You are on page 1of 2

2.

1 Sejarah Teori Agenda Setting

Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw adalah orang yang pertama kali memperkenalkan
teori agenda setting ini. Teori ini muncul sekitar tahun 1973 dengan publikasi pertamanya berjudul
“The Agenda Setting Function of The Mass Media” Public Opinion Quarterly No.37.

Ketika diadakan penelitian tentang pemilihan Presiden Amerika Serikat pada tahun 1968
ditemukan hubungan yang tinggi antara penekanan berita dengan bagaimana hubungan yang
tinggal antara penekanan berita dengan bagaimana berita itu dinilai tingkatannya oleh pemilih.
Meningkatnya nilai penting suatu topik berita pada media massa menyebabkan meningkatnya nilai
penting topik tersebut bagi khalayaknya

Teori penyusunan agenda ini mengatakan media (khususnya media berita) tidak selalu
berhasil memberitahu apa yang kita pikir, tetapi media tersebut benar-benar berhasil memberitahu
kita berpikir tengtang apa. Media massa selalu mengarahkan kita pada apa yang harus kita lakukan.
Media memberikan agenda-agenda melalui pemberitaannya, sedangka masyarakat akan
mengikutinya. Menurut asumsi teori ini media mempunyai kemampuan untuk menyeleksi dan
mengarahkan perhatian masyarakat pada gagasan atau peristiwa tertentu. Media mengatakan pada
kita apa yang harus kita lihata, tokoh siapa yang harus kita dukung.

E.M., Griffin (2003) menyatakan, bahwa McCombs dan Donald Shaw meminjam istilah
“agenda setting” dari sarjana ilmu politik Bernard Cohen (1963) melalui laporan penelitiannya
mengenai fungsi khusus media massa. Dalam penelitiannya itu Cohen mengemukakan
pernyataannya yang terkenal disebut sebagai mantra dari agenda-setting.

Dalam hal ini, McCombs dan Shaw tidak menyatakan bahwa media secara sengaja
berupaya memengaruhi publik, tetapi publik melihat kepada para profesional yang bekerja pada
media massa untuk meminta petunjuk kepada media ke mana publik harus memfokuskan
perhatiannya.

Contoh yang paling nyata adalah tayangan berita di televisi. Ketika marak kasus kekerasan
seksual pada anak, masyarakat menerima informasi tersebut sebagai gambaran dari realitas yang
terjadi sesungguhnya meski sebenarnya mereka tidak mengalami langsung.
Informasi ini membuat masyarakat menyadari akan urgensi dari perkara tersebut dan lebih peka
akan indikasi yang mengarah pada kasus itu. Tak jarang setelah ada satu kasus kekerasan seksual
anak yang muncul dari satu daerah, kasus serupa pun terbongkar dari daerah lain.

Hal ini menunjukkan bahwa media mempengaruhi pola pikir manusia, termasuk terhadap apa
yang dianggap penting dan tidak. Informasi yang diangkat dalam media membuat manusia
menganggap bahwa itu adalah hal yang penting dan layak untuk diperhatikan. Media dapat
membuat apa yang tidak sebelumnya tidak begitu terlihat menjadi sorotan publik, baik hal itu
memang benar-benar penting atau tidak.

Contoh lainnya adalah fenomena telolet yang cukup ramai beberapa bulan yang lalu. Berbeda
dengan contoh sebelumnya, fenomena ini terjadi melalui media yang cukup baru yaitu media
sosial. Telolet sebenarnya hanya suara klakson bus antar kota yang khas dan nyaring, namun jadi
melejit karena viral di media sosial. Saking viral-nya, orang-orang dari luar negeri turut
memperlihatkan ketertarikan mereka terhadap fenomena telolet ini.

Fenomena telolet adalah keceriaan dan kesenangan sederhana yang tadinya tidak begitu
diperhatikan menjadi sesuatu yang besar dan tampak penting. Sebelum fenomena ini melejit,
mungkin kita bahkan tidak peduli dengan suara klakson bus yang terdengar nyaring itu. Media
sosial membuat kita menganggap bahwa itu adalah sebuah fenomena yang “wah” dan tidak
biasa.

Pengaruh terpaan media ini membuat munculnya opini yang beredar dalam masyarakat dan
membentuk opini umum. Mengacu dari contoh sebelumnya, yaitu berita kekerasan seksual anak
yang kemudian menciptakan opini bahwa kekerasan seksual anak merupakan kasus kejahatan
serius. Juga telolet yang membentuk opini masyarakat sebagai sebuah fenomena besar.