You are on page 1of 4

BAB III

PEMBAHASAN

Hasil penelitan yang dilakukan oleh Arslan, D., Akca, N.K, Simsek, N., dan
Zorba, P., (2014) terhadap mahasiswa keperawatan Central Anatolia
Turkimenunjukkan bahwa mahasiswa keperawatan yang memiliki agama lebih
bersikap positif terhadap caring pada pasien menjelang ajal dibandingkan
mahasiswa yang tidak mempunyai agama. Beberapa penelitian sebelumnya
menunjukkan bahwa kepercayaan agamaindividu juga dapat mempengaruhi
perspektif mereka tentang kematiandan merawat pasien yang menjelang ajal
(Civaner, 2003; Dunn et al.,2005; Eues, 2007; Iranmanesh, Dargahi, &
Abbaszadeh,2008). Dalam Islam, diyakini bahwa jiwa orang yang sekarat akan
dikeluarkan dari tubuhnya dan melampaui Allahsetelah kematiannya. Keyakinan
ini memberikan kekuatan spiritual kepada keluarga pasien dan perawat yang
memberikan perawatanmereka, sehingga berkontribusi pada pembentukan sikap
positif merekaketika mereka mengalami saat kematian (Oz et al., 2012).

Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan oleh Arslan, D., Akca, N.K,
Simsek, N., dan Zorba, P., (2014) juga menyatakan bahwa mahasiswa
keperawatan yang memiliki pengalaman merawat pasien paliatif menunjukkan
sikap yang lebih positif dibandingkan mahasiswa yang tidak memiliki
pengalaman sebelumnya. Dalam beberapa literatur terkait menunjukkan bahwa
mahasiswa keperawatan dapat mengembangkan lebih banyaksikap yang baik
terhadap kematian selama mereka dididiktentang metode yang efisien dalam
menangani kematian daripada mereka yang tidak melakukannya. (Lange et al.,
2008). Temuan ini menunjukkan bahwa pelajaran tentang kematian (perawatan
paliatif) harus menjadi bagian integral dalam pengajaran di kelas, proses belajar,
dan mahasiswa keperawatan harusterlibat dalam permainan peran dan simulasi di
sekolah untuk membantu merekavuntuk mengembangkan sikap yang lebih positif
terhadap kepedulian terhadap pasien menjelang ajal.

Berdasarkan hasil penelitian Catherine Grubb dan Antony Arthur


(2015)ditemukan bahwa sikap mahasiswa keperawatan tingkat akhir lebih positif
terhadap caring pada pelayanan paliatif. Dalam penelitian ini, skor sikap lebih
tinggi untuk mahasiswa yang memiliki pengalaman mempersiapkan pasien yang
akan menghadapi kematian dan bagi mereka yang pernah merawat orang yang
sekarat baik keluarga, kerabat atau teman. Sebuah studi yang dilakukan pada
perawat, ditemukan bahwa mereka yang bekerja 11 tahun atau lebih lama
memiliki skor FATCOD yang lebih tinggi (Lange, M, 2008), meskipun penelitian
yang lain tidak menemukan perbedaan dan pengaruh yang signifikan dalam lama
bekerja terhadap skor FATCOD (Ali W & Ayoub N, 2010). Pengalaman
tampaknya menjadi kunci.Hal ini menunjukkan bahwa pendidik harus menyadari
perlunya mahasiswa keperawatan untuk mempelajari teori dan praktik
keperawatan paliatif untuk merawat individu dengan kebutuhan kompleks di akhir
hidup mereka.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sharon L. Colley, PhD, RN, CNE
(2016) didapatkan adanya kesamaan di antara mahasiswa keperawatan yang
menjadi responden yakni adalah kekhawatiran bahwa merekaakan menjadi terlalu
terlibat secara emosional dengan pasien dankeluarga dalam pelayanan paliatif.
Mahasiswa keperawatan juga menyatakan jauh lebih percaya diri jika mereka
pernah mengalami kematian dalam keluarga mereka sendiri atau memiliki
pengalaman dengan perawatan End of Life sebagai tenaga keperawatan. Peserta
sering mencatat bahwa mereka tidak melakukannyamembangun pengalaman
seperti itu dari kursus mereka.

Akhirnya, meningkatkan fokus pada aspek psikososial End of Life dalam


berbagai situasi perawatan dapat membantu mahasiswa merasa lebih
nyamandalam berhubungan secara efektif dengan pasien dan keluarga. Bailey dan
Hewison (2014) menemukan bahwa penggunaan studi kasus berdasarkansituasi
pasien yang nyata dapat secara signifikan meningkatkan sikap mahasiswa
keperawatan terhadap perawatan End of Life. Tingkat kepercayaan diri mahasiswa
dapat ditingkatkan dan stres dapat dikurangi dengan memberikan pengalaman
pribadi yang disimulasikan.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Muhamad Zulfatul A’la, B.


Setioputro, Dicky E. Kurniawan pada mahasiswa keperawatan universitas
jemberdidapatkan hasil skor FATCOD-BI adalah 93,88 ± 5,66. Jika dibandingkan
dengan negara lain, skor ini berada dalam kategori rendah. Skor dalam penelitian
ini lebih rendah daripada di Amerika Serikat (126,75), di Palestina (96,96), dan di
Swedia (125,5) (Abu-El-Noor & Abu-El-Noor, 2015; Dobbins, 2011; Henoch et
al., 2014). Namun, hasil penelitian ini lebih tinggi daripada di Inggris (80,86) (De
Witt Jansen, Weckmann, Nguyen, Parsons, & Hughes, 2013). Sikap mahasiswa
keperawatan terhadap pasien paliatif masih rendah karena di Indonesia, belum ada
kurikulum yang komprehensif mengenai perawatan paliatif itu sendiri. Dalam
penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan antara pengalaman mahasiswa
terhadap sikap merawat pasien menjelang ajal.Tingkat akademik dalam penelitian
ini juga diindikasikan memiliki hubungan dengan sikap dalam merawat pasien
yang menjelang ajal. Tingkat akademik ini juga terkait dengan usia mahasiswa.

Dalam studi fenomenologi yang dilakukan oleh Andreas Charalambous dan


Charis Kaite (2013) tentang persepsi mahasiswa keperawatan dalam menghadapi
pasien paliatif didapatkan bahwa perawatan paliatif itu berarti harus menjadi
bagian dari kehidupan pasien. Meskipun mahasiswa menganggap diri mereka
sebagai bagian dari pasien, mereka masih sering merasa diabaikan. Perawat
paliatif juga harus bersikap simpatik yaitu perasaan ambivalen mahasiswa
terhadap pasienserta membantupasien mengatasi tahap-tahap kesedihannya.
Perawat paliatif juga harus dapat merefleksikan kemampuan dan tanggapan
mereka terhadap pasien mengungkapkan. Mayoritas mahasiswa mengungkapkan
perasaan puas diri saat berprestasi dalam sebuah tugas. Hal ini juga penting agar
mahasiswa dapat terus mengembangkan sikap positif sehingga menjadi lebih baik
dalam melakukan perawatan pada pasien menjelang ajal.

penelitian yang dilakukan Nasser Ibrahim Abu-El-Noor dan Mysoon Khalikl


Abu-El-Noor (2015), memberikan gambaran umum tentang Sikap mahasiswa
keperawatan Palestina terhadap kepedulian untuk pasien yang sekarat dan
keluarga mereka. Mempertimbangkan kurangnya penelitian sebelumnya tentang
pendidikan perawatan akhir hidup topik di dunia Arab, Muslim, sekarang studi
berkontribusi untuk mengurangi kesenjangan dalam literatur di Indonesia. Jika
dibandingkan dengan penelitian terbaru tentang keperawatan sikap siswa terhadap
perawatan pasien yang sekarat dan keluarga mereka yang diukur oleh FATCOD-B
(Barrere, Durkin, & LaCoursiere, 2008; Dobbins, 2011; Frommelt, 1991, 2003; Henoch
et al., 2013; Kwekkeboom, Vahlm, & Elandm, 2006; Lloyd- Williams & Field, 2002;
Mallory, 2003; Peters et al., 2013), skor yang diamati di Palestina mahasiswa
keperawatan tampaknya cukup rendah. Temuan dari studi yang dilakukan di antara orang
Amerika (Conner, Loerzel, & Uddin, 2014; Frommelt, 2003; Mallory, 2003), Italia
(Leombruni et al., 2014), Swedia (Henoch et al., 2013), dan Kanada (Brajtman,
Fothergill-Bourbonnais, Casey, Alain, & Fiset, 2007) mahasiswa keperawatan
melaporkan skor total yang lebih tinggi dari yang diperoleh dari penelitian. Perbandingan
antara rata-rata FATCOD-B dan standar deviasi yang dilaporkan dalam penelitian ini dan
penelitian lain dilakukan di berbagai negara. Sementara itu, skor peserta saat ini studi
dekat dengan skor Turki (Arslan et al.,2014) mahasiswa keperawatan. Seperti Turki
berbagi beberapa nilai agama dan budaya dengan Arab negara, termasuk Palestina,
temuan tersebut menyarankan bahwa faktor-faktor ini dapat memengaruhi mahasiswa
keperawatan sikap terhadap merawat pasien yang sekarat dan keluarga mereka.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jane Osterlind (2016) ini
menunjukkan bahwa merawat orang yang sekarat sering dianggap sulit. Selama
tahun pertama praktik klinisnya, para siswa menganggap diri mereka sebagai
penonton ketika dihadapkan dengan orang yang sekarat mereka menggambarkan
kematian sebagai sesuatu yang abstrak; sesuatu yang, seiring waktu, menjadi lebih
nyata. Persepsi siswa berubah dari melihat kematian orang sebagai objek untuk
melihat orang itu sebagai individu, makhluk hidup dengan semua yang tersirat.
Temuan ini mirip dengan hasil yang muncul dalam studi Strang et al. (2014)
tentang isu-isu yang menuntut secara emosional tentang perawatan orang yang
sekarat. Selama menyusui program, para siswa secara bertahap mulai mengambil
bagian yang lebih aktif dalam perawatan yang sekarat seseorang dan
menggambarkannya sebagai kebutuhan untuk menghadapi kematian secara
perlahan; bahwa mereka perlu waktu untuk bersiap diri mereka sendiri untuk
merawat orang yang sekarat dan merawat orang yang meninggal dengan
berpartisipasi dalam persiapan tubuh. Temuan ini didukung oleh Wallace et al.
(2009), yang menemukan bahwa Persepsi umum di antara mahasiswa
keperawatan adalah bahwa memberikan kenyamanan dan perawatan adalah yang
utama tugas untuk perawat.