You are on page 1of 27

M. Aftaf.

M (0706265610) PROPOSAL PENELITIAN Perkembangan Daerah Pinggiran Kota Jakarta (Studi Kasus : Koridor jalan raya salabenda, jalan raya parung, dan jalan permata gunung

sindur)

A. Latar Belakang

Perencana dan pengelola perkotaan di negara berkembang dewasa ini menghadapi tantangan yang berat. Penduduk perkotaan dunia tumbuh menghadapi tantangan yang berat. Penduduk perkotaan dunia tumbuh pada tingkat yang fenomenal: Pada beberapa kota lebih dari seperempat juta jiwa bertambah setiap tahunnya, melebihi usaha yang dilakukan untuk peningkatan fasilitas perkotaan. Sementara kota-kota yang telah tumbuh besar pada waktu sebelumnya terus menerus meluas tanpa adanya limitasi. Meluasnya kota-kota besar tersebut mendorong tumbuhnya daerah pinggiran sebagai gejala yang diakibatkan karena adanya proses suburbanisasi penduduk dari kota induk ke daerah pinggiran sehingga penduduk harus bekerja dan mengonsumsi fasilitas di kota induknya. Kota induk yang sudah semakin padat, meningkatnya harga lahan, dan memiliki tingkat polusi yang tinggi mendorong masyarakat memilih untuk tinggal di daerah pinggiran yang dinilai lebih nyaman, sebagaimana pendapat Hammond dalam Djaljoeni (1992) bahwa terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan daerah pinggiran kota seperti; tersedianya fasilitas pelayanan transportasi yang memadai, meningkatnya taraf hidup masyarakat sehingga memungkinkan masyarakat lebih mendapatkan rumah yang layak, perpindahan dari pusat kota dan masuknya penduduk baru dari pedesaan, dan dorongan hakikat manusia memperoleh kenyamanan. Demikian pula dengan laju pertumbuhan penduduk Jakarta, BPS menyebutkan bahwa dalam kurun waktu 1980 1990 memiliki pertumbuhan penduduk (2,42%), sedangkan wilayah BOTABEK pertumbuhannya sebesar 6,16%, namun pada kurun waktu 1990 2000 laju pertumbuhan penduduk di Jakarta turun menjadi 0,16% per tahun, pada kurun waktu 2000 2010 laju pertumbuhan penduduk Jakarta mencapai 1,40% per tahun, sebaliknya laju pertumbuhan penduduk di wilayah BOTABEK tetap tinggi. Seperti halnya Kabupaten

Bogor, berdasarkan hasil survey penduduk 2010 kabupaten Bogor berpenduduk 4.770.744
1 Universitas Indonesia

jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk di kabupaten Bogor sebesar 3,16% per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan kota telah mengarah ke daerah pinggiran (suburbanisasi) dimana memicu perambatan kenampakan fisik kota ke arah luar atau yang disebut rban sprawl. Perkembangan kota tersebut mengarah kepada proses perkembangan spasial secara horizontal sentrifugal yaitu bertambahnya ruang kekotaan yang berjalan ke arah luar dari daerah kekotaan yang sudah terbangun dan mengambil tempat di daerah pinggiran kota (Yunus 2005). Dalam proses perkembangannya tentu saja tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya sebagaimana dikemukakan oleh Lee (1979) dalam Yunus (2005 : 60) dalam studinya bahwa terdapat 6 faktor yang mempunyai pengaruh kuat terhadap

perkembangan ruangan sentrifugal horizontal ini; faktor aksesibilitas, faktor pelayanan umum, karakteristik lahan, karakteristik pemilikan lahan, keberadaan peraturan-peraturan pemerintah, dan prakarsa pengembang. Sementara itu identifikasi faktor determinan yang dilaksanakan di Indonesia khususnya di kota Semarang menunjukkan adanya faktor pertambahan penduduk sebagai faktor yang mempengaruhi perkembangan pinggiran (Heriyanto, 2000). Bertambahnya ruang kekotaan tersebut tidak terlepas dari aksesibilitas sebagaimana yang dikemukakan oleh Lee di atas, dalam kesempatan lain Babcock (1932) dalam Yunus (1999 : 42) dalam teorinya yang dikenal sebagai teori poros menjabarkan bahwa daerah yang dilalui transportasi akan mempunyai perkembangan fisik yang berbeda dengan daerah yang tidak dilalui jalur-jalur transportasi, sepanjang rute transportasi akan memiliki mobilitas yang tinggi. Dengan jarak yang jauh dari pusat kota, namun memiliki aksesibilitas yang tinggi akan sama time-cost yang dibutuhkan oleh daerah yang memiliki jarak yang dekat namun aksesibilitasnya rendah. Hal ini menunjukan bahwa perkembangan wilayah perkotaan tidak bisa terlepas dari kemudahan untuk mencapai suatu tempat (aksesibilitas). Selanjutnya Whebell seorang ahli geografi Amerika dalam jurnalnya corridors : a theory of urban systems menyatakan bahwa dalam setiap tahap perkembangan dari pusat ke koridor kota, perubahan dalam sistem ekonomi muncul pertama kali di koridor dan menyebar ke arah luar. Di dalam jurnal yang sama Christaller (1966 : 74) mengatakan bahwa sebaran pusat-pusat keramaian yang paling menguntungkan ialah ketika terletak diantara satu lalu lintas diantara dua kota, rute ini akan terbangun dengan cepat dengan harga yang murah. Melihat bahwa wilayah penelitian memiliki ciri-ciri diatas dan faktor-faktor yang menunjang
2 Universitas Indonesia

perkembangan suatu wilayah, pendekatan-pendekatan di atas. B. Perumusan Masalah

menarik sekali untuk mengkaji wilayah tersebut melalui

Permasalahan penggunaan tanah di pusat kota yang sudah semakin padat dan terus berkembang tidak terkendali menyebabkan kenampakan fisik kekotaan menyebar tidak merata (urban sprawl) di pinggiran kota Jakarta. Penyebaran kenampakan fisik kekotaan ke arah luar kota ini mengakibatkan perubahan pemanfaatan lahan yang ada di daerah pinggiran kota. Kenampakan fisik kekotaan di daerah pinggiran terlihat di daerah koridor penghubung dua kota yang memiliki aksesibilitas tinggi, tersedianya fasilitas pelayanan umum, dan kepadatan penduduk yang tinggi. Berdasarkan permasalahan diatas, maka pertanyaan penelitian yang diangkat dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana pola perkembangan daerah pinggiran Kota Jakarta dilihat dari indeks sprawl (tahun 2000 - 2010) ? 2. Bagaimana pengaruh aksesibilitas, kepadatan penduduk, dan fasilitas pelayanan umum terhadap perkembangan daerah pinggiran Kota Jakarta? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan yang terjadi di daerah pinggiran Kota Jakarta dan variabel yang mempengaruhinya di wilayah koridor pada periode 2000 2010. Daerah pinggiran tersebut telah mengalami perambatan kenampakan fisik kota ke arah luar (urban sprawl). Untuk melihat sejauh mana fenomena perkembangan sprawl yang terjadi di koridor dapat menggunakan indeks sprawl. Berasumsi pada Staley (1999:14) bahwa indeks sprawl merupakan indikator berkurangnya open space, ukuran besar lahan yang diambil oleh kegiatan perkotaan, perubahan proporsi lahan menjadi perkotaan dimana dapat menunjukkan laju urbanisasi dan ukuran besarnya tekanan pembangunan wilayah. D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini bermanfaat untuk rekomendasi pengendalian yang dapat memberikan masukan mengenai pengelolaan kegiatan di daerah pinggiran kota Jakarta yang lebih baik dan membatasi pertumbuhan kegiatan yang tidak sejalan dengan tata ruang sehingga perkembangan daerah pinggiran bisa terencana dengan baik.
3 Universitas Indonesia

E. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini terdapat dalam wilayah administrasi kabupaten Bogor dengan unit analisis kelurahan. Wilayah penelitian ini yaitu, (jalan raya salabenda, jalan raya parung, dan jalan permata gunung sindur) meliputi : Kecamatan Kemang (kel. Atang sanjaya, kel Parakanjaya, kel. Kemang, kel Pondok udik, kel Jampang) , Kecamatan Tajur Halang (kel. Tonjong, kel. Kalisuren, kel. Citayam) , Kecamatan Parung (kel. Jabonmekar, kel. Pamegarsari, kel. Parung, kel. Waru) , Kecamatan Gunung Sindur (kel. Curug, kel. Rawa kalong)

F. Batasan Penelitian Batasan dan definisi yang digunakan adalah sebagai berikut: Daerah pinggiran kota merupakan daerah yang memiliki karakteristik suatu daerah yang tidak dapat digolongkan sebagai kota atau desa, umumnya terletak di sepanjang koridor antara pusat kota Koridor tersebut berlokasi di sepanjang jalur-jalur transportasi utama (McGee dalam Koestoer (1997)), Koridor antara pusat kota dalam penelitian ini adalah koridor yang menghubungkan kota Bogor dengan kota Tanggerang Selatan meliputi jalan raya salabenda, jalan raya parung, dan jalan permata gunung sindur (terdapat dalam wilayah administrasi kabupaten Bogor) Urban Sprawl merupakan proses kenampakan fisik kekotaan ke arah luar dalam hal ini adalah daerah pinggiran kota (Staley, 1999:5), sementara itu Domouchel dalam Yunus (2000), menyatakan bahwa urban sprawl adalah sebagai suatu pertumbuhan dari wilayah perkotaan yang menuju suatu proses tipe pembangunan penggunaan lahan yang beragam di daerah pinggiran kota. Aksesibilitas yang dimaksud ialah aksesibilitas fisikal yaitu jalan, mengukurnya dengan menghitung kerapatan jalan, yaitu dengan membandingkan panjang jalan (m) dengan luas wilayah (Km2). Fasilitas pelayanan umum dalam penelitian ini adalah fasilitas seperti pusat perbelanjaan, sekolah (SD, SLTP, SMA Sederajat), dan rumah sakit. Kepadatan Penduduk adalah jumlah individu (jiwa) per satuan luas (Km2)
4 Universitas Indonesia

Indeks sprawl (Staley, 1999:14) merupakan indikator berkurangnya open space, ukuran besar lahan yang diambil oleh kegiatan perkotaan, perubahan proporsi lahan menjadi lahan perkotaan dimana dapat menunjukkan kecepatan perubahan laju urbanisasi dan ukuran besarnya tekanan pembangunan wilayah. Perhitungan nilai indeks sprawl dilakukan dengan membandingkan presentase laju pertumbuhan penduduk dengan tingkat urbanisasi selama periode 2000 2010, tingkat unrbanisasi dilihat dari luas lahan yang berubah menjadi penggunaan wilayah terbangun selama periode tersebut yang di dapat dari hasil analisis citra.

Pola perkembangan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sifat (merupakan deskripsi yang menjelaskan proses perkembangan wilayah terbangun), arah (terkait dengan gerakan perkembangan wilayah terbangun) dan bentuk (menyangkut hasil dari perkembangan yang terjadi) dari perkembangan wilayah terbangun yang terjadi pada daerah penelitian.

G. Metode Penelitian Alur Pikir Penelitian


Tingginya Pertumbuhan Penduduk Jakarta dan meningkatnya aktivitas perkembangan kota Jakarta

Kebutuhan Ruang Kota

Pertumbuhan fisik kekotaan di daerah pinggiran

Gejala Urban Sprawl di Koridor

Terdapatnya Aksesibilitas

Meningkatnya jumlah penduduk (2000 & 2010)

Berubahnya pemanfaatan lahan (2000 & 2010)

Meningkatnya fasilitas pelayanan umum (2000 & 2010)

Pola Perkembangan daerah pinggiran kota 5 di Koridor

Universitas Indonesia

Meningkatnya aktifitas dan pertumbuhan penduduk di kota Jakarta menyebabkan meningkatnya akan kebutuhan ruang kota. Kebutuhan ruang kota yang tidak bisa dipenuhi oleh pusat kota menyebabkan merembetnya fisikal kekotaan ke daerah pinggiran. Seiring dengan perkembangan daerah pinggiran, faktor-faktor seperti aksesibilitas, penduduk, pemanfaatan lahan, dan fasilitas pelayanan umum juga ikut berkembang. Faktor-faktor tersebut juga merupakan faktor penentu perkembangan suatu wilayah. Sehingga dari faktorfaktor tersebut akan dapat terlihat pola perkembangan suatu daerah tertentu. Jenis Penilitian Penelitian ini merupakan penelitian nomotetik. Penelitian ini menyampaikan penjelasan tentang perkembangan yang terjadi di daerah pinggiran DKI Jakarta dilihat dari bentuk perubahan kedesaan menjadi kekotaan dalam kurun waktu 2000 2010 terkait dengan variabel-variabel yang mempengaruhi. Variabel Penelitian Variabel yang digunakan dalam penelitian ialah faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan kota, sebagaimana telah dikemukakan oleh Lee (1979), akan tetapi karakteristik lahan, karakteristik pemilikan lahan dan prakarsa pengembang tidak termasuk dalam variabel, hal ini dikarenakan hal tersebut bersifat homogen sehingga tidak relevan apabila dimasukkan dalam penelitian. Variabel yang digunakan yaitu aksesibilitas, faktor pelayanan umum, faktor penduduk, dan pemanfaatan lahan. Sedangkan untuk mengetahui bagaimana perambatan kenampakan fisik kekotaan yang terjadi digunakan variabel indeks sprawl. Indeks sprawl ini merupakan perbandingan presentase pertumbuhan wilayah urban dengan presentase laju pertumbuhan penduduk. Berikut variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini : 1. Faktor aksesibilitas, faktor aksesibilitas disini ialah aksesibilitas fisikal hal ini merupakan tingkat kemudahan suatu lokasi dapat dijangkau oleh berbagai lokasi yang lain. Pengukuran aksesibilitas fisikal dapat dilaksanakan dengan menilai prasarana transportasi yang ada bersama-sama dengan sarana transportasinya. Prasarana transportasi dalam hal ini ialah jalan. Untuk mengukur tingkat aksesibilitasnya yaitu dengan menghitung kerapatan jalan, yaitu dengan membandingkan panjang jalan (m) dengan luas wilayah (Ha).

Universitas Indonesia

2. Faktor pelayanan umum merupakan faktor penarik tehadap penduduk dan fungsi-fungsi kekotaan untuk datang ke arahnya. Dalam penelitian ini yang termasuk dalam faktor pelayanan umum adalah fasilitas seperti pusat perbelanjaan, sekolah, dan rumah sakit. 4. Faktor penduduk, yaitu berupa pertambahan penduduk dan kepadatan penduduk di

wilayah penelitian, merupakan indikator penilaian perkembangan suatu wilayah. 5. Indeks sprawl (Staley, 1999:14) merupakan indikator berkurangnya open space, ukuran besar lahan yang diambil oleh kegiatan perkotaan, perubahan proporsi lahan menjadi lahan perkotaan dimana dapat menunjukkan kecepatan perubahan laju urbanisasi dan ukuran besarnya tekanan pembangunan wilayah. Perhitungan nilai indeks sprawl dilakukan dengan membandingkan presentase pertumbuhan penduduk dengan tingkat urbanisasi selama periode 2000 2010, tingkat unrbanisasi dilihat dari luas lahan yang berubah menjadi penggunaan wilayah terbangun selama periode tersebut yang di dapat dari hasil analisis citra.
Indeks sprawl =

Pengumpulan Data Dalam penelitian ini data yang digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai objek kajian dilakukan dengan menggunakan data sekunder dan primer. Metode yang digunakan dalam memperoleh data primer yaitu dengan melakukan observasi lapang. Observasi lapang disertai dengan foto sebagai bukti dan data pendukung yang dapat menguatkan atau mendetailkan suatu kejadian misalnya gambaran kejadian pada lokasi yang memiliki tingkat indeks sprawl yang tinggi dan rendah, perubahan pemanfaatan lahan di lokasi penelitian.
No 1 Format Data Mentah Landsat-TM Sumber Data Citra Landsat TM tahun 2000 dan 2010 path 122 row 64 65 Data yang digunakan Data Luas wilayah terbangun (tahun 2000 dan 2010) Data pemanfaatan lahan (tahun 2000 dan 2010) Data Jumlah Penduduk per kelurahan Instansi

USGS

Landsat-TM

Citra Landsat TM tahun 2000 dan 2010 path 122 row 64 65 Kecamatan dalam angka

USGS

Buku Laporan "Kecamatan dalam angka

BPS Kabupaten Bogor

Universitas Indonesia

(tahun 2000 dan 2010) 4 Buku Laporan "Kecamatan dalam angka Kecamatan dalam angka Data Kepadatan Penduduk per kelurahan (tahun 2000 dan 2010) Data Luas Wilayah per kelurahan Data Jaringan Jalan BPS Kabupaten Bogor

Buku Laporan "Kecamatan dalam angka SHP Polyline Jaringan Jalan

Kecamatan dalam angka

Peta Jaringan Jalan (Skala 1:50.000)

SHP Polygon Kab. Bogor SHP Point Sarana Pelayanan Umum

Peta Administrasi Kabupaten Bogor (Skala 1:50.000) Peta Persebaran Sarana Pelayanan Umum (Skala 1:50.000)

Data batas administrasi Data Sebaran Sarana pelayanan umum

BPS Kabupaten Bogor Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bogor Bappeda Kabupaten Bogor Bappeda Kabupaten Bogor

Tabel 1. Pengumpulan data Sekunder yang digunakan

Dalam penyusunan laporan ini digunakan juga studi literatur. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan informasi secara umum mengenai bahan rujukan, referensi, dan informasi wilayah penelitian sebelum melakukan pengamatan. Studi literatur diperoleh dari, jurnal, buku, dan media elektronik (internet). Pengolahan Data Untuk mengolah data sekunder yang telah diperoleh digunakan software SIG seperti ArcView dan ER.Mapper 7.0 serta Microsoft Office seperti excel untuk tabulasi dan kompilasi data serta word untuk penyususnan laporan. Metode yang digunakan untuk pengolahan data peta adalah metode overlay. Pengolahan peta kerja dan data-data yang mengalami pengolahan akan dijelaskan sebagai berikut : a) Peta Wilayah Penelitian Peta Administrasi diolah dengan menggunakan software ArcView 3.3 ditampilkan dalam bentuk poligon wilayah administrasi kemudian dicropping sesuai dengan wilayah penelitian kemudian disesuaikan dengan batas-batas wilayah penelitian tersebut. b) Peta Jumlah Penduduk
8 Universitas Indonesia

Peta jumlah penduduk diolah dengan menginput data jumlah penduduk yang dilihat berdasarkan kecamatan dengan menggunakan software ArcView 3.3 yang ditampilkan dalam bentuk diagram batang. c) Peta Jaringan Jalan Peta jaringan jalan diolah menggunakan software ArcView 3.3. d) Peta persebaran sarana pelayanan umum Peta persebaran sarana pelayanan diolah dengan menggunakan software microsoft office excel dan software ArcView 3.3. Data persebaran sarana pelayanan umum dijadikan data tabulasi pada software excel dan kemudian diinput kedalam software ArcView 3.3 dan ditampilkan dalam bentuk point. e) Peta Kepadatan Penduduk Peta kepadatan penduduk diolah dengan menggunakan software ArcView 3.3, sebelumnya kepadatan penduduk didapatkan dengan menghitung perbandingan jumlah penduduk dengan luas wilayah, kemudian diklasifikasikan menjadi tiga kelas yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Hasil klasifikasi tersebut ditampilkan dalam bentuk gradasi warna. Kelas Interval : = (kepadatan penduduk tertinggi kepadatan penduduk rendah ) Jumlah Kelas f) Peta Pemanfaatan Lahan Membuat peta pemanfaatan lahan sebagaimana dengan klasifikasi pemanfaatan lahan oleh Malingreau (1981) dengan menggunakan software ER Mapper 7 Dengan tahapan sebagai berikut: Import data raster, yaitu melakukan pemindahan data raster/vektor melalui berbagai media yang akan diolah di ER Mapper. Menampilkan citra di layar monitor dengan menggunakan ER Mapper yang tersajikan dalam 3 color mode, yaitu Grey scale, Pseudo Colour, dan RGB (Red-Green-Blue)

Universitas Indonesia

Melakukan Koreksi Radiometrik dan koreksi geometrik dengan menggunakan polynomial geocoding type dengan menggunakan metode geocoded image, yaitu 20 gcp untuk masing-masing tahun.

Melakukan pemotongan citra yang sudah dikoreksi dengan membuat Area of Interest (AOI) . Melakukan klasifikasi tidak terbimbing (unsupervised classification) untuk mendapatkan klasifikasi yang diinginkan akan disederhanakan menjadi 4 kelas yaitu perairan, areal tertutup vegetasi, areal tak bervegetasi/tidak ditanami, areal permukiman terbangun (built up area).

Membuat layout akhir untuk membuat peta pemanfaatan lahan di Arc View3.3.

g) Peta wilayah terbangun Peta wilayah terbangun dibuat dari peta pemanfaatan lahan data yang diambil dari peta ini adalah data luasan wilayah terbangun pada tahun 2000 dan 2010, sehingga terlihat perubahan luasannya. d) Peta Sprawl Index (Indeks Sprawl) Untuk membuat peta Indeks Sprawl diperlukan data persentase luas areal terbangun dan persentase pertumbuhan penduduk, kemudian dibagi menjadi tiga kelas, yaitu tinggi, sedang, rendah. Sehingga hasilnya akan ditampilkan dalam peta dalam gradasi warna. Kelas Interval : = (kepadatan penduduk tertinggi kepadatan penduduk rendah ) Jumlah Kelas Analisis Data Dalam menjawab permasalahan penelitian ini digunakan metode analisis spasial yang merupakan bentuk analisa data penelitian untuk menguji generalisasi hasil penelitian serta memberikan gambaran umum untuk melihat karakteristik dari data yang diperoleh dengan cara : a. Melakukan analisis deskriptif dan spasial dengan membandingkan peta pemanfaatan lahan di wilayah penelitian pada tahun 2000 dan tahun 2010 sesuai unit analisis yang digunakan untuk mengetahui gejala sprawl di wilayah tersbut .

10

Universitas Indonesia

b. Mengidentifikasi karakteristik wilayah yang mengalami gejala sprawl dengan cara mencari arah, jarak dan luasan (menggunakan penilaian kualitatif) dan melihat pola yang terbentuk apakah bersifat memanjang, konsentris, atau berserakan c. Mengetahui variable-variabel yang menjadi pemicu terjadinya gejala sprawl dengan cara membuat korelasi antara daerah-daerah terbangun dengan fasilitas umum, jumlah penduduk dan aksesbilitas yang terdapat pada daerah penelitian d. Setelah itu mengetahui tingkat sprawl yang terjadi didapatkan presentase wilayah terbangun yang kemudian akan dibandingkan dengan presentase laju pertumbuhan penduduk di wilayah penelitian sehingga nantinya akan didapatkan nilai indeks sprawl yang menunjukkan tingkat sprawl yang terjadi.
Indeks sprawl =

Analisa dalam penelitian ini diawali dengan menentukkan indeks sprawl di wilayah penelitian yaitu dengan menganalisis pada setiap kelurahan di wilayah penelitian. Untuk mendapatkan nilai indeks sprawl diperlukan data wilayah terbangun dan data pertumbuhan penduduk 2000 2010 per kelurahan. Analisis ini bertujuan untuk menentukan perkembangan daerah pinggiran tersebut. e. Tingkat sprawl di wilayah penelitian akan dibagi menjadi tiga kelas, yaitu tinggi, sedang dan rendah. Klasifikasi ini bertujuan untuk menentukkan kelurahan mana saja yang memiliki tingkat sprawl tinggi, sedang dan rendah. f. Setelah masing-masing kelurahan memiliki indeks sprawl sebagaimana klasifikasi yang telah dibuat, kemudian perlu dilakukan analisa lebih lanjut mengenai pengaruh variabel terhadap perkembangan daerah pinggiran. Masing-masing peta variabel ditampalkan dengan peta indeks sprawl yang telah dibuat. Analisis yang dilakukan ialah melihat bagaimana pola yang terbentuk di masing-masing kelurahan. Sehingga dengan gambaran tersebut dapat menunjukkan pola perkembangan daerah pinggiran kota Jakarta.

11

Universitas Indonesia

H. Tinjauan Pustaka Kota Kota adalah wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi, yang sebagian lahannya terbangun, dan perekonomiannya bersifat non pertanian. Dilihat dari aspek sosial ekonomi, kota mempunyai ciri-ciri: (a) jumlah penduduk yang relatif besar daripada wilayah sekitarnya, (b) mempunyai kepadatan penduduk yang relatif tinggi dibanding wilayah sekitarnya, (c) mempunyai proporsi jumlah penduduk yang bekerja di sektor non pertanian lebih tinggi daripada wilayah sekitarnya, (d) merupakan pusat kegiatan ekonomi yang menghubungkan kegiatan pertanian wilayah sekitarnya dan tempat pemrosesan serta pemasaran bahan baku bagi industri (Inmendagri No. 34 tahun 1986). Badan Pusat Statistik (2000) dalam pelaksanaan survei status desa/kelurahan yang dilakukan tahun 2000, menggunakan beberapa kriteria untuk menetapkan apakah suatu desa/kelurahan dikategorikan sebagai desa atau kota. Kriteria yang digunakan adalah: (1) Kepadatan penduduk per kilometer persegi, (2) Persentase rumah tangga yang mata pencaharian utamanya adalah pertanian atau non pertanian, (3) Persentase rumah tangga yang memiliki telepon, (4) Persentase rumah tangga yang menjadi pelanggan listrik, (5) Fasilitas umum yang ada di desa/kelurahan. Perkembangan Kota Semakin bertambahnya kegiatan penduduk di kota yang diawali pada meningkatnya jumlah penduduk tersebut membuat tuntutan kehidupan masyarakat meningkat juga. Tuntutan hidup yang semakin tinggi membuat masyarakat meningkatkan frekuensi kegiatan penduduk. Konsekuensi yang muncul ialah tuntutan akan ruang sebagai wadah untuk melakukan aktivitas masyarakat semakin tinggi. Sementara itu kebutuhan ruang yang tidak dapat dibangun di dalam karena keterbatasan ruang ataupun karena semakin tingginya harga lahan, menyebabkan masyarakat mencari alternatif untuk mendapatkan kebutuhannya sehingga mengalihkan perhatiannya di bagian daerah pinggran kota yang masih tersedia lahan yang cukup dengan harga yang terjangkau. Semakin banyaknya masyarakat yang tinggal di daerah pinggiran kota tersebut akan menyebabkan perubahan penggunaan tanah yang ada yang awalnya untuk pertanian berubah menjadi non pertanian, selain itu akibat dari buruknya kontrol dari pemerintah daerah setempat menyebabkan ruang-ruang terbuka hijau menjadi areal terbangun. Hal-hal tersebut
12 Universitas Indonesia

pada akhirnya yang akan menimbulkan konsekuensi spasial sebagaimana disebutkan oleh Yunus (2005 : 59) akan timbul konsekuensi spasial yang dapat diamati yaitu konsekuensi keruangan secara fisikal dan konsekuensi keruangan secara yuridis-administratif. Konsekuensi spasial secara fisikal ditinjau dari prosesnya, terdapat dua perkembangan yaitu proses perkembangan spasial horizontal dan perkembangan spasial secara vertikal. Proses perkembangan spasial horizontal di dalam studi kota proses ini menjadi penentu bertambah luasnya areal kekotaan dan makin padatnya bangunan di bagian dalam kota sehingga dapat diartikan sebagai proses penambahan ruang kekotaan secara mendatar dengan cara menempati ruang-ruang yang kosong baik didalam kota maupun di pinggiran kota. Perkembangan spasial horizontal terdiri dari dua proses perkembangan yaitu sentrifugal dan sentripetal. Proses perkembangan spasial sentrifugal adalah proses bertambahnya ruang kekotaan yang berjalan ke arah luar dari daerah kekotaan yang sudah terbangun dan mengambil tempat di daerah pinggiran kota. Dalam studinya Lee (1979:1) dalam Yunus (2005 : 60) mengemukakan bahwa terdapat 6 faktor yang mempengaruhi proses perkembangan spasial sentrifugal yaitu: faktor akesesibilitas, faktor pelayanan umum, karaketeristik lahan, karakteristik pemilikan lahan, keberadaan peraturan-peraturan yang mengatur tata guna lahan dan prakarsa pengembang. Faktor aksesibilitas mempunyai peranan yang besar terhadap pemanfaatan lahan, dalam hal ini Lee (1979) lebih menekankan pada aksesibilitas fisikal yaitu merupakan tingkat kemudahan suatu lokasi dapat dijangkau oleh berbagai lokasi lain. Pengukuran aksesibilitasi dapat diukur dengan menilai sarana dan prasarana transportasi. Akibatnya adalah bahwa daerah yang memiliki aksesibilitas tinggi akan mengalami perkembangan fisikal lebih cepat dibandingkan dengan daerah yang memilii aksesibilitas rendah. Faktor pelayanan umum merupakan faktor penarik penduduk. Faktor ini merupakan sarana masyarakat umum untuk melakukan kegiatannya. Pembangunan kampus pendidikan yang besar, diikuti oleh banyaknya mahasiswa yang datang, pegawai-pegawai kampus. Selain itu pusat pelayanan umum ialah seperti halnya pusat perbelanjaan, rumah sakit, tempat ibadah, tempat rekreasi dan olah raga, stasiun kereta api, halte bus, dll. Faktor karakteristik lahan yaitu faktor-faktor fisik seperti topografi yang berpengaruh dalam perkembangan perkotaan.

13

Universitas Indonesia

Faktor karakteristik pemilikan lahan merupakan faktor yang menentukan status ekonomi penduduk, pemilik lahan yang mempunyai status ekonomi kuat akan berbeda dengan pemilik lahan yang mempunyai status ekonomi rendah, hal ini dikarenakan keinginan untuk menjual lahannya lebih tinggi penduduk yang memiliki status ekonomi rendah. Faktor keberadaan peraturan yang mengatur tata ruang diyakini sebagai salah satu faktor yang berpengaruh. Pada daerah tertentu terdapat aturan-aturan yang membatasi pembangunan permukiman maupun pembangunan fisik karena wilayahnya ditentukan sebagai wilayah terbuka hijau. Faktor prakarsa pengembang, pengembang selalu menggunakan ruang yang cukup luas untuk membangun daerah yang akan dibangun. Pada daerah tertentu yang mungkin sebelum dibeli oleh pengembang merupakan lahan yang bernilai ekonomis rendah, namun setelah dibeli oleh pengembang nilai ekonomisnya naik. Daerah Pinggiran Kota Di sekeliling pusat kota terdapat wilayah dengan berbagai macam tata guna lahan, teutama untuk permukiman penduduk. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat menyebabkan tingginya laju pertumbuhan penduduk setiap tahunnya akibatnya tuntutan akan ruang semakin besar. Tingginya harga lahan dan semakin padatnya daerah kota mengakibatkan pertumbuhan kota ke luar, melahirkan wilayah pinggiran kota yang dalam geografi surburbia (bahasa latin, sub = bawah; urbis = kota). Dalam bahasa Inggris dipakai juga fringe yang dalam bahasa Indonesia artinya wilayah pinggiran. Sementara itu Pryor (1971) mendefinisikan daerah pinggiran sebagai berikut: The urban fringe is the subzone of the rural-urban fringe which is in contact and contiguous with the central city, exhibiting a density of occupied dwellings higher than the median density of the total rural-urban fringe, a high proportion of residential, commercial, industrial and vacant as disticnt, land use conversion and commuting.(Pryor 1971). Dari kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa wilayah pinggiran merupakan bagian dari wilayah rural urban fringe yang berbatasan langsung dengan lahan kekotaan terbangun dan masih menyatu dengan permukiman kekotaan utama, dan menunjukkan kepadatan penduduk permukiman yang lebih tinggi dari rerata kepadatan yang ditampilkan wilayah rural-urban
14 Universitas Indonesia

fringe sendiri, proporsi pemanfaatan lahan permukiman, komersial, industrial dan lahan kosong yang tinggi. Menurut McGee dalam Koestoer (1997) daerah pinggiran kota memiliki karakteristik suatu daerah yang tidak dapat digolongkan sebagai kota atau desa, umumnya terletak disepanjang koridor antara pusat kota besar. Koridor tersebut berlokasi di sepanjang jalurjalur transportasi utama. Sementara Russwurm dalam Yunus (2000) dikatakan bahwa daerah yang termasuk dalam urban fringe area adalah daerah yang terletak sekitar radius 15 hingga 25 kilometer pada suatu pusat kota. Di dalam buku yang sama Bar-Gal dalam Yunus (2000) menyatakan bahwa daerah pinggiran kota merupakan daerah yang mengalami pengaruh kuat dari suatu kota yang ditandai dengan berbagai karakteristik seperti perubahan fisik penggunaan tanah, perubahan komposisi penduduk dan tenaga kerja, perubahan pola orientasi dan aktivitas penduduk Teori Land Use Triangle: Continuum Teori Land Use Triangle: Continuum dikemukakan oleh Hadi Sabari Yunus pada tahun 2001 setelah melakukan penelitian di Kota Yogyakarta, teori ini merupakan pengembangan dari Teori Land Use Triangle : Discrete yang dikemukakan oleh Pryor pada tahun 1971. Menurut Hadi Sabari Yunus (2008), wilayah pinggiran kota merupakan wilayah yang ditandai oleh percampuran kenampakan fisik kekotaan dan kedesaan. Secara kontinum, makin ke arah lahan kekotaan terbangun utama, makin besar proporsi lahan kekotaan dan makin jauh dari lahan terbangun utama makin besar proporsi lahan kedesaannya. Sehingga merupakan teori yang aplikatif untuk kota-kota di negara berkembang, khususnya untuk kotakota yang mempunyai peralihan gradual dari kenampakan fisik kekotaan ke penampakan fisik kedesaan. Adanya karakteristik suatu wilayah pertanian yang subur, maka peralihan antara kenampakan kekotaan ke kenampakan kedesaan terjadi secara gradual. Kenampakan kekotaan ke kenampakan kedesaan yang terjadi secara gradual pada wilayah pinggiran kota. Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi, hambatan ini dapat diatasi yaitu dengan memanfaatkan citra pengindraan jauh, baik foto udara maupun citra satelit untuk menentukan batas terluar fisik suatu kota. (Yunus (2008 : 141).

15

Universitas Indonesia

Pada penelitian fenomena yang terjadi pada wilayah pinggiran kota sebaiknya mengambil contoh wilayah yang jelas karakteristiknya. Menurut Yunus (2008:141) mengemukakan bahwa berasal dari fenomena tersebut muncul ide untuk mengaplikasikan konsep core region, yaitu dipilih pada wilayah yang karakteristik paling menonjol/paling jelas. Core region mempunyai karakteristik wilayah yang ditandai oleh perbedaan jenis pemanfaatan lahan yang tinggi Pembaruan yang ditemukan oleh Yunus (2001) yaitu adanya rurban frame zone dan rural fram zone. Model yang dikemukakan Yunus merupakan modifikasi model diagramatik yang dikemukakan Pryor (1971). Hal ini dilakukan karena teori yang dikemukakan Pryor tidak dapat diterapkan untuk wilayah pinggiran kota yang didalamnya terdapat peralihan yang bersifat gradual antara kenampakan kekotaan dan kenampakan kedesaan.

LEGENDA : GH: Zobidekot DF: Zobikot FG: Zobikodes HE: Zobides A : Persentase Jarak Kota Desa B : Persentase Pemanfaatan Lahan Kekotaan C : Persentase Pemanfaatan Lahan Kedesaan D : Batas Zona Kekotaan Terbangun E : Baras Zona Kedesaan Gambar 1 Model Zonifikasi WPU (Wilayah Peri Urban) Negara Berkembang atas Dasar Bentuk Pemanfaatan Lahan (Yunus, 2001)

16

Universitas Indonesia

Dalam teori ini Yunus (2008 : 142) menemukan 4 zona yang dapat diterapkan pada kota-kota yang sedang berkembang di Negara yang sedang berkembang, diantaranya adalah: Zona Bingkai kota (Zobikot) Zona ini merupakan zona yang paling dekat dan berbatasan langsung dengan lahan perkotaan terbangun utama dan beberapa tempat bahkan menyatu dengannya dengan intensitas bangunan yang lebih rendah. Oleh karena Zobikot berbatasan langsung dengan lahan terbangun kota, maka pengaruh kota terlihat maksimal atas bentuk pemanfaatan lahannya dalam artian bahwa konversi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian menunjukkan intensitas paling tinggi dibandingkan dengan wilayah peri urban yang lain. Pada zona ini kenampakan kekotaan ( 75%) betul-betul dominan walaupun disana sini masih terlihat bentuk pemanfaatan lahan agraris. Bebrapa pakar mengemukakan bahwa sudah banyak lahan yang dimiliki oleh orang kota walaupun bentuk pemanfaatan lahannya masih bersifat agraris. Pemanfaatan lahan agraris pada umumnya dilaksanakan oleh pemilik lama atau penduduk sekitar lahan tersebut yang masih berprofesi sebagai petani. Pada zona ini terdapat dua gejala yang tidak sejalan dengan dimensi de facto dan de jure, yaitu terdapatnya persil-persil lahan yang secara de jure merupakan masih bentuk pemanfaatan lahan non-pertanian, dan gejala kedua adalah terdapatnya persil-persil lahan yang secara de facto masih merupakan brntuk pemanfaatan lahan agraris, namun secara de jure sudah berubah fungsi menjadi lahan non-agraris. Gejala pertama pada umumnya dilaksanakan oleh pemilik yang memandang bahwa mendirikan bangunan-bangunan tertentu pada miliknya tidak perlu mengubah status bentuk pemanfaatn lahan. Hal ini dapat terjadi karena ada 3 indikasi yaitu, pemilik memang tidak tahu kalau ada peraturan seperti itu; pemilik tahu tetapi tidak tahu cara mengurusnya; pemilik tahu namun tidak mau mengurusnya. Gejala kedua mulai marak terjadi pada zona ini karena meningkatnya transaksi jual-beli lahan. Sebagaiman yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa daerah pinggiran kota, khususnya lokasi yang tidak jauh dari kota sangat menarik para pendatang-pendatang baru baik perorangan maupun institusi untuk memiliki lahan di zona ini.

17

Universitas Indonesia

Zona Bingkai Kota-Desa (zobikodes) Kota didahulukan dengan maksud untuk menunjukkan bahwa antara kenampakan perkotaan masih lebih banyak dibandingkan dengan kenampakan kedesaan. Pada zona ini proporsi kenampakan perkotaan dan kedesaan relative seimbang dengan selisih yang tidak begitu substansial sebagaimana dalam zobikot. Kenampakan kekotaan yang di tunjukkan oleh bentuk pemanfaatan lahan non-agraris berada dalam kisaran sama atau lebih dari 50% namun sama atau kurang dari 75%. Sementara kenampakan kedesaan berkisar antara sama atau lebih dari 25% namun sama atau kurang dari 50%. Zona Bingkai Desa-Kota (Zobidekot) Dalam zona ini juga menunjukan perimbangan proporsi antara bentuk pemanfaatan lahan agraris dan non-agraris yang nyaris sama. Jika dalam zobikodes proporsi kenampakan bentuk pemanfaatn lahan non-agraris lebih banyak, maka dalam zona ini proporsi kenampakan bentuk pemanfaatan lahan agraris lebih banyak walaupun perbedaannya tidak mencolok. Proporsi kenampakan bentuk pemanfaatan lahan agraris berkisar antara lebih dari 50% sampai kurang dari 75% sedangkan untuk kenampakan bentuk pemanfaatan lahan perkotaan lebih dari 25% sampai kurang dari 50%. Zona Bingkai Desa (Zobides) Zona ini adalah zona yang berbatasan langsung dengan zona kedesaan. Batas terluar dari zona ini ditandai oleh 100% kenampakan bentuk pemanfaatan lahan agraris. Sementara itu rentang proporsi bentuk kenampakan lahannya adalah sama atau lebih 75% lahan agraris sampai dengan sama atau kurang dari 25% bentuk pemnfaatn lahan non-agraris. Dalam zona ini kenampakan bentuk pemanfaatan lahan agraris betul-betul mendominasi secara mencolok. Konsep Pengembangan Koridor Di Belanda, pada akhir 1990an konsep pengembangan koridor menjadi salah satu konsep yang terkemuka dalam perencanaan tata ruang. Di dalam diskusi dan dokumen awal perencanaan pembangunan nasional, pengembangan koridor (tata ruang dan perkembangan kota sepanjang garis dan simpul utama infrastruktur dalam jaringan perkotaan multipolar) dianggap sebagai bentuk yang tak terelakkan dari pembangunan spasial dan sebagai bagian dari pengembangan jaringan perkotaan.
18 Universitas Indonesia

Konsep pengembangan koridor tidak hanya terdapat di Belanda. Di Eropa sebagai contoh Inggris dan Jerman mengetahui bentuk-bentuk dari perencanaan pengembangan koridor sebagai bagian dari strategi rencana tata ruang. Di Inggris koridor yang terkenal adalah koridor M4 berada diantara London dan Bristol. Hal ini merupakan koridor yang tidak terencana dengan konsentrasi pabrik-pabrik yang terfokus pada mikroelektronik, pelayanan komersial dan industri lainnya. Koridor ini dipelajari pada tahun 1980an (oleh P. Hall, 1987) karena pada waktu itu koridor tersebut memnghasilkan pertumbuhan ekonomi sementara sebagian daerah Inggris terkena resesi. Pembangunan dan perbaikan jalan raya M4 dan koneksi kereta berkecepatan tinggi dengan London memenuhi permintaan untuk mobilitas di koridor mengakibatkan intensifnya koridor. Sementara itu di Jerman pembangunan koridor adalah instrumen yang dikenal dalam perencanaan tata ruang; terutama pada tingkat kabupaten (lnder). Sebagai contoh ialah perencanaan tata ruang di Hessen, termasuk daerah utama Franfurt Rhein. Peta morfologi dalam periode yang berbeda dalam pengembangan daaerah utama Frankfurt Rhein menunjukkan intensifnya aktifitas perkotaan dan pengembangan ekonomi di sepanjang zona garis Timur Barat yang berorientasi infrastruktur (sungai, rel kereta dan jalan tol) dan di sepanjang arah menuju selatan. Intensifnya koridor dimulai dengan industrialisasi di daerah dan akibat adanya pembangunan pertama rel kereta api. Tiga perancang keruangan dan peneliti; George R. Collins (seni dan arsitektur sejarah), C.F.J Whebell (geographer) dan C. Doxadis (arsiitek dan urban designer), mereka semua aktif terlibat dalam diskusi dalam pengembangan koridor selama 1960an. Masing-masing dari mereka telah mempublikasikan penelitiannya dari berbagai sudut pandang dan disiplin ilmu yang berbeda, pada subyek pembangunan koridor dan memiliki hubungan terkait untuk konsep dan rancangan untuk kota-kota linear. George R. Collins (sejarawan arsitektural) Mendefinisikan konsep dari linear city dan koridor sebagai berikut: Kota linear adalah satu dari bentuk, dan perkembangan kota disepanjang garis. Garis ini merupakan jalur transpurtasi arteri untuk penduduk, barang, dan jasa. Sebuah kota semacam ini bisa tumbuh bebas tak terbatas dengan penambahan karakter berulang-ulang. Sistem peredaran internalnya dirancang dengan tingkat efisiensi yang tinggi, memudahkan akesesibilitas satu sama lain. (Collins, Linear Planning, hal.2).
19 Universitas Indonesia

Meskipun perencanaan linear kota tidak pernah populer dikalangan perencana-perencana profesional, hal ini cukup paradoks, telah menjadi suatu pola yang alami dari pertumbuhan daerah perkotaan. (Collins, 1960, hal 345). C.FJ. Whebell (geograf) Dalam artikelnya, Whebell terutama berfokus pada aset-aset geografi dan kekuatan-kekuaan ekonomi yang mengakibatkan pengembangan koridor dan kurang menekankan pada aspekaspek perencanaan yang sebenarnya. Teori koridor Whebell menjelaskan evolusi sistem perkembangan kota diantara lokasi, geologi, ekonomi, infrastruktur, budaya, dan akumulasi kesejahteraan masyarakat yang terjadi secara sukses di lokasi koridor. Di dalam teorinya Whebell melekatkan perbedaan lokasional yang muncul dalam tiga dali. Dalil ini didasarkan pada (1) perbedaan geografis dalam:kenampakan fisik: dan :faktor-faktor produksi tanah: atau dengan kata lain perbedaan daya taruk untuk permukiman, (2) perbedaan geografis dalam keadaan teknologi, dan (3) pengembangan manusia, berdasarkan trial and error mengikuti usaha yang dilakukan manusia tersebut. Dari dalil tersebut dia menjelaskan bahwa beberapa lokasi yang berlaku sebagai lokasi permukiman, bahwa pergerakan dan perkembangan spasial antara permukiman akan mengikuti rute paling nyaman (cepat) dan pengetahuan (teknologi) dan perdagangan akan menyebar pada rute ini. (Whebell, 1969, hal 2) C. Doxiadis (arsitek dan ahli perkotaan) Ketika manusia mulai menggunakan transportasi mekanis, kecepatan pejalan kaki berubah menjadi dua kalinya, tiga, dan empat Dari sini berarti bahwa, dimana di masa lalu ada tempat pemukiman terisolasi, sekarang ada sistem yang kompleks dari transportasi yang mengarah ke pemukiman perkotaan yang sangat kompleks... (Doxiadis, 1963, vol 3, hal, 117). Dari kutipan tersebut diasumsikan bahwa perkembangan kota seiring dengan perkembangan transportasi dan koridor sebagai medianya. Doxiadis membedakan tiga kekuatan utama pembentuk sistem perkotaan yang dinamis: a. Kekuatan sentripetal dari permukiman b. Kekuatan Linear sistem transportasi modern, c. Kekuatan Estetika dari daya tarik lokasi.
20 Universitas Indonesia

Dalam kesempatan lain McGee mengungkapkan konsep wilayah koridor, wilayah koridor adalah suatu jalur yang menghubungkan dua kota besar. Dalam konsepnya daerah di antara dua kota besar di luar wilayah peri-urban merupakan wilayah yang didominasi oleh kegiatan campuran antara kegiatan pertanian dan nonpertanian. Sementara itu, sepanjang jalan yang menghubungkan kota besar tidak teridentifikasi sebagai daerah yang sudah berkembang secara fisikal morfologi. Oleh karena pada perkembangan selanjutnya, daerah sepanjang jalur transportasi (koridor) mengalami transformasi spasial, ekonomi, sosial, dan kultural maka terjadi perubahan dari sifat kedesaan menjadi bersifat kekotaan di sepanjang jalur transportasi darat bukan kereta api antara keduanya. Makin padat jaringan jalan darat terdapat di suatu wilayah, maka makin tinggi derajad aksesibilitas wilayahnya. Semakin jauh jaraknya dari jalur jalan raya utama makin lemah pula intensitas perkembangan wilayah. Urban Sprawl Meningkatnya penduduk perkotaan menyebabkan meningkatnya tuntutan kebutuhan hidup dalam berbagai aspek. Penduduk membutuhkan ruang untuk melakukan segala kegiatannya, ketersediaan ruang yang terbatas di perkotaan menyebabkan meluasnya penggunaan ruang di daerah pinggiran kota. Gejala pengambil alihan lahan non urban oleh penggunaan lahan urban di daerah pinggiran kota disebut sebagai invasion. Sementara itu proses perambatan kenampakan fisik kekotaan ke arah luar disebut sebagai urban sprawl Menurut Northam (1975) dalam Yunus (1999), Urban sprawl mengacu pada perluasan konsentrasi areal perkotaan ke luar. Urban sprawl melibatkan konversi lahan pinggiran dari yang sebelumnya digunakan sebagai keperluan non urban menjadi penggunaan untuk perkotaan. Sedangkan Domochel (1976) dalam Yunus (1999) menyatakan bahwa urbans sprawl adalah sebagai suatu pertumbuhan dari wilayah perkotaan yang menuju suatu proses tipe pembangunan penggunaan lahan yang beragam di daerah pinggiran kota. Robert W Wassmer (2000) menyatakan bahwa urban sprawl merupakan kata lain dari beberapa tipe desentralisasi atau suburbanisasi dari metropolitan. Suburbanisasi terjadi ketika presentase area permukiman dan aktivasi perdagangan mengambil tempat di luar pusat kota. Proses gejala urban sprawl yang tidak terkendali akan menyebabkan dampak negatif bagi fungsi kota secara keseluruhan dan daearah-daerah disekitarnya. Untuk itu diperlukan upaya pengaturan gejala urban sprawl sedini mungkin. Secara garis besar ada 3 macam proses perluasan areal kekotaan (urban sprawl) (Yunus, 2009 : 37), yaitu:
21 Universitas Indonesia

1. Perambatan konsentris, tipe ini adalah bentuk perubahan kenampakan kedesaan menjadi kenampakan kekotaan yang sebaran spasialnya berada di sekitar lahan terbangun utama dan merata. Proses ini akan mengakibatkan terciptanya kota yang kompak, namun dengan proses perkembangan spasial yang relatif lambat. 2. Perkembangan memita adalah bentuk perubahan kenampakan kedesaan menjadi kekotaan dalam artian fisik, di mana perubahan tersebut terjadi di sepanjang jalurjalur linier, baik jalur-jalur radial maupun jalur-jalur lainnya. Peranan transportasi menjadi faktor determinan yang menyebabkan terjadinya perubahan kenampakan fisikal kedesaan menjadi kenmapakan fisikal kekotaan. Apabila proses perubahan kenampakan tersebut didominasi perubahan yang terjadi pada jalur-jalur radial, maka akan terbentuk kota berbentuk bintang atau gurita. 3. Perkembangan lompat katak merupakan bentuk urbanisasi fisiko spasial yang terjadi didaerah pinggiran kota secara sporadis dalam satuan lahan yang bervariasi. Beberapa perubahan berukuran kecil terjadi karena dilaksanakan oleh perorangan secara individual, namun beberapa bentuk lainnya meliputi lahan yang luas karena dibangun oleh pengembang, baik berwujud kompleks perumahan ataupun nonperumahan. Menurut Dr. Sonar Sanjaykumar G (2008) terdapat beberapa parameter atas terjadinya Urban Sprawl : 1. Penduduk Penduduk bertindak sebagai dasar bagi keberadaan setiap sistem perkotaan. Setiap perubahan dalam populasi secara langsung mempengaruhi kinerja dari sistem perkotaan. Kenaikan populasi karena pertumbuhan alami, yaitu selisih antara angka kelahiran dan tingkat kematian serta migrasi, yaitu, perbedaan antara migrasi masuk dan migrasi keluar menyebabkan tingkat variasi dalam kinerja sistem perkotaan dan menjadi pemicu urban sprawl apabila tidak ditangani dengan benar. 2. Konektivitas Konektivitas menyediakan hubungan penting untuk aktivitas manusia baik dalam bentuk nyata maupun tidak yang ada di dalam dan di luar sistem perkotaan. Setiap perubahan konektivitas pada tingkat antar dan intra kota pada tingkat kemakmuran ekonomi digabungkan dengan kemajuan teknologi menyebabkan penyebaran susunan
22 Universitas Indonesia

penduduk dan fungsi di dalam dan di luar sistem perkotaan. Hal ini apabila tidak ditangani dengan benar dapan menjadi pemicu terjadinya sprawl. 3. Fungsi Fungsi bertindak sebagai salah satu entitas dinamis paling penting dalam sistem perkotaan, terdiri dari berbagai jenis fungsi, seperti sosial, ekonomi, dll. Setiap perubahan fungsi, dalam hal skala atau adanya penambahan perubahan didalamnya dapat mempengaruhi kinerja sistem perkotaan dengan menarik penduduk lebih mengarah ke urban sprawl jika tidak ditangani dengan benar. Penelitian Sebelumnya Sebelum penelitian ini dapat dilakukan, terdapat beberapa penlitian sebelumnya yang mengkaji daerah pinggiran kota yang dapat menjadi acuan untuk melakukan penelitian ini, antara lain penelitian berupa tugas akhir (skripsi) Noni Huriati (2008) yang berjudul Perkembangan Daerah Pinggiran Kota Yogyakarta tahun 1992 2006, mengkaji tentang perkembangan kota yang bersifat kepada proses perkembangan spasial secara horizontal sentrifugal di kota Yogyakarta. Metode penelitiannya berupa analisis deskriptif dengan urban indeks yang didapat dari perhitungan citra. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa perkembangan permukiman mengikuti jalur transportasi dengan membentuk suatu kota yang tidak kompak. Sedangkan diantara variabel yang digunakan yang memepengaruhi perkembangan kota ialah adanya pusat-pusat kegiatan masyarakat. Agus Warsono (2006) juga meneliti daerah pinggiran kota dengan judul tesis Perkembangan Permukiman Pinggiran Kota pada Koridor Jalan Kaliurang Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman. Mengkaji tentang karakteristik perkembangan kelompokkelompok permukiman pinggiran kota pada Jalan Kaliurang di Desa Sinduharjo dan Desa Sardonoharjo Kecmatan Ngaglik Kabupaten Sleman. Menggunakan pendekatan melalui analisis kualitatif, analisis kuantitatif, dan analisis model tabel distribusi analisis diskriminan. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Adanya perkembangan permukiman pinggiran kota tercermin pada kenampakan keruangan lingkungan perumahan menurut karakteristik tipologi perkembangan kelompok-kelompok permukiman, baik yang teratur maupun yang tidak teratur. Faktor-faktor kenampakan keruangan pinggiran kota sebagai bentuk perkembangan permukiman pinggiran kota secara fisik yang paling mempengaruhi
23 Universitas Indonesia

tipologi perkembangan kelompok permukiman yakni: faktor pertumbuhan penduduk (population growth), dan faktor hak-hak kepemilikan lahan (property rights), selain itu adalah faktor persaingan memperoleh lahan (competition for land). Suryo Wicaksono (2005) juga meneliti tentang perkembangan DPU di Kecamatan Ciputat dan Kecamatan Pamulang antara tahun 1991 1998 dalam hubungannya dengan perkembangan aksesibilitas dan permukiman. Menggunakan metode penelitian deskriptif, dalam penelitiannya hal ini ditujukan untuk menggambarkan perkembangan DPU berdasarkan fakta yang ada wilayah penelitian dengan mencari hubungan antara perkembangan DPU dengan perkembangan aksesibilitas (fungsi jalan) dan perkembangan permukiman. Data perkembangan kepadatan penduduk merupakan data penunjang yang memberikan informasi untuk menjelaskan bahwa perkembangan DPU dipengaruhi oleh faktor kepadatan penduduk. Hasil Penelitiannya menunjukkan bahwa DPU pasar Ciputat berkembang dari sebuah neighborhood center menjadi block center, sementara DPU Pamulang Permai dan DPU Jl. Ciputat Raya tidak berkembang dari neighborhood center menjadi block center pada periode tahun 1991 1998. Selama periode tersebut, perkembangan DPU pada daerah penelitian pertama-tama berkembang ke arah selatan (tahun 1992) baru kemudian ke arah timur (1994). Perkembangan DPU pada daerah penelitian terjadi pada aksesibilitas yang berupa jalan utama dan seiring dengan perkembangan permukiman penduduk. Aji M Darda (2009) juga meneliti tentang karakteristik dan pola permukiman di Kec. Pamulang dan Kec. Ciputat yang mengalami gejala densifikasi. Dalam penelitiannya peneliti melakukan korelasi dan analisis deskriptif dan spasial dengan membandingkan peta permukiman (permukiman teratur dan permukiman tidak teratur) di Kec. Ciputat dan Kec. Pamulang pada tahun 1991,1998 dan tahun 2007 untuk mengetahui gejala densifikasi di dua kecamatan tersebut. Mengidentifikasi karakteristik permukiman yang mengalami gejala densifikasi dengan cara mencari arah, jarak dan luasan (menggunakan penilaian kualitatif) dengan membandingkan gejala-gejala tersebut dengan tahun-tahun sebelumnya yang terjadi terhadap kota induk (Kota Jakarta). Mengetahui variable-variabel yang menjadi pemicu (trigger) terjadinya gejala densifikasi dengan cara membuat korelasi antara daerah-daerah permukiman dengan fasilitas umum, harga tanah, jumlah penduduk dan aksesbilitas yang terdapat pada daerah penelitian Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa perkembangan permukiman teratur dan tidak teratur terjadi secara pesat pada periode pertama atau pada kurun waktu 1991-1998 dengan karakteristik yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan dalam kurun waktu tersebut pada
24 Universitas Indonesia

sebagian besar daerah penelitian memiliki klasifikasi harga tanah yang juga berbeda-beda. Selain itu pada kurun waktu 1991-1998 juga terjadi perubahan beberapa fungsi jalan di kedua wilayah kecamatan tersebut. Lokasi permukiman yang mengalami gejala densifikasi terbesar berada pada wilayah yang mendekati DKI Jakarta. Sementara itu permukiman yang mengalami gejala densifikasi pada wilayah yang menjauhi Kota Jakarta gejalanya tidak dipengaruhi oleh jalan utama yang berada di wilayah tersebut namun lebih dipengaruhi oleh variabel harga tanah. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya ialah pada penggunaan konsep wilayah koridor sebagai zona analisis. Kemudian untuk mengetahui seberapa jauh perkembangan daerah pinggiran digunakan indeks sprawl sebagai parameter untuk melihat tingkat sprawl yang terjadi di wilayah penelitian.

25

Universitas Indonesia

Daftar Pustaka C.F.J. Whebell, Corridors: A Theory Of Urban Systems, ANNALS of the Association of American Geographers, Volume 59. March 1969. Collins, G.R. Cities on the Line. Architectural Review. Vol. 128. November. 1960. Darda, Aji M. Skripsi Sarjana Departemen Geografi: Karakteristik dan pola-pola permukiman di Kec. Pamulang dan Kec. Ciputat yang mengalami gejala densifikasi. Depok: Universitas Indonesia. 2009 Djaljoeni, N. Geografi Kota dan Desa, Penerbit P.T. ALUMNI, Bandung, 2003 Doxiadis, C.A. Architecture in transition, Hutchinson, London. 1963 Heriyanto, Tipologi dan Faktor Determinan Pemekaran Pinggiran Kota Semarang, tahun 1980 2000 Tesis. Yogyakarta: Program Studi Geografi, Sekolah Paska Sarjana UGM. 2000. http://www.bps.go.id/hasilSP2010/jabar/3201.pdf Huriati, Noni. Skripsi Sarjana Departemen Geografi: Perkembangan Daerah Pinggiran Kota Yogyakarta Tahun 1992-2006. Depok: Universitas Indonesia. 2008. Koestoer, R. H. Perspektif Lingkungan Desa-Kota, Teori dan Kasus. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta hal. 177. 1997. Lee, Linda. Factors Affecting Land Use Change at The Urban Rural Fringe. In Growth and Change: A Journal of Regional Development, Vol. X, October. 1979 R, Pryor.Defining the Rural Urban fringe in Larry S. Bourne (ed.) The Internal Structure of the city: Readings on Space and Environtment. Oxford: Oxford University Press. 1971 Sanjaykumar, G Sonar. Urban Sprawl A System Dynamic Approach, 44th ISOCARP Congress. 2008 Staley, Samuel R. "The Sprawling of America: In Defense of the Dynamic City," Policy Study No. 251, Reason Public Policy Institute, 1999 Wassmer, Robert.W. Urban Sprawl in US Metropolitan Area : ways to measure and comparison of the Sacramento area to similar metropolitan areas in California and the US. SSRN. 2000 Wicaksono, Suryo. Skripsi Sarjana Departemen Geografi: Perkembangan DPU terhadap permukiman di Kec. Ciputat dan Kec. Pamulang 1991-1998. Depok: Universitas Indonesia. 2005. Yunus, H.S. Struktur Tata Ruang Kota, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta 1999

26

Universitas Indonesia

Yunus, H.S. Manajemen Kota Perspektif Spasial, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005 Yunus, H.S. Megapolitan konsep, probelmatika dan prospek Penerbit pustaka pelajar, 2006 Yunus, H.S. Dinamika Wilayah Peri Urban Determinan Masa Depan Kota, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta. 2008

27

Universitas Indonesia