You are on page 1of 15

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Indonesia adalah negara yang mempunyai banyak kebudayaan ragam dan


corak disetiap daerahnya hal ini yang menyebabkan adanya keanekaragaman
budaya yang sangat signifikan seperti halnya cara upacara hari besar religius.
Tata cara perkawinan, khitanan dan seluruh kebudayaan yang berhubungan
dengan adat kebiasaan. Berbeda - beda karena sejarah perkembangan budayanya
dari zaman Melayu Polinesia, pergaulan hidup tempat kediaman dan lingkungan
alamnya berbeda. Ada yang dipengaruhi dengan tradisi polinesia, ada yang lebih
banyak dipengaruhi oleh agama Hindu, Islam, Kristen.

Namun demikian walaupun disana – sini berbeda beda, tetapi dikarenakan


rumpun asalnya melayu purba, meskipun berbeda - beda tapi dapat ditarik
persamaan dalam hal- hal pokok. Hampir disemua daerah indonesia
menempatkan masalah sebagai urusan keluarga dan masyarakat dan semata mata
urusan pribadi yang melakukan perkawinan itu saja.

Zaman semakin modern, kaitan dengan hal ini terjadi banyak polemik
yang menjadi pertentangan dalam hal perkawinan yaitu dalam hal perkawinan
beda agama. Kalau kita memperhatikan kenyataan yang ada di Indonesia
perkawinan yang melibatkan dua agama ini menjadi sebuah yang lumrah di
Indonesia, meskipun masih ada yang mempertentangkannya, misal dalam ajaran
agama itu sendiri yang sudah jelas melaranganya. Sedangkan Indonesia sendiri
yang mempunyai dasar negara yaitu salah satunya dalam butir yang pertama
“Ketuhanan Yang Maha Esa”. Jadi, setiap manusia yang mempunyai kepercayaan
pada agama yang diyakininya, harus mentaati segala hal yang diperintahkan dan
dilarangnya.

1
Hukum perkawinan sudah diatur di Indonesia yaitu di Undang – undang
(UU) NO.1 tahun 1974, disana ada beberapa pasal yang menyinggung tentang
perkawinan beda agama yaitu pada pasal 2 ( “perkawinan adalah sah apabila
dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu” ).
Inilah yang menjadi dasar bahwa perkawinan beda agama melanggar undang
-undang di Indonesia.

2. PERUMUSAN MASALAH
Dalam Penulisan Makalah ini timbul suatu masalah yang dirumuskan
dalam pertanyaan pertanyaan berikut :
1. Apa Definisi perkawinan ?
2. Bagaimasna Sudut pandang perkawinan menurut agama, hukum, dan
adat ?
3. Apa dasar hukum yang mengatur perkawinan perkawinan beda agama ?
4. Bagaimana perkawinan beda agama yang timbul di Indonesia ?
5. Apa saja dampak perkawinan beda agama ?
6. Upaya yang harus Pemerintah lakukan dalam menyikapi perkawinan beda
agama ?

2
BAB II
PEMBAHASAN
1) Definisi Perkawinan
Perkawinan adalah salah satu bentuk ibadah yang kesuciannya
perlu dijaga oleh kedua belah pihak baik suami maupun isteri. Perkawinan
bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia sejahtera dan kekal
selamanya. Perkawinan memerlukan kematangan dan perisapan fisik dan mental
karena menikah / kawin adalah sesuatu yang sakral dan dapat menentukan jalan
hidup seseorang.
Perkawinan dianggap sah apabila dilakukan menurut hukum perkawinan masing-
masing agama dan kepercayaan serta tercatat oleh lembaga yang berwenang
menurrut perundang-undangan yang berlaku.
Sedangkan menurut pasal 1 KUH Perdata “Pekawinan ialah ikatan lahir batin
antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan
membentuk keluarga ( rumah tangga ) yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Dasar dan Tujuan Pernikahan Menurut Agama Islam :
A. Dasar Hukum Agama Pernikahan atau Perkawinan ( Q.S. 24-An Nuur:32)
“Dan kawinlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan mereka
yang berpekerti baik. Termasuk hamba-hamba sahayamu yang
perempuan.”
B. Tujuan Pernikahan atau Perkawinan ( Q.S. 30-An Ruum:21 )
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaaNya ialah Dia menciptakan untukmu
pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu bena - benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berfikir”.
Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 pengertian “Perkawinan
adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita
sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga ( rumah tangga )
yang bahagia dan kekal berdasakan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

3
2) Perkawinan Dari Berbagai Sudut Pandang
2.1 Sudut Pandang Menurut Agama
Dalam masalah perkawinan, Islam telah berbicara banyak. Dari mulai bagaimana
mencari kriteria bakal calon pendamping hidup, hingga bagaimana
memperlakukannya kala resmi menjadi sang penyejuk hati. Islam menuntunnya.
Begitu pula Islam mengajarkan bagaimana mewujudkan sebuah pesta perkawinan
yang meriah, namun tetap mendapatkan berkah dan tidak melanggar tuntunan
sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula dengan perkawinan
yang sederhana namun tetap penuh dengan pesona. Islam mengajarkannya. Nikah
merupakan jalan yang paling bermanfa’at dan paling afdhal dalam upaya
merealisasikan dan menjaga kehormatan, karena dengan nikah inilah seseorang
bisa terjaga dirinya dari apa yang diharamkan Allah. Oleh sebab itulah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong untuk mempercepat nikah,
mempermudah jalan untuknya dan memberantas kendala-kendalanya. Nikah
merupakan jalan fitrah yang bisa menuntaskan gejolak biologis dalam diri
manusia, demi menganka cita-cita luhur yang kemudian dari persilangan syar’i
tersebut sepasang suami isteri semarak.
Melalui risalah singkat ini, anda diajak untuk bisa mempelajari dan menyelami
cara perkawinan Islam yang begitu agung nan penuh nuansa. Anda akan diajak
untuk meninggalkan tradisi-tradisi masa lalu yang penuh dengan upacara-upacara
dan adat istiadat yang bekepanjangan dan melelahkan.
2.2 Sudut Pandang Perkawinan Hukum di Indonesia
Perkawinan dilakukan untuk memberikan legalitas atau memberikan
perlindungan serta kepastian hukum apabila hal tersebut diatas dilakukan dengan
mendasarkan pada aturan yang ada, aturan yang dimaksud tentunya yang berlaku
pada wilayah atau yuridiksi tertentu.
Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang
wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga ( rumah tangga )
yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, pengertian
tersebutlah yang membedakan antara perikatan atau perjanjian dalam perkawinan
dengan perikatan atau perjanjian pada umumnya atau perikatan perdata yang
hanya menjangkau perikatan secara lahir saja.

4
Hukum positif di Indonesia atau hukum yang berlaku di Indonesia telah
memberikan batasan secara”LEX SPECIALE” atau secara khusus mengenai
perkawinan tersebut yakni melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan yang dikuatkan dengan Kompilasi Hukum Islam.
Seperti kita ketahui bahwa suatu aturan ataupun hukum yang berlaku di
Indonesia maupun beberapa Negara lain bersifat tidak hanya menjangkau legalitas
formal saja atau pengesahan saja tetapi juga menganut pertimbangan moral,
sosial, plotis, dan historis, sosiologis, dan yuridis. Lalu bagaimana hukum di
Indonesia mengatur mengenai perkawinan, khususnya mengenai perkawinan yang
dilakukan oleh para pihak yang masih dibawah umur atau belum dewasa.
Terlebih dahulu mari kita lihat salah satu syarat-syarat sahnya suatu
perkawinan berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang
perkawinan. Pasal 6 ayat (2) : “Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang
belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang tua.”
Pasal 7 ayat (1 ) jo pasal 15 Kompilasi Hukum Islam, perkawinan hanya diizinkan
jka pria sudah berusia 19 tahun dan pihak wanita berusia 16 tahun.
Penyimpangan terhadap ketentuan diatas dapat meminta dispensasi kepada
pengadilan agama atau pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak
wanita maupun laki-laki, berdasarkan ketentuan beberapa pasal diatas kita ketahui
seorang baru dapat dikatakan siap untuk melakukan perkawinan jika pria berusia
19 tahun dan wanita 16 tahun, hal ini tidaklah lain bertujuan untuk menjaga
kesehatan suami isteri dan keturunan perlu ditetapkan batas umur untuk
melangsungkan perkawinan.
(penjelasan Undang-Undang No 1 tahun 1974)
Pengertian sehat yang dianut oleh UU Nomor 1 tahun 1974 mengandung
pengertian sehat secara LAHIR MAUPUN BATIN, berprinsip bahwa suami isteri
telah masak ( matang ) jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan agar
dapat mewujudkan tujuan perkawinan yang baik. Baik yang dimaksud tentunya
masing-masing pihak masih belum cakap atau dewasa. Untuk itulah sebisa
mungkin harus dicegah adanya perkawinan antara calon suami dan calon isteri
yang belum dewasa, batas umur yang rendah untuk melangsungkan perkawinan
akan menakibatkan laju kelahiran yang tinggi.

5
Mengenai batas usia seorang dikatakan dewasa juga diatur dalam Undang-
Undang Nomor 23 tahun 2003 tentang perlindungan anak, yakni dalam pasal satu
ayat (1) “Anak adalah seorang yang belum berusia 18 tahun.” Namun Undang-
Undang Nomor 23 tahun 2002 lebih memfokuskan pada ekploitasi anak, sehingga
keterkitan antara UU perkawinan dan UU perlindungan anak, adalah bahwa
perkawinan pada usia dibawah umur merupakan ekploitasi anak apabila
dilaksanakan dengan tidak mengindahkan ketentuan yang diatur dalam Undang-
Undang maupun peraturan pelaksana lainnya.
Sebagaimana disebut diatas perkawinan dibawah umur hanya dapat
dilakukan melalui despensasi yang diberikan oleh pengadilan ( Pengadilan Agama
), atau pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua para pihak, tentunya
dengan memperhatikan pertimbangan nilai sosial, kesehatan dan perkembangan
psikologis anak.
Akan tetapi ada baiknya jika sebelum hal tersebut diatas dilakukan
hendaknya kita khususnya para orang tua lebih bijak untuk mempertimbangkan
antara manfaat dan mudharatnya, tidak hanya pada pertimbangan untung rugi saja,
apalagi hanya didasari leh faktor keputusasaan semata, sehingga dalam hal ini
masa depan anak, kesehatan baik lahir maupun batin, tidak kita pertaruhkan. Hal
tersebut sangat beralasan sebab suatu perikatan perkawinan akan melahirkan
tanggung jawab baru yang lebih besar bagi para pihak.
2.3 Sudut Pandang Perkawinan Menurut Adat
Dalam hukum adat perkawinan itu bukan hanya merupakan peristiwa
penting bagi mereka yang masih hidup saja. Tetapi perkawinan juga merupakan
peristiwa yang sangat berarti serta yang sepenhnya mendapat perhatian dan diikuti
oleh arwah-arwah para leluhur kedua belah pihak. Dan dari arwah-arwah inilah
kedua belah pihak beserta seluruh keluarganya mengharapkan juga restunya bagi
mempelai berdua, hingga mereka ini setelah menikah mengharapkan juga
restunya bagi mempelai berdua, hingga mereka ini setelah menikah selanjutnya
dapat hidup rukun bahagia sebagai suami isteri sampai “kaken-kaken ninen-
ninen” ( istilah jawa yang berarti sampai sang suami menjadi kaki-kaki dan sang
isteri menjadi nini-nini yang bercucu-cicit ).

6
Oleh karena perkawinan mempunyai arti yang sangat penting, maka
pelaksanaannya senantiasa dimulai dan seterusnya diserti dengan berbagai-bagai
upacara lengkap dengan “sesajen-sesajennya”.
Ini semua barang kali dapat dinamakan takhayul, tetapi ternyata sampai sekarang
hal - hal itu masih sangat meresap pada kepercayaan sebagian besar rakyat
Indonesia dan oleh karenanya juga masih tetap dilakukan dimana - mana.
Azas-Azas Perkawinan Menurut Adat
Perkawinan menurut hukum adat tidak semata - mata berarti suatu ikatan
antara seorang pria dengan wanita sebagai suami - isteri untuk maksud
mendapatkan keturunan dan membangun serta membina kehidupan keluarga
rumah tangga, tetapi juga berarti suatu hubungan hukum yang menyangkut para
anggota kerabat dari pihak isteri dan dari pihak suami. Terjadinya perkawinan,
berarti berlakunya ikatan kekerabatan untuk dapat saling membantu dan
menunjang hubungan kekerabatan yang rukun dan damai.
Dengan terjadi perkawinan, maka diharapkan agar dari perkawinan itu
didapat keturunan yang akan menjadi penerus silsilah orang tua dan kerabat,
menurut garis ayah atau ibu ataupun garis orang tua. Adanya silsilah yang
menggambarkan kedudukan seseorang sebagai anggota kerabat, adalah
merupakan barometer dari asal-usul keturunan seseorang yang baik dan teratur.
Jika dari suatu perkawinan tidak dapat keturunan, maka keluarga itu
dianggap “putus keturunan”. Apabila dari seorang istri tidak dapat keturunan
maka para anggota kerabat dapat mendesak agar si suami mencari wanita lain atau
mengangkat anak kemenakan dari anggota kerabat untuk menjadi penerus
kehidupan keluarga bersangkutan.
Selanjutnya sehubungan dengan azas-azas perkawinan yang dianut oleh Undang-
Undang No. 1 tahun 1974, maka azas-azas perkawinan menurut hukum adat
adalah sebagai dibawah ini :
A. Perkawinan bertujuan membentuk keluarga rumah tangga dan hubungan
kekerabataan yang rukun dan damai, bahagia dan kekal.
B. Perkawinan tidak saja harus sah dilaksanakan menurut hukum agama dan
atau kepercayaan, tetapi juga harus mendapat pengakuan dari para anggota
kerabat.

7
C. Perkawinan dapat dilakukan oleh seorang pria dengan beberapa wanita
sebagai isteri yang kedudukan masing-masing ditentukan menurut hukum
adat setempat.
D. Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan orang tua dan anggota
kerabat. Masyarakat adat dapat menolak kedudukan suami atau isteri yang
tidak diakui masyarakat adat.
E. Perkawinan dapat dilakukan oleh pria dan wanita yang belum cukup umur
atau masih anak-anak. Begitu pula walaupun sudah cukup umur
perkawinan harus berdasarkan ijin orang tua atau keluarga dan kerabat.
F. Perceraian ada yang dibolehkan dan ada yang tidak dibolehkan. Perceraian
antara suami dan isteri dapat berakibatkan pecahnya hubungan
kekerabatan antara dua pihak.
G. Keseimbangan kedudukan antara suami dan isteri-isteri berdasarkan
ketentuan hukum adat yang berlaku, ada isteri yang berkedudukan sebagai
ibu rumah tangga dan ada isteri yang bukan ibu rumah tangga.

Dengan telah berlakunya Undang-Undang No. 1 tahun1974 diharapkan agar


masyarakat adat akan dapat menyesuaikan hukum adatnya dengan Undang-
Undang tersebut. Tetapi sejauh mana masyarakat akan dapat menyesuaikan
dirinya tergantung dari pada perkembangan masyarakat adat itu sendiri, dan
kesadaran hukumnya. Oleh karena apa yang menjadi jiwa dari perundang-
undangan belum tentu sesuai dengan alam pikiran masyarakat. Misalnya saja
Undang-Undang menyatakan bahwa tujuan perkawinan adalah untuk membentuk
keluarga yang bahagia, kekal dan sejahtera. Disini letak perbedaan antara rumah
tangga modern dan rumah tangga adat, rumah tangga modern cenderung
mementingkan kepentingan perseorangan dan kebendaan, sedangkan rumah
tangga adat ingin mempertahankan kepentingan kekerabatan dan kerukunan.

3. Dasar Hukum Perkawinan Di Indonesia


Dalam Sebuah perkawinan di Indoensia terdapat dasar - dasar hukum yang
melandasi sah tidaknya suatu perkawinan yang pertama harus diketahui adalah

8
terntang perkawinan itu sendiri sesuai dengan yang tercantum dalam pasal 1 UU
NO.1 1974 tentang perkawinan.
Selanjutnya hukum yang berlaku di indonesia tentang sah tidaknya
perkawinan biasanya dilakukan menurut hukum masing - masing agamanya dan
kepercayaan yang berlaku ( pasal 2 ayat 1 UU perkawinan 1974).
Selain itu untuk mencapai sahnya sebuah perkawinan, perkawinan tersebut
harus dicatat dihadapan dan dibawah pegawai pencatat nikah sesuai dengan pasal
5 dan 6 Keputusan Menteri Agama RI no. 154 1991 dan juga harus memenuhi
syarat - syarat perkawinan.
Dan apabila terjadi perkawinan campuran maka akan berlaku pasal 57 UU
perkawinan.
Selain menurut UU perkawinan yang dibuat oleh pemerintah dasar hukum
perkawinan juga mengikuti hukum adat yang berlaku, karena perkawinan tidak
dapat dilepaskan dari dasar susunan dan masyarakatnya yang bersangkutan karena
biasanya masyarakat kebapaan, keibuan, keibubapaan mempunyai pola hukum
sendiri - sendiri
Oleh karena itu untuk melakukan suatu perkawinan setiap pihak harus
saling mengerti dan menghormati adat istiadat yang berlaku jika perkawinan
yang terjadi terdapat perbedaan adat atau suku.

4. Perkawinan Beda Agama yang Ada Di Indonesia


Adalah sebuah hal yang polemik di Indonesia dalam mengenai kasus ini.
Misalkan saja seperti kasus dibawah ini.
Bimo adalah seorang pelaku pernikahan beda agama. Bimo menganut agama
Katholik sedangkan istrinya beragama islam dan berjilbab. Pada awalnya Bimo
memiliki kendala dari pihak keluarga istrinya pada saat melamar. Calon
mertuanya meminta kepada Bimo apabila ingin menikah harus masuk Islam
terlebih dahulu, dan pada saat itu juga Bimo sangat bingung. Dengan argumen
yang sangat serius akhirnya Bimo manemukan jalan keluarnya, yaitu mereka tetap
menganut agama masing-masing.
Pada saat mendaftar di catatan sipil, ia tidak mengalami kesulitan karena
menikah dengan dua cara, yaitu menikah dengan cara Katholik di gereja karena

9
memiliki dispensasi untuk istrinya yang beragama Islam kemudian menikah
dengan cara Islam.
Apabila dilihat dari hukum positif negara, memang tidak mengizinkan
pernikahan berbeda agama, tetapi dalam praktiknya masih sering terjadi. Dan
banyak yang melakukan pernikahan di luar negeri.
Kendala kedua yaitu masalah anak, yaitu status agama si anak karena orang
tuanya berbeda agama. Dalam kasus yang dialami Bimo ini dari awal Bimo dan
istrinya mempunyai kesepakatan bersama yaitu menyerahkan semua keputusan
kepada anaknya untuk memilih agama yang akan dianutnya. Dan anaknya
memilih agama yang dianut ibunya.
Dalam undang-undang tidak diatur tentang perkawinan beda agama, tetapi
dalam UU NO. 1 Tahun 1974 memberikan pengertian tentang perkawinan yaitu “
Ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri
dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal
berdasarkan keTuhanan Yang Maha Esa”. Berarti dituntut bila akan melaksanakan
perkawinan harus didasarkan ikatan lahir dan batin.
Sedangkan dalam pasal 2 UU Perkawinan No.1 Tahun 1974, “Perkawinan
adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan
kepercayaannya itu”. Artinya pihak yang akan kawin menganut agama yang sama.
Jika kedua-duanya itu berlainan agama, menurut UU Perkawinan dan peraturan-
peraturan pelaksanaannya, maka perkawinan tidak dapat dilangsungkan kecuali
apabila salah satunya menganut agama pihak lainnya.

5. Dampak dari Perkawinan Beda Agama


Pada umumnya menurut hukum agama perkawinan adalah perbuatan yang
suci (sakramen, samskara), yaitu suatu perikatan antara dua pihak dalam
memenuhi perintah dan anjuran Tuhan Yang Maha Esa, agar kehidupan
berkeluarga dan berumah tangga serta berkerabat tetangga berjalan dengan baik
sesuai dengan ajaran agama masing-masing. Jadi perkawinan dilihat dari segi
keagamaan adalah suatu perikatan ‘jasmani dan rohani’ yang membawa akibat
hukum terhadap agama yang dianut kedua calon mempelai beserta keluarga
kerabatnya. Hukum agama telah menetapkan kedudukan manusia dengan iman

10
dan taqwanya, apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak seharusnya
dilakukan (dilarang). Oleh karenanya pada dasarnya setiap agama tidak
membenarkan perkawinan yang berlangsung tidak seagama.
Di masa lampau perkawinan antara pria dan wanita, dimana yang satu
menganut ajaran Islam modern ( Muhammadiyah ) sedang yang lain menganut
ajaran Islam lama ( Nahdatul Ulama ) seringkali menimbulkan perselisihan atau
ketidakseimbangan dalam kehidupan keluarga / kerabat ataupun juga tetangga.
Misalnya menyangkut upacara kematian, dimana ajaran Muhammadiyah tidak
membenarkan adanya upacara sedekah kematian, tiga hari, tujuh hari, empat
puluh hari, seratus hari, sedangkan ajaran Islam lama yang sudah membudaya di
kalangan masyarakat pedesaan melaksanakannya. Dikarenakan perbedaan
pendapat ini kerukunan kekerabatan dan ketetanggaan sering terganggu.
Perbedaan pendapat soal furu’ khilafiah dalam Islam itu di masa orde baru
berangsur-angsur sirna dan kini dapat dikatakan sudah hilang.
Di kalangan masyarakat Hindu Bali sekarang dapat dikatakan timbulnya
perselisihan karena perbedaan martabat adat sudah tidak berarti, namun
barangkali dapat terjadi perselisihan dikarenakan suami yang mengikat
pekawinaan ‘nyentane’ di mana setelah kawin mengikuti kedudukan di tempat
isteri sebagai penerus keturunan pihak mertua ternyata tidak mentaati pejanjian
kawinnya semula. Misalnya ternyata suami yang nyentane itu masih tetap
melakukan persembahan terhadap roh leluhur bapak yang melahirkannya dan
tidak melakukan dan tidak melakukan persembahan terhadap leluhur mertuanya
yang lelaki.
Penyelesaian gangguan keseimbangan dalam keluarga rumah tangga
dikarenakan pelanggaran nyentane mungkin tidak sulit diatasi, tetapi lain halnya
dengan akibat perkawinan campuran antara agama yang berbeda, dikarenakan
suami isteri masing-masing mempertahankan agama yang dianut masing-masing.
Apa yang sering terjadi dalam kenyataan ialah menyimpang dari maksud
ketentuan dalam UU Nomor 1 tahun 1974 pasal 2 (1) yang menggariskan bahwa
perkawinan yang sah adalah perkawinan yang dilakukan menurut hukum masing-
masing agamanya dan kepercayaannya itu. Ternyata yang dilakukan adalah

11
penyimpangan atau penyelundupan hukum. Hal mana dapat dilihat dari kenyataan
yang berlaku dalam masyarakat, dan sesungguhnya perkawinan itu tidak sah.
Misalnya pria beragama Islam kawin dengan wanita beragama Kristen,
dilakukan di gereja dengan pemberkatan pendeta, memenuhi kehendak calon isteri
dan keluuarganya, tetapi hati nuraninya tetap mempertahankan Islam. Jadi apa
yang tersurat berbeda dari yang tersirat. Perbuatan seperti ini namanya
memperkosa diri dan keluarga yang dapat menimbulkan akibat buruk di kemudian
hari. Hendaknya diusahakan agar calon isteri mau masuk Islam dengan iman
taqwanya, atau sebaliknya si calon isteri mau masuk Islam dengan iman
taqwanya, atau sebaliknya si calon suami memasuki Kristen dengan sepenuhnya.
Cara lain yang berlaku misalnya pria beragama Hindu kawin dengan wanita
beragama Islam dilakukan di tempat kediaman calon isteri yang beragama Islam
dilakukan di tempat kediaman calon isteri yang beragama Islam dan memenuhi
keinginan keluarga Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, tetapi
kemudian dilakukan lain perkawinan menurut tata cara agama Hindu bertempat di
pihak keluarga pria beragama Hindu dan perkawinan yang pertama secara Islam
dibatalkan, dikarenakan agama Hindu melarang perkawinan di luar agama Hindu.
Cara yang begini ini juga tidak baik dan dapat menimbulkan akibat buruk dalam
keluarga rumah tangga.
Cara yang lain lagi, ialah misalnya pria beragama Islam kawin dengan
wanita beragama Katolik, di mana orang tua wanita beragama Budha /
Konghucu, lalu terakhir secara Katolik. Nah, kesemuanya dianggap telah
memenuhi ketentuan berdasarkan pasal 2 (1) UU Nomor 1 tahun 1974, yaitu
menurut hukum agamanya masing-masing. Menurut penulis cara inipun tidak baik
dan tidak sah karena bertentangan dengan ajaran agama dan bertentangan dengan
UU Nomor 1 tahun 1974. Di samping itu keluarga / rumah tangga yang terbentuk
dengan cara perkawinan begitu dapat merugikan dan mengganggu keseimbangan
kehidupan selanjutnya. Jika mendapatkan keturunan, maka anak akan dibawa
kemana, ke kelenteng, ke gereja ataukah ke masjid ataukah tidak ke mana-mana?
Di Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila tidak ada tempat untuk
warganya yang atheis.

12
5.1 Pemasalahan yang timbul akibat perkawinan agama
1. Keabsahan Perkawinan
Mengenai sahnya perkawinan yang dlakukan sesuai agama dan
kepercayaannya yang diatur dalam pasal 2 ayat (1) UUP. Hal ini berarti UUP
menyerahkan keputusannya sesuai dengan ajaran dari agamanya masing-masing.
Tapi permasalahannya apakah agama yang dianut oleh masing-masing pihak
tersebut membolehkan untuk perkawinan beda agama. Misalnya, dalam ajaran
islam wanita tidak boleh menikahi laki-laki yang bukan Islam (Al Baqarah
(2):221). Dalam ajaran Kristen juga perkawinan beda agama dilarang. (1 Korintus
6:14-18).
2. Pencatatan Perkawinan
Bila perkawinanan beda agama tersebut dilakukan oleh orang beragama
Islam dan Kristen, maka terjadi permasalahan pencatatan perkawinan. Apakah di
KUA atau Kantor Catatan Sipil oleh karena ketentuan pencatatan perkawinan
untuk agama Islam dan di luar agama Islam berbeda. Bila ternyata pencatatan
perkawinan beda agama dilakukan di Kantor Catatan Sipil, maka akan dilakukan
pemeriksaan dahulu apakah perkawinan beda agama ersebut memenuhi ketentuan
dalam pasal 2 UUP tentang syarat sahnya suatu perkawinan. Bila pegawai
pencatat perkawinan berpendapat bahwa terhadap perkawinan tersebut ada
larangan menurut UUP maka ia dapat menolak untuk melakukan pencatatan
perkawinan ( pasal 21 ayat (1) UUP ).
3. Status Anak
Bila pencatatan perkawinan beda agama tersebut ditolak maka hal itu juga
memiliki akibat hukum terhadap status anak yang terlahir dalam perkawinan.
Menurut ketentuan pasal 42 UUP, anak yang sah adalah anak yang dilahirkan
dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Oleh karena tidak dilakukannya
pencatatan perkawinan, maka menurut hukum anak tersebut bukan anak yang sah
dan hanya memiliki hubungan perdata dengan ibunya atau keluarga ibunya ( pasal
2 (2) jo. Pasal 43 ayat (1) UUP ).
4. Perkawinan beda agama yang dilakukan di Luar Negeri
Perkawinan beda agama tidak bisa dilakukan di Indonesia, tetapi bisa
dilakukan di negara yang membolehkan dan punya hubungan diplomatik dengan

13
Indonesia. Maka dalam kurun waktu 1 tahun setelah suami isteri itu
melangsungkan pernikahan dan kembali ke wilayah Indonesia meeka harus
mendaftarkan surat bukti perkawinan mereka ke kantor Pencatatan Perkawinan
tempat tinggal mereka ( pasal 56 ayat (2) UUP ). Permasalahan yang timbul akan
sama seperti halnya yang dijelaskan dalam poin dua. Meski tidak sah menurut
hukum Indonesia, bisa terjadi catatan sipil tetap menerima pendaftaan perkawinan
tersebut. Pencatatan disini bukan dalam konteks sah tidaknya perkawinan, tetapi
sekedar pelaporan administratif.

6. Upaya Yang Harus Pemerintah Lakukan Dalam Menyikapi


Perkawinan Beda Agama
Pemerintah sangat berperan untuk mengahadapi perkara ini karena itu
harus ada upaya – upaya pemerintah supaya adanya kesadaran dari masyarakat
untuk menghindari perkawinan beda agama, melihat kasus kasus yang ada dan
akibat yang ditimbulkan dan dampaknya, hal ini harus dijadikan pertimbangan
oleh pemerintah dalam menyikapi perkawinan beda agama yang sudah mulai
menjamur di Indoensia. Disini harus adanya tindakan lanjut ketika pencatatan akta
nikah di kantor Pencatatan Perkawinan yaitu untuk salah satu saksi dihadirkan
dari pihak pemerintah agar tidak ada hal hal yang menyimpang dari dasar negara
dan ideologi Indonesia.
Selain itu, Pemerintah jangan menjadikan Kantor Pencatatan Perkawinan
hanya sekedar pelaporan administratif saja, tetapi adanya persyaratan persyaratan
yang harus dipenuhi bagi setiap masyarakat yang mendaftarkan untuk melakukan
perkawinan.

14
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Perkawinan adalah sebuah hal yang sakral dalam kehidupan manusia, karena
salah satu kodrat manusia adalah ingin melanjutkan keturunannya. Dalam hal ini
negara Indonesia sudah mengaturnya dalam UU Nomor 1 tahun 1974 tentang
Perkawinan.

Dan karena negara Indonesia adalah negara yang berlandaskan hukum


seusai dengan UUD Bab I ayat (3) “ Negara Indonesia adalah negara hukum.
Maka warga negara Indonesia wajib mentaati setiap hukum atau aturan yang
berlaku. Dalam menyelesaikan perkara yang ada dalam makalah ini yaitu
perkawinan beda agama harus mempunyai ketegasan hukum yang jelas dan bisa
dijalankan secara efektif supaya tidak adanya hukum yang buram. Maka dalam
hal ini adanya aturan yang bisa menjadi sebuah tindakan lanjut yang dapat
mengurangi perkawinan beda agama tersebut.

15