You are on page 1of 11

impaksi

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang etiologi gigi impaksi

 Berdasarkan Teori Filogenik

Berdasarkan teori filogenik, gigi impaksi terjadi karena proses evolusi mengecilnya
ukuran rahang sebagai akibat dari perubahan perilaku dan pola makan pada manusia.
Beberapa faktor yang diduga juga menyebabkan impaksi antara lain perubahan
patologis gigi, kista, hiperplasi jaringan atau infeksi lokal. Ada suatu teori yang
menyatakan berdasarkan evolusi manusia dari zaman dahulu sampai sekarang bahwa
manusia itu makin lama makin kecil dan ini menimbulkan teori bahwa rahang itu
makin lama makin kecil, sehingga tidak dapat menerima semua gigi yang ada. Tetapi
teori ini tidak dapat diterima, karena tidak dapat menerangkan bagaimana halnya bila
tempat untuk gigi tersebut cukup, tetapi gigi tersebut tidak dapat tumbuh secara
normal misalnya letak gen abnormal dan mengapa ada bangsa yang sama sekali tidak
mempunyai gigi terpendam misalnya Bangsa Eskimo, Bangsa Indian, Bangsa Maori
dan sebagainya.

 Berdasarkan teori Mendel


Ada beberapa faktor yang menyebabkan gigi mangalami impaksi, antara lain jaringan
sekitar gigi yang terlalu padat, persistensi gigi susu, tanggalnya gigi susu yang terlalu
dini, tidak adanya tempat bagi gigi untuk erupsi, rahang terlalu sempit oleh karena
pertumbuhan tulang rahang kurang sempurna, dan menurut teori Mendel, jika salah
satu orang tua mempunyai rahang kecil, dan salah satu orang tua lainnya bergigi
besar, maka kemungkinan salah seorang anaknya berahang kecil dan bergigi besar.
Sebagai akibat dari kondisi tersebut, dapat terjadi kekurangan tempat erupsi gigi
permanen sehingga terjadi impaksi

 Etiologi Gigi Terpendam Menurut Berger


o Kausa local
 Posisi gigi yang abnormal
 Tekanan terhadap gigi tersebut dari gigi tetangga
 Penebalan tulang yang mengelilingi gigi tersebut
 Kurangnya tempat untuk gigi tersebut
 Gigi desidui persintensi (tidak mau tanggal)
 Pencabutan gigi yang premature
 Inflamasi yang kronis yang menyebabkan penebalan mukosa sekeliling
gigi
 Adanya penyakit-penyakit yang menyebabkan nekrose tulang karena
inflamasi atau abses yang ditimbulkannya
 Perubahan-perubahan pada tulang karena penyakit eksantem pada
anak-anak.
o Kausa umum
 Kausa prenatal
o Keturunan
o Miscegenation
 Kausa postnatal
Semua keadaan atau kondisi yang dapat mengganggu pertumbuhan pada
anak-anak seperti :
o Ricketsia
o Anemi
o Syphilis kongenital
o TBC
o Gangguan kelenjar endokrin
o Malnutrisi

o Kelainan pertumbuhan
 Cleido cranial dysostosis
Terjadi pada masa kongenital dimana terjadi kerusakan atau ketiakberesan
dari pada tulang cranial. Hal ini biasanya diikuti dengan persistensi gigi
susu dan tidak erupsinya atau tidak terdapat gigi permanen, juga ada
kemungkinan dijumpai gigi supernumeri yang rudimeter.
 Oxycephali
Suatu kelainan dimana terdapat kepala yang lonjong diameter muka
belakang sama dengan dua kali kakan atau kiri. Hal ini mempengaruhi
pertumbuhan rahang.

2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang klasifikasi gigi impaksi

KLASIFIKASI IMPAKSI GIGI MOLAR KETIGA RAHANG BAWAH

- Berdasarkan sifat jaringan

Berdasarkan sifat jaringan, impaksi gigi molar ketiga dapat diklasifikasikan


menjadi :

a. Impaksi jaringan lunak

Adanya jaringan fibrous tebal yang menutupi gigi terkadang mencegah erupsi
gigi secar normal. Hal ini sering terlihat pada kasus insisivus sentral
permanen, di mana kehilangan gigi sulung secara dini yang disertai trauma
mastikasi menyebabkan fibromatosis

b. Impaksi jaringan keras

Ketika gigi gagal untuk erupsi karena obstruksi yang disebabkan oleh
tulangsekitar, hal ini dikategorikan sebagai impaksi jaringan keras. Di sini,
gigi impaksi secara utuh tertanam di dalam tulang, sehingga ketika flap
jaringan lunak direfleksikan, gigi tidak terlihat. Jumlah tulang secara ekstensif
harus diangkat, dan gigi perlu dipotong-potong sebelum dicabut.
- Klasifikasi Pell dan Gregory
Pell dan Gregory menghubunkan kedalaman impaksi terhadap bidang oklusal
dan garis servikal gigi molar kedua mandibula dalam sebuah pendekatan dan
diameter mesiodistal gigi impaksi terhadap ruang yang tersedia antara
permukaan distal gigi molar kedua dan ramus ascendens mandibula dalam
pendekatan lain.
a) Berdasarkan relasi molar ketiga bawah dengan ramus mandibula
Klas I: Diameter anteroposterior gigi sama atau sebanding dengan
ruang antara batas anterior ramus mandibula dan permukaan distal gigi
molar kedua. Pada klas I ada celah di sebelah distal Molar kedua yang
potensial untuk tempat erupsi Molar ketiga.
Klas II: Sejumlah kecil tulang menutupi permukaan distal gigi dan
ruang tidak adekuat untuk erupsi gigi, sebagai contoh diameter
mesiodistal gigi lebih besar daripada ruang yang tersedia.10 Pada klas
II, celah di sebelah distal M
Klas III: Gigi secara utuh terletak di dalam mandibula – akses yang
sulit. Pada klas III mahkota gigi impaksi seluruhnya terletak di dalam
ramus.

b) Komponen kedua dalam sistem klasifikasi ini didasarkan pada jumlah


tulang yang menutupi gigi impaksi. Baik gigi impaksi atas maupun
bawah bias dikelompokkan berdasarkan kedalamannya, dalam
hubungannya terhadap garis servikal Molar kedua disebelahnya. Faktor
umum dalam klasifikasi impaksi gigi rahang atas dan rahang bawah :
Posisi A: Bidang oklusal gigi impaksi berada pada tingkat yang sama
dengan oklusal gigi molar kedua tetangga. Mahkota Molar ketiga yang
impaksi berada pada atau di atas garis oklusal.
Posisi B: Bidang oklusal gigi impaksi berada pada pertengahan garis
servical dan bidang oklusal gigi molar kedua tetangga. Mahkota Molar
ketiga di bawah garis oklusal tetapi di atas garis servikal Molar kedua.
Posisis C: Bidang oklusal gigi impaksi berada di bawah tingkat garis
servikal gigi molar kedua. Hal ini juga dapat diaplikasikan untuk gigi
maksila. Mahkota gigi yang impaksi terletak di bawah garis servikal.
- Klasifikasi Winter
Winter mengajukan sebuah klasifikasi impaksi gigi molar ketiga mandibular
berdasarkan hubungan gigi impaksi terhadap panjang aksis gigi molar kedua
mandibula. Beliau juga mengklasifikasikan posisi impaksi yang berbeda
seperti impaksi vertikal, horizontal, inverted, mesioangular, distoangular,
bukoangular, dan linguoangular. Quek et al mengajukan sebuah sistem
klasifikasi menggunakan protractor ortodontik. Dalam penelitian mereka,
angulasi dideterminasikan menggunakan sudut yang dibentuk antara
pertemuan panjang aksis gigi molar kedua dan ketiga. Mereka
mengklasifikasikan impaksi gigi molar ketiga mandibula sebagai berikut:
1. Vertikal (10o sampai dengan -10o)
2. Mesioangular (11o sampai dengan -79o)
3. Horizontal (80o sampai dengan 100o)
4. Distoangular (-11o sampai dengan -79o)
5. Lainnya (-111o sampai dengan -80o)

a) Mesioangular: Gigi impaksi mengalami tilting terhadap molar kedua


dalam arah mesial.
b) Distoangular: Axis panjang molar ketiga mengarah ke distal atau ke
posterior menjauhi molar kedua.
c) Horisontal: Axis panjang gigi impaksi horizontal
d) Vertikal: Axis panjang gigi impaksi berada pada arah yang sama dengan
axis panjang gigi molar kedua
e) Bukal atau lingual: Sebagai kombinasi impaksi yang dideskripsikan di
atas, gigi juga dapat mengalami impaksi secara bukal atau secara lingual
f) Transversal: Gigi secara utuh mengalami impaksi pada arah bukolingual
g) Signifikansi: Tiap inklinasi memiliki arah pencabutan gigi secara definitif.

- Klasifikasi Impaksi Molar Ketiga Menurut Thoma


Thoma mengklasifikasikan kurvatura akar gigi molar ketiga yang mengalami
impaksi ke dalam tiga kategori:
1. Akar lurus (terpisah atau mengalami fusi)
2. Akar melengkung pada sebuah posisi distal
3. Akar melengkung secara mesial.
- Klasifikasi Impaksi Molar Ketiga Menurut Killey dan Kay
Killey dan Kay mengklasifikasikan kondisi erupsi gigi molar ketiga impaksi
dan jumlah akar ke dalam tiga kategori. Gigi tersebut diklasifikasikan sebagai
berikut:
1. Erupsi
2. Erupsi sebagian
3. Tidak erupsi

- Menurut American Dental Association


Jumlah akar mungkin berjumlah dua atau multipel. Gigi impaksi juga dapat
terjadi dengan akar yang mengalami fusi. Dengan tujuan untuk memberikan
mekanisme logis dan praktik untuk industry asuransi. American Association of
Oral and Maxillofacial Surgeons mengklasifikasikan gigi impaksi dan tidak
erupsi berdasarkan prosedur pembedahan yang dibutuhkan untuk melakukan
pencabutan, daripada posisi anatomi gigi. Mereka mengklasifikasikan gigi
impaksi ke dalam empat kategori:
1. Pencabutan gigi hanya dengan impaksi jaringan lunak
2. Pencabutan gigi dengan impaksi tulang secara parsial
3. Pencabutan gigi dengan impaksi tulang secara sempurna
4. Pencabutan gigi dengan impaksi tulang sempurna dan komplikasi
pembedahan yang tidak biasa

KLASIFIKASI IMPAKSI GIGI CANINUS

Berdasarkan radiografi

Beberapa ahli mengklasifikasi gigi kaninus impaksi seperti berikut:

- Archer mengklasifikasi dalam 5 klas yaitu :


Klas I : Gigi berada di palatum dengan posisi horizontal, vertikal atau semi
vertikal.
Klas II : Gigi berada di bukal dengan posisi horizontal, vertikal atau semi
vertikal.
Klas III : Gigi dengan posisi melintang berada diantara dua gigi dengan
korona berada di palatinal dan akar di bukal atau sebaliknya korona di bukal
dan akar di palatinal sehingga disebut juga posisi intermediate.
Klas IV : Gigi berada vertikal di prosesus alveolaris diantara gigi insisivus dua
dan premolar.
Klas V : Kaninus impaksi berada di dalam tulang rahang yang edentulos.

- Yavuz dan Buyukkurt mengklasifikasi berdasarkan kedalaman kaninus yaitu:


Level A : Korona kaninus impaksi berada pada garis servikal dari gigi
tetangganya.
Level B : Korona kaninus impaksi berada diantara garis servikal dan apikal
dari akar gigi tetangganya.
Level C : Korona kaninus impaksi berada dibawah apikal dari akar gigi
tetangganya.

- Stivaros dan Mandall mengklasifikasi posisi kaninus impaksi terhadap mid-


line dan dataran oklusal, posisi akar kaninus impaksi secara horizontal,
panjang kaninus impaksi secara vertikal dan posisi kaninus impaksi terhadap
lebar akar insisivus.
o Klasifikasi posisi kaninus impaksi terhadap mid-line dan dataran
oklusal
Grade 1 : Gigi kaninus impaksi berada pada sudut 0 - 15o
Grade 2 : Gigi kaninus impaksi berada pada sudut 16 – 30o
Grade 3 : Gigi kaninus impaksi berada pada sudut ≥ 31o
o Klasifikasi posisi akar kaninus impaksi secara horizontal
Grade 1 : Akar kaninus impaksi berada diatas regio dari kaninus.
Grade 2 : Akar kaninus impaksi berada diatas regio dari premolar satu.
Grade 3 : Akar kaninus impaksi berada diatas regio dari premolar dua.
o Klasifikasi panjang kaninus impaksi secara vertikal
Grade 1 : Kaninus impaksi berada dibawah CEJ (Cemento Enamel
Junction) dari insisivus.
Grade 2 : Kaninus impaksi berada diatas CEJ, tetapi kurang dari
setengah panjang akar insisivus.
Grade 3 : Kaninus impaksi berada lebih dari setengah, tetapi belum
sampai keseluruhan panjang akar insisivus.
Grade 4 : Kaninus impaksi berada diatas keseluruhan panjang akar
insisivus.

o Klasifikasi posisi kaninus impaksi terhadap lebar akar insisivus


Grade 1 : Korona kaninus impaksi tidak menimpa/overlap akar
insisivus.
Grade 2 : Korona kaninus impaksi menimpa/overlap kurang dari
setengah lebar akar insisivus.
Grade 3 : Korona kaninus impaksi menimpa/overlap lebih dari
setengah, tetapi belum sampai keseluruhan lebar akar insisivus.
Grade 4 : Korona kaninus impaksi menimpa/overlap keseluruhan atau
lebih lebar akar insisivus.

- Berdasarkan transmigrasi / perpindahan kaninus


Transmigrasi / perpindahan kaninus adalah suatu keadaan kaninus berpindah
melewati mid-line dari posisi normal yang dapat dilihat dari radiografi.
Keadaan ini dilaporkan lebih banyak terjadi pada mandibula daripada maksila.
Akan tetapi, hal ini merupakan suatu keadaan yang sangat jarang didapat.
Mupparapu mengklasifikasikan 5 tipe berdasarkan transmigrasi /
perpindahan kaninus:
Tipe 1 : Kaninus impaksi mesio-angular melewati mid-line, labial atau lingual
ke gigi anterior dengan korona dari gigi kaninus melewati mid-line
Tipe 2 : Kaninus impaksi hampir mendekati apeks dari gigi insisivus
Tipe 3 : Kaninus erupsi ke mesial atau distal ke gigi kaninus yang berlawanan.
Tipe 4 : Kaninus impaksi hampir mendekati apeks dari gigi premolar atau
molar dari sisi yang berlawanan
Tipe 5 : Kaninus impaksi melewati garis tengah secara vertikal

3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang komplikasi gigi impaksi

Kerusakan atau keluhan yang ditimbulkan dari impaksi dapat berupa:


1) Inflamasi
Inflamasi merupakan suatu perikoronitis yang lanjutannya menjadi abses dento-
alveolar akut-kronis, ulkus sub-mukus yang apabila keadaan tubuh lemah dan
tidak mendapat perawatan dapat berlanjut menjadi osteomyelitis. Biasanya gejala-
gejala ini timbul bila sudah ada hubungan soket gigi atau folikel gigi dengan
rongga mulut.
2) Resorpsi gigi tetangga
Setiap gigi yang sedang erupsi mempunyai daya tumbuh ke arah oklusal gigi
tersebut. Jika pada stadium erupsi, gigi mendapat rintangan dari gigi tetangga
maka gigi mempunyai daya untuk melawan rintangan tersebut. Misalnya gigi
terpendam molar ketiga dapat menekan molar kedua, kaninus dapat menekan
insisivus dua dan premolar. Premolar dua dapat menekan premolar satu.
Disamping mengalami resorpsi, gigi tetangga tersebut dapat berubah arah atau
posisi.
3) Kista
Suatu gigi yang terpendam mempunyai daya untuk perangsang pembentukan kista
atau bentuk patologi terutama pada masa pembentukan gigi. Benih gigi tersebut
mengalami rintangan sehingga pembentukannya terganggu menjadi tidak
sempurna dan dapat menimbulkan primordial kista dan folikular kista.
4) Rasa sakit
Rasa sakit dapat timbul bila gigi terpendam menekan syaraf atau menekan gigi
tetangga dan tekanan tersebut dilanjutkan ke gigi tetangga lain di dalam deretan
gigi, dan ini dapat menimbulkan rasa sakit.
Rasa sakit dapat timbul karena :
a. Periodontitis pada gigi yang mengalami trauma kronis
b. Gigi terpendam langsung menekan nervus alveolaris inferior pada kanalis
mandibularis.

Bedah minor

4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang indikasi dan kontraindikasi


ekstraksi secara bedah minor

Indikasi :
1) Menimbulkan gejala neuralgia disebabkan tekanan gigi pada syaraf
2) Pembentukan kista
3) Ada gejala inflamasi
4) Mengalami karies
5) Ada gejala akan menimbulkan karies pada gigi tetangga
6) Sebagai tindakan pencegahan dari terjadinya infeksi karena erupsi yang terlambat
dan abnormal (perikoronitis), dan mencegah berkembangnya folikel menjadi
keadaan patologis ( kista odontogenik dan neoplasia)
7) Usia periode emas ( akar 1/3 tau 2/3 ) dan sebelum meneralisasi tulang ( 15-25 th)
8) Bila terdapat infeksi ( fokus selulitis )
9) Bila terdapat kelainan patologis
10) Maloklusi
11) Terdapat keluhan rasa sakit atau pernah merasa sakit
12) Diperkirakan akan menganggu perawatan ortodosia dan pembuatan protesa
13) Akan menganggu perawaan di bidang konservasi atau pembuatan mahkota gigi
pada molar kedua
14) Merupakan penyebab karies pada molar kedua karena retensi makanan
Kontraindikasi :
1) Apabila pasien tidak menghendaki giginya dicabut.
2) Kemungkinan menyebabkan gigi terdekat rusak atau stuktur penting lainnya.
Tindakan odontektomi beresiko tinggi untuk merusak jaringan dengan membuka
flap dan juga merusak tulang yang menghalangi akses terhadap gigi yang
impaksi. Apabila dikhawatirkan kerusakan yang akan diakibatkan oleh tindakan
odontektomi tidak sebanding dengan manfaat yang didapatkan, maka sebaiknya
odontektomi tidak dilakukan. (mempertimbangkan resiko manfaat)
3) Penderita usia lanjut.
Pada pasien yang berusia lanjut, tulang yang menutupi gigi impaksi akan sangat
termineralisasi dan padat sehingga akan menyulitkan dilakukan odontektomi.
Selain itu perlu diperhatikan juga keadaan umum pasien yang mungkin akan
menghambat keberhasilan penyembuhan setelah dilakukannya odontektomi.
4) Kondisi fisik atau mental terganggu.
Pada pasien dengan kesehatan umum yang terganggu misalanya mengidap
penyakit sistemik maka diperlukan konsultasi terlebih dahulu kepada dokter yang
bersangkutan sebelum melakukan tindakan bedah. Sedangkan untuk pasien
dengan keadaan mental yang terganggu dapat mengganggu tingkat kooperatif
pasien selama melakukan tindakan pembedahan.
5) Bila panjang akar belum 1/3 atau 2/3
6) Bila tulang yang menutup gigi yang tertanam terlalu banyak
7) Bila tulang yang menutupinya sangat termineralisasi dan padat yaitu pada pasien
yang berusia lebih dari 26 th atau usia lanjut.
8) Compromised Medical Status
9) Kemungkinan timbulnya kerusakan yang parah pada jaringan yang berdekatan.

5. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang tatalaksana ekstraksi secara


bedah minor

Persiapan tindakan odontektomi

a. Dilakukan pemeriksaan rontgen foto berupa foto periapikal, bitewing, oklusal,


panoramic dan foto lateral view of mandibula. Jenis foto sesuai kebutuhan

b. Mengetahui dari klasifikasi gigi impaksi

c. Desain flap

d. Menentukan arah jalan keluar/ pengambilan dengan trauma minimal

e. Menentukan metode odontektomi yang dipilih dengan memperhatikan faktor


intrinsik (gigi) dan faktor ekstrinsik (jaringan sekitar gigi)

f. Menetukan apakah memungkinkan pembedahan dilakukan dengan anestesi


lokal atau membutuhkan anestesi umum.
odontektomi
Prosedur Odontektomi

Cara Pengambilan

1) Pengambilan secara intoto (dalam keadaan utuh), dengan cara membuang


tulang yang menghalangi dan cara ini membutuhkan pengambilan tulang yang
lebih banyak dan menimbulkan trauma yang lebih besar, tetapi pengebor
tulang lebih mudah dari pada pengebor gigi.

2) Pengambilan secara inseparasi, gigi yang terpendam dibelah dan dikeluarkan


sebagian-sebagian. Disini kita akan menseparasir gigi, kita pisahkan korona
dari akar, kalau akar lebih dari satu maka dipisahkan dan akar yang telah
dipisah tersebut diambil satu persatu. Tujuannya memperkecil pengeboran

Teknik Operasi

Beberapa teknik operasi untuk dilakukannya tindakan odontektomi molar tiga rahang
bawah:

1) Mempersiapkan instrumentasi steril untuk tindakan odontektomi


2) Lakukan anestesi
3) Membuat insisi untuk pembuatan flap
Syarat-syarat flap:
o Harus membuka daerah operasi yang jelas,
o Insisi terletak pada jaringan yang sehat.
o Mempunyai dasar atau basis cukup lebar sehingga pengaliran daerah
ke flap cukup baik.
4) Pengambilan Tulang
Bila gigi terpendam seluruhnya dilapisi tulang, maka tulang dapat dibuang
dengan bur atau pahat. Bur yang dipakai yaitu bur yang bulat dan tajam, ada
yang menyukai nomor 3-5 yaitu yang besar, apabila banyak tulang yang harus
dibuang. Tetapi harus disediakan juga bur kecil untuk membuang tulang
penghalang. Dilakukan irigasi disaat pengeburan dilakukan untuk mengurangi
panas yang timbul waktu mengebur, supaya tidak terjadi nekrose tulang. Perlu
diperhatikan bahwa tulang bagian lingual tidak diambil, karena ada suatu
modifikasi untuk mempercepat pengambilannya dapat dibuat suatu muko
osteoflap di sebelah lingual (tidak dilakukan dengan pengambilan lokal
anestesi) dan dilakukan bila gigi molar tiga terpendam mengarah ke lingual.
Dengan mengembalikan mukosanya maka tulang nya juga dikembalikan.
5) Pengambilan Gigi
o Intoto ( utuh ) : gigi dikeluarkan secara bulat ( utuh ).
o Separasi ( terpisah ) : gigi dibelah dulu baru dikeluarkan.
6) Pembersihan Luka
a. Folikel harus di bersihkan atau di buang, karena dapat menyebabkan
kista residual.
b. Sisa enamel organ harus dibersihkan untuk menghindari terjadinya
kista residual.
c. Tepi tulang yang runcing harus di haluskan dengan bur atau dengan
bone file setelah itu rongga dibersihkan dengna semprotan air garam
fisiologis 0,9% agar pecahan partikel-partikel tulang dapat keluar
semua dan dihisap dengan suktor.
d. Alveolus dapat di isi dengan terragas ( drain ), white head varnish,
vasenol, bubuk sulfa.

Instruksi pasca odontektomi :

- Gigit tampon 30-60 menit, tampon dapat diganti dengan tampon streil sampai
beberapa kali

- Tidak menghisap-hisap luka

- Tidak diperkenankan kumur-kumur

- Fungsi penguyahan dikurangi

- Kompres es ‘: EO (pada pipi) untuk 15 menit setiap setengah jam-4 jam


setelah odontektomi, hal ini akan mengurangi perdarahan dan pembengkakan.

- Jaga kebersihan luka

- Diperkenankan makan dengan diet lunak

- Setelah makan mulut direndam dengan obat kumur antiseptik dan hanya boleh
dipergunakan 24 pascabedah.

Bedah minor
6. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang komplikasi ekstraksi secara
bedah minor

Komplikasi pada saat pembedahan

1) Perdarahan

2) Putusnya nervus alveolaris inferior

3) Fraktur: akar prosesus alveolar lingual, tulang rahang bagian lingual,


mandibula terutama daerah angulus

4) Trauma pada gigi terdekat


5) Rusaknya tumpatan atau mahkota pada gigi molar kedua disamping molar
ketiga yang dilakukan odontektomi

6) Masuknya gigi/sisa akar gigi ke dalam submandibula. Space, kanalis


mandibularis atau spasia regio lingual

7) Alergi obat-obatan yang diberikan

8) Syok anafilaktik

9) Patahnya instrumen

Komplikasi Pasca Operasi


1) Jahitan terbuka.
2) Rasa sakit dan pembengkakan normal apabila terjadi smapai hari ke 5, apabila
setelah 5 hari masih sangat sakit, khawatir terjadinya dry socket.
3) Bila nervus terpotong terjadi parastesi yang lama pada seluruh daerah yang di
inervasi nervus tersebut. Pada molar ketiga yang dikhawatirkan yaitu
terkenanya atau terpotongnya nervus fasialis yang berakibat mulut pasien bisa
menjadi merot (miring sebelah).
4) Terlukanya bibir atau mukosa oleh karena tang ekstraksi, respatorium dan
alat-alat lain yang dipergunakan sehingga dapat terjadi inflamasi sekitar bibir
dan mukosa mulut.
5) Pada waktu operasi terjadi fraktur prosesus alveolaris.
6) Gigi tetangga dapat menjadi: Gangren, Nekrose, Mobiliti (goyah)
7) Dapat terjadi osteomielitis.
8) Banyak lagi komplikasi-komplikasi lainnya, antara lain gigi yang dekat sinus
maksilaris, oleh karena itu operator harus hati-hati bekerja
9) Trismus
10) Dry socket
11) Perforasi sinus maksilaris