You are on page 1of 134

1

Skripsi

PENGARUH TERAPI DZIKIR TERHADAP SKOR DEPRESI


PADA PASIEN PASCA STROKE DI RUMAH SAKIT
MUHAMMADIYAH PALEMBANG

ARGIATI
NIM. 0513064

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH


PALEMBANG PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
TAHUN 2017
2

Skripsi

PENGARUH TERAPI DZIKIR TERHADAP SKOR DEPRESI


PADA PASIEN PASCA STROKE DI RUMAH SAKIT
MUHAMMADIYAH PALEMBANG

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar


Sarjana Keperawatan

ARGIATI
NIM. 0513064

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH


PALEMBANG PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
TAHUN 2017
1
2
3
1
1

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. Idetitas

Nama : Argiati
Tempat/Tanggal Lahir : Desa Neknang/ 15 Juli 1994
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Alamat : Jl. Raya Mentok, Gg. Madrasah, Kec. Bakam,
Kab. Bangka.
Orang Tua
Ayah : Aidin
Ibu : Heni Yusmiati

II. Riwayat Pendidikan


Tahun 2001-2007 : SD Negeri 07 Neknang.
Tahun 2007-2010 : SMP Negeri 1 Kelapa, Bangka.
Tahun 2010-2013 : SMA Negeri 1 Kelapa,Bangka.

Tahun 2013-2017 : Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan


STIKes Muhammadiyah Palembang.

vi
2

ABSTRAK

A. Nama : Argiati
NIM : 05.13.064
Program Studi : Ilmu Keperawatan
Judul : Pengaruh terapi dzikir terhadap skor depresi pada pasien
pasca stroke di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.
Jumlah Halaman : 75Halaman

Latar belakang:Stroke merupakan penyakit berbahaya yang dapat memberikan


dampak kecacatan ataupun kelumpuhan dan kematian serta perubahan pada
kondisi pasien. Apabila pasien tidak mampu untuk menerima kondisi yang
dialami, maka pasien akan mengalami depresi. Oleh karena itu dibutuhkan
penatalaksanaan untuk mengurangi skor depresi dengan pemberian terapi dzikir
yang akan menstimulasi hipothalamus untuk mengeluarkan hormon endhorphin,
sehingga membuat rileksasi pada pasien pasca stroke.Tujuan Penelitian: Untuk
mengetahui pengaruh terapi dzikir terhadap skor depresi pada pasien pasca stroke
di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Metode Penelitian: Penelitian ini
merupakan penelitian pre-exsperimentalmenggunakan rancangan One group
pretest-posttest dengan pendekatan kuantitatif yang dilakukan pada tanggal 04
April sampai 28 Mei 2017. Tehnik sampling menggunakan metode nonprobability
sampling melalui purposive sampling pada pasien pasca stroke yang mengalami
depresi berjumlah 36 orang. Hasil: Hasil penelitiandidapatkan rerata skor depresi
sebelum diberikan intervensi 25,28 dan setelah diberikan intervensi 20,89. Dari
uji statistik dengan menggunakanpaired sampel t-testdenganρ value = 0,001 (<
0,05), artinya pemberian terapi dzikir berpengaruh terhadap penurunan skor
depresi pada pasien pasca stroke. Kesimpulan:Terapi dzikir dapat dijadikan
sebagai salah satu intervensi keperawatan secara nonfarmakologi yang efektif,
murah dan aman untuk mengurangi skor depresi pada pasien pasca stroke.

Kata Kunci: Pasca Stroke, Skor Depresi, Terapi Dzikir.


Daftar Pustaka: 55 (2006-2017)

vii
3

ABSTRACT

Name : Argiati
Student Registered Number : 05.13.064
Study Program : Nursing Science
Title :The effect of dhikr therapy on depressionscore
on post-stoke patients of Muhammadiyah Hospital of Palembang.
Number of Pages : 75 Pages

Background: Stroke is a dangerous disease that can affect disability or paralysis


and death and changes in the patient’s condition. If the patient isunable to accept
the condition suffered, then the patient will get depressed. Therefore it needs
management to reduce the depression score by giving dhikr therapy that will
stimulate the hypothalamus to release the endhorphin hormone, thus making
relaxation in post-stroke patients. Objective of the Study: To find out the effect
of dhikr therapy on depression score in post-stroke patients of Muhammadiyah
Hospital of Palembang. Research Method: This research is a pre-exsperimental
study using One group pretest-posttest design with quantitative approach
conducted from April 4 to May 28, 2017. The Study used nonprobability sampling
method of purposive sampling for 36 depressed post-stroke patients. The Results
of the Study: The results showed that the average depression score before and
after the intervention were 25.28 and 20.89 respectively. The result of the sample
t-test showed that the value was 0.001 (<0.05); it means that the dhikr therapy has
an effect on decreasing depression score of post-stroke patients. Conclusion:
Dhikr Therapy can be used as one of the effective cheap and safe non-
pharmacological nursing interventions to reduce depression score of post-stroke
patients.

Keywords: Post Stroke, Depression Score, Dhkir Therapy.


Bibliography: 55 (2006-2017)

KATA PENGANTAR

viii
4

KATA PENGANTAR

Puji Syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-
Nya, saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini dilakukan dalam
rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Keperawatan di
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Palembang. Saya menyadari
bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan
sampai pada penyusunan skripsi ini, sangatlah sulit bagi saya untuk
menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Ibu Sri Yulia, S.Kp.,M.Kep selaku Ketua STIKes Muhammadiyah Palembang.
2. Ibu Anita Apriany, S.Kep.,Ns.,M.Bmdselaku ketua Program Studi Ilmu
Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang.
3. Ibu Miranti Florencia, S.Kep.,Ns.,M.Kep selaku Dosen Pembimbing I yang
telah memberikan masukan dan dukungan dalam pembuatan skripsi ini.
4. Suratun, S.Kep.,Ns.,M.Kepselaku Dosen Pembimbing II yang telah
memberikan masukan dan dukungan dalam pembuatan skripsi ini.
5. Ibu Imardiani, S.Kep,.Ns,.M.Kep selaku Dosen Penguji I.
6. Bapak Syapik, S.Kep,.Ns,.MARS selaku Dosen Penguji II.
7. Seluruh Staf Dosen STIKes Muhammadiyah Palembang.
8. Ke dua orang tua dan seluruh keluarga yang telah mendoakan dan
memberikan dukungan moril dan material sehingga dapat menyelesaikan
skripsi ini.
9. Teman-teman seperjuangan yang telah membantu saya demi menyelesaikan
skripsi ini.
Akhir kata, saya berharap Allah SWT, berkenan membalas segala kebaikan semua
pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini membawa manfaat bagi
pengembangan ilmu.
Palembang, Juni 2017

Penulis

ix
5

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................. i


HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................... iii
HALAMAN PERNYATAAN ORSINILITAS ................................... iv
HALAMAN PUBLIKASI..................................................................... v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ............................................................. vi
ABSTRAK ............................................................................................. vii
ABSTRAC.............................................................................................. viii
KATA PENGANTAR ........................................................................... ix
DAFTAR ISI .......................................................................................... x
DAFTAR TABEL ................................................................................. xiii
DAFTAR BAGAN ................................................................................. xiv
DAFTAR GAMBAR ............................................................................. xv
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................... xvi

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1


A. LatarBelakang ............................................................................... 1
B. RumusanMasalah .......................................................................... 3
C. TujuanPenelitian............................................................................ 3
1. TujuanUmum .......................................................................... 3
2. TujuanKhusus ......................................................................... 4
D. ManfaatPenelitian.......................................................................... 4
1. ManfaatTeoritis ....................................................................... 4
2. ManfaatPraktis ........................................................................ 4
E. RuangLingkupPenelitian ............................................................... 4
F. KeaslianPenelitian ......................................................................... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................ 11


A. Konsep Stroke................................................................................ 11
1. Definisi Stroke ........................................................................ 11
2. AnatomidanFisiologi ............................................................... 11
3. Klasifikasi Stroke .................................................................... 17
4. Etiologi .................................................................................... 19
5. ManifestasiKlinis .................................................................... 21
6. Patofisiologi ............................................................................ 23
7. FaktorResiko Stroke ................................................................ 25
8. Pencegahan.............................................................................. 26
9. Diagnosis................................................................................. 27
10. Penatalaksanaan Stroke ........................................................... 28
B. KonsepDepresi
1. DefinisiDepresi ....................................................................... 29
2. Epidemiologi ........................................................................... 30
3. KlasifikasiDepresi ................................................................... 30
4. ManifestasiKlinis .................................................................... 31
5. Faktor-FaktorPenyebabDepresi............................................... 32
6. Proses TerjadinyaDepresi........................................................ 36
7. Penatalaksanaan ...................................................................... 36

x
6

8. AlatUkurDepresi ..................................................................... 38
C. TerapiDzikir
1. DefinisiDzikir.......................................................................... 39
2. LandasanDasar&SumberDzikir .............................................. 41
3. KlasifikasiDzikir ..................................................................... 42
4. KeutamaandanManfaatDzikir ................................................. 42
5. TujuanDzikir ........................................................................... 42
6. WaktudanTempatUtamauntukBerdzikir ................................. 43
7. AdabBerdzikir ......................................................................... 44
8. PengaruhBacaanDzikirBagiKesehatanJiwa ............................ 44
D. KerangkaTeori ............................................................................... 46

BAB III KERANGKA KONSEP.......................................................... 50


A. KerangkaKonsep ........................................................................... 50
B. DefinisiOperasional ....................................................................... 51
C. Hipotesis ........................................................................................ 51

BAB IV METODE PENELITIAN ...................................................... 52


A. DesainPenelitian ............................................................................ 52
B. Populasi dan SampelPenelitian .................................................. 52
C. Tempatdan Waktu Penelitian .................................................... 54
D. TehnikPengumpulan Data ............................................................. 54
E. Instrument Penelitian ..................................................................... 57
F. Pengolahan dan Analisis Data ....................................................... 59
G. EtikaPenelitian............................................................................... 61

BAB V HASIL PENELITIAN ............................................................. 59


A. GambaranumumRumahSakitMuhammadiyah Palembang............ 59
1. SejarahPerkembangan ............................................................. 59
2. Tujuan, Visi, Misidan Motto RSMH ...................................... 59
a. Tujuan ................................................................................ 59
b. Visi ..................................................................................... 59
c. Misi .................................................................................... 59
d. Motto .................................................................................. 59
3. DireksidanPegawai ................................................................. 60
B. HasilPenelitian
1. AnalisisUnivariat .................................................................... 61
a. KarakteristikResponden .................................................... 61
b. SkorDepresiResponden..................................................... 63
2. AnalisisBivariat ...................................................................... 63
1. PengaruhTerapiDzikirterhadapSkorDepresi..................... 63

BAB VI PEMBAHASAN...................................................................... 65
A. PembahasanHasilPenelitian........................................................... 65
1. HasilUnivariat ......................................................................... 65
2. HasilBivariat ........................................................................... 69
B. KeterbatasanPenelitian .................................................................. 73

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ................................................... 74


A. Simpulan ........................................................................................ 74
B. Saran .............................................................................................. 74
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xi
7

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian.................................................................. 6


Tabel 3.1 Definisi Operasional ............................................................... 47
Tabel 5.1Distribusi Data Usia Responden di Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang Tahun 2017 ............................... 61
Tabel 5.2Distribusi frekuensi karakteristik demografi responden
berdasarkan jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan,
status pernikahan, dan diagnosis responden pasien stroke
di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2017............62
Tabel 5.3Pengaruh terapi dzikir terhadap skor depresi sebelum
dansetelah diberikanintervensipadapasienpasca
strokedi RumahSakitMuhammadiyah
Palembang Tahun 2017........................................................ 64

xiii
8

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Kerangka Teori...................................................................... 46


Bagan 3.1 Kerangka Konsep.................................................................. 47

xiv
9

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1Distribusi data skor depresi responden................................63

xv
10

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Lampiran

Lampiran 1 Genchart Pelaksanaan Skripsi

Lampiran 2 Surat Izin Pengambilan Data Awal dari Pendidikan

Lampiran 3 Surat Izin Pengambilan Data Awal dari Rumah Sakit

Lampiran 4 Surat Izin Penelitian dari Pendidikan

Lampiran 5 Surat Izin Penelitian dari Rumah Sakit

Lampiran 6 Surat Menyelesaikan Penelitian

Lampiran 7 Surat Persetujuan menjadi Responden Penelitian

Lampiran 8 Instrumen Penelitian

Lampiran 9 Satuan Acara Kegiatan (SAK)

Lampiran 10 Tabulasi Data

Lampiran 11 Output SPSS

Lampiran 12 Lembar Bimbingan

Lampiran 13 ABSTRA

xvi
1

BAB I
PENDAHULUAN

B. Latar Belakang
Stroke merupakan masalah kesehatan yang utama bagi masyarakat
modern saat ini, dan penyakit nomor urutan ketiga penyebab umum kematian
setelah penyakit kardiovaskuler dan kanker yang mengalami peningkatan
signifikan, berkepanjangan dan jarang sembuh sempurna serta dapat
menyebabkan kecacatan serius dan kematian. Penyebab terjadinya stroke pun
beragam, ada yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak
karena pembuluh darah yang pecah, pembuluh darah yang tersumbat dan
perubahan gaya hidup serta pola makanan yang kurang baik (Junaidi, 2011;
Caplan, 2011; Ariani, 2012 & Triwibowo, 2013).
Stroke menyebabkan defisit neurologis atau kelumpuhan saraf yang
dapat mengakibatkan berbagai gangguan seperti gangguan fungsi motorik,
fungsi sensorik, saraf kranial, fungsi luhur, koordinasi dan otonom yang dapat
mengakibatkan berbagai permasalahan, seperti komunikasi, pengkomsumsian
makanan dan gizi, hubungan seksual, perawatan diri, hilangnya kepekaan
panca indra dan rasa nyeri serta gangguan memori, mood, dan pola tidur yang
akan berdampak pada keterbatasan aktivitas, hilangnya kemandirian,
pekerjaan, kedudukan rasa hormat dan penghargaan diri serta persaan gagal
yang apabila tidak ditangani dengan cepat akan menyebabkan depresi pada
pasien pasca stroke (Muttaqin, 2008; Junaidi, 2011 & Arum, 2015).
Menurut penelitian Apriliana (2010), depresi pasca stroke adalah
gangguan depresi yang mengikuti serangan stroke, biasanya muncul dua
minggu setelah serangan dan dapat berlangsung lebih dari delapan bulan dan
dapat menjadi kronis atau menahun. Gangguan depresi dapat mempengaruhi
sistem saraf, endokrin, dan sistem kekebalan tubuh yang dapat memperlambat
proses penyembuhan, hubungan sosial, meningkatkan beban ekonomi dan
peningkatan morbiditas serta mortalitas.
Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia (World Health
Organization-WHO) setiap tahun terdapat 15 juta orang diseluruh dunia
mengalami stroke dengan insiden kematian lebih dari 5,1 juta dan diperkirakan
2

pada tahun 2020 sebanyak 7,6 juta orang akan meninggal karena stroke
(Junaidi, 2011). Prevalensi stroke di Indonesia ditemukan sebesar 8,3 per 1.000
penduduk, dan telah didiagnosis oleh tenaga medis adalah 6 per 1.000
penduduk. Hal ini menunjukkan sekitar 72,3% kasus stroke di masyarakat telah
didiagnosis oleh tenaga kesehatan dan pada tahun 2030 diperkirakan 23,3 juta
orang akan meninggal karena stroke. Angka kejadian stroke di Sumatera
Selatan (Palembang) sekitar (7,8) angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan
Lampung (5,4), Jambi (5,3) dan Riau (5,2) (Riskesdas, 2013). Data dari Rekam
Medis Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang, pasien stroke tahun 2016
berjumlah 90 orang (Rekam Medis Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang,
2016).
Insiden depresi pasca stroke berkisar 11-68 % dengan prevalensi paling
tinggi adalah 3 bulan setelah stroke (31%). Penelitian dari Aprilina (2010),
Dudung dkk (2015), dan Oktari (2016), mengungkapkan bahwa insiden depresi
paling tinggi terjadi pada pasien pasca stroke. Berdasarkan studi pendahuluan
yang peneliti lakukan pada tanggal 2 s.d 9 Januari 2017 dengan mewawancarai
perawat yang bertugas di ruang Poli Saraf Rumah Sakit Muhammadiyah
Palembang, mengungkapkan bahwa ada beberapa pasien pasca stroke yang
mengalami gangguan emosional dan hanya mendapatkan terapi farmakologi.
Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang peneliti lakukan pada 6 pasien
yang dirawat. Hasil menunjukkan bahwa 3 pasien mengalami depresi sedang (
skor: 23, 20, & 25), 2 pasien mengalami depresi berat (skor : 36 & 32) dan 1
pasien mengalami depresi ringan (skor : 15).
Depresi merupakan masalah yang umum dijumpai atau sering terjadi
pada pasien pasca stroke. Suatu perawatan yang cepat dan diagnosis yang tepat
akan menyebakan proses pnyembuhan yang lebih cepat. Fase pemulihan pasien
pasca stroke membutuhkan proses, waktu yang lama dan berkelanjutan untuk
mempertahankan kondisi tubuh agar dapat menyesuaikan diri dengan
perubahan yang terjadi. Perawatan pasien pasca stroke tidak hanya terfokus
pada pengobatan medis kedokteran atau konvensional, namun sudah
berkembang pada pengobatan terapi alternatif atau nonfamakologi seperti,
terapi spritual. Menurut penelitian Bekelman dkk (2007), Fadlilah (2013),
3

Retnowati (2013), Jauhari (2014), Anggraieni (2014), Razak dkk (2015) serta
Sukarni (2015), menyebutkan bahwa terapi medis jika dikombinasikan dengan
terapi spritual akan lebih efektif, seperti terapi psikoreligius doa dan dzikir
dapat menurunkan tekanan darah, tingkat stres, kecemasan, nyeri, depresi dan
meningkatkan optimisme yang lebih baik pada pasien dengan penyakit kronik.
Beberapa metode terapi yang sudah dilakukan pada pasien pasca stroke,
peneliti belum menemukan adanya terapi spritual seperti doa dan dzikir yang
bisa diterapkan untuk menurunkan skor depresi pada pasien pasca stroke.
Terapi dzikir diharapkan dapat menurunkan skor depresi pasien pasca stroke.
Dzikir yang dilakukan dengan konsentrasi pada pernapasan, pengucapan
kalimat dzikir akan distimulasi ke korteks frontal. Kemudian dilanjutkan ke
hipokampus, dan meneruskan sinyal suara dan gerakan ke Amigdala kemudian
diteruskan ke hipotalamus. Pengeluaran hormon CRF(Corticotropic Releasing
Factor) oleh hipotalamus, mengakibatkan kelenjar anterior pituitari terhambat
mengeluarkan ACTH (Adrenocorticotropic Hormon) yang menyebabkan
persepsi positif. Persepsi positif akan menstimulasi hipothalamus untuk
mengaktifkan hormon endhorphin alami sehingga terjadi penurunan tingkat
depresi (Arif, 2007; Muttaqin, 2008 & Guyton, 2014).
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui “Pengaruh Terapi
Dzikir terhadap Depresi pada pasien pasca stroke di Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang Tahun 2017”.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada pengaruh terapi dzikir terhadap
skor depresi pasien pasca stroke di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang
Tahun 2017.
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Menjelaskan pengaruh terapi dzikir terhadap skor depresi pasien pasca
stroke di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.
4

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya rerata skor depresi sebelum dan sesudah dilakukan terapi


dzikir terhadap kelompok intervensi pada pasien pasca stroke di Rumah
Sakit Muhammadiyah Palembang.
b. Diketahuinya selisih rerata antara skor depresi sebelum dan sesudah
dilakukan terapi dzikir terhadap kelompok intervensi pada pasien pasca
stroke di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis
a. Memberikan informasi ilmiah yang bermanfaat dalam pengembangan
pembelajaran tentang pengaruh terapi dzikir terhadap depresi pada pasien
pasca stroke.
b. Sebagai media atau referensi untuk menambah pengalaman serta
keterampilan dalam melakukan penelitian keperawatan. Hasil yang
diperoleh dapat dijadikan sebagai data dan bahan pertimbangan untuk
peneliti selanjutnya, dengan topik yang relavan.
2. Manfaat Praktis
a. Memberikan masukan yang berguna bagi pembuat kebijakan dan
petugas kesehatan akan pentingnya meningkatkan kualitas perawatan
pasien pasca stroke.

F. Ruang Lingkup
Penelitian ini termasuk dalam lingkup Keperawatan Medikal Bedah
yang dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh terapi dzikir terhadap depresi
pada pasien pasca stroke di ruang Poliklinik Saraf Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang Tahun 2017. Sumber data atau responden dalam
penelitian ini adalah semua pasien rawat jalan (Poliklinik Saraf) yang
mengalami stroke baik stroke hemoragik maupun non hemoragik. Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kuantitatif dengan
rancangan penelitian Pre – experimental menggunakan desain One Group
Pretest-Posttest. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah
5

dengan menggunakan teknik Purposive Sampling. Penelitian ini dilaksanakan


pada bulan April s.d Mei 2017.
6

G. Keaslian Penelitian
Tabel 1.1. Daftar Orisinalitas Penelitian

Nama
Judul Penelitian Variabel Sampel Hasil Perbedaan Persamaan
Peneliti

Jauhari Pengaruh Terapi -Terapi 30 Hasil 1. Tempat 1.Variabel


(2014) Psikoreligius : Psikoreligi Responden penelitian Penelitian. penelitian
Doa dan Dzikir us (doa menunjukkan 2. Desain
terhadap dan dzikir) bahwa mean penelitian.
Penurunan -Depresi pada post 3. Subjek
Tingkat Depresi perlakuan penelitian
pada Penderita 9,47,
Gagal Ginjal sedangkan
Kronik yang pada post
Menjalani kelompok
Hemodialisa Di kontrol 12,53.
ruang Dengan
Hemodialisa menggunakan
Rumah Sakit Kota t tes
Semarang. independen
post perlakuan
didapatkan
hasil p-Value
= 0,003 bila
dibandingkan
dengan α
(0,05) berarti
ada pengaruh
terapi terapi
psikoreligius
dengan doa
dan dzikir
terhadap
penurunan
tingkat depresi
pada penderita
gagal ginjal
kronik yang
menjalani
hemodialisa di
Ruang
Hemodialisa
Rumah Sakit
Kota
Semarang.

Berdasarkan
hasil
penelitian
disarankan
penderita
gagal ginjal
kronik dapat
melaksanakan
terapi
psikoreligius
7

dengan doa
dan dzikir
secara rutin
bahkan setiap
hari.
Sukarni dkk Dzikir 4T -Dzikir 4T 56 Hasil 1. Tempat 1.Variabel
(2015) terhadap -Kecemasan Responden penelitian Penelitian penelitian
Penurunan menunjukkan 2. Variabel (Independen).
Kecemasan pada bahwa dzikir penelitian
Pasien Sindrom 4Tdapat ( dependen)
Koroner Akut. menurunkan 3. Desain
kecemasan penelitian .
selama 12 4. Subjek
jam, 24 jam, penelitian.
36 jam, 48
jam, 60 jam
dan 72 jam
pada
pasienSindrom
Koroner Akut
(p<0,05). Ada
pengaruh yang
sangat
bermakna
penurunan
kecemasan
yaitupada jam
ke- 24 jam
(p<0,001) dan
72 jam
(p<0,001)
diantara group
lain setelah
dilakukan
dzikir 4T pada
pasien
Sindrom
Koroner Akut.
Kesimpulan:
dzikir 4T
dapat
menurunkan
kecemasan
dalam 72 jam
setelah masuk
perawatan
pada pasien
Sindrom
Koroner Akut.
8

Bakelmen, Perbandingan Dua -Dua 60 Hasil 1.Tempat 1.Variabel


dkk (2007) Instrumen Instrumen Responden penelitian penelitian
penelitian
Spritual dan spritual ( menunjukkan (dependen :
Hubungan antara FACIT-sp bahwa adanya 2.Variabel
depresi)
Depresi dan & IW) kesejahteraan
penelitian
Kualitas Hidup -Depresi psikologis dan
pada Klien -Kualitas spritual dari (variabel
Penyakit Kronik Hidup salah satu
independen &
instrumen
yang dependen
digunakan,
kualitas
yaitu
instrumen hidup)
FACIT-sp
3.Desain
lebih efektif
dibandingkan penelitian
dengan
instrumen IW,
dimana
Instrumen
FACIT-sp
dapat
berkolerasi
sehingga dapat
menimbulkan
persaan damai,
menurunkan
tingkat depresi
dan
meningkatkan
kualitas hidup.
Sedangkan
Instrumen IW
tidak ada
korelasi
terhadap
depresi dan
kualitas hidup.
Depresi (r = -
0,50, P
<0,0001) dan
kualitas hidup
(r = 0,41, P =
0,001).

Fadlilah & Pengaruh terapi -Terapi 20 Dari hasil 1. Tempat 1. Variabel


Ulaa dzikir terhadap Dzikir Responden penelitian
penelitian. penelitian
nyeri persalinan -Nyeri didapatkan
( 2013) kala 1 Klinik persalinan skala nyeri 2. Variabel (terapi
Bersalin Budi kala 1. sebelum
penelitian dzikir).
Indah. diberikan
intervensi nilai (dependent). 2. Desain
terendah 4 dan
penelitian.
nilai tertinggi
9. Sedangkan
skala nyeri
setelah
diberikan
9

intervensi nilai
terendah 3 dan
tertinggi 8.
Dari uji
statistik
dengan
menggunakan
uji  = 0,000 (
< 0,05) artinya
pemberian
terapi dzikir
berpengaruh
terhadap
penurunan
nyeri
persalinan
kala 1.

Anggraieni, Pengaruh terapi -Terapi 30 Hasil 1. Tempat 1. Variabel


(2014) relaksasi dzikir dzikir Responden penelitian ini penelitian. independe
untuk -Stres dapat 2. Variabel nt.
menurunkan stres disimpulkan dependent
pada penderita bahwa 3. Desain
hipertensi relaksasi penelitian
esensial. dzikir (quasi-
memiliki eksperiment)
pengaruh yang
signifikan
terhadap
tingkat stres
pada penderita
hipertensi
esensial.
Secara
kualitatif
ditemukan
beberapa
faktor yang
dapat
memengaruhi
tingkat stres
pada penderita
hipertensi
esensial yaitu
permasalahan
ekonomi dan
pekerjaan,
permasalahan
keluarga,
permasalahan
pola makan,
kebiasaan
merokok,
keluhan-
keluhan fisik
dan psikis
yang
menyertai
10

tekanan darah
tinggi, serta
kekhawatiran
terhadap
dampak
tekanan darah
tinggi.
Retnowati, Pengaruh -Relaksasi 82 Hasil 1. Tempat 1.Variabel
(2013) Kombinasi Nafas responden penelitian penelitian. independ
Relaksasi Nafas Dalam menunjukkan 2. Variabel ( meditasi
Dalam dan -Meditasi ada perbedaan dependent
dzikir)
Meditasi Dzikir Dzikir perubahan dan
Terhadap -Tekanan tekanan darah independe
Tekanan Darah Darah yang n.
Pada Penderita signifikan 3. Desain
Hipertensi di RW pada penelitian
02 Kelurahan kelompok (quasi-
Sambiroto eksperimen eksperiment
Semarang yang diberikan )
kombinasi
relaksasi nafas
dalam dan
meditasi dzikir
dengan
kelompok
kontrol yang
tidak
diberikan
relaksasi nafas
dalam dan
meditasi dzi
kir (p<0,05).
Ada pengaruh
kombinasi
relaksasi nafas
dalam dan
meditasi dzikir
terhadap
perubahan
tekanan darah
pada penderita
hipertensi
(p<0,05).
Rekomendasi
yang dapat
diberikan agar
perawat
dapat memilih
intervensi
kombinasi
relaksasi nafas
dalam dan
meditasi dzikir
terhadap
penderita
hipertensi.
11

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Stroke
1. Definisi Stroke
Sroke merupakan sindrom neurologi atau gangguan fungsional otak
berupa kelumpuhan saraf (deficit neurologic) yang diakibatkan oleh
berhentinya suplai darah ke bagian otak karena sumbatan (stroke iskemik)
atau perdarahan (stroke hemoragik) dengan manifestasi klinis yang
berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal ( global) dengan
gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan
kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler serta dapat
menyebabkan kecacatan berupa kelumpuhan anggota gerak, gangguan
bicara, proses berpikir daya ingat, dan bentuk-bentuk kecacatan yang lain
sebagai akibat gangguan fungsi otak (Muttaqin, 2008; Junaidi, 2011 &
Ariani, 2012).

2. Anatomi dan Fisiologi


Menurut Muttaqin (2008), Pearce (2013), dan Guyton (2014)
anatomi dan fisiologi sistem persarafan antara lain:
a. Otak
Otak terdiri dari 10 miliar neuron yang menjadi kompleks secara
kesatuan fungsional dan lebih kompleks daripada batang otak. Otak
merupakan jaringan yang paling banyak memakai energi dalam seluruh
tubuh manusia dan terutama berasal dari proses metabolisme oksidasi
glukosa, dan metabolisme otak bersifat kontinu dan tetap, tanpa ada
istirahat ini berkaitan dengan fungsinya yang kritis sebagai pusat
integrasi dan koordinasi organ-organ sensorik dan sistem efektor perifer
tubuh, di samping berfungsi sebagai pengatur informasi yang masuk,
simpanan pengalaman, implus yang keluar, dan tingkah laku (Muttaqin,
2008).
Otak manusia berisi hampir 98% jaringan saraf tubuh. Berat otak
sekitar 1,4 kg dan mempunyai volume sekitar 1200 cc (71 inch3). Otak

11
12

laki-laki 10% lebih besar dari perempuan dan tidak ada korelasi yang
berarti antara besar otak dengan tingkat intelegensi. Seseorang dengan
ukuran otak kecil (750 cc) dan ukuran otak besar (2100 cc) secara
fungsional adalah sama. Otak manusia kira-kira merupakan 2% dari berat
badan orang dewasa. Otak menerima 15% dari curah jantung,
memerlukan sekitar 20% pemakaian oksigen tubuh dan sekitar 400 kilo
kalori energi tiap harinya (Muttaqin, 2008).
1) Jaringan Otak
Jaringan gelatinosa otak dan medula spinalis dilindungi oleh
tulang tengkorak dan tulang belakang, dan oleh tiga lapisan jaringan
penyambung yaitu piamater, araknoid, dan duramater. Piamater
merupakan lapisan vaskular yang memiliki pembuluh darah yang
berjalan menuju struktur interna SSP untuk memberi nutrisi pada
jaringan saraf, yang langsung berhubungan dengan otak dan jaringan
spinal, mengikuti kontur struktur eksternal otak dan jaringan spinal.
Araknoid merupakan suatu membran fibrosa yang tipis, halus,
dan tidak mengandung pembuluh darah. Araknoid meliputi otak dan
medula spinalis, tetapi tidak mengikuti kontur luar seperti piamater.
Daerah antara araknoid dan piamater disebut ruang subraknoid,
tempat arteri, vena serebral, trabekula araknoid, dan cairan
serebrospinal. Dan duramater merupakan adalah suatu jaringan liat,
tidak elastis, dan mirip kulit sapi yang terdiri atas dua lapisan, yaitu
duraendosteal dan durameningeal.
2) Cairan Serebrospinal
Dalam setiap ventrikel terdapat struktur sekresi khusus yang
disebut pleksus koroideus yang menyekresi cairan serebrospinal (
cerebrospinal fluid-CSF) yang jernih dan tidak berawan, yang
merupakan bantal cairan pelindung di sekitar SSP. CSF terdiri atas
air, elektrolit, gas oksigen dan karbondioksida yang terlarut, glukosa,
beberapa leukosit, dan sedikit protein. Volume total CSF diseluruh
rongga serebrospinal sekitar 125 ml, sedangkan kecepatan sekresi
pleksus koroideus sekitar 500 sampai 750 ml per hari.
13

3) Ventrikel
Rangkaian dari empat rongga dalam otak yang saling
berhubungan dan dibatasi oleh ependima. Pada setiap hemisfer serebri
terdapat satu ventrikel lateral yang mempunyai hubungan dengan
ventrikel ketiga (terdapat dalam diensefalon) melalui sepasang
foramen-interventrikularis. Ventrikel ke tiga dan ke empat (medulla
oblongata) dihubungkan melalui suatu saluran sempit di dalam otak
tengah (akueduktus sylvius). Pada ventrikel ke empat terdapat tiga
lubang sepasang foramen luschka di lateral dan satu foramen
magendie di medial yang berlanjut hingga ke ruang subaraknoid otak
dan medula spinalis.
4) Suplai darah
Suplai darah arteria (vertebralis dan karotisinterna) ke otak
merupakan suatu jalinan pembuluh-pembuluh darah yang bercabang-
cabang, berhubungan erat satu dengan yang lain sehingga dapat
menjamin suplai darah yang adekuat untuk sel. Aliran vena otak tidak
selalu paralel dengan suplai darah arteria, pembuluh vena
meninggalkan otak melalui sinus dura yang besar dan kembali ke
sirkulasi umum melalui vena jugularis interna. Letak arteria medula
spinalis dan sistem vena paralel satu dengan yang lain dan mempunyai
hubungan percabangan yang luas untuk mencukupi suplai darah ke
jaringan-jaringan otak.
5) Serebrum
Bagian otak yang paling besar dan paling menonjol, tempat
pusat-pusat saraf yang mengatur semua kegiatan sensorik dan
motorik, juga mengatur proses penalaran, memori, dan inteligensi.
6) Korteks Serebri
Merupakan bagian otak yang mempunyai banyak lipatan dari
serebrum yang disebut giri dan letaknya paling maju dan bertanggung
jawab untuk mengindra lingkungan, menentukan perilaku yang
bertujuan dan beralasan.

Berikut beberapa daerah yang penting pada Cortex cerebri:


14

a) Lobus frontal
Mencakup bagian dari korteks serebrum ke depan dari
sulcus sentralis dan di atas sulcus lateralis. Bagian ini mengandung
daerah-daerah motorik dan pramotor. Daerah broca terletak di
lobus frontalis dan mengontrol ekspresi bicara. Lobus frontalis
bertanggung jawab untuk perilaku bertujuan, penentuan keputusan
moral, dan pemikiran yang kompleks. Lobus ini juga memodifikasi
dorongan-dorongan emosional yang di hasilkan oleh sistem limbik.
b) Lobus parietalis
Lobus yang terletak di belakang sulkus sentralis, di atas
fisuralateralis dan meluas ke belakang ke fisura parieto-oksipitalis.
Lobus ini merupakan daerah sensorik primer otak untuk rasa raba
dan pendengaran.
c) Lobus temporalis
Lobus temporal mencakup bagian korteks serebrum yang
berjalan ke bawah dari fisura lateralis dan sebelah posterior dari
fisura parieto-oksipitalis. Lobus ini adalah daerah asosiasi untuk
informasi auditorik dan mencakup daerah wernickle tempat
interpretasi bahasa. Lobus ini juga terlibat dalam interpretasi bau
dan penyimpangan memori.
d) Lobus oksipitalis
Adalah lobus posterior korteks serebrum. Lobus ini terletak
di sebelah posterior dari lobus parietalis dan di atas fisura-fisura
parieto-oksipitalis. Lobus ini menerima informasi yang berasal dari
retina mata.
7) Serebelum
Terletak di dalam fosa krani posterior dan ditutupi oleh
duramater yang menyerupai atap tenda, yaitu tentorium, yang
memisahkannya dari bagian posterior serebrum. Serebelum
dihubungkan dengan batang otak oleh tiga berkas serabut yang disebut
pedunkulus yang berhubungan dengan mesenfalon, menghubungkan
kedua hemisfer otak. Semua aktivitas serebelum berada di bawah
15

kesadaran. Fungsi utama serebelum ialah mengatur otot-otot postural


tubuh dan melakukan program akan gerakan-gerakan pada keadaan
sadar maupun bawah sadar.
8) Formasio Retikularis
Terdiri atas jaringan kompleks badan sel dan serabut yang
saling terjalin membentuk inti sentral batang otak. Bagian ini
berhubungan ke bawah dengan sel-sel intemunsial medula spinalis
serta meluas ke atas dan ke dalam diensefalon serta telensefalon. Dan
fungsi utama sistem retikularis antara lain:
a) Integrasi berbagai proses kortikal dan subkortikal yaitu penentuan
status kesadaran dan keadaan bangun.
b) Modulasi transmisi informasi sensorik ke pusat-pusat yang lebih
tinggi.
c) Modulasi aktivitas motorik.
d) Pengaturan respons otonom dan siklus tidur-bangun.
e) Tempat asal sebagian besar monoamin
b. Batang Otak
Bagian-bagian batang otak dari atas ke bawah adalah pons dan
medulla oblongata, yang banyak ditemukan jaras-jaras yang berjalan naik
dan turun dan merupakan pusat relai dan refleks dari SSP.
1) Pons ( “jembatan “dalam bahasa Latin)
Merupakan serabut yang menghubungkan ke dua hemisfer
serebelum serta menghubungkan mesensefalon di sebelah atas dengan
medula oblongata. Pons merupakan mata rantai penghubung yang
penting pada jaras kortikoserebelaris yang menyatukan hemisfer
serebri dan serebelum. Bagian bawah pons berperan dalam pengaturan
pernapasan.
2) Medulla Obolngata
Merupakan pusat refleks yang penting untuk jantung,
vasokonstriktor, pernapasan, bersin, batuk, menelan, pengeluaran air
liur, dan muntah. Semua jaras asendens dan desendens medula
spinalis dapat terlihat di sini. Pada permukaan anterior terdapat dua
16

pembesaran yang disebut piramid yang terutama mengandung serabut-


serabut motorik volunter. Dibagian posterior medula oblongata
terdapat pula dua pembesaran yang merupakan fasikuli dari jaras
asendens kolumna dorsalis, yaitu fasikulus grasilis dan fasikulus
kuteanus yang menghantarkan tekanan, propriosptif otot-otot sadar,
sensasi getar, dan diskriminasi taktil dua titik.
c. Mesensefalon
Mesensefalon merupakan bagian pendek dari batang otak yang
letaknya di atas pons. Pons mencakup bagian posterior dan anterior. Dan
berperan dalam memberikan refleks penglihatan dan pendengaran.
d. Diensefalon
Struktur-struktur yang terdapat disekitar ventrikel ketiga dan
membentuk inti bagian dalam serebrum. Diensefalon dibagi menjadi
empat, yaitu talamus, subtalamus, epitalamus, dan hipotalamus.
Diensefalon memproses rangsang sensorik dan membantu mencetuskan
atau memodifikasi reaksi tubuh terhadap rangsangan.
e. Sistem Limbik
Suatu sistem pengelompokkan fungsional bukan anatomis serta
mencakup komponen serebrum, diensefalon, dan mesensefalon. Struktur
kortikal utama adalah girus singuli, girus hipokampus, dan hipokampus.
Bagian subkortikal mencakup amigdala, traktus olfaktorius, dan septum.
Secara fungsional sistem limbik berkaitan dengan hal-hal, seperti respon
emosional, respons sadar terhadap lingkungan, memberdayakan fungsi
intelektual korteks serebri secara tidak sadar dan memfungsikan secara
otomatis batang otak untuk merespons keadaan, dan merespons suatu
pengalaman dan ekspresi alam perasaan, terutama reaksi takut, marah,
dan emosi yang mengarah ke perilaku seksual.
f. Saraf Kranial
Merupakan saraf yang langsung berasal dari otak dan keluar
meninggalkan tengkorak dan terdapat 12 pasang saraf kranial , yaitu saraf
olfaktorius, optikus, okulomotorius, troklearis, trigeminus, abdusens,
hipoglosus, yang mengandung sensorik murni, saraf motorik, saraf
17

campuran dan beberapa serabut saraf dari cabang parasimpatis sistem


saraf otonom.
g. Saraf Spinal
Saraf spinal berfungsi sebagai tempat keluarnya saraf-saraf,
kecuali saraf servikal.
h. Sarap Otonom
Sistem saraf campuran yang terdiri atas simpatis dan
parasimpatis. Sebagai mediator pada stimulus simpatis adalah
norepinefrin dan mediator impuls parasimpatis adalah asetilkolin. Kedua
zat kimia ini mempunyai pengaruh yang berlawanan.

3. Klasifikasi Stroke
Menurut Muttaqin (2008), stroke dapat diklasifikasikan menurut
patologi dan gejala kliniknya, yaitu:
a. Stroke Hemoragi
Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan
subarachnoid. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada
daerah otak tertentu. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau
saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien
umumnya menurun. Perdarahan otak dibagi dua, yaitu:
1) Perdarahan intraserebral
Pecahnya pembuluh darah (mikroaneurisma) terutama karena
hipertensi mengakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak,
membentuk massa yang menekan jaringan otak, dan menimbulkan
edema otak. Peningkatan TIK yang terjadi cepat, dapat mengakibatkan
kematian mendadak karena herniasi otak. Perdarahan intraserebral
yang disebabkan karena hipertensi sering dijumpai di daerah putamen,
thalamus, pons dan serebelum.
2) Perdarahan subaraknoid.
Pedarahan ini berasal dari pecahnya aneurisma berry atau AVM.
Aneurisma yang pecah ini berasal dari pembuluh darah sirkulasi
willisi dan cabang-cabangnya yang terdapat di luar parenkim otak.
18

Pecahnya arteri dan keluarnya keruang subaraknoid menyebabkan


TIK meningkat mendadak, meregangnya struktur peka nyeri, dan
vasospasme pembuluh darah serebral yang berakibat disfungsi otak
global (sakit kepala, penurunan kesadaran) maupun fokal (hemiparase,
gangguan hemisensorik, dan lain-lain).
b. Stroke Nonhemoragik
Dapat berupa iskemia atau emboli dan thrombosis serebral,
biasanya terjadi saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di
pagi hari. Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia yang
menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder.
Dan terjadi karena tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan
aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti atau karena
penumpukan timbunan lemak yang mengandung kolesterol dalam
pembuluh darah besar atau pembuluh darah sedang atau pembuluh darah
kecil.

Menurut Triwibowo (2013), stroke Iskemik dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :


a. Stroke Trombotik
Penyebab utama pada stroke trombotik adalah arterioscleriosis
serebral dan perlambatan sirkulasi serebral. Pada proses arterioscleriosis
ditandai oleh plak berlemak pada lapisan intima arteria besar, sehingga
menjadi tipis dan berserabut, dan otot-otot nya menghilang. Hilangnya
intima akan membuat jaringan ikat terapar. Sehingga trombosit
menempel pada permukaan yang terbuka dan menyebabkan pembuluh
darah menjadi kasar, kemudian trombosit melepaskan enzim, adenosin
difosfat yang mengawali mekanisme koagulasi. Sumbatan
fibrinotrombosit dapat tetap tinggal di tempat dan akhirnya seluruh
arteria itu akan tersumbat dengan sempurna.
b. Stroke Embolik
Emboli serebral adalah tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan
darah. Kebanyakan emboli serebral berasal dari suatu trombus dalam
jantung, sehingga masalah yang di hadapi sebenarnya adalah perwujudan
dari penyakit jantung (Triwibowo, 2013).
19

Menurut Triwibowo (2013), berdasarkan perjalanan penyakit atau


stadiumnya, yaitu:
a. TIA (Trans Iskemik Attack)
Gangguan neurologis setempat yang terjadi selama beberapa menit
sampai beberapa jam saja. Gejala yang timbul akan hilang dengan
spontan dan sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.
b. Stroke involusi
Stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan
neurologis terlihat semakin berat dan bertambah buruk. Proses dapat
berjalan 24 jam atau beberapa hari.
c. Stroke komplit
Gangguan neurologi yang timbul sudah menetap atau permanen.
Sesuai dengan istilahnya stroke komplit dapat diawali oleh serangan TIA
berulang.

4. Etiologi
Penyebab stroke menurut Muttaqin (2008), dan Ariani (2012) :
a. Thrombosis Cerebral
Thrombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami
oklusi sehingga menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapat
menimbulkan oedema dan kongesti di sekitarnya. Thrombosis biasanya
terjadi pada orang tua yang sedang tidur atau bangun tidur. Hal ini dapat
terjadi karena penurunan aktivitas simpatis dan penurunan tekanan darah
yang dapat menyebabkan iskemi serebral. Tanda dan gejala neurologis
memburuk pada 48 jam setelah trombosis.

Beberapa keadaan dibawah ini dapat menyebabkan thrombosis


otak (Caplan, 2011) :
1) Aterosklerosis
Aterosklerosis merupakan suatu proses di mana terdapat suatu
penebalan dan pengerasan arteri besar dan menengah seperti
koronaria, basilar, aorta dan arteri iliaka. Aterosklerosis adalah
mengerasnya pembuluh darah serta berkurangnya kelenturan atau
20

elastisitas dinding pembuluh darah. Manifestasi klinis atherosklerosis


bermacam-macam. Kerusakan dapat terjadi melalui mekanisme
berikut:
a) Lumen arteri menyempit dan mengakibatkan berkurangnya aliran
darah.
b) Oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadi trombosis.
c) Merupakan tempat terbentuknya thrombus, kemudian melepaskan
kepingan thrombus (embolus).
d) Dinding arteri menjadi lemah dan terjadi aneurisma kemudian
robek dan terjadi perdarahan.
2) Hyperkoagulasi pada polysitemia
Darah bertambah kental, peningkatan viskositas atau hematokrit
meningkat dapat melambatkan aliran darah serebral.
3) Arteritis ( radang pada arteri ).
4) Emboli
Emboli serebral merupakan penyumbatan pembuluh darah otak
oleh bekuan darah, lemak dan udara. Pada umumnya emboli berasal
dari thrombus di jantung yang terlepas dan menyumbat sistem arteri
serebral. Emboli tersebut berlangsung cepat dan gejala timbul kurang
dari 10-30 detik. Beberapa keadaan di bawah ini dapat menimbulkan
emboli:
a) Katup-katup jantung yang rusak akibat Rheumatik Heart Desease
(RHD).
b) Myokard infark.
c) Fibrilasi, keadaan aritmia menyebabkan berbagai bentuk
pengosongan ventrikel sehingga darah terbentuk gumpalan kecil
dan sewaktu-waktu kosong sama sekali dengan mengeluarkan
embolus-embolus kecil.
d) Endokarditis oleh bakteri dan non bakteri, menyebabkan
terbentuknya gumpalan-gumpalan pada endokardium.
b. Haemorhagi
Perdarahan intrakranial atau intraserebral termasuk perdarahan
21

dalam ruang subarachnoid atau kedalam jaringan otak sendiri.


Perdarahan ini dapat terjadi karena atherosklerosis dan hypertensi. Akibat
pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan perembesan darah kedalam
parenkim otak yang dapat mengakibatkan penekanan, pergeseran dan
pemisahan jaringan otak yang berdekatan, sehingga otak akan
membengkak, jaringan otak tertekan, sehingga terjadi infark otak,
oedema, dan mungkin herniasi otak.
c. Hipoksia Umum
Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia umum
adalah:
1) Hipertensi yang parah.
2) Cardiac Pulmonary Arrest.
3) Cardiac output turun akibat aritmia
d. Hipoksia Setempat
Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia setempat
adalah:
1) Spasme arteri serebral, yang di sertai perdarahan subarachnoid.
2) Vasokontriksi arteri otak di sertai sakit kepala migrain.
Menurut Muttaqin (2008), penyebab perdarahan otak yang paling
umum terjadi adalah:
a) Aneurisma berry, biasanya defek kongenital.
b) Aneurisma fusiformis dari arteriosklerosis.
c) Aneurisma mikotik dari vaskulitis nekrose dan emboli sepsis.
d) Malformasi arteriovena (AVM), terjadi hubungan persambungan
pembuluh darah arteri, sehingga darah arteri langsung masuk vena.
e) Ruptur arteriol serebri, akibat hipertensi yang menimbulkan penebalan
dan degenerasi pembuluh darah.

5. Manifestasi Klinis
Menurut Ariani (2012) dan Triwibowo (2013), manifestasi klinis
yang umum terjadi pada penderita stroke adalah
a. Kehilangan motorik
22

Stroke adalah penyakit motor neuron atas dan mengakibatkan


kehilangan control volunter terhadap gerakan motorik. Karena neuron
motor atas melintas, gangguan kontrol motor volunter pada salah satu sisi
tubuh dapat menunjukkan kerusakan pada neuron motor atas pada sisi
yang berlawanan dari otak. Disfungsi motor yang paling umum adalah
hemiplegia. Bila stroke menyerang bagian kiri otak terjadi hemiplegia
kanan dan sebaliknya. Sehingga menyebabkan pasien mengalami
kesulitan melaksanakan kegiatan sehari-harinya seperti, berjalan,
berpakaian, makan atau mengendalikan buang air besar atau kecil, dan
lain sebagainya.
b. Kehilangan komunikasi
Disfungsi bahasa dan komunikasi dapat di manifestasikan sebagai
berikut :
a. Disartria (kesulitan berbicara), ditunjukan dengan bicara yang sulit
dimengerti (bicara pelo) yang disebabkan oleh paralisis otot yang
bertanggung jawab untuk menghasilkan bicara.
b. Disfasia atau afasia (bicara defektif atau kehilangan bicara).
c. Apraksia (ketidakmampuan untuk melakukan tindakan yang dipelajari
sebelumnya) seperti terlihat ketika penderita stroke mengambil sisir
dan berusaha menyisir rambutnya.
c. Gangguan Persepsi
Persepsi adalah ketidakmampuan untuk menginterprestasikan
sensasi. Stroke dapat mengakibatkan
1) Disfungsi persepsi visual
Gangguan jaras sensori primer di antara mata dan korteks visual,
yang berkaitan dengan sisi tubuh yang paralisis, dengan posisi kepala
yang berpaling dari tubuh yang sakit dan cenderung mengabaikan
bahwa tempat dan ruang pada sisi tersebut atau amorfosintesis.
2) Gangguan hubungan visual spasial
Gangguan hubungan dua atau lebih obyek dalam area spasial.
3) Kehilangan sensori
23

Berupa kerusakan sentuhan ringan atau mungkin lebih berat


dengan kehilangan propriosepsi (kemampuan untuk merasakan posisi
dan gerakan bagian tubuh) serta kesulitan dalam menginterpretasikan
stimuli visual, taktil, dan auditorius.
d. Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologik
Disfungsi ini dapat ditunjukkan dalam lapang perhatian terbatas,
kesulitan dalam pemahaman, lupa, dan kurang motivasi yang
menyebabkan penderita menghadapi masalah frustasi, dan masalah
psikologik lainnya.
e. Disfungsi kandung kemih
Setelah stroke, pasien mengalami inkontinensia urinarius
sementara karena konfusi dan ketidakmampuan mengungkapkan
kebutuhan.
6. Defisit lapang penglihatan
a. Homonimus hemianopsia (kehilangan setengan lapang penglihatan)
b. Kehilangan penglihatan perifer
c. Diplopia
7. Defisit kognitif
Penderita stroke akan kehilangan memori jangka pendek dan
panjang, penurunan lapang perhatian, kerusakan kemampuan untuk
berkonsentrasi, alasan abstrak buruk, dan perubahan penilaian.
8. Defisit emosional
Penderita akan mengalami kehilangan kontrol diri, labilitas
emosional, penurunan toleransi pada situasi yang menimbulkan stres,
depresi, isolasi sosial, rasa takut, dan lain-lain.

f. Patofisiologi
a. Pendarahan Intra Serebri (PIS)
Pecahnya pembuluh darah (mikroaneurisma) terutama karena
hipertensi mengakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak,
membentuk massa yang menekan jaringan otak dan menimbulkan edema
otak. Peningkatan Tekanan Intra Kranial (TIK) yang terjadi cepat, dapat
24

mengakibatkan kematian mendadak karena herniasi otak. Perdarahan


intraserebri yang disebabkan hipertensi sering dijumpai di daerah
putamen, talamus, pons, dan serebellum (Muttaqin, 2008).
b. Perdarahan Subarakhnoid (PSA)
Perdarahan ini berasal dari pecahnya aneurisma berry (AVM).
Aneurisma yang pecah ini berasal dari pembuluh darah sirkulasi Willisi
dan cabang-cabangnya yang terdapat di luar parenkim otak. Pecahnya
arteri dan keluarnya ke ruang subarakhnoid menyebabkan TIK
meningkat mendadak, meregangnya struktur peka nyeri, dan vasospasme
pembuluh darah serebri yang berakibat disfungsi otak global (nyeri
kepala hebat, penurunan kesadaran) maupun fokal (hemipharese,
gangguan hemisensorik, afasia dan yang lainnnya). Sering pula dijumpai
kaku kuduk dan tanda-tanda rangsangan selaput otak lainnya.
Peningkatan TIK yang mendadak juga mengakibatkan perdarahan
subhiolid pada retina dan penurunan kesadaran. Perdarahan subarakhnoid
dapat mengakibatkan vasospasme pembuluh darah serebri. Vasospasme
sering terjadi 3-5 hari setelah terjadinya perdarahan, mencapai puncaknya
pada hari ke- 5 atau hari ke- 9, dan dapat menghilang setelah minggu ke-
2 sampai dengan minggu ke-5. Timbulnya vasospasme diduga karena
interaksi antara bahan-bahan yang berasal dari darah dan dilepaskan ke
dalam cairan serebrospinal dengan pembuluh arteri di ruang
subarakhnoid. Vasospasme mengakibatkan disfungsi otak global mupun
fokal.
Otak dapat berfungsi jika kebutuhan O2 dan glukosa otak
terpenuhi. Energi yang dihasilkan di dalam sel saraf hampir seluruhnya
melalui proses oksidasi. Otak tidak memiliki cadangan O2 sehingga jika
terjadi kerusakan atau kekurangan aliran darah otak walau sebentar akan
mengakbatkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan
glukosa sebagai bahan bakar metabolisme otak, tidak boleh kurang dari
20 mg% karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak
25% dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa
plasma turun sampai 70% akan terjadi gejala disfungsi serebri. Otak
25

mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi O2 melalui proses


metabolik anaerob, yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah
otak (Muttaqin, 2008).

g. Faktor Resiko Stroke


Faktor resiko stroke menurut Feigin (2006), dibagi menjadi dua
yaitu faktor resiko yang dapat dimodifikasi seperti gaya hidup dan faktor
resiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti penuaan, kecenderungan
genetik, dan suku bangsa.

Menurut Junaidi (2011), faktor resiko stroke umumnya dibagi


menjadi 2 kelompok besar sebagai berikut:
a. Faktor internal (tidak dapat dikontrol/ diubah/ dimodifikasi) :
1) Umur; makin tua kejadian stroke makin tinggi.
2) Ras/suku bangsa : Bangsa Afrika/ Negro, Jepang, dan Cina lebih
sering terkena stroke.
3) Jenis kelamin: Laki-laki lebih berisiko di banding wanita.
4) Riwayat keluarga (orang tua, saudara) yang pernah mengalami stroke
pada usia muda maka yang bersangkutan berisiko tinggi terkena
stroke.
b. Faktor eksternal (dapat dikontrol, diubah, dimodifikasi):
1) Hipertensi.
2) Diabetes melitus.
3) Transient ischemic attack (TIA).
4) Fibriliasi atrial jantung.
5) Pascastroke: mereka yang pernah terserang stroke.
6) Abnormalitas lemak.
7) Fibrinogen tinggi dan perubahan hemoreologikal.
8) Perokok.
9) Peminum alkohol.
10) Hiperhomocysteinemia.
11) Infeksi: virus dan bakteri.
12) Obat-obatan, misalnya obat kontrasepsi oral/ pil KB.
26

13) Kurang aktifitas fisik.


14) Hiperkolesterolemia.
15) Stress fisik dan mental.

h. Pencegahan
Menurut Masriadi (2016), pencegahan terhadap kejadian stroke pada
dasarnya dapat di kelompokkan dalam 2 golongan besar yaitu pencegahan
primer dan pencegahan sekunder. Pencegahan bersifat primer, jika penyakit
stroke belum terjadi sedangkan pada pencegahan sekunder dilakukan
perawatan atau pengobatan terhadap penyakit dasarnya.
a. Pencegahan Primer
Langkah pertama dalam mencegah stroke adalah dengan
memodifikasi gaya hidup dalam segala hal, memodifikasi faktor resiko
dan kemudian bila dianggap perlu baru dilakukan terapi dengan obat
untuk mengatasi penyakit dasarnya. Menjalani gaya hidup sehat dengan
pola makan sehat, istirahat cukup, mengelola stress, mengurangi
kebiasaan yang dapat merugikan tubuh seperti merokok, makan
berlebihan, makanan banyak mengandung lemak jenuh, dan kurang
berolahraga.
b. Pencegahan sekunder
Penderita stroke biasanya banyak memiliki faktor resiko. Oleh
karena itu stroke seringkali berulang. Faktor resiko yang harus diobati ,
seperti: tekana darah tinggi, kencing manis, penyakit jantung koroner,
kadar kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL), darah yang tinggi,
kadar asam urat darah tinggi, kegemukan, perokok, peminum alkohol,
stress dan lain-lain. Sebaliknya penderita harus berhenti merokok,
berhenti minum alkohol, menghindari stress, rajin berolahraga dan lain-
lain.
c. Pencegahan Tersier
Dimulai dari gaya hidup dengan reduksi stres, exercise sedang,
berhenti merokok, lingkungan yang terjaga baik keamanan dan
keselamatan serta dukunga keluarga. Penderita stroke harus patuh dalam
27

pengobatan (Terapi fisik dan speach therapy) dan juga bagi pelayanan
kesehatan harus memfasilitasi Emergency medical technic, asuransi
(Bustan, 2007).

i. Diagnosis
Diagnosis stroke ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan klinis neurologis dan alat bantu diagnostik
neuroradiologik. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan CT scan kepala dan
MRI untuk menentukan dengan tepat letak dan luas lesi, ada tidaknya
perluasan ke ventrikel, edema perifokal, deviasi midline serta untuk
membedakan perdarahan dan iskemik. Prosedur cepat yang bisa diterapkan
untuk penanganan segera, sebagai berikut (Muttaqin, 2008 & Padila, 2012):
a. Pemeriksaan neurologis kilat dan cepat, untuk menentukan jenis stroke
dan lokalisasi otak yang terserang stroke.
b. Pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium rutin.
c. Pemeriksaan pencitraan dengan alat CT atau MRI secara cepat untuk
memastikan jenis stroke.
d. Melakukan koordinasi dari unit perawatan kedaruratan dan tersedianya
fasilitas angioplasti untuk pemeriksaan lebih lanjut.
e. Melakukan pemeriksaan alat doppler ultrasonografi secepat mungkin.
f. Melakukan pengobatan dasar seperti pemasangan kateter, pemberian
oksigen melalui hidung, intubasi endotracheal, dan lain-lain.

Menurut Junaidi (2011), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat
menangani penderita stroke antara lain:
a. Mengusahakan agar diagnosis serta diagnosis banding stroke selesai
secepat mungkin.
b. Mengupayakan agar kerusakan otak yang terjadi seminimal mungkin
dengan cara melakukan tindakan ABC-nya perawatan kritis saat pasien
masih di unit gawat darurat.
c. Hindari dan obati setiap kemungkinan komplikasi stroke.
d. Mencegah terjadinya stroke ulangan.
e. Memaksimalkan penyembuhan fungsional pasien.
28

j. Penatalaksanaan Stroke
Menurut Junaidi (2011), penatalaksanaan secara khusus pada
stroke umumnya di kelompokkan dalam 2 bagian, yaitu stroke iskemik dan
stroke hemoragik.
a. Terapi khusus Stroke iskemik
1) Terapi obat trombolitik; penghancur thrombus atau sumbatan
pembuluh darah.
2) Obat anti agregasi trombosit.
3) Neuroprptektan (pelindung saraf).
b. Terapi khusus Stroke hemoragik
1) Tindakan bedah hemicraniectomy.
2) Konvensional atau dengan menggunakan obat.
Menurut Arum (2015), ada beberapa terapi yang bisa dilakukan
setelah terserang stroke. Terapi-terapi itu meliputi terapi dampak
psikologis, terapi fisik, terapi kognitif, terapi komunikasi, terapi buang air
kecil, dan besar. Selain terapi-terapi yang telah disebutkan ada juga terapi
komplementer atau terapi pelengkap atau terapi alternatif setelah
mengalami stroke seperti;
a. Akupunktur, salah satu cabang utama dari ilmu kedokteran tradisional
Tiongkok, yang menggunakan jarum dalam terapi yang ditusukkan ke
beberapa titik spesifik pada tubuh. Terapi ini dapat meningkatkan
kesehatan dan kualitas hidup, mencegah penyakit, dan menangani
terhadap berbagai macam kondisi kesehatan. Ada kontradiktif dalam
terapi ini, tapi terapi ini tidak membahayakan asalkan dilakukan oleh
ahli akupuntur yang berkualitas.
b. Aromaterapi atau pijat, kegunaan dari pijat ini adalah untuk membantu
meringankan ketidaknyamanan akibat sakit kepala, nyeri tubuh,
meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan kondisi terkait stres seperti
insomnia dan susah tidur.
c. Hidroterapi, fisioterapi yang dilakukan di dalam kolam yang berisi air
hangat.
29

d. Yoga, bagi penderita stroke, latihan yoga yang disarankan adalah asana
dan pranayama. Asana merupakan gerakkan peregangan untuk seluruh
tubuh, memijat organ-organ internal, kelenjar, sistem sirkulasi, dan
sistem sekresi tubuh. Pranayama (pernapasan yang terkendali),
bermanfaat untuk menenangkan pikiran, mengistirahatkan fisik,
merangsang suplai darah ke semua tubuh, dan meningkatkan sistem
sirkulasi.
e. Terapi Nutrisi, ada beberapa makanan yang dapat menurunkan
kolesterol sehingga bermanfaat menurunkan potensi orang terkena
stroke, seperti bayam, wortel, daun selada, polong-polongan, dan nanas.
Makanan yang disarankan untuk penderita stroke adalah makanan yang
banyak mengandung vitamin C, E, B6, asam folat, dan lechitin.
Penderita stroke sebaiknya mengkonsumsi asam lemak esensial, dan
harus menghindari makanan dengan tinggi lemak, produk susu, gula,
garam, dan goreng-gorengan.

B. Konsep Depresi
1. Definisi Depresi
Depresi adalah suatu gangguan mental atau gangguan alam
perasaan atau afektif mood yang dimanifestasikan dalam gangguan
emosional berupa kesedihan yang mendalam serta gangguan kognitif seperti
timbulnya konsep diri yang negatif yang berlangsung lama sehingga
mengganggu kewajaran sikap yang disertai komponen psikologik; rasa
susah, murung, tidak mampu berkonsentrasi atau membuat keputusan,
merasa sedih yang berkepanjangan dan mendalam, tidak berharga (tidak ada
artinya dia hidup) dan merasa bersalah, putus asa, dan tidak bahagia, serta
komponen somatik; anoreksia, kontipasi, kulit lembab, tekanan darah dan
denyut nadi menurun. Dan cenderung tidak memiliki harapan atau perasaan
patah atau ketidakberdayaan yang berlebihan sehingga tidak mampu
berkonsentrasi dan membuat keputusan, selalu tegang dan adanya keinginan
untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri (Yosep, 2008 & Saragih dkk,
2011).
30

2. Epidemiologi
Depresi adalah salah satu gangguan mental yang cukup banyak
diderita oleh masyarakat, dan diperkirakan mempengaruhi 121 juta orang di
seluruh dunia. Penyakit ini merupakan salah satu penyebab utama
ketidakmampuan (disabilitas) dan merupakan kontributor utama ke-4 pada
penyakit-penyakit yang menjadi beban global pada tahun 2000. Pada tahun
2020, depresi diperkirakan akan mencapai ranking kedua sebagai penyakit
penyebab disabilitas.
Di Amerika, diperkirakan 5,3% pasien menderita depresi, dan
dalam sebuah survai di AS dujumpai bahwa 17% populasi memiliki sejarah
gangguan depresi dalam hidupnya. Pasien depresi juga beresiko terhadap
terjadinya alkoholisme, penyalahgunaan obat, gangguan kecemasan, dan
lain-lain. Pada keaadaan terburuk, depresi dapat menyebabkan bunuh diri,
yang menyebabkan dunia kehilangan 850.000 orang setiap tahunnya.
Ada kecenderungan hubungan keluarga dengan kejadian depresi, di
mana diperkirakan 8-18% pasien depresi memiliki sedikitnya satu keluarga
dekat yang memiliki sejarah depresi. Kejadian depresi pada wanita 2-3 x
lebih sering dibangdingkan pria, dan bisa terjadi pada setiap umur, tetapi
paling banyak terjadi pada usia 25-44 tahun (Ikawati, 2011).

3. Klasifikasi Depresi
Menurut Prabowo (2014), depresi terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu:
a. Depresi ringan
Sementara, alamiah, adanya rasa pedih, perubahan proses pikir
komunikasi sosial dan rasa tidak nyaman.
b. Depresi sedang
1) Afek : murung, cemas, kesal, marah, menangis
2) Proses pikir : perasaan sempit, berfikir lambat,
berkurang komunikasi verbal, komunikasi
non verbal meningkat.
3) Pola komunikasi : bicara lambat, berkurang komunikasi
verbal, komunikasi non verbal meningkat.
31

4) Partisipasi sosial : menarik diri, tidak mau bekerja dan sekolah,


mudah tersinggung.
c. Depresi berat
1) Gangguan afek : pandangan kosong, perasaan hampa,
murung, inisiatif berkurang.
2) Gangguan proses pikir
3) Sensasi somatic dan aktivitas motorik :
diam dalam waktu lama, tiba-tiba hiperaktif,
kurang merawat diri, tidak mau makan dan
minum, tidak peduli dengan lingkungan.
Menurut Ikawati (2011), berdasarkan keparahan depresinya, deprsi dapat
dibedakan menjadi :
a. Depresi mayor/ depresi berat
Depresi mayor merupakan salah satu bentuk yang paling umum dari
depresi.
b. Depresi atipikal
Depresi atipikal merupakan variasi dari depresi yang sedikit berbeda dari
depresi berat.
c. Dysthymia
Suatu keadaan yang merujuk pada depresi ringan atau sedang, tetapi
kronis.
d. Depresi psikotik
Depresi yang disertai dengan gejala psikotik.

4. Manifestasi Klinis Depresi


Menurut (Hawari, 2006; Saragih dkk, 2011 & Junaidi, 2012)
gejala-gejala klinis depresi terbagi tiga, yaitu:
a. Gejala Fisik
Keluhan fisik, seperti sakit kepala, rasa nyeri lambung, dan mual
bahkan muntah- muntah, nyeri dada, dan sesak napas, gangguan tidur,
penurunan libido dan agitasi, jantung berdebar-debar, retardasi
psikomotor, tidak nafsu makan atau makan berlebihan, diare, lesu dan
32

kurang bergairah, gerakan lambat dan berat badan turun, dan terjadinya
gangguan menstruasi, atau impotensi dan tidak merespon pada hubungan
seks.
b. Gejala Psikis
Gejala-gejala gangguan kognitif pada pasien depresi terlihat dari
ketidakmampuan berpikir logis, berkurangnya konsentrasi, hilangnya
daya ingat, dan disorientasi. Adapun gejala- gejala gangguan afektif
meliputi mudah marah dan gampang tersinggung, malu, cemas, bersalah
disertai dengan perasaan terbebani, hilangnya percaya diri, karena
mereka selalu menilai dari sisi pribadinya, seperti menilai orang lain
sukses, kaya, dan pandai, sementara diri saya tidak ada apa- apa ( merasa
tidak berguna) dan merasa diri terasing dalam hubungan dan putus asa.
c. Gejala sosial
Gejala-gejala gangguan sosial pada pasien depresi terlibat dari
keinginan untuk menyendiri dan tak mau bergaul, merasa malu dan
bersalah apabila berkomunikasi dengan orang yang dianggap lebih
berhasil, sukses, cantik, dan pandai. Pasien merasa minder, kurang
percaya diri untuk membina relasi sosial sekalipun pada anggota
keluarganya dan tidak mempedulikan pada situasi.
Menurut Hawari (2006), gejala depresi pada penderita stroke dapat
ditegakkan dengan kriteria sebagai berikut:
a. Gejala utama adalah gangguan afek (mood) yang disertai paling sedikit 3
dari penyerta yang disebutkan dalam kriteria depresif berat.
b. Tidak terdapat tanda-tanda delirium, demensia, sindrom waham organik,
atau halusinasi organik.
c. Terdapat faktor organik spesifik yang dinilai mempunyai hubungan
etiologik dengan gangguan itu, yang terbukti dari riwayat penyakit,
pemeriksaan fisik, dan laboratorium.

5. Faktor-Faktor Penyebab Depresi


Menurut (Saragih dkk, 2011; Ikawati, 2011 & Junaidi, 2012) faktor-
faktor penyebab depresi ada 2, yaitu:
33

a. Faktor Internal
1) Keturunan (genetik).
2) Stres.
Kondisi atau peristiwa yang memiliki persamaan dengan pengalaman
traumatik seseorang pada masa lalu, seperti; situasi yang menurunkan
harga diri, situasi yang menghambat tujuan penting atau menghadapi
dilema yang sulit dipecahkan, situasi dengan penyakit atau gangguan
fisik atau abnormalitas yang menyebabkan adanya ide-ide negatif
pada kemunduran fisiknya.
3) Usia dan jenis kelamin
Berdasarkan laporan penelitian menunjukkan bahwa kelompok orang-
orang muda, yakni remaja dan orang dewasa ( usia 18-44 tahun )
cenderung lebih mudah terserang depresi. Perempuan pada umumnya
lebih banyak memiliki resiko depresi daripada laki-laki. Data dari
world Bank mengatakan bahwa sekitar 30% perempuan mengalami
depresi dan 12,6% pria mengalami depresi. Dan itu juga ditentukan
oleh faktor biologis, seperti perubahan hormonal dan reproduksi dan
faktor lingkungan, seperti perubahan peran sosial yang menimbulkan
konflik dan kondisi yang menimbulkan stres.
4) Kepribadian
Ciri khas atau karakteristik yang unik dari diri seseorang, bahwa
penyebab depresi adalah cara berpikir seseorang yang suka
menyalahkan diri sendiri, mengevaluasi diri secara negatif dan
menginterprestasikan hal-hal yang terjadi pada dirinya secara negatif.
5) Biologis
Ketidakseimbangan dalam pelepasan neurotransmiter serotin mayor,
norepinefrin, dopamin, asetilkolin, dan asam gama aminobutrik.
Selama tahap depresi seseorang akan mengalami defisiensi dalam
neurotransmiter dasar yang mempengaruhi enzim yang mengatur dan
memproduksi bahan-bahan kimia ini. Selain itu, juga aksis
hipotalamus hipofisis adrenalin yang mengatur pelepasan kortisol
tidak berfungsi dengan baik.
34

6) Psikologis
Penyebab depresi adalah perasaan bersalah, dan dukacita yang
mendalam, berkepanjangan, mengingkari, perasaan tidak aman,
perasaan negatif atas diri sendiri, perasaan tidak mampu memikul
tanggung jawab, hubungan pribadi yang sangat terbatas, kesulitan
bergaul, kondisi emosional yang labil, dan merasa tidak berdaya(
putus asa).
b. Faktor Eksternal
Faktor-faktor eksternal yang menyebabkan depresi antara lain :
1) Faktor keluarga, meliputi; kedekatan, interaksi, dan komunikasi antar-
anggota keluarga, dukungan emosional dari pasangan, dan suasana
rumah tangga.
2) Faktor lingkungan, meliputi; relasi, peran sosial, dukungan sosial,
status ekonomi, dan latar belakang pendidikan.
3) Faktor tekanan hidup, yakni berbagai peristiwa hidup yang dapat
menyebabkan stres dan trauma bagi seseorang.
4) Faktor penyakit fisik.
5) Faktor obat-obatan.
Menurut penelitian Hendrik (2013), menjelaskan bahwa faktor-faktor
resiko depresi antara lain:
a. Jenis kelamin
Depresi lebih sering terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan karena
wanita lebih sering terpajan dengan stressor lingkungan dan ambangnya
terhadap stressor lebih rendah bila dibandingkan dengan pria.
b. Usia
Depresi lebih sering terjadi pada usia muda. Faktor sosial sering
menempatkan seseorang yang berusia muda pada resiko tinggi. Faktor
biologik seperti faktor genetik juga sering memberikan pengaruh pada
seseorang yang berusia lebih muda.

c. Status perkawinan
Gangguan depresi mayor lebih sering dialami individu yang bercerai atau
berpisah bila dibandingkan dengan yang menikah atau lajang. Status
35

perceraian menempatkan seseorang pada risiko yang lebih tinggi untuk


menderita depresi. Depresi lebih sering pada orang yang tinggal sendiri
bila dibandingkan dengan yang tinggal bersama kerabat lain.
d. Geografis
Penduduk kota lebih sering menderita depresi dibandingkan dengan
penduduk desa. Depresi lebih tinggi dalam institusi perawatan bila
dibandingkan dengan di dalam masyarakat. Depresi di pusat kesehatan
masyarakat lebih tinggi bila dibandingkan dengan populasi umum.
e. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang menderita gangguan depresi lebih tinggi
padasubyek penderita depresi bila dibandingkan dengan kontrol. Begitu
pula, riwayat keluarga bunuh diri dan menggunakan alkohol sering pada
keluarga penderita depresi dari pada kontrol. Dengan perkataan lain,
risiko depresi semakin tinggi bila ada riwayat genetik dalam keluarga.
f. Kepribadian
Seseorang dengan kepribadian yang lebih tertutup, mudah cemas,
hipersensitif dan lebih bergantung pada orang lain rentan terhadap
depresi.
g. Stresor sosial
Stresor adalah suatu keadaan yang dirasakan sangat menekan sehingga
seseorang tidak dapat beradaptasi dan bertahan. Peristiwa-peristiwa
kehidupan baik yang akut maupun yang kronik dapat menimbulkan
depresi. Persepsi seseorang terhadap suatu stresor juga ikut menentukan
pengaruh stresor terhadap orang tersebut. Akumulasi peristiwa yang tidak
menyenangkan juga berperan dalam terjadinya depresi, misalnya
peristiwa pertengkaran dalam keluarga, memulai pekerjaan baru,
perubahan lingkungan kerja, menderita penyakit serius, kematian anggota
keluarga dan penyakit serius pada anggota keluarga dapat mrnjadi
predisposisi untuk menjadi depresi.
h. Dukungan sosial
Faktor-faktor dalam lingkungan sosial yang dapat memodifikasi
pengaruh stresor psikososial terhadap depresi telah menjadi perhatian
36

dalam penelitian psikiatri. Dukungan sosial terdiri dari empat komponen


: jaringan sosial, interaksi sosial, dukungan sosial yang didapat dan
dukungan instrumental.
i. Tidak bekerja
Tidak mempunyai pekerjaan atau menganggur juga merupakan faktor
risiko terjadinya depresi. Suatu survai yang dilakukan terhadap wanita
dan pria dibawah 65 tahun yang tidak bekerja sekitar enam bulan
mengalami depresi tiga kali lebih dari pada yang bekerja.

6. Proses Terjadinya Depresi


Menurut Yosep (2013) dan Prabowo (2014), proses terjadinya
masalah pada pasien depresi biasanya diawali dari persepsinya yang negatif
terhadap stressor. Depresi dapat merefleksikan antara faktor-faktor biologis
(seperti faktor genetis, ketidakteraturan neurotransmitter, atau abnormalitas
otak), faktor psikologis (seperti distorsi kognitif atau ketidakberdayaan yang
dipelajari), serta stressor sosial dan lingkungan (sepreti perceraian atau
kehilangan pekerjaan) dan menganggap masalah sebagai sesuatu yang
seratus persen buruk. Hampir semua masalah yang muncul dianggap
negatif. Karena persepsi yang salah tersebut maka akan menuntun pasien
untuk berpikir dan bertindak salah, dan diperburuk dengan tidak adanya
support system yang adequate. Sehingga munculah fase akumulasi stressor
dimana stressor yang lain turut memperburuk keadaan pasien, dan menjadi
pemicu munculnya harga diri rendah yang akan menjadi internal stressor.

7. Penatalaksanaan
Menurut Ikawati (2011) dan Junaidi (2012), bahwa terapi depresi
dengan pemberian obat-obatan sangat menolong dan merupakan pilihan
utama, atau dikombinasikan dengan pengobatan psikoterapi dan terapi
elektro konvulsif.
a. Sasaran terapi
Sasaran terapi depresi adalah perubahan biologis atau efek berupa mood
atau perasaan klien. Karena mood klien dipengaruhi oleh kadar 5-HT dan
NE di otak, maka sasaran utamanya adalah modulasi 5-HT dan
37

norepinefrin otak dengan agen-agen yang sesuai untuk mencapai


kesetimbangan.
b. Strategi terapi
Tujuan terapi depresi adalah menurunkan gejala depresi dan
memfasilitasi klien untuk kembali ke kondisi normal. Strateginya adalah
menggunakan terapi nir-obat dan atau obat anti depresan yang dapat
memodulasi kadar 5-HT dan NE di otak.
c. Terapi Non Farmakologi (Psikoterapi & elektrokonvulsif)
d. Terapi farmakologi (antidepresi trisiklik, antikolinergik, SSRIs, MAOIs).
Menurut Saragih dkk (2011), ada 4 metode terapi yang bisa
diaplikasikan pada klien yang mengalami depresi, antara lain;
a. Terapi individu
Yaitu dengan mengekplorasi persaan yang menyebabkan depresi
seperti akibat kehilangan orang-orang yang dicintai klien. Mendiskusikan
perilaku pengalahan diri, harapan yang tidak realistis, dan kemungkinan
distorsi dari realitas. Kaji bagaimana distorsi kognitif pada klien yang
turut mempengaruhi depresi. Mendorong klien untuk mengungkapkan
rasa frustasi, marah, dan putus asa. Mengupayakan klien agar dapat
mengubah pola berpikir negatif otomatis tentang diri sendiri, orang lain,
lingkungan, dan masa depan. Memberikan kesempatan pada klien untuk
menyelesaikan masalah-masalah interpersonal. Melakukan monitoring
pada masalah-masalah fisiologi yang diperburuk oleh depresi dan
mendorong klien kekhawatirannya dan mengetahui bagaimana depresi
menurunkan hasrat libido seksualnya.
b. Terapi Keluarga
Adalah mengkaji fungsi keluarga , pola komunikasi, peran yang
diharapkan, keterampilan menyelesaikan, dan stresor. Terapis meminta
informasi dari masing-masing anggota keluarga tentang situasi keluarga
saat ini. Terapis bekerja sama dengan keluarga dalam menelusuri
bagaimana konflik-konflik atau krisis yang ditangani dan mengevaluasi
tentang dukungan anggota keluarga pada penyembuhan klien. Kaji
tentang ketertutupan dan ketidakpedulian dari setiap anggota keluarga.
38

Fokuskan pada proses identifikasi dan intervensi distorsi kognitif yang


mengganggu kesehatan keluarga. Ajarkan kepada keluarga klien tentang
keterampilan komunikasi yang persuasif, penyelesaian masalah,
pengelolaan stres, dan ekspresi perasaan yang konstruktif. Fasilitasi klien
agar dapat mengungkapkan ansietas, rasa bersalah, marah, tidak berdaya
dan rasa bermusuhan dengan prinsip pembelajaran.
c. Terapi Kelompok
Adalah berupaya untuk meningkatkan harga diri dan mengakui
kekuatan dari setiap- setiap anggota kelompok. Mengajarkan klien
tentang cara membentuk dan mempertahankan hubungan interpersonal,
terutama setelah klien mengalami kehilangan.
d. Terapi Obat-obatan
Adalah dengan memberikan obat-obatan yang disesuaikan dengan
tingkat dan gejala-gejala depresi. Dalam fase akut, gejalanya ditangani
dengan memberikan obat pada dosis tertentu yang disesuaikan untuk
mencegah efek samping yang merugikan klien. Akan tetapi, pada fase
ringan atau tidak memiliki risiko tinggi, maka sebaiknya penanganan
depresi dilakukan dengan memberikan bimbingan dan penyuluhan
psikologis. Adapun jenis-jenis obat yang digunakan untuk mengatasi
depresi adalah selective serotonin reuptake inhibitors (SSRis),
antipsikotik, dan benzodiazepin.

8. Alat Ukur Depresi


Pengukuran tingkat depresi menggunakan Beck Depression
Inventory (BDI-II) pada saat sebelum dan setelah intervensi pada kelompok
intervensi. Kuesioner BDI tervalidasi di Swis. Validitas ini dibuktikan
dengan memenuhi enam dari sembilan kriteria American Psychological
Association’s Diagnostic and Statistical Manual on Mental Disorders.
Korelasi rata-rata untuk konkuren studi validitas dengan skala penilaian
depresi klinis lainnya berkisar 0,60-0,76. Sedangkan nilai reliabilitas
instrumen pada beberapa studi berkaitan dengan depresi pada pasien dengan
39

penyakit kronik, menunjukkan koefisien Cronbach’s alpha pada kisaran


antara 0,85-0,92 (Yusuf, dkk, 2017).
Kuesioner ini diadobsi dari Oktari (2013) dan Yusuf, dkk (2017),
yang telah di uji validitas dengan didapatkan hasil Cronbach’s Alpha
(0,923) dengan r tabel lebih kecil dari CA sehingga kuesioner ini valid.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pengukuran depresi dengan menggunakan
skala BDI-II akan diperoleh hasil yang valid dan reliable. Skala BDI-II
merupakan skala pengukuran interval yang mengevaluasi 21 gejala depresi,
15 diantaranya menggambarkan emosi, 4 perubahan sikap, dan 6 gejala
somatik. Setiap gejala diranking dalam skala 4 intensitas 4 poin (0-3) dan
nilainya ditambahkan untuk memberi total nilai dari 0-63.
Nilai yang lebih tinggi mewakili depresi yang lebih berat dan 21
item tersebut menggambarkan kesedihan, pesimistik, perasaan gagal,
ketidakpuasan, rasa bersalah, perasaan akan hukuman, kekecewaan terhadap
diri sendiri, menyalahkan diri sendiri, keinginan bunuh diri, menangis,
iritabilitas, hubungan sosial, pengambilan keputusan, ketidakberhargaan
diri, kehilangan tenaga, insomnia, perasaan marah, anoreksia, kesulitan
berkonsentrasi, kelelahan, dan penurunan libido. Penilaian dilakukan
dengan menggunakan kuesioner, di mana skor:
a. Skor 0 – 9 menunjukkan tidak ada gejala depresi adalah normal
b. Skor 10 – 18 menunjukkan adanya depresi ringan
c. Skor 19 – 29 menunjukkan adanya depresi sedang
d. Skor 30 – 63 menunjukkan adanya depresi berat.

C. Terapi Dzikir
1. Definisi Dzikir
Kata dzikir berasal dai bahasa arab, dzikr yang berarti mengingat
dan mengucap atau menyebut. Dzikir secara etimologi berarti mengingat,
sedangkan secara istilah berarti membasahi lidah dengan ucapan - ucapan
pujian kepada Allah SWT. Dzikir merupakan suatu perbuatan mengingat,
menyebut, mengerti, menjaga dalam bentuk ucapan-ucapan lisan, gerakan
hati atau gerakan anggota badan yang mengandung arti pujian, rasa syukur
40

dan doa dengan cara-cara yang diajarkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya,
dengan demikian dzikir adalah mengiangat Allah dengan membacanya
untuk memperoleh ketentraman batin atau mendekatkan diri (taqarrub)
kepada Allah SWT, dan agar memperoleh keselamatan serta terhindar dari
siksa Allah SWT. Apabila dikaitkan dengan islam, berarti mengingat dan
menyebut Asma Allah SWT yang merupakan suatu kewajiban bagi umat
islam. Ingat ini tidak hanya sekedar menyebutnama Allah dalam lisan atau
dalam pikiran dan hati. Akan tetapi dzikir yang dimaksud adalah ingat akan
zat, sifat dan Perbuatan-Nya, kemudian memasrahkan hidup dan mati
kepada-Nya. Sehingga tidak takut maupun gentar menghadapi segala
macam mara bahaya dan cobaan (Nawawi, 2008; Hamid, 2009 & Ali,
2010).
Di dalam ibadah dzikir terdapat unsur spiritual, pikiran yang
dipusatkan pada sang pencipta menimbulkan perasaan berserah diri yang
pada akhirnya muncul suatu harapan, ketenangan, sehingga membentuk
kondisi tubuh yang homeostasis sehingga kekebalan tubuh meningkat.
Kondisi ini tidak terlepas dari sistem kerja yang mengatur irama kehidupan
manusia yaitu hormon. Dalam dunia tasawuf, zikir mempunyai kedudukan
signifikan. Dzikir kepada Allah (dzikrullah) menempati sentral amaliah
hamba yang beriman, karena dzikrullah adalah keseluruhan getaran hidup
yang digerakkan oleh kalbu dalam totalitas Iiahiah. Totalitas inilah yang
mempengaruhi aktivitas, gerak-gerik hamba, kediaman, dan kontemplasi
hamba. Karena itulah, kaum sufi memandang bahwa zikir mempunyai
peranan penting dalam upaya mengobati penyakit-penyakit rohani (Solihin,
2007).
Sebagian ahli kedokteran jiwa telah menyakini bahwa
penyembuhan penyakit klien dapat dilakukan lebih cepat jika memakai cara
yang berdasarkan pendekatan keagaman, yaitu dengan membangkitkan
potensi keimanan kepada Tuhan lalu menggerakkannya ke arah pencerahan
batiniah. Dengan kondisi batin yang tercerahkan inilah yang akhirnya
menimbulkan kepercayaan diri bahwa Tuhan adalah satu-satunya kekuatan
penyembuhan dari penyakit-penyakit yang diderita. Kepercayaan inilah
41

yang menjadi daya dorong kuat bagi kesembuhan penyakit bathin (Solihin,
2007).
2. Landasan Dasar & Sumber Dzikir
Menurut Nawawi (2008), menyatakan bahwa dasar dan sumber
dzikir tercantum dalam Al- Qur’an dan hadist.
Adapun yang menjadi dasar perintah untuk mengerjakan dzikir ini antara
lain :
a. Firman Allah SWT dalam Al Quran yang Artinya: "Hai orang-orang
yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang
sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan
petang“ (QS. Al Ahzab (33) : 41:42).
b. Sabda Rasulullah SAW dalam hadits : yang Artinya: "Dari Abu Musa ra.
berkata Rasul saw bersabda :“Perumpamaan orang yang berdzikir dengan
orang yang tidak berdzikir, adalah seperti orang yang hidup dengan orang
yang mati”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al Asy’ari).
Selanjutnya di dalam Al Qur’an surat Al Baqarah Allah SWT berfirman
yang Artinya: “ Maka berdzikirlah kamu kepada-Ku maka Aku akan
berdzikir (mengingat) kepadamu. Dan bersyukurlah kamu kepada-Ku
dan janganlah kamu kufur kepada-Ku”(QS. Al Baqarah 152).
Ada beberapa lafaz dzikir yang sudah baku yang bersumber dari
Alqur’an maupun Hadist Nabi, diantaranya sebagai berikut;
a. Tahmid, yaitu mengucapkan al-hamdulil Allah ( segala puji kepunyaan
Allah).
b. Tasbih, yaitu mengucapkan subhan Allah ( mahasuci Allah).
c. Takbir, yaitu mengucapkan Allah akbar ( Allah mahabesar).
d. Basmalah, yaitu mengucapkan bism Allah al-rahman al-rahim (dengan
menyebut nama Allah Maha pengasih lagi maha penyayang).
e. Istigfar, yaitu astagfir Allah ( Aku memohon ampun kepada Allah).
f. Tahlill, yaitu mengucapkan la ilaha illa Allah ( tiada tuhan selain allah).
g. Hauqalah, yaitu mengucapkan la haula wa la quwwata illa bi allah (tiada
daya dan kekuatan kecuali daya dan kekuatan dari Allah).
h. Hasbalah adalah bacaan untuk mengakui bahwa cukuplah Allah SWT.
42

i. Ta’awwudz adalah bacaan untuk meminta perlindungan Allah SWT dari


gangguan setan (Solihin, 2007; Hamid, 2009 & Ali, 2010).

3. Klasifikasi Dzikir
Menurut Hamid (2009), dzikir dapat dibedakan dalam tiga jenis, yaitu:
a. Dzikir dengan lisan (dzikir bil al-lisan), yakni membaca atau
mengucapkan kalimat-kalimat takbir, tahmid, dan tahlil dengan bersuara.
b. Dzikir dalam hati (dzikr bil al qolb), yakni membaca atau mengucapkan
kalimat kalimat takbir, tahmid, dan tahlil dengan membatin, tanpa
mengeluarkan suara.
c. Dzikir dengan panca indra atau anggota badan (dzikr bi al-jawarih),
yakni menundukan seluruh anggota badan kepada Allah SWT dengan
cara melaksanakan segala perintah dan meninggalkan segala larangan-
Nya.

4. Keutamaan dan Manfaat Dzikir


Menurut (Nawawi, 2008; Hamid, 2009 & Ali, 2010), adapun
keutamaan bagi orang yang berdzikir kepada Allah SWT, antara lain :
a. Dzikir sebagai upaya Taqarub (pendekatan diri) kepada Allah .
b. Dzikir sebagai penenang hati.
c. Dzikir sebagai pembersih hati.
d. Dzikir sebagai pembaru iman.
e. Dzikir sebagai sarana masuk surga.
f. Dzikir sebagai sarana memperoleh safa’at Rasul SAW.
g. Dzikir dapat mengusir setan.
h. Dzikrullah membawa ke martabat yag tinggi
i. Dzikrullah adalah harta yang tak ternilai harganya.

5. Tujuan Dzikir
Tujuan berdzikir adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah
dengan mengingat_Nya sepanjang masa sehingga hati menjadi tentram dan
melahirkan kecintaan kepada Allah dan terjalin kedekatan hubungan antara
43

hamba dan Tuhannya, serta dapat dijadikan sebagai penawar sajit bagi hati
dan jiwa yang rusuh, resah dan gelisah dengan dzikir maka jiwa kita akan
dipenuhi kekayaan batin berupa ketenangan dan ketentraman hati, dalam
menghadapi kehidupan ini, sehingga tidak ada tempat dihati kita bagi
bisikan syetan (Ali, 2010).

6. Waktu dan Tempat Utama untuk Berdzikir


Menurut Hamid (2009) dan Ali (2010), sesungguhnya kegiatan
dzikir dapat dilakukan kapan saja, baik pagi, siang, atau sore maupun
malam hari. Firman Allah SWT dalam QS.33/Al Ahzab : 41-42 “ Hai
orang-orang yag beriman, berdzikirlah ( dengan menyebut nama) Allah
sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan
petang”. Waktu-waktu tertentu yang sangat utama untuk berdzikir yaitu:
a. Pagi hari sebelum terbit matahari, usai sholat subuh, dan pada sore hari
setelah sholat Ashar, sebelum matahari terbenam.
b. Setelah matahari tergelincir, usai sholat dhuhur.
c. Setelah menunaikan sholat-sholat wajib.
d. Pada waktu sepertiga malam yang terakhir
Berdzikir tidak harus berdiam diri dalam satu tempat kemudian
membaca lafadz dzikir, tetapi dzkir ( mengingat Allah SWT) dapat
dilakukan dalam setiap saat, sambil berdiri, duduk, atau berbaring, seperti
dalam firman Allah SWT dalam QS. Al-Imran :191 dan QS. An-Nisa : 103,
bahkan dalam kegiatan apapun selama tidak ditempat najis, kita dianjurkan
terus - menerus berdzikir dan sebaiknya dzikir itu kita lakukan ditempat-
tempat yang bersih, suci, dan tenang seperti di masjid atau musholla.
Meskipun demikian, dzikir bisa dilakukan di sekolah, di kantor, di tempat
berwisata, bahkan ketika menunggu bus di halte atau menanti kereta di
stasiun, menunggu pesawat di bandara, dan duduk-duduk di pelabuhan, kita
bisa berdzikir dalam perjalanan, baik sewaktu berjalan kaki maupun naik
kendaraan, kita bisa berdzikir (Hamid, 2009 & Ali, 2010).
44

7. Adab Berdzikir
Menurut penelitian Khasanah (2015), menyatakan bahwa adab
berdzikir antara lain:
a. Kekhusukan dan kesopanan, menghadirkan makna kalimat- kalimat
dzikir, berusaha memperoleh kesan-kesannya, dan memperhatikan
maksud-maksud serta tujuan-tujuannya.
b. Merendahkan suara sewajarnya disertai konsentrasi sepenuhnya dan
kemauan secukupnya sampai tidak terkacau oleh sesuatu yang lain.
c. Menyesuaikan dzikir kita dengan suara jamaah, kalau dzikir itu dibaca
secara berjamaah, maka tak seorangpun yang mendahului atau terlambat
dari mereka, dan ketika itu dzikirnya jangan dimulai dari awal jika
terlambat datang, tetapi ia harus memulai bersama mereka dari kalimat
yang pertama kali ia dapatkan, kemudian setelah selesai ia harus
mengganti dzikir yang belum dibacanya. Hal ini dimaksudkan agar tidak
menyimpang dari bacaan yang semestinya, dan supaya tidak berlainan
iramanya.
d. Bersih pakaian dan tempat, serta memelihara tempat-tempat yang
dihormati dan waktu-waktu yang cocok. Hal ini menyebabkan adanya
konsentrasi penuh, kejernihan hati, dan keikhlasan niatnya.
e. Setelah berdzikir dengan penuh kekhusukan dan kesopanan, disamping
meninggalkan perkataan yang tidak berguna juga meninggalkan
permainan yang dapat menghilangkan faedah dan kesan dzikir.
Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa adab dzikir yaitu
dilakukan dengan khusuk dan sopan, merendahkan suara sewajarnya,
menyesuaikan dzikir dengan jama’ah, bersih dari najis, bersih pakaian dan
tempat, dzikir juga dapat dilakukan dalam hati dan memejamkan mata
dengan tujuan agar kita lebih konsentrasi dan memahami makna dari dzikir
tersebut.

8. Pengaruh Bacaan Dzikir Bagi Kesehatan Jiwa


Menurut penelitian Wulandari (2013), berangkat dari kenyataan
masyarakat modern, khususnya masyarakat barat yang dapat digolongkan
the post industrial society telah mencapai puncak kejayaan dan kenikmatan
45

materi justru berbalik dari apa yang diharapkan, yakni mereka dihinggapi
rasa cemas, sehingga tanpa disadari integritas kemanusiaannya tereduksi,
dan terperangkap dalam jaringan sistem rasionalitas teknologi yang sangat
tidak manusiawi. Akhirnya mereka tidak mempunyai pegangan hidup yang
mapan. Lebih dari itu muncul dekadensi moral dan perbuatan brutal serta
tindakan yang dianggap menyimpang.
Dalam kenyataannya, filsafat rasionalitas tidak mampu memenuhi
kebutuhan pokok manusia dan aspek nilai lainnya. Manusia mengalami
kehampaan spiritual, yang mengakibatkan gangguan kejiwaan. Islam
sebagai agama rahmatan lil’alamin menawarkan suatu konsep
dikembangkan nilai-nilai ilahiah dalam batin seseorang. Banyak manusia
yang gelisah hatinya ketika mereka tidak memiliki pegangan yang kuat
dengan keimanan. Kegelisahan jiwa manusia modern khususnya dibarat
dikarenakan tipisnya pegangan iman kepada Tuhan.
Merebaknya paham materialisme dan individualisme serta
kapitalisme membuat masyarakat modern kehilangan kendali. Nilai-nilai
keagamaan tidak lagi diangagap sakral, akibatnya banyak tempat-tempat
agama dibarat kehilangan jemaatnya. Hal ini tidak menutup kemungkinan
berdampak pada masyarakat muslim. Akan tetapi dengan kuatnya iman
dengan pendekatan zikir kepada tuhan, maka diharapkan kaum muslimin
tetap terkendali dan spiritualisme akan tetap memiliki daya pengikat yaitu
hati selalu tertuju kepada Allah.
46

D. Kerangka Teori

Bagan 2.1 Kerangka Teori

Terapi farmakologi dan non


farmakologi

Faktor Resiko Stroke (Junaidi, 2011)


Terapi Dzikir (Lisan &
Hati) 1.Faktor Internal (umur, ras, jenis
kelamin, dan riwayat keluarga)
2.Faktor Eksternal (Hipertensi, DM,
TIA, Fibrilasi atrial jantung, kurang
aktivitas fisik, obesitas, dan lain-lain)
Konsentrasi Sensorik

Stroke
Korpus kolosum Korteks Fontal
(zat listrik dan
biokimia) 1. Hemoragik
Thalamus 2. Non hemoragik

Stimulasi suara dan pergerakkan


dikirim ke otak atas dan bawah ( Defisit neurologis
sistem saraf otonom). Hipokampus :
sekresi GABA Perfusi jaringan otak

Sistem neuroendokrin 1. Kehilangan motorik


Amigdala (Sinyal (hemiplegia)
; sekresi
suara & gerakan) 2. Kehilangan komunikasi
neuropeptida
(Disartria, disfasia,
(-)(S.parasimpatis Stimulus saraf Apraksia)
& endokrin 3. Gangguan persepsi
Hipotalamus (visual, spasial, sensori)
S. Simpatis)
(CRF) & ACTH 4. Kerusakan fungsi
kognitif dan efek
Neurotransmit psikologik
Aktivitas sel alfa Persepsi positif ter 5. Disfungsi kandung kemih
norepinefrin,
serotin, &
Kondisi rileks dopamine
Hipotalamus(CRF)
Persepsi Saragih dkk, (2011)
negatif Faktor internal :

Endorphin stressor -Usia dan jenis kelamin,


Stres (Pendidikan,
Depresi pekerjaan, percintaan,
penyakit), Kepribadi,
Homeostasis (keseimbangan)
psikologis dan biologis
akan memperbaiki sistem
neurotransmitter. Optimisme dan
Faktor eksternal :-
perespsi negatif (-)
Keluarga, Lingkungan,
Tekanan hidup, penyakit
fisik, obat-obatan.

Sumber : ( Arif, 2007; Muttaqin, 2008; Junaidi, 2011; Saragih dkk, 2011; Ariani, 2012 &
Guyton, 2014)
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian adalah suatu uraian dan visualisasi
hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya atau
antara variabel yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang ingin
diteliti (Notoatmodjo, 2012).
Kerangka konsep ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi
dzikir terhadap skor depresi pada pasien pasca stroke di Ruang Poliklinik Saraf
Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2017.

Bagan 3.1 Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Terapi Dzikir Depresi

47
48

B. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Operasional Ukur
1. Terapi Dzikir merupakan Satuan Terlaksananya Panduan
Dzikir suatu tindakan Acara pendanpingan penelitian
mengingat, Kegiatan Satuan Acara (modul )
mengucapkan dan (SAK) Kegiatan
mengerti, dalam
melafazkan dzikir
Al- Baqiyyatush-
Shalihah (kalimat
Astaghfirullahal’a
dzim,
subhanallah,
walhamdulillah
wa la
ilahaillallahu
Allahu akbar)
dengan lisan dan
gerakan hati
(diserafi dalam
hati) yang
masing-masing
diucapkan
sebanyak 33 kali.

2 Depresi Gangguan alam Wawancara Kuesioner Di nilai Interval


perasaan atau dan BDI-II berdasarkan
emosi yang Checklist skor BDI-II,
mempengaruhi dengan
psikologis rentang skor
seseorang. 0-63

C. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka konsep, maka hipotesis dalam
penelitian ini adalah adanya pengaruh terapi dzikir terhadap depresi pada
pasien pasca stroke di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2017.
49

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan penelitian
Pre-Experimental menggunakan desain penelitian One Group Pretest –
Posttest. Penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan pretest (pengamatan
awal) terlebih dahulu sebelum diberikan intervensi. Setelah itu diberikan
intervensi, kemudian dilakukan posttest (pengamatan akhir) (Hidayat, 2013).

Pretest Perlakuan Posttest

Kelompok Eksperimen ©1 X ©2

Keterangan :

©1 : Skor depresi sebelum dilakukan intervensi.


©2 : Skor depresi setelah dilakukan intervensi.
X : Pemberian perlakuan / intervensi terapi dzikir.
B. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Menurut Setiadi (2013), menyebutkan bahwa populasi merupakan
wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai
kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian
ini adalah semua pasien Poliklinik Saraf yang mengalami stroke baik stroke
hemoragik maupun non hemoragik di Rumah Sakit Muhammadiyah
Palembang Tahun 2017.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek penelitian yang
diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2012).
a. Sampel pada penelitian ini adalah sebagian pasien pasca stroke di ruang
Poliklinik Saraf yang mengalami stroke baik stroke hemoragik maupun
non hemoragik di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun
2017.

49
50

Rumus Perhitungan sampel menurut Dahlan (2013) :

Besar Sampel : (𝒁𝜶 𝒁𝜷) 𝑺 2


n 1 = n2 { }
𝒙𝟏−𝒙𝟐

Keterangan :
n = besar sampel
Zα = deviat baku alfa kesalahan tipe I = 5%, hipotesis dua
arah, maka = 1.64
Zβ = deviat baku beta atau kesalahan tipe II = 10 %,
maka = 1,28
S = simpang baku dari seilisih nilai antar kelompok
(nilai 14,41) (Murtisari, 2014).
X1-X2= selisih minimal rerata yang dianggap bermakna (XI = 16,
X2 = 9) (Murtisari, 2014).
Jadi besar sampel adalah :
( )
n={ }2

n={ }2

n={ }2

n = 36,1 = 36 responden
Besar sampel dalam penelitian ini adalah 36 responden untuk
kelompok intervensi.
Teknik Sampling dalam penelitian ini adalah “ Non Probability sampling”
dengan cara Purposive Sampling, dengan kriteria :
a. Kriteria inklusi :
1) Pasien pasca stroke hemoragik dan non hemoragik (minimal 2 minggu
pasca stroke) (Aprilina, 2010).
2) Beragama islam.
51

C. Tempat dan Waktu Penelitian


1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan melakukan kunjungan ke rumah (home
visite) terhadap pasien pasca stroke.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 04 April sampai 28 Mei tahun 2017.
D. Tehnik Pengumpulan Data
1. Sumber Data
a. Data primer
Data yang diperoleh langsung dari responden melalui pengisian
kuesioner yang telah disiapkan di mana responden diberi kebebasan
untuk mengisi dengan jawaban sesuai menurut responden.
b. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari data RS
Muhammadiyah Palembang Tahun 2017 yang mendukung untuk
penelitian seperti data rekam medik, data jumlah pasien yang dirawat
jalan di ruang poliklinik saraf dan buku status pasien.
2. Prosedur Pengumpulan Data
a. Tahap Administrasi
Peneliti menyampaikan surat permohonan izin penelitian kepada
Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang, melalui Kepala
Bagian Pendidikan dan Penelitian Rumah Sakit Muhammadiyah
Palembang, serta meminta izin kepada Kepala Instalasi ruang rawat jalan
(Poliklinik Saraf) Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Setelah
mendapat izin, peneliti membuat daftar responden dan mendatangi
pasien.
b. Tahap Pelaksanaan Penelitian
Peneliti bekerja sama dengan Kepala Ruangan Rawat Jalan
(Poliklinik Saraf) untuk mengecek daftar responden yang telah dibuat.
1) Dengan bantuan Kepala Ruangan, peneliti menemui responden
dengan mengucapkan salam dan memperkenalkan diri kepada pasien
52

serta menjelaskan kontrak waktu, tempat (home visite) dan maksud


serta tujuan.
2) Responden dipersilahkan untuk menandatangani lembar persetujuan
sebagai pernyataan persetujuan atas keikutsertaan sebagai subjek
penelitian.
3) Peneliti melakukan sesi atau pertemuan ke-II dengan melakukan
kunjungan ke rumah (home visite) responden.
4) Peneliti menyerahkan kuesioner serta menjelaskan cara pengisian
kuesioner dan responden dipersilahkan untuk mengisi kuesioner.
5) Responden diberikan waktu untuk mengisi kuesioner dan
diperkenankan kepada responden untuk mengklarifikasi pertanyaan
yang kurang jelas.
6) Setelah selesai kuesioner dikumpulkan dan peneliti melakukan
intervensi dalam sesi ke-II yaitu menjelaskan tujuan, manfaat, dan
proses pemberian terapi dzikir yang akan dilaksanakan.
7) Peneliti mendemonstrasikan proses terapi dzikir Al-Baqiyyatush-
Shalihah (Subhanallah, Alhamdulillah, la ilaha illa Allah, Allah akbar)
yang masing-masing dilakukan sebanyak 33 kali selama 30 menit yang
dilakukan pada waktu sesudah Sholat Asar (sore) pukul 16.00 Wib
atau waktu pagi pukul 07.30 Wib).
Langkah-langkah Terapi Dzikir :
a) Membaca Basmallah (Bismillahirrahmanirrahim).
b) Persiapkan pasien (suci atau bersih), alat dan bahan serta ruangan
yang tenang, nyaman, dan bersih.
c) Posisi rileks (duduk atau setengah duduk dan berbaring).
d) Tenangkan diri sampai benar-benar nyaman.
e) Nafas dalam (5 detik) dengan cara tarik nafas melalui hidung, tahan
beberapa saat dan lepaskan melalui mulut dengan perlahan.
f) Mulailah melemaskan otot, mulai dari kaki, betis, paha, perut dan
pinggang. Kemudian disusul dengan melemaskan kepala, leher,
dan pundak dengan memutar kepala, dan mengangkat pundak
perlahan- lahan.
53

g) Ulurkan kedua lengan dan tangan, kemudian kendurkan dan


biarkan terkulai diatas lutut dengan tangan terbuka dalam posisi
berdoa (jika posisi duduk).
h) Pejamkan mata dengan santai, lidah ditekuk dan disentuhka
kelangit-langit dan bernafas dengan tenang serta fokuskan
perhatian kehati anda.
i) Anda harus yakin bahwa dzikir akan membuat batin menjadi
tenang sehingga berpengaruh menimbulkan ketenangan.
j) Jika muncul rasa apapun, gambaran masa lalu atau suara masa lalu
yang tidak nyaman, pasrah saja, terima atau lepaskan dengan
ikhlas. Jika ingin menangis, menangislah, biarlah semua perasaan
keluar dan biarkan beban terlepas. Bebaskan diri dari segala beban
yang mungkin tersimpan dalam diri. Kuncinya, pasrah, pasrah, dan
pasrah. Ikhlas, ikhlas dan ikhlas.
k) Mulailah menyebutkan atau mengucapkan baik denga lisan ataupun
hati kalimah-kalimah allah atau bacaan dzikir Al- Baqiyyatush-
Shalihah (Subhanallah, Alhamdulillah, la ilaha illa Allah,Allah
akbar) masing-masing 33 kali.
l) Setelah berdzikir tutuplah dengan ucapan alhamdulillah,
sadaqallahul-azhim.
m) Tarik nafas dalam-dalam , lalu tahan dirongga dada semampunya,
lalu lepaskan.
n) Buka mata perlahan, lihat lingkungan sekitar anda dengan
menggerakkan bola mata anda semampunya dan kemudian pelan-
pelan merubah posisi.
8) Motivasi pasien untuk mempraktikkan kembali terapi dzikir.
9) Mengevaluasi perasaan pasien setiap pertemuan setelah melakukan
terapi dzikir.
10) Akhiri aktivitas terapi dzikir dengan membaca hamdallah.
11) Memberikan kuisioner kedua setelah selang waktu 10 menit dari
pemberian intervensi.
54

12) Mengumpulkan kuesioner-kuesioner yang telah diisi responden dalam


satu berkas.
13) Mengakhiri setiap pertemuan dengan mengucapkan terimakasih dan
salam.
14) Melakukan pengolahan data terhadap kuesioner-kuesioner yang telah
dikumpulkan dengan program statistik komputer.

E. Instrumen Pengumpulan Data


Instrumen dalam penelitian ini menggunakan Kuesioner. Menurut
Setiadi (2013), kuesioner adalah suatu cara pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara mengedarkan suatu pertanyaan yang berupa formulir.
Checklist adalah instrumen survey untuk mendapatkan data berupa
daftar pengecek, yang berisi nama subyek dan beberapa gejala atau identitas
lainnya dari sasaran pengamatan dan responden memberikan jawaban dengan
memberikan cek (√) sesuai dengan hasil yang diinginkan atau peneliti
memberikan tanda (√) sesuai dengan hasil pengamatan (Notoatmodjo, 2012).
1. Terapi dzikir, Pelaksanaan dilakukan dengan menggunakan Satuan
Acara Kegiatan (SAK).
2. Pengisian kuesioner BDI-II (Beck Depression Inventory).
Pengukuran tingkat depresi menggunakan Beck Depression
Inventory (BDI-II) pada saat sebelum dan setelah intervensi pada kelompok
intervensi. Kuesioner BDI tervalidasi di Swis. Validitas ini dibuktikan
dengan memenuhi enam dari sembilan kriteria American Psychological
Association’s Diagnostic and Statistical Manual on Mental Disorders.
Korelasi rata-rata untuk konkuren studi validitas dengan skala penilaian
depresi klinis lainnya berkisar 0,60-0,76. Sedangkan nilai reliabilitas
instrumen pada beberapa studi berkaitan dengan depresi pada pasien dengan
penyakit kronik, menunjukkan koefisien Cronbach’s alpha pada kisaran
antara 0,85-0,92 ( Yusuf, dkk, 2017).
Kuesioner ini diadobsi dari Oktari (2013) dan Yusuf,dkk (2017),
yang telah di uji validitas dengan didapatkan hasil Cronbach’s Alpha
(0,923) dengan r tabel lebih kecil dari CA sehingga kuesioner ini valid.
55

Kondisi ini menunjukkan bahwa pengukuran depresi dengan menggunakan


skala BDI-II akan diperoleh hasil yang valid dan reliable. Skala BDI-II
merupakan skala pengukuran interval yang mengevaluasi 21 gejala depresi,
15 diantaranya menggambarkan emosi, 4 perubahan sikap, dan 6 gejala
somatik. Setiap gejala diranking dalam skala 4 intensitas 4 poin (0-3) dan
nilainya ditambahkan untuk memberi total nilai dari 0-63.Nilai yang lebih
tinggi mewakili depresi yang lebih berat. Rentang skor penelian 0-63,
dengan pengelompokkan antara lain :
a. Skor 0-9 : Normal
b. Skor 10-18 : Depresi ringan
c. Skor 19-29 : Depresi sedang
d. Skor 30-63 : Depresi Berat

F. Pengolahan dan Analisis Data


Pengelolaan dan rencana analisa data pada penelitian ini
menggunakan program komputer dengan tahapan sebagai berikut:
1. Pengelolaan Data
Menurut Setiadi (2013), agar analisis data yang dikumpulkan dapat
menghasilkan informasi yang benar, data harus dikelolah dengan melakukan
beberapa proses tahapan yaitu:
a. Editing, yaitu kegiatan untuk melakukan pengecekan isian formulir atau
kuesioner apakah jawaban yang ada dikuesioner sudah lengkap,jelas,
relevan, dan konsisten. Pada penelitian ini, peneliti telah memeriksa
kuesioner yang telah diisi oleh responden yang mencakup kelengkapan
pengisian yang telah dilakukan oleh responden.
b. Coding, yaitu mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari para responden
kedalam numerik. Biasanya klasifikasi dilakukan dengan cara memberi
tanda atau kode berbentuk angka pada masing-masing jawaban.
Klasifikasi dilakukan dengan cara memberi tanda atau kode berbentuk
angka pada masing-masing jawaban. Dalam penelitian ini ada beberapa
variabel yang telah dikategorikan, seperti jenis kelamin, tingkat
pendidikan, pekerjaan, status pernikahan dan diagnosis responden.
56

Untukjenis kelamin laki-laki diberikan kode 1 dan perempuan diberikan


kode 2. Tingkat pendidikan dikategorikan menjadi 3 dengan kode 1
diberikan untuk pendidikan rendah (SD/SMP), 2 untuk pendidikan
sedang (SMA), dan 3 untuk pendidikan tinggi (PT) (Depkes RI, 2009),
pekerjaan diberikan tanda 1 untuk bekerja dan 2 untuk tidak bekerja dan
status pernikahan diberikan kode 1 menikah dan 2 (berpisah), untuk
diagnosis responden diberikan kode 1 untuk stroke hemoragik dan 2
untuk stroke non hemoragik.
c. Sorting, yaitu mensortir dengan memilih atau mengelompokan data
menurut jenis yang dikehendaki (klasifikasi data). Peneliti telah
mengklasifikasikan data sesuai dengan jenis permasalahan yang sudah
dirumuskan.
d. Entry Data, jawaban-jawaban yang sudah diberikan kode kategori
kemudian dimasukan dalam tabel dengan cara menghitung frekuensi
data. Memasukan data, boleh dengan cara manual atau melalui
pengolahan komputer. Pada penelitian ini, jawaban-jawaban dari
reponden telah dimasukan dalam tabel dengan cara menghitung frekuensi
data melalui pengolahan komputer.
e. Cleaning, yaitu pembersihan data, melihat variabel apakah data sudah
benar atau belum. Peneliti talah memeriksaan kembali apakah terdapat
data yang missing kemudian dilakukan pembersihan data.
f. Mengeluarkan informasi, disesuaikan dengan tujuan penelitian yang
dilakukan. Pada penelitian ini data telah disajikan sesuai dengan tujuan
permasalahan yang sudah dirumuskan.

2. Analisis Data
Teknik analisis data merupakan suatu cara yang digunakan untuk
mengolah data hasil penelitian guna memperoleh gambaran dari hasil
penelitian, hipotesis-hipotesis penelitian dan suatu kesimpulan secara umum
dari penelitian (Notoatmodjo, 2012).
Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua
macam yaitu analisa univariat dan analisa bivariat (Dahlan, 2013):
57

a. Analisa Univariat
Analisis ini digunakan untuk mengetahui karakteristik demografi
dan gambaran distribusi frekuensi dari semua variabel meliputi, jenis
kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, dan diagnosis
responden. Sedangkan untuk rerata (central tendency) yaitu variabel usia.
b. Analisa Bivariat
Analisis bivariat dalam penelitian ini dengan melakukan uji
normalitas yang merupakan salah satu uji mendasar yang dilakukan
sebelum melakukan analisa data lebih lanjut atau lebih mendalam, data
yang normal sering dijadikan landasan dalam beberapa uji statistik
meskipun semua data tidak dituntut untuk harus normal. Uji normalitas
berfungsi untuk melihat data sampel yang kita ambil atau gunakan
mengikuti atau mendekati distribusi normal.
Dalam penelitian ini peneliti melakukan uji normalitas dengan
analisis Shapiro-wilk. Setelah itu baru dilakukan uji statistik, analisis ini
digunakan untuk mengetahui pengaruh antara variabel independen
dengan variabel dependen, sehingga dapat diketahui pengaruh terapi
dzikir terhadap depresi pada pasien pasca stroke. Kemudian variabel
independen dan variabel dependen diuji statistik dengan uji paired
sampel t-test.

G. Etika Penelitian
1. Informed Consent (Lembar Persetujuan)
Dalam penelitian ini sebelum penelitian dilakukan peneliti telah
memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden dengan tujuan
agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian, serta mengetahui
dampaknya. Jika subjek bersedia, maka mereka harus menandatangani
lembar persetujuan dan jika responden tidak bersedia, maka peneliti harus
menghormati hak pasien.
2. Privacy
Dalam penelitian, peneliti telah memperhatikan bahwa penelitian yang
dilakukan tetap akan menjaga kerahasiaan responden selama penelitian.
58

Responden mempunyai hak untuk mengharapkan bahwa data yang


dikumpulkan selama masa penelitian akan dijaga kerahasiaannya.
3. Anonimity (tanpa nama)
Dalam penelitian ini peneliti tidak memberikan atau mencantumkan nama
responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode atau inisial
pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.
4. Confidentiality
Peneliti telah merahasiakan hasil penelitian atau data, baik informasi
maupun masalah-masalah lainnya.
5. Protection from discomfort
Dalam penelitian ini lingkungan yang nyaman dan tenang telah dipilih
oleh responden sendiri dan telah ditemani oleh keluarga.
6. Beneficience
Diharapkan penelitian ini telah dapat menurunkan skor depresi dan pada
akhir sesi pertemuan telah diberikan souvenir berupa Tasbih.
7. Justice
Dalam penelitian ini setiap responden telah mendapatkan informed
consent, pretest dan perlakuan atau terapi dzikir serta postest.
59

BAB V
HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang


1. Sejarah Perkembangan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang
Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang adalah Amal Usaha
Persyarikatan Muhammadiyah yang diresmikan tanggal 10 Dzulhijjah 1417
H/ April 1997 oleh Gubernur Propinsi Sumatera Selatan (Bapak H. Ramli
Hasan Basri) bersama Ketua PP Muhammadiyah (Bapak Prof. DR. Amien
Rais) merupakan satu-satunya amal usaha dibawah langsung (PWM)
Sumatera Selatan.
2. Tujuan, Visi, Misi, dan Motto RSMP
a. Tujuan :
“Meningkatkan derajat kesehatan yang optimal melalui pendekatan
preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif bagi segenap masyarakat
pada umumnya dan warga Muhammadiyah khususnya dalam
mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rohmah sebagai bagian
dari masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.
b. Visi :
“Terwujudnya Rumah Sakit yang dapat memberikan pelayanan
pendidikan dan penelitian kesehatan secara professional, moderen dan
islami sehingga menjadi kebanggaan Muhammadiyah”.
c. Misi :
1) Memberikan pelayanan, pendidikan dan penelitian kesehatan secara
profesional, modern dan Islami.
2) Meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien
3) Mewujudkan citra sebagai wahana ibadah dan pengemban dakwah
amar ma’ruf nahi munkar dalam bidang kesehatan.
4) Menjadi pusat persemaian kader Muhammadiyah dalam bidang
pelayanan, pendidikan dan penelitian kesehatan.
d. Motto :
“Melayani sebagai ibadah dan dakwah”

59
60

3. Direksi dan Pegawai


a. Direktur : dr. H. Pangestu Widodo, MARS
b. Wakil Direktur Pelayanan Medis : dr. Rizal Daulay, Sp. Ot., MARS
c. Wakil Direktur Administrasi & Keuangan : Amidi, SE.,MSi
d. Wakil Direktur SDM, AIK dan Kerjasama : Mustofa, S.Ag.,M.Pd. I
Jumlah Pegawai : 563 orang
a. Pegawai tetap : 451 orang
b. Pegawai kontrak : 51 orang
c. Pegawai harian : 11 orang
d. Pegawai khusus : 3 orang
e. Calon pegawai : 18 orang
Dokter Spesialis
a. Tetap : 8 orang
b. Tamu : 50 orang
Dokter Umum
a. Tetap : 8 orang
b. Tamu : 11 orang
Dokter Gigi
a. Tetap : 1 orang
b. Tamu : 2 orang
Tenaga Paramedis Keperawatan dan Bidan : 241 orang
Tenaga Paramedis lainnya : 81 orang
Tenaga Non Medis : 222 orang
4. Ruang Poli Saraf
Dokter : 2 orang
Perawat : 1 orang
Jumlah pasien / hari : 50 orang.
(Profil Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang, 2017)
61

B. Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di Rumah Sakit


Muhammadiyah Palembang Tahun 2017, dari responden yang berjumlah 36
orang didapatkan hasil yang diuraikan dalam bentuk tabel dan narasi berikut
ini.

1. Analisis Univariat
Dari hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi
dan persentase karakteristik responden dan skor depresi sebelum dan setelah
terapi dzikir di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang, diperoleh
gambaran sebagai berikut:

a. Karakteristik Responden
Data karakteristik responden penelitian ini meliputi; umur, jenis
kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, status pernikahan dan diagnosis
responden, untuk jenis kelamin dibagi menjadi dua kategori, laki-laki dan
perempuan, tingkat pendidikan dibagi menjadi 3 kategori ( rendah
(SD/SMP), sedang (SMA), dan tinggi (Perguruan Tinggi) (Depkes RI,
2009), untuk pekerjaan dibagi menjadi 2 kategori (bekerja dan tidak
bekerja), status pernikahan dibagi 2 kategori (menikah dan berpisah), dan
diagnosis responden dibagi menjadi 2 kategori, Stroke Hemoragik (SH)
dan Stroke Non Hemoragik (SNH).

1) Usia
Tabel 5.1
Distribusi Data Usia Responden di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang
Tahun 2017 (N= 36)
Variabel Mean Median Std.D Min – Max 95% CI

Usia 56,72 56,50 10,222 41 – 77 53,26 – 60,18

Dari tabel 5.1 didapatkan distribusi usia rata-rata adalah 56,72.


62

2) Jenis kelamin, Tingkat pendidikan, pekerjaan, status pernikahan


dan diagnosis responden.
Tabel 5.2
Distribusi frekuensi karakteristik demografi responden pasien stroke di
Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2017 ( N= 36)
Karakteristik Frekuensi Persentase (%)

Janis Kelamin
Laki-laki 15 41,7
Perempuan 21 58,3
Tingkat Pendidikan
Rendah (SD/SMP) 20 55,6
Sedang (SMA) 14 38,9
Tinggi (PT) 2 5,6
Pekerjaan
Bekerja 12 33,3
Tidak Bekerja 24 66,7
Status Pernikahan
Menikah 28 77,8
Berpisah 8 22,2

Dignosis Responden
SH 13 36,1
SNH 23 63,9
Berdasarkan tabel 5.2 Hasil analis distribusi frekuensi dari
36 responden sebagian besar responden pasien pasca stroke
berdasarkan jenis kelamin perempuan yaitu sebesar 21 (58,3%)
responden, sedangkan mayoritas pendidikan rendah SD/SMP 20
(55,6%) responden dan berdasarkan pekerjaan sebagian besar yang
tidak bekerja sebanyak 24 (66,7%) responden, sedangkan responden
yang berstatus pernikahan menikah sebanyak 28 (77,8%) responden
serta berdasarkan diagnosis responden, Stroke Non Hemoragik
(SNH) sebanyak 23 (63,9%) responden.
63

3) Distribusi frekuensi skor depresi responden sebelum dan setelah terapi


dzikir.

Terapi Dzikir Terhadap Skor Depresi


30
25
20
15
10
5
0
Sebelum Sesudah
Intervensi Intervensi
Series1 25,28 20,89

Gambar 5.1 Distribusi data skor depresi responden

Dari gambar di atas, didapatkan distribusi rata-rata skor depresi


sebelum diberikan intervensi dengan skor 25,28 dan rata-rata skor
depresi setelah diberikan intervensi dengan skor 20,89 dengan selisih
4,39.

2. Analisa Bivariat
Analisis bivariat adalah untuk melihat pengaruh terapi dzikir
terhadap skor depresi dan melihat adanya perbedaan skor depresi sebelum
dan setelah intervensi. Hasil analisis bivariat menggunakan uji statistik
paired sampel t-test.
a. Deskripsi data hasil uji normalitas
Berdasarkan hasil uji normalitas data dengan menggunakan
metode analisis Shapiro-Wilk (α > 0.05), maka skor depresi sebelum
intervensi dengan skor depresi setelah intervensi didapatkan ρ value
(0,238 & 0,104) > 0.05, sehingga dapat disimpulkan skor depresi
sebelum dan setelah intervensi terapi dzikir pada pasien pasca stroke
yang mengalami depresi terdistribusi normal.
Setelah diketahui sebaran data skor depresi normal, maka analisis
data yang selanjutnya digunakan untuk mengetahui pengaruh terapi
64

dzikir terhadap skor depresi sebelum dan setelah intervensi adalah uji
paired sampel t-test.
1) Perbedaan rerata sebelum dan setelah dilakukan intervensi terapi
dzikir pada pasien pasca stroke di Rumah Sakit Muhammadiyah
Palembang.
Tabel 5.3
Pengaruh terapi dzikir sebelum dan setelah diberikan intervensi pada
pasien pasca stroke di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun
2017.

Variabel Mean SD SE 95% CI P value


Pretest Depresi 25,28 3,731 0,622 3,895-4,883 0,000
Posttest Depresi 20.89 3,511 0,585

Dari tabel 5.3 analisis bivariat di atas hasil uji statistik


didapatkan nilai  = 0,000 berarti bahwa nilai  value kurang dari 0,05 (
 value < 0,05), maka dapat disimpulkan ada pengaruh yang signifikan
antara skor depresi sebelum terapi dzikir dengan skor depresi setelah
terapi dzikir pada pasien pasca stroke di Rumah Sakit Muhammadiyah
Palembang Tahun 2017.
65

BAB VI
PEMBAHASAN

A. Pembahasan Hasil Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan
penelitian Pre-Experimental menggunakan desain penelitian One Group
Pretest – Posttest, uji statistik yang digunakan adalah uji statistik paired
sampel t-test. Instrumen pengumpulan data dengan menggunakan lembar
kuesioner. Penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan pretest
(pengamatan awal) terlebih dahulu sebelum diberikan intervensi. Setelah itu
diberikan intervensi, kemudian dilakukan posttest (pengamatan akhir)
(Hidayat, 2013; & Dahlan, 2013).
Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu menggunakan
metode Nonprobability Sampling, dengan menggunakan teknik Purposive
sampling. Sampel yang didapat selama penelitian berjumlah 36 responden
yaitu semua pasien pasca stroke yang dirawat di RS Muhammadiyah
Palembang diruang rawat jalan Poliklinik Saraf. Penelitian dilaksanakan pada
bulan April s.d bulan Mei. Pembahasan hasil penelitian ini terdiri dari analisis
univariat dan bivariat yaitu sebagai berikut:

1. Hasil Univariat
Berdasarkan hasil distribusi frekuensi rerata skor depresi pasien
pasca stroke sebelum dan setelah dilakukan intervensi terapi dzikir
menunjukkan ada perbedaan. Rerata skor depresi pada pasien pasca stroke
sebelum diberikan intervensi terapi dzikir menunjukan skor depresi dengan
nilai 25.28, yang berarti bahwa pasien mengalami tingkat depresi sedang
dan setelah diberikan intervensi terapi dzikir dengan nilai 20.89 dan berarti
pasien masih mengalami depresi sedang dengan selisih 4.39.
Responden sebelum diberikan intervensi terapi dzikir memiliki skor
depresi yang tinggi pada parameter kehilangan energi, kelelahan,
kegelisahan, menangis, perubahan pola tidur, dan kehilangan minat seksual.
Setelah diberikan intervensi terapi dzikir, penurunan skor depresi terjadi

65
66

pada seluruh parameter. Penurunan terbanyak terjadi pada parameter


kegelisahan, kesedihan, dan diikuti dengan kehilangan energi.
Menurut teori Hawari (2006), depresi pasca stroke merupakan
gangguan depresi yang ditimbulkan sebagai akibat lesi di area prefrontal
otak pada susunan saraf pusat otak dan bisa juga akibat dari gangguan
penyesuaian karena ketidakmampuan fisik dan kognitif pasca stroke yang
akan menyebabkan stabilitasi emosi terganggu sehingga menimbulkan
gejala depresi. Selain itu penyebab depresi pada pasien dengan penyakit
kronik disebabkan oleh distres psikologis pasien serta penanganan dan
diagnosis yang kurang cepat dan tepat serta beberapa faktor seperti, jenis
kelamin, usia, status perkawinan, pendidikan, status pekerjaan, dukungan
sosial, dan letak geografis serta riwayat keluarga (Hendrik, 2013; Arum,
2015; & Yusuf, dkk, 2017).
Berdasarkan teori dan hasil penelitian diatas, peneliti berasumsi
bahwa rerata skor depresi sebelum (25,28) dan sesudah (20,89) dilakukan
terapi dzikir pada pasien pasca stroke, masih tergolong dalam tingkat skor
depresi sedang. Hal ini dikarenakan intervensi atau terapi dzikir yang
diberikan hanya 1 kali, serta kurangnya keyakinan pada pasien untuk
melakukan terapi dzikir. Terapi dzikir akan mengeluarkan hormon
endorfin, bila dilakukan secara terus-menerus atau rutin, karena untuk
melakukan terapi dzikir ini harus terus-menerus dan dilakukan dengan
penuh keyakinan. Meskipun masih dalam tingkat skor depresi sedang, terapi
dzikir dapat atau efektif menurunkan skor depresi pada pasien pasca stroke.
Sebagian besar responden berusia rata-rata 56,72 tahun dan
berpendidikan rendah (SD/SMP). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO), dalam Sofaelcaffu (2013), usia tersebut termasuk dalam
penggolongan usia lansia pertengahan (middle age) 45-59 tahun. Dari hasil
skor per individu pada pasien pasca stroke diperoleh skor tertinggi pada
lansia dengan skor 32 dan skor terendah pada usia dewasa akhir dengan skor
22. Meskipun ada 1 responden memiliki skor terendah juga berada pada
lansia.
67

Usia akan mempengaruhi prevalensi depresi pada pasien pasca


stroke, di mana semakin meningkatnya usia, maka akan semakin meningkat
prevalensi kejadian depresi pada pasien pasca stroke (Suwantara, 2006).
Fakta tersebut sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa salah satu
penyebab depresi yang terkuat pada pasien paca stroke adalah stres dan usia
di atas 40 hingga 60 tahun merupakan masa kerentanan khusus untuk
mengalami kegelisahan dan depresi karena tuntutan atau adanya kesulitan
dalam fungsi sosial dan pekerjaan sehari-hari (Yusuf, dkk, 2017). Selain itu,
tingkat pendidikan juga mempengaruhi kejadian depresi. Pendidikan yang
rendah lebih mudah mengalami depresi (Prayitno, 2015).
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin mudah
menerima informasi sehingga semakin banyak pula pengetahuan yang
dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat
perkembangan sikap seseorang terhadap nilai yang diperkenalkan. Tingkat
pendidikan seseorang akan sangat berpengaruh terhadap tingkat
pengetahuan seseorang khususnya tentang cara dan mekanisme koping
dalam menghadapi kondisi kesehatannya (Dudung, dkk, 2015). Hal ini
sesuai dengan hasil studi yang dilakukan oleh Khomsiatun (2014), bahwa
sebagian besar responden stroke yang mengalami depresi ialah responden
yang mempunyai tingkat pendidikan rendah yaitu dengan tingkat
pendidikan SD.
Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan, yaitu sebesar
21 (58,3%) dan laki-laki sebesar 15 (41,7%). Sejalan dengan pendapat
Ikawati (2011) dan Hendrik (2013), yang menyatakan bahwa kejadian
depresi pada perempuan bisa terjadi 2-3 kali lebih sering dibangdingkan
dengan laki-laki. Di mana wanita lebih sering terpajan dengan stresor
lingkungan dan ambangnya terhadap stresor lebih rendah bila dibandingkan
dengan pria. Adanya depresi yang berkaitan dengan ketidakseimbangan
hormon pada wanita menambah tingginya prevalensi depresi pada wanita.
Data dari world Bank mengatakan bahwa sekitar 30% perempuan
mengalami depresi dan 12,6% pria mengalami depresi. Menurut Ghoge, dkk
(2006), angka prevalensi depresi pasca stroke adalah 10-25% untuk
68

perempuan dan 5-12% untuk laki-laki serta mengatakan bahwa perempuan,


memiliki riwayat kelainan psikiatri dan kelainan kognitif sebelum terjadinya
stroke menyebabkan gejala depresi yang timbul lebih berat, sedangkan pada
laki-laki depresi pasca stroke berhubungan dengan gangguan yang lebih
besar dari aktivitas hidup sehari-hari serta fungsi sosial.
Sebagian besar responden berstatus menikah dan tidak bekerja. Di
antara kedua karakteristik responden tersebut, faktor status menikah adalah
faktor yang meringankan depresi karena hidup bermukim bersama keluarga.
Meskipun dari hasil penelitian juga menunjukkan bahwa skor depresi yang
tinggi dialami oleh pasien pasca stroke yang berpisah dengan skor 26 dan
pasien pasca stroke yang menikah sebagian besar memiliki skor 20. Hal ini
sesuai dengan penelitian Hendrik (2013), bahwa gangguan depresi lebih
sering dialami individu yang bercerai atau berpisah bila dibandingkan
dengan yang menikah. Status perceraian menempatkan seseorang pada
risiko yang lebih tinggi untuk menderita depresi. Depresi lebih sering pada
orang yang tinggal sendiri bila dibandingkan dengan yang tinggal bersama
kerabat lain.
Selain itu faktor tidak bekerja adalah yang memperberat depresi.
Fakta tersebut sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa tidak
mempunyai pekerjaan atau menganggur juga merupakan faktor risiko
terjadinya depresi. Suatu survai yang dilakukan terhadap wanita dan pria
dibawah 65 tahun yang tidak bekerja sekitar enam bulan, mengalami depresi
tiga kali lebih dari pada yang bekerja serta akan berdampak buruk bagi
kesehatan mentalnya (Junaidi, 2012 & Dudung, dkk, 2015). Dan sebagian
besar responden terdiagnosis stroke non hemoragik. Hal ini juga serupa
dengan penelitian yang dilakukan Andersen (2009), yaitu dibandingkan
dengan stroke hemoragik, stroke Iskemik 10 kali lebih sering terjadi
gangguan depresi.
Berdasarkan teori dan hasil penelitian di atas, peneliti berasumsi
bahwa depresi pada pasien pasca stroke itu terjadi karena adanya korelasi
positif antara faktor pencetus (lesi anatomis) dengan faktor pendukung
(usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan, pekerjaan dan
69

diagnosis responden) serta pasien belum mendapatkan penanganan yang


tepat. Seorang petugas atau pelayanan kesehatan yang profesional dan
terlatih harus mampu mengenali gejala depresi tersebut, mendiagnosis dan
kemudian merancang pengobtannya. Hal ini dikarenakan suatu pengobatan
dengan penatalaksanaan yang cepat dan tepat, seperti mengkombinasikan
terapi farmakologi dengan terapi nonfarmakologi (terapi spritual) akan
berpengaruh terhadap psikologis pasien. Oleh karenanya, sangat diperlukan
peran perawat dan keluarga untuk bersama-sama dalam mengatasi depresi
pada pasien pasca stroke.

2. Hasil Bivariat
Berdasarkan hasil analisis uji statistik didapatkan nilai  = 0,000
berarti bahwa nilai  value kurang dari 0,05 (  value < 0,05), yang berarti
adanya pengaruh yang signifikan antara skor rerata depresi sebelum terapi
dzikir dengan skor rerata depresi setelah terapi dzikir. Menurut Razak dkk
(2015), menjelaskan bahwa perawatan pasien pasca stroke tidak hanya
terfokus pada pengobatan medis, namun akan lebih efektif jika
dikombinasikan dengan terapi alternatif atau nonfarmakologi, seperti terapi
spritual islami psikoreligius doa dan dzikir.
Fakta bahwa terapi dzikir menurunkan skor depresi pada pasien
pasca stroke sesuai dengan beberapa penelitian yang menyatakan bahwa
terapi dzikir dapat menurunkan tingkat depresi melalui pembentukan
mekanisme koping yang positif, perbaikan afek, emosi dan peningkatan
spritualitas (Yusuf, dkk, 2017). Selain itu, hal ini juga sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Jauhari (2014), menyatakan bahwa terapi
psikoreligius doa dan dzikir dapat menurunkan tingkat depresi pada pasien
gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa dan berdasarkan hasil
penelitian penderita gagal ginjal kronik dapat melaksanakan terapi secara
rutin dan setiap hari.
Menurut Fadlilah dan Ulaa (2013), dalam penelitiannya pengaruh
terapi dzikir terhadap nyeri persalinan kala 1 menyatakan bahwa dari 20
responden, mayoritas dari mereka didapatkan skala nyeri setelah diberikan
70

intervensi nilai terendah 4 dan nilai tertinggi 9, sedangkan skala nyeri


setelah diberikan intervensi nilai terendah 3 dan tertinggi 8. Hasilnya
menunjukkan bahwa terapi dzikir mempunyai pengaruh yang efektif dalam
mengurangi nyeri. Dzikir akan membantu melepaskan hormon endorfin
yang ada dalam tubuh sehingga dapat menghambat transmisi nyeri
persalinan kala 1. Selain itu dzikir juga dapat melebarkan kembali diameter
dinding pembuluh darah yang mengecil akibat nyeri, sehingga oksigen dan
glukosa dalam aliran darah menjadi lancar.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian retnowati (2013),
menunjukkan adanya perbedaan antara tekanan darah sistolik sebelum dan
setelah dilakukan relaksasi nafas dalam dan meditasi dzikir pada penderita
hipertensi. Tekanan darah sistolik sebelum rata-rata 161,51 mmHg, adapun
tekanan darah sistolik setelah intervensi rata-rata sebesar 147,88 mmHg,
sehingga tekanan darah sistolik sebelum dan setelah pada kelompok
eksperimen mengalami penurunan sebanyak (13,63%). Dan tekanan darah
diastolik rata-rata sebelum 114,90 mmHg, adapun setelah rata-rata 106,85
mmHg, jadi tekanan darah diastolik sebelum dan setelah pada kelompok
eksperimen mengalami penurunan sebanyak (8,05%).
Hamid (2009), pada saat stress dan cemas individu akan mencari
dukungan dari keyakinan agamanya, dukungan ini sangat diperlukan, dzikir
dan doa sering membantu memenuhi kebutuhan spritual yang juga
merupakan suatu perlindungan terhadap tubuh. Dalam penelitian yang
dilakukan oleh Sukarni dkk (2015), dalam penelitian pengaruh dzikir 4T
terhadap penurunan kecemasan pada pasien sindrom koroner akut terhadap
56 responden dengan rancangan penelitian quasy-eksperimental dengan dua
kelompok (kelompok intervensi dan kelompok kontrol).
Dzikir 4T terdiri dari Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar dan
Laaillahaillallah dengan kekuatan 60dB beat rate 60–80 mm, pitch 220–800
Hz, volume 4 – 5 selama 30 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
dzikir 4T dapat menurunkan kecemasan selama 12 jam, 24 jam, 36 jam, 48
jam, 60 jam dan 72 jam pada pasien Sindrom Koroner Akut (p < 0,05). Ada
pengaruh yang sangat bermakna penurunan kecemasan yaitu pada jam ke-
71

24 jam (p<0,001) dan 72 jam (p<0,001) diantara group lain setelah


dilakukan dzikir 4T pada pasien Sindrom Koroner Akut.
Penurunan skor depresi pada pasien pasca stroke setelah diberikan
intervensi terapi dzikir terjadi karena stimulus intervensi dzikir membentuk
respon kognitif (stres preception) positif (berupa peningkatan skor respons
kognitif) yang selanjutnya menyebabkan terjadinya serangkaian stress
response yang positif pula di dalam tubuh. Jika penurunan kadar kortisol
terjadi melalui aktivitas hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA) aksis, maka
jalur lain yang juga dipengaruhi oleh stimulus dzikir adalah aktivitas sistem
saraf parasimpatis. Stimulus respons kognitif yang telah sampai di amigdala
akan menstimulasi bagian ventromedial hipotalamus untuk mengaktifkan
sistem saraf parasimpatis melalui stimulasi vegal. Aktivitas sistem
parasimpatis akan meningkatkan acetylcholine, dopamin, nitric oxide, dan
endorfhin (Yusuf, dkk, 2017).
Peningkatan acetylcholine menunjukkan penghambatan pada
pengeluaran sitokin proinflamasi, seperti TNF-α, IL-I, IL-6, IL-8, dan
protein HMGBI intraselular dan nitric oxide terlibat dalam regulasi
parasimpatis pada kontraktilitas miokardial yang akan berpengaruh terhadap
penurunan denyut jantung dan frekuensi pernafasan (Yusuf, dkk, 2017).
Sedangkan peningkatan dopamin mempengaruhi dua mekanisme, yakni
pengaruh langsung di otak dan sirkulasi.
Peningkatan dopamin di otak akan memberikan efek relaks, senang,
dan bahagia. Hal ini dikarenakan dopamin berperan sebagai sistem “reward”
(hadiah, imbalan) untuk memberikan penghargaan kepada otak atas perilaku
positif yang telah dilakukan. Dopamin juga memperbaiki suasana hati
(mood), mengatur pergerakan, pembelajaran, data ingat, emosi, rasa senang,
tidur dan kognitif (Prayitno, 2015).
Hormon endorfin telah banyak dikenal sebagai hormon yang mampu
menimbulkan perasaan senang dan bahagia, sehingga peningkatan kadarnya
melalui stimulus vagal akan memberikan efek ketenangan dan peningkatan
imunitas tubuh. Secara keseluruhan peningkatan aktivitas parasimpatik akan
menghasilkan sensasi subjektif berupa relaksasi dan ketenangan mendalam.
72

Pengaruh peningkatan respons parasimpatis juga secara langsung


menyebabkan ketenangan dan kedamaian jiwa, serta peningkatan
spritualitas pasien. Dengan demikian, pasien akan merasakan perbaikan
gejala depresi sehingga skor depresi pun menurun (Yusuf, dkk, 2017).
Terapi spiritual Islami terbukti efektif memberikan pengaruh
terhadap penanggulangan depresi maupun gangguan psikologis lainnya
yang akan berpengaruh untuk membangun rasa penerimaan diri (self
acceptance) sehingga pasien tidak merasa depresi lagi dan menyesali
nasibnya. Bahkan sebaliknya pasien akan mampu mengekspresikan
perasaannya kepada kehidupan dan kesehatan mental yang lebih baik.
Terapi spiritual atau terapi religius yang antara lain adalah dzikir, apabila
dilafalkan secara baik dan benar dapat membuat hati menjadi tenang dan
rileks (Razak, dkk, 2015).
Dalam surah Ar-Ra’d ayat 28 dijelaskan “ingatlah dengan
mengingat Allah swt hati akan menjadi tentram”. Imam Ibnu Qoyyim
berpendapat, “Dzikrullah itu ialah al-qur’an yang telah Allah swt turunkan
kepada Rasul-Nya, dengannya akan tenang hati orang yang beriman, karena
hati tidak akan tenang kecuali dengan iman dan yakin. Dan tidak ada jalan
untuk memperoleh keimanan dan keyakinan kecuali dengan al-qur’an”.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti berasumsi
bahwa terapi dzikir mempunyai pengaruh yang efektif dalam mengurangi
atau menurunkan skor depresi pada pasien pasca stroke. Terapi dzikir akan
membantu melepaskan hormon endorfin yang ada dalam tubuh sehingga
dapat menghambat transmisi depresi pasien pasca stroke. Selain itu, terapi
dzikir juga dapat membuat pasien pasca stroke merasa lebih tenang, berpikir
positif dan selalu memasrahkan segala sesuatu kepada Allah swt dengan
cara beribadah memohon kepadanya.
73

B. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini tidak luput dari adanya keterbatasan. Adapun
keterbatasan dalam penelitian ini meliputi:
1. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian pre-eksperimen dengan
one group pre test dan post test dan tidak dilakukan pada kelompok kontrol,
sehingga penelitian ini tidak bisa membandingkan skor depresi antara
kelompok intervensi dan kontrol.
2. Fokus penelitian ini terbatas hanya pada satu wilayah atau satu ruangan saja
yaitu ruangan Poliklinik Saraf Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.
3. Peneliti kurang memperhatikan faktor-faktor perancu lainnya seperti
lingkungan dan dukungan keluarga, di mana dalam penelitian ini keluarga
pasien kurang kooperatif terhadap terapi yang dilakukan pada pasien pasca
stroke serta lingkungan yang kurang tenang. Sehingga peneliti harus lebih
meyakinkan keluarga pasien tentang pentingnya peran atau dukungan
keluarga serta lingkungan yang tenang terhadap keberhasilan atas terapi
dzikir yang dilakukan.
74

BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada bulan April-Mei
tahun 2017 di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dengan jumlah
responden sebanyak 36 orang, maka dapat disimpulkan:
1. Skor depresi rerata sebelum diberikan intervensi dengan terapi dzikir ialah
25,28.
2. Skor depresi rerata setelah diberikan intervensi dengan terapi dzikir ialah
20,89.
3. Ada pengaruh yang signifikan bermakna antara rerata skor depresi sebelum
dan sesudah diberikan intervensi dengan terapi dzikir  value = 0,000.

B. Saran
1. Bagi Rumah Sakit
Bagi Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang khususnya di ruang Poli
Saraf diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran kepada
rumah sakit tentang pengaruh terapi dzikir terhadap skor depresi pada
pasien pasca stroke, sehingga petugas kesehatan dapat melanjutkan
memberikan atau menerapkan penatalaksanaan depresi secara
nonfarmakologi dengan terapi dzikir misalnya dengan memfasilitasi dan
melengkapi ruangan dengan mengisi papan mading disekitar ruangan
dengan informasi tentang terapi dzikir atau dengan membuat SOP terapi
dzikir yang bisa dilakukan pada saat memberikan intervensi keperawatan
pada pasien, karena terapi dzikir sangat penting diberikan kepada pasien
yang mengalami depresi pasca stroke untuk menurunkan atau mengurangi
skor depresi yang sekaligus mengusung nilai-nilai islam.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini mengenai Keperawatan Medikal Bedah merupakan
bagian yang sangat penting dari ilmu keperawatan. Sehubungan dengan hal
tersebut, maka kepada institusi pendidikan khususnya PSIK Muhammdiyah

74
75

Palembang, disarankan agar intervensi terapi dzikir dapat diaplikasikan ke


dalam Asuhan Keperawatan Medikal Bedah dalam menurunkan tingkat
stres, kecemasan, nyeri, dan skor depresi serta peneliti berharap agar
perpustakaan lebih banyak lagi menyediakan buku-buku, terutama buku-
buku mengenai Kebutuhan Spritual (Terapi dzikir).
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan pada mahasiswa yang nantinya juga akan melakukan
penelitian lanjutan dengan masalah pengaruh terapi dzikir terhadap skor
depresi pada kelompok pasien yang dirawat di rumah sakit dan pasien yang
dirawat jalan pada pasien pasca stroke, dengan melibatkan sampel yang
besar.
76

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Z. (2010). Agama, Kesehatan & Keperawatan. Jakarta: Trans Info Medika.

Andersen, K. (2009). Hemorrhagic and ischemic strokes compared: stroke


severity, mortality, and risk faktors Stroke. Diakses pada tanggal 21
januari 2017.

Anggraieni. (2014). Pengaruh Terapi Relaksasi Dzikir untuk Menurunkan Stres


pada penderita Hipertensi Esensial di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.
Diakses pada tanggal 24 Februari 2017.

Aprilina, L. (2010). Derajat Depresi pada Penderita Pasca Stroke di Poliklinik


Stroke RSMH Palembang. Praproposal Departemen Ilmu Penyakit Saraf
FK UNSRI/RSMH Palembang. Diakses pada tanggal 25 Desember 2016.

Ariani, A.T. (2012). Sistem Neurobehaviour. Jakarta: Salemba Medika.

Arif, P.Y. (2007). Penerapan Dzikir sebagai Psikoterapi Gangguan Ansietas. KTI
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Diakses pada tanggal 25
Desember 2016.

Arum, P.S. (2015). Stroke Kenali, Cegah & Obati. Jakarta: Note Book.

Asmawati. (2009). Hubungan usia dan lamanya menderita stroke dengan


kejadian depresi pasca stroke di poli saraf rsu mataram. Jurnal kesehatan
prima. Diakses pada tanggal 22 Januari 2017.

Bekelman, D.B., Dy, S. M., Becker, D.M., Wittstein, I.S., Hendricks, D.E.,
Yamashita, T.E., & Gottlieb, S.H. (2007). Spiritual well-being and
77

depression in patients with heart failure. Journal of General Internal


Medicine, 22(4), 470–7. Diakses pada tanggal 22 Desember 2016.

Bustan, M.N. (2007). Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka


Cipta.

Caplan, R.L., & Coldszmidt, J.A. (2011). Esensial Stroke. Jakarta: EGC.

Dahlan, M.S. (2013). Besar Sample dan Cara Pengambilan Sample dalam
Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.

Depkes RI. (2009). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Departemen Republik


Indonesia.

Dudung, J. Kaunang, M.D. & Dundu, E.A. (2015). Prevalensi Depresi pada
Pasien Stroke yang di Rawat Inap di Irina F RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou
Manado Periode November-Desember 2012. Skripsi Fakultas Kedokteran
Universitas Sam Ratulangi Manado. Diakses pada tanggal 14 januari 2017.

Fadlilah, M., & Ulaa, M. (2013). Pengaruh Terapi Dzikir Terhadap Nyeri
Persalinan Kala 1Klinik Bersalin Budi Indah. Masker Medika Jurnal
Stikes Muhammadiyah Palembang.

Feigin, V. (2006). STROKE Panduan Bergambar Tentang Pencegahan dan


Pemulihan Stroke Cet. 2 .Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.

Ghoge, H., Sharma, S., Sonawalla, S., & Parikh, R. (2006). Cerebrosvascular
diseases and depression. Curr Psychiatry. Diakses pada tanggal 22 Mei
2017.

Guyton,. & Hall. (2014). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

Hamid, R.S. (2009). Buku Pintar Agama Islam Edisi Junior. Bogor: Cahaya
Salam.
78

Hawari, D. (2006). Manajemen Stres Cemas dan Depresi [ Ed 2, Cet 4]. Jakarta:
FKUI.

Hawari, D. (2012). Riset Al Quran & Psikologi: DOA & DZIKIR sebagai
penyembuhan Penyakit.

Hendrik, N.L. (2013). Depresi Berkorelasi dengan Rendahnya Kualitas Hidup


Penderita Parkinson. Tesis Program Magister Program Study Biologi
Molekuler Program PascaSarjana Universitas Udayana Denpasar. Diakses
pada tanggal 12 januari 2017.

Hidayat, A.A.A. (2013). Metodelogi Penelitian Keperawatan dan Teknis Analisis


Data. Jakarta: Salemba Medika.

Hidayati, W.C. (2014). Pengaruh Terapi Religius Dzikir Terhadap Peningkatan


Kemampuan Mengontrol Halusinasi Pendengaran pada Pasien
Halusinasi di RSJD DR. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG.
Diakses pada tanggal 22 Maret 2017.

Ikawati, Z. (2011). Farmakoterapi Penyakit Sistem Syaraf Pusat. Yogyakarta:


Bursa Ilmu.

Jauhari, J. (2014). Pengaruh Terapi Psikoreligius : Doa dan Dzikir terhadap


Penurunan Tingkat Depresi pada Penderita Gagal Ginjal Kronik yang
Menjalani Hemodialisa di ruang Hemodialisa Rumah Sakit Kota
Semarang. Skripsi Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Ngudi
Waluyo Ungaran. Diakses pada tanggal 27 Februari 2017.

Junaidi, I. ( 2011). Stroke Waspadai Ancamannya. Yogyakarta: ANDI.


79

Junaidi, I., & Tandung, D. (2012). Anomali Jiwa Cara Mudah Mengetahui
Penyimpangan Jiwa dan Perilaku Tidak Normal Lainnya. Yogyakarta:
ANDI.

Khasanah, I. (2015). Pengaruh Melakukan Dzikir Asmaul Husna terhadap


Kecemasan dalam Menghadapi Ujian Nasional Anak Panti Asuhan
Darussalam Mranggen Demak. Skripsi Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Diakses pada tanggal 28
Desember 2016.

Khomsiatun. (2014). Hubungan Status Fungsional terhadap Depresi pada pasien


pasca stroke di Ruang Fisioterapi RSUD Wilayah Semarang. Karya
Ilmiah.Diakses pada tanggal 23 April 2017.

Masriadi. (2016). Epidemiologi Penyakit Tidak Menular.Jakarta: CV Trans Info


Media.

Murtisari, Y.,Ismonah., & Sipriyadi. (2014). Pengaruh Pemberian Terapi Musik


Klasik Terhadap Penurunan Tingkat Depresi Pada Pasien Stroke
NonHemoragik DiRSUD SALATIGA. Skripsi Program Studi S1 Ilmu
Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang. Diakses pada tanggal 26
Januari 2017.

Muttaqin, A. (2008). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Nawawi, I. (2008). Risalah Dzikir & Do’a Penerobos Tirai Rahasia Ilahi
(Tinjauan dari Sudut Aqidah, Fiqh dan Tasawuf). Surabaya: Karya
Agung..

Notoatmodjo, S. (2012). Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cifta.

Oktari, T. (2016). Hubungan antara Depresi dengan Kualitas Hidup pada Pasien
Stroke di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Skripsi Program Studi
Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah
Palembang.
80

Padila. (2012). Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta: Nuha


Medika.

Pearce, C.E. (2013). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT


Gramedia Pustaka Utama.

Prabowo, E. (2014). Konsep & Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta:


Nuha Medika.

Prayitno, S.H. (2015). Do’a dan Dzikir sebagai Metode Menurunkan Depresi
Penderita dengan Penyakit Kronis. Psycology Forum UMM. Diakses pada
tanggal 17 Januari 2017.

Profil Rumah Sakit. (2017). Gambaran Umum Rumah Sakit Muhammadiyah


Palembang.

Razak, A., Mokhtar, M.K., & ulaima, W.S.W. (2013). Terapi Spritual Islami
Suatu Model Penanggulangan Gangguan Depresi. Universitas
Kebangsaan Malaysia. Diakses pada tanggal 17 Januari 2017.

Rekam Medik. (2016). Laporan Tahunan 2016 di Rumah Sakit Muhammadiyah


Palembang.

Retnowati, R. (2013). Pengaruh Kombinasi Relaksasi Nafas Dalam dan Meditasi


Dzikir Terhadap Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi di RW 02
Kelurahan Sambiroto Semarang. Skripsi Program Studi SI Keperawatan
Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Semarang. Diakses pada tanggal 22 Februari 2017.
81

Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS). (2013). Badan Penelitian dan


Pengembangan Kesehatan.Jakarta.

Saragih., Marti.,Janiwarti.,Bethsaida.,& Pieter, Z. Herri. (2011). Pengantar


Psikopatologi untuk Keperawatan Edisis Pertama, Cetakan ke-1.Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.

Setiadi. (2013). Konsep & Praktik Penulisan Riset Keperawatan (2 ed).


Yogyakarta: Graha Ilmu.

Solihin. (2007). Akhlak Tasawuf. Bandung: Nuansa.

Sofaelcaffu. (2013). Dipetik April 23, 2017, dari


https://sofaners.wordpress.com/2013/03/30/konsep-teori-lansia/.

Sukarni.,Mardiyono.,& Parwati,W.D. (2015). Dzikir 4T terhadap Penurunan


Kecemasan pada Pasien Sindrom Koroner Akut. Riset Jurusan
Keperawatan Poltekkes Kemenkes Bandung. Diakses pada tanggal 10
Januari 2017.

Suwantara, R.J. (2006). Depresi pasca-stroke : epidemiologi, rehabiltasi dan


psikoterapi. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Diakses pada
tanggal 24 Mei 2017.

Triwibowo, C. & Widyanto, C.F. (2013). Trend Disease Trend Penyakit Saat Ini.
Jakarta: Trans Info Media.

Wulandari, I. (2014). Pemberian Terapi Psikoreligius (Shalat) terhadap


Halusinasi Pendengaran pada Asuhan Keperawatan Jiwa Sdr.I dengan
Skizofrenia Paranoid di Ruang Arjuna RSJD Surakarta. KTI Program
Studi DIII Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kusuma Husada
Surakarta. Diakses pada tanggal 28 Januari 2017.

Yosep, I. (2013). Keperawatan Jiwa.Bandung: Refika Aditama.

Yusuf, A., Nihayati, H. E.,Iswari, F.M., & Okviansanti, F. (2017). Kebutuhan Spritual
Konsep dan Aplikasi dalam Asuhan Keperawatan. Jakarta; Mitra Wacana Media.
82

LAMPIRAN
83
84
85
86
87
88
89

SURAT PERNYATAAN
BERSEDIA MENJADI RESPONDEN (INFORMMED CONSENT)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bersedia untuk turut
berpartisipasi menjadi responden penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa
Program Studi Ilmu Kesehatan (STIKes) Muhammadiyah Palembang, yang
bernama Argiati dengan judul penelitian “pengaruh Terapi Dzikir terhadap Skor
Depresi pada Pasien Pasca Stroke di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang
Tahun 2017.

Saya menyadari bahwa penelitian ini tidak akan menimbulkan akibat yang
merugikan bagi saya dan jawaban yang saya berikan adalah yang sebenarnya,
sesuai dengan apa yang saya ketahui tanpa ada paksaan dari pihak lain.

Demikian surat ini dibuat dengan sesungguhnya dan dapat digunakan


sebagaimana mestinya.

Palembang, 2017

(Responden)
90

Lampiran

KUESIONER BECK DEPRESSION INVENTORY (BDI-II)

Petunjuk pengisian:
Pertanyaan di bawah ini untuk mengetahui perubahan perasaan yang Bapak/Ibu
alami.

Bacalah baik-baik setiap pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan jujur sesuai


dengan yang Bapak/Ibu rasakan dengan memberi lingkaran pada jawaban
tersebut.

Hari/tanggal :
Inisial :
Umur :
Jenis Kelamin :
T. Pendidikan :
S.Pernikahan :
Pekerjaan :
Dx.Responden :

1. Apakah Bapak/Ibu sering merasa sedih?


a. Saya tidak merasa sedih.
b. Saya seringkali merasa sedih.
c. Saya selalu merasa sedih dan murung sepanjang waktu dan tidak bisa
menghilangkan perasaan itu.
d. Saya merasa sangat sedih dan tidak bahagia sehingga saya tidak tahan
lagi.

2. Bagaimana pandangan Bapak/Ibu tentang masa depan?


a. Saya bersemangat dan yakin terhadap masa depan.
b. Saya merasa tidak yakin dengan masa depan.
91

c. Saya tidak menginginkan sesuatu terjadi di luar apa yang saya


rencanakan.
d. Saya merasa masa depan saya sudah tidak ada harapan dan semakin
memburuk.

3. Apakah Bapak/Ibu merasa gagal dalam kehidupan ini?


a. Saya tidak menganggap diri saya sebagaiorang yang gagal.
b. Saya merasa bahwa saya telah banyak mengalami kegagalan daripada
kebanyakan orang.
c. Saat saya mengiangat masa lalu, maka yang teringat hanyalah
kegagalan.
d. Saya merasa sebagai orang yang sangat gagal dalam kehidupan.

4. Apakah dengan kondisi saat ini, Bapak/Ibu masih dapat memperoleh


kesenangan?
a. Saya masih memperoleh kesenangan dari hal-hal yang biasa saya
lakukan.
b. Saya tidak dapat lagi menikmati kesenangan dari hal-hal yang biasa
saya lakukan.
c. Saya tidak mendapat kesenangan dari apa pun lagi.
d. Saya merasa tidak puas atau bosan dengan segalanya.

5. Apakah Bapak/Ibu merasa bersalah terhadap kondisi Bapak/Ibu saat


ini?
a. Saya tidak merasa bersalah sama sekali.
b. Kadang-kadang saya merasa bersalah.
c. Saya sering merasa bersalah.
d. Saya selalu merasa bersalah.

6. Apakah Bapak/Ibu merasa kondisi yang sekarang Bapak/Ibu alami


sebagai hukuman?
a. Saya tidak pernah merasa ini sebagai hukuman.
92

b. Terkadang saya merasa mungkin ini sebagai hukuman.


c. Saya menduga ini adalah hukuman.
d. Saya yakin ini sebagai hukuman.

7. Apakah Bapak/Ibi merasa kecewa dengan kondisi yang Bapak/Ibu


alami saat ini?
a. Saya tidak merasa kecewa dengan diri saya.
b. Saya kecewa dengan diri saya sendiri.
c. Saya merasa sangat kecewa dengan diri saya.
d. Saya sangat membenci diri saya.

8. Bagaimana Bapak/Ibu menilai diri sendiri?


a. Saya tidak merasa lebih buruk daripada orang lain.
b. Saya menyalahkan diri saya karena kelemahan dan kesalahan saya.
c. Saya sering menyalahkan diri saya karena kesalahan-kesalahan yang
telah saya lakukan.
d. Saya selalu menyalahkan diri saya atas semua hal buruk yang terjadi.

9. Apakah dengan kondisi yang Bapak/Ibu alami saat ini menyebabkan


Bapak/Ibu berpikiran untuk bunuh diri?
a. Saya tidak mempunyai pikiran sedikitpun untuk bunuh diri.
b. Saya mempunyai pikiran untuk bunuh diri, tapi tidak akan saya
lakukan.
c. Saya merasa ingin bunuh dirir.
d. Saya akan bunuh diri bila ada kesempatan.

10. Apakah Bapak/Ibu mudah menangis dengan keadaan Bapak/Ibu


sekarang?
a. Saya tidak banyak menangis.
b. Sekarang saya lebih banyak menangis daripada sebelumnya.
c. Saya selalu menangis sepanjang waktu.
d. Saya merasa seperti ingin menangis, tapi tidak bisa menangis.
93

11. Apakah Bapak/Ibu gelisah dengan keadaan Bapak/Ibu sekarang?


a. Saya tidak gelisah.
b. Saya merasa lebih gelisah daripada biasanya.
c. Saya sangat gelisah dan sulit untuk diam.
d. Saya sangat gelisah sehingga terus bergerak dan melakukan sesuatu.

12. Apakah Bapak/Ibu masih punya tertarik melakukan aktivitas


sebagaimana biasa?
a. Saya tidak kehilangan ketertarikan terhadap orang lain atau aktivitas
tertentu.
b. Saya kurang tertarik terhadap orang lain atau sesuatu hal daripada
keadaan sebelumnya.
c. Saya kehilangan hampir seluruh ketertarikan terhadap orang atau hal
lain.
d. Saya sangat tidak tertarik terhadap apa pun.

13. Apakah Bapak/Ibu mampu membuat keputusan yang terkait dengan


diri Bapak/Ibu saat ini?
a. Saya mampu membuat keputusan sebaik yang saya bisa.
b. Saya lebih sulit membuat keputusan dibandingkan biasanya.
c. Saya sangat sulit membuat keputusan dibandingkan biasanya.
d. Saya tidak mampu membuat keputusan sama sekali.

14. Bagaimana penilaian Bapak/Ibu terhadap diri Bapak/Ibu saat ini?


a. Saya merasa saya masih dihargai oleh keluarga dan teman-teman
disekitar saya.
b. Saya terkadang merasa saya tidak berharga lagi dibandingkan
sebelumnya.
c. Saya merasa saya tidak berharga dibandingkan dengan orang-ornag di
sekitar saya.
d. Saya merasa tidak berharga sama sekali.
94

15. Apakah Bapak/Ibu dapat beraktivitas seperti biasa?


a. Saya dapat beraktivitas sebaik biasanya.
b. Saya memerlukan usaha yang lebih besar untuk memulai mengerjakan
sesuatu.
c. Saya harus memaksa diri sekuat tenaga untuk mulai melakukan
sesuatu.
d. Saya tidak dapat beraktivitas sama sekali.

16. Apakah Bapak/Ibu mengalami gangguan tidur?


a. Saya dapat tidur seperti biasanya.
b. Saya tidak bisa tidur nyenyak seperti biasanya.
c. Saya tidur lebih sering atau malah kurang tidur jika dibandingkan
biasanya.
d. Saya tidur hampir sepanjang hari atau terbangun 1-2 jam lebih awal
dan tidak dapat tidur lagi.

17. Apakah Bapak/Ibu merasa marah atau kesal?


a. Saya merasa tidak cepat marah/kesal, masih seperti biasa.
b. Saya lebih mudah marah/kesal dibanding biasanya.
c. Saya lebih sering marah/kesal dibanding biasanya.
d. Saya marah dan kesal sepanjang hari.

18. Bagaimana denagan selera makan Bapak/Ibu saat ini?


a. Selera makan saya masih seperti biasa.
b. Selera makan saya menurun.
c. Selera makan saya menurun drastis dibandingkan biasanya.
d. Saya tidak selera makan sama sekali.

19. Apakah Bapak/Ibu dapat berkonsentrasi saat ini?


a. Saya dapat berkonsentrasi seperti biasanya.
b. Saya tidak dapat berkonsentrasi seperti biasanya.
95

c. Saya sulit berkonsentrasi terlalu lama.


d. Saya tidak dapat berkonsentrasi terhadap segala hal sama sekali.

20. Apakah Bapak/Ibu mudah merasa lelah?


a. Saya tidak merasa lebih lelah atau capek daripada biasanya.
b. Saya mudah lelah dan capek dibanding biasanya.
c. Saya sangat lelah untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
d. Saya sangat lelah untuk melakukan apa pun, termasuk pekerjaan-
pekerjaan ringan.

21. Apakah Bapk/Ibu masih berminat terhadap hubungan seksual


dengan pasangan?
a. Saya masih berminat terhadap hubungan seksual.
b. Saya sedikit kurang berminat terhadap seks dibandingkan biasanya.
c. Saya kurang tertarik terhadap seks sekarang.
d. Saya tidak berminat terhadap seks sama sekali

SATUAN ACARA KEGIATAN


(SAK)

Topik : Terapi Dzikir Al - Baqiyyatush-Shalihah


( Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir ).
Sasaran : Pasien pasca stroke.
Tempat : Di rumah subjek penelitian (Home visite).
Waktu : 95 Menit (1 jam 35 menit).

A. Tujuan
1. Tujuan Umum
Melakukan intervensi terapi dzikir Al - Baqiyyatush-Shalihah (
Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir ) pada pasien pasca stroke.
2. Tujuan Khusus
a. Pertemuan I
Menjelaskan tujuan, manfaat, proses, dan kontrak waktu serta tempat
(home visite) untuk pertemuan sesi ke-II.
b. Pertemuan II
96

Terlaksanakannya terapi dzikir Al - Baqiyyatush-Shalihah ( Tasbih,


Tahmid, Tahlil, Takbir ).

B. Materi
1. Penjelasan tujuan, manfaat, dan langkah-langkah melakukan terapi dzikir
Al - Baqiyyatush-Shalihah ( Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir ).
2. Mendemonstrasikan kegiatan yang akan dilakukan dalam pertemuan
selanjutnya.
C. Alat & Bahan
1. Tasbih
2. Kuesioner depresi (BDI-II)
D. Metode
1. Ceramah
2. Tanya Jawab
3. Demonstrasi

E. Kegiatan

No Kegiatan Materi Metode Media Waktu


1. Pembukaan  Mengucapkan  Ceramah 10 menit
salam  Tanya jawab (masing-
 Memperkenalka masing 5
n diri kepada menit untuk
pasien. setiap
 Kontrak waktu Pertemuan I
untuk pertemuan dan II.
selanjutnya.
2. Pertemuan I  Menjelaskan  Ceramah 30 menit
maksud dan  Tanya jawab (Masing-
tujuan masing 15
 Memberikan menit untuk
setiap
97

penjelasan pertemuan I,
manfaat, tujuan dan II.
dari kegiatan
yang akan
dilakukan
 Kontrak waktu
dan tempat
dengan pasien
untuk pertemuan
selanjutnya (home
visite).
3. Pertemuan  Mempersiapkan  Tanya jawab 30 menit
II. pasien, alat,  Demonstrasi  Tasbih (Setiap
bahan, dan Pertemuan
ruangan. 30 menit
 Melakukan untuk
demonstrasi yaitu pertemuan
pemberian terapi ke II,
dzikir
4. Evaluasi  Menanyakan  Tanya jawab 15 menit
perasaan pasien untuk setiap
setelah dilakukan pertemuan.
terapi.
5. Penutup  Mengucapkan 10 menit
terimakasih (Masing-
kepada pasien masing 5
atas ketersediaan menit untuk
menjadi setiap
responden dan pertemuan).
mengucapkan
salam.
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109

Tabulasi Data

No. Jenis Tingkat Status Dx. Sebelum Setelah


Res Usia Kelamin Pendidikan Pekerjaan Pernikahan Res Intervensi Intervensi Selisih
tidak
1 43 perempuan PT bekerja menikah SNH 22 18 4
2 41 laki-laki SD bekerja menikah SNH 22 16 6
tidak
3 45 perempuan SD bekerja menikah SNH 21 18 3
4 55 laki-laki SD bekerja menikah SH 21 16 5
tidak
5 64 laki-laki SMA bekerja menikah SH 27 22 5
tidak
6 77 perempuan SMP bekerja menikah SNH 20 15 5
7 72 perempuan SD bekerja menikah SH 20 16 4
8 45 perempuan SMP bekerja menikah SNH 20 14 6
9 55 laki-laki SD bekerja menikah SH 21 15 6
10 65 perempuan SMP bekerja menikah SH 21 18 3
11 45 perempuan SD bekerja menikah SNH 28 26 2
tidak
12 62 laki-laki SD bekerja menikah SNH 20 15 5
tidak
13 57 perempuan SD bekerja berpisah SNH 23 17 6
tidak
14 57 laki-laki SD bekerja menikah SNH 19 14 5
15 46 laki-laki SD bekerja menikah SNH 29 24 5
tidak
16 65 laki-laki SMA bekerja berpisah SH 27 22 5
tidak
17 54 laki-laki SMP bekerja menikah SNH 20 16 4
tidak
18 47 perempuan SMP bekerja menikah SNH 29 20 9
tidak
19 55 laki-laki SD bekerja berpisah SNH 30 24 6
tidak
20 67 perempuan SMA bekerja menikah SH 26 19 7
tidak
21 61 perempuan SMP bekerja menikah SH 28 24 4
22 55 perempuan SD bekerja menikah SNH 21 16 5
tidak
23 70 perempuan SD bekerja menikah SH 27 18 9
tidak
24 62 perempuan SMA bekerja menikah SH 25 18 7
tidak
25 67 perempuan SD bekerja menikah SNH 32 26 6
tidak
26 65 perempuan SD bekerja berpisah SNH 25 19 6
27 53 laki-laki SMP bekerja menikah SNH 25 20 5
tidak
28 63 laki-laki SD bekerja menikah SNH 28 24 4
tidak
29 56 perempuan SMP bekerja menikah SH 16 14 2
30 42 perempuan SD bekerja menikah SNH 20 16 4
110

tidak
31 70 perempuan SMA bekerja menikah SH 32 25 7
32 65 laki-laki SMP bekerja berpisah SNH 26 19 7
tidak
33 46 perempuan SD bekerja menikah SNH 19 15 4
tidak
34 62 laki-laki SD bekerja berpisah SNH 26 21 5
35 47 perempuan PT bekerja berpisah SNH 26 22 4
tidak
36 69 laki-laki SD bekerja berpisah SNH 29 25 4
111

Hasil Output

Frequency Table

Umur

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 41 1 5.6 5.6 5.6

42 1 2.8 2.8 8.3

43 1 2.8 2.8 11.1

45 3 8.3 8.3 19.4

46 2 5.6 5.6 25.0

47 2 5.6 5.6 30.6

53 1 2.8 2.8 33.3

54 1 2.8 2.8 36.1

55 4 11.1 11.1 47.2

56 1 2.8 2.8 50.0

57 2 5.6 5.6 55.6

61 1 2.8 2.8 58.3

62 3 8.3 8.3 66.7

63 1 2.8 2.8 69.4

64 1 2.8 2.8 72.2


112

65 4 8.3 8.3 80.6

67 2 5.6 5.6 86.1

69 1 2.8 2.8 88.9

70 2 5.6 5.6 94.4

72 1 2.8 2.8 97.2

77 1 2.8 2.8 100.0

Total 36 100.0 100.0

jeniskelamin

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Laki-laki 15 41.7 41.7 41.7

perempuan 21 58.3 58.3 100.0

Total 36 100.0 100.0

tingkatpndidikan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid rendah (SD/SMP) 20 55.6 55.6 55.6

sedang (SMA) 14 38.9 38.9 94.4

tinggi (PT) 2 5.6 5.6 100.0

Total 36 100.0 100.0


113

pekerjaan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Bekerja 12 33.3 33.3 33.3

Tidak bekerja 24 66.7 66.7 100.0

Total 36 100.0 100.0

statuspernikahan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Menikah 28 77.8 77.8 77.8

tidak menikah/berpisah 8 22.2 22.2 100.0

Total 36 100.0 100.0

diagnosisresponden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid SH 13 36.1 36.1 36.1

SNH 23 63.9 63.9 100.0

Total 36 100.0 100.0


114

Uji Normalitas

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

sebelumintervensi 36 100.0% 0 .0% 36 100.0%

setelahintervensi 36 100.0% 0 .0% 36 100.0%

Descriptives

Statistic Std. Error

sebelumintervensi Mean 25.28 .622

95% Confidence Lower Bound 24.02


Interval for Mean
Upper Bound 26.54

5% Trimmed Mean 25.28

Median 26.00

Variance 13.921

Std. Deviation 3.731

Minimum 18

Maximum 32

Range 14

Interquartile Range 6
115

Skewness -.207 .393

Kurtosis -.831 .768

setelahintervensi Mean 20.89 .585

95% Confidence Lower Bound 19.70


Interval for Mean
Upper Bound 22.08

5% Trimmed Mean 20.91

Median 21.50

Variance 12.330

Std. Deviation 3.511

Minimum 14

Maximum 27

Range 13

Interquartile Range 6

Skewness -.233 .393

Kurtosis -.818 .768

Tests of Normality

a
Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

*
sebelumintervensi .105 36 .200 .961 36 .238

setelahintervensi .124 36 .176 .950 36 .104

a. Lilliefors Significance Correction


116

Tests of Normality

a
Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

*
sebelumintervensi .105 36 .200 .961 36 .238

setelahintervensi .124 36 .176 .950 36 .104

*. This is a lower bound of the true significance.

T-Test

Paired Samples Statistics

Mean N Std. Deviation Std. Error Mean

Pair 1 sebelumintervensi 25.28 36 3.731 .622

setelahintervensi 20.89 36 3.511 .585

Paired Samples Correlations

N Correlation Sig.

Pair 1 sebelumintervensi &


36 .921 .000
setelahintervensi
117

Paired Samples Test

Paired Differences

95% Confidence
Interval of the
Std. Difference
Std. Error Sig. (2-
Mean Deviation Mean Lower Upper t df tailed)

Pair 1 sebelumintervensi
4.389 1.460 .243 3.895 4.883 18.043 35 .000
- setelahintervensi
118