You are on page 1of 14

A.

Anatomi dan Fisiologi


1. Anatomi
Organ pernapasan berguna bagi transportasi gas-gas dimana, organ-organ persarafan
tersebut dibedakan menjadi bagian dimana udara mengalir yaitu rongga hidung,
pharink, larink, trachea, dan bagian paru-paru yang berfungsi melakukan pertukaran
gas-gas antara udara dan darah (Ngastiyah, 2015).
Satu bagian saluran udara yang terletak di kepala yaitu :
Saluran pernapasan bagian atas, terdiri dari :
1) Hidung yang menghubungkan lubang-lubang dari sinus udara paranalis yang
masuk ke dalam rongga-rongga hidung dan juga lubang-lubang naso lakrimal
yang menyalurkan air mata ke dalam bagian bawah rongga nasalis ke dalam
hidung.
2) Parink (tekak) adalah pipa berotot yang berjalan dari tenggorokan sampai
persambungannya dengan esophagus pada ketinggian tulang rawan maka letaknya
dibelakang hidung (nasofarink), dibelakang mulut (oro larink), dan dibelakang
farink (farink laryngeal).

Saluran pernapasan bagian bawah terdiri dari :

1) Larink (tenggorokan) terletak di depan bagian terendah pharink yang memisahkan


dari kolumna veterbra, berjalan dari farink farink sampai ketinggian vertebra
servikalis dan masuk ke dalam trachea di bawahnya.
2) Trachea (batang tenggorokan) yang kurang lebih 9 cm panjangnya trachea
berjalan dari larynx sampai kira-kira ketinggian vertebra torakalis ke lima dan di
tempat ini bercabang menjadi dua bronchus (bronchi).
3) Bronkus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira
vertebralis torakalis ke lima, mempunyai struktur serupa dengan trachea yang di
lapisi oleh jenis sel yang sama. Cabang utama bronchus kanan dan kiri tidak
simetris. Bronchus kanan lebih pendek, lebih besar dan merupakan lanjutan
trachea dengan
B. Antomi dan Fisiologi
1. ANATOMI
Organ pernafasan berguna bagi transgportasi gas-gas dimana organ-organ pernafasan
tersebut dibedakan menjadi bagian dimana udara mengalir yaitu rongga hidung,
pharynx, larynx, trakhea dan bagian paru-paru yang berfungsi melakukan pertukaran
gas-gas antara udara dan darah.
a. Saluran nafas bagian atas, terdiri dari :
1) Hidung yang menghubungkan lubang-lubang sinus udara paraanalis yang
masuk kedalam rongga hidung dan juga lubang-lubang naso lakrimal yang
menyalurkan air mata ke dalam bagian bawah rongga nasalis ke dalam hidung
2) Parynx (tekak) adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tenggorokan
sampai persambungannya dengan esophagus pada ketinggian tulang rawan
krikid maka letaknya dibelakang hidung (naso farynx), dibelakang mulut(oro
larynx), dan dibelakang farinx(farinxlaryngeal)
b. Saluranper nafas bagian bawah terdiri dari:
1) Larynx (Tenggorokan) terletak di depan bagian terendah pharnyx yang
memisahkan dari kolumna vertebra, berjalan dari farine-farine sampai
ketinggian vertebra servikalis dan masuk kedalam trakhea dibawahnya.
2) Trachea (Batang tenggorokan ) yang kurang lebih 9 cm panjangnya trachea
berjalan dari larynx sampai kira-kira ketinggian vertebra torakalis ke lima dan
ditempat ini bercabang menjadi dua bronchus (bronchi).
3) Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira
vertebralis torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan trachea yang
dilapisi oleh jenissel yang sama. Cabang utama bronchus kanan dan kiri tidak
simetris. Bronchus kanan lebih pendek, lebih besar dan merupakan lanjutan
trachea dengan sudut lancip. Keanehan anatomis ini mempunyai makna klinis
yang penting.Tabung endotrachea terletak sedemikian rupa sehingga terbentuk
saluran udara paten yang mudah masuk kedalam cabang bronchus kanan.
Kalau udara salah jalan, makap tidak dapat masuk kedalam paru-paru akan
kolaps (atelektasis).Tapi arah bronchus kanan yang hampir vertical maka lebih
mudah memasukkan kateter untuk melakukan penghisapan yang dalam. Juga
benda asing yang terhirup lebih mudah tersangkut dalam percabangan
bronchus kanan ke arahnya vertikal. Cabang utma bronchus kanan dan kiri
bercabang-cabang lagi menjadi segmen lobus, kemudian menjadi segmen
bronchus. Percabangan ini terus menerus sampai cabang terkecil yang
dinamakan bronchioles terminalis yang merupakan cabang saluran udara
terkecil yang tidak mengandung alveolus.Bronchiolus terminal kurang lebih
bergaris tengah 1 mm. Bronchiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan,
tetapi di kelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah, semua
saluran udara dibawah bronchiolus terminalis disebut saluran pengantar udara
karena Fungsi utamanya dalah sebagai pengantar udara ke temapat pertukaran
gas paru-paru. Diluar bronchiolus terminalis terdapat asinus yang merupakan
unit fungsional paru-paru, tempat pertukaran gas. Asinus terdiri bronchiolus
respiratorius, yang kadang- kadang memiliki kantung udara kecil atau alveoli
yang berasal dari dinding mereka. Duktusal veolaris yang seluruhnya dibatasi
oleh alveolus dan sakus alveolaris terminalis merupakan struktur akhir paru-
paru.
4) Paru merupakan organ elastik berbentuk kerucut yang terletak dalam rongga
toraks atau dada. Kedua paru-paru saling terpisah oleh mediastinum central
yang mengandung jantung dan pembuluh-pembuluh darah besar. Setiap paru
mempunyai apeks (bagian atas paru) dan dasar. Pembuluh darah paru dan
bronchial, bronkus, saraf dan pembuluh limfe memasuuki tiap paru pada
bagian hilus dan membentuk akar paru. Paru kanan lebih daripada kiri, paru
kanan dibagi menjadi tiga lobus dan paru kiri dibagi menjadi dua lobus.
Lobus-lobus tersebut dibagi lagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan
segmen bronchusnya. Paru kanan dibagi menjadi 10 segmen sedangkan paru
dibagi 10 segmen.Paru kanan mempunyai 3 buah segmen pada lobus inferior,
2 buah segmen pada lobus medialis, 5 buah pada lobus superior kiri. Paru kiri
mempunyai 5 buah segmen pada lobus inferior dan 5 buah segmen pada lobus
superior.Tiap-tiap segmen masih terbagi lagi menjadi belahan belahan yang
bernama lobules. Didalam lobolus, bronkhiolus ini bercabang- cabangbanyak
sekali, cabangini disebut duktus alveolus.Tiap duktus alveolus berakhir pada
alveolus yang diameternya antara 0,2- 0,3mm. Letak paru dirongga dada di
bungkus oleh selaput tipis yang bernama selaput pleura. Pleura dibagi menjadi
dua :
 Pleura visceral (selaput dada pembungkus) yaitu selaput paru yang
langsung membungkus paru.
 Pleura parietal yaitu selaput yang melapisi rongga dada sebelah luar.
Antara kedua pleura ini terdapat rongga (kavum) yang disebut kavum
pleura.Pada keadaan normal, kavum pleura ini vakum (hampa
udara)sehingga paru dapat berkembang kempis dan juga terdapat
sedikit cairan (eksudat) yang berguna untuk meminyaki permukaannya
(pleura), menghindarkan gesekan antara paru dan dinding sewaktu ada
gerakan bernafas. Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari
tekanan atmosfir, sehingga mencegah kolpas paru kalau terserang
penyakit, pleura mengalami peradangan, atau udara atau cairan masuk
ke dalam rongga pleura, menyebabkan paru tertekan atau kolaps.
2. Fisiologi
a. Pernafasan paru (pernafasan pulmoner) Fungsi paru adalah pertukaran gas
oksigen dan karbondioksida pada pernafasan melalui paru / pernafasan eksternal,
oksigen di pungut melalui hidung dan mulut, pada waktu bernafas oksigen masuk
melalui trachea dan pipa bronchial ke alveoli, dan erat hubungan dengan darah di
dalam kapiler pulmonaris. Hanya satu lapisan membrane yaitu membrane alveoli
kapiler, memisahkan oksigen dari darah, darah menembus dan dipungut oleh
hemoglobin sel darah merah dan dibawa ke jantung. Dari sini dipompa didalam
arteri kesemua bagian tubuh. Darah meninggalkan paru pada tekanan oksigen
mmHg dan pada tingkatan Hb 95% jenuh oksigen. Didalam paru, karbondioksida
salah satu buangan metabolsme menembus membrane kapiler dan kapiler darah
ke alveoli dan setelah melalui pipa bronchial dan trachea di lepaskan keluar
melalui hidung dan mulut. Empat proses yang berhubungan dengan pernafasan
pulmoner pernafasan eksternal:
1) Ventilasi pulmoner, gerakan pernafasan yang menukar udara dalam alveoli
dengan udara luar.
2) Arus darah melaui paru, darah mengandung oksigen masuk keseluruh tubuh,
karbondioksida dari seluruh tubuh masuk aru.
3) Distribusi arus udara dan arus darah sedemikian sehingga jumlahnya yang
bisa dicapai untuk semua bagian.
4) Difusi gas yang membrane alveoli dan kapiler,
Karbondioksida lebih mudah berdifusi dari pada oksigen.
b. Pernafasan jaringan(pernafasn interna)
Darah yang menjenuhkan hemoglobinnya dengan oksigen ( oksihemoglobin)
mengitari seluruh tubuh dan mencapai kapiler, dimana darah bergerak sangat
lambat. Sel jaringan memungut oksigen dari hemoglobin untuk memungkinkan
oksigen berlangsung dan darah menerima sebagai gantinya hasil buangan oksidasi
yaitu karbondioksida.
Perubahan – perubahan berikut terjadi dalam komposisi udara dalam alveoli, yang
disebabkan pernafasan eksterna dan pernafasan interna atau pernafasan jaringan.
Udara(atmosfer) yang dihirup :
 Oksigen :20%
 Karbondioksida :0-0,4%
Udara yang masuk alveoli mempunyai suhu dan kelembaban atmosfer.
Udara yangdihembuskan:
 Nitrogen :79%
 Oksigen :16%
 Karbondioksida :4-0,4%
Udara yang dihembuskan jenuh dengan uap air dan
Mempunyai suhun yang sama dengan badan(20 persen panas badan hilang
untuk pemanasan udara yang dikeluarkan).
c. Daya muat paru
Besarnya daya muat udara dalam paru 4500 ml- 5000 ml (4,5 – 5 liter).Udara
diproses dalam paru (inspirasi dan ekspirasi) hanya 10% kurang lebih 500 ml
disebut juga udara pasang surut (tidal air) yaitu yang dihirupdan yang
dihembuskan pada pernafasn biasa. Pada seorang laki- laki normal (4-5 liter) dan
pada seorang perempuan (3-4 liter). Kapasitas (h) berkurang pada penyakit paru-
paru) dan pada kelemahan otot pernafasan.
d. Pengendalian pernafasan
Mekanisme pernafasan diatur dan dikendalikan oleh dua faktor utama yaitu
kimiawi dan pengendalian saraf. Adanya faktor tertentu, merangsang pusat
pernafasan yang terletak didalm medulla oblongata, kalau dirangsang
mengeluarkan impuls yang disalurkan melalui saraf spiralis ke otot pernafasan (
otot diafragma atau interkostalis).
1) Pengendalian oleh saraf
Pusat pernafasan adalah suatu pusat otomatik dalam medulla oblongata
mengeluarkan impuls eferen ke otot pernafasan, melalui radik saraf sevikalis
diantarkan ke diafragma oleh saraf frenikus. Impuls ini menimbulkan
kontraksi ritmik pada otot diafragma dan interkostalis yang kecepatannya
kira- kira 15 kali setiap menit.
2) Pengendalian secara kimia
Pengendalian dan pengaturan secara kimia meliputi : Frekuensi kecepatan dan
dalamnya gerakan pernafasan, pusat pernafasan dalam sumsum sangat peka
sehingga kadar alkali harus tetap dipertahankan, karbondioksida adalah
produksi asam metabolisme dan bahan kimia yang asam ini merangsang pusat
pernafasan untuk mengirim keluar impuls saarf yang bekerja atas otot
pernafasan.
Inspirasi atau menarik nafas adalah proses aktif yang diselenggarakan oleh
kerja otot. Kontraksi diafragma meluaskan rongga dada dari atas sampai
bawah, yaitu vertical. Kenaikan iga dan sternum, yang ditimbulkan oleh
kontaksi otot interkostalis, meluaskan romgga dada kedua sisi dari belakang
ke depan. Paru yang bersifat elastis mengembang untuk mengisi ruang yang
membesar itu dan udara ditarik masuk kedalam saluran udara, otot
interkostalis eksterna diberi peran sebagai otot tambahan hanya bila inspirasi
menjadi gerak sadar. Pada ekspirasi, udara dipaksa oleh pengendoran otot dan
karena paru kempes kembali, disebakan sifat elastis paru itu gerakan ini
adalah prosespasif. Ketika pernafasan sangat kuat, gerakan dada bertambah,
otot leher dan bahu membantu menarik iga-iga dan sternum ke atas. Otot
sebelah belakang dan abdomen juga dibawa bergerak.
e. Kebutuhan tubuh akan oksigen
Dalam banyak keadaan, termasuk yang telah disebut oksigen dapat diatur menurut
keperluan orang tergantung pada oksigen untuk hidupnya, kalau tidak
mendapatkannya selama kurang lebih 4 menit dapat mengakibatkan kerusakan
pada otak yang tidak dapat perbaiki dan biasanya pasien meninggal. Keadaan
genting timbul bila misalnya seorang anak menutupi kepala dan mukanya dengan
kantong plastic menjadi lemas. Tetapi hanya penyadiaaan oksigen berkurang,
maka pasien menjadi kacau pikirannya, ia menderita anoxia serebralis. Hal ini
terjadi pada orang yang bekerja dalam ruangan sempit tertutup seperti dalam
ruang kapal, oksigen yang ada mereka habiskan dan kalau mereka tidak diberi
oksigen untuk bernafas atau tidak dipindahkan ke udara yang normal, maka akan
meninggal karena anoxemia. Istilah lain adalah hypoxemia atau hipoksia. Bila
oksigen didalam darah tidak mencukupi maka warna merahnya hilang dan
berubah menjadi kebiru- biruan, bibir telingga, lengan dan kaki pasien menjadi
kebiru- biruan dan keadaan itu disebut sianosis (EvelynC.Pearce, 2012).

Pengkajiaan

1. Fokus Pengkajian

Usia bronkopneumoni sering terjadi pada anak. Kasus terbanyak sering terjadi pada anak berusia
dibawah 3 tahun dan kematian terbanyak terjadi pada bayi berusia kurang dari 2 bulan, tetapi
pada usia dewasa juga masih sering mengalami bronkopneumonia.

2. Keluhan Utama : sesak nafas

3. Riwayat Penyakit

a. Pneumonia Virus

Didahului oleh gejala-gejala infeksi saluran nafas, termasuk renitis (alergi) dan batuk, serta suhu
badan lebih rendah daripada pneumonia bakteri.

b. Pneumonia Stafilokokus (bakteri)

Didahului oleh infeksi saluran pernapasan akut atau bawah dalam beberapa hari hingga
seminggu, kondisi suhu tubuh tinggi, batuk mengalami kesulitan pernapasan.

4. Riwayat Kesehatan Dahulu

Sering menderita penyakit saluran pernapasan bagian atas riwayat penyakit fertusis yaitu
penyakit peradangan pernapasan dengan gejala bertahap panjang dan lama yang disertai
wheezing (pada Bronchopneumonia).
5. Pengkajian Fisik

a. Inspeksi : Perlu diperhatikan adanya takhipnea, dispnea, sianosis sirkumoral, pernafasan


cuping hidung, distensi abdomen, batuk semula non produktif menjadi produktif, serta nyeri
dada pada waktu menarik nafas pada pneumonia berat, tarikan dinding dada akan tampak jelas.

b. Palpasi : Suara redup pada sisi yang sakit, hati mungkin membesar, fremitus raba mungkin
meningkat pada sisi yang sakit dan nadi mengalami peningkatan.

c. Perkusi : Suara redup pada sisi yang sakit.

d. Auskultasi : Pada pneumoniakan terdengar stidor suara nafas berjurang, ronkhi halus pada
sisi yang sakit dan ronkhi pada sisi yang resolusi, pernafasan bronchial, bronkhofoni, kadang-
kadang terdenar bising gesek pleura.

6. Data Fokus

a. Pernapasan

Gejala : takipneu, dispneu, progresif, pernapasan dangkal, penggunaan obat aksesoris, pelebaran
nasal.

Tanda : bunyi napas ronkhi, halus dan melemah, wajah pucat atau sianosis bibir atau kulit

b. Aktivitas atau istirahat

Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia

Tanda : penurunan toleransi aktivitas, letargi

c. Integritas ego : banyaknya stressor

d. Makanan atau cairan

Gejala ; kehilangan napsu makan, mual, muntah

Tanda: distensi abdomen, hiperperistaltik usus, kulit kering dengan tugor kulit buruk,
penampilan kakeksia (malnutrisi)

e. Nyeri atau kenyamanan

Gejala : sakit kepala, nyeri dada (pleritis), meningkat oleh batuk, nyeri dada subternal
(influenza), maligna, atralgia.
Tanda : melindungi area yang sakit (pasien umumnya tidur pada posisi yang sakit untuk
membatasi gerakan)(Doengos,2000).

J. Diagnosa Keperawatan

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial,


pembentukan edema, peningkatan produksi sputum. (Doenges, 2000 : 166)

2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus kapiler,


gangguan kapasitas pembawa aksigen darah, ganggguan pengiriman oksigen. (Doenges, 2000 :
166)

3. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi dalam alveoli. (Doenges,
2000 :177)

4. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan


berlebih, penurunan masukan oral. (Doenges, 2000 : 172)

5. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kebutuhan metabolik sekunder
terhadap demam dan proses infeksi, anoreksia yang berhubungan dengan toksin bakteri bau dan
rasa sputum, distensi abdomen atau gas.( Doenges, 2000 : 171)

6. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi oksigen untuk aktifitas sehari-hari.


(Doenges, 2000 : 170)

K. Intervensi

1. Diagnosa : Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial,
pembentukan edema, peningkatan produksi sputum

Tujuan :

a. Jalan nafas efektif dengan bunyi nafas bersih dan jelas

b. Pasien dapat melakukan batuk efektif untuk mengeluarkan sekret

Hasil yang diharapkan :

a) Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih/ jelas

b) Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas Misalnya: batuk efektif dan
mengeluarkan sekret.
Intervensi :

1) Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas. Misalnya: mengi, krekels dan ronchi.

Rasional: Bersihan jalan nafas yang tidak efektif dapat dimanifestasikan dengan adanya bunyi
nafas adventisius

2) Kaji atau pantau frekuensi pernafasan, catat rasio inspirasi/ ekspirasi.

Rasional: Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan
atau selama stress atau adanya proses infeksi akut. Pernafasan dapat melambat dan frekuensi
ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.

3) Berikan posisi yang nyaman buat pasien, misalnya posisi semi fowler

Rasional: Posisi semi fowler akan mempermudah pasien untuk bernafas.

4) Dorong atau bantu latihan nafas abdomen atau bibir

Rasional: Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dipsnea dan
menurunkan jebakan udara

5) Observasi karakteristik batuk, bantu tindakan untuk memperbaiki ke efektifan upaya batuk.

Rasional: Batuk dapat menetap, tetapi tidak efektif. Batuk paling efektif pada posisi duduk tinggi
atau kepala di bawah setelah perkusi dada.

6) Kolaborasi untuk memberikan obat bronkodilator mis: B-agonis, epinefrin (adrenalin,


Vaponefrin).

Rasional: Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti lokal, menurunkan spasme jalan
nafas, mengi, dan produksi mukosa.

2. Diagnosa : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus


kapiler, gangguan kapasitas pembawa oksigen darah, gangguan pengiriman oksigen.

Tujuan :

Perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tidak ada
distres pernafasan.

Hasil yang diharapkan :

a) Menunjukkan adanya perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan

b) Berpartisispasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi


Intervensi :

1) Kaji frekuensi, kedalaman, dan kemudahan pernafasan

Rasional: Manifestasi distres pernafasan tergantung pada derajat keterlibatan paru dan status
kesehatan umum

2) Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku. Catat adanya sianosis.

Rasional: Sianosis menunjukkan vasokontriksi atau respon tubuh terhadap demam atau
menggigil dan terjadi hipoksemia.

3) Kaji status mental

Rasional: Gelisah, mudah terangsang, bingung dapat menunjukkan hipoksemia.

4) Awasi frekuensi jantung atau irama

Rasional: Takikardi biasanya ada karena akibat adanya demam atau dehidrasi.

5) Awasi suhu tubuh. Bantu tindakan kenyamanan untuk mengurangi demam dan menggigil.

Rasional: Demam tinggi sangat meningkatkan kebutuhan metabolik dan kebutuhan oksigen dan
mengganggu oksigenasi seluler.

6) Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, nafas dalam, dan batuk efektif

Rasional: Tindakan ini meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan pengeluaran sekret


untuk memperbaiaki ventilasi.

7) Kolaborasi pemberian oksigen dengan benar sesuai dengan indikasi

Rasional: Mempertahankan PaO2 di atas 90 mmHg.

3. Diagnosa : Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi dalam alveoli

Tujuan:

Pola nafas efektif dengan frekuensi dan kedalaman dalam rentang normal dan paru jelas atau
bersih

Hasil yang diharapkan:

a) pola nafas menjadi efektif

b) Frekuensi dan kedalamanya dalam rentang normal (16-20x/menit)


Intervensi :

1) Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada.

Rasional: Kecepatan biasanya meningkat, dispnea, dan terjadi peningkatan kerja nafas,
kedalaman bervariasi, ekspansi dada terbatas.

2) Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas adventisius.

Rasional: Bunyi nafas menurun atau tidak ada bila jalan nafas terdapat obstruksi kecil.

3) Tinggikan kepala dan bentu mengubah posisi.

Rasional: Duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan.

4) Observasi pola batuk dan karakter sekret.

Rasional: Batuk biasanya mengeluarkan sputum dan mengindikasikan adanya kelainan.

5) Bantu pasien untuk nafas dalam dan latihan batuk efektif.

Rasional: Dapat meningkatkan pengeluaran sputum.

6) Berikan humidifikasi tambahan

Rasional: Memberikan kelembaban pada membran mukosa dan membantu pengenceran sekret
untuk memudahkan pembersihan.

7) Bantu fisioterapi dada, postural drainage

Rasional: Memudahkan upaya pernafasan dan meningkatkan drainage sekret dari segmen paru
ke dalam bronkus.

8) Kolaborasi pemberian oksigen tambahan.

Rasional: Memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas.

4. Diagnosa : Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilngan


cairan berlebih, penurunan masukan oral.

Tujuan : Menunjukkan keseimbangan cairan dan elektrolit

Hasil yang diharapkan :

a) Intake dan output yang adekuat

b) Tanda-tanda vital dalam batas normal

c) Tugor kulit baik


Intervensi :

1) Kaji perubahan tanda vital, contoh: peningkatan suhu, takikardi, hipotensi.

Rasional: Untuk menunjukkan adnya kekurangan cairan sistemik

2) Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa (bibir, lidah).

Rasional: Indikator langsung keadekuatan masukan cairan

3) Catat laporan mual atau muntah.

Rasional: Adanya gejala ini menurunkan masukan oral

4) Pantau masukan dan haluaran urine.

Rasional: Memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan kebutuhan penggantian

5) Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi.

Rasional: Memperbaiki ststus kesehatan

5. Diagnosa : Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan


kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi, anoreksia, distensi abdomen.

Tujuan : Pemenuhan nutrisi yang terpenuhi secara adekuat.

Hasil yang diharapkan :

a) Menunjukkan peningkatan nafsu makan

b) Mempertahankan atau meningkatkan berat badan

c) Bissing usus dalam batas normal

Intervensi :

1) Identifikasi faktor yang menimbulkan mual atau muntah.

Rasional: Pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah

2) Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin, bantu kebersihan
mulut.

Rasional: Menghilangkan bahaya, rasa, bau,dari lingkungan pasien dan dapat menurunkan mual

3) Jadwalkan pengobatan pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan.


Rasional: Menurunkan efek mual yang berhubungan dengan pengobatan ini

4) Auskultasi bunyi usus, observasi atau palpasi distensi abdomen.

Rasional: Bunyi usus mungkin menurun bila proses infeksi berat, distensi abdomen terjadi
sebagai akibat menelan udara dan menunjukkan pengaruh toksin bakteri pada saluran gastro
intestinal

5) Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar.

Rasional: Adanya kondisi kronis dapat menimbulkan malnutrisi, rendahnya tahanan terhadap
infeksi, atau lambatnya respon terhadap terapi

6) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan makanan yang mudah dicerna, secara
nutrisi seimbang.

Rasional :metode makan den kebutuhan kalori didasarkan pada situasi atau kebutuhan
individu.

6. Diagnosa : Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi oksigen untuk aktifitas


hidup sehari-hari.

Tujuan : Peningkatan toleransi terhadap aktifitas.

Hasil yang diharapkan :

a) Menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktifitas

b) Tanda-tanda vital dalam batas normal

Intervensi :

1) Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas.

Rasional: Menetapkan kemampuan atau kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi

2) Berikan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung selama fase akut.

Rasional: Menurunkan stres dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat

3) Jelaskan pentingnya istitahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbamgan


aktivitas dan istirahat.

Rasional: Tirah baring dipertahankan untuk menurunkan kebutuhan metabolik

4) Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan.


Rasional: Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan
oksigen(Marilyn E. Doenges, 2000).