You are on page 1of 8

Jurnal Akademika Baiturrahim M.

Rasyid Ridha, Miko Eka Putri


Vol.4, No.2, November 2015

PENGARUH LATIHAN RANGE OF MOTION (ROM) AKTIF TERHADAP


KEKUATAN OTOT EKSTREMITAS BAWAH PADA LANSIA DENGAN
OSTEOARTHRITIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KONI
KOTA JAMBI

M. Rasyid Ridha1), Miko Eka Putri2)


Program Studi Ilmu Keperawatan STIKBA Jambi1) 2)
E-Mail : putri29iwan@gmal.com

ABSTRACT
Background :Health problems due to aging occur on various body systems, one of which
is on the musculoskeletal system, namely osteoarthritis. Osteoarthritisis a degenerative
joint disease that affects the joints, especially joints leverage bodies. Recorded 276
elderly aged> 60 years suffering from osteoarthritis in Puskesmas Koni. Atrophy of the
muscle fibers, immobility causes decreased muscle strength. However, the decline in
muscle strength can be overcome if the elderly remain active and frequently moving
physical exercise. This research aims to determine the effect of active ROM exercises on
lower extremity muscle strength in elderly with osteoarthritis.
Method : This research was a quantitative research with pra exsperiment "One Group
Pre Post Test Design".The population was 276 elderly. The samples selected using
purposive sampling technique as much as 15 respondents. This research was carried out
on 3th to 7th August 2015. The result of research was analysed using are univariate and
bivariate by using the dependent T-test.
Result : The result showed the effect of active Range Of Motion exercises on the increase
in lower extremity muscle strength in elderly with osteoarthritis in Puskesmas Koni
Jambi. Bivariate analys is using Paired T-Test was obtained p-value = 0,000 and then p
value <0,05.
It is recommended for parties involved in order to make the program active ROM
exercises, especially for elderly patients with osteoarthritis as a non-pharmacological
therapy to maintainant improve muscle strength.
Keywords: Active range of motion exercises, Lower extremity muscles trength

PENDAHULUAN Osteoarthritis diderita oleh 151


juta jiwa di seluruh dunia. Lebih dari 27
Jumlah lanjut usiadiseluruh
juta penduduk Amerika menderita
dunia saat ini diperkirakan lebih dari
Osteoarthritis (Helmicketall, 2008
629 juta jiwa, dan pada tahun 2025
dalam Arundhati dkk, 2013). Prevalensi
lanjut usia akan mencapai 1,2 milyar.
rematik (Arthritis) di Indonesia
Dampak perubahan epidemiologis,
mencapai 23,6% sampai 31,3% (Zeng Q
penyakit pada lanjut usia cenderung ke
Y et all 2008 dalam Nainggolan, 2009).
arah penyakit degeneratif (Bell, 2014).
Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar
Masalah-masalah kesehatan akibat
(Riskesdas, 2013), prevalensi rematik
penuaan terjadi pada berbagai sistem
berdasarkan diagnosis nakes (tenaga
tubuh, salah satunya adalah pada sistem
kesehatan) di Indonesia 11,9% dan
muskuloskeletal yaitu penyakit rematik.
berdasarkan diagnosis atau gejala
Jenis penyakit rematik yang paling
24,7%. Penyakit rematik tertinggi
banyak ditemukan pada golongan usia
terdapat di Bali (19,3%), diikuti Aceh
lanjut di lndonesia adalah Osteoarthritis
(18,3%), Jawa Barat (17,5%) dan Papua
(Nainggolan, 2009).

45
Jurnal Akademika Baiturrahim M. Rasyid Ridha, Miko Eka Putri
Vol.4, No.2, November 2015

(15,4%). Prevalensi tertinggi pada umur sepenuhnya (Stanley dan Beare, 2006).
>75 tahun (33% dan 54,8%). Prevalensi Adanya keterbatasan pergerakan dan
yang didiagnosis tenaga kesehatan lebih berkurangnya pemakaian sendi dapat
tinggi pada perempuan (13,4%) memperparah kondisi tersebut
dibanding laki-laki (10,3%) demikian (Suhendriyo, 2014).
juga yang didiagnosis tenaga kesehatan Oleh karena itu, diperlukan
atau gejala pada perempuan (27,5%) adanya penatalaksanaan untuk
lebih tinggi dari laki-laki (21,8%). osteoarthritis. Banyak terapi non
farmakologi yang dapat dilakukan, salah
Di Provinsi Jambi berdasarkan
satunya yaitu fisioterapi, untuk
data kunjungan penderita Arthritis di 20
mengurangi nyeri dan mempertahankan
Puskesmas Kota Jambi, jumlah
atau meningkatkan kekuatan
kunjungan penderita Arthritis terbesar
otot.Latihan dan aktivitas fisik pada
terdapat di PuskesmasKoni dengan
lansia dapat mempertahankan
jumlah 668 kunjungan pada tahun 2012,
kenormalan pergerakan persendian,
pada tahun 2013 menurun 21,85%
tonus otot dan mengurangi masalah
menjadi 522 kunjungan, sedangkan pada
fleksibilitas. Range of Motion (ROM)
tahun 2014 persentase kunjungan
merupakan salah satu indikator fisik
kembali meningkat sebesar 20,49%
yang berhubungan dengan fungsi
menjadi 629 kunjungan. Penderita
pergerakan. Menurut Kozier (2004),
Arthritis di PuskesmasKoni, tercatat
ROM dapat diartikan sebagai
sejumlah 276 orang berusia >60 tahun
pergerakan maksimal yang
menderita Arthritis pada tahun 2014
dimungkinkan pada sebuah persendian
hingga bulan Februari 2015 dengan rata-
tanpa menyebabkan rasa nyeri.
rata 19,71% penderita perbulan
Jenis latihan yang dianjurkan
(PuskesmasKoni, 2015).
bagi lansia adalah latihan isotonik
Osteoarthritis adalah penyakit (Pudjiastuti dan Utomo, 2003 dalam
pada persendian dengan rasa nyeri dan Mudrikhah, 2012). Latihan isotonik
kaku pada persendian sebagai tanda dan menyebabkan kontraksi otot, perubahan
gejala utamanya. Rasa kaku dan nyeri panjang otot dan merangsang aktivitas
yang lebih banyak mengenai persendian osteoblastik (aktivitas sel pembentuk
penopang berat badan seperti sendi otot). Latihan ini juga meningkatkan
panggul dan sendi lutut pada eksremitas tonus otot, massa dan kekuatan otot serta
bawah. Pada lansia juga terjadi mempertahankan fleksibilitas sendi,
penurunantonus otot dan kartilago sendi rentang pergerakan dan sirkulasi (Potter
menjadi lebih tipis dan ligamentum & Perry, 2010). Latihan ROM
menjadi lebih kaku serta terjadi merupakan latihan isotonik yang
penurunan kelenturan (fleksibilitas), bermanfaat untuk meningkatkan
sehingga mengurangi gerakan kekuatan otot, mencegah memburuknya
persendian. (Ulliyadkk, 2007). kapsul sendi, ankiolosis, dan kontraktur
Seiring penuaan, serat otot akan sendi (Kozier&Erb, 2009).Latihan gerak
mengecil dan massa otot akan sendi dengan ROM adalah latihan yang
berkurang. Seiring berkurangnya massa memungkinkan terjadinya kontraksi dan
otot, kekuatan otot juga berkurang pergerakan otot, dimana klien
(National Osteoporosis Foundation, menggerakkan masing- masing
2006). 10 sampai 15% kekuatan otot persendiannya sesuai gerakan normal
dapat hilang setiap minggu jika otot baik secara aktif ataupun pasif. Latihan
beristirahat sepenuhnya, dan sebanyak ROM adalah latihan yang dilakukan
5,5% dapat hilang setiap hari pada untuk mempertahankan atau
kondisi istirahat dan imobilitas memperbaiki tingkat kesempurnaan

46
Jurnal Akademika Baiturrahim M. Rasyid Ridha, Miko Eka Putri
Vol.4, No.2, November 2015

kemampuan menggerakkan persendian


secara normal dan lengkap untuk
meningkatkan massa otot dan tonus otot Bagan 1.1
(Potter & Perry, 2005). Desain Penelitian
Berdasarkan studi pendahuluan Pretest Treatment Post test
(survei awal) yang peneliti lakukan di Kekuatan Latihan Kekuatan
Otot Range Of Otot
PuskesmasKoni pada tanggal 29 & 30 Ekstremitas Motion Ekstremitas
Mei 2015 dengan mewawancarai 5 Bawah (ROM) Aktif Bawah
orang responden, didapatkan hasil
bahwa 3 responden telah menderita
reumatik (Osteoarthritis) selama >4 Rancangan ini diilustrasikan sebagai
tahun, 2 responden >2 tahun. 4 berikut:
responden mengatakan sering merasakan Pola :
kaku dan sesekali muncul rasa nyeri O1 X O2
pada persendian kakinya. Keempat
responden ini mengalami keterbatasan Keterangan :
rentang gerak terutama pada persendian O1 : Pretest, sebelum dilakukan latihan
ekstremitas bawah. Didapatkan hasil ROM aktif
keempat responden tersebut dengan nilai X : Intervensi ROM Aktif
kekuatan otot dibawah normal. Kelima O2 :Post test, setelah dilakukan latihan
responden tersebut mengatakan belum ROM aktif
pernah melakukan latihan ROM aktif
dan tidak mengetahui tentang latihan Populasi dalam penelitian ini
ROM aktif. 1 orang responden adalah semua lansia penderita
mengatakan hanya mengikuti senam osteoarthritis yang tercatat di
Prolanis di PuskesmasKoni yang PuskesmasKoni Kota Jambi sebanyak
diadakan tiap 1 minggu sekali, 276 orang. Pengambilan sampel dengan
sedangkan 4 responden mengatakan teknik Purposive Sampling yang
jarang mengikuti senam di Puskesmas berjumlah 15 responden dimana
karena jarak tempuh yang jauh. Dari pengambilan sampel ini
uraian diatas maka peneliti tertarik mempertimbangkan kriteria inklusi yang
melakukan penelitian tentang pengaruh ada. Adapun kriteria inklusif dalam
latihan Range Of Motion (ROM) aktif penelitian ini adalah: 1). Bersedia
terhadap kekuatan otot ekstremitas menjadi responden. 2). Lansia yang
bawah pada lansia dengan osteoarthritis tidak sedang mengalami nyeri
di wilayah kerja PuskesmasKoni Kota osteoarthritis. 3). Lansia penderita
Jambi. osteoarthritis yang berusia ≥60 tahun. 4).
Lansia penderita osteoarthritis yang
METODOLOGI mengalami kelemahan otot dengan nilai
kekuatan otot ≤ 4. Penelitian ini
Penelitian ini merupakan penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh
kuantitatif Pre Eksperimen dengan latihan Range Of Motionaktif terhadap
desain penelitian One Group Pre-Post kekuatan otot ekstremitas bawah pada
Test Design. Dimana pengukuran lansia dengan osteoarthritis. Analisa data
dilakukan sebelum dan sesudah menggunakan teknik analisis univariat
dilakukan latihan ROM aktif. Berikut dan bivariat dengan menggunakan uji T-
desain yang digunakan dapat dilihat Dependen. Penelitian ini dilakukan di
pada bagan berikut ini : wilayah kerja PuskesmasKoni Kota
Jambi pada tanggal 03 – 07 Agustus
2015.

47
Jurnal Akademika Baiturrahim M. Rasyid Ridha, Miko Eka Putri
Vol.4, No.2, November 2015

b. Hasil Penilaian Kekuatan Otot


HASIL DAN PEMBAHASAN Ekstremitas Kiri Bawah Sebelum dan
1. Analisis Univariat Sesudah Dilakukan Latihan Range Of
a. Hasil Penilaian Kekuatan Otot Motion (ROM) Aktif Pada Lansia
Ekstremitas Kanan Bawah Pada dengan Osteoarthritis di wilayah
Lansia dengan Osteoarthritis kerja PuskesmasKoni Kota Jambi
Sebelum dan Sesudah dilakukan Kekuatan
Latihan Range Of Motion (ROM) Otot
No.
Aktif No Ekstremitas Selisih
Responden
Kekuatan Kiri Bawah
Otot Pre Post
No. 1 1. 3 4 1
No Ekstremitas Selisih
Responden 2 2. 3 4 1
Kanan Bawah
Pre Post 3 3. 3 3 0
1 1. 3 4 1 4 4. 4 5 1
2 2. 3 4 1 5 5. 3 4 1
3 3. 2 2 0 6 6. 4 5 1
4 4. 4 5 1 7 7. 4 5 1
5 5. 3 4 1 8 8. 2 2 0
6 6. 4 5 1 9 9. 3 4 1
7 7. 4 5 1 10 10. 2 2 0
8 8. 3 3 0 11 11. 4 5 1
9 9. 3 4 1 12 12. 3 3 0
10 10. 3 3 0 13 13. 3 4 1
11 11. 4 5 1 14 14. 3 4 1
12 12. 3 3 0 15 15. 4 5 1
13 13. 3 4 1
14 14. 3 4 1 Berdasarkan tabel diatas
15 15. 4 5 1 memperlihatkan hasil observasi nilai
kekuatan otot sebelum dan sesudah
Berdasarkan tabel diatas dilakukan latihan Range Of
memperlihatkan nilai kekuatan otot Motion(ROM) aktif. Dari hasil observasi
ekstremitas kanan bawah sebelum dan menggunakan Manual Muscle Testing
sesudah dilakukan latihan ROM aktif, (MMT) pada 15 responden, saat
dari hasil observasi menggunakan pretestsebanyak 2 responden (13,3%)
Manual Muscle Testing (MMT) 15 dengan nilai kekuatan otot 2 (poor), 8
responden pada pretest sebanyak 1 responden (53,3%) dengan nilai
responden (6,7%) dengan nilai kekuatan kekuatan otot 3 (fair), dan 5 responden
2 (poor), 9 responden (60%) dengan (33,3%) dengan nilai kekuatan otot 4
nilai kekuatan otot 3 (fair) dan sebanyak (good). Sedangkan saat posttestdapat
5 responden (33,3%) dengan nilai terlihat pada tabel sebanyak 11
kekuatan otot 4 (good). Sedangkan hasil responden (73,3%) mengalami
observasi nilai kekuatan otot setelah peningkatan kekuatan otot eskremitas
dilakukan latihan ROM aktif dapat kiri bawah dan 4 responden (26,7%)
terlihat pada tabel tersebut, yaitu 11 dengan nilai kekuatan otot tetap.
responden (73,3%) mengalami
peningkatan kekuatan otot eksremitas 2. Analisis Bivariat
kanan bawah yang cukup baik, dan 4 Analisisbivariat menggunakan uji
responden (26,7%) dengan nilai PairedT-Test, dengan tingkat
kekuatan otot tetap. kemaknaan antar variabel sebesar
alpha (α) 0,05.

48
Jurnal Akademika Baiturrahim M. Rasyid Ridha, Miko Eka Putri
Vol.4, No.2, November 2015

a. Pengaruh latihan Range Of Motion (ROM) aktif adalah 3.20 dengan


Motion (ROM) aktif terhadap standar deviasi 0.676 dan setelah
kekuatan otot ekstremitas bawah dilakukan latihan Range Of Motion
pada lansia dengan osteoarthritis (ROM) aktif nilai mean menjadi 3.93
di wilayah kerja PuskesmasKoni dengan standar deviasi 1.033. Hasil uji
Kota Jambi statistik didapatkan nilai p-value=0,000
artinya p<0,05 dengan demikian Ha
Std. Std. P- diterima dan Ho ditolak maka hipotesa
Variabel N Mean Deviat- ErrorM value
ion ean penelitian diterima, hal ini berarti ada
Kekuatan 3.27 0.594 0.153 pengaruh latihan Range Of Motion
Otot (ROM) aktif terhadap peningkatan
Eksremit
as Kanan kekuatan otot ekstremitas bawah pada
Bawah lansia dengan osteoarthritis di wilayah
Sebelum kerja PuskesmasKoni Kota Jambi.
dilakukan
Latihan Berdasarkan hasil penelitian
ROM diatas diketahui adanya pengaruh latihan
Aktif 15 0.000
Kekuatan 4.00 0.926 0.239
ROM aktif terhadap peningkatan
Otot kekuatan otot ekstremitas bawah pada
Eskremit lansia dengan osteoarthritis. 11
as Kanan
Bawah
responden (73,3%) mengalami
Sesudah peningkatan kekuatan otot ekstremitas
dilakukan bawah dan 4 responden (26,7%) tidak
Latihan
ROM mengalami perubahan kekuatan otot.
Aktif Pada lansia terjadi perubahan-perubahan
Kekuatan 3.20 0.676 0.175 anatomis khususnya pada sistem
Otot
Eksremit muskuloskeletaldiantaranya atrofi
as Kiri serabut otot (serabut otot mengecil) yang
Bawah
Sebelum
menyebabkan pergerakan seseorang
dilakukan menjadi lamban, otot-otot kram dan
Latihan tremor, tendon mengerut, persendian
ROM
Aktif 0.000 menjadi kaku, dan sebagainya (Aspiani,
15
Kekuatan 3.93 1.033 0.267 2014). Menurut peneliti usia merupakan
Otot salah satu faktor yang turut
Eksremit
as Kiri mempengaruhi perubahan nilai kekuatan
Bawah otot. Bertambahnya usia seseorang akan
Sesudah
dilakukan
sangat sulit untuk menghindari
Latihan perubahan anatomis seperti atrofi
ROM serabut otot sehingga kekuatan otot akan
Aktif
membutuhkan waktu latihan yang lama
agar terjadi peningkatan.
Berdasarkan tabel diatas Latihan ROM aktif merupakan
menunjukkan nilai mean kekuatan otot latihan isotonikyang menyebabkan otot
ekstremitas kanan bawah sebelum berkontraksi, perubahan panjang otot
dilakukan latihan Range Of Motion dan merangsang aktivitas osteoblastik
(ROM) aktif adalah 3.27 dengan standar (aktivitas sel pembentuk otot). Sehingga
deviasi 0.594 dan setelah dilakukan dengan melakukan latihan ini secara
latihan Range Of Motion (ROM) aktif benar dan rutin akan dapat
nilai meanmenjadi 4.00 dengan standar meningkatkan tonus otot, massa dan
deviasi 0.926. Sedangkan nilai mean kekuatan otot serta mempertahankan
kekuatan otot ekstremitas kiri bawah fleksibilitas sendi, rentang pergerakan
sebelum dilakukan latihan Range Of

49
Jurnal Akademika Baiturrahim M. Rasyid Ridha, Miko Eka Putri
Vol.4, No.2, November 2015

dan sirkulasi (Kozier&Erb, 2009). Besar hilang setiap hari pada kondisi istirahat
peningkatan kekuatan otot dipengaruhi dan imobilitas sepenuhnya.
oleh jenis latihan, intensitas latihan,dan Penelitian yang dilakukan
usia. Kontraksi isotonik menyebabkan Safa’ah (2013) tentang pengaruh latihan
kekuatan otot meningkat pada seluruh range of motion(ROM) terhadap
lingkup gerak sendi. Pemberian latihan peningkatan kekuatan otot lanjut usia di
penguatan dengan intensitas ringan UPT pelayanan sosial lanjut usia
sampai sedang sudah dapat (Pasuruan) Kec. Babat Kab. Lamongan,
meningkatkan kekuatan otot secara dengan jumlah sampel 38 responden.
bermakna pada usia lanjut. Semakin Berdasarkan hasil penelitian didapatkan
sering latihan dilakukan maka responden 13 (68,4%) dengan kekuatan
persentase peningkatan kekuatan otot ototnya tetap pada responden yang tidak
akan semakin besar. (Wardhanidkk, diberikan latihan ROM, sedangkan 11
2011). (58%) responden yang mengalami
Peningkatan kekuatan otot juga peningkatan kekuatan otot pada
dipengaruhi oleh jumlah fibril otot, responden yang diberikan latihan ROM.
makin banyak fibril otot yang bekerja Hasil uji mannwhitney diperoleh nilai
maka kekuatan otot semakin besar. Asymp. Sig(2-tailed) = 0,042 < 0,05,
Perubahan anatomis pada otot yaitu maka Ho ditolak sehingga dapat
peningkatan jumlah miofibril, disimpulkan terdapat pengaruh latihan
peningkatan ukuran miofibril, range of motion(ROM) terhadap
peningkatan jumlah total protein peningkatan kekuatan otot lanjut usia di
kontraktil khususnya kontraktilmiosin, UPT pelayanan sosial lanjut usia
peningkatan kepadatan pembuluh (Pasuruan) Kec. Babat Kab. Lamongan.
kapiler dan peningkatan kualitas Selain itu, penelitian Mudrikhah (2012)
jaringan penghubung, tendon dan tentang pengaruh latihan Range Of
ligamen. Selain itu, peningkatan Motion aktifterhadap peningkatan
kekuatan otot juga disebabkan rentang gerak sendidan kekuatan otot
perubahan biokimia otot yaitu kaki pada lansia di Panti Wreda Dharma
peningkatan konsentrasi kreatin, Bakti Surakarta, dengan jumlah sampel
peningkatan konsentrasi kreatin fosfat 24 responden. Tabulasi silang pretest
dan ATP dan peningkatan glikogen, dan posttestkekuatan otot pada
serta perubahan sistem saraf sulit kelompok kontrol menunjukkan adanya
diidentifikasi secara akurat. Menurut peningkatan kekuatan otot antara
peneliti, dari pengertian diatas dapat pretestdengan posttest. Pada kekuatan
disimpulkan bahwa latihan ROM aktif otot kategori poor pada pretest terdapat
sangat bermanfaat bagi lansia terlebih 9 responden (9%) dan turun menjadi 3
lagi lansia dengan penyakit degeneratif responden (3%) pada posttest. Kategori
seperti osteoarthritis. fair pada pretest sebanyak 21 responden
Seperti yang dikemukakan (22%) turun menjadi 11 responden
Stanley &Beare (2006)dengan (11%) pada posttest.
pemeliharaan kekuatan otot dan Selanjutnya kategori good pada
fleksibilitassendi, latihan Range of pretest terdapat 53 responden (55%)
Motion(ROM) bisa meningkatkandan turun menjadi 29 responden (30%) pada
mempertahankan kekuatan otot dan posttest, dan pada kategori normal pada
fleksibilitassendi karena dari 10 sampai pretest sebanyak 13 responden (14%)
15% kekuatan otot dapathilang setiap meningkat menjadi 53 responden (55%)
minggu jika otot beristirahat pada posttest. Hasil uji marginal
sepenuhnya,dan sebanyak 5,5% dapat homogeneitytest menunjukkan nilai p-
value sebesar 0,000 < 0,05 maka Ho

50
Jurnal Akademika Baiturrahim M. Rasyid Ridha, Miko Eka Putri
Vol.4, No.2, November 2015

ditolak, sehingga terdapat perbedaan ekstremitas bawah yang cukup baik


kekuatan otot antara predan posttest dan 4 responden (26,7%) tidak
pada kelompok perlakuan. Maka dapat mengalami perubahan kekuatan otot.
disimpulkan terdapat pengaruh latihan 2. Setelah dilakukan latihan Range Of
Range Of Motion aktifterhadap Motion aktif, diketahui terdapat
peningkatan rentang gerak sendidan pengaruh latihan Range Of Motion
kekuatan otot kaki pada lansia di Panti aktif terhadap kekuatan otot
Wreda Dharma Bakti Surakarta. ekstremitas bawah pada lansia
Hasil penelitian ini sesuai dengan osteoarthritis di wilayah kerja
dengan penelitian Safaah (2013) dan PuskesmasKoni Kota Jambi dengan
Mudrikhah (2012), penelitian ini nilai p-value=0,000 artinya (p<0,05).
menunjukkan bahwa latihan Range Of
Motion aktif merupakan salah satu SARAN
latihan yang efektif terhadap
peningkatan kekuatan otot pada lansia, Diharapkan Puskesmas memasukkan
khususnya lansia dengan penyakit program senam ROM ini dalam kegiatan
degeneratifosteoarthritis. Tidak hanya post\yandu lansia. Diharapkan semua
itu latihan ini juga bermanfaat dilakukan lansia yang menderita Osteoartitis dapat
untuk lansia lainnya, dengan gerakan perlakuan yang sama.
yang mudah dan dapat dilakukan secara
mandiri dirumah. Sehingga perlu adanya DAFTAR PUSTAKA
upaya bagi pihak terkait untuk dapat
membuat suatu program latihan Range 1. Ambartana, Wayan I. 2010.
Of Motion(ROM) aktifbaik secara Hubungan Status Gizi Dengan
individual maupun secara berkelompok. Kekuatan Otot Lanjut Usia Di
Kelurahan Gianyar, Kabupaten
SIMPULAN Gianyar Provinsi Bali. JIG. 1 : 67 –
74. (diakses tanggal 17 Mei 2015)
Dari analisis dan pembahasan pada 2. Aspiani, Yuli Reny. 2014. Buku
penelitian ini dapat dikemukakan Ajar Asuhan KeperawatanGerontik.
beberapa kesimpulan sebagai berikut : Trans Info Media : Jakarta
1.Sebelum dilakukan latihan Range Of 3. Ayu, Afifka Diah., B. E. Warsito.
Motion aktif, berdasarkan hasil 2012. Pemberian Intervensi Senam
observasi nilai kekuatan otot Lansia Pada Lansia Dengan Nyeri
ekstremitas kanan bawah 1 Lutut. Jurnal NursingStudies. 1 :
responden (6,7%) dengan nilai 60-65. (diakses tanggal 17 April
kekuatan otot 2 (poor), 9 responden 2015)
(60%) dengan nilai kekuatan otot 3 4. Azizah, Ma’rifatul Lilik. 2011.
(fair), dan 5 responden (33,3%) Keperawatan Lanjut Usia. Graha
dengan nilai kekuatan otot 4 (good). Ilmu : Yogyakarta
Sedangkan untuk ekstremitas kiri 5. Clarkson, Hazel M. 2000.
bawah 2 responden (13,3%) dengan MusculoskeletalAssessment Joint
nilai kekuatan otot 2 (poor), 8 Range Of Motionand Manual
responden (53,3%) dengan nilai MuscleStrength. A WoltersKluwer
kekuatan otot 3 (fair) dan 5 Company : USA
responden dengan nilai kekuatan otot 6. Dinas Kesehatan Kota Jambi. 2015.
4 (good). Setelah dilakukan latihan Data Jumlah Kunjungan Penderita
Range Of Motion aktif, sebanyak 11 Arthritis di 20 Puskesmas di Kota
responden (73,3%) mengalami Jambi. Dinas Kesehatan Kota :
peningkatan kekuatan otot Jambi

51
Jurnal Akademika Baiturrahim M. Rasyid Ridha, Miko Eka Putri
Vol.4, No.2, November 2015

7. Fatimah. 2010. Merawat Manusia 19. Padila. 2013. Buku Ajar


Lanjut Usia. Trans Info Media : KeperawatanGerontik. Nuha
Jakarta Medika : Yogyakarta
8. Helmi, Noor Zairin. 2012. Buku 20. PuskesmasKoni. 2015. Data
Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jumlah Penderita Arthritis.
Salemba Medika : Jakarta PuskesmasKoni : Jambi
9. Hidayat, Alimul Aziz. 2008. Riset 21. Republik Indonesia. 1998. Undang-
Keperawatan dan Teknik Penulisan Undang Tentang Kesejahteraan
Ilmiah. Salemba Medika : Jakarta Lanjut Usia. Sekretariat Negara :
10. Kementerian Kesehatan RI. 2013. Jakarta
Buletin Jendela Data Dan 22. Safa’ah, Nurus. 2013. Pengaruh
Informasi Kesehatan : Gambaran Latihan Range Of Motion Terhadap
Kesehatan Lanjut Usia di Peningkatan Kekuatan Otot Lanjut
Indonesia. Kementerian Kesehatan Usia di UPT Pelayanan Sosial
RI : Jakarta (diakses tanggal 10 Lanjut Usia (Pasuruan) Kec. Babat
April 2015) Kab. Lamongan. Jurnal SainMed. 2
11. Kementerian Kesehatan RI. 2013. : 62-65. (diakses tanggal 29 Mei
Riset Kesehatan 2015).
Dasar2013.Kementerian Kesehatan 23. Saputra, Lyndon. 2013. Pengantar
RI : Jakarta (diakses tanggal 24 Kebutuhan Dasar Manusia.
Maret 2015) Binapura Aksara Publisher :
12. Kementerian Kesehatan RI. 2010. Tanggerang Selatan
Pedoman Pembinaan Kesehatan 24. Smeltzer, Suzanne C., Bare, Brenda
Lanjut Usia Bagi Petugas G. 2002.Buku Ajar
Kesehatan. Kementerian Kesehatan KeperawatanMedikal Bedah
RI : Jakarta Brunner dan Suddarth. EGC :
13. Kushariyadi. 2010. Asuhan Jakarta
Keperawatan Pada Klien Lanjut 25. Stanley, Mickey., Beare,
Usia. Salemba Medika : Jakarta GautlettPatricia. 2006. Buku Ajar
14. Kozier, Barbara., G. Erb., A. KeperawatanGerontik(Edisi 2).
Berman., S. Snyder. 2009. Buku EGC : Jakarta
Ajar Praktek Keperawatan Klinis 26. STIKBA. 2010. Pedoman
Edisi 5. EGC : Jakarta Penulisan Skripsi. Sekolah Tinggi
15. Maryam, Siti., M.F. Ekasari., Ilmu Kesehatan Baiturrahim :
Rosidawati., A. Jubaedi., I. Jambi.
Batubara. 2008. Mengenal Usia 27. Sugiyono. 2014. Metode Penelitian
Lanjut dan Perawatannya.Salemba Manajemen. Alfa Beta : Bandung
Medika : Jakarta 28. Suhendriyo. 2014. Pengaruh senam
16. Nainggolan, Olwin. 2009. rematik terhadap pengurangan
Prevalensi dan Determinan rasa nyeri pada penderita
Penyakit Rematik di Indonesia. osteoarthritis lutut di Karangasem,
Artikel Penelitian. 12 : 588 – 594. Surakarta. Jurnal Terpadu Ilmu
(diakses tanggal 24 Maret 2015) Kesehatan. 1 : 1-6. (diakses tanggal
17. Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. 24 Maret 2015).
Metodologi Penelitian Kesehatan.
Rineka Cipta : Jakarta
18. Nugroho, Wahid. 2008.
KeperawatanGerontik dan
Geriatrik. EGC : Jakarta

52