You are on page 1of 8

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembedahan atau operasi adalah semua tindakan pengobatan yang menggunakan

cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan

ditangani. Pembukaan bagian tubuh ini pada umumnya dilakukan dengan

membuat sayatan dan diakhiri dengan penutupan dan penjahitan luka

(Sjamsuhidajat & Jong, 2011, hlm. 331). Post operasi adalah masa setelah

dilakukan pembedahan yang dimulai saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan

dan berakhir sampai evaluasi selanjutnya (Uliyah & Hidayat, 2008).

Menurut World Health Organization (WHO, 2009), diperkirakan setiap tahun

terdapat 230 juta penduduk yang menjalani pembedahan yang dilakukan

diseluruh dunia. Berdasarkan laporan dari data Depkes RI (2009) menunjukkan

sebanyak 180.000 pasien di provinsi Jawa Tengah telah menjalani tindakan

operasi, Sedangkan di kota semarang ada sekitar 20.000 pasien yang menjalani

prosedur pembedahan. Kementrian Kesehatan RI (2011) tindakan pembedahan

menempati urutan ke-10 dari 50 pertama pola penyakit di rumah sakit se-

indonesia dengan persentase mencapai 15,7% .

1
2

Berdasarkan hasil penelitian Barichello (2009) di Brazil didapatkan bahwa 78,3%

pasien pasca operasi mengalami gangguan kualitas tidur. Pasien pasca operasi

pembedahan mengalami gangguan tidur dikarenakan nyeri yang dirasakan

individu menjadi salah satu stimulan gangguan kualitas tidur. Jika gangguan

kualitas tidur tidak diatasi menyebabkan keseimbangan fisiologis dan psikologis

terganggu. Depresi, cemas dan tidak konsentrasi merupakan tanda psikologis dari

buruknya kualitas tidur, sedangkan dampak fisiologis berupa rasa lelah

penurunan aktivitas sehari-hari, lambatnya penyembuhan luka, daya tahan tubuh

menurun dan ketidakstabilan tanda-tanda vital (Bukit, 2003 dalam Nur Lela dkk,

2009).

Pasien yang baru saja menjalani program operasi, akan mengalami gangguan

dalam tidur, pasien biasanya sering terbangun pada malam pertama setelah

operasi, yang mengakibatkan periode pemulihan terganggu baik itu pemulihan

berkelanjutan setelah fase post operasi serta proses penggantian sel-sel baru dan

menjadi lambat (Potter & Perry, 2010).

Masalah istirahat tidur merupakan suatu kondisi yang di tandai dengan adanya

gangguan jumlah, kualitas atau waktu tidur pada seorang individu (Harusono,

2010). Masalah istirahat tidur dapat muncul pada pasien post operasi, karena

tindakan post operasi atau pembedahan dapat menimbulkan beberapa keluhan

bagi pasien diantaranya nyeri dan cemas. Akibatnya pasien akan merasakan

ketidaknyamanan saat istirahat dan tidur (Potter & Perry, 2011).

1
3

Kebutuhan istirahat dan tidur merupakan kebutuhan yang penting bagi pasien

pasca bedah di samping kebutuhan utama lainnya. Pada saat istirahat dan tidur

tubuh akan terasa relaks, tenang serta bebas dari stress serta penting dalam

memperbaiki proses biologis tubuh dengan melepaskan hormon pertumbuhan

untuk memperbaiki dan memperbarui sel yang rusak. Jadi bila kebutuhan

istirahat dan tidur pasien pasca bedah tidak terpenuhi maka dapat memperlambat

proses penyembuhan luka insisi (Potter & Perry, 2011).

Pada penanganan masalah istirahat tidur dapat dilakukan terapi farmakologi dan

non farmakologi, pada penanganan secara farmakologi dapat diberikan obat-

obatan seperti antihistamin, amitripilin, tradozon, klonazepam, chloral dan

zolpidem (Bain, 2006).

Penanganan masalah istirahat tidur pada pasien post operasi perlu mendapat

perhatian khusus dari tim medis, penatalaksanaannya dapat dilakukan dengan

tindakan farmakologi maupun dengan cara yang aman, efektif dan efisien yaitu

non farmakologis. Salah satunya dengan melakukan masase. masase yang

dilakukan dengan mudah dan terjangkau yaitu foot masase. Terapi foot massage

atau terapi masase kaki adalah upaya penyembuhan yang efektif dan aman, serta

tanpa efek samping (Aziz, 2014).

Efek relaksasi yang berasal dari kontak kulit bervasodilatasi sehingga impuls

akan diteruskan ke syaraf simpatik untuk merangsang ARAS (Ascending

Reticular System) agar meningkatkan hormon yang menyebabkan efek

ketenangan yaitu serotonin, endorphin, dan menekan kortisol. Kondisi tubuh


4

yang tenang, rileks, dan nyaman membuat seseorang mendapatkan istirahat dan

tidur yang terpenuhi dengan baik (Sari, 2015).

Foot massage dilakukan pada kaki tubuh bagian bawah selama 10 menit dengan

memberikan gosokan pada permukaan punggung kaki, dimana gosokan yang

berulang menimbulkan peningkatan suhu di area gosokan yang mengaktifkan

sensor syaraf kaki sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh dan getah bening yang

mempengaruhi aliran darah meningkat, sirkulasi darah menjadi lancar (Adity,

Sukarendra & Putu, 2013). Impuls syaraf yang dihasilkan saat melakukan foot

massage diteruskan menuju hipotalamus untuk menghasilkan Corticotropin

Releasing Factor (CRF). CRF merangsang kelenjar pituitary untuk meningkatkan

produksi Propiodmelanocortin (POMC) sehingga medulla adrenal memproduksi

endorphin. Endorfin yang diekskresikan ke dalam peredaran darah dapat

mempengaruhi suasana hati menjadi relaks (Ganong, 2008). Rasa relaks dapat

mengurangi stress dan dapat memicu lepasnya endorphin, serta membuat

nyaman, dan zat kimia otak yang menghasilkan rasa nyaman sendiri (Aziz,

2014).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Afianti (2017) menyatakan bahwa

foot massage memiliki pengaruh positif terhadap kualitas tidur pasien di ruang

ICU. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Aziz (2014) menyatakan bahwa

foot massage memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penurunan insomnia

pada lansia. Sedangkan, penelitian yang dilakukan oleh Sari (2015) menyatakan

bahwa head massage relaxationdapat mempengaruhi kebutuhan istirahat dan

tidurpada pasien pasca bedah.


5

Berdasarkan Fenomena diatas penting untuk diteliti foot massage untuk

mengetahui sejauh mana terhadap kualitas tidur tidur pasien postoperasi

bedah.Maka dari itu, peneliti tertarik untuk mengetahui tentang “pengaruh foot

massage terhadap kualitas tidur pada pasien post operasi”

B. Rumusan Masalah

Pasien pasca operasi pembedahan mudah mengalami gangguan tidur dikarenakan

nyeri merupakan stimulan gangguan kualitas tidur. Jika tidak diatasi

menyebabkan ketidakseimbangan fisiologis dan psikologis dan dapat

memperlambat proses penyembuhan luka insisi. Pada saat tidur tubuh akan terasa

relaks, tenang serta bebas dari stress serta penting dapat memperbaiki proses

biologis tubuh dengan melepaskan hormon pertumbuhan untuk memperbaiki dan

memperbarui sel yang rusak. Untuk memperbaiki kualitas tidur pasien pasca

operasi maka dilakukan tindakan keperawatan yaitu foot massage.

Berdasarkan uraian di latar belakang, maka penulis dapat merumuskan masalah

penelitian sebagai berikut, apakah ada pengaruh foot massage terhadap kualitas

tidur pada pasien post operasi

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh foot massage terhadap kualitas tidur pada pasien

post operasi.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi kualitas tidur sebelum dilakukan tindakan foot massage
b. Mengidentifikasi kualitas tidur sesudah dilakukan tindakan foot massage
c. Menganalisis pengaruh foot massage terhadap kualitas tidur pada pasien

post operasi.
6

D. Manfaat Penelitian
1. Pelayanan Kesehatan
Diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dan data untuk

memberikan program yang tepat terkait pemberian foot massagesehingga

dapat meningkatkan kualitas tidur pasien post operasi.


2. Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi mahasiswa

tentang keperawatan perioperative, terkhusus tindakan keperawatan mandiri

seperti foot massage untuk meningkatkan tidur pasien post operasi


3. Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikandata dasar, pedoman bagi

peneliti selanjutnya dalam melakukan penelitian lebih lanjut dan menjadi

informasi bagi peneliti selanjutnya dalam intervensi foot massage pada pasien

post operasi yang bermasalah dengan kualitas tidurnya

E. Keaslian Penelitian

Tabel 1.1
Keaslian Penelitian

No. Penelitian Judul Metode Hasil


7

1. Afianti, N Pengaruh foot Metode penelitian yang Berdasarkan hasil


2017 massage terhadap digunakan adalah Quasi penelitian dapat
kualitas tidur pasien Experiment dengan disimpulkan adanya
di Ruang ICU pendekatan Pretest dan pengaruh terapi foot
Posttest Control Group massage terhadap
Design. Penelitian ini kualitas tidur pasien
memberikan intervensi di ruang ICU
kepada responden yang dengan nilai p
akan dilakukan tindakan valueadalah > 0,05
perlakuan dan
mebandingkan sebelum
dan sesudah dilakukan
penelitian
2. Sari, B. R Pengaruh head Metode penelitian yang Berdasarkan hasil
massage relaxation digunakan tergolong penelitian dapat
terhadap pemenuhan experimental dengan disimpulkan adanya
kebutuhan istirahat menggunakan desain pengaruh terapihead
dan tidur pada penelitian Quasy massage relaxation
pasien pasca bedah Experimental Design yang terhadap pemenuhan
di ruang Dahlia memakai rancanagan kebutuhan istirahat
RSD DR. Koesnadi Posttest Only With Control dan tidur pada
Bondowoso Group Design. Teknik pasien pasca bedah
pengambialan sample dengan nilai p value
dalam penelitian adalah = 0,001
menggunakan Consecutive
Sampling sehingga
diperoleh sampel sebanyak
30 responden pasien pasca
bedah

F. Perbedaan dan Persamaan Penelitian Terkait dan Peneliti

Tabel 1.2
Perbedaan dan Persamaan Penelitian Terkait dan Peneliti

Analisa Penelitian Terkait Penelitian Peneliti


Persamaan
Fokus penelitian Peningkatan kualitas tidur Peningkatan kualitas tidur
(Afianti, N, 2017)
Waktu pemberian Di berikan 2 hari berturut – turut Di berikan 2 hari berturut –
intervensi selama 20 menit (Afianti, N, turut selama 20 menit.
2017)
Subyek Pasca bedah (Sari, B.R, 2015) Post Operasi
Alat ukur Quesioner PSQI (Sari, B.R, Quesioner PSQI (Sari, B.R,
2015) 2015)
8

Perbedaan
Subyek Pasien di ruang ICU (Afianti, N, Pasien post operasi
2017)
Metode Quasi Experiment pre – post test Pre experimental dengan
control group design (Afianti, N, rancangan pre – post test
2017 dan Sari, B.R, 2015). without control group design
Intervensi Head massage relaxation (Sari, Foot massage
B.R, 2015).
Focus penelitian Pemenuhan kebutuhan istirahat Peningkatan kualitas tidur
dan tidur (Sari, B.R, 2015).