You are on page 1of 15

PROPOSAL PENELITIAN PERTIMBANGAN ADVOKAT DALAM MENERIMA HONORARIUM DARI KLIEN TERDAKWA TINDAK PIDANA KORUPSI NOFRY HARDI

NOMOR BP 07140068 PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PIDANA

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2010/2011

BABI PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Advokat merupakan salah satu penegak hukum yang bertugas memberikan bantuan hukum atau jasa hukum kepada masyarakat atau klien yang menghadapi masalah hukum yang keberadaannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Berdasarkan Pasal 5 ayat (1) UndangUndang No.18 Tahun 2003 Tentang Advokat, advokat adalah salah satu unsur dari caturwangsa penegak hukum. Unsur-unsur caturwangsa penegak hukum adalah:

1. Hakim 2. Jaksa 3. Polisi 4. Advokat

Advokat mengandung tugas, kewajiban, dan tanggung jawab yang luhur, baik terhadap diri sendiri, klien, pengadilan, dan Tuhan, serta demi tegaknya keadilan dan kebenaran. Dalam sumpahnya,1 advokat advokat bersumpah tidak akan berbuat palsu atau membuat kepalsuan, baik di dalam maupun di luar pengadilan. Juga tidak akan dengan sengaja atau rela menganjurkan suatu gugatan atau tuntutan yang palsu dan tidak mempunyai dasar

Winarta, Frans Hendra,S.H.Advokat Indonesia Citra, Idealisme dan Keprihatinan, Pustaka Sinar Harapan,

Jakarta, 1995.

hukum, apalagi memberi bantuan untuk itu. Tidak akan menghambat seseorang untuk keuntungan dan itikad jahat, tetapi akan mencurahkan semua pengetahuan dan kebijaksanaan terbaik dalam tugas dengan penuh kesetiaan kepada klien, pengadilan, dan Tuhan.

Pada saat menjalankan tugasnya seorang advokat memiliki hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban seorang advokat adalah menjalankan tugas dan fungsinya sesuai Kode Etik Advokat Indonesia, Undang Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat, dan peraturan perundang undangan lainnya yang mengatur tentang advokat. Hubungan antara advokat dan kliennya dipandang dari advokat sebagai officer of the court, yang mempunyai dua konsekuensi yuridis, sebagai berikut :

1. Pengadilan akan memantau bahkan memaksakan agar advokat selalu tunduk pada ketentuan Undang Undang atau berperilaku yang patut dan pantas terhadap kliennya. 2. Karena advokat harus membela kliennya semaksimal mungkin , maka advokat harus hati-hati dan tunduk sepenuhnya kepada aturan hukum yang berlaku . Menurut (Munir Fuadi,2005; 34,35)2 integritas advokat terhadap klien dalam hubungan advokat dengan klien terdapat tiga teori: 1) Teori Pengabdian Paling Lemah Seorang advokat tidak boleh melakukan tindakan tertentu untuk kliennya yang menurut pertimbangannya, tindakan tersebut tidak layak atau tidak sesuai dengan hati nurani serta tidak adil. 2) Teori Pengabdian Individual (Individual Preference Level)

Fuadi Munir, Etika Profesi Advokat, Sinar Jaya, Jakarta, 1995

Diserahkan pada pertimbangan advokat tersebut apakah dia mau melakukan tindakan tertentu untuk kliennya yang menurut pertimbangannya, tindakan tersebut tidak layak, tidak sesuai dengan hati nurani atau tidak adil. Jadi tidak ada keharusan bagi advokat untuk melakukannya. 3) Teori Pengabdian Total (Total Commitment) Mengharuskan advokat tersebut untuk melakukan tindakan tertentu untuk kliennya meskipun menurut pertimbangannya tindakan tersebut tidak layak, tidak sesuai dengan hati nurani, atau tidak adil. Dalam hal ini ada keharusan bagi advokat tersebut untuk melakukan tindakan seperti itu.

Dalam membela kliennya advokat tidak boleh melanggar aturan hukum yang berlaku. Tidak boleh melanggar prinsip moral, serta tidak boleh merugikan kepentingan orang lain.

Advokat termasuk profesi yang mulia (nobile officium), karena ia berkewajiban memberikan jasa hukum yang berupa menjadi pendamping, pemberi nasehat hukum, menjadi kuasa hukum untuk dan atas nama kliennya, atau dapat menjadi mediator bagi para pihak yang bersengketa tentang suatu perkara, baik yang berkaitan dengan perkara pidana, perdata, maupun tata usaha negara. Ia juga dapat menjadi fasilitator dalam mencari kebenaran dan menegakan keadilan untuk membela hak asasi manusia serta memberikan pembelaan hukum yang bebas dan mandiri. 3

Ada beberapa cara atau metode yang dapat dipakai oleh advokat dalam menentukan legal fee atas jasa hukum yang diberikan kepada klien. Pertimbangan advokat dalam

Rahmat rosyadi dan Sri Hartini, Advokat Dalam Perspektif Islam dan Hukum Positif, Ghalia Indonesia, hal 17.

menetapkan legal fee berdasarkan tingkat kerumitan, besarnya tanggung jawab berapa lama pekerjaan tersebut dapat diselesaikan. Tapi kadangkala advokat juga mempertimbangkan legal kondisi dan posisi seorang klien dalam suatu perkara.4 Tidak adanya standar mengenai ketentuan penetapan tarif seorang advokat menjadikan kesepakatan antara klien dan advokat jugalah yang menentukan.

Dalam kedudukannya sebagai sutau profesi yang mulia atau lebih dikenal dengan istilah officium nobile maka advokat, berdasarkan pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat berbunyi;

Advokat wajib memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada pencari keadilan yang tidak mampu.selain menangani perkara dengan menetapkan suatu legal fee atau honorarium, advokat juga memiliki kewajiban dalam memberikan bantuan hukum untuk kaum miskin dan buta huruf. Secara ideal dapat dijelaskan bahwa bantuan hukum merupakan tanggung jawab sosial dari advokat. Oleh sebab itu maka advokat dituntut agar dapat mengalokasikan waktu dan juga sumber daya yang dimilikinya untuk orang miskin yang membutuhkan bantuan hukum secara cumacuma atau probono. Pemberian bantuan hukum oleh advokat bukan hanya dipandang sebagai suatu kewajiban namun harus dipandang pula sebagai bagian dari kontribusi dan tanggung jawab sosial (social contribution and social liability) dalam kaitannya dengan peran dan fungsi sosial dari profesi advokat.

Yudha Pandu, Klien dan Advokat Dalam Praktek, Indonesia Legal Center Publishing, hal 92.

Dalam menjalankan kewajibannya tersebut, seorang advokat memiliki suatu hak salah satu hak advokat adalah legal fee atau honorarium5 dari klien, ini berdasarkan pasal 21 Undang Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat yang berbunyi:

1) Advokat berhak menerima honorarium atas jasa hukum yang telah diberikan kepada kliennya. 2) Besarnya honorarium atas jasa hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan secara wajar berdasarkan persetujuan kedua belah pihak. Berdasarkan Kode Etik Profesi Advokat Indonesia bagian II Hubungan advokat dengan klien.6

Adanya Peraturan Pemerintah (PP) No.83 tahun 2008 Tentang Persyaratan Dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum secara Cuma- Cuma yang merupakan pelaksanaan pasal 22 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat yang mengisyaratkan advokat wajib memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada pencari keadilan yang tidak mampu.

Profesi advokat seringkali mengalami hambatan dituduh oleh masayarakat dengan cap buruk karena ideologinya yang sejalan dengan si terdakwa yang dibelanya, dianggap menghisap klien secara materi, serta adanya pandangan bahwa seorang advokat acapkali membantu klien dalam melakukan tindak pidana. Sebagai contoh dalam pembelaan oleh advokat kondang Adnan Buyung Nasution yang resmi menjadi kuasa hukum Gayus Halomoan Tambunan, PNS Ditjen Pajak yang diduga terlibat penggelapan dana pajak Rp 28 miliar. Nama Gayus mencuat setelah Komisaris Jenderal Susno Duadji menyebut ada markus

Honorarium adalah imbalan atas jasa hukum yang diterima oleh Advokat berdasarkan kesepakatan dengan klien.(Pasal 1 angka 7 Undang Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat )
6

Kode Etik Ikatan Advokat Indonesia, Bab II Hubungan Dengan Klien Butir 2.7, 2.8

(makelar kasus) pajak senilai 28 miliar rupiah di tubuh Kepolisian Republik Indonesia. Mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu akan ini akan langsung mendampingi Gayus menjalani pemeriksaan. Adnan saat menemui Gayus di Mabes Polri, Sabtu (3/4/2010), mengatakan, dirinya bersedia membela Gayus atas beberapa alasan yaitu karena ingin membongkar seluruh praktik yang terkait markus yang menimpa kliennya, dia juga menilai demi Hak Azazi Manusia, Gayus layak dibela dan juga karena istri dan mertua PNS Ditjen Pajak itu mendatanginya langsung selain itu kasus Gayus ini dapat menjadi pintu masuk untuk membongkar jaringan korupsi di Indonesia. Untuk membela Gayus, Buyung mengajukan syarat yang harus dipenuhi Gayus, yakni jujur sehingga masalah yang menderanya bisa terkuak.7

Pengacara kondang ini akhirnya berbicara saat ditanya wartawan mengenai masalah pembayaran honorarium Gayus Halomoan Tambunan terhadap dirinya. Pria berambut putih ini menegaskan, uang yang didapat Gayus untuk membayar dirinya berasal berasal dari dana yang didapat dari pertolongan teman-teman dan keluarga Gayus Tambunan.

Pengacara senior ini menegaskan dirinya sejak awal tidak ada niatan untuk memeras harta kekayaan Gayus Tambunan untuk membayar jasa penasihat hukum akan dirinya. Namun, saat ditanya oleh wartawan apakah pembayaran atas tim lawyer Buyung sudah lunas atau belum. Buyung dengan santai mengatakan itu merupakan privasi dirinya dengan Gayus.8\

http://www.suaramedia.com/berita-nasional/19786-qgayus-berjanji-bongkar-kasus-markus-pajakq.html

http://metrotvnews.com/read/news/2011/02/08/41986/-Adnan-Gayus-Membayar-Saya-dengan-Cara-Mencicil/

Seperti diketahui, pengaturan honorarium advokat sebagaimana tertuang dalam pasal 21 Undang - Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat, menyatakan kebolehan adanya honorarium ini tanpa adanya batasan atau tidak adanya standar suatu penetapan honorarium yang diterima advokat atas jasa hukum yang diberikan kepada kliennya yang didakwa atas tindak pidana pencucian uang atau korupsi.

Pasal 21 Undang - Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat dapat dikatakan menjadi landasan yuridis keabsahan honorarium. Namun bila tidak diatur secara tegas, penasehat hukum yang menerima pembayaran jasa hukum (legal fee) dari terdakwa tindak pidana pencucian uang atau korupsi dapat pula diancam pidana berdasarkan ketentuan pasal 6 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. 9 Pasalnya, dalam hubungan profesional antara advokat dengan klien, terdapat suatu hubungan yang sangat dekat. Sehingga, advokat patut menduga harta yang dimiliki kliennya adalah hasil tindak pidana. Namun, adanya ketentuan kode etik kerahasiaan advokat terhadap klien, tidak memungkinkan para advokat melaporkan harta yang dimiliki kliennya atas dugaan tidak pidana.

Unsur kejujuran menjadi patokan utama advokat dalam hal penerimaan honorarium dari kliennya yang merupakan terdakwa tindak pidana pencucian uang atau korupsi. Karena advokat dalam membela kliennya dilarang melakukan tindak pidana untuk dan atas nama kliennya atau disuruh kliennya, ataupun melakukan penipuan untuk dan atas nama kliennya atau jika disuruh oleh kliennya. Dalam hal honorarium yang berbentuk gratifikasi yang

Djoko Prakoso Et Al, Kejahatan-Kejahatan Yang Merugikan Dan Membahayakan Negara, Bina Aksara, Jakarta, 1987.

didapat advokat dari kliennya harus dilaporkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi jika nilainya lebih dari Rp 10.000.000,00.10

Selain itu advokat yang diindikasikan menerima suap meskipun dari kliennya bisa dijerat dengan pasal 12 huruf Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.11

Dengan memperhatikan uraian diatas, maka pada kesempatan ini penulis bermaksud untuk membahas dan melakukan penelitian menegenai apakah seorang advokat dapat dipidana bila mendapatkan honorarium dari kliennya yang merupakan terdakwa tindak pidana pencucian uang, dengan skripsi yang berjudul; PERTIMBANGAN SEORANG ADVOKAT UNTUK MENERIMA HONORARIUM DARI TERDAKWA TINDAK PIDANA KORUPSI

B. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka masalah yang menjadi pokok atau inti dari permasalahan hukum ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Apakah advokat dapat dituntut karena menerima honorarium dari terdakwa tindak pidana korupsi?

10

Danil Elwi, Dr.,SH.,MH.,Hukum Pidana Korupsi, Program Semi Que IV, Fakultas Hukum Universitas Andalas, 2002.
11

Komisi Pemberantasan Korupsi, Memahami Untuk Membasmi, Buku Panduan Untuk Memahami Tindak Pidana Korupsi./

2. Dalam hal dituntutnya seorang advokat karena tuduhan melakukan tindak pidana pencucian uang atas dasar menerima honorarium dari klienya yang didakwa korupsi atau tindak pidana pencucian uang, apakah advokat harus tetap mempertahankan kode etik rahasia jabatan tentang hal ikhwal yang diberitahukan kepadanya oleh klien berdasarkan kepercayaan dan wajib menjaga rahasia itu meskipun telah berakhirnya hubungan advokat dengan klien? 3. Apa kendala dalam pembuktian honorarium yang diterima advokat berasal dari tindak pidana korupsi?

C.TUJUAN PENELITIAN Dengan bertolak dari identifikasi masalah yang telah penulis jabarkan, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa tujuan penulisan hukum yang berjudul PERTIMBANGAN SEORANG ADVOKAT UNTUK MENERIMA HONORARIUM DARI TERDAKWA TINDAK PIDANA KORUPSI ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui sejauh mana batasan bagi seorang advokat dalam menerima honorarium dari seorang terdakwa tindak pidana pencucian uang yang merupakan kliennya. 2. Menganalisis dan merumuskan batasan seorang advokat dalam menjaga kerahasian kliennya, dimana advokat tersebut dituntut karena tuduhan melakukan tindak pidana pencucian uang atas dasar menerima honorarium yang diduga hasil tindak pidana dari klienya yang didakwa. 3. Untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi advokat dalam melayani klien tindak pidana korupsi.

10

D.MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat teoritis Dari hasil penulisan ini diharapkan hasilnya bermanfaat untuk perkembangan ilmu pengetahuan hokum khususnya di bidang hokum pidana. 2. Manfaat praktis a) Hasil penulisan ini diharapkan bermanfaat bagi fungsionaris hokum dalam menegakkan hokum khususnya hokum pidana serta mengadakan

penyempurnaaan terhadap penegak hukum khususnya advokat terkait dengan fungsi dan peran advokat dalam penegakan hukum. b) Hasil penulisan diharapkan juga bermanfaat bagi kalangan akademisi dan masyarakat untuk mengetahui tugas dan imbalan jasa yang diterima advokat dalam pelaksanaan pekerjaannya.

E.METODE PENELITIAN

Dalam melakukan penyusunan penulisan hukum ini, penulis menggunakan metode penelitian dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif. Penelusuran berbagai peraturan yang ada kaitannya dengan tindak pidana pencucian uang, peraturan yang berkaitan dengan penentuan subjek hukum pidana, dan peraturan tentang advokat. Kemudian menganalisanya secara yuridis dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder, dengan minitikberatkan penelitian dan pengkajian terhadap data di bidang hukum.
11

Selain pendekatan yuridis normatif atau kepustakaan adalah penelitian yang mencakup penelitian atas asa-asas hukum, sistematika hukum, sinkronisasi hukum vertikal dan horizontal, perbandingan hukum serta sejarah hukum.12 Penelitian yuridis normatif penulis lakukan dengan cara meneliti bahan pustakan atau data sekunder. Adapun data tersebut mencakup13:

1. Jenis data
1) Bahan hukum primer yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat yang berkaitan dengan

masalah yang dikaji penulis diantaranya: a) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat b) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
2) Bahan hukum sekunder yaitu bahan-bahan yang erat hubungannya dengan bahan

hukum primer dan dapat membantu menganalisa dan memahami bahan hukum primer. Contohnya doktrin, hasil pemikiran akademisi, karya-karya ilmiah para sarjana, jurnal dan tulisan lainnya yang bersifar ilmiah terutama yang berkaitan dengan permasalahan yang penulis bahas dalam peulisan hukum ini. 3) Bahan hukum tersier yaitu bahan-bahan hukum yang memberikan perunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum, ensiklopedi legal, thesaurus dan bahan-bahan dari internet.

12

Soerjono Sukanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Raja Grafindo, hal 14.
13

Soerjono Sukanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Raja Grafindo, hal 37.

12

Dalam penulisan hukum ini, penulis juga menggunakan metode deskriptif analisis. Metode deskriptif analisis adalah metode pemecahan masalah-masalah actual dengan jalan mengumpulkan data, menyusun atau mengklasifikasi, dijelaskan kemudian dianalisa.14

2. Teknik pengolahan dan analisis data 1) Pengolahan data Pengolahan data adalah kegiatan merapikan data yang telah berhasil dikumpulkan sehingga menjadi sistematik dan siap dianlisis. 15Dengan melakukan proses editing data diperiksa dan disusun secara sistematis untuk kesempurnaan penulisan. 2) Analisis data Analisa data sebagai tindak lanjut proses pengolahan data, untuk dapat memecahkan dan menguraikan masalah yang akan diteliti berdasarkan bahan hukum yang diperoleh, maka diperlikan adanya teknik analisa bahan hukum. Penulis menggunakan teknik analisa deskripsi kuantitatif yaitu dengan menggunakan bahan yang sudah ada maka penulis menguraikan variablevariabel yang terdapat dalam bahan tersebut untuk dikombinasikan dengan bahan yang lain ditambah dengan pengetahuan statistik. Analisis data yang telah dikumpulkan kemudian dipadukan dengan wawancara dan kuesioner sehingga menghasilkan suatu penulisan yang dapat dipertanggungjawabkan.

14
15

Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar dan Metode Teknik, Tarsito, hal 60. Waluyo, Banbang, 1999, Penelitian Hukum Dalam Praktek, Jakarta, Sinar Grafika; hlm. 72.

13

F.SISTEMATIKA PENULISAN Untuk memberikan gambaran umum serta dapat dipahami dan dimengerti secara tentang apa yang terdapat dalam usulan penelitian ini, maka dapat penulis gambarkan kerangka pembahasan melalui sistematika penulisan sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini penulis menguraikan mengenai latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Di dalam bab ini penulis hendak menjabarakan hak dan kewajiban seseorang advokat dalam memberikan bantuan hukum terhadap kliennya. Penulis juga hendak menjabarkan hambatan hambatan yang diterima advokat didalam menjalankan profesinya sesuai dengan hak dan kewajibannya tersebut.

BAB III PEMBAHASAN PERMASALAHAN

Di dalam bab ini penulis hendak mengkaji mengenai keabsahan legal fee yang diterima advokat dari terdakwa tindak pidana. Serta penulis hendak menjabarkan pembahasan mengenai advokat yang menerima yang menerima honorarium atas jasa hukum yang ia berikan. BAB IV PENUTUP

14

Sebagai akhir dari penulisan skripsi ini penulis mencoba memberi kesimpulan terhadap masalah yang telah dibahas pada bab-bab sebelumnya. Selain itu penulis akan mencoba memberikan saran-saran yang berhubungan dengan permasalahan tersebut.

15