You are on page 1of 20

TUGAS INDIVIDU

KONSEP MORAL DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Laporan Individu


Praktek Klinik Keperawatan

Oleh:
SISWOKO

PRODI D-III KEPERAWATAN MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
TAHUN AJARAN 2018/2019

1
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Etika dan moral merupakan sumber dalam merumuskan standar dan prinsip-

prinsip yang menjadi penuntun dalam berprilaku serta membuat keputusan untuk

melindungi hak-hak manusia.Etika diperlukan oleh semua profesi termasuk juga

keperawatan yang mendasari prinsip-prinsip suatu profesi dan tercermin dalam

standar praktek profesional.(Doheny et all, 1982).


Profesi keperawatan mempunyai kontrak sosial dengan masyarakat, yang

berarti masyarakat memberi kepercayaan kepada profesi keperawatan untuk

memberikan pelayanan yang dibutuhkan. Konsekwensi dari hal tersebut

tentunya setiap keputusan dari tindakan keperawatan harus mampu

dipertanggungjawabkan dan dipertanggunggugatkan dan setiap penganbilan

keputusan tentunya tidak hanya berdasarkan pada pertimbangan ilmiah semata

tetapi juga dengan mempertimbangkan etika.


Isu sentral yang berkembang saat ini bagi perawat Indonesia yaitu era

globalisasi/ kesejagatan dan bagaimana berkompetisi di dalamnya terutama

peningkatan peran Caring sebagai dasar peningkatan mutu pelayanan

keperawatan dan patient safety. Sebagai profesi yang masih dalam proses

menuju “perwujudan diri”, profesi keperawatan dihadapkan pada berbagai

tantangan. Tantangan pembenahan internal difokuskan pada empat dimensi

domain yaitu ilmu keperawatan, pelayanan keperawatan dan asuhan

keperawatan, praktik keperawatan serta jenjang karir perawat di pelayanan.

Tantangan eksternal berupa tuntutan akan adanya registrasi, lisensi, sertifikasi

yaitu tentang undang-undang praktik keperawatan, tuntutan kompetensi dan

2
perubahan pola penyakit, peningkatan kesadaran masyarakat akan hak dan

kewajiban, perubahan sistem pendidikan nasional, serta perubahan lainnya pada

supra sistem dan pranata lain yang terkait .


Orang masih ragu dan memandang sebelah mata keberadaan perawat.

Perawat masih identik dengan penjaga orang sakit dan pembantu profesi dokter

serta menempatkan diri sebagai second class citizen in the health care system in

Indonesia .Pandangan tersebut harus kita terima dengan lapang dada dan

sekaligus sekaligus sebagai pemicu adrenalin kita untuk membuktikan jati diri

kita, bahwa seorang ners adalah profesional dengan segala atribut yang

menyertainya. Satu kunci yang harus kitatanamkan kepada masyarakat adalah

memperbaiki stigma masyarakat bahwa perawat masih dianggap sebagai petugas

yang judes, suka membentak-bentak pasien, seringterlambat dan lain-lain. Hal

yang harus dan terus kita lakukan adalah memperbaiki citraperawat, dengan

menunjukkan jati diri perawat profesional, sebagai care provider, educator,

community leader, manager, dan researcher.


Keperawatan merupakan salah satu profesi yang mempunyai bidang garap

pada kesejahtraan manusia yaitu dengan memberikan bantuan kepada individu

yang sehat maupun yang sakit untuk dapat menjalankan fungsi hidup sehari-

hariya.Salah satu yang mengatur hubungan antara perawat pasien adalah

etika.Istilah etika dan moral sering digunakan secara bergantian.


Pelayanan professional adalah suatu pelayanan yang diberikan oleh seorang

tenaga yang telah selesai mengikuti pendidikan formal keperawatan, yang telah

disahkan oleh pemerintah Republik Indonesia untuk menjalankan tugas dan

tanggung jawab keperawatan secara profesional dan sesuai dengan kode etik

keperawatan dan prinsip prinsip moral .


Permasalahan yang mendasar pada profesi keperawatan Indonesia saat ini

adalah perawat masih belum melaksanakan prinsip-prinsip moral dan peran

3
Caring sebagai salah satu prinsip moral dari segi fidelity secara profesional

dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien. Hal ini dapat dilihat dari

persepsi pengguna jasa layanan (masyarakat/ pasien), Institusi Pelayanan

Kesehatan, dan para perawat sendiri. Keadaan tersebut berdasarkan kajian

Nursalam (2005), belum dilaksanakannya peran profesional prinsip moral

perawat.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum

Agar mahasiswa mampu mengetahui tentang arti prinsip-prinsip moral

dalam praktek keperawatan serta mengaplikasikan dalam tatanan pelayanan

keperawatan guna meningkatkan mutu pelayanan keperawatan profesional dan

patient safety.

1.2.2. Tujuan Khusus

1. Mahasiswa mampu mengetahui apakah arti prinsip moral dalam praktek

keperawatan.

2. Mahasiswa mampu menjelaskan macam-macam prinsip moral dalam

praktek keperawatan.

3. Mahasiswa mengetahui implikasi kasus yang erat hubungannya dengan

prinsip moral dalam tatanan pelayanan keperawatan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

4
2.1 Konsep Prinsip-prinsip Moral

2.1.1 Pengertian Moral

Moral berasal dari bahasa latin/mos/mores, yang berarti kebiasaan adat.

Kata /mos/mores, dalam bahasa latin sama artinya dengan etos dalam bahasa

Yunani. Di dalam bahasa indonesia kata moral diterjemahkan dengan arti

susila. adapun pengertian moral yang paling umum adalah tindakan manusia

yang sesuai dengan ide-ide yang diterima umum yaitu berkaitan dengan

makna yang baik dan wajar.

Berikut ini beberapa pengertian moral menurut para ahli, pengertian

moral menurut chaplin (2006), Moral mengacu pada akhlak yang

sesuaidengan peraturan sosial atau menyangkut hukum atau adat kebiasaan

yang mengatur tingkah laku.

Pengertian Moral Menurut H'urlok (1990) moral adalah tata cara

kebiasaan dan adat peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi

anggota suatu budaya.

Pengertian Moral Menurut wantah (2005) Moral adalah sesuatu yang

berkaitan atauada hubungannya dengan kemampuan menentukan benar salah

dan baik buruknya tingkah laku.Dari tiga pengertian moral di atas dapat

disimpulkan bahwa Moral adalah suatu keyakinan tentang benar salah baik

dan buruk yang sesuai dengan kesepakatan sosial yang mendasari tindakan

atau pemikiran. Jadi moral sangat berhubungan dengan benar salah, baik

buruk, keyakinan diri sendiri dan lingkungan sosial.

2.1.2 Perbedaan Moral dan Etika

5
Kata moral sering disinonimkan dengan etika yang berasal dari kata

ethos dalam bahasa Yunani Kuno yang berarti kebiasaan adat, akhlak, watak,

perasaan, sikap atau cara berfikir. Akan tetapi sebenarnya moral dan etika itu

berbeda.

Di bawah ini ada beberapa definisi yang dikemukakan mengenai moral

dan etika. Pengertian dari moral dan etika menurut Kamus Besar Bahasa

Indonesia yang disusun oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Moral

mempunyai pengertian yaitu :

a. Ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan,

sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti, susila

b. Kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah,

berdisiplin, isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dalam

perbuatan dan ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dari suatu cerita.

Sedangkan etika yaitu

a. lmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan

kewajiban moral dan akhlak.

b. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.

c. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau

masyarakat.

Pada pengertian kesatu dan kedua yang dituliskan dapat ditarik

kesimpulan yaitu :

Moral berarti hal-hal mengenai tingkah laku seseorang maupun

kelompok yang dapat dibedakan baik buruknya sesuai dengan lingkungan

yang membentuk suatu indi;idu atau kelompok tersebut. hal ini sesuai dengan

pendapat yang dikemukakan oleh PN Masnizah Mohd (2005), bahwa moral

6
berhubungan dengan perbuatan baik dan buruk berdasarkan pada keadaan

lingkungan, adat dan budaya,sistem social, kelas sosial dan kepercayaan yang

dianut. setiap golongan masyarakatakan membentuk nilai moral yang

berbeda-beda.

Berbeda dengan pengertian etika yang dituliskan KBBI dapat ditarik

kesimpulan dari pengertian etika adalah ilmu yang mengkaji tentang moral

dengan menentukan apakah suatumoral itu baik atau buruk berdasarkan nilai

yang dianut oleh suatu golongan masyarakat. Menurut PN Masnizah Mohd

(2005). nilai tersebut muncul berdasarkan kajian tentang definisi moral yang

baik dan buruk berdasarkan peraturan sosial yang berlaku di masyarakat yang

dapat membatasi tingkah laku indivdu tersebut secara logis dengan

menggunakan akal dan pikiran yang sehat.

Menurut Prof. Dr. K.Suhendra M.Si (2009), dalam presentasi mengenai

Etika birokrasi menyatakan bahwa etika adalah filsafat moral yang justru

mengkaji moralyang lebih konkrit bagaimana manusia harus berbuat baik

dalam kehidupan. Etika membutuhkan sesuatu yang logis sesuai dengan

pemikiran secara kritis dan rasional bahwa kehidupan yang baik yaitu sesuai

dengan norma bukan hanya sekedar mengikuti kepercayaan kepada

leluhur,orang tua, guru, bahkan Tuhan Yang Maha Esa, melainkan karena

sesorang menyadari dan mengetahui apa yang dilakukan baik bagi dirinya

maupun orang lain. Jadi, dapat disimpulkan bahwa moral adalah bahan kajian

yang dipelajari didalametika. Etika akan menentukan beberapa prinsip atau

asas .apakah suatu tingkah laku baik atau buruk. apakah tingkah laku tersebut

dapat dipertanggungjawabkan atau tidak yang berkaitan dengan kemanusiaan.

Etika dapat berupa peraturan dan ketetapan secara lisan maupun tertulis

7
mengenai bagaimana menusia bertindak agar menjadi manusia yang baik

sehingga tercipta perdamaian di dunia

2.1.3 Ciri-ciri dan Nilai Moral

a. Bertanggung jawab berkaitan dengan tanggung jawab kita.


Nilai moral berakitan dengan pribadi manusia. Tetapi hal yang sama dapt

dikatakan juga tentang nilai-nilai yang lain. Yang khususnya menandai nilai

moral ialah bahwa nilai ini berkaitan dengan pribadi manusia yang

bertanggung jawab. Nilai-nilai moral mengakibatkan seseotang bersalah

atau tidak bersalah, karena ia bertanggung jawab.


b. Berkaitan dengan hati nurani
Semua nilai minat untuk diakui dan diwujudkan. Nilai selalu mengandung

semacam undangan atau himbauan. Niali estetis, misalnya, seolah-olah

“minta” supaya diwujudkan dalam bentuk lukisan, komposisi music, atau

cara lain. Dan apabila sudah jadi, lukisan “minta” untuk dipamerkan dan

music “minta” untuk diperdengarkan tetapi pada nilai-nilai moral tututan ini

lebih mendesk dan lebih serius. Mewujudkan nilai-nilai moral merupakan

“imbauan” dari ahti nurani.


c. Mewajibkan
Berhubungan erat dengan nilai-nilai moral yang mewajibkan kita untuk

selau absolute dan dengan tidak bias ditawar-tawar. Nilai-nilai lain

sepatutnya diwujudkan atau seyogyanya di akui. Nilau estetis umpamanya.

d. Bersifat formal
Nilai moral tidak merupakan suatu jenis nilai yang bias ditempatkan begitu

saja disamping jenis-jenis nilai lainnya, Biarpun nilai-nilai moral merupakan

nilai-nilai tertingi yang harus dihayati diatas semua nilai lainnya, seperti

sudah menjadi jelas dari analisis sebelumnya, namun itu tidak berarti bahwa

nulai-nilai ini menduduki jenjang teratas dari suatu hirarki nilai-nilai.


e. Norma moral

8
Ada banyak sekali macam norma misalnya ada norma yang menyangkut

benda dan norma lain yang menyangkut tingkah laku manusia. Contoh

tentang norma yang menilai benda.


Ada 3 macam norma umum yaitu : norma kesopanan atau norma etiket,

norma hokum dan norma moral.


Norma moral bersifat objektif dan universal
a) Objektifitas norma moral
b) Universal norma moral
c) Menguji norma moral
d) Norma dasar terpenting : martabat manusia.

2.1.4 Prinsip-prinsip Moral

1. Autonomi
Autonomi berarti kemampuan untuk menentukan sendiri atau mengatur diri

sendiri, berarti menghargai manusia sehingga memperlakukan mereka

sebagai seseorang yang mempunyai harga diri dan martabat serta mampu

menentukan sesuatu bagi dirinya

2. Ben efesience
Merupakan prinsip untuk melakukan yang baik dan tidak merugikan pasien

atau tidak menimbulkan bahaya bagi pasien.


3. Justice
Merupakan prinsip moral untuk bertindak adil bagi semua individu, setiap

individu mendapat pperlakuan dan tindakan yang sama. Tindakan yang

sama tidak selalu identik tetapi dalam hal ini persamaan berarti mempunyai

kontribusi yang relatif sama untuk kebaikan hidup seseorang.


4. Veracity
Merupakan prinsip moral dimana kita mempunyai suatu kewajiban untuk

mengatakan yang sebenarnya atau tidak membohongi orang lain / pasien.

Kebenaran merupakan hal yang fundamental dalam membangun suatu

hubungan dengan orang lain. Kewajiban untuk mengatakan yang

9
sebenarnya didasarkan atau penghargaan terhadap otonomi seseorang dan

mereka berhak untuk diberi tahu tentang hal yang sebenarnya.


5. Avoiding Killing
Merupakan prinsip yang menekankan kewajiban perawat untuk menghargai

kehidupan. Bila perawat berkewajiban melakukan hal-hal yang

menguntungkan (Benefisience ) haruskah perawat membantu pasien

mengatasi penderitaannya ( misalnya akibat kanker ) dengan mempercepat

kematian ? Kewajiban perawat untuk menghargai eksistensi kemanusiaan

yang mempunyai konsekuensi untuk melindungi dan mempertahankan

kehidupan dengan berbagai cara.

6. Fedelity
Merupakan prinsip moral yang menjelaskan kewajiban perawat untuk tetap

setia pada komitmennya, yaitu kewajiban mempertahankan hubungan saling

percaya antara perawat dan pasien. Kewajiban ini meliputi meenepati janji,

menyimpan rahasia dan “caring “.

2.2 Konsep Mutu Pelayanan Keperawatan

Mutu pelayanan keperawatan sebagai indikator kualitas pelayanan

kesehatan dan menjadi salah satu faktor penentu citra institusi pelayanan

kesehatan di mata masyarakat. Hal ini terjadi karena keperawatan merupakan

kelompok profesi dengan jumlah terbanyak, paling depan dan terdekat dengan

penderitaan orang lain, kesakitan, kesengsaraan yang dialami Pasien dan

keluarganya. Salah satu indikator dari mutu pelayanan keperawatan itu adalah

apakah pelayanan keperawatan yang diberikan itu memuaskan Pasien atau tidak.

Kepuasan merupakan perbandingan kualitas jasa pelayanan yang didapat

atau dirasakan dengan keinginan, kebutuhan, dan harapan (Tjiptono, 2001:54).

Pasien sebagai pengguna jasa pelayanan keperawatan menuntut pelayanan

10
keperawatan yang sesuai dengan haknya, yakni pelayanan keperawatan yang

bermutu dan paripurna. Pasien akan mengeluh bila perilaku caring yang

diberikan, dirasa tidakmemberikan nilai kepuasan bagi dirinya.

Rumah Sakit sebagai institusi yang menghasilkan produk teknologi jasa

kesehatan sudah barang tentu kualitas yang dihasilkan akan sangat bergantung

juga pada kualitas pelayanan medis dan pelayanan keperawatan yang diberikan

kepada Pasien. Melihat fenomena diatas, pelayanan di bidang keperawatan yang

keberadaannya sangat besar dalam memberikan kontribusi atas ”citra sebuah

rumah sakit” dipandang perlu untuk melakukan evaluasi atas pelayanan yang

telah diberikan. Strategi untuk kegiatan jaminan mutu antara lain dengan

benchmarking dan manajemen kualitas total (total quality management)

(Marquis & Huston, 1998).

Benchmarking atau meneliti praktik terbaik (“best practice research”)

adalah kegaiatan mengkaji kelemahan tertentu institusi dan kemudian

mengidentifikasi institusi lain yang memiliki keunggulan dalam aspek yang

sama. Kegiatan dilanjutkan dengan berkomunikasi, menetapkan kesepakatan

kerjasama untuk mendukung dan meningkatkan kelemahan tersebut (Marquis &

Huston, 1998).

Pelaksanaan kegiatan jaminan mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit

dapat pula dilakukan dalam bentuk kegiatan pengendalian mutu (“quality

control”). Kegaiatannya dapat dilaksanakan dalam dua tingkat yaitu tingkat

rumah sakit dan tingkat ruang rawat. Tingkat rumah sakit dapat dilaksanakan

dengan cara mengembangkan tim gugus kendali mutu yang memiliki program

baik jangka pendek maupun jangka panjang. Kegiatan menilai mutu pada tingkat

rumah sakit, akan diawali dengan penetapan kriteria pengendalian,

11
mengidentifikasi informasi yang relevan dengan kriteria, menetapkan cara

mengumpulakan informasi/data, mengumpulkan dan menganailisis

informasi/data, membandingkan informasi dengan kriteria yang telah ditetapkan,

menetapkan keputusan tentang kualitas, memperbaiki situasi sesuai hasil yang

diperoleh, dan menetapkan kembali cara mengumpulkan informasi (Marquis &

Huston, 2000).

Ada 6 indikator utama kualitas pelayanan keperawatan di rumah sakit

yaitu :

1. patient safety,

a. angka infeksi nosokomial, perlukaan karena tindakan,

b. angka kejadian klien jatuh/kecelakaan

c. decubitus

d. kesalahan dalam pemberian obat

2. Pengelolaan nyeri dan kenyamanan

3. Tingkat kepuasan klien terhadap pelayanan

4. Perawatan diri

5. Kecemasan pasien

6. Perilaku (pengetahuan, sikap, keterampilan) pasien.

12
BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Case Sudy

Ny. M seorang ibu rumah tangga, umur 35 tahun, mempunyai seorang

anak umur 4 tahun, Ny.M. berpendidikan SMA, dan suami Ny.M bekerja sebagai

PNS di suatu kantor kelurahan. Saat ini Ny.M dirawat di ruang kandungan sejak

3 hari yang lalu.

Sesuai hasil pemeriksaan Ny.M positif menderita kanker rahim grade III,

dan dokter merencanakan untuk dilakukan operasi pengangkatan kanker rahim.

Semua pemeriksaan telah dilakukan untuk persiapan operasi Ny.M.

Menjelang dua hari operasi, Ny.M hanya diam dan tampak cemas dan

binggung dengan rencana operasi yang akan dijalaninnya. Dokter hanya

menjelaskan bahwa Ny.m harus dioperasi karena tidak ada tindakan lain yang

dapat dilakukan. Dan dokter memberitahu perawat kalau Ny.M atau keluarganya

13
bertanya, sampaikan operasi adalah jalan terakhir. Dan jangan dijelaskan tentang

apapun, tunggu saya yang akan menjelaskannya.

Saat menghadapi hal tersebut Ny.M berusaha bertanya kepada perawat

ruangan yang merawatnya. Ny.M bertanya kepada perawat beberapa hal, yaitu:

“apakah saya masih bisa punya anak setelah dioperasi nanti”.karena kami masih

ingin punya anak. “apakah masih ada pengobatan yang lain selain operasi” dan

“apakah operasi saya bisa diundur dulu suster”

Dari beberapa pertanyaan tersebut perawat ruangan hanya menjawab secara

singkat :

“ibu kan sudah diberitahu dokter bahwa ibu harus operasi”

“penyakit ibu hanya bisa dengan operasi, tidak ada jalan lain”

“yang jelas ibu tidak akan bisa punya anak lagi…”

“Bila ibu tidak puas dengan jawaban saya, ibu tanyakan lansung dengan

dokternya…ya.” Dan setelah menjawab beberapa pertanyaan Ny.M. perawat

memberikan surat persetujuan operasi untuk ditanda tangani, tetapi Ny.M

mengatakan “saya menunggu suami saya dulu suster”, perawat mengatakan

“secepatnya ya bu… besok ibu sudah akan dioperasi”tanpa penjelasan lain,

perawat meninggalkan Ny.M.

Sehari sebelum operasi Ny.M berunding dengan suaminya dan

memutuskan menolak operasi dengan alasan, Ny.M dan suami masih ingin

punya anak lagi.

Dengan penolakan Ny.M dan suami, perawat mengatakan pada Ny.M dan

suami” Ibu ibu tidak boleh begitu, ibu harus dioperasi agar penyakit ibu tidak

parah, kita hanya berusaha” dan perawat meninggalkan pasien dan suami tanpa

penjelasan apapun. Dan setelah penolakan pasien tersebut, perawat A datang ke

14
Kepala ruangan dan mengatakan bahwa Ny.M menolak untuk operasi. Ny.M

masih ragu karena dokter belum menjelaskan rencana operasi yang akan

dilakukan, Kepala ruangan bertanya kepada perawat A “kenapa tidak dijelaskan”

Perawat A menjawab “pesan dokter, saya tidak boleh menjelaskan tentang

operasi tersebut, disuruh menunggu dokter…”, kepala ruangan mengatakan “

kalau begitu buat surat pernyataan saja” dan kita sampaikan ke dokter bedahnya.

Dan sampai saat ini dokter belum menjelaskan operasi yang akan dilakukan pada

Ny.M dan keluarga. Dan akhirnya pasien pulang. Beberapa hari kemudian

Rumah Sakit mendapat surat keluhan dari keluarga Ny.M yang berisi

ketidakpuasan dari pelayanan dimana Ny.M dirawat. Oleh karena itu pihak

Rumah Sakit (pimpinan) menanggapi surat tersebut dan berusaha mencari tahu

kebenaran kasus yang tejadi pada Ny.M dan akan mengambil tindakan bila ada

unsure pelanggaran kode etik dalam pelayanan kesehatan yang dilakukan staff

Rumah Sakit.

Sekilas berkaitan dengan ruangan, kepala ruangan adalah Ners S1 yang

bekerja telah lima tahun dan perawat A, adalah perawat lulusan DIII baru

bekerja diruang tersebut dua tahun.

3.2 Pembahasan yang berkaitan dengan prinsip Moral

1. Secara Autonomy berarti mengatur dirinya sendiri, prinsip moral ini sebagai

dasar perawat dalam memberikan asuhan keperawatan dengan cara

menghargai pasien, bahwa pasien adalah seorang yang mampu menentukan

sesuatu bagi dirinya. Perawat harus melibatkan pasien dalam membuat

keputusan tentang asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien.

Autonomy menegaskan bahwa seseorang mempunyai kemerdekaan untuk

15
menentukan keputusan dirinya menurut rencana pilihannya sendiri. Bagian

dari apa yang diperlukan dalam ide terhadap respect terhadap seseorang,

menurut prinsip ini adalah menerima pilihan individu tanpa memperhatikan

apakah pilihan seperti itu adalah kepentingannya. Seperti telah banyak

dijelaskan dalam teori bahwa otonomi merupakan bentuk hak individu dalam

mengatur keinginan melakukan kegiatan atau prilaku. Kebebasan dalam

memilih atau menerima suatu tanggung jawab terhadap dirinyasendiri.

Analisa kasus dan penyelesaian :

Pada kasus Ny.M. bahwa pasien menginginkan informasi yang banyak

tentang tindakan operasi yang akan dilakukan terhadap dirinnya, informasi-

informasi yang dibutuhkannya karena Ny.M berkeinginan bahwa ia masih

ingin punya anak lagi dan bila operasi dilakukan berarti pasien merasa tidak

akan mempunyai anak lagi. Tetapi keinginan pasien untuk mendapat

informasi yang lebih banyak tidak terpenuhi, hal inilah yang menjadi dilema

bagi pasien sementara itu kondisi sakitnya akan membuat Ny.M tidak

tertolong lagi.Penolakan Ny.M dan keluarga untuk dilakukan operasi

merupakan hak pasien tetapi, hak dan kewajiban perawat juga untuk dapat

memberikan asuhan keperawatan yang optimal dengan membantu

penyembuhan pasien yaitu dengan jalan dilakukan operasi

Hukum islam mengajarkan bahwa kita tidak boleh sewenang-wenang pada

kaum yang lemah, Allah ta’ala berfirman dalam Adh Dhuha 9-10,

2. Benefisience

Prinsip beneficience ini oleh Chiun dan Jacobs (1997) dedefinisikan dengan

kata lain doing good yaitu melakukan yang terbaik . Beneficience adalah

melakukan yang terbaik dan tidak merugikan orang lain , tidak

16
membahayakan pasien . Apabila membahayakan, tetapi menurut pasien hal

itu yang terbaik maka perawat harus menghargai keputusan pasien tersebut,

sehingga keputusan yang diambil perawatpun yang terbaik bagi pasien dan

keluarga.

Analisa kasus dan penyelesaian : dari kasus diatas dokter sudah

memberitahu klien bhawa operasi adalah jalan terakhir namun klien masih

ragu dan harus bermusyawarah dengan suaminya hal ini seharusnya harus

dihargai oleh perawat dan dokter karena apapun hasil keputusan klien adalah

yang terbaik sekalipun dokter dan perawat memberikan intervensi yang

terbaik adalah operasi inform consent dulu itu penting.

Allah swt. Berfirman, “ Maka barang siapa yang terpaksa sedang ia tidak

menginginkanya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya

Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-An’am : 145) .

3. Veracity

Veracity merupakan suatu kewajiban untuk mengatakan yang sebenarnya atau

untuk tidak membohongi orang lain atau pasien (Sitorus, 2000).

Perawat dalam bekerja selalu berkomunikasi dengan pasien, kadang pasien

menanyakan berbagai hal tentang penyakitnya, tentang hasil pemeriksaan

laboratorium, hasil pemeriksaan fisik. Perawat atau dokter harus memberikan

informasikan yang terbuka dan sebenarnya supaya klien dapat mengambil

keputusan.

Analisa kasus dan penyelesaian :dari kasus diatas. Dokter hanya

menjelaskan bahwa Ny.m harus dioperasi karena tidak ada tindakan lain yang

dapat dilakukan. Dan dokter memberitahu perawat kalau Ny.M atau

keluarganya bertanya, sampaikan operasi adalah jalan terakhir. Dan jangan

17
dijelaskan tentang apapun, tunggu saya yang akan menjelaskannya. Jika ini

memamng jalan terakhir dokter atau perawat harus menjelaskan pada klien

atau keluarga namun jika ada situasi yang bisa membuat klien mengalami

stress maka informasi itu di sampikan ke keluarganya.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an (Al Hajj : 30), “Dan jauhilah

perkataan-perkataan dusta”.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Keperawatan merupakan salah satu profesi yang mempunyai bidang garap

pada kesejahtraan manusia yaitu dengan memberikan bantuan kepada individu

yang sehat maupun yang sakit untuk dapat menjalankan fungsi hidup sehari-

hariya.Salah satu yang mengatur hubungan antara perawat pasien adalah

etika.Istilah etika dan moral sering digunakan secara bergantian.


Pelayanan professional adalah suatu pelayanan yang diberikan oleh

seorang tenaga yang telah selesai mengikuti pendidikan formal keperawatan,

yang telah disahkan oleh pemerintah Republik Indonesia untuk menjalankan

tugas dan tanggung jawab keperawatan secara profesional dan sesuai dengan

kode etik keperawatan dan prinsip prinsip moral.


Nilai moral berakitan dengan pribadi manusia. Tetapi hal yang sama dapt

dikatakan juga tentang nilai-nilai yang lain. Yang khususnya menandai nilai

moral ialah bahwa nilai ini berkaitan dengan pribadi manusia yang bertanggung

18
jawab. Nilai-nilai moral mengakibatkan seseotang bersalah atau tidak bersalah,

karena ia bertanggung jawab.

4.2 Rekomendasi

Implikasi pelayanan keperawatan di masa mendatang dapat dijawab

dengan memahami dan melaksanakan karekteristik perawat profesional. Peran

Caring perawat di masa depan harus berkembang seiring dengan perkembangan

iptek dan tuntutan kebutuhan masyarakat, sehingga perawat dituntut mampu

menjawab dan mengantisipasi terhadap dampak dari perubahan.Sebagai perawat

profesional, peran yang diemban adalah C-A-R-E (Nursalam, 2011).

C = Communication

Ciri khas perawat profesional dalam memberikan pelayanan keperawatan di

masa depan adalah harus dapat berkomunikasi secara lengkap, adekuat, dan

cepat.

A = Activity

Aktivitas tersebut Harus ditunjang dengan kompetensi yang memadai

menunjukkan kesungguhan, empati dan sikap bertanggung jawab terhadap

setiap tugas yang diemban.

R = Review & Responsive – tanggap

Prinsip utama dalam melaksanakan peran perawat dalah moral dan etika

keperawatan. Dalam setiap memberikan asuhan keperawatan kepada klien,

perawat harus selalu berpedoman pada nilai etika keperawatan dan standar

keperawatan yang ada serta ilmu keperawatan. Hal ini penting, guna

menghindarkan kesalahan yang dapat berakibat fatal terhadap pasien dan

eksistensi profesi keperawatan yang sedang mencari identitas diri. Dalam

melaksanakan peran profesionalnya, perawat harus menerapkan prinsip-

19
prinsip etis (J-A-B-V-C-F) yang meliputi: keadilan (justice), asas

menghormati otonomi (autonomy), asas manfaat ( beneficience) dan tidak

merugikan (non-maleficiency), asas kejujuran (veracity).

E = Education / Enhancement

Mempersiapkan dan membekali diri secara baik mulai dari sekarang melalui

peningkatan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Perawat harus

menunjukkan API (akutalisasi, Produktif: hindari NATO – no action talk

only, dan Inovatif).

DAFTAR PUSTAKA

Bertens. (2002). Etika. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta

Bishop & Scudder. (2006). Etika Keperawatan. EGC : Jakarta

Nursalam. (2011). Manajemen Keperawatan : Konsep & Praktik. Salemba : Jakarta

Purba.J.M&Pujiastuti. (2009). Dilema Etik dan Pengambilan Keputusan Etis. EGC :


Jakarta.

Tomey,A.M&Alligood,R.M. (2010). Nursing Theorists and Their Work. 7th.ed.


Missouri,USA: Mosby Elsevier.

Tonia, Aiken. (1994). Legal, Ethical & Political Issues in Nursing. 2nd Ed.
Philadelphia. FA Davis.

Watson, J. (2008 ). Nursing :The Philosophy and Science of Caring. University of


Colorado– Denver : Anschutz Medical Center

20