You are on page 1of 4

Setelah Nabi wafat kepemimpinan dipegang Abu Bakar dengan kepatuhan

dan disiplin yang tetap dipertahankan.

Abu Bakar bin Abu Quhafah, turunan bani Taim.. Sejak muda Abu Bakar
telah dikenal dengan budi luhurnya yang tinggi dan perangai- nya yang terpuji.
Dia sanggup menyediakan segala bekal rumah- tangganya dengan usahanya
sendiri. Tatkala telah ditetapkan beliau menjadi Nabi, maka Abu Bakarlah laki-
laki dewasa yang mula-mula sekali mempercayainya. Rasulullah paling sayang dan
cinta kepada sahabatnya itu, karena dia merupakan sahabat yang setia dan hanya
satu-satunya orang dewasa tempatnya mesyuarat di waktu pejuangan dengan
kaum Quraisy sangat hebatnya.

Abu Bakar merupakan orang yang cerdas, Pada suatu waktu, Rasulullah SAW
berkhutbah, ”Sesungguhnya, setiap manusia Allah SWT berikan dua pilihan
antara hidup di dunia dan melakukan apa pun sesuai kehendaknya, lalu memakan
apa pun yang ia inginkan, atau bertemu Tuhannya.”

Mendengar khutbah itu, Abu Bakar meneteskan air mata. Salah seorang sahabat
lain berkomentar, ”Apakah kalian tidak kagum melihat Abu Bakar yang saleh ini,
ketika Rasulullah SAW dalam khutbahnya mengatakan bahwa manusia itu diberi
dua pilihan, antara memilih dunia atau lebih memilih bertemu dengan Tuhannya,
Abu Bakar lebih memilih Tuhannya?”

Semua sahabat mengetahui bahwa Abu Bakar adalah salah seorang sahabat yang
paling memahami apa yang Rasulullah SAW sabdakan. Tidak lama kemudian, Abu
Bakar mendekati Rasulullah SAW dan berkata, ”Wahai Rasulullah, tidak hanya
memilih bertemu dengan Allah, saya bahkan akan mendarmabaktikan diri dan
hartaku untukmu.”

Mendengar perkataan Abu Bakar, Rasulullah SAW lalu bersabda, ”Rasanya tidak
ada seorang pun yang lebih amanah dalam persahabatan dan tanggung jawab
terhadap hartanya, selain Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar). Seandainya aku akan
menjadikan seseorang sebagai teman sejati, maka akan aku pilih Ibnu Abu
Quhafah.” (HR Tirmidzi dari Abu al-Mu’alla).
Apa yang membuat Rasulullah SAW menyanjung Abu Bakar?

Pertama, dalam sejarah, Abu Bakar adalah orang yang paling dekat dengan Nabi
SAW. Ia pula yang menemani Nabi SAW menyusuri padang pasir, keluar dari
Makkah menuju Madinah. Ia pula yang mengkhawatirkan keselamatan Nabi SAW
sewaktu di Gua Hira. Kecintaannya kepada Rasulullah SAW menjadikannya rela
memberikan apa pun demi Rasulullah SAW dan perjuangan Islam.

Kedua, Abu Bakar adalah sosok yang paling dermawan dalam membelanjakan
harta bendanya di jalan Allah SWT. Dalam satu riwayat yang lain, Umar bin
Khathab pernah bercerita, ”Suatu saat kami pernah diperintahkan oleh
Rasulullah SAW untuk mendermakan harta kami. Kebetulan aku memiliki harta,
dan aku bertekad untuk bisa melampaui kedermawanan Abu Bakar.”

Umar langsung membawa harta miliknya ke hadapan Rasulullah SAW. Melihat


kedatangan Umar, beliau bertanya, ”Apakah engkau menyisakan hartamu untuk
keluargamu, ya Umar?” Umar dengan cepat menjawab, ”Ya, wahai Nabi Allah.”

Tidak berselang lama, Abu Bakar datang juga dengan hartanya. Rasulullah SAW
juga bertanya, ”Apakah engkau juga menyisakan harta untuk keluargamu, ya Abu
Bakar?”

Abu Bakar menjawab, ”Aku hanya sisakan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.”
Mendengar hal itu, Umar berkata, ”Demi Allah, saya benar-benar tidak mampu
menyaingi kedermawanan Abu Bakar seumur hidupku.” (HRTirmidzi dari Umar bin
Khattab).

Abu Bakar memberikan teladan yang sangat berarti bahwa harta benda tidak ada
nilainya dibandingkan dengan Allah SWT dan Rasul-Nya. Abu Bakar menyadari
harta akan bernilai sejati jika didermakan untuk orang lain dengan niat semata-
mata karena Allah SWT.
Umar adalah khalifah yang sangat mementingkan usaha dan kerja yang produktif.
Ia menjadikan kerja sebagai bentuk ibadah tertinggi. Ia pernah berpetuah: “Aku
tetapkan kalian tiga bepergian: berhaji, berjuang di jalan Allah, dan berunta
demi mencari sebagian karunia Allah.” Bahkan ia menganggap syahid seseorang
yang meninggal dalam perjalanan terakhir.

Suatu waktu, Umar menanyakan nafkah seseorang yang tekun beribadah di


masjid. Orang itu menjelaskan, “Aku memiliki saudara yang mencari kayu. Lalu dia
mendatangiku dan mencukupiku.” Lalu Umar berkata, “Berarti, saudara engkau
lebih beribadah daripada engkau.”

Masih soal kerja. Umar sering menasihati, “Cukupilah dirimu, niscaya akan lebih
terpelihara agamamu dan lebih mulia dirimu.” Bukan saja menasihati, Umar juga
mempraktekkannya setiap hari. Begitu selesai sholat shubuh, Umar selalu
bergegas menuju kebunnya di Juruf. Ia berusaha mencukupi dirinya.

Umar memahami dengan baik arti penting ekonomi umat. Salah satu buktinya, ia
mengutamakan pembangunan pasar dan masjid di daerah-daerah taklukan. Ia juga
mengizinkan Utsman bin Abul Ash mengelola lahan tidur. Ia juga kerap
menasihati para pekerja dan pegawai agar memiliki asset produktif yang dapat
menghasilkan uang terus menerus. Umar juga menjajak orang-orang untuk
berdagang. Nasihatnya, “Berdagang itu merupakan sepertiga harta.”

Umar sendiri memiliki 70.000 properti senilai triliunan rupiah. Namun begitulah
Umar. Ia tetap saja sangat berhati-hati. Harta kekayaannya pun ia pergunakan
untuk kepentingan dakwah dan umat. Tak sedikit pun Umar menyombongkan diri
dan mempergunakannya untuk sesuatu yang mewah dan berlebihan.
Menjelang akhir kepemimpinan Umar, Ustman bin Affan pernah mengatakan,
“Sesungguhnya, sikapmu telah sangat memberatkan siapapun khalifah
penggantimu kelak.” Subhanallah!
Tugas Agama
Oleh :
Shafwah Mahaputri Setiawan
Kelas : 5 A
SD Assalaam Bandung