You are on page 1of 25

BAB I

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Bapak M
Jenis kelamin : Laki-laki
Tanggal lahir :
Usia : 79 tahun
Tempat tinggal : Karawaci
Status pernikahan : Sudah menikah
Pekerjaan : Pensiun

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis terhadap pasien pada tanggal 18 februari
2019 pukul 15.30 di ruang poliklinik lantai 2 Rumah Sakit Umum Siloam

Keluhan Utama
Pandangan kedua mata buram sejak 1 tahun SMRS

Keluhan Tambahan
Kedua mata sering terasa silau sejak 1 tahun SMRS
Mata kadang terasa gatal dan berair

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang dengan keluhan pandangan buram pada kedua mata sejak 1 tahun
SMRS. Pasien mendeskripsikan pandangannya seperti berkabut yang mengganggu
pengelihatan pasien. Pandangan buram mengganggu aktivitas pasien yang hobi
membaca.
Pasien juga mengeluhkan kedua matanya yang terasa lebih silau dari biasanya
sejak 2 minggu terutama apabila saat keluar rumah di siang hari, dan pasien merasa
lebih nyaman saat melihat di ruangan yang sinarnya lebih redup. Selain itu pasien juga
mengeluhkan matanya yang terkadang terasa gatal dan berair dan kotoran mata.
Selain keluhan-keluhan yang sudah disebutkan, pasien menyangkal adanya
gejala mata merah, nyeri, pusing, maupun mual dan muntah.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien tidak pernah memiliki gejala serupa sebelumnya. Pasien memiliki riwayat
diabetes mellitus sejak 34 tahun yang lalu lebih tepatnya tahun 1985. Pasien mengaku
mengonsumsi obat glimapirid dan metformin namun gula darah sewaktu pasien 2 hari
sebelum masuk rumah sakit menunjukkan angka >300. Pasien memiliki riwayat
operasi usus buntu 50 tahun yang lalu. Pasien tidak memiliki riwayat hipertensi. Pasien
juga tidak memiliki riwayat trauma, mata merah berulang, asma, tuberkulosis maupun
alergi.

Riwayat Penyakit Keluarga


Istri pasien mengeluhkan keluhan yang mirip dengan pasien dan telah di
diagnosis katarak pada kedua matanya dengan 1 mata telah dilakukan tindakan operasi.
Pasien menyangkal memiliki anggota keluarga lainnya dengan keluhan serupa.
Keluarga pasien tidak ada yang memiliki riwayat hipertensi, maupun glaucoma.

Riwayat Sosial dan Kebiasaan


Pasien adalah seorang pensiunan, sebelumnya semasa muda pasien bekerja di
pengadilan. Keseharian pasien saat ini berada di rumah melakukan pekerjaan rumah
yang ringan dengan hobi membaca .Riwayat merokok, mengkonsumsi alkohol maupun
obat-obatan terlarang disangkal oleh pasien.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status Generalis
● Keadaan umum: tampak sakit ringan
● Tingkat kesadaran: compos mentis
● GCS: 15

Status Oftalmologi
OD Inspeksi OS

OD Visual Aquity OS

20/70 20/100

OD Gerak Bola Mata OS

+ Nasal +

+ Temporal +

+ Superior +
+ Inferior +

+ Nasal Superior +

+ Nasal Inferior +

+ Temporal Superior +

+ Temporal Inferior +

OD Kedudukan Bola Mata OS

Orthoporia Posisi Orthoporia

Tidak ada Eksoftalmus Tidak ada

Tidak ada Enoftalmus Tidak ada

Tidak ada Eksotropia Tidak ada

Tidak ada Esotropia Tidak ada

Tidak ada Eksoforia Tidak ada

OD Palpebra Superior OS

Tidak ada Edema Tidak ada

Tidak ada Merah/Ekimosis Tidak ada

Tidak ada Benjolan/Tumor Tidak ada

Tidak ada Ptosis Tidak ada


Tidak ada Pseudoptosis Tidak ada

Tidak ada Lagoftalmus Tidak ada

Tidak ada Blefarospasm Tidak ada

Tidak ada Entropion Tidak ada

Tidak ada Ektropion Tidak ada

Tidak ada Trikiasis Tidak ada

Tidak ada Abses Tidak ada

Tidak ada Madarosis Tidak ada

Tidak ada Xanthelasma Tidak ada

OD Palpebra Inferior OS

Tidak ada Edema Tidak ada

Tidak ada Merah/Ekimosis Tidak ada

Tidak ada Benjolan/Tumor Tidak ada

Tidak ada Ptosis Tidak ada

Tidak ada Pseudoptosis Tidak ada

Tidak ada Lagoftalmus Tidak ada

Tidak ada Blefarospasm Tidak ada

Tidak ada Entropion Tidak ada

Tidak ada Ektropion Tidak ada

Tidak ada Trikiasis Tidak ada


Tidak ada Abses Tidak ada

Tidak ada Madarosis Tidak ada

Tidak ada Xanthelasma Tidak ada

OD Area Lakrimal dan OS


Pungtum Lakrimal

Tidak ada Edema Tidak ada

Tidak ada Hiperemi Tidak ada

Tidak ada Fistula Tidak ada

Tidak ada Benjolan/Tumor Tidak ada

Tidak ada Lakrimasi Tidak ada

Tidak ada Epifora Tidak ada

Tidak ada Sekret Tidak ada

Tidak ada Hipersekresi Tidak ada

OD Konjungtiva Tarsalis OS
Superior

Tidak ada Lithiasis Tidak ada

Tidak ada Hordeolum Tidak ada

Tidak ada Kalazion Tidak ada


Tidak ada Membran Tidak ada

Tidak ada Pseudomembran Tidak ada

Tidak ada Papil/Giant Papil Tidak ada

Tidak ada Folikel/Cobble Stone Tidak ada

Tidak ada Simblefaron Tidak ada

Tidak ada Hiperemis Tidak ada

Tidak ada Pucat Tidak ada

OD Konjungtiva Tarsalis OS
Inferior

Tidak ada Lithiasis Tidak ada

Tidak ada Hordeolum Tidak ada

Tidak ada Kalazion Tidak ada

Tidak ada Membran Tidak ada

Tidak ada Pseudomembran Tidak ada

Tidak ada Papil/Giant Papil Tidak ada

Tidak ada Folikel/Cobble Stone Tidak ada

Tidak ada Simblefaron Tidak ada

Tidak ada Hiperemis Tidak ada

Tidak ada Pucat Tidak ada


OD Konjungtiva Bulbi OS

Tidak ada Sekret Tidak ada

Tidak ada Kemosis Tidak ada

Tidak ada Papil Tidak ada

Tidak ada Folikel Tidak ada

Tidak ada Perdarahan Subkonjungtiva Tidak ada

Tidak ada Injeksi Siliar Tidak ada

Tidak ada Injeksi Episklera Tidak ada

Tidak ada Injeksi Perikorneal Tidak ada

Tidak ada Injeksi Konjungtiva Tidak ada

Tidak ada Pinguekula Tidak ada

Tidak ada Tumor dan Nevus Tidak ada

Tidak ada Selaput Tidak ada

OD Sklera OS

Tidak ada Nodul Tidak ada

Tidak ada Warna Tidak ada

Tidak ada Stafiloma Tidak ada

Tidak ada Ruptur Tidak ada

OD Kornea OS
Jernih Kejernihan Jernih

Tidak ada Gambaran Kelainan Tidak ada

Ada Arkus Senilis Ada

Tidak ada Edema Tidak ada

Tidak ada Korpus Alienum Tidak ada

Tidak dilakukan Tes Fluoresein Tidak dilakukan

Tidak ada Tes Sensibilitas Tidak ada

(Refleks Kornea)

Tidak ada Nebula Tidak ada

Tidak ada Makula Tidak ada

Tidak ada Leukoma Tidak ada

Tidak ada Stafiloma Tidak ada

Tidak ada Perforasi Tidak ada

Tidak ada Vesikel/Bula Tidak ada

Tidak ada Ulkus Tidak ada

OD COA OS

Dalam Kedalaman Dalam

Tidak ada Flare Tidak ada

Tidak ada Hipopion Tidak ada


Tidak ada Hifema Tidak ada

OD Iris OS

Coklat tua Warna Coklat tua

Tidak ada Atrofi Tidak ada

Tidak ada Sinekia Anterior Tidak ada

Tidak ada Sinekia Posterior Tidak ada

Tidak ada Gambaran Radier Tidak ada

Tidak ada Iris Tremulens Tidak ada

Tidak ada Iris Bombe Tidak ada

Tidak ada Iridodialisis Tidak ada

OD Pupil OS

Ada Refleks Cahaya Langsung Ada

Ada Refleks Cahaya Tak Ada


Langsung

Tidak ada RAPD Tidak ada

Bulat Bentuk Bulat

3 mm Ukuran 3 mm

Sentral Letak Sentral

Isokoria Isokoria/Aniskoria Isokoria

Tidak ada Oklusio Tidak ada

Tidak ada Seklusio Tidak ada


Tidak ada Leukoria Tidak ada

OD Lensa OS

Keruh Kejernihan Keruh

Positif Shadow Test Positif

Sentral Letak Lensa Sentral

Tidak ada Refleks Kaca Tidak ada

OD Badan Kaca OS

Jernih Kejernihan Jernih

Tidak ada Flare Tidak ada

Tidak ada Sel Radang Tidak ada

Tidak ada Sel Darah Merah Tidak ada

Tidak ada Fibrosis Tidak ada

OD Funduskopi OS

+ Refleks Fundus +

Tidak pucat Warna Papil Tidak pucat

Batas Tegas Batas Papil Batas Tegas

0.3 Cup/Disc Ratio 0.3

2:3 Arteri/Vena Ratio 2:3

Normal Makula Lutea Normal

OD Tekanan Bola Mata OS

Tidak dilakukan Tonometri Schiotz Tidak dilakukan


N/P Tonometri Digital N/P

12 Tonometri Non-Kontak 13

OD Tes Konfrontasi OS

Sama dengan pemeriksa Lapang Pandang Sama dengan pemeriksa

Tes Buta Warna (Ishihara)


Normal (tidak buta warna)

Foto Mata Pasien


Dilakukan Shadow Test pada kedua mata pasien

OD OS

IV. RESUME
VI. DIAGNOSIS KERJA
Katarak Senilis Imatur ODS
VII. SARAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
● Pemeriksaan laboratorium lengkap (CBC, BT, CT, GDS)
● Biometri
● Funduskopi
● Retinoskopi
VIII. TATALAKSANA
Medikamentosa
● Noncort 0.6 ml ED 6 dd gtt 1 (3 hari sebelum operasi)
● Lefofloxacin 0.6 ml ED 6 dd gtt 1 (3 hari sebelum operasi)
Non-Medikamentosa
● Edukasi pasien untuk menggunakan pelindung mata terutama saat keluar dari
rumah untuk mengurangi gejala silau dan melindungi mata dari partikel debu
● Edukasi pasien mengenai persiapan dan prosedur operasi
● Edukasi pasien mengenai prognosis dan resiko komplikasi dari operasi
Tindakan
● Ekstraksi katarak OD/OS dengan implant IOL OD/OS dalam General Anestesi

IX. PROGNOSIS
Ad vitam ODS : Bonam
Ad functionam ODS : Dubia ad bonam
Ad sanationam ODS : Dubia ad bonam
Ad comesticam ODS : Dubia ad bonam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi

Lensa mata merupakan sebuah struktur bikonveks bersifat transparan dan avaskuler
yang terletak di belakang iris dan pupil yang digantung oleh zonula zinn atau
suspensory ligament. Lensa merupakan organ pengelihatan yang berfungsi untuk
memfokuskan cahaya yang masuk ke mata agar sampai ke macula. Lensa merupakan
struktur yang avascular dimana nutrisi dan ekskresi hasil metabolism lensa
berlangsung melalui aqueous humor di sekitarnya. Pada orang dewasa diameternya
adalah 9mm dan ketebaan anteroposteriornya sekitar 5mm.
Lensa terdiri dari beberapa bagian yaitu kapsul, lapisan epitel, korteks dan nukleus.
Kapsul lensa adalah lapisan elastis dan transparan yang terdiri dari kolagen tipe IV.Sel
hidup pada lensa hanya terdapat pada bagian epitel lensa yang terdapat dibawah kapsul
bagian anterior. Sel epitel ini akan bermitosis dan pada bagian ekuator berelongasi
memanjang menjadi serat lensa yang membentuk korteks lensa dengan bagian tengah
yang semakin padat membentuk nucleus. Sejalan dengan pertambahan usia, komponen
protein pada lensa akan berubah sehingga indeks refraksi dan kejernihannya pun
berubah.

Definisi
Katarak didefinisikan sebagai kekeruhan pada lensa mata oleh sebab apapun
yang mengakibatkan berkurangnya cahaya yang diterima oleh retina. Berkurangnya
cahaya yang diterima retina dapat menyebabkan gangguan pada tajam pengelihatan.
Penyakit ini termasuk dalam kategori mata tenang dengan visus turun perlahan, dan
merupakan penyebab kebutaan nomor 1 di indonesia. Survei kesehatan pengelihatan
dan pendengaran oleh Depkes RI tahun 1993-1996 menunjukkan bahwa angka
kebutaan di Indonesia adalah 1,5% dengan penyebab utama yaitu katarak (0,78%).
Klasifikasi
Katarak dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa aspek, seperti dari segi
usia terkenanya katarak, etiologi, morfologi dan juga maturitasnya.
Dari segi usia, katarak dapat terbagi atas:
● Katarak kongenital: kekeruhan lensa yang sudah didapat sejak lahir
● Katarak juvenil: katarak pada balita hingga dewasa muda
● Katarak pre-senilis: katarak pada usia 30 - <50 tahun
● Katarak senilis: kekeruhan lensa yang terjadi akibat proses fisiologis seiring
dengan bertambahnya usia. Biasanya akan terjadi pada umur 50 tahun ke atas
Dari segi etiologinya, katarak dapat terbagi atas:
● Katarak herediter
● Katarak akibat infeksi maternal
● Katarak akibat pengobatan
● Katarak metabolik
● Katarak komplikata
● Katarak traumatik

Dari segi morfologi, katarak terbagi atas:


● Katarak nuklearis
Katarak nuklearis terjadi akibat adanya pertumbuhan serat-serat korteks ke arah
nukleus yang lama kelamaan menyebabkan sklerosis. Hal ini ditandai dengan
perubahan warna lensa menjadi kuning. Katarak ini juga dikaitkan dengan
adanya agregasi protein yang menyebabkan kekeruhan lensa. Progresivitas
katarak nuklearis tergolong lambat dan biasanya merupakan tipe katarak yang
paling dihubungkan dengan bertambahnya usia. Akibat meningkatnya indeks
refraksi lensa, biasanya pasien akan mengalami miopisasi. Pada penderita
presbiopia, seringkali dirasakan pandangan dekat menjadi lebih baik akibat
adanya miopisasi. Hal ini disebut sebagai ‘second sight’. Pada beberapa kasus
dapat terjadi mononuklear diplopia akibat perbedaan indeks refraksi yang jauh
antara nukleus dan korteks. Apabila sudah memasuki tahap yang lebih parah,
nukleus dapat berubah warna menjadi merah (katarak nuklearis rubra), coklat
(katarak nuklearis brunescent) atau hitam (katarak nuklearis nigra).

Gambar 2. Katarak Nuklearis4


● Katarak kortikalis
Katarak kortikalis adalah kekeruhan pada perifer korteks lensa yang berbentuk seperti
jari-jari roda dan bertumbuh ke arah sentral. Beberapa penelitian menemukan
bahwa pada katarak kortikalis, terdapat penurunan aktivitas pompa Na+/K+
ATPase yang menyebabkan retensi natrium di dalam lensa. Akibatnya akan
terjadi penarikan molekul air dan terjadi overhidrasi lensa. Hal ini
menyebabkan terbentuknya celah dan vakuola di sela-sela serat lensa yang
berujung pada kekeruhan. Katarak ini biasanya bersifat bilateral namun
seringnya asimetris. Gejala yang muncul biasanya adalah rasa silau atau glare,
contohnya saat melihat lampu mobil di malam hari. Progresivitas dari katarak
kortikalis sangat bervariasi, dimana pada beberapa kasus kekeruhan korteks
terjadi secara cepat namun di sisi lain ada yang progresivitasnya lambat.
Gambar 3. Katarak Kortikalis4

● Katarak subkapsularis
Tipe katarak ini biasanya ditemukan pada pasien-pasien yang lebih muda dibandingkan
katarak kortikalis atau nuklearis. Kekeruhannya terdapat pada korteks di dekat
kapsul posterior bagian sentral, dan biasanya pada awal akan menimbulkan
gangguan pengelihatan karena adanya keterlibatan sumbu pengelihatan.
Penyebab tersering dari katarak subkapsularis selain karena faktor usia adalah
konsumsi steroid dalam jangka panjang, trauma serta radiasi. Gejala yang
seringkali dijumpai adalah rasa silau yang berlebihan saat melihat cahaya.

Gambar 4. Katarak Subkapsularis4


Dari segi maturitas, katarak terbagi atas:
● Katarak insipien
Stadium dimana kekeruhan lensa berupa bercak-bercak teratur. Kekeruhan biasanya
mulai dari perifer lensa yaitu di korteks anterior dengan bagian tengah yang
masih jernih. Kekeruhan akan lebih jelas terlihat apabila pupil pasien
dilebarkan dengan midriasil. Tajam pengelihatan pasien pada stadium ini
biasanya masih bagus yaitu 20/20 apabila tidak ada kelainan refraksi.

● Katarak imatur
Stadium dimana pada lensa sudah nampak kekeruhan namun belum terjadi secara
keseluruhan. Saat dilakukan pemeriksaan shadow test, hasilnya akan positif
karena adanya bayangan iris yang jatuh di lensa. Lensa biasanya mulai menjadi
cembung karena adanya peningkatan tekanan osmotik, sehingga pada beberapa
kasus terjadi miopisasi. Lensa yang cembung juga dapat mengakibatkan bilik
anterior mata menjadi dangkal dan penyempitan sudut bilik mata.

● Katarak matur
Kekeruhan sudah mengenai seluruh bagian lensa. Hal ini diakibatkan karena adanya
deposisi ion kalsium. Lensa mata biasanya sudah tidak cembung lagi karena
tekanan osmotik lensa dengan cairan sekitar sudah seimbang. Pada stadium ini
shadow test yang dilakukan akan menunjukkan hasil negatif karena kekeruhan
lensa sudah terjadi secara menyeluruh, sehingga bayangan iris tidak akan
nampak pada lensa.

● Katarak hipermatur
Pada stadium ini sudah terjadi degenerasi kapsul sehingga menyebabkan isi korteks
keluar dari kapsul lensa dan masu ke bilik depan mata. Hal ini menyebabkan
lensa menjadi lebih kecil, berwarna kuning dan kering. Pada keadaan lensa
dengan kapsul tebal, korteks yang menjadi cair tidak dapat keluar dan akan
membantuk eperti gambaran kantong susu. Hal ini dapat menyebabkan
tenggelamnya nukleus ke arah inferior, dan keadaan ini dinamakan sebagai
katarak morgagnian.

Derajat Katarak

Gambar 5. Derajat Katarak Berdasarkan Morfologi4


Derajat Katarak Secara Umum
● Derajat 1: nukleus lunak, biasanya visus masih lebih baik dari 6/12, tampak
sedikit kekeruhan dengan warna agak keputihan. Refleks fundus masih mudah
diperoleh. Usia penderita biasanya kurang dari 50 tahun.
● Derajat 2: Nukleus dengan kekerasan ringan, biasanya visus antara 6/12 - 6/30,
tampak nukleus mulai sedikit berwarna kekuningan. Refleks fundus masih
mudah diperoleh.
● Derajat 3: Nukleus dengan kekerasan sedang, biasanya visus antara 6/30 - 3/60,
tampak nukleus berwarna kuning disertai kekeruhan korteks yang berwarna
keabu-abuan.
● Derajat 4: Nukleus keras, biasanya visus antara 3/60 - 1/60, tampak nukleus
berwarna kuning kecoklatan. Refleks fundus sulit untuk dinilai.
● Derajat 5: Nukleus sangat keras, biasanya visus hanya 1/60 atau lebih buruk.
Usia penderita sudah di atas 65 tahun. Tampak nukleus berwarna kecoklatan
bahkan sampai kehitaman. Katarak ini sangat keras dan disebut sebagai katarak
brunescence atau katarak nigra.

Manifestasi Klinis
Penderita katarak biasanya mengeluhkan adanya pengelihatan yang buram seperti
terhalang kabut yang tidak dapat diperbaiki dengan penggunaan kacamata. Sebelum
lensa mengeruh, proses penuaan pada lensa akan menyebabkan lensa bertambah tebal
sehingga terjadi miopisasi akibat titik focus yang “tertarik” ke depan retina. Hal
tersebut membentuk gejala khas yang disebut sebagai second sight, dimana penderita
presbiopia tidak lagi membutuhkan kacamata untuk melihat dekat namun pandangan
jauh menjadi buram.
Kekeruhan yang tidak merata pada lensa dapat menyebabkan perubahan indeks refraksi
yang dapat menimbulkan gejala melihat ganda atau diplopia. Bentuk diplopia yang
terjadi adalah diplopia monocular dimana jika satu mata ditutup, bayangan ganda tidak
hilang. Selain itu kekeruhan yang tidak merata juga mengakibatkan cahaya yang masuk
difokuskan terpencar-pencar pada retina sehingga menimbulkan silau (glare) pada
penderita katarak.

Faktor risiko
Diabetes mellitus merupakan salah satu faktor risiko dari katarak. Lensa mata adalah
organ avaskuler yang terletak di bilik mata belakang dan dibagian depan dikelilingi
oleh cairan akuos. Cairan akuos ini merupakan sumber nutrisi bagi lensa dan juga
berfungsi sebagai penampung hasil metabolit yang diekskresi oleh jaringan sekitarnya.
Berbeda dengan pada sel yang lain glukosa dapat masuk ke dalam lensa mata dengan
bebas, melalui proses difusi tanpa bantuan insulin. Di dalam lensa pemecahan glukosa
sebagian besar (78%) melalui jalur glikolisis anaerobik, 14% melalui jalur pentosa
fosfat dan sekitar 5% melalui jalur poliol. Pada kondisi hiperglikemia, jalur glikolisis
anaerobik cepat jenuh, dan glukosa akan memilih jalur poliol. Pada jalur poliol glukosa
dirubah menjadi sorbitol yaitu bentuk alkoholnya. Disini seharusnya kemudian sorbitol
dipecah menjadi fruktosa oleh enzym Polyol Dehydrogenase, namun pada Diabetes
Mellitus kadar enzym Polyol Dehydrogenase rendah sehingga sorbitol menumpuk di
dalam lensa mata. Hal ini menyebabkan terjadinya kondisi hipertonik yang akan
menarik masuk cairan akuos ke dalam lensa mata, merusak arsitektur lensa dan
terjadilah kekeruhan lensa.(1) selain itu rokok berperan dalam pembentukan katarak
melalui dua cara yaitu, pertama paparan asap rokok yang berasal dari tembakau dapat
merusak membrane sel dan serat yang ada pada mata. Kedua yaitu, merokok dapat
menyebabkan antioksidan dan enzim-enzim di dalam tubuh mengalami gangguan
sehingga dapat merusak mata (Ulandari, 2014). Merokok menyebabkan penumpukan
molekul berpigmen 3- hydroxikhynurinine dan chomophores yang menyebabkan
terjadinya penguningan warna lensa. Sianat dalam rokok juga menyebabkan terjadinya
karbamilasi dan denaturasi protein. (2)

Tatalaksana
Pengobatan definitive yang merupakan pilihan terbaik untuk memperbaiki fungsi
pengelihatan pada penderita katarak adalah melalui operasi katarak. Prinsip dari
operasi katarak adalah dengan mengeluarkan lensa yang keruh dan menggantinya
dengan implan yang disebut dengan intra ocular lens (IOL).
Teknik operasi katarak paling mutakhir saat ini adalah dengan teknik fakoemulsifikasi
dimana operasi berlangsung menggunakan mesin yang bekerja berdasarkan getaran
ultrasound untuk memecah-mecah lensa menjadi fragmen berukuran lebih kecil untuk
kemudian diaspirasi.

Mata kering
Dry Eye(mata kering) adalah kelainan multifaktorial dari tear film yang menimbulkan
gejala berupa rasa tidak nyaman (nyeri, mengganjal, dan mudah iritasi), gangguan
penglihatan dan ketidakstabilan lapisan air mata dengan potensi kerusakan di
permukaan mata (kornea). Dry eye dapat disertai dengan adanya peradangan pada
kornea dan peningkatan osmolaritas air mata.

Dry eye dapat terjadi akibat 3 mekanisme ini:

a. Kerusakan kelenjar Meibom


MGD adalah kondisi tersumbatnya kelenjar Meibom yang berperan menghasilkan
lapisan minyak pada air mata dan penyebab tersering dry eye. Persentase MGD
pada populasi Asia lebih besar dibandingkan populasi lainnya yakni mencapai 46%
hingga 70%. Hal ini dipengaruhi oleh suhu lingkungan, kelembapan atau humidity,
dan juga kualitas udara yang berbeda di Asia dibandingkan wilayah lainnya.

b. Penguapan air mata berlebih atau evaporative dry eye (EDE)


EDE merupakan kondisi dimana terjadi peningkatan penguapan air mata akibat
ketidakstabilan lapisan minyak air mata atau akibat faktor eksternal lainnya.

c. Penurunan produksi air mata atau aqueous deficient dry eye (ADDE)
ADDE merupakan keadaan dimana terjadi penurunan produksi komponen aqueous
antara lain dapat disebabkan oleh penyakit autoimmune atau kondisi lainnya.

Gejala mata kering


a. Rasa terbakar, perih dan kering pada mata
b. Mata merah
c. Penglihatan tidak tajam/fokus
d. Mudah silau dan sensitif terhadap cahaya
e. Mata berair secara berlebihan
f. Mata mudah lelah dan pegal

ANALISA KASUS

Pasien datang dengan keluhan pandangan buram pada kedua mata sejak
1 tahun sebelum masuk rumah sakit. Pasien mendeskripsikan pandangannya seperti
berkabut yang mengganggu pengelihatan pasien. Pandangan buram mengganggu
aktivitas pasien yang hobi membaca. Dari

Pasien datang dengan keluhan mata kanan buram sejak 6 bulan lalu, disertai
dengan gejala tambahan buram pada mata kiri sejak 9 bulan lalu walaupun tidak
separah kanan dan silau pada kedua mata sejak 6 bulan lalu. Pada kasus ini, pasien juga
mengalami fenomena second sight, yaitu keadaan dimana pandangan jarak dekat
pasien membaik, sehingga pasien dapat melihat obyek yang jaraknya dekat tanpa harus
menggunakan kacamata. Pandangan kabur dideskripsikan seperti melihat kabut dan
progresivitasnya dikatakan lambat. Dari hasil anamnesis, diagnosis katarak sudah dapat
dicurigai karena memiliki gejala yang sesuai dengan literatur. Pandangan seperti
berkabut disebabkan karena adanya kekeruhan pada lensa yang tadinya transparan.
Pada kasus ini, katarak tipe nuklearis lebih dicurigai karena beberapa faktor.
Walaupun keluhan seperti pandangan berkabut dan silau merupakan gejala
umum dari semua tipe katarak, namun pasien juga mengeluhkan adanya second sight,
keadaan dimana pasien mengalami miopisasi. Miopisasi dapat terjadi karena adanya
peningkatan indeks refraksi dari lensa karena adanya agregasi protein pada bagian
tengah lensa yaitu nukleus. Selain itu, berdasarkan beberapa penelitian memang
dikatakan bahwa katarak nuklearis adalah tipe yang paling erat kaitannya dengan
proses pertambahan usia.
Setelah melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik mata dilakukan pada Ny. YR
untuk mendapatkan status oftalmologi yang lengkap. Pada pemeriksaan, ditemukan
adanya arkus senilis pada kornea yang merupakan proses fisiologis deposisi kolesterol
dan lemak di stroma lensa yang sering terjadi pada orang tua. Ditemukan juga
kekeruhan pada lensa kedua mata pasien, serta pada shadow test ditemukan hasilnya
positif. Shadow test merupakan pemeriksaan simpel yang dilakukan untuk melihat
apakah terdapat bayangan iris yang jatuh pada lensa. Shadow test positif dapat
menandakan adanya katarak stadium imatur, dimana kekeruhan lensa belum terjadi
secara menyeluruh sehingga bayangan masih dapat terlihat.
Untuk mendiagnosis katarak, tidak cukup hanya dengan senter namun harus
menggunakan slit lamp. Slit lamp merupakan alat yang digunakan untuk
mengobservasi organ mata secara detail agar dapat mendeteksi abnormalitas di mata.
Pada Ny. YR sudah dilakukan slit lamp dan hasilnya adalah kekeruhan pada sebagian
lensa mata kanan dan kiri, sehingga diagnosis dapat dikonfirmasi. Walau begitu,
pemeriksaan penunjang lainnya perlu dilakukan. Pemeriksaan biometri disarankan
untuk memeriksa panjang aksial bola mata secara akurat dan untuk menentukkan
kekuatan lensa intraokular yang akan ditanamkan pada pasien. Retinoskopi dapat
dilakukan untuk memeriksa kelainan refraksi pada pasien terutama apabila terjadi
miopisasi atau diplopia, sedangkan funduskopi disarankan untuk dilakukan untuk
memeriksa apakah pasien memiliki retinopati hipertensi, mengingat pasien memiliki
riwayat hipertensi. Selain itu dapat dilakukan pakimetri yang berguna untuk mengukur
ketebalan kornea yang secara tak langsung mengukur fungsi endotel. Pada anamnesis,
Ny. YR menyangkal adanya riwayat penyakit metabolis seperti diabetes melitus atau
riwayat mata merah berulang, riwayat trauma, konsumsi obat-obatan terutama steroid
dalam jangka lama dan paparan radiasi sehingga diagnosis banding seperti katarak
metabolik, katarak traumatis dan katarak komplikata dapat disingkirkan. Untuk
menentukan derajat kematangan katara, digunakan slit lamp dan hasilnya menunjukkan
bahwa kekeruhan belum menyeluruh sehingga diagnosis untuk pasien adalah Katarak
Senilis Imatur pada mata kanan dan kiri.
Terapi definitif dari katarak adalah operasi, sehingga pada pasien ini pun disarankan
untuk melakukan operasi ekstraksi katarak dengan pemasangan implant IOL dalam
anestesi general. Pasien disarankan untuk dibius total karena adanya riwayat operasi
skoliosis 3 bulan lalu, sehingga akan tidak nyaman apabila pasien harus berbaring di
meja operasi dengan keadaan sadar. Operasi katarak hanya boleh dilakukan 1 kali
dalam jeda waktu 3 minggu, untuk memberi kesempatan bagi mata yang sudah
dioperasi untuk rekoveri terlebih dahulu. Pada pasien ini, dilakukan operasi pada mata
kanan terlebih dahulu karena dikatakan lebih mengganggu dibandingkan yang kiri. 3
hari sebelum operasi, pasien harus meminum antibiotik Noncort dan Lefofloxacin
sebagai terapi profilaksis sebelum operasi. Edukasi juga merupakan faktor yang
penting di dalam tatalaksana katarak. Pasien disarankan menggunakan kacamata untuk
mengurangi gejala silaunya dan melindungi mata dari debu, selain itu edukasi
mengenai persiapan dan prosedur operasi perlu dilakukan agar pasien dapat mengerti
lebih jelas. Ny. YR tidak memiliki penyakit penyulit sehingga prognosis penyakitnya
adalah bagus