dan beberapa spesies Mycobacterium hidup dan
berkembangbiak di air. Oleh karena itu, sumber atau reservoir berupa cairan
seharusnya juga perlu diperhatikan pada saat menginvestigasi wabah atau kluster
infeksi yang disebabkan oleh salah satu organisme tersebut.

Spesifitas
Spesifitas adalah kemampuan suatu uji untuk memberikan hasil negative
pada mereka yang sehat (tidak sakit). Spesifitas juga ditampilkan sebagai suatu
presentase :

𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑢𝑗𝑖 𝑠𝑘𝑟𝑖𝑛𝑖𝑛𝑔𝑛𝑦𝑎 𝑛𝑒𝑔𝑎𝑡𝑖𝑓


𝑥 100
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑖𝑘𝑢𝑡𝑖 𝑢𝑗𝑖 𝑠𝑘𝑟𝑖𝑛𝑛𝑖𝑛𝑔

Spesifitas uji skrinning dapat lebih mudah dimengerti dengan menggunakan


sebuah contoh, misalnya, dalam pencegahan skunder kebutaan melalui deteksi
dan pengobatan dini penyakit glaucoma, suatu penyakit akibat peningkatan
tekanan intraocular. Spesifitas mengacu pada kenyataan bahwa sistem imun
spesifik tersebut hanya efektif melawan patogen atau bahan-bahan yang pernah
dijumpai sebelumnya. Untuk memperkuat respons agar menjadi efektif
membutuhkan waktu beberapa hari dari awal kontaknya dengan patogen tersebut.
Memori dari pertemuan sebelumnya memungkinkan mekanisme pertahanan
spesifik untuk bekerja jauh lebih cepat pada kesempatan kedua dan berikutnya.
Efisiensi sitem ini, dan daya tahan hospes terhadap infeksi, menurun dengan
bertambahnya usia, serta pada orang-orang dengan gangguan imun atau adanya
infeksi kronis, rumus spesifitas yaitu :

𝑁𝑒𝑔𝑎𝑡𝑖𝑓 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 (𝑁𝐵)


Spesifitas = 𝑥 100%
𝑃𝑜𝑠𝑖𝑡𝑖𝑓 𝑝𝑎𝑙𝑠𝑢(𝑃𝑃)+𝑁𝑒𝑔𝑎𝑡𝑖𝑓 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟(𝑁𝐵)

Contoh soal :
Dilakukan tes Criatinine Kinase untuk membantu diagnosis infark otot jantung
pada Rumah Sakit X, hasil diperoleh sebagai berikut :
Hasil CK Tes Infark Otot Jantung
Ya Tidak Total
Positif (>=80IU) 230 16 246
Negatif (<80IU) 15 116 131
Total 245 122 377
Hitunglah spesifitas dari skrining infark oto jantung ?
𝑁𝑒𝑔𝑎𝑡𝑖𝑓 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 (𝑁𝐵)
Jawab : Spesifitas = 𝑃𝑜𝑠𝑖𝑡𝑖𝑓 𝑝𝑎𝑙𝑠𝑢(𝑃𝑃)+𝑁𝑒𝑔𝑎𝑡𝑖𝑓 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟(𝑁𝐵) 𝑥 100%
116
Spesifitas = 16+116 𝑥 100% = 87, 88%
Kesimpulan, dari hasil tes diatas, diketahui bahwa spesifitas tes kreatinine
Kinase adalah 87,88%.

Selektivitas
Kemampuan agen mempunyai selektivitas atas dasar waktu organ target,
sehingga penyakit timbul pada waktu tertentu lebih banyak daripada biasanya atas
terjadi siklus dan juga menyerang organ tertentu saja.
Patogenesis
Patogenesitas merupakan kapasitas suatu agen untuk dapat menyebabkan
penyakit pada pejamu yang rentan. Patogenesis adalah asal mula dan
perkembangan keadaan patologis atau penyakit. Jadi, patogenesis suatu penyakit
menjelaskan tentang perkembangan atau evolusi penyakit. Sebagai contoh, virus
campak adalah virus yang memiliki derajat patogenesitas tinggi karena hampir
semua orang yang terinfeksi virus ini akan timbul ruam, padahal Enterococcus
faecalis, yang secara umum ditemukan pada sistem intestinal manusia, sangat
jarang menyebabkan penyakit pada pejamu yang normal dan dapat dikatakan
virus ini mempunyai derajat patogenesis yang rendah. Patogenesis ini mencakup
etiologi, proses masuknya penyakit ke dalam tubuh, perkembangan penyakit,
hingga manifestasi klinis yang ditunjukkan. Proses perjalanan penyakit umumnya
dapat dibagi ke dalam lima fase, yaitu prapatogenesis, inkubasi, penyakit dini,
penyakit lanjut, dan akhir penyakit (Azrul Azwar, 1988).
1.8.1 Fase prapatogenesis. Pada fase ini sebenarnya telah terjadi
interaksi antara pejamu (manusia) dengan agens. Seperti kita
ketahui, agens/bibit penyakit berada dekat dengan manusia. Tanpa
disadari, setiap saat manusia berinteraksi dengan agens tersebut.
Akan tetapi, jika daya tahan tubuh manusia pada fase ini masih
kuat, penyakit tidak akan muncul.
1.8.2 Fase inkubasi. Jika agens telah masuk kedalam tubuh manusia,
tetapi belum terlihat adanya gejala, keadaan ini disebut dengan fase
inkubasi. Setiap bibit penyakit memiliki karakteristik, sifat, dan
kemampuan yang berbeda dalam proses patologis. Selain
dipengaruhi oleh bibit penyakit, masa inkubasi juga dipengaruhi
oleh daya tahan tubuh
1.8.3 Fase penyakit dini. Fase ini dimulai sejak munculnya gejala
penyakit. Umumnya, gejala yang muncul pada fase ini masih
relatif ringan sehingga manusia sering kali tidak menghiraukannya.
Pada fase ini, daya tahan tubuh masih ada, namun cenderung
lemah.
1.8.4 Fase penyakit lanjut. Fase ini merupakan kelanjutan dari fase
penyakit dini; terjadi akibat melemahnya kondisi tubuh seseorang
akibat bertambah parahnya penyakit. Pada fase ini, individu pada
umumnya tidak mampu lagi melakukan aktivitas sehari-hari
sehingga datang ke tempat layanan kesehatan untuk mendapatkan
perawatan.
1.8.5 Fase akhir penyakit. Secara umum, ada empat klasifikasi akhir
perjalanan penyakit, yakni sembuh sempurna, sembuh dengan
cacat, sembuh sebagai pembawa (carrier), dan meninggal dunia.
Pada sembuh sempurna, terjadi pemulihan bentuk maupun fungsi
tubuh ke keadaan semula. Dengan kata lain, kondisi individu sama
seperti ketika ia belum terkena penyakit. Pada kasus tertentu,
kesembuhan ini dapat pula berlangsung tidak sempurna sehingga
mengakibatkan kecacatan pada individu (sembuh dengan cacat).
Selain kedua hal diatas, individu dapat pula sembuh sebagai
pembawa (carrier). Ini terjadi jika di dalam tubuh individu masih
terdapat bibit penyakit meskipun ia sudah merasa sembuh
sepenuhnya. Bibit penyakit tersebut suatu saat dapat bangkit dan
kembali menyerang jika kondisi lingkungan memungkinkan.
Keadaan carrier ini bukan hanya membahayakan individu, tetapi
juga orang lain karena individu telah bertindak sebagai sumber
penyebaran penyakit. Klasifikasi terakhir adalah meninggal dunia.
Pada hakikatnya, meninggal dunia juga merupakan akhir dari
perjalanan penyakit. Dengan meninggalnya si penderita,
perkembangan penyakit juga ikut terhenti. Akan tetapi, ini tentu
bukan merupakan tujuan utama dari penanggulangan penyakit.

Dalam rumus dituliskan sebagai berikut:

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑎𝑠𝑢𝑠 𝑝𝑒𝑛𝑦𝑎𝑘𝑖𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑒𝑛𝑡𝑢


Patogenesis =
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑖𝑛𝑓𝑒𝑘𝑠𝑖

Infektivitas
Infektivitas merupakan kemampuan suatu agen untuk memulai dan
membuat terjadinya infeksi dan terus berkembang biak. Infektivitas dipengaruhi
oleh sifat penyebab, cara penularan, sumber penularan, serta faktor pejamu seperti
umur, seks, dan lain-lain. Bakteri tertentu pada kondisi yang ideal dapat
membelah menjadi dua dalam waktu 20 menit. Dengan kemampuan demikian,
satu bakteri dapat tumbuh dalam waktu tujuh jam menjadi 2.000.000 lebih.
Contohnya dalam hal ini termasuk keterpajanan pada virus cacar air, yang secara
umum dapat menyebabkan infeksi pada pejamu yang rentan. Sebagai
perbandingan, untuk Treponema pallidum, agen penyebab sifilis, hanya kira-kira
30% dari keterpajanan pada agen ini dapat menyebabkan infeksi.

Virulensi
Virulensi merupakan derajat patogenesis suatu agen infeksius yaitu
kemampuan untuk dapat menyebabkan penyakit yang berat atau bahkan kematian.
Virulensi adalah suatu sifat kompleks yang mengombinasikan infektivitas,
kemampuan untuk menginvasi, dan patogenesitas. Makin besar derajat kerusakan
yang diakibatkan oleh bibit penyakit, bibit penyakit tersebut memiliki virulensi
yang tinggi. Virulensi bergantung pada dosis, cara masuknya faktor penyebab atau
cara penularan, serta faktor pejamu seperti, usia, jenis kelamin, dan ras. Misalnya,
poliomielitis lebih berat mengenai pada orang dewasa dibanding infeksi pada
anak, sedangkan tetanus dipengaruhi oleh cara masuknya kedalam tubuh serta
usia penderita, dan tetanus pada bayi baru lahir (Tetanus neonatorum) lebih fatal
dibanding kejadian tetanus pada orang dewasa. Sebagai contoh, meskipun
penyakit campak sangat patogenik (hal ini dapat menyebabkan dengan mudah
penyakit pada orang yang rentan) penyakit ini tidak begitu virulen karena jarang
menyebabkan penyakit berat. Virus rabies merupakan virus yang sangat patogenik
(virus ini dapat menyebabkan penyakit pada semua orang yang terinfeksi) dan
sangat mematikan atau virulen. Rumus virulensi dituliskan sebagai berikut :

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑎𝑠𝑢𝑠 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑛 𝑓𝑎𝑡𝑎𝑙


Virulensi =
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎 𝑘𝑎𝑠𝑢𝑠 𝑝𝑒𝑛𝑦𝑎𝑘𝑖𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑒𝑛𝑡𝑢
BAB 3. KESIMPULAN DAN SARAN

1.1 Kesimpulan
Transmisi penyakit merupakan proses terjadinya penyakit yang masuk ke
dalam tubuh manusia disebabkan oleh agen. Agen merupakan faktor penyebab
penyakit. Agen memiliki dua unsur yaitu agen hidup dan agen tak hidup, ada
beberapa klasifikasi agen hidup antara lain Virus, Bakteri, Jamur, Parasit,
Protozoa, Metazoa. Sedangkan agen berupa unsur mati yaitu, Fisika yang berupa
sinar radioaktif, kimia yang berupa karbon monoksida, obat-obatan, pestisida, Hg,
Cadmium, Arsen, serta fisik yang berupa benturan atau tekanan. Agen hidup pada
sebuah reservoir. Reservoir merupakan habitat normal tempat suatu agen infeksi
hidup, berkembang biak, dan tumbuh didalamnya. Reservoir untuk agen infeksius
banyak terdapat pada manusia, binatang, dan lingkungan mati, misalnya : air dan
tanah.
1.2 Saran
Kesehatan merupakan hal yang paling penting bagi manusia. Oleh
karenanya menjaga kebersihan individu dan sanitasi lingkungan dengan baik akan
mencegah agent penyakit masuk ke dalam tubuh manusia sehingga angka
kesakitan di Indonesia bisa berkurang. Pencegahan dapat dilakukan dengan
menjaga imunitas tubuh agar mampu melawan agen menginfeksi, selain itu
pengendalian juga dapat dilakukan dengan memberikan penanganan yang baik
sesuai dengan jenis agen yang menginfeksi.
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi.2008.Konsep Dasar Keperawatan.Jakarta:EGC


Budiarto, Eko&Anggraeni, Dewi.2003.Pengantar Epidemiologi Edisi
2.Jakarta:EGC
Chandra, Budiman.2009.Ilmu Kedokteran Pencegahan&Komunitas.Jakarta:EGC
Arias, Kathleen Meehan.2010.Investigasi dan Pengendalian Wabah di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan.Jakarta:EGC
Morison, Moya J.2004.Managemen Luka.Jakarta:EGC
Darmadi.2008.Infeksi Nosokomial Problematika dan
Pengendaliannya.Jakarta:Penerbit Salemba Medika
http://eprints.undip.ac.id/44749/3/IGOR_RIZKIA_SYAHPUTRA_220101101100
94_Bab2KTI.pdf
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/125891-S-5384-Pola%20cidera-Literatur.pdf
SOAL

1. Agen memiliki beberapa klasifikasi diantaranya agen biologis, nutrisi,


fisik, kimiawi, dan mekanis. Dibawah ini yang termasuk ke dalam agen
biologis, yaitu...
a. Mineral
b. Karbohidrat
c. Kelembapan
d. Protozoa
e. Gas
2. Agen sebagai faktor penyebab penyakit dapat berupa unsur hidup atau
mati yang terdapat dalam jumlah yang berlebih atau kekurangan. Berikut
yang merupakan agen tak hidup, yaitu...
a. Virus
b. Hg
c. Metazoa
d. Tanaman
e. parasit
3. Kasus :
Perawat N bekerja di sebuah rumah sakit x, dia memiliki seorang pasien
yang menderita penyakit AIDS yang disebabkan oleh virus HIV. Dari
kasus tersebut, yang disebut sebagai reservoir yaitu...
a. Perawat
b. Pasien
c. Penyakit AIDS
d. Virus
e. Lingkungan
4. Dalam trias epidemiologi begitu terjadi gangguan keseimbangan, maka
akan muncul..
a. Penyakit
b. Imunitas
c. Resistensi
d. Infektifnes
e. Reservoir
5. Sebutkan salah satu interaksi mikoroorganisme yang masuk kedalam tubuh
manusia yang terdapat dalam mukosa hidung..
a. Kolonisasi
b. Infeksi subklinis
c. Transmisi langsung
d. Transmisi tidak langsung
e. Subklinis
6. Kasus
Ny.N bekerja pada sebuah pabrik didekat rumahnya. Pabrik tersebut pabrik
pengolahan udang untuk dikirim keluar negeri dan suhu ruangan Ny.N bekerja
sangat dingin sekali. Ny.N sering kali mengalami gatal-gatal dikulitnya, Ny N
juga sudah memeriksakan bahwa Ny.N tidak mempunyai kronologi alergi
terhadap makanan. Agent apa yang menyebabkan Ny N sering kali mengalami
gatal-gatal tanpa sebab tersebut..
a. Agen biologis
b. Agen fisik
c. Agen Nutrisi
d. Agen Kimiawi
e. Agen mekanis
7. Derajat pathogenesis yang menyebabkan penyakit berat atau kematin pada
manusia yang berasal dari agen infeksius adalah…
a. Selektivitas
b. Pathogenesis
c. Virulensi
d. Spesifitas
e. Infektivitas
8. Agen adalah faktor penyebab penyakit pada manusia. Agen memiliki dua unsur
dalam menyerang tubuh manusia, yaitu unsur hidup dan unsur tak hidup atau
mati yang jumlahnya bisa berlebih dan berkurang. Manakah pasangan agen
berupa unsur hidup…
a. Virus, riketsia, cadmium
b. Bakteri, jamur, Hg
c. Protozoa, metazoan, Radioaktif
d. Metazoan, Radiokatif, Hg
e. Bakteri, riketsia, Virus
9. Bakteri gram-positif seperti Staphylococcus dan Streptococcus akan
berkembang dengan baik dalam tubuh manusia merupakan salah satu
contoh dari katekteristik agen manusia apakah..
a. Selektivitas
b. Penjamu
c. Infeksivitas
d. Reservoir
e. Virulensi
10. Hari minggu adalah hari tempat mahasiswa bisa bertravelling. Sebut saja Mifta
bertravelling berkeliling tempat wisata di Jember.Sebelum berangkat Mifta sudah
merasa bahwa tubuhnya merasa tidak enak, meriang namun Miftah tetap saja
melanjutakan travelling. Setelah pulang dari travelling dan tiba di kosan, miftah
merasa bahwa tubuhnya angat lemas sekali tidak kuat untuk melakukan aktivitas
apa-apa lagi. Teman sekamar Miftah membawa Miftah ke rumah Sakit Soebandi
Jember. Di Rumah Sakit Mifta mendapatkan perawatan beberapa hari untuk
penyembuhan. Dalam proses perjalanan penyakit Mifta tersebut masuk kedalam
fase manakah dalam pathogenesis…
a. Fase inkubasi
b. Fase prepatogenesis
c. Fase penyakit dini
d. Fase Penyakit lanjut
e. Fase akhir penyakit