You are on page 1of 8

INTISARI

Latar Belakang Keadaan gizi juga akan mempengaruhi kemampuan


anak dalam mengikuti pelajaran di sekolah dan akan mempengaruhi prestasi
belajar Kurang gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan
perkembangan kecerdasan, menurunkan daya tahan, meningkatkan
kesakitan dan kematian

Tujuan Penelitian : . Tujuan umum :Untuk mengetahui hubungan


asupan energi dan protein, status gizi dan prestasi belajar anak sekolah
dasar Arjowinangun I Pacitan.

Metode Penelitian : Jenis penelitian adalah observasional dengan


pendekatan kuantitatif, sedangkan rancangan penelitian yang digunakan
adalah croos sectional yaitu dengan meneliti variabel terikat, bebas dan
variabel antara secara bersamaan.

Hasil Penelitian : Ada hubungan yang signifikan antara asupan


energi dan status gizi anak sekolah dasar Arjowinangun I Pacitan.Ada
hubungan yang signifikan antara asupan protein dan status gizi anak sekolah
dasar Arjowinangun I Pacitan .Ada hubungan antara status gizi dengan
prestasi belajar anak sekolah dasar Arjowinangun I Pacitan.

Kesimpulan : Rata- rata asupan energi dari anak Sekolah Dasar


Arjowinangun I Pacitan baik yaitu 82,5% dari AKG.Rata- rata asupan protein
dari anak Sekolah Dasar Arjowinangun I Pacitan baik yaitu 83,5% dari
AKG.Rata- rata status gizi dari anak Sekolah Dasar Arjowinangun I Pacitan
berdasarkan Z – score adalah baik yaitu 0,35.Rata- rata nilai prestasi belajar
dari anak Sekolah Dasar Arjowinangun I Pacitan baik yaitu 7,6.Ada hubungan
yang signifikan antara asupan energi dan status gizi anak sekolah dasar
Arjowinangun I Pacitan.Ada hubungan yang signifikan antara asupan protein
dan status gizi anak sekolah dasar Arjowinangun I Pacitan .Ada hubungan
antara status gizi dengan prestasi belajar anak sekolah dasar Arjowinangun I
Pacitan.

Kata kunci : hubungan-asupan energi- asupan protein-status gizi-


prestasi belajar
INTISARI

Latar Belakang : Anemia merupakan salah satu masalah gizi utama


di Indonesia yang banyak diderita wanita. Hal ini terjadi karena wanita
membutuhkan lebih banyak zat besi, jarang mengkonsumsi makanan
sumber hewani dan mengalami menstruasi setiap bulan. Anemia akan
berpengaruh pada kualitas Sumber Daya Manusia, kemampuan belajar,
produktifitas, daya ingat dan konsentrasi menjadi rendah. Berdasarkan
Sensus Kesehatan Rumah Tangga tahun 1995 prevalensi anemia pada
remaja putri 57,1% dengan jumlah 6,3 juta jiwa. Masa remaja merupakan
masa petumbuhan yang pesat sehingga memerlukan zat-zat gizi yang lebih
besar dan akan mempengaruhi status gizi mereka.
Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui hubungan status gizi, kadar
hemoglobin dengan prestasi belajar remaja putri di SMP kota Pontianak.
Metode Penelitian : Jenis penelitian adalah observasional dengan
rancangan cross secsional. Pengambilan data pada bulan Agustus 2006.
Populasi pada penelitian ini adalah siswi SMP Negeri 16 Pontianak kelas VIII
dan IX yang berumur 12-16 tahun yang bersedia menjadi responden dan
memenuhi kriteria inklusi. Responden berjumlah 99 orang yang dilakukan
dengan cara systematic sampling dari jumlah populasi berdasarkan kriteria
penelitian. Uji statistic yang digunakan untuk menganalisa hubungan adalah
menggunakan program SPSS.
Hasil : Dari penelitian ini diketahui sebagian besar status gizi remaja
baik (94,9%), kadar hemoglobin normal (66,7%), prestasi belajar untuk mata
ajaran matematika nilainya antara 56 – 75 (43,43%) dan IPS ≥ 76 (77,78%).
Hasil uji korelasi menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna
antara status gizi dengan prestasi belajar (nilai p>0,05) dengan kekuatan
korelasi yang lemah (r matematika = 0,058, r IPS = 0,108) dan tidak
terdapat hubungan yang bermakna antara kadar hemoglobin dengan
prestasi belajar (nilai p>0,05) dengan kekuatan korelasi yang lemah juga (r
matematika = 0,055, r IPS = 0,003).
Kesimpulan : Tidak adanya hubungan y3ang bermakna antara status
gizi dengan prestasi belajar dan tidak adanya hubungan yang bermakna
antara kadar hemoglobin dengan prestasi belajar. `
Kata kunci : status gizi, kadar hemoglobin, prestasi belajar.

1. Program study S-1 Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta


2. Puskesmas Pajangan Kabupaten Bantul
3. Poltekes Jurusan Gizi Yogyakarta
INTISARI

Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Gizi, Sarapan Pagi, dengan


Prestasi Belajar Siswa di SMP Negeri 5 Kebumen, Irma Ratnawati 1, R. Dwi
Budiningsari 2, Tjaronosari 3.

Latar Belakang : Usia remaja merupakan usia yang rentan terkena


masalah gizi. Perilaku konsumsi dalam memilih makanan baik jenis maupun
jumlahnya berkaitan erat dengan pengetahuan gizi. Sarapan pagi sangat
penting karena energi diperlukan siswa untuk melakukan aktivitas di sekolah
terutama dalam meningkatkan konsentrasi belajar, sehingga prestasi belajar
menjadi baik.
Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui hubungan antara tingkat
pengetahuan gizi, sarapan pagi dengan prestasi belajar siswa di SMP Negeri
5 Kebumen.
Metode Penelitian : Observasional dengan rancangan Crossectional
Study. Lokasi penelitian diambil di SMP Negeri 5 Kebumen. Sampel penelitian
adalah siswa dan siswi SMP (kelas I,II,III), usia 13 -15 tahun yang berjumlah
86 sampel. Tingkat pengetahuan gizi dilakukan dengan cara membagikan
kuesioner yang berisi pertanyaan multiple choice. Sarapan pagi siswa
diperoleh dengan cara recall selama 3 hari. Penentuan prestasi belajar siswa
melihat nilai ulangan harian siswa (IPA, IPS, Matematika, Bahasa Indonesia,
dan PPKn). Uji statistik yang digunakan adalah Spearman.
Hasil : Uji statistik menggunakan Spearman antara tingkat
pengetahuan gizi dengan frekuensi sarapan pagi menunjukkan korelasi
bermakna dengan p = 0.001 (p < 0.05) dan memiliki arah korelasi positif
dengan kekuatan korelasi lemah (r = 0.350). Tingkat pengetahuan gizi
dengan asupan energi menunjukkan korelasi tidak bermakna dengan p =
0.214 (p > 0.05) dan memilki arah korelasi negatif dengan kekuatan korelasi
sangat lemah (r = -0.135). Tingkat pengetahuan gizi dengan asupan protein
menunjukkan korelasi tidak bermakna dengan p = 0.294 (p > 0.05) dan
memilki arah korelasi negatif dengan kekuatan korelasi sangat lemah(r=
-0.115). Frekuensi sarapan pagi dengan prestasi belajar menunjukkan
korelasi bermakna dengan p = 0.018 (p < 0.05) dan memiliki arah korelasi
positif dengan kekuatan korelasi lemah (r = 0.254). Asupan energi dengan
prestasi belajar menunjukkan korelasi tidak bermakna dengan p = 0.626 (p
> 0.05) dan memilki arah korelasi positif dengan kekuatan korelasi sangat
lemah (r = 0.053). Asupan protein dengan prestasi belajar menunjukkan
korelasi tidak bermakna dengan p = 0.072 (p > 0.05) dan memiliki arah
korelasi positif dengan kekuatan korelasi sangat lemah (r = 0.195).
Kesimpulan :Semakin baik tingkat pengetahuan gizi maka semakin
terbiasa sampel melakukan sarapan pagi. Seberapapun tingkat pengetahuan
yang dimiliki sampel, asupan energi dan protein kurang. Sampel yang
terbiasa sarapan pagi maka prestasi belajar semakin baik. Semakin baik
asupan energi dan protein maka prestasi belajar semakin baik.
Kata Kunci : -tingkat pengetahuan gizi - sarapan pagi - prestasi
belajar

1
Program Studi Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas
Gadjah Mada
2
Bagian Kemahasiswaan Program Studi Gizi Kesehatan Fakultas
Kedokteran
3
Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Yogyakarta

INTISARI

Hubungan Antara Asupan Zat Gizi Dengan Kadar Hemoglobin Remaja


Putri SMP Negeri I Juntinyuat Kabupaten Indramayu Jawa Barat,
Teti Kurniati1, dr. Tri Ratnaningsih2, M.Kes, Siti Helmiyati, DCN, M.Kes3

Latar Belakang : Remaja adalah masa peralihan dari anak menjadi dewasa
yang ditandai dengan perubahan fisik dan mental. Masalah kesehatan
remaja adanya gangguan gizi pada usia remaja yang sering terjadi
diantaranya adalah bentuk kekurangan energi, protein dan besi yang dapat
mengakibatkan anemia gizi besi serta defisiensi berbagai vitamin. Hasil
Permaisin menunjukkan anemia pada remaja usia 10-19 tahun dimana
prevalensi anemia pada remaja sebesar 25,5% dengan rincian laki-laki 21%
dan perempuan 30%. Asupan zat gizi semasa remaja akan berdampak pada
kesehatan dalam fase kehidupan selanjutnya, setelah dewasa dan berusia
lanjut kekurangan besi pada remaja dapat menimbulkan anemia sehingga
membutuhkan lebih banyak besi untuk mengganti besi yang hilang, selain
itu anemia juga dapat berdampak pada perkembangan fisik dan psikis,
perilaku, penurunan kerja fisik dan penurunan daya tahan tubuh.

Tujuan Penelitian : Mengetahui hubungan antara asupan zat gizi dengan


kadar hemoglobin remaja putri SMP Negeri I Juntinyuat Kabupaten
Indramayu Jawa Barat.

Metodologi Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian observasional


dengan rancangan penelitian cross sectional. Pengambilan data dilakukan
bulan Juli-Agustus 2006. Populasi siswi SMP Negeri I Juntinyuat Kabupaten
Indramayu Jawa Barat kelas VII, VIII dan IX. Jumlah subjek yang diambil
sebanyak 97 subjek yang diambil secara Stratified sistematik random
sampling. Data yang dikumpulkan meliputi gambaran umum sekolah, umur
remaja putri, asupan zat gizi dengan metode frekuensi tingkat konsumsi dan
kadar hemoglobin dengan metode Cyanmethemoglobin. Untuk mengetahui
hubungan antara variabel data yang diperoleh diolah dan dianalisis statistik
menggunakan uji Regresi Linear dengan tingkat kepercayaan 95%.

Hasil Penelitian : Dari penelitian ini diketahui sebanyak 69 (71,1%) siswi


SMP Negeri I Juntinyuat Kabupaten Indramayu Jawa Barat memiliki kadar Hb
normal dan sebanyak 28 (28,9%) siswi menderita anemia. Rata-rata asupan
zat gizi (energi, protein, zat besi(Fe), vitamin C dan asam folat) siswi sudah
memenuhi kecukupan yaitu 80-100% dari asupan zat gizinya.

Kesimpulan : Tidak ada hubungan yang bermakna antara asupan zat gizi
(energi, protein, zat besi(Fe), vitamin C dan asam folat) dengan kadar
Hemoglobin.

Kata Kunci : Remaja, Asupan Zat Gizi, dan Kadar Hemoglobin.

1. Program Studi S1 Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM


2. Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran UGM
Program Studi S1 Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM

INTISARI
Hubungan Frekuensi Konsumsi Makanan Kariogenik dan Pengetahuan
Kesehatan Gigi dengan Karies Gigi pada Anak Sekolah Dasar Plalan I Di
Wilayah Puskesmas Kratonan Surakarta, Nugraheni Sriwulandari1, Wiworo
Haryani2, Waluyo3.

Latar Belakang: Prevalensi karies gigi pada anak sekolah masih


cukup tinggi yaitu 63% (SKRT 1995). Karies disebabkan oleh empat faktor
yang bekerja secara simultan yaitu mikroorganisme, substrat, waktu, host
dan gigi. Makanan yang banyak mengandung karbohidrat terutama sukrosa
merupakan makanan yang sifatnya sangat kariogenik sehingga berpotensi
tinggi pada kejadian karies gigi anak. Di samping itu ketersediaan fasilitas
kesehatan serta pengetahuan kesehatan gigi akan mendorong terbentuknya
perilaku menjaga kebersihan gigi. Berdasarkan latar belakang tersebut dan
melihat masih tingginya prevalensi karies gigi di Sekolah Dasar Plalan I
Surakarta sebesar 84%, maka peneliti tertarik melakukan penelitian ini.
Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui hubungan frekuensi konsumsi
makanan kariogenik dan pengetahuan kesehatan gigi dengan karies gigi
pada anak umur 9 – 12 tahun Sekolah Dasar Plalan I Surakarta.
Metode Penelitian: Jenis Penelitian yang digunakan adalah studi
observasional dengan rancangan cross sectional. Subyek penelitian adalah
murid kelas IV, V, VI sebanyak 52 orang. Pengumpulan data karies gigi
diperoleh dari hasil pemeriksaan gigi pada anak dan data frekuensi konsumsi
makanan kariogenik serta data pengetahuan kesehatan gigi diperoleh dari
kuesioner dan wawancara, kemudian data dianalisis menggunakan Fisher’s
exact test. Sebelum pelaksanaan penelitian dilakukan uji coba kuesioner
pada 20 responden untuk mendapatkan nilai validitas dan reliabilitas
kuesioner. Uji validitas menggunakan metode statistik Korelasi Product
Moment . Hasil uji menyatakan pertanyaan yang diuji reliabel dengan angka
korelasi (r) = 0,647 yang artinya korelasinya cukup tinggi pada taraf
signifikan p = 0,05.
Hasil Penelitian: Ada hubungan frekuensi konsumsi makanan
kariogenik dengan karies gigi anak (p = 0,004). Hal ini kecepatan
terbentuknya karies gigi dipengaruhi oleh frekuensi konsumsi makanan
kariogenik. Tidak ada hubungan pengetahuan kesehatan gigi anak dengan
karies gigi (p = 0.497). Hal ini karena perilaku memelihara kebersihan gigi
pada anak masih kurang dan untuk menerapkan perilaku yang baik perlu
proses pembelajaran terus-menerus. Anak yang mempunyai pengetahuan
kesehatan gigi baik, ternyata 56% diantaranya tidak sering mengkonsumsi
makanan kariogenik, sedangkan pada anak yang pengetahuan kesehatan
giginya tidak baik, 75% tidak sering mengkonsumsi makanan kariogenik.
Kesimpulan: Ada hubungan frekuensi konsumsi makanan kariogenik
dengan karies gigi, tidak ada hubungan pengetahuan kesehatan gigi anak
dengan karies gigi pada anak Sekolah Dasar Plalan I Surakarta.

Kata Kunci: Makanan kariogenik, pengetahuan kesehatan gigi , karies


gigi, anak Sekolah Dasar.
1. Program Studi S1 Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM.
2. Politeknik Kesehatan Yogyakarta Jurusan Gigi.
Politeknik Kesehatan Yogyakarta Jurusan Gizi.

HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DENGAN NILAI EVALUASI


MURNI SD KECAMATAN SAMALANTAN KABUPATEN BENGKAYANG
PROPINSI KALIMANTAN BARAT

Yustika Sari, Hamam Hadi dan Tri Siswati


INTISARI
Latar belakang : Kelulusan Ujian Akhir murid SD Kecamatan
Samalantan tidak mencapai 100 %. Sementara prevalensi anak yang tinggi
badannya pende hingga sangat pendek masih tinggi (34,8 %). Perlu
diketahui hubungan antara status gizi masa lampau dengan Nilai Evaluasi
Murni (NEM) mengingat prestasi belajar dipengaruhi oleh banyak faktor,
salah satu diantaranya adalah status gizi dan penelitian tentang hubungan
antara status gizi masa lampau dengan NEM di Kecamatan Samalantan
belum pernah dilakukan.
Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui hubungan antara status gizi
dengan NEM murid SD Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang
Propinsi Kalimantan Barat.
Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan metode observasi
dengan desain cross-sectional. Penelitian dilakukan di SMP Kecamatan
Samalantan Kabupaten Bengkayang pada Bulan Agustus 2006. Subyek
penelitian adalah 287 siswa kelas 1 yang dipilih secara proportionate
stratified sampling. Variabel penelitian meliputi: status gizi (TB/U) dan
prestasi belajar. Data status gizi diperoleh melalui pengukuran TB. Data
prestasi belajar diperoleh melalui pengumpulan data NEM. Uji statistik yang
digunakan adalah regresi linier dan chi-square.
Hasil : Siswa dengan status gizi pendek sebesar 44,25% dan NEM
kurang 51,5%. Sebagian besar (78,7%) dari siswa yang mempunyai status
gizi pendek memperoleh NEM kurang. Hasil uji chi-square, ada hubungan
yang signifikan (p<0,05) antara status gizi dengan NEM dan OR=1,994 (95%
CI: 1,168-3,405) artinya siswa dengan status gizi pendek mempunyai
peluang 1,994 kali memperoleh NEM kurang dibandingkan siswa dengan
status gizi normal. Hasil uji regresi linier menunjukkan ada hubungan yang
bermakna antara status gizi dengan NEM (p<0,05). Rata-rata NEM akan
bertambah sebesar 0,09163 jika status gizi bertambah setiap 1 SD.
Kesimpulan : Status gizi masa lalu yang pendek dapat menurunkan
nilai NEM.

Kata Kunci : Status gizi, prestasi belajar, murid sekolah.

THE RELATIONSHIP BETWEEN NUTRITIONAL STATUS AND


PURE/EXCLUSIVE NATIONAL FINAL EXAMINATION SCORE OF
ELEMENTARY SCHOOL IN SUBDISTRICT OF SAMALANTAN
BENGKAYANG
REGENCY WEST KALIMANTAN

Yustika Sari, Hamam Hadi dan Tri Siswati

ABSTRACT
Context: Cognitive achievement of Elementary School Students in
Samalantan is unsatisfying. Meanwhile, stunting prevalence among
Elementary School Students is still relatively high (34,8%). Whether
nutritonal status in the study has relationship with pure/exclusive national
final examination score of Elementary School Students needs tobe clarified
considere that cognitive achievement is affected by several factors and
study on nutrional status among school students and the relationship
between nutritional status and pure/exclusive national final examination
score of Elementary School Students in Samalantan has never been
investigated.
Objective: To investigate the relationship between nutritional status
and pure/exclusive national final examination score of Elementary School
Students in Subdistrict of Samalantan, Bengkayang Regency West
Kalimantan Province.
Design: The study was observational analytical type which used
primary data with a cross-sectional design for 287 students at Junior High
School in Samalantan and contains measure of stature and collect of
pure/exclusive national final examination score. Samples were proportionate
stratified sampling taken. Linier regression and chi-square were used to
estimated the association of nutritional status and pure/exclusive national
final examination score.
Results: Among the 287 students in the sample, 44,25% were
stunting and 51,5% of average pure/exclusive national final examination
scores were lower. The percentage of scoring lower among stunted students
was 78,7%. By chi-square, stunted students had more than once the risk of
scoring lower in pure/exclusive national final examination than did students
with normal nutritional status (odds ratio: 1,994; 95% confidence interval:
1,168-3,405). By linier regression, the relationship between nutritional status
and pure/exclusive national final examination score was statistically
significant (P<0,05). There was a trend for those with normal nutritional
status to have better pure/exclusive national final examination scores
compared with those with stunted (P=0,003). Average pure/exclusive
national final examination scores will increase 0,09163 if nutritional status
increase every 1 SD.
Conclutions: We demonstrated lower pure/exclusive national final
examination score among stunted school students.
Keywords: Nutritional status, cognition, school students.