You are on page 1of 6

Melihat Surga Di Depan Mata

Oleh: Tim dakwatuna.com

Dari : http://www.dakwatuna.com/2008/melihat-surga-di-depan-mata/

dakwatuna.com - Surga adalah suatu pembalasan yang agung dan pahala tertinggi bagi para
hamba Allah yang taat. Surga merupakan suatu kenikmatan sempurna. Tak ada sedikit pun
kekurangannya. Tak ada kemuraman di dalamnya.

Penggambaran surga yang difirmankan oleh Allah swt. dan disabdakan oleh Nabi saw., memang
hampir tak mampu kita gambarkan dengan otak dan imajinasi kita yang terbatas ini. Betapa sulit
membayangkan kenikmatan yang demikian besar. Sungguh kemampuan imajinasi kita akan
terbentur pada keterbatasannya.

Kita coba untuk memvisualisasikan dalam angan hadits Qudsi yang menceritakan tentang
gambaran surga berikut ini,

  


 ‫دت "دي ا 
 رأت و أذن  و‬#
‫أ‬

“Kami sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu, yang tak pernah terlihat oleh mata,
tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terlintas oleh hati manusia…”

“Seorang pun tak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu

(bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa
yang telah mereka kerjakan. (As-sajdah 17)

Allah swt. menentukan hari masuknya ke surga pada waktu tertentu dan memutuskan jatah hidup
di dunia pada batas waktu tertentu serta menyiapkan di dalam surga berbagai kenikmatan yang
tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan terlintas dalam hati. Dia
memperlihatkan dengan jelas surga kepada mereka agar dapat melihatnya dengan mata hatinya
karena penglihatan mata hati lebih tajam daripada pandangan mata kepala.

“Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian meninggal dunia, maka kursinya diperlihatkan
kepadanya setiap pagi dan petang. Jika ia penghuni surga, maka ia adalah penghuni surga. Jika
ia penghuni neraka, maka ia adalah penghuni neraka. Kemudian dikatakan, Inilah kursimu
hingga Allah Ta’ala membangkitkanmu pada hari kiamat nanti.” Bukhari-Muslim

Sungguh Nabi Muhammad saw. telah melihat di dekatnya terdapat surga tempat tinggal
sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim hadits dari Anas dalam
kisah Isra’ dan Mi’raj. Pada akhir hadits tersebut dijelaskan,

“Jibril berjalan terus hingga tiba di Sidratul Muntaha dan ternyata Sidratul Muntaha ditutup
dengan warna yang tidak aku ketahui.” kata Rasulullah saw. lebih lanjut, “Kemudian aku masuk
ke dalam surga dan ternyata di dalamnya terdapat kubah dari mutiara dan tanahnya beraroma
kesturi. Bukhari-Muslim

Simaklah sebuah puisi tentang surga:

Wahai penghuni surga, kalian di surga ini

Tetap dalam kenikmatan dan tak pernah terputus

Hidup terus dan tidak akan mati

Kalian berdomisili di sini terus dan tak akan pindah tempat

Dan kalian muda terus serta tidak tua

“Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabbnya dibawa ke dalam surga berombong-
rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka
dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian,
berbahagialah kalian! Maka masukilah surga ini, sedang kalian kekal di dalamnya.” Az-Zumar
39:73

Cobalah renungkan ketika kelompok di atas digiring menuju tempatnya di surga secara
berkelompok. Kelompok yang bahagia bersama dengan saudara-saudaranya. Mereka beriringan
dan bersatu padu. Masing-masing dari mereka terlibat dalam amal perbuatan dan saling
kerjasama dengan kelompoknya serta memberi kabar gembira kepada orang-orang yang hatinya
kuat sebagaimana di dunia pada saat mereka bersatu dalam kebaikan. Selain itu, setiap orang dari
saling canda antar sesamanya.

“(Yaitu) Surga Aden yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka. Di

dalamnya mereka bertelekan (di atas dipan-dipan) sambil meminta buah-buahan yang banyak
dan minuman di surga tersebut.” Shaad: 50-51

Anda perhatikan bahwa ada makna indah pada ayat di atas ketika mereka telah masuk ke dalam
surga, maka pintu-pintu itu tidak tertutup bagi mereka dan dibiarkan terbuka lebar untuk mereka.
Sedangkan neraka, jika para penghuninya telah masuk ke dalamnya, maka pintu-pintu langsung
ditutup rapat bagi mereka.

“Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka.” Al-Humazah:8

Dibiarkannya pintu-pintu surga terbuka untuk para penghuninya adalah isyarat bahwa mereka
dapat bergerak secara leluasa bagi mereka. Serta masuknya para malaikat masuk setiap waktu
kepada mereka dengan membawa hadiah-hadiah dan rizki untuk mereka dari Rabb mereka serta
apa saja yang menggembirakan mereka dalam setiap waktu.
“Di surga terdapat delapan pintu. Ada pintu yang namanya Ar-Rayyan yang hanya dimasuki
oleh orang-orang yang puasa.” Bukhari dan Muslim

“Barang Siapa yang berinfak dengan sepasang unta atau kuda atau lainnya di jalan Allah swt.,
maka ia dipanggil dari pintu-pintu surga. “Wahai hamba Allah, pintu ini lebih baik. Barang
Siapa yang rajin shalat, maka ia dipanggil di pintu shalat. Barang Siapa berjihad, maka ia
dipanggil di pintu jihad. Barang Siapa rajin bershadaqah, maka ia masuk dari pintu shadaqah.
Dan barang siapa puasa, maka ia dipanggil dari Ar-rayyan.”Abu Bakar berkata,”Wahai
Rasulullah, apakah setiap orang dipanggil dari pintu-pintu tersebut? Adakah orang dipanggil
dari semua pintu tersebut? Rasulullah saw. menjawab,”Ya, dan aku berharap engkau termasuk
dari mereka.”

“Siapa di antara kalian yang berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya lalu membaca
Asyhadu an laa ilaaha illallahu wahdahulaa syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadan
abduhu warasuluhu, maka dibukakan baginya pintu-pintu surga yang berjumlah delapan dan ia
masuk dari mana saja yang ia sukai.” Imam Muslim

“Jika seorang muslim mempunyai tiga orang anak yang belum baligh kemudian meninggal
dunia, maka mereka menjumpainya di pintu-pintu surga yang delapan dan ia bebas masuk dari
pintu mana saja yang ia sukai.” k

“Demi Muhammad yang jiwanya ada di Tangan-Nya, jarak antara dua daun pintu surga adalah
seperti Makkah dan Hajar atau Hajar dan Makkah.” Imam Bukhari

Dalam redaksi lain,

“Antara Makkah dan Hajar atau Makkah dengan Bushra.” (Hadits ini keshahihannya disepakati
pakar hadits).

“Kalian adalah penyempurna tujuh puluh umat. Kalian adalah umat yang terbaik dan termulia
di sisi Allah. Jarak di antara dua daun pintu surga adalah empat puluh tahun. Pada suatu hari
ia akan penuh sesak.” Imam Ahmad

“Pintu yang dimasuki oleh penghuni surga jaraknya adalah sejauh perjalanan pengembara
dunia yang ahli, tiga kali lipat. Kemudian penghuni surga memenuhinya hingga pundak mereka
nyaris lengkap.” Abu Nu’aim

“Allah Azza wajalla menciptakan Adam mirip dengan wajah-Nya. Postur tubuh Adam adalah
enam puluh hasta. Usai menciptakan Adam Allah berfirman, “Pergilah dan ucapkan salam
kepada sekumpulan tersebut. Mereka adalah para malaikat yang sedang duduk-duduk dan
mendengarkan salam yang mereka sampaikan kepadamu, karena salam tersebut adalah
salammu dan salam anak keturunanmu.”

Kata Rasulullah saw., “Lalu Adam pergi ke tempat mereka dan berkata, “Salam sejahtera atas
kalian.” Mereka menjawab, “Salam sejahtera juga atasmu dan begitu juga rahmat Allah.” Kata
Rasulullah saw. lebih lanjut, “Maka setiap orang yang masuk ke dalam surga wajahnya seperti
wajah Adam dan postur tubuhnya adalah enam puluh hasta. Setelah Adam, manusia mengecil
hingga sekarang.” Ahmad, Bukhari dan Muslim

“Penghuni surga masuk ke dalam surga dengan rambut pendek, belum berjenggot, matanya
bercelak dan usianya tiga puluh tiga tahun.” Imam Tirmidzi

“Jika penghuni surga meninggal dunia, baik pada saat kecil atau tua, maka mereka
dikembalikan dengan usia tiga puluh tahun di surga dan usianya tidak bertambah selama-
lamanya. Begitu juga penghuni neraka.” Imam Tirmidzi

“Penghuni surga masuk surga dengan ketinggian Adam, enam puluh hasta dengan ukuran
orang besar, dengan wajah tampan setampan Nabi Yusuf, Seusia Nabi Isa, tiga puluh tiga tahun,
lidahnya fasih sefasih Nabi Muhammad, belum berjenggot dan berambut pendek.” Ibnu Abu
Dunya

Dalam riwayat yang lain, “Sesungguhnya derajat penghuni surga yang paling rendah yang
berada di tingkat keenam dan ketujuh. Disediakan baginya tiga ratus pelayan yang setiap pagi
dan sore melayaninya dengan memberikan tiga ratus piring. Yang saya ketahui piring tersebut
terbuat dari emas.”

“Setiap piring mempunyai warna tersendiri yang tidak dimiliki oleh piring yang lain. Ia
menikmati dari piring yang pertama hingga piring terakhir. Pelayan-pelayan juga memberikan
tiga ratus minuman di mana setiap minuman mempunyai warna tersendiri yang tidak dimiliki
oleh tempat minum yang lain. Ia menikmati tempat minum pertama hingga tempat minum
terakhir.”

Ia berkata,” Rabbku, jika Engkau mengizinkan, maka aku akan memberi makan dan minum
kepada penghuni surga dengan tidak mengurangi jatah yang diberikan kepadaku.
“Sesungguhnya ia mempunyai istri sebanyak tujuh puluh dua orang yang berasal dari wanita-
wanita surgawi yang matanya cantik jelita belum temasuk istri-istrinya dari wanita dunia. Salah
seorang dari istri-istri mereka mengambil tempat duduknya yang panjangnya satu mil ukuran
dunia.”(HR Ahmad)

“Dan penghuni surga yang paling tinggi atau mulia di sisi Allah adalah orang yang melihat
wajah Allah setiap pagi dan petang. Kemudian Rasulullah saw. membaca ayat, “Wajah-wajah
(orang-orang Mukmin) pada saat itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat.” HR
Tirmidzi

“Saya datang ke pintu surga, lalu saya buka. Sang penjaga bertanya, “Siapakah Anda?” Saya
menjawab, “Saya Muhammad.” Penjaga pintu lalu berkata, “Saya memang diperintah agar
pintu surga ini tidak saya buka sebelum Anda terlebih dulu masuk.” Imam Muslim

Rasulullah bersabda, “Jibril datang kepada saya dan memberi informasi tentang pintu surga
yang akan dimasuki oleh umatku.” Mendengar itu, Abu Bakar bertanya, “Ya Rasulullah saw.
aku ingin bersamamu hingga dapat melihat pintu surga.” Rasulullah menjawab, “Engkau wahai
Abu bakar, adalah orang pertama dari umatku yang memasuki surga.” Imam Bukhari-Muslim
Pertama kali dari golongan umat yang masuk surga tanpa melalui proses hisab ialah mereka yang
berderajat tinggi dan agung dalam iman dan taqwanya, beramal shaleh dan istiqamah.

“Mereka berbaris dalam satu regu, wajah mereka memancarkan kepuasan seperti rembulan
saat pertama. Tubuh mereka bersih dari kotoran. Tidak meludah, tidak berdahak dan tidak pula
buang air. Tempat-tempat singgahnya terbuat dari emas, sisirnya terbuat juga dari emas dan
perak. Tempat apinya adalah kayud, keringatnya berupa minyak misyk, setiap lelaki memiliki
pasangan istri yang kulitnya cemerlang seolah-olah sumsumnya tampak dari balik daging.
Mereka tidak pernah berselisih, tidak saling membenci sebab mereka sehati. Bacaannya tiap kali
adalah tasbih, setiap pagi maupun sore.” Imam Bukhari

Rasulullah saw. Bersabda:

“Pasti masuk surga di antara umatku yang berjumlah tujuh puluh ribu orang tanpa hisab atau
tujuh ratus ribu orang. Mereka saling bergandeng hingga masuk surga semuanya. Wajah
mereka seperti rembulan pada saat pertama.” Imam Bukhari dan Muslim

Ibnu Abas ra berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda:

“Semua umat diperlihatkan kepadaku kemudian aku lihat ada nabi yang diikuti oleh sekelompok
orang pengikutnya. Ada nabi yang diikuti oleh satu dan dua orang. Ada nabi yang tidak diikuti
oleh sorangpun. Diangkat kepadaku kumpulan manusia yang sangat banyak lalu aku mengira
bahwa mereka adalah umatku lalu dikatakan kepadaku, “Ini adalah Musa dan kaumnya.
Lihatlah ke ufuk langit!” Lalu aku melihat ke ufuk langit dan ternyata di sana ada kumpulan
manusia yang sangat banyak. Dikatakan kepadaku, “Ini adalah umatmu dan di antara mereka
ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa dihisab dan disiksa. Setelah itu Rasulullah
masuk ke dalam rumah.

“Sementara orang-orang sibuk membicarakan siapa sebenarnya mereka yang masuk ke dalam
surga tanpa hisab dan tanpa disiksa. Sebagian mereka berkata,

“Barangkali mereka adalah mereka yang menemani Rasulullah saw.” Sebagian yang lain
berkata, “Barangkali mereka adalah yang dilahirkan dalam keadaan Islam dan tidak
menyekutukan Allah dengan sesuatupun.” Mereka juga menafsirkan dengan berbagai macam
tafsiran.

Lalu Rasulullah ke luar menemui mereka dan bertanya, “Apa yang kalian bicarakan?” Mereka
pun menceritakan hasil pembicaraannya. Lantas Rasulullah saw. bersabda,” Mereka adalah
orang-orang yang meruqyah dan tidak minta diruqyah, tidak jatuh dalam tathayyur (mengaitkan
nasib dengan burung atau lainnya) dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal.”

Ukasyah bin Mihshan berdiri lalu berkata, “Berdoalah kepada Allah agar Ia menjadikan aku di
antara mereka. “Rasulullah saw. menjawab, “Anda termasuk di antara mereka!” Orang laki-
laki yang lain berdiri dan berkata, “Berdoalah kepada Allah agar Allah menjadikanku di antara
mereka!” Rasulullah saw. menjawab, “Anda kalah cepat dengan ‘Ukasyah.”
Ibnul Atsir telah mengumpulkan perawi-perawi hadits ini di dalam Yamiil Ushul, dan di antara
hadits itu menceritakan bahwa Abdullah bin Mas’ud ra menyampaikan bahwa Rasulullah saw.
Bersabda:

“Aku tahu orang terakhir yang ke luar dari neraka dan terakhir masuk surga. Ia ke luar dari
neraka sambil merangkak, lalu Allah berfirman kepadanya,” Pergi dan masuklah ke surga!”
Orang itu kemudian pergi menuju surga, namun terbayang olehnya bahwa surga telah penuh,
lalu ia kembali kepada Allah dan berkata,” Ya Allah, surga sudah penuh.” Allah berfirman
kepadanya,

“Pergilah dan masuklah ke dalam surga, sebab di sana tidak seperti di dunia melainkan sepuluh
kali dunia. Lalu ia berkata, “Apakah Engkau ejek aku, atau Engkau tertawakan aku, sedang
Engkau adalah Raja?”

Sebuah hadits riwayat Muslim menyampaikan hal serupa. Dikisahkan, Nabi bercerita tentang
laki-laki yang masuk ke surga yang terakhir. Laki-laki itu berjalan pelan-pelan. Allah
menyuruhnya segera masuk ke surga. Ia pun berjalan ke arah surga dengan hati yang bimbang.
Ia angankan, setiap orang di surga itu telah memiliki rumah sendiri-sendiri. Dalam hatinya ia
bertanya, dengan apakah ia akan bertempat tinggal?”

Maka untuk memastikan hatinya, Allah bertanya, “Apakah engkau masih ingat, setiap orang
berada di rumahnya sendiri-sendiri?” Ingat ya Allah…”jawabnya penuh dengan angan
harapan. “Sepuluh kali lipat rumah dunia?” tanya Allah. Apakah Engkau menghinaku ya Allah,
sedangkan Engkau adalah Raja?” Dalam menceritakan itu Nabi tertawa hingga terlihat gigi
gerahamnya.”

Mudah-mudahan kita semua diizinkan oleh Allah Ta’ala menjadi orang-orang yang senantiasa
istiqamah di dalam meniti hidup dan kehidupan ini, sehingga ketika ruh ini dicabut oleh-Nya kita
menerima anugerah husnul khatimah. Sehingga kita termasuk dan dimasukkan oleh Allah Ta’ala
ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang dipanggil dengan penuh kelembutan:

“Yaa ayyathuna-nafsul muthma innah, irji-i ila Rabbiki raadhiatan mardhiyyah, fadkhulii fi
ibadi wadkhuli jannati.”

Amin ya mujibas-saailin. Allahu a’alam