You are on page 1of 55

PERKEMBANGAN MEDIA ELEKTRONIK

Mengetahui sejarah komunikasi, berarti mengetahui pola-pola komunikasi yang


terjadi. Franz Josef Eilers membaginya dalam empat bagian. Komunikator pertama
adalah manusia-manusia purba yang membuat lukisan-lukisan di dinding. Gua Altmira
dan Laxaux, ataupun ditempat lain sampai 2000 tahun sebelum masehi. Ia juga
mejabarkan bahwa pada jaman setelah jaman awal, yakni jaman purba, yang ditengarai
dengan munculnya tulisan Hierogliphs dengan media batu yang diukir. Ataupun Obelisk
pada jaman Roma yang menggunakan lilin. Hingga pada ditemukanya kertas oleh Tsai
Lun di Cina. Pada abad pertengahan, yakni abad pers, dimana dicirikan sebagai
perkembangan pers dan percetakan serta adanya produksi kertas pada abad 14.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sejarah awal komunikasi ditengarai
pada lukisan dinding di gua-gua. Lukisan dalam gua-gua mendeskripsikan tentang
bagaimana spesifikasi kehidupan mereka pada jaman sebelum 2000 Masehi
kebelakang. Adanya usaha untuk sadar memelihara dan menyimpan informasi dan
gagasan lewat bahasa yang kemudian dialihkan dalam huruf-huruf hierogliph. Kemudian
perkembangan dalam melakukan dokumentasi sendiri begitu berkembang pesat setelah
Tsai Lun menemukan kertas yang terbuat dari bambu.
Pada abad pertengahan di Eropa, yang ditandai dengan munculnya pers dan
percetakan yang membuat sistem informasi dan dokumentasi begitu berkembang pada
abad 14. Pada mulanya, percetakan ditemukan di Cina sekitar tahun 846 Masehi
dengan mencetak lempengan kayu. Sedangkan metode percetakan dekorasi muncul di
India sekitar 200 tahun sebelum Masehi.
Revolusi koran dan percetakan massal sesungguhnya digerakkan lewat
penemuan mesin cetak oleh Johannes Gensfleich Gutenberg, laki-laki kelahiran Mainz,
Jerman, 1397. Dialah orang yang diyakini sejarah menjadi peletak dasar industri media
cetak. Dengan pengalaman yang diperolehnya ketika belajar ilmu metalurgi di
Strasbourg, Gutenberg kembali ke kampung halamannya Mainz, dan kemudian berhasil
menciptakan alat legendaris itu. Sekitar tahun 1450 menemukan cetakan yang
berbentuk huruf-huruf tunggal. Temuan Gutenberg ini melahirkan revolusi komunikasi
pada abad 15. Di Jerman, hal ini membuat negara tersebut dapat memproduksi rata-rata
40 judul buku baru setiap tahunya.
Memasuki jaman modern, mesin cetak mulai menggunakan flying
sheets (lembaran lepas) yang merupakan selebaran dalam diskusi-diskusi. Surat kabar
pertama Aviso dari Wolfenbuetel pada tahun 1609. Selanjutnya adalah ditemukanya
mesin cetak secara mekanis. Mesin baru ini diperkenalkan oleh Nicholas Robert di
Essonere pada tahun 1798. Dan lima tahun kemudian, Inggris memakai mesin yang
sama. Hal ini membuat produksi kertas semakin berlipat. Mesin cetak yang pada
awalnya terbuat dari kayu, kemudian diganti dengan logam pada tahun 1804. Fredick
Konig menemukan mesin cetak dengan tenaga uap yang sempat digunakan untuk
mecetak majalah London Times,19 November 1814.
Sejak era Gutenberg sampai dengan perkembangannya di akhir abad ke-20,
media massa berkembang mengikuti kontinum sejarah penemuan umat manusia ini.
Oleh karenanya, dapat dibilang bahwa sejak 1609 ketika koran pertama kali terbit
sampai dengan kemunculan istilah “PC Multimedia” di tahun 1980-an (berjarak 3,5 abad
lebih), pola kerja jurnalisme relatif tidak mengalami perubahan signifikan alias stagnan.
Berita dan informasi dikemas, diolah, disunting, diproduksi, disebarkan. Begitulah siklus
itu berulang. Tanpa inovasi, tanpa revolusi.
Periode stagnan pertama di media massa terjadi pada kurun waktu 1609 sampai
dengan 1809, yakni ketika telegram berhasil ditemukan orang, dan lalu kian
berkembang tatkala Alexander Graham Bell dibantu Elisha Gray menemukan telepon
pada tahun 1876.
Ruang imajinasi di kepala kita tentu tidak bakal mampu menampung bila kita
membayangkan, berapa banyak dokumen yang bisa dicatat dan disimpan, seandainya
gerak sejarah pada periode Revolusi Industri, Revolusi Perancis, atau Revolusi Amerika,
atau revolusi manapun di belahan bumi ini didokumentasikan menggunakan perangkat
teknologi yang sekarang ini telah dikuasai manusia, entah itu dalam rupa video, audio,
teks, maupun foto.
Bayangkan dengan cara seperti ini. Seorang reporter CNN, melaporkan untuk
Anda secara langsung dari tempat kejadian, bagaimana kaum borjuis di Perancis
melakukan pemberontakan dan menyeret para oportunis kelas feodal dan para
bangsawan ke tiang gantungan untuk ditebas kepalanya. Betapa dramatisnya bila
kejadian tersebut ditayangkan melalui televisi CNN ke seluruh dunia dan juga lewat situs
CNN. Atau imajinasikan pikiran kita mengikuti peristiwa dari detik ke detik berikutnya,
melalui televisi BBC maupun situs BBC Online, bagaimana pertempuran pasukan
Napoleon Bonaparte bertempur melawan balatentara Inggris, sampai dengan
kekalahan, penangkapan, dan pembuangan Napoleon ke Pulau Elba di Italia selatan.
Sayangnya, kita tidak bisa berkhayal terlampau jauh sebab teknologi film pun
baru ditemukan orang di tahun 1896. Sementara siaran radio baru bisa dinikmati setelah
Guglielmo Marconi, pria asal Bologna Italia menemukannya di awal abad 20, tepatnya di
tahun 1912.
Kemudian muncullah apa yang kita kenal dengan film. Pada abad 19, George
Eastman, Edison dan Dickson sebagai pelopor temuan tentang film. Lumiere
bersaudara dari Lyon Prancis memproduksi film pertama pada tahun 1895. Gedung
bioskop pertama dibuka di Paris pada tahun 1895 yang kemudian disusul dengan
munculnya gedung bioskop di Manila pada tahun 1897.
Kalau kita hitung, dibutuhkan dua abad persis dari ditemukannya koran sampai
telegram. Sementara, hanya diperlukan waktu dua puluh tahun dari tonggak penemuan
film sampai dengan radio. Kalau mau dihitung maju lagi, perkembangan teknologi audio
(radio) menjadi gambar bergerak (televisi) hanya membutuhkan waktu tidak sampai satu
dekade, karena televisi sudah ditemukan orang pada tahun 1931.
Adanya temuan dalam media penyiaran menjadi bagian penting dalam
komunikasi. Radio, ditemukan pertama kali oleh Samuel Morse pada tahun 1835.
Disusul dengan Alexander Graham Bell yang menemukan telephon pada tahun 1875.
Hendrich Hertz menemukan sinyal-sinyal elektromagnetik tanpa kabel pada tahun 1887
yang digunakan pertama kali untuk layanan pos dan lalu lintas. Tahun 1897, Guilhermo
Marconi menemukan pengiriman pesan tanpa kabel dengan menggunakan antena.
Sepuluh tahun kemudian suara dan bunyi ditransmisikan dengan cara yang sama. Pada
perang dunia ke II (1914-1918) teknologi ini digunakan. Radio pertama BBC didirikan 15
Desember 1922. Penemuan transistor oleh perusahaan Bell pada tahun 1947 membuat
ukuran radio menjadi kecil dan dinikmati secara meluas.
Penemuan televisi juga tak kalah penting. Paul Nipkov menemukan disk
pertama ali sebagai pencampuran gambar pada tahun 1884. Percobaan TV pertama kali
pada tahun 1935. Dan penggunaan TV secara reguler dimula pada Olimpoade Berlin
tahun 1936. Setasiun TV pertama dibuka di Amerika Serikat tahun 1936. Pada tahun
1945 semua negara Eropa mulai mendirikan setasiun televisi. TV berwarna pertama
pada tahun 1960-an. Video ditemukan oleh perusahaan Sony pada tahun 80-an.
Jarak tempuh penemuan teknologi baru ini makin berhimpit satu sama lain hanya
dalam satu dekade setelah Perang Dunia Kedua selesai dan geopolitik global
mendapatkan tata keseimbangan baru. Pada masa itu, teknologi yang ditemukan orang
sebagian dilandasi oleh semangat permusuhan di era Perang Dingin, perseteruan
kapitalisme di Eropa Barat dan Amerika melawan sosialisme-komunisme di Eropa Timur
dan (bekas) Uni Soviet. Internet yang kita kenal sekarang ini pun, tak lain dari “buah
manis” ini.
Mari kita telusuri sejenak jejak-jejak penemuan bersejarah berikutnya yang
mewarnai industri media massa. Pada tahun 1961, ditemukan teknologi pita rekaman,
sehingga setiap kejadian bisa diputar ulang. Satu tahun setelahnya, masyarakat dunia
sudah bisa menikmati siaran televisi berwarna. Hanya berselang sembilan tahun dari
penemuan televisi berwarna, tahun 1971, ditemukan teknologi satelit yang
memungkinkan penduduk dunia menikmati siaran televisi dari ujung bumi yang satu ke
ujung bumi yang lain. Empat tahun setelah itu, rekaman kaset dan rekaman melalui
video berhasil dibuat. Hanya setahun setelah rekaman video berhasil dibuat, tepatnya di
tahun 1976, teknologi telefax lagi-lagi ditemukan orang, sehingga memicu komunikasi
yang makin cepat.
Pada periode setelah itu, hampir setiap tahun terjadi penemuan baru di bidang
teknologi komunikasi. Tentu saja, penemuan-penemuan baru itu membawa angin segar
tapi juga kegamangan. Dikatakan begitu karena sejarah telah mencatat, bahwa industri
media massa sejak tahun 1609 sampai tiga ratus tahun kemudian relatif mandeg,
kecuali dalam kecepatan pelaporan berita, pendistribusian yang lebih luas,
pendokumentasian yang lebih baik, dan manajemen yang lebih modern. Baru setelah
radio dan televisi ditemukan, media massa berkembang ke dimensi baru, sehingga
melahirkan teori-teori jurnalisme yang baru pula.
Nah, ketika TV kabel dan video komersial menjadi populer sejak ditemukan di
tahun 1980, perubahan mau tidak mau juga melanda industri media massa, baik cetak
maupun elektronik. Perubahan ini makin dipercepat dengan diproduksinya personal
computing (PC) dalam jumlah “massal terbatas” pada tahun 1981 oleh IBM.

TELEGRAF
Awal Mula Telegraf: Berkat Morse
Sebelum telepon, komputer dan telegraf ditemukan, manusia membutuhkan
waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dalam menyampaikan pesan sampai di
tujuan. Samuel Morse, mendapat julukan "Leonardo-nya Amerika", karena selain
terkenal sebagai penemu pesawat telegraf dan sandi morse (sandi yang terdiri dari titik
dan garis) yang terkenal, dia juga merupakan seorang seniman yang ulung dan seorang
politikus. Walau demikian, dia bukanlah politikus yang handal, dan karya seninya tidak
dapat menembus zaman, tidak seperti yang dimikili oleh Leonardo da Vinci. Akan tetapi,
itulah julukan yang diberikan oleh para kolumnis yang mengomentari tentang Amerika
dan Morse.
Samuel Finley Breese Morse, itulah nama lengkap Morse. Ia dilahirkan pada
tanggal 27 April 1791 di Charlestown, luar kota dari Boston, Massachusetts. Sejak
berumur empat tahun, Morse sangat tertarik pada menggambar. Saat berumur empat
tahun, dia menggambar wajah gurunya di laci. Saat menginjak 14 tahun, dia
mengumpulkan uang saku dengan menggambar teman-temannya dan orang-orang di
kota.
Saat belajar di Yale College pun, Morse bukanlah siswa yang berbeda dengan
yang lain, dan ketertarikannya timbul saat mengikuti kuliah tentang perkembangan
terbaru tentang kelistrikan, akan tetapi dia tepat merasa lebih nyaman bila menggambar
potret-potret miniatur. Suatu saat, dia mengirim surat kepada orang tuanya, bahwa dia
ingin menjadi pelukis. Ayah dan ibunya khawatir bila dia tidak dapat mencukupi
kebutuhan hidupnya dengan menjadi seorang pelukis, jadi mereka menyuruhnya untuk
menjadi penjual buku. Akhirnya Morse bekerja sebagai penjual buku, tetapi pada malam
harinya dia tetap melukis. Akhirnya, orang tuanya menyadari akan kecintaannya
terhadap seni, dan mereka mengumpulkan uang untuk menyekolahkannya di sekolah
seni di London.
Saat Samuel Morse berada di Royal Academy di London, gurunya selalu
mengatakan bahwa dia belum menyelesaikan pekerjaannya. Dia memiliki sekitar
duapuluhan gambar yang belum selesai, tetapi dia tidak memiliki satu pun gambar yang
selesai. Morse tetap melakukan hal ini hingga gurunya mengingatkan bahwa yang dia
lakukan salah. Di kelas, dia membuat model Herkules yang terbuat dari tanah liat.
Profesornya sangat menyukainya, dan menyuruh Morse untuk mengikutkannya pada
sebuah kontes. Dia berhasil memenangkan medali emas. Akhirnya, Morse berhasil
menemukan apa yang terbaik untuk dirinya. Dia mulai menggambar foto-foto orang-
orang di Eropa.
Pada tahun 1818, dia menikah, dan kemudian memiliki dua orang putra dan
seorang putri. Ternyata hidup tidaklah mudah. Tidak seorangpun yang memberinya
uang atas gambar diri mereka, dan akhirnya Morse menjadi hampir tidak memiliki uang
sama sekali. Pada tahun 1825, istrinya meninggal karena masalah jantung. Morse
bahkan tidak mengetahui apa yang terjadi pada istrinya, dan kapan dia meninggal. Dia
terlalu sedih dan membuat hampir menyerah untuk melukis. Setelah itu, Morse dan
beberapa orang pelukis lainnya mendirikan National Academy, dan menjadi
Presidennya yang pertama. Dia bekerja melukis dari pukul tujuh pagi hingga tengah
malam. Empat lukisan dinding yang nantinya akan dilukis di ruangan bundar di Capitol,
Amerika. Hanya empat seniman yang dipilih dan dia ingin menjadi salah satu dari
mereka.
Akhirnya, dia tinggal bersama anak-anaknya dan kakak iparnya untuk melukis
kembali di Eropa. Pada bulan Oktober 1832, Morse dan keluarganya berlayar pulang
dengan kapal bernama Sully. Morse mendengar percakapan tentang elektromagnet
yang baru ditemukan, dan kemudian mucul dalam benaknya konsep tentang telegaf
elektrik. Pada tahun 1835, dia berhasil menciptakan model telegraf pertamanya, yang
dioperasikan di gedung Universitas New York, tempat di mana dia mengajar seni.
Karena miskin, dia membuat model tersebut dari bahan-bahan kasar seperti penyangga
kanvas tua untuk memberdirikannya, baterai buatan sendiri, dan jam tua untuk
menggerakkan kertas yang akan merekam garis dan titik.
Pada tahun 1837, Morse mendapatkan dua orang partner yang membantunya
mengembangkan telegrafnya. Yang satu adalah Leonard Gale, seorang professor sains
di universitas New York yang memberikan saran-saran kepadanya, seperti bagaimana
cara meningkatkan voltase dengan cara meningkatkan meningkatkan gulungan disekitar
elektromagnet. Satu lagi adalah Alfred Vail, seorang pemuda yang mememiliki
keterampilan mekanik dan keluarganya memiliki perusahaan pengolah besi New Jersey,
membantunya membuat model telegraf yang lebih baik.
Dengan pertolongan teman-teman barunya, Morse mengajukan paten untuk
telegraf barunya pada tahun 1837, yang dijelaskannya termasuk sebuah sandi yang
terdiri dari titik dan garis untuk mewakili angka-angka, sebuah kamus untuk mengubah
angka-angka tersebut menjadi kata-kata, dan seperangkat jenis gigi gergaji untuk
mengirim sinyal. Pesan yang dikirimkannya kini kita kenal dengan sebutan Telegram.
Telegram adalah pesan yang dikirim dengan telegrap, tercetak di atas kertas, dan lalu
disampaikan oleh seorang pengantar. Morse yang tidak puas dengan karir seninya,
telah memberikan seluruh waktunya bagi telegraf.
Pada tahun 1838, dalam sebuah eksebisi tentang telegrafnya di New York,
Morse mentransmisikan sepuluh kata per menit. Dia menggunakan kamus angka-kata
miliknya, dan menggunakan sandi titik-garis untuk menulis surat secara langsung.
Walaupun kelak akan berubah secara detail, sandi Morse menjadi standar yang
digunakan di seluruh dunia. Dalam beberapa tahun kemudian, Morse memamerkan
telegrafnya dikalangan orang-orang terpelajar, manusia-manusia karir, dan komite-
komite dari kongres-kongres, dengan harapan akan mendapatkan dana untuk
mengadakan test sekla besar bagi telegrafnya. Dia mendapatkan pertanyaan yang
besar apakah pesan dapat benar-benar dikirim dari satu kota ke kota yang lain dengan
menggunakan kawat.
Pada tahun 1843, dengan usahanya sendiri, tanpa pertolongan berarti dari
rekan-rekannya, Morse akhirnya berhasil mendapatkan dana dari kongres untuk
membangun kabel telegraf pertama di Amerika, dari Baltimore ke Washington D.C.
Setelah Morse selesai merentangkan kawatnya, alatnya mampu bekerja dengan baik.
Dan, sejak bulan Mei 1844, jaringan telegraf elektrik antar kota pertama di dunia telah
rampung. Setelah dua belas tahun, saat kebanyakan orang Amerika tidak menghiraukan
usahanya untuk membangun telegraf, Morse secara cepat menjadi pahlawan Amerika.
Pada tahun 1846, perusahaan-perusahaan swasta menggunakan paten Morse,
telah membangun jaringan telegraf dari Washington, mencapai Boston dan Buffalo, dan
bahkan dikembangkan lebih jauh. Pada tahun 1847, dengan cukup uang yang
didapatkannya dari telegraf, Morse membawa keluarganya bersama-sama ke rumah di
pedesaan miliknya sendiri. Dia membeli 100 hektar tanah di luar kota Poughkeepsie dan
memberinya nama Locust Grove. Pada tahun 1848, Morse menikah untuk kedua
kalinya, dengan seorang kerabatnya yang miskin, tuli dan bodoh, yang berumur 26
tahun. Morse menjelaskan bahwa dia memilih wanita itu karena wanita itu dapat mandiri
darinya. Keluarga Morse tumbuh dengan tambahan beberapa orang anak.

Perkembangan Telegraf Selanjutnya


Lama sebelum munculnya sistem komunikasi data dalam penggunaan
konvensional, rangkaian pesan telah ada dan menyokong keperluan pengendalian data
untuk perdagangan, kerajaan dan industri. Perkembangan sistem pesan bergerak yang
resmi bermula dengan hadirnya industri rel kereta api. Rel ini menembus kawasan
pedalaman suatu negeri, di mana sumber alam dapat diekstrak dan dipindahkan ke
bandar untuk diproses dan digunakan. Seiring pergantian waktu, rangkaian rel ini
bertambah besar tiap harinya.
Akhirnya, rel kereta api dipasang dengan kawat telegraf untuk membantu
pengisyaratan dan kawalan traffic. Selanjutnya, kawat telegraf tersebut ditawarkan
kepada khalayak ramai. Pesan yang ingin dikirim dikode-kan dalam bentuk titik (dots)
dan garis putus-putus (dashed) yang dikirimkan melalui kabel. Isyarat ini mengaktifkan
satu pen besi yang menyebabkan indention pada jalur kertas yang dapat dibaca oleh
operator pada bagian penerima. Pada 1849, link pencetak telegraf yang pertama telah
dipasang dan pada awal 1860-an, kecepatan setinggi 15bps telah dicapai.
Pada 3 April 1860, Pony Express mengirimkan pesan menggunakan kuda di
antara St. Joseph, Missouri dan San Francisco, California. Satu sistem yang dilengkapi
dengan 157 stesen geganti, yang dipisahkan di antara 5 hingga 20 batu, menggunakan
400 kuda dengan 80 penunggang serta tenaga penyokong yang besar untuk membawa
pesan sejauh 1840 batu dalam waktu 10 hari. Sementara itu, kabel untuk
transcontinental telegraf yang pertama dipasang ketika para penunggang Pony Express
memberanikan diri untuk mengarungi perjalanan yang jauh. Kabel tersebut dipasang
secara serentak di antara timur dan barat menyambungkan Salt Lake City pada 24
oktober 1861. Jika dulu pesan disampaikan dalam waktu berhari-hari, sekarang ia
hanya mengambil beberapa menit saja untuk mengantar pesan dari California ke benua
yang lain.

MESIN FAX
Tahun 1848, empat tahun sesudah temuan Alexander Bain dipatenkan,
Frederick Bakewell di London dengan prinsip yang berbeda merancang mesin fax
menggunakan silinder berputar dan alat pemindai (scanner), rancangan mesin fax ini
banyak kesamaan dengan mesin fax yang kita kenal sekarang.
Meski masih ada masalah dengan sinkronisasi, mesin Bakewell mampu untuk
mengirimkan tulisan tangan dan gambar melalui jaringan kabel telegraph dengan hasil
yang lebih baik dari pada mesin fax Bain. Ini memungkinkan untuk, sebagai contoh,
melakukan verifikasi tanda tangan di kantor cabang bank yang berjauhan di kala itu.
Mesin ini mendapat perhatian luar biasa saat pameran teknologi dunia tahun 1851,
bahkan Ratu Victoria dari Inggris pun takjub pada alat ini. Namun sayangnya mesin
Bakewell tidak pernah sukses secara komersial.

Mesin Fax Bain


Komponen utama dari mesin telegraph Bain ini adalah dua buah pendulum, satu
untuk mengirim (transmit) dan satunya lagi bertanggung jawab pada proses penerimaan
(receive). Teks yang hendak dikirim dicetak timbul pada plat metal, mirip dengan plat
percetakan koran, atau lebih untuk lebih mudah, bayangkan saja plat nomor kendaraan,
angka dan hurufnya timbul. Pada ujung pendulum pengirim dipasang metal point (titik
yang menonjol) yang tajam atau sikat metal yang runcing.
Pendulum akan bergerak maju mundur dengan rentang waktu sama, serupa
dengan jarum jam besar model lama yang banyak dipasang di masjid-masjid. Setiap kali
pendulum bergerak ujung sikat akan menyapu huruf-huruf teks pada plat metal. Pada
saat ujung sikat menyentuh huruf, terdapat arus listrik yang mengalir melalui huruf, sikat
pendulum dan diteruskan sepanjang kawat jaringan telegraph menuju kota tujuan. Bila
dan ada jarak antara sikat pendulum dan huruf atau saat sikat tak menyentuh huruf
maka, aliran arus listrik akan terhenti alias nol. Setiap satu ayunan pendulum, plat metal
teks bergerak kedepan pelan-pelan, sehingga sikat pendulum akan menyentuh bagian
lain dari huruf . Dengan demikian seluruh permukaan plat metal akan dipindai (scan)
oleh pendulum.
Sementara itu apa yang terjadi di ujung penerima ?
Pendulum serupa akan berayun diatas permukaan kertas yang telah dibasahi
dengan potassium iodide. Kertas ini akan berubah warna bila ada aliran arus listrik yang
melewatinya, meninggalakan noda kecoklatan. Kertas ini juga akan bergerak pelan-
pelan seiring ayunan pendulum. Arus listrik yang dikirim melalui kabel telegraph
mengalir melewati pendulum dan membuat tanda diatas paper. Hasilnya adalah teks
yang sama seperti yang dicetak pada plat metal di sisi pengirim. Untuk mengatur agar
pendulum kedua (pada penerima) bergerak sesuai (sinkron) dengan pendulum pertama
(pada pengirim) perlu pengaturan khusus yaitu, dengan sedikit menahan pergerakannya
bila terlalu cepat.
Berbeda dengan telegraph morse, mesin telegraph Bain ini memungkinkan
penggantian huruf-huruf timbul pada plat metal dengan replika tulisan tangan atau
gambar, sehingga memungkinkan pengiriman gambar yang sederhana. Peralatan pak
Bain ini dipatenkan tahun 1843, namun nampaknya penggunaannya juga masih sangat
terbatas waktu ini. Kelemahan alat ini selain susah pemakaiannya juga karena terlalu
lambat untuk mengirim pesan. Meski begitu, mesin 'fax' Bain diakui merupakaan cikal
bakal perkembangan mesin fax pada tahun-tahun berikutnya.

Mesin Copy Bakewell


Tahun 1848, empat tahun sesudah temuan Alexander Bain dipatenkan,
Frederick Bakewell di London dengan prinsip yang berbeda merancang mesin fax
menggunakan silinder berputar dan alat pemindai (scanner), rancangan mesin fax ini
banyak kesamaan dengan mesin fax yang kita kenal sekarang.
Meski masih ada masalah dengan sinkronisasi, mesin Bakewell mampu untuk
mengirimkan tulisan tangan dan gambar melalui jaringan kabel telegraph dengan hasil
yang lebih baik dari pada mesin fax Bain. Ini memungkinkan untuk, sebagai contoh,
melakukan verifikasi tanda tangan di kantor cabang bank yang berjauhan di kala itu.
Mesin ini mendapat perhatian luar biasa saat pameran teknologi dunia tahun 1851,
bahkan Ratu Victoria dari Inggris pun takjub pada alat ini. Namun sayangnya mesin
Bakewell tidak pernah sukses secara komersial.

Layanan Mesin Fax Komersial


Meskipun dikagumi banyak orang di saat pameran, namun layanan komersial
mesin fax baru ada 5 tahun sesudahnya atau 13 tahun sesudah Alexander Bain
menemukannya.
Adalah Giovanni Caselli seorang Italia yang mengumumkan telah mengembangkan
sebuah alat yang mampu mengirimkan gambar dan tulisan jarak jauh. Alat ini
dinamakan Pantelegraph, artinya Telegraph serba bisa. Usaha Caselli mendapat
dukungan penuh dari Kaisar Perancis Napoleon III yang memberikan akses penuh untuk
menggunakan semua jalur telegraph yang dibutuhkan. Napoleon bahkan melakukan
kunjungan pribadi ke bengkel Caselli di tahun 1860. Akhirnya layanan fax komersial
diresmikan tahun 1865 di Paris. Layanan ini menghubungkan Paris dengan kota-kota
utama lainnya, seperti Lyon, selama lima tahun. Untuk mempromosikan temuan baru ini
dibentuk pula Pantelegraph Society. Kalau tertarik melihat kreasi Caselli kita bisa
berkunjung ke musium fax di Perancis yang masih menyimpan mesin fax model lama
ini, dan bahkan lembaran fax yang dikirim tahun 1865-an itu masih ada sampai
sekarang.
Kehebatan mesin baru ini terdengar pula oleh kaisar China dan mengirimkan
utusan resmi ke Paris untuk mempelajari teknologi mesin fax. China nampaknya
menyadari betul manfaat alat ini untuk mengirim tulisan China yang terdiri dari ribuan
simbol-simbol gambar. Tapi sayangnya negosiasi alih teknologi ini gagal tanpa hasil.
Satu hal yang menyedihkan adalah ketika penemuan Caselli diperkenalkan,
dunia bisnis sedang sibuk-sibuknya untuk berinvestasi membangun industri layanan
telegraph. Otoritas Telegraph Perancis pun lebih menomorsatukan telegraph dari pada
mesin fax. Lama-kelamaan Pantelegraph Caselli mulai dilupakan orang. Caselli akhirnya
meninggal di tahun 1891. Mesin fax untuk sementara mati suri.
Perkembangan Mesin Fax
Perkembangan mesin fax selanjutnya diteruskan oleh Dr. Arthur Korn, ilmuwan
Jerman yang menemukan prinsip pembacaan photoelectric di tahun 1902. Tahun 1910
koran-koran eropa telah mengirim gambar-gambar antar kota-kota di eropa. Dr. Korn
bahkan sukses mengirimkan gambar dari eropa ke Amerika Serikat di tahun 1922
menggunakan gelombang radio.Di tahun 1970 diperkirakan tak kurang dari 50.000
mesin fax di seluruh AS.
Perusahaan telkom Jepang tercatat sebagai pioner dalam layanan fax untuk
publik. Orang sebetulnya tak perlu heran mengingat rumitnya karakter huruf-huruf
Jepang sehingga mengirim gambar huruf jauh lebih disukai di Jepang. Ini barangkali
yang telah disadari oleh kaisar China seabad sebelumnya.
Begitulah perjalanan sejarah mesin fax. Waktu terus berlalu sejak penemuan
pertama oleh Alexander Bain (1843). Penemuan ini kemudian di kembangkan oleh
Frederick Collier Blakewell (1848), lalu Giovani Caselli (1865), G. Little (1867), Senlecq
de Ardres (1877), Shelford Bidwell (1881), N.S. Amstutz (1892), Buss (1902), Arthur
Korn (1904), Edouard Belin (1907), Diekmann (1917), American Telephone & Telegram
Company-AT&T (1924/1925), Western Union (1924), NEC (1927), Wise (1938), the
Xerox Corporation (& RCA) (1950/1961), the firm of Rudolf Hell (1965), Magnafax-Xerox
(1966), Ricoh (1970), dst. Prototipe mesin fax laser pertama baru muncul di tahun 1971,
selanjutnya di era 80-an mesin fax menyebar ke seantero jagad. Tahun 1990
perusahaan Sharp dan Starsignal memperkenalkan mesin fax warna. Begitulah mesin
fax yang tadinya hanya bekerja dengan prinsip bandul kini berkembang seiiring
munculnya teknologi di sekitarnya.
Usaha untuk mengirimkan tulisan tangan, gambar dan foto menggunakan jalur
telegraph telah dimulai sejak awal. Di tahun 1842, seorang Skotlandia bernama
Alexander Bain mengembangakan bentuk mesin telegraphy sederhana yang,
setidaknya, 'potensial' untuk mengirimkan gambar garis sederhana begitu juga teks. Ini
terjadi tepat satu tahun sebelum Samuel Morse di Amerika Serikat merampungkan jalur
telegraph pertama untuk tujuan komersial, menggunakan sistem kode morse-nya,
antara Baltimore dan Washington.

TELEPON
Telepon adalah alat telekomunikasi yang dapat mengirimkan pembicaraan
melalui sinyal listrik. Umumnya penemu telepon adalah Alexander Graham Bell, dengan
telepon pertama dibuat di Boston, Massachusetts, pada tahun 1876. Tetapi, penemu
Italia Antonio Meucci telah menciptakan telepon pada tahun 1849, dan 11 Juni 2002,
Meucci dengan resmi diterima sebagai pencipta telepon oleh kongres Amerika, dan
bukan Alexander Graham Bell. Telepon pada awalnya diciptakan oleh Alexander
Graham Bell, bentuknya tidak menyerupai telepon yang ada pada saat ini. Dulunya
untuk mempergunakan telepon kita memerlukan signal dan suara.
Kita mengenal penemu telepon adalah Alexander Graham Bell, namun pada
tanggal 11 Juni 2002 di kongres Amerika Serikat, Antonio Meucci ditetapkan sebagai
penemu telepon. Selama hidupnya, Antonio Meucci hanya mendapat 6 dollar karena
istrinya menjual penemuannya untuk biaya berobat. Dokumen penting berisi materi
telepon miliknya dinyatakan hilang oleh perusahaan telegraf Western Union. Namun,
pada tahun 1876, Alexander Graham Bell menyandang nama sebagai penemu telepon.
Ternyata terjadi persekongkolan antara Western Union dan Alexander Graham Bell.
Antonio Santi Giuseppe Meucci, (13 April 1808—18 Oktober 1896) adalah
seorang penemu berkebangsaan Italia yang penemuannya merupakan alat komunikasi
modern yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat sekarang ini untuk kehidupan sosial
yaitu telepon. Umumnya penemu telepon yang lebih dikenal masyarakat adalah
Alexander Graham Bell, tetapi sepertinya sejarah harus ditulis ulang karena adalah
seorang imigran dari Firenze (Florence), Italia yang bernama Antonio Meucci yang telah
menciptakan telepon pada tahun 1849 dan mematenkan hasil karyanya pada tahun
1871.
Antonio Meucci lahir di San Frediano, dekat kota Firenze pada tahun 1808. Dia
adalah lulusan Akademi Kesenian Firenze, lalu bekerja di Teatro della Pergola sampai
tahun 1835, dan kemudian ditawari pekerjaan di Teatro Tacon in Havana, Kuba dan
berimigrasi di sana bersama istrinya. Pada waktu senggangnya Antonio Meucci suka
melakukan penyelidikan terhadap sesuatu dan menciptakan barang-barang baru tanpa
putus asa. Meucci telah mengembangkan cara menggunakan setrum listrik untuk
menyembuhkan penyakit dan menjadi populer karenanya.
Pada tahun 1850, dia pindah ke Staten Island, New York. Pada saat itu Meucci
jatuh miskin, tetapi masih terus menyempurnakan alat yang telah diciptakannya yaitu
telepon. Dikarenakan ia sakit keras dan perekonomian yang sulit, istrinya terpaksa
menjual beberapa alat-alat ciptaannya hanya seharga enam dolar untuk biaya
pengobatan. Setelah sembuh, Meucci bekerja keras siang dan malam untuk kembali
membuat alat-alat ciptaannya. Pada tahun 1871, disebabkan tak cukup uang untuk
membayar paten telepon, ia hanya membayar paten sementara yang berlaku untuk
setahun dan harus diperpanjang pada tahun selanjutnya.
Meucci mencoba untuk mendemonstrasikan potensi "telegraf berbicara" ini serta
membawa model dan segala keterangannya pada wakil ketua perusahaan telegraf
Western Union. Setiap kali Meucci hendak menemui wakil ketua ini, Edward B.Grant
selalu mengatakan bahwa dia tak ada waktu. Dua tahun kemudian, saat Meucci
meminta kembali semua materi telepon di perusahaan tersebut, ternyata mereka hanya
mengatakan telah "hilang". Pada tahun 1876, Alexander Graham Bell menyandang
nama sebagai penemu telepon. Setelah Meucci mengetahuinya, ia memanggil seorang
pengacara untuk memprotes pada Kantor Paten Amerika Serikat di Washington.
Meucci mengalami kekalahan untuk kasus ini. Setelah adanya permusuhan
antara Alexander Graham Bell dengan Western Union baru terungkap bahwa Bell
sebelumnya telah menyetujui membayar duapuluh persen keuntungan komersil atas
"penemuannya" selama 17 tahun kepada Western Union. Antonio Meucci wafat pada
tanggal 18 Oktober 1889. Lebih dari seabad dan di seluruh penjuru dunia, Alexander
Graham Bell dikenal sebagai penemu telepon. Tetapi pada tanggal 11 Juni 2002 di
kongres Amerika Serikat, Antonio Meucci ditetapkan sebagai penemu telepon.
Alexander Graham Bell lahir pada tanggal 3 Maret 1847 di Edinburg, Scotland.
Bell pertama kali berhasil menciptakan telepon pada tanggal 14 februari 1876 berupa
piringan hitam tipis yang dipasang pada elektromagnetik. Tetapi resmi digunakan
sebagai electric speaking phone pada tanggal 7 maret 1876.
Bell berasal dari keluarga yang sangat mementingkan pendidikan. Ayahnya
adalah seorang psikolog dan elocution bernama Alexander Melville Bell, sedangkan
kakeknya Alexander Bell merupakan seorang elucution professor. Setelah
menyelesaikan kuliahnya di University of Edinburg dan University College di London,
Bell memutuskan buat menjadi asisten ayahnya. Dia membantu orang-orang yang cacat
pendengaran untuk belajar berbicara dengan metode yang telah diterapkan oleh
ayahnya, yaitu dengan memperhatikan posisi bibir dan lidah lawan bicara.
Pada saat dia bermukim di London, Bell sempat belajar tentang percobaan yang
dilakukan oleh Herman Ludwig von Helmholtz berupa tuning fork dan magnet yang bisa
menghasilkan bunyi yang terdengar nyaring. Kemudian baru pada tahun 1865 Bell
mempelajari lebih mendalam tentang suara yang keluar dari mulut saat berbicara. Bell
semakin tertarik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan bunyi-bunyian,
makanya dia nggak keberatan ketika harus mengajar di Sarah Fuller, Boston yang
merupakan sekolah khusus orang-orang tuli pada tahun 1870, selain itu Bell juga
bekerja sebagai guru privat. Dan ketika dirinya diangkat menjadi guru besar psikologi di
Boston University pada tahun 1873, Bell mengadakan suatu pertemuan khusus buat
para guru yang menangani masalah murid-murid yang mengalami cacat pendengaran.
Hampir seluruh hidupnya Bell menghabiskan waktunya untuk mengurusi
masalah pendidikan orang-orang yang cacat pendengaran bahkan kemudian dirinya
mendirikan American Association to Promote the Theahing of Speech to the Deaf. Bell
mulai melakukan penelitian dengan menggunakan phonatograph, multiple telegraph dan
electric speaking telegraph dari tahun 1873 sampai 1976 yang dibiayai oleh dua orang
ayah dari muridnya. Salah satu penyandang dananya adalah Gardiner Hubbard yang
mempunyai seorang putri yang telinganya tuli bernama Mabel, wanita inilah yang
dikemudian hari menjadi istri Bell. Di kemudian hari Bell mengungkapkan keinginannya
untuk menciptakan suatu alat komunikasi dengan transmisi gelombang listrik. Bell pun
mengajak temannya Thomas Watson buat membantu menyediakan perlengkapannya.
Penelitiannya dilakukan dengan menggunakan alat pengatur suara dan magnet
untuk menghantarkan bunyi yang akan dikirimkan, peristiwa ini terjadi pada tanggal 2
Juni 1875. Akhirnya terciptalah karya Bell sebuah pesawat penerima telepon dan
pemancar yang bentuknya berupa sebuah piringan hitam tipis yang dipasang di depan
electromagnet. Baru pada tanggal 14 Februari 1876 Bell mematenkan hasil
penemuannya, tapi oleh US Patent Office penemuan Bell ini baru resmi dipatenkan
pada tanggal 7 Maret untuk “electric speaking telephone”. Bell terus memperbarui
penemuannya dan untuk pertama kalinya dia berhasil mengirimkan suatu kalimat
berbunyi “Watson, come here, I want you” pada tanggal 10 Maret 1876.

Perkembangan Telepon
Sekarang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, telepon dapat dibawa dan
digenggam kemana saja dan dapat digunakan kapan saja. Contohnya: dulu telepon
rumah tidak dapat dibawa-bawa karena terhubung dengan kabel, tetapi sekarang kita
dapat menggunakan handphone (Hp) sebagai pengganti telepon rumah yang dapat
dibawa kemanapun. Hp juga memiliki program 3G, dimana kita dapat melihat wajah
lawan bicara kita. Hp juga dilengkapi dengan GPRS yang berguna untuk melakukan
internet dimana saja, jadi kita tidak perlu berhadapan dengan komputer untuk mencari
informasi yang kita butuhkan. Hp merupakan perkembangan dari telepon yang memiliki
banyak kegunaan.
Dapat dilihat dari bentuk dan model telepon rumah maupun yang lainnya.
Contohnya saja telepon rumah, dulunya telepon rumah masih pada umumnya yaitu
menggunakan kabel telepon. Jadi, jika kita telepon, kita tetap di tempat, tidak dapat
kemana-mana. Seiring dengan perkembangan teknologi, telah ada wireless yang dapat
dibawa kemana-mana. Jadi, kita dapat melakukan aktivitas lainnya bersamaan dengan
telepon di dalam rumah.
Perkembangan telepon yang lainnya yaitu handphone ataupun CDMA. Kita bisa
tetap menggunakan telepon dimanapun kita berada. Mungkin nantinya, telepon rumah
akan dapat berkembang seperti handphone yakni dengan telepon rumah kita dapat
seperti handphone yang dapat menggunakan video call/3G. Jadi, dengan telepon
rumah, kita pun juga dapat melihat lawan bicara kita pada saat melakukan panggilan.
Telepon rumah pun saat ini sudah mulai canggih, yakni telah ada fitur caller id. Sama
seperti handphone juga, jadi kita dapat mengetahui siapa yang telah melakukan
panggilan. Tentunya, telepon akan berkembang terus seiring dengan perkembangan
teknologi yang ada.
Saat ini telepon sudah mulai berkembang dari yang semula telepon yang
menggunakan kabel menjadi telepon tanpa kabel atau yang biasa kita sebut dengan
telepon genggam/handphone/telepon selular adalah perangkat telekomunikasi elektronik
yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon fixed line konvensional,
namun dapat dibawa ke mana-mana dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan
telepon menggunakan kabel. Saat ini Indonesia mempunyai dua jaringan telepon
nirkabel yaitu sistem GSM (Global System For Mobile Telecommunications) dan sistem
CDMA (Code Division Multiple Access).
Handphone pada saat ini merupakan suatu kebutuhan penting dalam kehidupan
sehari-hari. Untuk itu, perusahaan handphone saat ini berlomba-lomba menyajikan
tekonolgi dalam sebuah handphone untuk memenuhi kebutuhan setiap individu. Apalagi
di jaman sekarang ini, memang diperlukan sesuatu yang praktis dan cepat. Dan
handphone adalah salah satunya.
Sejarah GSM diawali dengan diadakannya konferensi pos dan telegraf di Eropa
pada tahun 1982. Konferensi ini membentuk suatu study group yang bernama Groupe
Special Mobile (GSM) untuk mempelajari dan mengembangkan sistem komunikasi
publik di Eropa. Pada tahun 1989, tugas ini diserahkan kepada European
Telecommunication Standards Institute (ETSI) dan GSM fase I diluncurkan pada
pertengahan 1991. Pada tahun 1993, sudah ada 36 jaringan GSM di 22 negara.
Keunikan GSM dibanding generasi pertama adalah layanan SMS. SMS atau Short
Message Service adalah layanan dua arah untuk mengirim pesan pendek sebanyak 160
karakter.
GSM yang saat ini digunakan sudah memasuki fase 2. Setelah 2G, lahirlah
generasi 2,5 G yang merupakan versi lebih baik dari generasi kedua. Generasi 2,5 ini
mempunyai kemampuan transfer data yang lebih cepat. Yang terkenal dari generasi ini
adalah GPRS (General Packet Radio Service) dan EDGE. Baru-baru ini, tren
komunikasi seluler mulai beralih kepada generasi berikutnya yang diprediksikan akan
menjadi teknologi komunikasi seluler yang menjanjikan.
Generasi 3 atau 3G merupakan teknologi terbaru dalam dunia seluler. Generasi
ini lebih dikenal dengan sebutan UMTS (Universal Mobile Telecommunication System)
atau WCDMA (Wideband - Coded Division Multiple Access). Kelebihan generasi terbaru
ini terletak pada kecepatan transfer data yang mencapai 384 Kbps di luar ruangan dan 2
Mbps untuk aplikasi indoor. Selain itu, generasi ini dapat menyediakan layanan
multimedia seperti internet, video streaming, video telephony, dan lain-lain dengan lebih
baik. Generasi ketiga ini menggunakan teknologi CDMA yang awalnya muncul dari
teknologi militer Amerika Serikat dan dikhususkan pada standar IS-95. Beberapa paten
pada jaringan-jaringan yang ada sekarang yang berbasis pada teknologi CDMA dimiliki
Qualcomm Inc., sehingga pembuat peralatan membayar royalti.
Teknologi CDMA membuat kapasitas suatu sel menjadi lebih besar dibanding
sistem GSM karena pada sistem CDMA, setiap panggilan komunikasi memiliki kode-
kode tertentu sehingga memungkinkan banyak pelanggan menggunakan sumber radio
yang sama tanpa terjadinya gangguan interferensi dan cross talk. Sumber radio dalam
hal ini adalah frekuensi dan time slot yang disediakan untuk tiap sel. Sistem komunikasi
wireless berbasis CDMA pertama kali digunakan pada tahun 1995 dan sampai
sekarang, CDMA merupakan saingan utama dari sistem GSM di banyak negara.
Pada tahun 1999, The International Telecommunication Union (ITU) memilih
CDMA sebagai standar teknologi untuk generasi ketiga (3G). Varian CDMA yang
banyak digunakan adalah WCDMA dan TD-SCDMA. Pada bulan Mei 2001 sudah
terdapat 35 juta pelanggan CDMA di seluruh dunia. Dan pada tahun 2003, terdapat 100
juta pelanggan yang menggunakan CDMA di seluruh dunia. Kelebihan utama yang
dimiliki generasi ketiga adalah kemampuan transfer data yang cepat atau memiliki bit
rate yang tinggi. Tingginya bit rate yang dimiliki menyebabkan banyak operator CDMA
dapat menyediakan berbagai aplikasi multimedia yang lebih baik dan bervariasi, dan
menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan.
Bayangkan saja, hanya dengan sebuah handphone, kita memiliki fasilitas
kamera, video, komputer, stereo dan radio. Selain itu, berbagai fasilitas hiburan pun bisa
dinikmati seperti video klip, keadaan lalu lintas secara real time, teleconference, bahkan
sekadar memesan tempat di restoran, cukup dengan menekan tombol di handphone.
Ketika kita duduk di rumah pun, kita masih bisa melakukan berbagai hal tanpa harus
keluar ruangan, seperti mencek saldo bank, membayar SPP untuk kuliah anak-anak,
memesan makanan dan lain-lain. Itu semua bukan hal yang mustahil bagi generasi
ketiga. Dalam jangka panjang, CDMA dan teknologi-teknologi lainnya seperti GSM akan
dibandingkan berdasarkan pada biaya total per pelanggan dari jaringan infrastruktur dan
harga pesawat telepon. Dengan 3G, komunikasi murah dan berkualitas bukan impian
lagi.

FILM
George Lucas menemukan "crane" kamera dibantu komputer "Dykstraflex"
(dinamakan atas penemu efek spesial, John Dykstra) yang digunakan oleh unit produksi
efek visual dalam film-filmnya. Melalui usaha yang didirikannya,Industrial Light and
Magic(ILM), Lucas menyebarkan pengembangan lebih lanjut grafik komputer, scanner
laser film, dan awal penggunaan grafik kmputer 3D dalam sebuah film. Pixar adalah
nama unit pengembangan koputer awal Lucas, yang pada akhirnya ia jual kepada Steve
Jobs pada tahun 1986. Sekarang banyak film-film buatan Pixar yang jauh lebih maju
seperti Monster Inc., The Incredible, dan yang paling baru Ratatoille. Pixar sekarang
sudah banyak bekerja sama dengan Disney untuk pembuatan film-film animasi
terbarunya…
Thomas Edison juga berjasa dalam bidang perfilman. Ia menggabungkan film
fotografi yang telah dikembangkan George Eastman menjadi industri film yang
menghasilkan jutaan dolar seperti saat ini. Dia pun membuat Black Maria, suatu studio
film bergerak yang dibangun pada jalur berputar.
Edison mendirikan Motion Picture Patents Company, yang merupakan
konglomerasi sembilan studio film utama (yang biasa dikenal sebagai Edison Trust). Ia
juga banyak membantu dalam bidang pertahanan pemerintahan Amerika Serikat.
Beberapa penelitiannya antara lain : mendeteksi pesawat terbang, menghancurkan
periskop dengan senjata mesin, mendeteksi kapal selam, menghentikan torpedo dengan
jaring, menaikkan kekuatan torpedo, kapal kamuflase, dan masih banyak lagi. Ia lahir di
Milan, Ohio, Amerika Serikat. Ia meninggal pada usianya yang ke-84, pada hari ulang
tahun penemuannya yang terkenal, bola lampu modern.
Perfilman Indonesia
Pada pertengahan tahun 1990-an dikesankan ada kelesuan produksi film
nasional. Kesan itu rasanya jauh dari kenyataan kalau hanya melihat jumlah produksi.
Data menunjukkan tahun 1994 terdapat 26 judul film yang diproduksi, 1995 (22),
1996 (34), dan 1997 (32). Tahun 1997 adalah awal krisis ekonomi yang berlanjut
dengan krisis sosial-politik. Akibatnya, sangat terasa karena produksi tahun 1998 dan
1999 hanya empat film. Tahun 2000 naik jadi 11 film dan tahun berikutnya, 2001, turun
lagi jadi tiga film. Mulai tahun 2002 produksi film nasional bangkit menjadi 14 film, 2003
(15), dan 2004 (31). Diperkirakan tahun 2005 sama dengan tahun sebelumnya. Angka-
angka ini berdasarkan data lolos sensor dari Lembaga Sensor Film, kecuali sekitar 13
film yang langsung beredar dalam bentuk VCD, atau langsung ditayangkan untuk umum
dalam bentuk proyeksi video digital di bioskop umum, tempat khusus yang mengadakan
pemutaran film dengan membayar tiket masuk, atau festival-festival entah di dalam
negeri (JiFFest) entah di luar negeri.
Kesan lesu muncul mungkin karena kita tidak melihat tampilnya film-film tadi di
bioskop yang ada dan kualitas film hasil produksi dalam kurun itu. Pada tahun-tahun
yang paling sulit pun sebenarnya tetap ada usaha memproduksi. Yang lebih penting
lagi: selalu ada usaha mencari peluang baik dalam bisnis maupun dalam cara ucap
baru, yang satu sama lain bisa saling berkait. Begitu juga yang terjadi ketika ada
perubahan besar dalam ekonomi-sosial-politik akibat krisis tahun 1997–1998 dan
makin maraknya televisi swasta. Datangnya teknologi digital berdampak tak sedikit
dalam kehidupan masyarakat, juga dalam proses pembuatan film.
Datangnya teknologi VCD yang digunakan semaksimal mungkin oleh produser,
distributor, pengecer, maupun penyewa benda itu. Pada awalnya popularitas VCD ini
ditunjang oleh maraknya film impor bajakan yang diperdagangkan dalam piringan kecil
itu. Keadaan ini memunculkan pengusaha yang ingin berdagang secara resmi. Mereka
mengajukan izin resmi kepada para pemilik film Amerika untuk mengalihkan dan
memperdagangkan film dalam bentuk VCD dengan membayar royalti selaiknya. Mereka
juga mencari film nasional untuk secara legal diperdagangkan dalam bentuk VCD
karena sadar film nasional punya pasar tersendiri, seperti dengan mudah dilihat dari
popularitas sinetron di televisi swasta. Mereka menggunakan jalur distribusi serta toko
kaset dan CD yang keberadaannya sudah cukup kukuh. Mereka juga membuka jalur
atau jaringan persewaan sendiri bila memungkinkan. Penyebaran dan perkembangan
VCD ini memang fenomenal karena berlangsung sangat singkat, hanya sekitar satu
hingga dua tahun saja.
VCD bajakan ini ternyata tak menyurutkan usaha VCD resmi impor maupun
nasional. Kompas pada tahun 1999 menurunkan laporan cukup panjang tentang
keberadaan VCD ini. John A Sheyoputra dari Asosiasi Video-Movie Indonesia (AVI)
memperkirakan saat itu beredar 5.000 judul VCD film. Dari jumlah itu 4.000 judul VCD
bajakan dan 1.000 judul VCD resmi. Kalau setiap judul diproduksi rata-rata 3.000 kopi,
maka ada tiga juta kopi yang beredar. Kalau harga satu kopinya Rp 50.000, maka saat
itu uang yang beredar untuk VCD resmi saja sekitar Rp 150 miliar. Padahal, film Titanic
saja bisa laku sampai 500.000 kopi. Itu baru yang resmi. Sekitar 4.000 video bajakan
konon rata-rata diproduksi 10.000 kopi per judul. Harga jual Rp 12.500 per judul. Dalam
bentuk uang jumlah itu berarti Rp 500 miliar.
Latar dan orientasi inilah yang paling mudah membedakan mereka dengan
generasi selanjutnya, yang boleh dibilang diawali oleh Garin Nugroho. Film pertamanya,
Cinta dalam Sepotong Roti, sudah menunjukkan perbedaan bahasa film yang
digunakan. Garin menyempal dari pakem umum pembuatan film waktu itu. Filmnya
memang tidak diterima dengan antusias oleh penonton film nasional, tapi dia merintis
penggunaan media film sebagai alat ucap pikiran dan perasaan pribadinya meski
banyak filmnya boleh dibilang tak berhasil utuh. Sumbangan Garin mungkin bukan pada
keberhasilan dan keutuhan kualitas filmnya, tapi lebih pada rintisannya mencoba
berbagai macam bentuk pengucapan bahasa film.
Tak sedikit di antara generasi mutakhir perfilman nasional ini sempat
mengenyam pendidikan sinematografi di luar negeri: AS, Inggris dan Australia. Nia
Dinata (Arisan, 2003) dan Rudi Soedjarwo (Mengejar Matahari, 2004) adalah contoh
kelompok terakhir ini. Dua nama ini sudah masuk dalam jajaran sutradara papan atas
dan dua film tadi boleh dibilang mendominasi perolehan Citra pada Festival Film
Indonesia (FFI) 2004. Tentu saja pendidikan tak menentukan hasil akhir sebuah karya
karena tidak sedikit hasil karya mereka yang secara paradigmatika gagasan atau
pikirannya tak berbeda dengan film dari generasi sebelumnya, bahkan ada yang lebih
konyol. Film remaja dan horor yang jadi arus utama produksi sekarang, umpamanya,
gagasannya tak menampakkan perbedaan mencolok dengan film remaja dan horor di
masa jaya film nasional, kecuali Ada Apa dengan Cinta?, 2001, dan Mengejar Matahari,
2004. Yang berbeda mungkin hanya kemasannya (fotografi umpamanya).
RADIO
Radio adalah teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan cara
modulasi dan radiasi elektromagnetik (gelombang elektromagnetik). Gelombang ini
melintas dan merambat lewat udara dan bisa juga merambat lewat ruang angkasa yang
hampa udara, karena gelombang ini tidak memerlukan medium pengangkut (seperti
molekul udara). Dasar teori dari perambatan gelombang elektromagnetik pertama kali
dijelaskan pada 1873 oleh James Clerk Maxwell dalam papernya di Royal Society
mengenai teori dinamika medan elektromagnetik (a dynamical theory of the
electromagnetic field), berdasarkan hasil kerja penelitiannya antara 1861 dan 1865.
Pada 1878 David E. Hughes adalah orang pertama yang mengirimkan dan
menerima gelombang radio ketika dia menemukan bahwa keseimbangan induksinya
menyebabkan gangguan ke telepon buatannya. Dia mendemonstrasikan penemuannya
kepada Royal Society pada 1880 tapi hanya dibilang itu cuma merupakan induksi.
Heinrich Rudolf Hertz, antara 1886 dan 1888, adalah orang yang pertama kali
membuktikan teori Maxwell melalui eksperimen, memperagakan bahwa radiasi radio
memiliki seluruh properti gelombang (sekarang disebut gelombang Hertzian), dan
menemukan bahwa persamaan elektromagnetik dapat diformulasikan ke persamaan
turunan partial disebut persamaan gelombang. Kebanyakan pengguna awal radio
adalah para maritim, untuk mengirimkan pesan telegraf menggunakan kode Morse
antara kapal dan darat.
Salah satu pengguna awal termasuk Angkatan Laut Jepang memata-matai
armada Rusia pada saat Perang Tsushima di 1901. Salah satu penggunaan yang paling
dikenang adalah pada saat tenggelamnya RMS Titanic pada 1912, termasuk komunikasi
antara operator di kapal yang tenggelam dan kapal terdekat, dan komunikasi ke stasiun
darat mendaftar yang terselamatkan. Radio digunakan untuk menyalurkan perintah dan
komunikasi antara Angkatan Darat dan Angkatan Laut di kedua pihak pada Perang
Dunia II; Jerman menggunakan komunikasi radio untuk pesan diplomatik ketika kabel
bawah lautnya dipotong oleh Britania. Amerika Serikat menyampaikan Empat belas
Pokok Presiden Woodrow Wilson kepada Jerman melalui radio ketika perang.
Siaran mulai dapat dilakukan pada 1920-an, dengan populernya pesawat radio,
terutama di Eropa dan Amerika Serikat. Selain siaran, siaran titik-ke-titik, termasuk
telepon dan siaran ulang program radio, menjadi populer pada 1920-an dan 1930-an.
Penggunaan radio dalam masa sebelum perang adalah pengembangan pendeteksian
dan pelokasian pesawat dan kapal dengan penggunaan radar. Sekarang ini, radio
banyak bentuknya, termasuk jaringan tanpa kabel, komunikasi bergerak di segala jenis,
dan juga penyiaran radio. Sebelum televisi terkenal, siaran radio komersial termasuk
drama, komedi, beragam show, dan banyak hiburan lainnya; tidak hanya berita dan
musik saja.
Guglielmo Marconi, yang lahir pada tahun 1974, di Bologna, Italia. Penemuan
radio oleh Marconi, terinsiprasi dari penemuan gelombang elektromagnetik oleh Heinrich
Hertz. Percobaan-percobaan ini dengan gamblang mendemonstrasikan adanya
gelombang elektromagnetik yang tak tampak oleh mata, bergerak lewat udara dengan
kecepatan suara. Marconi lantas tergugah dengan ide bahwa gelombang ini bisa
dimanfaatkan mengirim tanda-tanda melintasi jarak jauh tanpa lewat kawat yang
menyediakan banyak kemungkinan berkembangnya komunikasi yang tak bisa dijangkau
telegram. Misalnya, dengan cara ini berita-berita dapat dikirim ke kapal di tengah laut.
Tahun 1895, hanya setahun kerja keras, Marconi berhasil memprodusir peralatan yang
diperlukan. Tahun 1896 dia memperagakan alat penemuannya di Inggris dan
memperoleh hak paten pertamanya untuk penemuan ini.
Pada saat itu, Marconi hanya mempunyai tujuan untuk mengirimkan
berita/informasi tanpa melalui kawat telegram, karena ada tempat-tempat yang tidak
dapat dijangkau oleh telegram. Pada tahun 1901., Marconi berhasil mengirimkan berita
radio melintasi samudera Atlantik, dari Inggris ke Newfoundland. Fungsi dari penemuan
radio oleh Marconi mulai dirasakan pertama kali ketika, terjadi kecelakaan di 1909
tatkala kapal S.S. Republic rusak akibat tabrakan dan tenggelam ke dasar laut. Berita
radio amat membantu, semua penumpang bisa diselamatkan kecuali enam orang. Pada
tahun 1910, beliau berhasil mengirim berita radio dari Irlandia ke Argentina, suatu jarak
yang lebih dari 6000 mil.
Marconi menghembuskan nafas terakhir di Roma tahun 1937. Perkembangan
radio sekarang sudah sangat maju dibandingkan dengan dulu. Dahulu kegunaan radio
hanya dilakukan untuk kegiatan maritim. Radio digunakan untuk menyanpiakan
perintah,/instruksi dan komunikasi antara Angkatan Darat dan Angkatan Laut negara-
negara yang sedang berperang. Siaran mulai dapat dilakukan pada 1920-an, dengan
populernya pesawat radio, terutama di Eropa dan Amerika Serikat.
Radio menjadi populer pada 1920-an dan 1930-an. Sekarang ini, radio banyak
bentuknya, termasuk jaringan tanpa kabel, komunikasi bergerak di segala jenis, dan
juga penyiaran radio. Radio tidak lagi dipergunakan untuk keperluan perang antara AL
dan AD, akan tetaapi sekarang radio dapat digunakan sebagai media informasi,
entertain, dll. Radio dapat dinikmati dalam kendaraan bermotor (kecuali sepeda motor),
ada pesawat radio portable (bentuknya hanya sebesar jari tangan).
Marconi bergegas mendirikan perusahaan dan "Marconi" pertama dikirim tahun
1898. Tahun berikutnya dia sudah sanggup kirim berita tanpa lewat kawat menyeberang
selat Inggris. Meskipun patennya yang terpenting diperolehnya tahun 1900, Marconi
meneruskan pembuatan dan mempatenkan banyak penyempurnaan-penyempurnaan
atas dasar penemuannya sendiri. Di tahun 1901 dia berhasil mengirim berita radio
melintasi Samudera Atlantik, dari Inggris ke Newfoundland.
Edwin Howard Armstrong dikenal sebagai “Bapak penemu radio FM”. Dia
dilahirkan pada tanggal 18 Desember 1890 di New York City. Pada usia 14 tahun ia
bercita-cita ingin menjadi seorang penemu. Ketika remaja, dia mulai menjadi tukang
service alat-alat rumahtangga tanpa kabel (nirkabel), dan ketika duduk di bangku SMA,
dia telah membuat tiang antena di depan rumahnya untuk mempelajari teknologi
nirkabel. Dia dengan cepat dapat permasalahan pada alat komunikasi tersebut, ia dapat
menemukan kelemahan signal pada penerima akhir transmisi komunikasi. Sementara
tidak ada cara lain untuk memperkuat tenaga pada pengiriman akhir.
Setelah tamat SMA, dia masuk ke Universitas Columbia jurusan teknik dimana
dia melanjutkan penelitiannya dibidang nirkabel. Selama tahun ke tiga di Universitas
Columbia, Armstrong memperkenalkan temuannya : Penguat gelombang radio pertama
(radio amplifier). Dia telah mempelajari cara kerja tabung Lee DeForest dan kemudian
mendisain ulang dengan mengambil gelombang elektromagnetik yang datang dari
sebuah transmisi radio dan dengan cepat memberi sinyal balik melalui tabung. Hanya
sesaat, kekuatan signal akan meningkat sebanyak 20.000 kali per detik. Penomena ini
oleh Armstrong di sebut dengan regenerasi, merupakan penemuan penting dan perlu
saat radio pertama kali ada.
Dengan pengembangan ini, insinyur radio tidak memerlukan 20 ton generator
agar stasiun radio mereka mengudara. Desain sirkuit tunggal temuan Armstrong
menjadi kunci kelangsungan gelombang transmitter yang menjadi inti operasional radio
saat ini. Dia lulus sarjana teknik tahun 1913. Dia mempatenkan ciptaannya dan memberi
lisensinya pada Marconi Corporation tahun 1914.Di tahun 1920, Westinghouse membeli
hak paten Armstrong atas penerima Superheterodyne, dan memulai kiprahnya menjadi
stasiun radio pertama bernama KDKA di Pittsburgh. Radio menjadi sangat popular pada
saat itu, dan setelah itu bermunculan terus gelombang radio lainnya.
RCA (The Radio Corporation of America) segera membeli seluruh hak paten
radio begitu juga radio lain ikut membelinya.Setelah perang usai, Armstrong kembali ke
Columbia University bekerja sebagai professor. Tahun 1923 dia menikah dengan Marion
MacInnes, sekretaris dari Presiden RCA, David Sarnoff. Pada dekade tersebut dia
terlibat dalam perang perusahaan dalam mengendalikan hak paten radio. Hal ini
berlanjut sampai awal tahun 1930, dan Armstrong kalah di pengadilan. Sementara, dia
terus melanjutkan penelitian untuk memecahkan masalah statistik radio.Di awal tahun
1920 dia memutuskan hanya ada satu solusi, yaitu merancang sistem yang sama sekali
baru.
Tahun 1933 dia memperkenalkan sistem radio FM (frequency modulation), yang
memberi penerimaan jernih meskipun ada badai dan menawarkan ketepatan suara yang
tinggi yang sebelumnya belum ada. Sistem tersebut juga menyediakan sebuah
gelombang tunggal membawa dua program radio dengan sekali angkut. Pengembangan
ini disebut dengan multiplexing.Tahun 1940 Armstrong mendapat ijin untuk mendirikan
stasiun radio FM pertama yang didirikan di Alpine, New Jersey. Tahun 1941, Institut
Franklin memberi penghargaan Armstrong berupa medali Franklin, yang merupakan
salah satu penghargaan tertinggi komunitas ilmuwan. Meskipun Armstrong kalah dalam
perang perusahaan selama bertahun-tahun memanfaatkan hak ciptanya, Armstrong
mati bunuh diri di tahun 1954. Jandanya melanjutkan perjuangan Armstrong bertempur
di persidangan dan memenangkan jutaan dollar. Di awal 60-an, saluran FM
mendominasi sistem radio, dan bahkan digunakan untuk komunikasi antara bumi dan
luar angkasa.

PAGER
Pager merupakan satu peranti yang menggunakan frekuensi radio. Sistem pager
yang pertama digunakan oleh Jabatan Polis Detroit, US pada 1921. Pager pertama yang
digunakan ialah Motorola Pageboy 1 pada 1974. Pada 1990, liputan paging secara
meluas diperkenalkan.
Jenis-jenis Pager
1) Numerik
2. Hanya menampilkan nomor
3. Pager ini memberitahu nomor telepon yang perlu dihubungi, atau kodw untuk
menerima pesan tertentu
2) Alphanumerik
4. Mempunyai kesamaan dengan pager numerik
5. Dapat memaparkan pesan ringkas tertulis,
6. Dapat memaparkan nomor telepon dan mengirimkan pesan suara pendek.
7. Kaedah biasa menghantar teks daripada pager alphanumerik adalah dengan
memanggil operator pembawa, yang akan menyalin pesan (biasanya sehingga
80 aksara) untuk dihantar kepada pager.
8. Kaedah lain - menghantar teks melalui modem.
3) Dua-Hala
9. Membenarkan balasan kepada pesan yang sampai
10. Pesan dapat dikirim ke lebih banyak massa.
11. Biasanya digunakan di kawasan yang besar.
12. Menggunakan band PCS (Personal Communications Services).
13. PCS bergantung kepada isyarat kuasa-rendah yang didapati daripada beberapa
menara isyarat di dalam kawasan tertentu.
14. Pager yang kecil pun bisa mengandungi semua teknologi PCS yang bersesuaian
untuk menerima dan mengirim pesan.

Sistem Pengkodean Pager

TELEVISI
Dalam penemuan televisi (tv), terdapat banyak pihak, penemu maupun inovator
yang terlibat, baik perorangan maupun badan usaha. Televisi adalah karya massal yang
dikembangkan dari tahun ke tahun. Awal dari televisi tentu tidak bisa dipisahkan dari
penemuan dasar, hukum gelombang elektromagnetik yang ditemukan oleh Joseph
Henry dan Michael Faraday (1831) yang merupakan awal dari era komunikasi
elektronik.
1876 - George Carey menciptakan selenium camera yang digambarkan dapat membuat
seseorang melihat gelombang listrik. Belakangan, Eugen Goldstein menyebut tembakan
gelombang sinar dalam tabung hampa itu dinamakan sebagai sinar katoda.
1884 - Paul Nipkov, Ilmuwan Jerman, berhasil mengirim gambar elektronik
menggunakan kepingan logam yang disebut teleskop elektrik dengan resolusi 18 garis.
1888 - Freidrich Reinitzeer, ahli botani Austria, menemukan cairan kristal (liquid
crystals), yang kelak menjadi bahan baku pembuatan LCD. Namun LCD baru
dikembangkan sebagai layar 60 tahun kemudian.
1897 - Tabung Sinar Katoda (CRT) pertama diciptakan ilmuwan Jerman, Karl Ferdinand
Braun. Ia membuat CRT dengan layar berpendar bila terkena sinar. Inilah yang menjadi
dassar televisi layar tabung.
1900 - Istilah Televisi pertama kali dikemukakan Constatin Perskyl dari Rusia pada
acara International Congress of Electricity yang pertama dalam Pameran Teknologi
Dunia di Paris.
1907 - Campbell Swinton dan Boris Rosing dalam percobaan terpisah menggunakan
sinar katoda untuk mengirim gambar.
1927 - Philo T Farnsworth ilmuwan asal Utah, Amerika Serikat mengembangkan televisi
modern pertama saat berusia 21 tahun. Gagasannya tentang image dissector tube
menjadi dasar kerja televisi.
1929 - Vladimir Kosma Zworykin dari Rusia menyempurnakan tabung katoda yang
dinamakan kinescope. Temuannya mengembangkan teknologi yang dimiliki CRT.
1940 - Peter Goldmark menciptakan televisi warna dengan resolusi mencapai 343 garis.
1958 - Sebuah karya tulis ilmiah pertama tentang LCD sebagai tampilan dikemukakan
Dr. Glenn Brown.
1964 - Prototipe sel tunggal display Televisi Plasma pertamakali diciptakan Donald
Bitzer dan Gene Slottow. Langkah ini dilanjutkan Larry Weber.
1967 - James Fergason menemukan teknik twisted nematic, layar LCD yang lebih
praktis.
1968 - Layar LCD pertama kali diperkenalkan lembaga RCA yang dipimpin George
Heilmeier.
1975 - Larry Weber dari Universitas Illionis mulai merancang layar plasma berwarna.
1979 - Para Ilmuwan dari perusahaan Kodak berhasil menciptakan tampilan jenis baru
organic light emitting diode (OLED). Sejak itu, mereka terus mengembangkan jenis
televisi OLED. Sementara itu, Walter Spear dan Peter Le Comber membuat display
warna LCD dari bahan thin film transfer yang ringan.
1981 - Stasiun televisi Jepang, NHK, mendemonstrasikan teknologi HDTV dengan
resolusi mencapai 1.125 garis.
1987 - Kodak mematenkan temuan OLED sebagai peralatan display pertama kali.
1995 - Setelah puluhan tahun melakukan penelitian, akhirnya proyek layar plasma Larry
Weber selesai. Ia berhasil menciptakan layar plasma yang lebih stabil dan cemerlang.
Larry Weber kemudian megadakan riset dengan investasi senilai 26 juta dolar Amerika
Serikat dari perusahaan Matsushita.
Dekade 2000- Masing masing jenis teknologi layar semakin disempurnakan. Baik LCD,
Plasma maupun CRT terus mengeluarkan produk terakhir yang lebih sempurna dari
sebelumnya.

TV Mekanik
Mungkin susah untuk dipercaya. Namun, penemuan cakram metal kecil berputar
dengan banyak lubang didalamnya yang ditemukan oleh seorang mahasiswa di Berlin-
Jerman, 23 tahun, Paul Nipkow [1883], merupakan cikal bakal lahirnya televisi.
Kemudian disekitar tahun 1920, para pakar lainnya seperti John Logie Baird dan
Charles Francis Jenkins, menggunakan piringan Nipkow ini untuk menciptakan suatu
sistem dalam penangkapan gambar, transmisi, dan penerimaannya. Mereka membuat
seluruh sistem televisi ini berdasarkan sistem gerakan mekanik, baik dalam penyiaran
maupun penerimaannya. Saat itu belum ditemukan Cathode Ray Tube [CRT].
Televisi elektronik agak tersendat perkembangannya pada tahun-tahun itu, lebih
banyak disebabkan karena televisi mekanik lebih murah dan tahan banting. Bukan itu
saja, tetapi juga sangat susah untuk mendapatkan dukungan finansial bagi riset TV
elektronik ketika TV mekanik dianggap sudah mampu bekerja dengan sangat baiknya
pada masa itu. Sampai akhirnya Vladimir Kosmo Zworykin dan Philo T. Farnsworth
berhasil dengan TV elektroniknya. Dengan biaya yang murah dan hasil yang berjalan
baik, orang-orang mulai melihat kemungkinan untuk beralih sistem.
Vladimir Zworykin, yang merupakan salah satu dari beberapa pakar pada masa
itu, mendapat bantuan dari David Sarnoff, Senior Vice President dari RCA [Radio
Corporation of America]. Sarnoff sudah banyak mencurahkan perhatian pada
perkembangan TV mekanik, dan meramalkan TV elektronik akan mempunyai masa
depan komersial yang lebih baik. Insinyur lain, Philo Farnsworth, juga berhasil
mendapatkan sponsor untuk mendukung idenya, dan ikut berkompetisi dengan Vladimir.

TV Elektronik
Baik Farnsworth, maupun Zworykin, bekerja terpisah, dan keduanya berhasil
dalam membuat kemajuan bagi TV secara komersial dengan biaya yang sangat
terjangkau. Di tahun 1935, keduanya mulai memancarkan siaran dengan menggunakan
sistem yang sepenuhnya elektronik. Kompetitor utama mereka adalah Baird Television,
yang sudah terlebih dahulu melakukan siaran sejak 1928, dengan menggunakan sistem
mekanik seluruhnya. Pada saat itu, sangat sedikit orang yang mempunyai televisi, dan
yang mereka punyai umumnya berkualitas seadanya. Seadanya disini, mungkin tidak
seperti yang kita bayangkan, namun pada masa itu ukuran layar TV hanya sekitar tiga
sampai delapan inci saja, sehingga persaingan mekanik dan elektronik tidak begitu
nyata, tetapi kompetisi itu ada disana. Sistem yang lebih unggul akan mematikan
lawannya.
1939, RCA dan Zworykin siap untuk program reguler televisinya, dan mereka
mendemonstrasikan secara besar-besaran pada World Fair di New York. Antusias
masyarakat yang begitu besar terhadap sistem elektronik ini, menyebabkan The
National Television Standards Committee [NTSC], 1941, memutuskan sudah saatnya
untuk menstandarisasikan sistem transmisi siaran televisi di Amerika. Lima bulan
kemudian, seluruh stasiun televisi Amerika yang berjumlah 22 buah itu, sudah
mengkonversikan sistemnya kedalam standard elektronik baru.
Pada tahun-tahun pertama, ketika sedang resesi ekonomi dunia, harga satu set
televisi sangat mahal. Ketika harganya mulai turun, Amerika terlibat perang dunia ke
dua. Setelah perang usai, televisi masuk dalam era emasnya. Sayangnya, pada masa
itu, semua orang hanya dapat menyaksikannya dalam tata warna hitam putih.

TV Berwarna
Sebenarnya CBS sudah lebih dahulu membangun sistem warnanya beberapa
tahun sebelum rivalnya, RCA. Tetapi sayang sekali bahwa sistem mereka tidak
kompatibel dengan kebanyakan TV hitam putih diseluruh negara. CBS, yang sudah
mengeluarkan banyak sekali biaya untuk sistem warna mereka, harus menyadari
kenyataan bahwa pekerjaan mereka berakhir sia-sia. RCA, yang belajar dari
pengalaman CBS, mulai membangun sistem warna mereka sendiri. Mereka dengan
cepat membangun sistem warna yang mampu juga untuk diterima sistem hitam putih
[BW]. Setelah RCA memamerkan kemampuan sistem mereka, NTSC membakukannya
untuk siaran komersial thn 1953.
Berpuluh tahun kemudian hingga awal milenium baru, abad 21 ini, orang sudah
biasa berbicara lewat telepon selular digital dan mengirim e-mail lewat jaringan
komputer dunia, tetapi teknologi televisi pada intinya tetap sama. Tentu saja ada
beberapa perkembangan seperti tata suara stereo dan warna yang lebih baik, tetapi
tidak ada suatu lompatan besar yang mampu untuk menggoyang persepsi kita tentang
televisi. Tetapi semuanya secara perlahan mulai berubah. Televisi mulai memasuki era
digital.

TV Digital
TV digital jelas akan mengubah cara pandang kita dalam menikmati siaran yang
disajikan. Dengan fasilitas on demand, Anda bisa memilih sendiri waktu dan program
yang disukai. Kebanyakan program TV – kecuali pertandingan olahraga dan hasil pemilu
– tidak perlu lagi disiarkan langsung, apalagi harus mengagendakannya dalam jadwal
tayang yang ketat. Istilah jadwal tayang prime-time atau bukan, sudah tak relevan lagi.
Setiap orang hanya akan menonton acara yang disukainya, kapan pun ia mau dan
punya waktu.
Memang terjadi perubahan mendasar ketika kita menikmati program-program
lewat TV digital dibanding TV analog sebagaimana yang lazim kita kenal selama ini.
Fungsi remote control misalnya, bukan lagi sekadar untuk pindah saluran atau
mengubah volume, tapi bisa digunakan menjadi semacam mouse yang bisa
mengarahkan kursor untuk berbagai keperluan. Mulai dari mengubah ukuran tampilan
layar, membuka situs-situs media, hingga mengecek surat elektronik.
Secara teknis, hal itu juga dimungkinkan oleh makin majunya kualitas layar TV.
Sebelumnya dengan jumlah garis scan yang sangat terbatas pada TV biasa, jika
menonton dalam jarak dekat, mata kita bisa perih. Kemudian muncul teknologi yang
mengubah gagasan ihwal garis scan yang sebelumnya dibentuk per gambar seperti
layar TV biasa, menjadi garis scan per inci seperti layar komputer modern.
Pada saat yang bersamaan, sebetulnya ada faktor lain yang membuat TV digital
bisa laku keras, yakni keberadaan DVD. “Hal itu disebabkan DVD mampu menampilkan
segala sesuatu yang dijanjikan TV digital – dari gambar sekualitas bioskop hingga
interaktivitas internet tanpa perlu tambahan biaya untuk meng-upgrade jaringan kabel
atau satelit Anda,” demikian tulis Wired, majalah teknologi terkemuka. Pasangan DVD-
TV digital akan menghadirkan gambar sekualitas bioskop dan suara yang memesona.
Kualitas DVD memang sangat jauh di atas pendahulunya, VCD – yang relatif lebih
banyak digunakan saat ini di Indonesia.

TELEVISI KABEL
Tidak seorang pun yang membayangkan bagaimana media bisa berkembang ke
arah TV Kabel ketika Johannes Gutenberg menciptakan alat pencetak pertama. Media
cetak kini berkembang seperti yang kita nikmati sekarang. Begitu juga ketika Alexander
Graham Bell mencoba pesawat telepon pertamanya, bahwa kabel telepon kemudian
bisa menyampaikan gambar hidup dan suara di pesawat televisi.
TV kabel di Amerika telah merubah sejarah media dalam dua decade ini. Dari
sebuah jaringan kecil di sebuah kota kecil, kemudian berkembang menjadi jaringan multi
nasional. Masing-masing melayani jutaan pelanggan. TV Kabel di Amerika merupakan
media yang dinikmati lebih dari 60% rumah tangga. TV Kabel di masa depan adalah
media bagi produk-produk informasi dan hiburan yang disampaikan melalui berbagai
sistem ke rumah-rumah.
TV Kabel bermula pada tahun 1947, ketika seorang yang berhasil menangkap
siaran TV dari kota lain dengan sebuah antena ditinggikan. Siaran TV tersebut
kemudian dibagi-bagikan melalui kabel ke rumah-rumah dengan imbalan sedikit
bayaran. Itulah awal siaran TV di sebuah kota kecil Amerika.
Awal industri siaran TV Kabel yang didapat dengan cara begini disebut CATV
(Community Antenna Television). CATV berkembang lambat, hanya 14.000 rumah
tangga yang tercatat sebagai pelanggan di 70 daerah (kota kecil). Baru pada tahun
1970, TV Kabel menjadi bagian dari hampir seluruh daerah masyarakat rural dan
suburban, dan kemudian jaringan besar mulai dibuat di kota-kota besar.
Kini Industri TV Kabel di Amerika telah menjadi industri dengan nilai $15 milyar
per tahun. Ini adalah perkembangan media yang paling sukses di antara media lain
dalam dua dekade terakhir ini. Bahkan dalam masa resesi tahun 1990, TV Kabel tetap
mendatangkan untung sementara media lain anjlok. Pada 1992 hanya 50 dari 9.400
perusahaan TV Kabel yang memiliki TV Kabel sistem sendiri. Kompetisi akan meningkat
sejalan dengan modifikasi pada sistem yang digunakan TV Kabel. Sistem itu sekarang
termasuk, fiber-optic circuit yang dioperasikan dengan jaringan telepon, dan siaran
langsung dari satelit ke pesawat televisi (Direct Broadcasting Satelite).
Yang disebut TV Kable termasuk layanan informasi dan hiburan melalui jalur
kabel khusus atau komunikasi telepon biasa (artinya melalui kabel-kabel telepon) ,
wireless (station pemancar yang berbeda alias lebih canggih dari pemancar TV biasa)
dan Direct Broadcasting Satelites. Tidak seperti over the air TV (Pemancar TV biasa) ,
TV Kabel mengharuskan pemirsanya membayar apa yang ditontonnya, baik secara
teratur (per bulan) atau per program yang ditonton atau biasa disebut PPV (Pay Per
View). Itu sebabnya TV Kabel juga berarti digunakannya Decoder seperti yang dulu
pernah digunakan oleh RCTI & yang digunakan oleh Indovision saat ini.
Pada tahun 60-an TV Kable di Amerika pertama kali memproduksi programnya
sendiri. Sebelumnya hanya memancar-ulangkan siaran TV lain atau memutar program-
program terekam. TV Kabel memulai memproduksi program pertamanya dengan
informasi mengenai situasi kota, pertandingan olah raga di kota itu, atau hal-hal lain
yang bersifat hiburan. Itu sebabnya sebagian besar TV Kabel di Amerika sampai saat ini
sangat berbau lokal karena pada awalnya memang untuk satu komunitas yang terbatas.
Meski dalam perkembangannya muncul TV Kabel yang bersifat multi nasional.
Pada tahun 1975, Satelit komunikasi Amerika sampai pada tahap di mana orang
dapat memancarkan siaran TV dari mana saja dan ke mana saja. Ted Turner, yang saat
itu bekerja sebagai advertising executive, melihat peluang untuk memajukan sebuah
stasiun TV Kabel kecil bernama WTBS di Atlanta. Ted Turner menyewa saluran pada
sebuah satelit dan menginformasikan kepada seluruh perusahaan TV Kable di Amerika,
bahwa siaran WTBS dapat dipancar-ulangkan secara gratis. Mendadak ratusan TV
Kabel kini mendapat tambahan program baru dari WTBS, dan WTBS kini memiliki jutaan
pemirsa yang tentu saja juga menarik perhatian para pemasang iklan. Sejalan dengan
bertambahnya pemirsa dan pemasukan dari iklan, WTBS mengembangkan program-
program TV yang lebih menarik, seperti olah raga. Menurut Ted Turner, pada tahun
1977 penetrasi TV Kabel hanya 14 persen, setelah WTBS menggunakan satelit menjadi
55 persen pada tahun 1988. Empat kali lebih banyak dalam waktu sebelas tahun.
Bersamaan dengan Ted Turner pada pertengahan tahun 70-an itu, Gerald Levin juga
menawarkan HBO-nya kepada para TV Kabel. Sehingga pada tahun 1980 ada 1700 TV
Kabel Lokal yang memancar-ulangkan siaran HBO.
Bisnis di seputar TV Kabel secara dramatik berubah. Para pelanggan TV Kabel
yang semula hanya membayar bulanan untuk program-program lokal, kini boleh
membayar tambahan jika ingin menikmati program-program lain, seperti dari HBO dan
yang lainnya. Mulailah era Pay Per View (PPV). TV Kabel mendapat tambahan income
dari program-program yang disediakan penyedia program seperti HBO, WTBS dan
lainnya. Sementara itu penyedia program mendapat income dari pemasang iklan dan
pelanggan secara tidak langsung melalui perusahaan TV Kabel. Begitu juga perusahaan
pembuat program-program TV, misalnya Holywood, mulai sibuk berkreasi. Pada tahun
1993 ada ratusan penyedia program seperti HBO sebagai pemula. Di antaranya adalah
Music Televison (MTV) yang sekarang dapat kita nikmati melalui ANTV. Beberapa
penyedia program yang memiliki pemirsa terbanyak saat ini adalah HBO, ESPN,
Discovery, TNT Cartoon Network, CNN, Showtime, The Movie Channel, dan Disney
Channel.
TV Kabel juga menyumbang inovasi di bidang jurnalistik elektronik. Cable News
Network (CNN) memeriahkan dimensi baru di bidang pemberitaan elektronik secara 24
jam dan international. Tahun 1992, sebelas negara Eropa tergabung dalam organisasi
televisi mencoba menyaingi CNN melalui Euronews.
Persaingan antar TV Kabel di Amerika akan semakin sengit dengan munculnya
teknologi baru di seputar stasiun TV. Digunakannya fibre-optic circuit oleh perusahaan
telepon, wireless cable yang menggunakan microwave distribution system dan Direct
Broadcasting Satelites adalah tiga macam teknologi baru yang akan memajukan mutu
dan kwantitas program dari TV Kabel.
Wireless Cable System seperti disebutkan di atas memiliki keunggulan bagi TV
Kabel baru yang akan didirikan. Biaya untuk mendirikan instalasinya lebih murah untuk
jumlah pelanggan rata-rata. Hanya $600 per pelanggan dibandingkan dengan $3000
pada TV Kabel konvensional. Dengan demikian biaya langganan per bulan akan lebih
murah dibanding dengan TV Kabel konvensional.

TV Kabel Baru di Indonesia


Tidak seperti yang dikira orang, Indonesia sebenarnya memiliki enam televisi
swasta dan satu televisi pemerintah. TVRI dengan dua saluran, dan enam televisi
swasta, RCTI, SCTV, TPI, ANTV, Indosiar, dan terakhir Indovision. Beda Indovision
dengan yang lain adalah karena memiliki sekaligus beberapa channel, yaitu: CNN,
Discovery, TNT Cartoon Network, ESPN, dan HBO. Berarti Indovision ini TV yang
menyiar dengan 100% program asing, padahal pemerintah "menghimbau" agar TV
swasta untuk menyiar 20% asing dan 80% lokal. Dengan jumlah pelanggan yang kini
45.000, Indovision tidak dapat lagi disebut sebagai TV dengan pemirsa terbatas.
Sebagai perbandingan, jumlah pemirsa RCTI paling tinggi hanya 10.000 dalam satu
time slot. Berapa kira-kira pemirsa Indovision dalam satu time slot. Melihat angka-angka
ini, apakah aturan 20:80 asing:lokal akan tetap akan diterapkan, meski kurang berpijak
pada realita.
Karena itu dari enam TV swasta tersebut hanya satu yang disebut TV Kabel di
Indonesia, yaitu Indovision karena menuntut pembayaran jika ingin menikmati
siarannya. Lima channel yang disediakannya berisi program yang langsung dipancarkan
dari Amerika yang kemudian dipancarkan kembali melalui satelite yang disewa
Indovision untuk dipancarkan kembali ke wilayah Indonesia.
Australia, salah satu negara dengan teknologi majunya, ternyata baru saja
memasuki era Pay TV (TV Kabel) pada akhir tahun 1995 lalu. Dengan populasi sebesar
18.2 juta jiwa, ada 6.3 juta rumah yang memiliki televisi. Dari 6.3 juta rumah itu 80%
memiliki Video Cassette Player, tetapi hanya 1% yang berlangganan Pay TV atau
Multichannel Service.
Dua perusahaan, Optus Vision dan VisionStream adalah perusahaan yang
mengawali era Pay TV di Australia. VisionStream hasil kerjasama antara Rupert
Murdoch Foxtel dan sebuah perusahaan telepon utama di Australia, Telstra. Melihat
perkembangan baru ini, George Lawton, seorang pengamat teknologi komunikasi dari
Amerika menulis di majalah International Cable edisi Desember 1995, ".... Initially,
Australian consumers will be offered a greater choice of programming. But it will not be
long before they're playing with the interactive services like video-on-demand and home
shopping that are being touted as the future of the industry." Australia, segera akan
menjadi bagian dari kemajuan siaran TV dengan sistem baru yang kini mengglobal.
TV Kabel yang kini sedang dibangun di Australia ini adalah sebuah bagian dari
perkembangan peradaban manusia yang menjadi bagian dari era informasi seperti yang
disebutkan oleh Alvin Tofler. Indonesia kini masuk pada era informasi dengan diawali
oleh pesatnya pertumbuhan industri di segala sektor. Perusahaan penyiaran atau
penyedia program televisi adalah salah satu pilihan dari sekian banyak industri.
Perusahaan TV Kabel baru yang tengah dibangun belakangan ini telah menjadi isu yang
ramai dibicarakan di kalangan orang-orang televisi. Siapakah mereka? Dari kelompok
perusahaan manakah mereka? Multivision (bukan Indovision) dari Bimantara dan Lippo
adalah satu TV Kabel yang April ini bakal menyiar. Sementara itu MGM (Metro Goldwyn
Meyer) tengah mengintip peluang yang masih ada. Mari kita tunggu kehadiran TV-TV
baru itu. Mari kita berharap agar Undang-undang Siaran kelak lebih berpijak pada
hakikat televisi, sehingga tidak ada lagi aturan semacam SK Menpen No.111 itu.

Salah satu contoh perkembangan TV kabel di Indonesia


TVKL pada dasarnya merupakan (lokal) satellite pay television. TV jenis ini
belakangan marak bermunculan di perumahan atau kawasan blank - spot. Karena
geografis tidak bisa menangkap sinyal UHF/VHF yang dipakai untuk penyiaran TV.
Cara kerjanya relatif sederhana, yakni pada satu wilayah seorang pemodal
menyediakan seperangkat parabola dan sejumlah receiver yang diletakkan di sebuah
ruangan salah satu rumah.
Dari mesin receiver inilah kemudian disalurkan dengan kabel ke rumah-rumah
para pelanggan. Pemilik sentra sebenarnya bukanlah produsen program siaran,
melainkan sekadar sebagai penyalur siaran stasiun TV yang memperluas jangkauan
siarannya melalui orbit satelit geostasioner.
Dalam satu sentra, pengelola biasanya menyediakan antara tujuh atau delapan
mesin receiver sehingga para pelanggan bisa menangkap tujuh atau delapan kanal TV
sesuai dengan jumlah receiver tersebut.
Jumlah pelanggan di setiap sentra sangat beragam sesuai dengan besar
kecilnya jumlah penghuni tempat sentra berdiri. Ada sentra yang pelanggannya cuma 40
orang, tapi ada juga yang mencapai 400 orang. Hanya saja, kualitas gambar yang bisa
diterima dengan baik adalah pada pelanggan yang tinggal tidak lebih dari radius 1 km
dari posisi sentra.
Berdasar gambaran di atas, TVKL tidak bisa disejajarkan dengan stasiun TV
Berlangganan raksasa seperti Indovision atau Astro atau terlebih HBO.

Usaha Sampingan
Kegiatan bisnis itu biasanya merupakan usaha sampingan pedagang dan/atau
teknisi parabola, agar gambar yang dilihat bisa jernih. Tidak bisa dipungkiri
kehadirannya penting dalam berpartisipasi membantu masyarakat memenuhi kebutuhan
informasi.
Apalagi dewasa ini semakin banyak stasiun TV yang menggunakan satelit, baik
itu Palapa C2, Cakrawala 2, Telkom 1 ataupun Telkom 2, untuk memperluas jangkauan
siarannya. Masyarakat di kawasan blank-spot sekurangnya dapat menangkap siaran
stasiun-stasiun TV nasional, seperti TVRI, RCTI, SCTV, Indosiar, ANTV, TPI, Metro TV,
Global TV, Trans TV, Lativi, TV7 ataupun stasiun TV di daerah seperti Bali TV dan JTV
(Surabaya).
Sejumlah pengelola sentra bahkan bisa dengan mudah memenuhi permintaan
warga apabila mereka menghendaki siaran TV negara lain seperti TV3 (Malaysia),
Brunei TV, TV5 (Prancis), DW-TV (Jerman) dan ratusan stasiun lainnya dari pelbagai
negara di dunia.
Yang jadi soal dari semua sentra yang bermunculan itu, tak satu pun yang
memiliki status perizinan. Mereka resah dan bertanya ke mana harus mengurus
perizinan.
Di lain pihak, banyak juga di antara mereka juga kuatir kalau perizinan berdampak pada
pajak penghasilan atau persyaratan yang superketat, karena iuran yang ditarik dari para
pelanggan relatif kecil.
Untuk sentra yang jumlah pelanggannya 40 orang, misalnya, penghasilan
sebulan tidaklah mencapai Rp 100 ribu, karena iuran rata-rata per pelanggan adalah Rp
3.000,-/bulan dan itu masih dikurangi Rp 500,- bagi petugas penarik iuran dan biaya
operasional dan listrik.
Meskipun telah ada peraturan perundangannya, pengaturan TVKL tidaklah bisa dengan
serta-merta mendasarkan diri secara kaku pada apa yang tersurat di dalam peraturan
perundangan. Langkah persuasif, sosialisasi dan komunikasi partisipatoris perlu
dilakukan dengan para pengelola maupun masyarakat pengguna serta pihak terkait
lainnya.
Bermunculannya sentra TVKL di Indonesia sudah mulai awal tahun 90-an, ketika
pertandingan Piala Dunia 1990. Banyak orang patungan memasang Parabola untuk
menangkap siaran dari TV3 Malaysia. Dengan parabola inilah sinyal yang ditangkap dari
satelit disebarluaskan melalui kabel ke rumah peserta patungan.
Dalam sistem patungan tersebut program siaran yang bisa ditonton biasanya sangat
tergantung pada rumah yang ketempatan peralatan receiver-nya atau pada pihak yang
berpengaruh.
Konflik antarpeserta patungan pun kerap terjadi, karena program siaran yang
digemari warga satu dan lainnya berbeda. Dari situlah mulai muncul sistem pengelolaan
berlangganan oleh para pemodal yang menyediakan seluruh peralatan yang diperlukan
sehingga para pelanggan bisa menikmati program siaran yang digital.

Pengaturan
Perkembangan TV Kabel/Berlangganan dewasa ini sudah demikian canggih. Di
perkotaan yang sinyal UHF/VHF-nya kuat pun tidaklah sedikit kalangan menengah atas
yang bergabung menjadi pelanggan. Tidak mengherankan bila belakangan ini dua
raksasa lembaga penyiaran berlangganan macam Astro ataupun Indovision demikian
gencar bersaing memasarkan jasa mereka. Ini juga tidak menutup kemungkinan mereka
yang sudah berlangganan lewat TVKL beralih langganan ke perusahaan raksasa
tersebut. Terlebih lagi kalau perdagangan bebas telah berlangsung sepenuhnya,
persaingan bisnis itu akan semakin rumit.
Tidaklah tertutup kemungkinan perusahaan TV Kabel/Berlangganan
internasional akan berupaya mendapatkan perlindungan atas usaha mereka dengan
mempersoalkan legalitas pesaing di tingkat lokal.
Dari sisi UU No 32 Th 2002 tentang Penyiaran, pengaturan keberadaan TVKL
tidak semata menyangkut soal persaingan bisnis para pengelolanya ataupun teknis
administratif kelembagaannya, tetapi juga soal program dan isi siaran yang
disebarluaskan. Pasal 26 Ayat (2) menyatakan: Dalam menyelenggarakan siarannya,
Lembaga Penyiaran Berlangganan harus: a. Melakukan sensor internal terhadap semua
isi siaran yang akan disiarkan dan/atau disalurkan; b. Menyediakan paling sedikit 10%
dari kapasitas kanal saluran untuk menyalurkan program dari Lembaga Penyiaran
Publik dan Lembaga Penyiaran Swasta.
Meskipun TVKL sementara ini bukanlah lembaga penyiaran yang memproduksi
sendiri program/isi siaran, melainkan sekadar menyalurkan siaran TV-TV eksisting lewat
satelit tertentu, tidaklah berarti mereka bebas menyiarkan siaran TV mana pun yang
bisa ditangkap parabola. Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran/Standar
Program Siaran (P3-SPS) tetap perlu diperhatikan dan ditaati.
Kasus penayangan program Smackdown yang telah menimbulkan banyak
korban merupakan salah satu sinyal bahwa penyebarluasan suatu program siaran perlu
dilakukan secara cermat dan hati-hati. Walaupun hanya menyalurkan paket program
siaran yang disiarkan TV-TV eksisting, para pengelola TVKL perlu berpikir ulang bahwa
tiap program siaran memiliki pengaruh pada kehidupan audiensnya.
Itulah sebabnya setiap program siaran yang dipancarkan suatu stasiun TV harus
tunduk pada peraturan yang berlaku di area tempat siaran tersebut dapat ditangkap.

Perkembangan Televisi
Plasma Display TV – Tampilan plasma diciptakan di Universitas Illinois oleh
Donald L. Bitzer dan H. Gene Slottow pada 1964 untuk Sistem Komputer PLATO. Panel
monochrome orisinal (biasanya oranye atau hijau) menikmati penggunaan yang
bertambah pada awal 1970-an karena tampilan ini kuat dan tidak membutuhkan sirkuit
memori dan penyegaran. Namun diikuti oleh kurangnya penjualan yang dikarenakan
perkembangan semikonduktor memori membuat tampilan CRT sangat murah pada akhir
1970-an.
Dimulai dari dissertasi PhD Larry Weber dari Universitas Illinois pada 1975 yang
berhasil membuat tampilan plasma berwarna, dan akhirnya berhasil mencapai tujuan
tersebut pada 1995. Sekarang ini sangat terangnya dan sudut pandang lebar dari panel
berwarna plamsa telah menyebabkan tampilan ini kembali mendapatkan
kepopulerannya. Tidak hanya bentuk/model saja tetapi juga kemampuannya.
Perkembangan itu tidak terlepas dari pemanfaatan teknologi yang memang sedang 'in'
di masa - masa ini. contohnya : Televisi digital (Digital Television, DTV) TV Resolusi
Tinggi (High Definition TV, HDTV) Video Resolusi Ultra Tinggi (Ultra High Definition
Video, UHDV) Direct Broadcast Satellite TV (DBS) Televisi internet TV Web LCD dan
Plasma display TV Layar Datar mobile TV Topic : 3G PERKEMBANGAN 3G 3G (dibaca:
triji) adalah singkatan dari 3rd Generation atau generasi ketiga artinya teknologi telepon
selular generasi ketiga.
Sistem jaringan yang digunakan oleh operator GSM untuk menjalankan 3G
adalah UMTS (Universal Mobile Telecommunications System). Generasi - generasi
sebelum 3G antara lain : Generasi pertama: analog, kecepatan rendah (low-speed),
cukup untuk suara. Contoh: NMT (Nordic Mobile Telephone) dan AMPS (Analog Mobile
Phone System) Generasi kedua: digital, kecepatan rendah - menengah. Contoh: GSM
dan CDMA2000 1xRTT Generasi ketiga: digital, kecepatan tinggi (high-speed), untuk
pita lebar (broadband). Contoh: W-CDMA (atau dikenal juga dengan UMTS) dan
CDMA2000 1xEV-DO. WCDMA singkatan dari Wideband Code Division Multiple
Access.
WCDMA adalah teknologi dalam sinyal gelombang radio (air interface). UMTS
menggunakan teknologi WCDMA untuk mengirim sinyal gelombang radio ke pelanggan.
WCDMA itu efisien dan mampu meningkatan kecepatan data sehingga dipakai dalam
sistem UMTS. 3G, UMTS, dan WCDMA itu sebenarnya mengacu pada satu kesatuan.
3G itu nama produknya, UMTS itu nama sistemnya, dan WCDMA itu nama sinyal
radionya. Oleh karena itu orang biasanya menuliskan 3G untuk GSM adalah
3G/WCDMA(UMTS) 3G merupakan nama yang umum digunakan untuk menyebutkan
teknologi lanjutan dari sistem komunikasi mobile, dimana kita bisa mendapatkan
layanan data berkecepatan tinggi untuk aplikasi multimedia seperti download musik,
nonton TV lewat handphone, internet berkecepatan tinggi, video call, streaming video
klip, dan sebagainya. Sedangkan GPRS (General Packet Radio Services) yang kita
kenal selama ini adalah teknologi 2,5G

Pertelevisian di Indoensia
Pertelevisian Indonesia baru dimulai pada tahun 1960-an, di mana terdapat satu
stasiun televisi yang terpusat di Jakarta. Seluruh proses informasi yang terjadi dalam
televisi Indonesia masih dalam kerangka stasiun televisi publik. TVRI mempunyai kriteria
awal yang sehat. Artinya TVRI bisa dijadikan sarana untuk “menjalin persatuan dan
kesatuan”. Teknologi satelit Palapa semakin mengokohkan peran TVRI sebagai stasiun
televisi yang bisa mudah dan cepat diakses oleh penduduk Indonesia. Dalam perjalanan
dinamisnya, TVRI juga sempat menjadi “agak komersial” - dengan adanya iklan sampai
tahun 1982- ketika tuntutan ekonomi menjadi tuntutan tak terelakkan dari sebuah
industri media.
Cita-cita awal TVRI yang mampu menjadi sarana komunikasi efektif dinamika
sosial masyarakat rupanya ditangkap oleh Orde Baru, yang pada akhirnya
memanfaatkan teknologi televisi menjadi alat propaganda. TVRI yang seharusnya
menjadi media dan jembatan antara warga dengan pemerintah, sedikit demi sedikit,
bergeser perannya menjadi state apparatus yang dihegemoni oleh dominasi informasi
pemerintah. Dengan seluruh kebijakan protektif, TVRI justru dikerdilkan sebagai televisi
pemerintah yang mempunyai derajad dinamika sosial yang rendah (Ade Armando,
2000).
Di Indonesia sejarah perkembangan televisi untuk pertama kali dipancarkan oleh
stasiun TVRI. Sebuah televisi pemerintah yang dipancarkan pada tanggal 24 agustus
1962. Kemudian mulai tahun 1977 TVRI mulai mengudara dan dapat disiarkan ke
seluruh kepulauan di Indonesia. Sejarah perkembangan internet di indonesia di
kembangkan oleh beberapa nama - nama legendaris seperti RMS Ibrahim, Suryono
Adisoemarta, Muhammad Ihsan, Robby Soebiakto, Putu, Firman Siregar, Adi
Indrayanto, dan Onno W. Purbo.
Arus perkembangan televisi yang menuntut keragaman, desakan kebutuhan
informasi, dan dinamisasi kehidupan sosial kultural, memaksa pemerintah untuk mulai
mengijinkan tumbuhan stasiun-stasiun televisi baru. Kebijakan praktek kebebasan pers
dalam dunia pertelevisian mulai dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Sampai sekarang
beberapa televisi swasta telah muncul dari RCTI, SCTV, TPI, AnTeve, Indosiar,
MetroTV, TV7, LaTivi, Global TV, Trans TV dan menyusul beberapa stasiun TV yang
belum mengudara tapi sudah mengantongi perijinan.
Perubahan di atas mempunyai point bahwa dalam pertumbuhan televisi di
Indonesia masalah ranah publik telah menjadi isu utama. Di satu pihak, swasta telah
berani membuka “kran” informasi yang beragam bagi masyarakat. Meski di lain pihak,
tidak bisa dipungkiri, bahwa swasta memainkan konspirasi sistem ekonomi politik
kapitalisme dalam proses keragaman televisi di Indonesia.

TAPE RECORDER
Dimulainya pengembangan Ilmu Pengetahuan dalam bidang Informasi pada
masa Perang Dunia 2 yang dipergunakan untuk kepentingan pengiriman dan
penerimaan dokumen-dokumen militer yang disimpan dalam bentuk magnetic tape.
Pada tahun 1942, Jepang mendokumentasikan setiap kejadian dan berita dengan
menggunakan magnetic tape. Magnetic tape merupakan media penyimpanan data yang
biasanya digunakan untuk komputer jenis mini ataupun mainframe.
Terdapat dua jenis magnetic tape yang biasanya digunakan oleh komputer. Jenis
pertama mempunyai bentuk standart yang memiliki lebar pita 1/2 " (12.7 mm). Magnetic
tape terbuat dari plastik tipis yang dilapisi magnetic pada permukaannya. Bentuk kedua
adalah kaset ataupun catridge seperti halnya yang telah kita kenal pada kaset yang
terdapat di audio tape recorder. Data yang ada juga disimpan dalam bentuk kode-kode
tertentu seperti halnya yang terdapat dalam pita magnetic ukuran standart. Kaset
ataupun catridge banyak digunakan pada komputer jenis home-komputer.
Untuk bisa bekerja, pita magnetic ini harus diletakkan didalam tape drive yang
kira-kira bisa disamakan dengan proyektor. Tape akan bergerak terus selama proses
penulisan ataupun pembacaan berlangsung dengan melewati read/write head. Data
yang ada akan direkam dalam guratan magnetic. Sekali data tersebut terekam, maka
data akan tetap tinggal sampai data tersebut terhapus atau diganti dengan data baru.
Secara umum, tape akan menyimpan.
Menurut waktu perkembangannya, yang kali pertama digunakan sebagai media
penyimpanan portabel dan mobile adalah media penyimpanan yang menggunakan
teknologi yang sama dengan harddisk, yaitu Magnetic. Salah satu media penyimpanan
sekunder yang paling lama digunakan sampai saat ini adalah floopy disk. Sampai saat
ini sudah sepuluh tahun lebih usia floopy disk, namun keberadaannya masih sangat
umum terlihat di komputer-komputer sekitar kita, khususnya di Indonesia. Awalnya
disket yang diperkenalkan berukuran 8 inci dan hanya mampu menampung data
sebesar 100 KB, namun sekarang floopy disk yang umum digunakan adalah berukuran
3,5 inci dengan kapasitas 1,44 MB.
Media penyimpanan data ini terus berkembang. Hasil perkembangannya antara
lain dalam bentuk teknologi optic, seperti CD, VCD, DVD, Blue Ray. Kemudian
berkembang teknologi media penyimpanan dengan salah satu ciri yang sangat menonjol
yaitu tidak menimbulkan suara sama sekali dalam proses kerjanya. Hal tersebut
dikarenakan pada bagian inti media terakhir ini memang tidak terdapat satu komponen
yang bergerak sama sekali. Oleh sebab itu, media yang terakhir ini disebut Solid State
Media, seperti USB Flash, SD (Secure Digital) dan MMC (Multimedia Card), Compact
Flash, Memory Stick, xD Card.

SATELIT
Apakah satelit itu sebenarnya ?. Pada dasarnya, satelit adalah segala obyek
yang berputar mengelilingi suatu planet dalam bentuk sirkular atau eliptikal. Sebagai
misal, bulan yang setiap purnama nampak indah, merupakan satelit asli milik bumi,
sangat alami, dan sesungguhnya cukup banyak satelit buatan manusia (artificial
satellites) yang biasanya terbang lebih dekat ke bumi. Rute dimana satelit berjalan
disebut orbit. Dalam orbit dikenal dua istilah : apogee (titik terjauh dengan bumi) dan
perigee (titik terdekat dengan bumi).
Satelit buatan bukan merupakan produksi massal. Kebanyakan satelit
merupakan pesanan yang disesuaikan dengan fungsinya. Pengecualian adalah pada
satelit GPS (yang berjumlah 20 unit di orbit) dan satelit Iridium (sebanyak 60 unit di
orbit).
Diperkirakan ada sekitar 23.000 benda sampah angkasa atau space junk—yakni
obyek-obyek yang cukup besar untuk bisa dideteksi oleh radar, yang berada di orbit
karena tak sengaja ditempatkan disana atau karena memang sudah uzur usia pakainya
—yang mengapung atas bumi. Jumlah tepat dari sampah angkasa memang berbeda-
beda, tergantung lembaga yang melakukan perhitungan. Sebagai gambaran, salah satu
situs online tentang satelit memberikan informasi ada sekitar 26.000 benda sampah
angkasa di atas sana.

Meski segala sesuatu yang berada di orbit bumi secara teknis disebut satelit,
istilah satelit secara khusus digunakan untuk menunjukkan suatu obyek yang
ditempatkan di orbit dengan tujuan melakukan tugas atau misi khusus. Sebagai misal,
tentu kita pernah mendengar satelit cuaca, satelit komunikasi dan satelit sains. Dalam
sejarah kita tahu, bahwa satelit Sovyet, Sputnik, adalah yang pertama kali mengorbit
bumi, pada 4 Oktober 1957. Sejak itulah, tonggak kebangkitan penelitian satelit
dicanangkan.

Bagaimana satelit diluncurkan ke orbit ?


Saat ini, satelit menggunakan roket atau space shuttle. Secara umum,
peluncuran yang terjadwal merupakan pilihan pertama, sebab roket akan melalui bagian
tertipis dari atmosfer lebih cepat dan minimalisasi penggunaan bahan bakar.
Setelah peluncuran yang pertama berjalan mulus, mekanisme pengendali roket
menggunakan sistem pemandu inersial (inertial guidance system) untuk
mengkalkulasikan tingkat penyesuaian bagi rocket nozzle untuk memiringkan sang roket
ke arah tujuan yang dideskripsikan dalam rencana penerbangan (flight plan).
Terkadang, dalam rencana penerbangan juga diarahkan ke mana moncong roket akan
diluncurkan : jika ke barat, maka moncong diarahkan ke barat. Hal ini menyebabkan tak
diperlukannya daya dorong (a free boost). Kekuatan daya dorong tergantung pada
kecepatan rotasi bumi di tempat peluncuran. Daya dorong terbesar digunakan di bagian
ekuator bumi, dimana jarak keliling bumi terbesar dan rotasinya tercepat.
Seberapa besar daya dorong dari daerah peluncuran di ekuator bumi. Perkiraan
kasar dapat dilakukan dengan menghitung keliling bumi dengan cara mengalikan
diameter bumi dengan pi (3,1416). Diameter bumi kira-kira 7.926 mil (12.753 km). Jika
dikalikan dengan pi, maka akan dihasilkan keliling bumi sebesar 24.900 mil (40.065 km).
Untuk mengelilingi 24.900 mil diperlukan waktu 24 jam, dimana pada salah satu titik di
bumi kecepatan berputarnya adalah 1.38 mph (1.669 kph).
Peluncuran space shuttle melalui Cape Canaveral, Florida, tidak perlu
mengeluarkan banyak daya dorong. Pada Kennedy Space Centerfs Launch Complex
39-A, salah satu fasilitas peluncuran, berlokasi di 28 derajat 36 menit 29,7014 detik
lintang utara. Kecepatan rotasi bumi di tempat itu kira-kira 894 mph (1.440 kph).
Perbedaan kecepatan muka bumi antara ekuator dan Kennedy Space Center kira-kira
144 mph (229 kph). Pertimbangkan bahwa roket dapat terbang dalam kecepatan ribuan
mil per jam, maka anda dapat melihat mengapa perbedaan yang hanya 144 mph dapat
menjadi masalah. Jawabannya ialah bahwa roket, bersama dengan bahan bakar dan
barang bawaannya, merupakan beban yang sangat berat. Semisal, tanggal 11 Februari
2000, pelepasan Space Shuttle Endeavor dengan Shuttle Radar Topography pada saat
peluncuran memiliki beban 4.520.415 pounds (2.050.447 kg). Tentu saja, dengan beban
seberat itu diperlukan sejumlah besar energi untuk mempercepat hingga 144 mph, dan
butuh bahan bakar yang sangat signifikan. Sementara, peluncuran melalui ekuator
sangatlah berbeda.
Pada saat roket telah mencapai lapisan udara yang sangat tipis, kira-kira pada
ketinggian 120 mil (193 km), sistem navigasi roket kemudian menyalakan roket-roket
kecil, yang cukup untuk menerbangkan kendaraan peluncur dalam posisi horisontal.
Kemudian satelit dikeluarkan. Pada saat itu, roket dinyalakan untuk memastikan
pemisahan antara kendaraan peluncur dengan satelit.

Ketinggian Dan Kecepatan Orbital


Sebuah roket harus mempunyai akselerasi hingga minimum 25.039 mph (40.320
kph) untuk melepaskan diri dari gravitasi bumi dan meluncur ke angkasa.
Kecepatan melepaskan diri dari bumi harus lebih besar daripada kecepatan yang
diperlukan saat pelepasan satelit di orbit. Jika dengan satelit, maka wahana terbang
tidak berupaya untuk melepaskan diri dari gravitasi bumi tetapi adalah untuk
menyeimbangkan kecepatan mengorbit (orbital velocity), yakni kecepatan yang
diperlukan untuk meningkatkan keseimbangan antara daya tarik gravitasi pada satelit
dan inersia dari gerakan satelit. Diperkirakan kecepatan orbital ini 17.000 mph (27.359
kph) pada ketinggian 150 mil (242 km). Tanpa gravitasi, inersia dari satelit akan
membawanya lepas jauh ke angkasa. Bahkan jika dengan gravitasi, jika kecepatan
satelit terlalu tinggi, maka ia juga akan terbang jauh. Di sisi lain, jika satelit terlalu
lambat, daya tarik gravitasi akan membawanya kembali ke bumi. Pada kecepatan orbital
tertentu, gravitasi akan menyeimbangkan gaya inersia dari satelit, menariknya kearah
pusat bumi sehingga cukup membuat kurva alur satelit seperti kurva bumi.
Kecepatan orbital satelit tergantung pada ketinggiannya diatas bumi. Makin
dekat ke bumi, makin besar kecepatan orbital yang diperlukan. Pada ketinggian 124 mil
(200km), kecepatan orbital adalah sekitar 17.000 mph (27.400 kph). Untuk menjaga
ketinggian orbit, yakni 22.223 mil (35.786 km) diatas bumi, satelit barus mengorbit pada
kecepatan kira-kira 7.000 mph (11.300 kph). Kecepatan orbit dan jarak tersebut
menjadikan satelit memiliki kemampuan untuk berputar dalam 24 jam. Ketika bumi
berputar 24 jam, satelit pada ketinggian 22.223 mil menetap pada ketinggian itu dan
secara relatif tepat berada pada satu titik diatas permukaan bumi. Nah, istilah yang
diberikan pada ketinggian satelit yang menetap pada posisi tersebut sepanjang waktu
adalah geostasioner (geostationary). Orbit geostasioner sangat cocok untuk satelit
cuaca dan satelit komunikasi.
Bulan, dengan ketinggian kira-kira 240.000 mil (384.400 km), memiliki kecepatan
kira-kira 2.300 mph (3.700 kph) dan mengorbit dalam 27,322 hari. (Coba perhatikan
bahwa kecepatan orbital bulan ternyata lebih lambat dibanding dengan satelit buatan, itu
terjadi karena bulan terletak lebih jauh).

Secara umum, makin tinggi orbit, maka makin lama satelit dapat tinggal di
orbitnya. Pada ketinggian yang lebih rendah, satelit akan menelusuri atmosfer bumi dan
hal ini menimbulkan tahanan/gesekan. Gesekan itu kemudian menimbulkan kerusakan
pada satelit hingga satelit kemudian jatuh ke dalam jebakan atmosfer dan terbakar
habis. Pada ketinggian yang lebih jauh, dimana ruang hampa udara berada, kita tidak
akan menemukan gesekan / tahanan dan satelit akan dapat berada di dalam orbitnya
selama berabad-abad (lihatlah bulan sebagai contoh).
Satelit berada dalam orbit yang berbentuk eliptikal. Stasiun pengendali bumi
bertugas mengendalikan motor roket kecil yang berfungsi untuk mengoreksi arah.
Tujuannya adalah agar orbit sebisa mungkin tetap berbentuk bundar. Bagaimana
caranya, yaitu dengan menyalakan roket ketika orbit berada di posisi apogee (titik
terjauh dari bumi) dan menyalakan mesin pendorong di arah perjalanan, maka perigee
(titik terdekat dengan bumi) akan menjauh. Hasilnya ialah berupa orbit yang tetap
bundar.

Apa yang sebenarnya terdapat di dalam satelit ?


Satelit sesungguhnya sama dalam bentuk dan ukuran dan memainkan beberapa peran
tertentu. Sebagai misal dapat dilihat beberapa contoh berikut :
o Satelit cuaca. Satelit ini membantu ahli meteorologi untuk meramalkan cuaca atau
melihat apa yang terjadi pada suatu waktu. Satelit jenis ini diantaranya TIROS,
COSMOS dan GOES. Mereka menyimpan kamera di dalam tubuhnya untuk dikirim ke
bumi, baik melalui posisi geostasioner maupun kutub orbit.
o Satelit komunikasi. Melayani transmisi telepon dan data. Satelit jenis ini misalnya
Telstar dan Intelset. Komponen terpentingnya adalah transponder—yakni sebuah radio
yang menerima percakapan dalam satu frekuensi, kemudian memperkuatnya serta
mentransmisikannya kembali ke bumi melalui frekuensi lain. Dalam sebuah satelit
komunikasi, terdapat ratusan hingga ribuan transponder, dan biasanya satelit ini
menggunakan geosynchronous.
o Satelit penyiaran. Ia menyairkan sinyal televisi dari satu titik ke titik lain (hampir mirip
dengan satelit komunikasi).
o Satelit sains. Mengemban bermacam tugas sains. Misal, Hubble Space Telescope
yang merupakan satelit sains terkenal.
o Satelit navigasi. Ia membantu kapal laut dan pesawat terbang dan yang laing dikenal
adalah satelit GPS NAVSTAR.
o Satelit penyelamatan. Membantu menangkap sinyal radio yang meminta pertolongan.
o Satelit observasi bumi. Ia mengobservasi planet bumi tentang segala perubahan,
misal cuaca, temperatur udara, wilayah hutan hingga lapisan es. LANDSAT merupakan
satelit terkenal dari jenis ini.
o Satelit militer. Mempunyai tugas atau misi rahasia, sehingga jenis informasinya pun
berbeda. Fungsinya antara lain : merelai komunikasi terenskripsi, monitoring nuklir,
mengobservasi pergerakan-pergerakan musuh, peringatan awal akan peluncuran rudak
oleh musuh, radar imaging, fotografi.
Walaupun terdapat perbedaan yang sangat signifikan dari satelit-satelit tersebut
diatas, ada beberapa hal yang sama secara umum :
o Semuanya terdiri dari kerangka dan badan dari metal atau komposit, yang
biasanya disebut hbush. Bus ini menjaga agar semua yang ada di dalamnya tetap
utuh selama dalam peluncuran dan ketika berada di angkasa luar.
o Mereka juga sumber tenaga (biasanya solar cell) dan baterai sebagai cadangan
dan penyimpan tenaga.
o Mereka juga dilengkapi dengan komputer untuk mengendalikan dan memonitor
sekian banyak sistem yang berbeda.
o Perlengkapan transmiter/receiver radio dan antena juga digunakan untuk
membantu pengawas di bumi untuk mendapatkan informasi dari satelit dan
memonitor kesehatannya. Banyak satelit dapat dikendalikan dari bumi dengan
banyak cara, dari merubah orbit hingga memprogram ulang sistem komputer.
o Ada juga perlengkapan sistem kendali letak (ACS, attitude control system), yang
berfungsi untuk menjaga arah satelit. Sebagai contoh, Hubble Space Telescope
memiliki sistem kendali yang dapat menjaga satelit pada posisi yang selalu sama
tiap hari tiap jam pada satu waktu. Sistemnya dilengkapi dengan gyroscope,
accelerometer, reaction wheel stabilization system, thrusters dan beberapa sensor
yang memperhatikan bintang-bintang sebagai penentu posisi.

Jenis-jenis orbit satelit


Ada 3 posisi dasar orbit, tergantung posisi relatif satelit terhadap bumi :
o Geostasioner (geostationary). Orbit ini juga dikenal sebagai geosynchronous atau
synchronous. Ketinggian orbit ini kira-kira 22.223 mil atau 1/10 jarak ke bulan. Jalur ini
juga dikenal sebagai tempat parkir satelit, sebab begitu banyak satelit, mulai dari satelit
cuaca, satelit komunikasi hingga satelit televisi. Akibatnya, posisi masing-masing harus
tepat agar tidak saling menginterferensi sinyal.
o Penerbangan Space Shuttle yang terjadwal, menggunakan yang lebih rendah yang
dikenal dengan asynchronous orbit, yang berada pada ketinggian rata-rata 400 mil (644
km).

Berikut detil dari orbit satelit :


o 80 – 1.200 mil (asynchronous orbits) : digunakan oleh satelit pengamat, yang biasanya
mengorbit pada 300 – 600 mil (480 – 970 km), berfungsi sebagai fotografer. Misalnya
satelit Landsat 7, ia bertugas untuk pemetaan, pergerakan es dan tanah, situasi
lingkungan (semisal menghilangnya hutan hujan tropis), lokasi deposit mineral hingga
masalah pertanian; satelit SAR (search-and-rescue) juga disini, dengan tugas
menyiarkan ulang sinyal-sinyal darurat dari kapal laut atau pesawat terbang yang dalam
bahaya; Teledesic, yaitu satelit yang di-backup sepenuhnya oleh Bill Gates, memberikan
layanan komunikasi broadband (high-speed), dengan sarana satelit yang mengorbit
pada ketinggian rendah (LEO, Low Earth Orbiting).
o 3.000 – 6.000 mil (asynchronous orbits) : digunakan oleh satelit sains, yang biasanya
berada pada ketinggian ini (4.800 – 9.700 km), dimana mereka mengirimkan data-data
ke bumi via sinyal radio telemetri. Satelit ini berfungsi untuk penelitian tanaman dan
hewan, ilmu bumi, seperti memonitor gunung berapi, mengawasi kehidupan liar,
astronomi (dengan IAS, infrared astronomy satellite) dan fisika.
o 6.000 – 12.000 mil (asynchoronous orbits) : satelit GPS menggunakan orbit ini untuk
membantu penentuan posisi yang tepat. Ia bisa digunakan untuk kepentingan militer
maupun ilmu pengetahuan.
o 22.223 mil (geostationary orbits) : digunakan oleh satelit cuaca, satelit televisi, satelit
komunikasi dan telepon.

Berikut ini adalah beberapa kemudahan yang kita rasakan dengan keberadaan satelit :
• Beberapa koran dan majalah menjadi lebih tepat waktu sebab mereka dapat
mengirimkan teks dan image yang dapat digandakan dalam pencetakan hanya dengan
mengirimkan mereka via satelit, dan dampaknya adalah distribusi pada tiap-tiap lokal
yang menjadi lebih cepat (kita di Indonesia mengenal dua koran nasional, Republika dan
Kompas, yang menggunakan fasilitas cetak jarak jauh ini).
• Kebanyakan taksi dan juga limousine, terkadang memanfaatkan GPS yang berbasis
satelit untuk lebih tepat menuju ke tujuan. Dan penggemar rally, tentu pernah
menyaksikan seorang peserta rally Paris Dakkar, dengan kendaraan motor roda 2,
nampak menggunakan layar penuntun di motornya agar tidak tersesat di gurun pasir.
Nah, ia pun memakai sistem GPS.
• Sinyal elektronik dari pesawat yang jatuh dan kapal yang hampir tenggelam dapat
dilacak oleh tim SAR ketika satelit merelay sinyal tersebut.
Nah, dalam kesempatan ini, kita akan coba melihat dan menjawab pertanyaan-
pertanyaan pada diri kita : bagaimana satelit beroperasi dan apa yang mereka lakukan,
apa saja yang ada dalam tubuhnya, mengetahui apa yang dimaksud dengan orbit,
mengapa untuk setiap orbit yang berbeda juga berarti satelit yang berbeda.

KOMPUTER
Kebanyakan orang mengenal sejarah komputer yang pertama kali dibuat adalah
ENIAC. Komputer ENIAC, yang merupakan komputer elektronik yang mempunyai bobot
seberat 30 ton, panjang 30 m dan tinggi 2.4 m dan membutuhkan daya listrik 174
kilowatts. Padahal komputer digital pertama sebenarnya adalah ABC (Atanasoff-Berry
Computer). Namun ketenarannya menjadi pudar setelah “diserobot” ENIAC.
Kemampuan komputer yang beragam ini mungkin tak pernah terbayangkan
sebelumnya, termasuk oleh sang empu yang membuatnya kali pertama. Adalah John
Vincent Atanasoff, pionir teknologi komputer digital yang hampir dilupakan orang.
Kepeloporan fisikawan Amerika Serikat ini pada teknologi komputer digital telah tertutup
oleh gegap gempitanya komputer raksasa ENIAC (Electronic Numerical Integrator and
Computer) di era Perang Dunia II.
John Vincent Atanasoff (1903-1995), lahir 4 Oktober 1903 di Hamilton, New
York, namun dibesarkan di Brewster, Florida. Sejak kecil Atanasoff telah menunjukkan
ketertarikannya pada matematika. Anak seorang insinyur listrik ini pun tak mengalami
banyak hambatan saat mereguk ilmu di bangku sekolah. Bahkan pendidikan
menengahnya (setara SMA) diselesaikannya dalam waktu dua tahun saja. Saat
menempuh studi doktornya, Atanasoff sering kali merasa buntu ketika harus menghitung
menggunakan kalkulator mekanik. Meski termasuk mesin hitung tercanggih di era itu,
Atanasoff merasa bahwa harus ada solusi lain untuk menggantikan kalkulator tersebut.
Pada 1936, Atanasoff berhasil membuat kalkulator analog. Alat ini dibuatnya
setelah mempelajari cara kerja kalkulator mekanik Monroe dan mengkanibalnya serta
menggabungkannya dengan tabung IBM. Alat hitung analog ini dapat bekerja baik.
Meski demikian, hal itu tak memuaskannya. Keterbatasan sistem mekanik dan analog
membuat Atanasoff berpikir untuk menggunakan pendekatan digital. Namun, ide ini
ternyata tak mudah dilaksanakan. Setelah hampir satu tahun mencoba
mengimplementasikan gagasannya, Atanasoff merasa menemukan jalan buntu.
Puncaknya terjadi saat musim dingin pada 1937. Atanasoff dan Berry segera
mewujudkan komputer impian mereka pada November 1939. Prototipe yang mereka
buat ternyata dapat bekerja.
Atanasoff menamakan mesin hitung digitalnya itu dengan ABC. Kependekan dari
Atanasoff-Berry Computer. Lebih dari sekadar dapat bekerja, ABC pun ternyata lebih
unggul dari mesin hitung lain yang ada saat itu. Ini dibuktikannya dengan mampu
menyelesaikan 29 persamaan linear secara bersamaan. Dibutuhkan waktu yang lebih
singkat untuk mendapatkan penyelesaiannya dari ABC dibanding mesin hitung lain.
Namun, bila dibandingkan komputer modern saat ini, ABC sangatlah "primitif''. Ia tak
dilengkapi dengan CPU (Central Processing Unit). ABC hanya menggunakan tabung
hampa (vacuum tube) untuk mempercepat proses kalkulasi. Salah satu hal dari ABC
yang tetap diterapkan pada komputer modern adalah pemisahan memori dari bagian
komputasi. Ini seperti halnya memori DRAM sekarang.

PENGARUH MEDIA ELEKTRONIK DAN SATELIT TERHADAP


KEADAAN SOSIAL BUDAYA POLITIK EKONOMI

PENGARUH TELEVISI DI INDONESIA


Teknologi komunikasi berupa televisi mempunyai dampak yang luar biasa dalam
proses perubahan sosial manusia modern, termasuk dalam proses transisi politik dari
otoriterisme kepada demokrasi. Berkat tabung gelas ajaib tersebut, fakta-fakta aktual
yang terjadi dapat dihadirkan sedemikian jelas, lengkap dengan cuplikan-cuplikan
peristiwa sebenarnya, hanya sesaat setelah kontak listrik dengan pesawat televisi
dilakukan. Ukuran screen televisi yang dimiliki tidak mengakibatkan perbedaan berarti.
Secara umum, media massa sendiri memang mempunyai pengaruh pada proses
sosial, karena ia merupakan alat par excellence untuk menyampaikan informasi
mengenai current affairs kepada jumlah populasi yang besar, dengan beragam tingkat
sosial, yang kerap menimbulkan emosi bersama dan mengarahkan perhatian pada
konteks yang seragam.
Dalam sejarah perkembangan media massa, nampak bahwa media massa
memainkan peranan penting membentuk pranata sosial baru ketika terjadi kemampatan
tradisionalisasi masyarakat. Pertama, revolusi mesin cetak memicu perkembangan
kapitalisme baru yang dikembangkan setelah revolusi industri. Produksi massal dan
distribusi politik ekonomi yang cukup penting bagi masyarakat pada waktu terdorong
dengan adanya media cetak, yang kebanyakan pada waktu diwujudkan dalam bentuk
surat kabar, sebagai sarana informasi perkembangan dinamika sosial masyarakat. Data
memperlihatkan bahwa perkembangan surat kabar pada abad XIX dapat dikatakan
sebagai hal yang menonjol, terutama bagi sejarah pers. Meski tidak tertutup
kemungkinan dampak surat kabar kontemporer di kemudian hari selalu berkutat pada
masalah profesionalisme dan sensasionalisme budaya.
Kedua, penemuan radio dan “kotak bicara” yang pada akhirnya disebut dengan
telepon mendorong perluasan sistem nilai sosial yang tidak lagi dibatasi dengan ruang
dan keterbatasan ruang. Ruang publik dan privat yang tadinya sangat terbatas menjadi
ditarik dalam batasan ruang yang lebih longgar. Ini berarti dampak radio dan telepon
tidak hanya berhenti pada soal relativisme ruang saja tapi juga pada soal relativisme
nilai masyarakat terhadap ruang dan waktu.
Ketiga, penemuan televisi yang didahului dengan penemuan telepon, telegraf,
fotografi dan rekaman suara telah membawa pada sensasi sosial yang tidak ditemukan
pada teknologi terdahulu. Sensasi sosial televisi ini pada waktu tertentu telah
mendorong perubahan yang dramatis pada sistem sosial masyarakat, termasuk di
dalamnya perubahan sosial politik yang dipunyai oleh sebuah masyarakat. Setidaknya
ada beberapa sensasi imaji sosial yang dibentuk oleh televisi, yaitu proses pembedaan
antara fakta dan imajinasi - isi televisi yang tidak lagi dibatasi oleh waktu - dimensi waktu
televisi yang semakin bisa mengakselerasi makna kekinian sebuah peristiwa sosial -
derajad objektivitas yang relatif tinggi - derajad intimitas televisi pada para audiensnya
dan kejelasan watak yang mau ditawarkan oleh televisi pada setiap tokoh yang diekspos
Media informasi audiovisual seperti televisi dapat dinikmati oleh jumlah pemirsa
yang secara teoritis dapat tidak terbatas (karena tidak terjebak oplah), praktis oleh
hampir semua kalangan, termasuk yang buta huruf, walaupun tingkat efektifitas dan
kedalaman pengaruhnya bisa saja berbeda-beda.
Namun letak kedahsyatan dampak televisi barangkali, seperti disinyalir Joshua
Myrowitz dalam bukunya No Sense of Place, adalah pada kemampuan televisi untuk
memasuki dan mengekspos 'halaman belakang' ('back region') yang sebelumnya tidak
diketahui. Dengan demikian televisi adalah juga alat 'transportasi' yang membawa
pemirsa ke tempat aktual terjadinya peristiwa dan oleh karena itu menyaksikannya
praktis secara langsung, meskipun raganya berada di tempat lain.
Dalam konteks reformasi, cuplikan peristiwa itu dapat berupa tendangan sepatu
lars aparat keamanan yang mengenai kepala mahasiswa yang tergeletak, api yang
membara membakar shopping malls, gelombang demonstrasi mahasiswa yang sangat
besar, atau cuma wajah kuyu Amien Rais yang menghimbau agar massa batal
mendatangi Monas yang sudah dibarikade ketat oleh tentara pada subuh 20 Mei.
Keberadaan televisi telah memungkinkan pemirsa memiliki akses terhadap setting sosial
politik yang sebelumnya ditutupi dari pandangan publik.
Dari aspek yang lebih teknis, kedahsyatan itu tentunya berkaitan erat dengan
teknik kamera yang menjadikan berita jauh lebih aktual, karena konteks yang
diberitakan langsung disajikan di depan publik, oleh presenter dan reporter kepada
pemirsa, lengkap dengan potongan-potongan peristiwa yang baru lalu terjadi. Praktis
tidak ada jurang waktu (time-gap) yang berarti: berita disuguhkan dan diterima secara
instan, dalam waktu yang sama (kecuali selisih relatif dalam hitungan detik), sehingga
pemirsa merasa jauh lebih terlibat dengan perkembangan peristiwa yang diberitakan
tersebut.
Televisi cenderung lebih sebagai media transitory, artinya lebih bersifat
meneruskan, kekurangannya tentu saja menyangkut ketidakpermanenan suguhan berita
itu sendiri, di samping adanya keterikatan pada jam tayang yang tertentu, yang oleh
sebab itu setelah acara usai tidak dapat dijadikan rujukan yang bisa diakses sewaktu-
waktu.
Adalah jelas bahwa sebagai medium komunikasi massa, media massa termasuk
televisi harus mampu menempatkan diri pada posisi yang tepat. Media massa memang
harus selalu mampu mendefinisikan situasi---terlebih-lebih jika situasi itu dapat
dikategorikan sebagai krisis---dan memutuskan apakah hal itu akan dikomunikasikan
kepada publik, sehingga yang semula tertutupi menjadi terekspos. Tentu saja di negara
dengan sistem politik demokratis yang efektif, keraguan untuk meraih momentum
pemberitaan tidak perlu ada, karena demokrasi itu mencakup kebebasan pers yang
menjamin perbedaan pendapat (dissent) sekalipun itu dengan pemerintah. Di negara
otoriter, situasi apapun yang bersifat politis adalah masalah yang biasanya berada di
wilayah tertutup (restricted zone) bagi media massa, terlebih-lebih televisi.
Seperti diketahui, rezim Orde Baru yang menganut pendekatan stabilitas dengan
pola yang sangat centralised selalu sangat alergi terhadap apa pun yang dapat
menggoyang stabilitas tersebut. Pemberitaan yang kritis, apalagi melalui televisi yang
memiliki jangkauan, target audience dan efek psikologis yang lebih impresif, sudah pasti
jauh panggang dari api. Oleh karena itu, yang kemudian terjadi adalah bahwa
komunikasi massa berubah menjadi monolog penguasa. Sementara media massa, yang
mestinya melakukan layanan publik dengan bersikap kritis, dengan terpaksa lebih
banyak menonjolkan fungsi hiburannya, itu pun tanpa ruang bagi political satire.
Kebijakan rezim Suharto terhadap media massa, khususnya televisi, tidak lebih
merupakan politik pencitraan secara negatif, dalam arti apabila kesan positif terhadap
sistem politik tidak mengena di hati publik, paling tidak citra negatifnya jangan sampai
tertampakkan.
Adanya ketegangan pada masa-masa krisis seperti reformasi politik kita,
memang menempatkan harapan yang lebih besar pada media televisi agar dapat lebih
berperan terutama karena kelebihan audiovisualnya yang menawarkan liputan situasi
aktual di lapangan
Dalam konteks yang mendasar, arti penting program berita televisi swasta
adalah peran sertanya dalam merekonstruksi lingkungan politik yang baru, yang relatif
lebih demokratis. Dalam era reformasi ini, dimana langkah menuju demokrasi yang
mapan masih diwarnai oleh tarik ulur antara kekuatan status-quo dan anti-satus quo,
media massa termasuk televisi tentunya perlu tetap awas dan siap berperan sebagai
wacana kritis bagi publik.
Demokrasi memang mensyaratkan kebebasan pers. Namun sebaliknya, guna
mendorong demokrasi baru agar terkonsolidasi dengan baik, peran media massa pun
adalah sentral. Masalahnya, bagaimanapun, media massa adalah benda mati tanpa
kekuatan sendiri, kecuali karena insan pers di belakangnya. Media massa itu sendiri,
seperti kata Leo Bogart, “baru akan bisa melayani demokrasi jika mereka yang
mengelolanya memiliki passionate responsibility untuk menciptakan dan
mempertahankannya”.
Dengan arti penting demikian itulah maka media massa juga dinilai merupakan
the Fourth Estate setelah trias politica: eksekutif, legislatif dan yudikatif; yakni dalam
perannya sebagai alat kontrol sosial. Bagi pakar lain, bahkan disebut bahwa news
media merupakan “the central nervous system of society" yang harus bertindak secara
bertanggung jawab dan konstruktif guna membantu publik untuk lebih memahami dan
mengembangkan demokrasi.
Adapun dari perspektif publik sendiri, yang dicari dari media berita baik cetak
maupun elektronik, pada intinya sederhana, yakni informasi aktual yang kritis, berani
dan terpercaya (reliable), karena itu berarti mengungkapkan apa sebenarnya terjadi.
Keragaman informasi budaya, sosial-ekonomi dan politik telah menjadi agenda
utama kebebasan media yang diwakili oleh televisi. Pada saat itu pula, dampak terpaan
televisi juga tidak bisa dipungkiri. Akibat positif dari televisi di Indonesia memperlihatkan
bahwa kualitas demokrasi dan pengembangan ranah publik yang sesuai dengan tradisi
demokrasi Indonesia didorong dalam bentuk pembelajaran visi sosial politik yang
rasional. Setidaknya televisi memberikan “pencerahan-pencerahan” yang signifikan bagi
pembangunan karakter berbangsa. Warga diperkenalkan dengan pola interaktif dalam
televisi sehingga peran warga mulai menampakkan wujudnya yang paling sehat dan
kritis. Tapi di lain pihak, televisi-televisi di Indonesia tidak bisa dipungkiri juga
memberikan pengaruh yang negatif bagi pembentukan karakter sosial yang
berkepribadian nasional. Pola hidup konsumer yang ditunjukkan dalam dunia sinetron
mengaburkan kebenaran soal fakta dan dunia impian, perluasan kultur populer yang
ditawarkan oleh sistem kapitalisme global dengan berbagai macam implikasinya, soal
pengaruh perilaku kekerasan dan seks bebas yang diekspos oleh televisi.
Untuk ke depan, televisi swasta umumnya sudah memiliki dasar untuk menjadi
televisi demokrasi, sekalipun nantinya demokrasi itu akan sangat dinamis yang konstan
diisi pro dan kontra. Sebagai penutup, program-program kritis memang telah merebut
hati publik Indonesia dan mendapat tempat sebagai televisi reformasi berkat laporan-
laporannya yang berani sejak awal penggelindingan proses reformasi. Lebih dari itu,
televisi sebetulnya telah berperan serta dalam pembentukan opini publik mengenai
urgensi penggantian sistem politik dari yang otoriter kepada yang demokrtis.
Memang pada intinya, otoriterisme selama 32 tahun pemerintahan Suharto itu
sendiri yang sudah tidak dapat lagi ditolerir, dan SCTV lewat program informasinya,
secara berani menggambarkan kebobrokan di lapangan, sesuatu yang kita 'tahu', tapi
baru kita lihat tersuguh di depan kita lewat televisi. Posisi SCTV yang berada didepan
juga sekaligus telah menandai era kebangkitan pers televisi yang menjalankan
fungsinya yang genuine.

Pengaruh Perkembangan TV Kabel bagi Indonesia


Melihat pesatnya perkembangan TV atau yang bergaya TV Kabel di Amerika ini tentu
akan juga mempengaruhi Indonesia. Contoh paling nyata adalah hadirnya Indovision di
Indonesia. Dulu, berapakah orang yang menyangka jika HBO, misalnya, akhirnya juga
dinikmati di Indonesia, atau di pedalaman Afrika? Setelah enam tahun dilayani oleh TV
swasta dengan sedikit produk lokal, lebih banyak produk asing, tentu sudah terang bagi
kita bahwa program-program dari "luar" akan terus memikat pemirsa Indonesia.
Beberapa tahun yang lalu, TV berwarna masih merupakan barang mahal seperti TV
hitam putih pada awalnya. Begitu juga peralatan seperti antena dan peralatan
penangkap siaran satelit. Kelak antena tersebut menjadi relatif mudah dan murah
sehingga siaran-siaran luar semakin mudah didapat. Pada saat itu bagaimanakah siaran
lokal kita dibuat dan ditonton? Sudah tentu persaingan akan semakin keras!
Sebelum Indovision, siaran dari Amerika itu (HBO, CNN, dan lain-lain) memang bisa
diterima melalui peralatan satelite receiver yang masuk dengan pesat ke Indonesia.
Hanya bedanya, pengguna harus pandai menggunakan peralatannya, kalau tidak
peralatannya akan berfungsi tidak maksimal. Dengan Indovision langkah-langkah untuk
menangkap siaran-siaran dari Amerika itu menjadi lebih mudah, meski harus membayar
secara teratur. Sementara itu siaran-siaran dari negeri-negeri lain seperti benua
Australia (yang kini juga mulai dijangkiti TV Kabel), Eropa, Asia masih menunggu
perusahaan seperti Indovision untuk dipancarluaskan di Indonesia.
Industri PPV di Amerika sedang mengarah kepada pengambilalihan perolehan untung
yang didapat dari rental film (video tape atau laser disc). Karena orang Amerika
membelanjakan $20 milyar setahun untuk rental film. Dengan teknologi yang terus
dikembangkan, pelanggan TV Kabel (jenis PPV) dapat memperoleh film-film yang
diingginkan hanya dari rumah, melalui kabel atau spektrum frekwensi radio (seperti
siaran TV biasa). Pelanggan tidak harus keluar rumah & mengembalikan film yang
sudah disaksikan. Quantum dari Time Warner di New York adalah perusahaan PPV
yang paling maju dalam teknologi ini.
Di Orlando, Florida, Time Warner telah mengembangkan PPV yang sangat innovative
sehingga bisa disebut sebagai Channelless TV atau on-demand TV. Pelanggan dapat
memilih program menu yang "tidak terbatas". Pelanggan dapat menonton program yang
diingginkannya dan pada jam berapa saja. Seperti diketahui, misalnya di Indonesia, jam
tertentu menjadi jam dengan penonton tertentu pula. Contohnya, pada sore hari antara
jam 17:00-18:00 penonton wanita lebih banyak dibanding dengan penonton pria.
Sehingga pada jam itu lebih banyak program yang ditujukan buat wanita. Dengan
Channelless TV ini penonton pria menjadi mungkin untuk memilih program yang
disukainya pada jam itu hanya dari satu station saja. Teknologi ini dimungkinkan berkat
kerjasama dengan perusahaan telephone US West yang telah menggunakan sebagian
besar kabelnya dengan fibre-optic.
Dampak sosial ekonomi :
15. banyak masyarakat yang sudah mendapatkan keuntungan berlangganan TV
kabel, yakni mendapat siaran langsung dari belahan dunia manapun
sehingga banyak warga masyarakat yang rela membayar mahal untuk
mendapatkan siaran dunia.
16. dampak positif sosialnya informasi dunia dan perkembangan dapat segera
kita ketahui sehingga kita tidak ketinggalan berita
17. dampak negatifnya, banyak juga tayangan-tayangan yang tidak cocok
dengan budaya timur di Indonesia seperti tayangan berbau porno dan berbau
kekerasan dapat disaksikan dengan bebas bahkan oleh anak-anak juga
18. semakin menjamurnya perusahaan-perusahaan penyedia layanan tv kabel di
Indonesia. Bahkan mereka dengan berani menawarkan paket-paket
berlangganan dengan harga bersaing.
19. berkurangnya minat masyarakat menikmati siaran TV biasa.

Dampak budaya politik :


20. budaya belahan dunia manapun diserap langsung melalui tayangan-
tayangan yang disiarkan bahkan yang tidak sesuai diserap hal ini
menimbulkan kecenderungan meniru bahkan melakukan sehingga terjadi
pergeseran budaya.
21. perkembangan politik belahan dunia lain dapat diketahui masyarakat
sehingga masyarakat tidak buta terhadap politik dan tata negara dan menjadi
lebih kritis terhadap pemerintah Indonesia.

Dampak Televisi Pada Anak


Di sepanjang kehidupannya, manusia melalui berbagai masa dan tahapan.
Tidak diragukan lagi, tidak ada satupun masa yang lebih manis dan indah seperti masa
yang dinikmati oleh anak-anak. Orang-orang dewasa senantiasa mengenang masa
kecil mereka dengan penuh rasa suka cita dan mereka akan menceritakan peristiwa dan
kenangan masa kecil itu dengan penuh semangat. Permainan, imajinasi, rasa ingin
tahu, dan ketiadaan beban hidup, membuat masa kanak-kanak menjadi manis dan
menarik buat semua orang. Namun, dewasa ini, para ahli psikologi dan sosial meyakini,
era kanak-kanak di dunia sedang berhadapan dengan keruntuhan dan akan tinggal
menjadi sejarah saja. Di masa yang akan datang, anak-anak di dunia tidak akan lagi
menikmati masa kanak-kanak yang manis, yang seharusnya menjadi masa terpenting
dalam membentuk kepribadian mereka.
Dewasa ini, media massa Barat, dengan program-programnya yang
memperlihatkan kerusakan moral dan kekerasannya, sedang merobohkan dinding yang
menjadi tembok pemisah antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Fenomena
seperti ini tidak hanya terjadi di Barat, namun juga di negara-negara lain karena
besarnya infiltrasi media Barat di berbagai penjuru dunia. Dengan kata lain, anak-anak
zaman kini dibebaskan untuk melihat apa yang seharusnya hanya ditonton oleh orang
dewasa dan hal ini dapat berdampak buruk bagi anak-anak itu.
Di antara berbagai media massa, televisi memainkan peran yang terbesar dalam
menyajikan informasi yang tidak layak dan terlalu dini bagi bagi anak-anak. Menurut
para pakar masalah media dan psikologi, di balik keunggulan yang dimilikinya, televisi
berpotensi besar dalam meninggalkan dampak negatif di tengah berbagai lapisan
masyarakat, khususnya anak-anak. Memang terdapat usaha untuk menggerakan para
orangtua agar mengarahkan anak-anak mereka supaya menonton program atau acara
yang dikhususkan untuk mereka saja, namun pada prakteknya, sedikit sekali orangtua
yang memperhatikan ini.
Menurut sebuah penelitian yang telah dilakukan di Amerika, banyak sekali anak-
anak yang menjadi pemirsa program-program televisi yang dikhususkan untuk orang
dewasa. Doktor Tabatabaei dalam mengomentari hal ini menyatakan, “Dewasa ini di
Barat, anak-anak dihadapkan dengan pembunuhan, kekerasan, penculikan,
penyanderaan, amoral dan asusila, keruntuhan moral, budaya dan sosial. Dampak dari
problema ini adalah timbulnya kekacauan dan kerusakan pada kepribadian anak-anak
dan akhirnya kepribadian kanak-kanak itu menjadi terhapus dan hilang sama sekali.”
Neil Postman dalam bukunya “The Disappearance of Childhood” (Lenyapnya
Masa Kanak-Kanak), menulis bahwa sejak tahun 1950, televisi di Amerika telah
menyiarkan program-program yang seragam dan anak-anak, sama seperti anggota
masyarakat lainnya, menjadi korban gelombang visual yang ditunjukkan televisi. Dengan
menekankan bahwa televisi telah memusnahkan dinding pemisah antara dunia kanak-
kanak dan dunia orang dewasa, Neil Postman menyebutkan tiga karakteristik televisi.
Pertama, pesan media ini dapat sampai kepada pemirsanya tanpa memerlukan
bimbingan atau petunjuk. Kedua, pesan itu sampai tanpa memerlukan pemikiran.
Ketiga, televisi tidak memberikan pemisahan bagi para pemirsanya, artinya siapa saja
dapat menyaksikan siaran televisi.
Ketiga karakteristik televisi ini akan berakibat baik bila pesan yang disampaikan
adalah pesan-pesan yang baik dan bermoral. Sebaliknya, akan menjadi bahaya besar
ketika televisi menyiarkan program-program yang bobrok dan amoral, seperti kekerasan
dan kriminalitas. Sayangnya, justru dewasa ini film-film yang disiarkan televisi umumnya
sarat dengan kekerasan dan kriminalitas. Para pemilik media ini demi menarik pemirsa
sebanyak mungkin, berlomba-lomba menayangkan kekerasan dan amoralitas yang lebih
banyak di layar televisi. Anak-anak yang masih suci dan tanpa dosa menjadi pihak yang
paling cepat terpengaruh oleh tayangan televisi dan mereka menganggap bahwa apa
yang disiarkan televisi adalah sebuah kebenaran.
Data statistik di AS menunjukkan bahwa tingkat kekerasan yang dilakukan anak-
anak semakin hari semakin meningkat. Antara tahun 1950 sehingga 1979, terjadi
peningkatan jumlah kejahatan berat yang dilakukan oleh anak-anak muda di bawah 15
tahun di AS, sebesar 110 kali lipat, yang berarti peningkatan sebesar 11 ribu persen.
Dewasa ini, banyak sekali anak-anak dan remaja di Amerika yang membawa senjata,
baik untuk menyerang orang lain atau untuk melindungi diri sendiri.
Anak-anak seharusnya dikenalkan kepada kekacauan dan ketidaktenteraman
kehidupan di dunia secara bertahap dan dengan bahasa yang khusus, agar mereka
mengenali kejahatan bukan untuk menirunya, melainkan untuk menghadapinya dan
melawannya. Cara yang tepat untuk pengenalan ini adalah melalui dongeng-dongeng
anak-anak yang menggunakan metode yang benar dan bahasa yang lembut. Namun
sayangnya, dongeng-dongeng anak-anak ini semakin menghilang dan digantikan oleh
film-film keras televisi dan permainan komputer.
Masalah lain yang seharusnya milik dunia dewasa, namun malah disiarkan oleh
televisi untuk semua orang, termasuk anak-anak, ialah masalah seksual. Gambaran
terburuk dari berbagai hubungan seksual disiarkan setiap hari di televisi, baik di Barat
maupun sebagian besar negara-negara Timur, dan anak-anak yang seharusnya masih
berada dalam dunia manis masa kanak-kanak, tiba-tiba dihadapkan dengan masalah
asusila atau pornografi. Dengan cara ini, anak-anak telah memasuki dunia dewasa
dalam bentuknya yang terburuk.
Mengenai salah satu dari dampak fenomena ini, Neil Postman menulis bahwa
kini di AS, manekin atau boneka pajangan dan model iklan termahal ialah anak-anak
perempuan berusia 12-13 tahun. Postman juga menambahkan bahwa rasa malu, harga
diri, dan sejenisnya telah kehilangan makna dan nilai. Selain itu, berbagai perusahaan
perdagangan, khususnya di Amerika, telah menyalahgunakan anak-anak kecil sebagai
komoditi seksual dan iklan dagang. Kita dapat menyaksikan dengan baik
penyalahgunaan anak-anak untuk menarik pemirsa dan konsumen dalam propaganda
televisi dan film-film Amerika.
Akibat mengenalkan masalah seksual secara mendadak dan terburu-buru
kepada anak-anak dan remaja, dewasa ini Barat berhadapan dengan apa yang disebut
sebagai “masa baligh dini”. Penggunaan narkotika dan alkohol juga turut menembus
dunia anak-anak dan remaja di Barat lewat propaganda televisi. Data statistik di AS
menunjukkan bahwa angka anak-anak dan dewasa yang mengkonsumi bahan narkotika
semakin membengkak. Neil Postman dalam bukunya menyebut data bahwa jumlah para
pelajar yang mengakui bahwa mereka mengkonsumsi alkohol dalam jumlah banyak
adalah 300 kali lipat dari para pelajar yang hanya mengkonsumsi dalam ukuran normal.
Anak-anak seperti ini bukan saja tidak akan mau menerima nasihat dari orangtua
mereka, bahkan juga tidak akan menghormati orangtua. Padahal, nasehat dan
pengarahan dari orang tua adalah sebuah masalah penting bagi anak-anak,
sebagaimana ditulis oleh Haddington berikut ini. “Salah satu elemen utama
penyempurnaan manusia dan perkembangan daya pilih mereka adalah rasa percaya diri
yang diberikan oleh orang dewasa kepada mereka sewaktu mereka masih kanak-kanak.
Rasa percaya diri anak-anak ini dapat membuat mereka mampu membedakan antara
kebenaran dan kejahatan, kebaikan dan kesalahan, serta keindahan dan keburukan.
Mereka akan memiliki kemampuan untuk menyingkirkan segala bentuk penyimpangan
moral dan menyediakan kehidupan yang aman dan membahagiakan buat dirinya dan
keluarganya.”
Menimbang segala fakta di atas, pemerintah di berbagai negara hendaknya
sadar untuk mengatur industri televisi agar dapat memainkan peran positif dan
konstruktif bagi anak-anak dalam meningkatkan kepribadian mereka, demi terciptanya
generasi yang sehat dan bangsa yang maju.