You are on page 1of 12

wizii'blogs

Sabtu, 24 Maret 2012


Analisa Break event Point (BEP)
Analisa Break Event adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari hubungan antara
Biaya Tetap, Biaya Variabel, Keuntungan dan Volume aktivitas. Masalah Break Event baru
akan muncul dalam perusahaan apabila perusahaan tersebut mempunyai Biaya Variabel dan
Biaya Tetap. Suatu perusahaan dengan volume produksi tertentu dapat menderita kerugian
dikarenakan penghasilan penjualannya hanya mampu menutup biaya variabel dan hanya bisa
menutup sebagian kecil biaya tetap.

Contribution Margi adalah selisih antara penghasilan penjualan dan biaya variabel, yang
merupakan jumlah untuk menutup biaya tetap dan keuntungan. Perusahaan akan memperoleh
keuntungan dari hasil penjualannya apabila Contribution Marginnya lebih besar dari Biaya
Tetap, yang berarti total penghasilan penjualan lebih besar dari total biaya.

Break Event Point menyatakan volume penjualan dimana total penghasilan tepat sama
besarnya dengan total biaya, sehingga perusahaan tidak memperoleh keuntungan dan juga
tidak menderita kerugian.
Break Event Point ditinjau dari konsep Contribution Margin menyatakan bahwa volume
penjualan dimana Contribution Margin tepat sama besarnya dengan total Biaya Tetapnya.

Asumsi Break Event Point


Asumsi dasar dalam analisa breakevent, antara lain :
a.Biaya dapat diklasifikasikan kedalam komponen biaya variabel dan biaya tetap.

b.Total biaya variabel berubah secara proporsional dengan volume produksi atau penjualan,
sedangkan total biaya variabel per unit tetap konstan.

c.Total biaya tetap tidak mengalami perubahan, meskipun ada perubahan volume produksi
atau penjualan, sedangkan biaya tetap per unit akan berubah karena adanya perubahan
volume kegiatan.

d.Harga jual per unit tidak akan berubah selama periode melakukan analisa.

e.Perusahaan hanya membuat dan menjual satu jenis produk. Jika membuat dan menjual lebih
dari satu jenis produk, maka perbandingan penghasilan

f.Penjualan antara masing-masing produk (disebut sebagai Sales Mix) akan tetap konstan.

g.Kapasitas produksi pabrik relatif konstan.

h.Harga faktor produksi relatif konstan.

i.Efisiensi produksi tidak berubah.

j.Perubahan pada persediaan awal dan akhir jumlahnya tidak berarti.


k.Volume merupakan faktor satu-satunya yang mempengaruhi biaya.

Asumsi dan Keterbatasan Analisis BEP


Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa satu kelemahan analisis BEP adalah karena
banyaknya asumsi yang mendasari analisis ini. Akan tetapi, asumsi-asumsi ini memang harus
dilakukan jika kita mau analisis ini dapat dilakukan secara tepat. Kemudian dengan asumsi-
asumsi ini, analisis BEP dapat dilakukan secara cepat dan akurat. Hanya sajaasumsi-asumsi
yang dilakukan terkadang terlalu memaksa dan pertanggungjawabannya sering diambangkan.
Oleh karena itu para manager menganggap bahwa asumsi ini harus tetap dilakukan dan ini
merupakan salah satu keterbatasan analisis BEP bila kita maumenggunakannya.Adapun
asumsi-asumsi dan keterbatasan analisis BEP adalah sebagai berikut :

1. Biaya dalam analisis BEP,


Hanya digunakan dua macam biaya, yaitu fixed cost dan variablecost. Oleh karena itu,
kita harus memisahkan dulu komponen antara biaya tetap dan biaya variabel. Artinya
mengelempokkan biaya tetap disatu sisi dan biaya variabeldisisi lain. Dalam hal ini secara
umum untuk memisahkan kedua biaya ini relatif sulit karena ada biaya yang tergolong semi
variabel dan tetap. Untuk memisahkan biaya ini dapat dilakukan melalui dua pendekatan
sebagai berikut :
a.pendekatan analitis, yaitu kita harus meneliti setiap jenis dan unsur biaya yangterkandung
satu per satu dari biaya yang ada beserta sifat-sifat biaya tersebut.
b.Pendekatan historis, dalam hal ini yang harus dilakukan adalah memisahkan biaya tetap dan
variabel berdasarkan angka-angka dan data biaya masa lampau.

2. Biaya tetap (Fixed Cost)


Biaya tetap merupakan biaya yang secara total tidak mengalami perubahan,walaupun ada
perubahan volume produksi atau penjualan (dalam batas tertentu).Artinya kita menganggap
biaya tetap konstan sampai kapasitas tertentu saja, biasanyakapasitas produksi yang dimiliki.
Namun, untuk kapasitas produksi bertambah, biayatetap juga menjadi lain. Contoh biaya
tetap adalah seperti gaji, penyusutan aktivatetap, bunga, sewa atau biaya kantor dan biaya
tetap lainnya.

3. Biaya variabel (Variable Cost)


Biaya variable merupakan biaya yang secara total berubah-ubah sesuai dengan
perubahan volume produksi atau penjualan. Artinya asumsi kita biaya variabel berubah-ubah
secara sebanding (proporsional) dengan perubahan volume produksi atau penjualan. Dalam
hal ini sulit terjadi dalam praktiknya karena dalam penjualan jumlah besar akan ada
potongan-potongan tertentu, baik yang diterima maupundiberikan perusahaan . contoh biaya
variabel biaya variabel adalah biaya bahan baku, upah buruh langsung, dan komisi penjualan
biaya variabel lainnya.

4. Harga Jual
Harga jual maksudnya dalam analisis ini hanya digunakan untuk satu macam harga jual
atau harga barang yang dijual atau diproduksi.

5. Tidak Ada Perubahan Harga Jual


Artinya diasumsikan harga jual per satuan tidak dapat berubah selama periodeanalisis.
Hal ini bertentangan dengan kondisi yang sesungguhnya, dimana harga jualdalam suatu
periode dapat berubah-ubah seiring dengan perubahan biaya-biayalainnya yang berhubungan
langsung dengan produk maupun tidak.

Tujuan Analisis Titik Impas / BEP


Penggunaan analisis BEP memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai, yaitu :
1. Mendesain spesifikasi produk
2. Menentukan harga jual persatuan
3. Menentukan jumlah produksi atau penjualan minimal agar tidak mengalami kerugian
4. Memaksimalkan jumlah produksi
5. Merencanakan laba yang diinginkan
Disamping memiliki tujuan dan mampu memberikan manfaat yang cukup
banyak bagi pemimpin perusahaan, analisis BEP juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu
1. Perlu asumsi, terutama mengenai hubungan antara biaya dengan pendapatan
2. Bersifat statis, artinya analisis ini hanya digunakan pada titik tertentu, bukan pada suatu
periode tertentu.
3.Tidak digunakan untuk mengambil keputusan akhir, analisis BEP hanya baik digunakan
jika ada penentuan kegiatan lanjutan yang dapat dilakukan.
4.Tidak menyediakan pengujian aliran kas yang baik, artinya jika aliran kas telah ditentukan
melebihi aliran kas yang harus dikeluarkan, proyek dapat diterima danhal-hal lainnya
dianggap sama.
5.Kurang memperhatikan resiko-resiko yang terjadi selama masa penjualan,misalnya
kenaikan harga bahan baku.

Manfaat Break Event Point


1. Menentukan posisi laba-rugi perusahaan
2. Menentukan penjualan minimal yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak
mengalami kerugian
3.Menentukan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu.

Kelemahan dalam Analisis Break Event Point


Menurut Sofyan Syafri Harahap ( 1997 : 364 ) mengungkapkan bahwa terdapat
kelemahan-kelemahan di dalam analisis BEP antara lain:
a). Asumsi yang menyebutkan harga jual konstan padahal kenyataannya harga ini kadang-
kadang harus berubah sesuai dengan kekuatan permintaan dan penawaran di pasar.
b). Asumsi terhadap cost
penggolongan biaya tetap dan biaya variable juga mengandung kelemahan. Dalam keadaan
tertentu untuk memenuhi volume penjualan biaya tetap tidak bisa tidak harus berubah karena
pembelian mesin-mesin dan peralatan lainnya. Dengan demikian juga perhitungan biaya
variable perunit juga akan dapat di pengaruhi perubahan ini.
c). Biaya tetap juga tidak selalu tetap pada berbagai kapasitas.
d). biaya variable juga tidak selalu berubah sejajar dengan perubahan volume.

Perubahan Titik BEP


1. Perubahan harga jual per unit
2. Perubahan biaya variabel
3. Perubahan biaya tetap
4. Perubahan komposisi sales mix

Perubahan harga jual per unit


Perubahan harga jual per unit akan mempengaruhi besarnya BEP. Apabila harga jual per
unit naik sementara biaya tidak berubah, maka akan menurunkan BEP, demikian pula
sebaliknya bila harga jual turun akan menaikkan BEP

Perubahan Biaya Variabel per Unit


Perubahan pada biaya variabel juga akan merubah posisi BEP, yakni apabila biaya
variabel naik akan menaikkan BEP dan bila turun akan menurunkan BEP

Perubahan komposisi sales mix


Dalam asumsi disebutkan bahwa perusahaan hanya menghasilka satu macam produk, dan
bila menghasilkan lebih dari dua macama produk, maka tidak boleh ada perubahan komposisi
dalam sales mix –nya. Sales mix menunjukkan perimbangan penjualan antara beberapa
macam produk yang dihasilkan. Apabila ada perubahan sales mix nya akan menyebabkan
perubahan pada BEP secara total,

Rumus Break Event Point (BEP)


Rumus Break Event Point (BEP) untuk single product adalah:
BEP(unit/x) = FC Dimana :
(S – VC) FC = fixed cost (biaya tetap),
atau VC = variable cost (biaya variabel),
BEP(rupiah) = FC S = sales (penjualan).
(1 – (VC/S))

Rumus BEP untuk multiple product adalah:


BEP(rupiah) = FC Dimana :
(1 – (TVC/TR)) TVC = total variable cost (total biaya variabel)
TR = total revenue (total pendapatan).
Atau dengan :
a. Pendekatan grafik :
Breakevent Point terjadi pada titik persilangan antara garis penghasilan penjualan dan garis
total biaya.
b. Metode Trial and Error
c. Pendekatan matematis :

Rumus matematika untuk menentukan BEP adalah :

BEP (unit) = Total Biaya Tetap


Harga jual per unit – Biaya Variabel/unit

BEP (Rp) = Total Biaya Tetap


1 - Total Biaya Variabel
Total hasil penjualan

Contoh Aplikasi :
Perusahaan Indojaya yang bergerak di bidang produksi kain, memiliki :
- Biaya tetap sebesar Rp. 300.000,-.
- Biaya variabel per unit Rp.40,-
- Harga jual per unit Rp. 100,-
- Kapasitas produksi maksimal 10.000 unit.
Perhitungan Break Event Point
Cara Trial and Error :
yaitu dengan menghitung keuntungan operasi suatu volume produksi/penjualan tertentu.
- Apabila perhitungan tersebut menghasilkan keuntungan maka diambil volume
penjualan/produksi yang lebih rendah, dan sebaliknya.
- Demikian dilakukan seterusnya hingga dicapai volume penjualan produksi dimana
penghasilan penjualan tepat sama dengan besarnya biaya total.

Misal dari contoh aplikasi, diambil volume produksi 6.000 unit, maka dapat dihitung
keuntungan operasi adalah:
(6.000 x Rp100) — (Rp300.000 + (6.000 x Rp40))
Rp600.000 — (Rp300.000 + Rp240.000)
Rp.60.000 atau
hasil dalam unit adalah Rp. 60.000 / Rp 100 = 6000 unit

Jadi, pada volume produksi 6.000 unit perusahaan masih mendapatkan keuntungan. Ini
berarti bahwa BEP-nya terletak di bawah 6.000 unit.
Rumus Aljabar/Matematis
a. Dasar unit

b. Dasar sales (dalam rupiah)

Gambar Break-Even PointEfek Perubahan Berbagai Faktor Terhadap BEP

1. Efek perubahan harga jual per unit dan jumlah biaya terhadap BEP
- Analisa BEP digunakan asumsi bahwa harga jual per unit tetap konstan(P).
- Bila P naik memiliki efek yang menguntungkan karena BEPnya akan turun.
Dalam gambar BEP, titik break-even-nya akan bergeser ke kiri, yang berarti untuk
tercapainya BEP cukup diperlukan jumlah produk yang lebih kecil.

2. Efek perubahan “sales-mix” terhadap BEP


- Sales-mix untuk mencari break-even point dari dua atau lebih produk yang dihasilkan
perusahaan.
- Apabila ada perubahan sales-mix, maka BEP-nya secara totalitas akan berubah.
- Perhitungannya dengan cara mencari break-even point satu jenis produk karena adanya
variable cost dan harga jual per unit yang berbeda dari masing-masing jenis produk.
Contoh:
Perusahaan “IndoJaya” bergerak dalam bidang produksi “kain batik” dan “stagen”
merencanakan perluasan daerah pemasarannya.
Penjualan kain batik direncanakan sebesar 25.000 unit @ Rp 3.500 dan stagen sebesar 15.000
unit @ Rp 1.000.
Variable cost untuk setiap jenis produk adalah Rp 2.000 per unit kain batik, dan Rp 600 per
unit stagen.
Fixed cost untuk kedua jenis produk tersebut adalah Rp 28.275.000.

Hitunglah break-even point untuk kedua jenis produk tersebut!


Keterangan Kain Batik Stagen Total
Penjualan 87.500.000 15.000.000 102.500.000
Fixed Operation Cost - - 28.275.000
Variabel Operating cash 50.000.000 9.000.000 59.000.000

= Rp. 66.625.000,- (pembulatan)

Margin of Safety (MoS)


Margin of Safety adalah batas keamanan yang menyatakan sampai seberapa jauh volume
penjualan yang dianggarkan boleh turun agar perusahaan tidak menderita rugi atau dengan
kata lain, batas maksimum penurunan volume penjualan yang dianggarkan, yang tidak
mengakibatkan kerugian.

Misalnya margin of safety ditemukan 30%, artinya realisasi penjualan dipertahankan


jangan sampai turun lebih dari 30%. Apabila realisasi penjualan turun lebih dari 30%, maka
perusahaan akan menderita kerugian, sedang bila penurunan sampai 30% perusahaan dalam
kondisi Break even yang digunakan untuk mencari tingkat keamanan atau MoS adalah
sebagai berikut.
1.penjualan MoS yang direncanakan
MoS = Penjualan per budget x 100
Penjualan per titik impas

2. Penjualan MoS
MoS = penjualan per budget – penjualan per titik impas x 100
penjualan per budget

Mencari Margin of safety :


sales budget/rencana penjualan = 50 juta
penjualan per BEP = 37,5 juta
= 133,33 %
Hal ini berarti bahwa tingkat penjualan perusahaan tersebut tidak boleh turun lebih dari 33,33
% dari penjualan break even.
33,33 % X Rp 37 500 000= Rp 12.500.000,-
Realisasi penjualan tidak boleh turun lebih dari Rp. 12.500.000,- dari penjualan yang
direncanakan.

Atau bisa juga dihitung :


(sales budget-sales BE)/sales budget
(Rp 50 juta- Rp 37,50 juta)/Rp 50 juta= 25 %
Artinya penjualan tidak boleh turun lebih dari 25 % penjualan yang direncanakan.
25 % X Rp 50 juta = Rp 12 500 000,-
Realisasi penjualan tidak boleh turun lebih dari Rp. 12.500.000,- dari penjualan yang
direncanakan.

Degree of Operating Leverage (DOL)


Financial Leverage adalah kemampuan perusahaan dalam menggunakan dana yang
mempunyai beban tetap untuk memperbesar pengaruh perubahan EBIT terhadap perubahan
EPS, sehingga dapat disimpulkan maksud dari analisis financial leverage adalah serangkaian
proses perhitungan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan perusahaan dalam
mengguanakan dana yang mempunyai beban tetap untuk memperbesar pengaruh perubahan
EBIT terhadap perubahan EPS. Semakin besar dana yang berasal dari luar yang disertai
dengan beban keuangan tetap, maka akan semakin besar pula beban keuangan yang harus
dibayar.

Menurut Warsono (2003:217) ada 2 macam biaya keuangan tetap yang dapat ditemukan
dalam perusahaan, yaitu :
1.Bunga atas utang, dan
2.Dividen saham preferen.
Kedua biaya tersebut harus tetap dibayar tanpa menghiraukan jumlah EBIT yang tersedia
untuk membayarnya.

Leverage operasi
Menurut warsono (2003:213) operating leverage dapat didefinisikan sebagai penggunaan
potensial biaya-biaya operasi untuk memperbesar pengaruh perubahan dalam penjualan
terhadap laba sebelum bunga dan pajak perusahaan. Berarti, analisis leverage operasi
digunakan untuk melihat seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menggunakan biaya
operasi tetap untuk memperbesar pengaruh perubahan volume penjualan terhadap EBIT.

Masalah Finansial Leverage


Masalah financial leverage baru timbul setelah perusahaan meggunakan dana dengan
beban tetap, seperti halnya masalah operating leverage baru timbul setelah perusahaan dalam
operasinya mempunyai biaya tetap. Perusahaan yang menggunakan dana dengan beban tetap
dikatakan menghasilkan leverage yang menguntungkan (favorable financial leverage) .

Rasio Leverage
Rasio leverage ada 2 macam :
1. Rasio utang terhadap ekuitas
Untuk menilai sejauh mana perusahaan menggunakan uang yang dipinjam, kita dapat
menggunakan beberapa rasio utang (debt ratio) yang berbeda. Rasio utang terhadap ekuitas
dapat dihitung dengan membagi total hutang perusahaan (termasuk kewajiban jangka pendek)
dengan ekuitas pemegang saham. Rumus :
Rasio hutang terhadap ekuitas = total hutang : ekuitas pemegang saham

2. Rasio hutang terhadap total aktiva


Rasio hutang terhadap total aktiva didapat dari membagi total hutang dalam perusahaan
dengan total aktivanya. Rumus :
Rasio hutang terhadap total aktiva = total hutang : total aktiva

Perhitungan Tingkat Leverage operasi secara aljabar


Tingkat leverage operasi = perubahan presentase laba operasi
perubahan % unit yang terjual
atau pendapatan total
Contoh Soal :
Diketahui
Mesin A Mesin B
Penjualan 2.500.000 2.500.000
Biaya Variabel 2.500.000 2.500.000
Kontribusi Margin 2.000.000 1.500.000
Biaya Tetap 500.000 1.000.000
EBIT 100.000 500.000

1. Berapakah degree of operating leverage (DOL) Cv. Sekar Adina untuk mesin A?
Jawab :
Degree of Operating Leverage (DOL)
DOL = S-BV = Qx(P-V) Dimana:
S-BV-T Qx(P-V)-BT Q= jumlah unit produk
P= harga jual per unit
V= biaya variabel per unit
T= biaya tetap

Pemecahan:
DOL = S-BV = Qx(P-V)
S-BV-T Qx(P-V)-BT

DOL = 00x(5000-4000) = 1,25


5000x(5000-4000)-100.000

2. Berapakah degree of operating (DOL) Cv. Sekar Adina untuk mesin B?


Jawab :

Degree of Operation Leverage (DOL)


DOL = S-BV = Qx(P-V) Dimana:
S-BV-T Qx(P-V)-BT Q= jumlah unit produk
P= harga jual per unit
V= biaya variabel per unit
T= biaya tetap

Pemecahan:
DOL = S-BV = Qx(P-V)
S-BV-T Qx(P-V)-BT
DOL = _500x(5000-3000) =2
5000x(5000-3000)-500.000

3. Berapakah Degree of Financial Leverage (DFL) Cv. Sekar Adina untuk mesin A, bila
diketahui mesin A menanggung biaya bunga sebesar Rp. 100.000 dan beban pajak 40%?
Jawab :

Degree of Financial Leverage (DFL) Dimana:


DFL = EBIT = Qx(P-V)-BT Q= jumlah unit produk
EBIT-I Qx(P-V)-BT-I P= harga jual per unit
V= biaya variabel per unit
T= biaya
tetap
I= biaya bunga

4. Berapakah Degree of Financial Leverage (DFL) Cv.Sekar Adina untuk mesin A, bila
diketahui mesin A menanggung biaya bunga sebesar Rp. 300.000 dan beban pajak 40%?
Jawab :
Degree of Financial Leverage (DFL)
DFL = EBIT = Qx(P-V)-BT Dimana:
EBIT-I Qx(P-V)-BT-I Q= jumlah unit produk
P= harga jual per unit
V= biaya variabel per unit
T= biaya tetap
I= biaya bunga

Mesin A
Penjualan 2.500.000
Biaya variabel 1.500.000
Kontribusi margin 1.000.000
Biaya tetap 500.000
EBIT 500.000
Biaya bunga 300.000
EBT 200.000
Pajak 40% 80.000
EAT 120.000

Pemecahan:
DFL = EBIT = Qx(P-V)-BT
EBIT-I Qx(P-V)-BT-I

DFL = _500.000 = 2,5


500.000-300.000
Diposkan oleh wizii'blogs di 07.10
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest

3 komentar:
1.

Marthin Kolle15 April 2013 10.29

tengkyu........

Balas

2.

Arif Budiono9 Juli 2013 19.25

hemm, terima kasih materi nya,,

Balas

3.

iwan0119 Juli 2014 19.41

SELAMAT Menjalankan Ibadah Puasa di TAHUN BARU 2014..


Informasi yang sangat BERMANFAAT..
Terima kasih..
Semoga SUKSES & Salam KENAL dari :
==============================

Paket Usaha Ayam Tulang Lunak “GEROBAKAN”


~
..Bukan SULAP bukan SIHIR
Asap di GEROBAK, jadi UANG di KANTONG anda..
~
Paket Usaha Ayam Tulang Lunak “GEROBAKAN” merupakan
paket usaha kuliner yang mudah dijalankan,
murah & mempunyai tingkat pengembalian modal yang sangat singkat.
Hanya dengan Rp. 7.500.000,- Anda sudah dapat menjalankan
BISNIS KULINER yang terbaik saat ini.
~
Anda akan mendapatkan :
-. Gerobak
-. Peralatan masak bakar
-. Peralatan masak goreng
-. Kompor, tabung gas & regulatornya
-. Brosur
-. Spanduk
-. Poster
-. Produk Awal Ayam Tulang Lunak
-. Kaos
-. Training (Pelatihan) PELAYANAN (khusus mitra dalam Jabodetabek)
~
Materi inti Training Pelayanan :
-. Tata cara persiapan pembukaan outlet.
-. Tata cara membakar & menggoreng ayam tulang lunak
-. Tata cara menyajikan ayam tulang lunak
-. Tata cara menyimpan ayam tulang lunak
~
Silakan kunjungi web kami:
~
www.tulanglunakgerobakan.com
~
atau :
Telpon & HP :
081318374450 (Telkom)
08561070103 (Indosat)
081806396669 (XL)
021-94946600 (esia)
021-70264774 (Flexi)
Kantor: 021-4759274
PIN BB : 28C97C54
email : bumi.amrita@ymail.com
~
& dapatkan kemudahan & keterangan lebih lanjut.
Menu-menu andalan kami adalah :
1. Ayam Bakar Tulang Lunak
2. Ayam Goreng Tulang Lunak
3. Pepes Ayam Tulang Lunak
4. PepesCeker Tulang Lunak
5. Bebek Bakar & Goreng
~
Paket Usaha kami berikut menu andalannya telah diliput oleh :
- Trans TV – Prog Jelang Siang – 28 November 2011 Pk 12.30 WIB
- ANTV – Program Topik Pagi – 18 Juni 2012 Pk 04.45 WIB -> klik di sini
dgn URL : http://www.youtube.com/watch?v=WrC1PvqExXc
~
Program Usaha Ayam Tulang Lunak Gerobakan :
1. Program Dalam Kota
2. Program Luar Kota ( Program Master Mitra Mandiri)
Terdiri :
-. Paket Usaha Standar
-. Mesin Presto
-. Training Produksi
Training Produksi bisa dilakukan di Jakarta atau di tempat mitra.
Info lebih lanjut bisa dilihat di :
http://www.tulanglunakgerobakan.com/mfm.html
~
Ingin mencicipi sebelum bermitra ? Silakan order Paket Tester kami yg berisi :
4 potong ayam tulang lunak (bisa dibakar & digoreng).
2 pepes ayam tulang lunak
2 pepes ceker ayam tulang lunak
2 bebek presto (bisa dibakar & digoreng)
1 bungkus SAMBAL khas gerobakan
~
Untuk wilayah Jabodetak, kita antar ke tempat calon mitra
& calon mitra bisa langsung berdiskusi dengan ACCOUNT OFFICER (AO) kami..
~
Tunggu apa lagi, langsung silakan order…
~
SUKSES sudah ada di depan mata kita, AYO BER-WIRAUSAHA !
~
~

Balas

Muat yang lain...


Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Pengikut
Arsip Blog
 ▼ 2012 (15)
o ► Mei (1)
o ► April (9)
o ▼ Maret (5)
 Analisa Break event Point (BEP) Analisa Brea...
 Modal Kerja
 ANALISA LAPORAN ARUS KAS PADA PERUSAHAAN
MANUFAKTU...
 ANALISIS SUMBER DAN PENGGUNAAN KAS
 ESTIMASI BUDGET KAS

 ► 2011 (19)

 ► 2010 (8)

Mengenai Saya

wizii'blogs
Lihat profil lengkapku
Template Awesome Inc.. Gambar template oleh selensergen. Diberdayakan oleh Blogger.