You are on page 1of 11

LAPORAN PENDAHULUAN PASIEN DENGAN GANGGUAN AMEMIA APLASTIK

Disusun Oleh : M.Elfan Syamsul Arif 10.883

AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH 2011

LAPORAN PENDAHULUAN PASIEN DENGAN GANGGUAN ANEMIA APLASTIK

A. Pengertian Anemia aplastik adalah kelainan hematologik yang ditandai dengan penurunan komponen selular pada darah tepi yang diakibatkan oleh kegagalan produksi di sumsum tulang. Pada keadaan ini jumlah sel-sel darah yang diproduksi tidak memadai. Penderita mengalami pansitopenia, yaitu keadaan dimana terjadi kekurangan jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Anemia aplastik adalah suatu sindroma kegagalan sumsum tulang yang ditandai dengan pansitopenia perifer dan hipoplasia sumsum tulang.4 Pada anemia aplastik terjadi penurunan produksi sel darah dari sumsum tulang sehingga menyebabkan retikulositopenia, anemia, granulositopenia, monositopenia dan trombositopenia.9 Istilah anemia aplastik sering juga digunakan untuk menjelaskan anemia refrakter atau bahkan pansitopenia oleh sebab apapun. Sinonim lain yang sering digunakan antara lain hipositemia progressif, anemia aregeneratif, aleukia hemoragika, panmyeloptisis, anemia hipoplastik dan anemia paralitik toksik. B. Etiologi Anemia aplastik sering diakibatkan oleh radiasi dan paparan bahan kimia. Akan tetapi, kebanyakan pasien penyebabnya adalah idiopatik, yang berarti penyebabnya tidak diketahui Anemia aplastik dapat juga terkait dengan infeksi virus dan dengan penyakit lain. Penyebab hampir sebagian besar kasus anemia aplastik bersifat idiopatik dimana penyebabnya masih belum dapat dipastikan. Namun ada faktor-faktor yang diduga dapat memicu terjadinya penyakit anemia aplastik ini. Faktor-faktor penyebab yang dimaksud antara lain: Penyakit kongenital atau menurun seperti anemia fanconi, dyskeratosis congenita,

sindrom Pearson, sindrom Dubowitz dan lain-lain. Diduga penyakit-penyakit ini memiliki kaitan dengan kegagalan sumsum tulang yang mengakibatkan terjadinya pansitopenia (defisit sel darah). Menurut sumber referensi yang lain, penyakit-penyakit yang baru saja disebutkan merupakan bentuk lain dari anemia aplastik (Hematologi Klinik Ringkas; Prof. Dr. I Made Bakta). Zat-zat kimia yang sering menjadi penyebab anemia aplastik misalnya benzen, arsen, insektisida, dan lain-lain. Zat-zat kimia tersebut biasanya terhirup ataupun terkena (secara kontak kulit) pada seseorang. Obat seperti kloramfenikol diduga dapat menyebabkan anemia aplastik. Misalnya pemberian kloramfenikol pada bayi sejak berumur 2 3 bulan akan menyebabkan anemia aplastik setelah berumur 6 tahun. America Medical Association juga telah membuat daftar obat-obat yang dapat menimbulkan anemia aplastik. Obat-obat yang dimaksud antara lain: Azathioprine, Karbamazepine, Inhibitor carbonic anhydrase, Kloramfenikol, Ethosuksimide, Indomethasin, Imunoglobulin limfosit, Penisilamine, Probenesid, Quinacrine, Obat-obat sulfonamide, Sulfonilurea, Obat-obat thiazide, Trimethadione. Radiasi juga dianggap sebagai penyebab anemia aplastik ini karena dapat mengakibatkan kerusakan pada sel induk ataupun menyebabkan kerusakan pada lingkungan sel induk. Contoh radiasi yang dimaksud antara lain pajanan sinar X yang berlebihan ataupun jatuhan radioaktif (misalnya dari ledakan bom nuklir). Paparan oleh radiasi berenergi tinggi ataupun sedang yang berlangsung lama dapat menyebabkan kegagalan sumsum tulang akut dan kronis maupun anemia aplastik. Selain radiasi, infeksi juga dapat menyebabkan anemia aplastik. Misalnya seperti infeksi virus Hepatitis C, EBV, CMV, parvovirus, HIV, dengue dan lain-lain.

C. Tanda dan Gejala Pada penderita anemia aplastik dapat ditemukan tiga gejala utama yaitu, anemia (kurang darah merah), trombositopenia (kurang trombosit), dan leukopenia (kurang

leukosit). Ketiga gejala ini disertai dengan gejala-gejala lain yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Anemia biasanya ditandai dengan pucat, mudah lelah, lemah, hilang selera makan, dan palpitasi. Trombositopenia, misalnya: perdarahan gusi, epistaksis, petekia, ekimosa dan lainlain. Leukopenia, misalnya: infeksi. Selain itu, hepatosplenomegali dan limfadenopati juga dapat ditemukan pada penderita anemia aplastik ini meski sangat jarang terjadi. D. Penatalaksanaan Terapi yang dapat dilakukan pada penderita Anemia Aplastik cukup banyak. Terapi Suportif Transfusi sel darah merah dan trombosit sangat bermanfaat. Hal ini dilakukan untuk mengimbangi kekurangan sel darah merah dan trombosit. Faktor-faktor pertumbuhan hematopoietik Terapi dengan faktor pertumbuhan sebenarnya tidak dapat memperbaiki kerusakan sel induk. Namun terapi ini masih dapat dijadikan pilihan terutama untuk pasien dengan infeksi berat. Transplantasi Sumsum Tulang Transplantasi sumsum tulang ini dapat dilakukan pada pasien anemia aplastik jika memiliki donor yang cocok HLA-nya (misalnya saudara kembar ataupun saudara kandung). Terapi ini sangat baik pada pasien yang masih anak-anak. Transplantasi sumsum tulang ini dapat mencapai angka keberhasilan lebih dari 80% jika memiliki donor yang HLA-nya cocok. Namun angka ini dapat menurun bila pasien yang mendapat terapi semakin tua. Artinya, semakin meningkat umur, makin meningkat pula reaksi penolakan sumsum tulang donor. Kondisi ini biasa disebut GVHD atau graftversus-host disease. Kondisi pasien akan semakin memburuk. Terapi imunosupresif Terapi imunosupresif dapat dijadikan pilihan bagi mereka yang menderita anemia

aplastik. Terapi ini dilakukan dengan konsumsi obat-obatan. Obat-obat yang termasuk terapi imunosupresif ini antara lain antithymocyte globulin (ATG) atau antilymphocyte globulin (ALG), siklosporin A (CsA) dan Oxymethalone. Oxymethalon juga memiliki efek samping diantaranya, retensi garam dan kerusakan hati. Orang dewasa yang tidak mungkin lagi melakukan terapi transplantasi sumsum tulang, dapat melakukan terapi imunosupresif ini. E. Komplikasi Komplikasi yang paling sering terjadi dari anemia aplastik ini adalah perdarahan dan rentan terhadap infeksi. Hal ini disebabkan karena kurangnya kadar trombosit dan kurangnya kadar leukosit. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, kadar leukosit dan trombosit ini menurun diakibatkan kegagalan sumsum tulang. Terapi anemia aplastik juga dapat menyebabkan komplikasi pada penderita anemia aplastik ini. Komplikasi yang dimaksud adalah GVHD (Graft-Versus-Host-Disease). Hal ini merupakan kegagalan dari terapi transplantasi sumsum tulang. Maksudnya begini, transplantasi sumsum tulang merupakan salah satu terapi untuk penderita Anemia Aplastik. Terapi ini dapat dilakukan jika si pasien masih muda dan HLA si pendonor cocok dengan si penderita. HLA yang cocok biasanya jika berasal dari saudara kandung atau orang tua si penderita. GVHD terjadi sebagai bukti bahwa terapi yang dilakukan gagal. F. Patofis Timbulnya anemia mencerm inkan adanya kegagalan sumsum tulang ataukehilangan sel darah mera h berlebiha n atau keduanya. Kegagalan sumsumtulang dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, invasi tumor,atau kebanyakan akibat penyebab y ang tidak diketahui. Sel da rah merahdapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi) pada kasus yangd i s e b u t t e r a k h i r , m a s a l a h d a p a t a k i b a t e f e k s e l d a r a h m e r a h y a n g t i d a k sesuai dengan ketahanan sel darah merah normal atau akibat beberapa

faktor d i l u a r s e l d a r a h m e r a h y a n g m e n y e b a b k a n d e s t r u k s i s e l d a r a h m e r a h . Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sistem fagositik ataud a l a m s i s t e m r e t i k u l o e n d o t e l i a l t e r u t a m a d a l a m h a t i d a n l i m p a . S e b a g a i hasil samping proses ini bilirubin yang sedang terbentuk dalam fagosit akanm a s u k d a l a m a l i r a n d a r a h . S e t i a p k e n a i k a n d e s t r u k s i s e l d a r a h m e r a h (hemolisis) segera dire pleksikan dengan meningkatkan bilirubin plasma( k o n s e n t r a s i a ta u k ura ng ; ka da r 1,5 norm a lny a 1 mg /dl

m g / d l mengakibatkan ikterik pada

sclera.(Smeltzer & Bare. 2002 : 935 ).

G. Pencegahan Usaha pertama untuk mencegah anemia aplastik ini adalah menghindari paparan bahan kimia berlebih sebab bahan kimia seperti benzena juga diduga dapat menyebabkan anemia aplastik. Kemudian hindari juga konsumsi obat-obat yang dapat memicu anemia aplastik. Kalaupun memang harus mengonsumsi obat-obat yang demikian, sebisa mungkin jangan mengonsumsinya secara berlebihan. Selain bahan kimia dan obat, ada baiknya pula untuk menjauhi radiasi seperti sinar X dan radiasi lainnya yang telah dijelaskan di bagian faktor penyebab di atas.

H. Konsep Asuhan Keperawatan 1) Pengkajian a. Aktivitas atau istirahat y y Keletihan,kelemahan,malise umum Kehilangan prokdufitas ,

y y

Penurunan Semangat untuk kerja Kebutuhan istirahat dan tidur Lebih banyak

b. Sirkulasi y y y Riwayat kehilangan darah kronis Palpitasi Riwayat Infeksi

c. Makan/ Cairan y y y d. Nyeri Biasanya nyeri pada kepala dan abdomen 2) Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan anemia meliputi : a. P o l a n a f a s t i d a k e f e k t i f b e r h u b u n g a n d e n g a n h i p e r v e n t i l a s i d i t a n d a i dengan dipsneu, takikardia. b. P e r u b a h a n p e r f u s i j a r i n g a n s e r e b r a l b e r h u b u n g a n d e n g a n p e n u r u n a n O2 ke otak ditandai dengan penurunan kesadaran, nyeri kepala. c. P e r u b a h a n n u t r i s i k u r a n g d a r i k e b u t u h a n t u b u h berhubungan dengank e g a g a l a n u n t u k m e n c e r n a a t a u k e t i d a k m a m p u a n m e n c e r n a makanan /absorpsi nut rient yang diper lukan unt uk pembent ukan seldarah merah ditandai dengan mual-muntah, anoreksia, penurunan BB. d. Konst ipasi ber hubungan dengan perubahan proses pencernaan. e. Nyer i akut berhubungan dengan agen cedera bio logis (asam lakt at). Nafsu makan menurun Mual muntah Berat badan menurun

f. I n t o l e r a n s i a k t i v i t a s b e r h u b u n g a n d e n g a n k e t i d a k s e i m b a n g a n a n t a r a suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan. g. R i s i k o t i n g g i t e r h a d a p i n f e k s i b e r h u b u n g a n d e n g a n t id a k ad e k u at nya p e r t a h a n a n s e k u n d e r ( p e n u r u n a n h e m o g l o b i n l e u c o p e n i a , a t a u penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan) 3) Intervensi a. P o l a n a f a s t i d a k e f e k t i f b . d h i p e r v e n t i l a s i ditandai dengandispnea, takikardia Tujuan : Setelah dilakukan askep selama 3x24 jam, diharapkan pola nafas pasien kembali efektif dengan kriteria hasil :pasien melaporkan sesak napas berkurangpe rna fas a n te rat ur -takipneu atau dispneu

t i d a k a d a -tanda vital dalam batas normal (TD 1209 0 / 9 0 - 6 0 m m H g , n a d i 8 0 - 100 x/menit, RR : 18-24 x/menit, suhu 36,5 37,5 C) Intervensi : 1)Pantau tanda-tanda vital 2)M onit or usa ha pe rna pasa n,

pe ng em banga n

da da ,

k e t e r a t u r a n pernapasan, napas bibir dan penggunaan otot bantu pernapasan 3)Berikan posisi semifowler jika tidak ada kontraindikasi 4)Ajarkan klien napas dalam

b. P e r u b a h a n p e r f u s i j a r i n g a n s e r e b r a l b e r h u b u n g a n d e n g a n penurunan O2 ke otak ditandai dengan penuruna n kesadaran,nyeri kepala.

Tujuan : Setelah diberikan askep selama 3 x 24 jam diharapkan terjadi peningkatan perfusi jaringan dengan kriteria hasil:m e n u n j u k k a n p e r f u s i a d e k u a t -pasien mengatakan nyeri kepala berkurang- T T V d a l a m b a t a s n o r m a l ( T D ( 1 4 0 / 9 0 - 9 0 / 6 0 m m H g ) , N a d i ( 6 0 - 100x/menit), RR (18-22x/menit), Suhu (36,5-37,50C) -Membrane mukosa warna merah muda G C S > 1 3

Intervensi : 1.Awasi tanda vital kaji pengisian kapiler, warna kulit/membrane mukosa,dasar kuku. memberikan informasi tentang d e r a j a t / k e a d e k u a t a n p e r f u s i jaringan dan membantu menetukan kebutuhan intervensi. 2.Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi. meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler. Catatan : kontraindikasi bila ada hipotensi. 3.Selidiki keluhan nyeri kepala iskemia serebral mempengaruhi status kesadaran pasien kolaborasi : 1.Kolaborasi pengawasan hasil pemeriksaan laboraturium. Berikansel darah merah lengkap/packed produk darah sesuai indikasi. mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan /responsterhadap terapi. 2.Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi. memaksimalkan transport oksigen ke jaringan c. P e r u b a h a n p e r f u s i j a r i n g a n s e r e b r a l b e r h u b u n g a n d e n g a n penurunan O2 ke otak ditandai dengan penuruna n kesadaran,nyeri kepala

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungandengan kegagalan untuk m e n c e r n a a t a u k e t i d a k m a m p u a n mencerna makanan/absorpsi nutrient yang diperluka n untuk p e m b e n t u k a n s e l d a r a h m e r a h d i t a n d a i d e n g a n m u a l - m u n t a h , anoreksia, penurunan BBTujuan : Setelah diberikan askep selama 3 x 24 jam dihara pkan intakenutrisi pasien adekuat dengan kriteria hasil:- m u a l m u n t a h ( - ) -m a ka n habis 1 pors i

Intervensi :Mandiri : 1.Kaji riwayat nutrisi, termasuk makan yang disukai. mengidentifikasi defisiensi, memudahkan intervensi 2.Observasi dan catat masukkan makanan pasien. mengawasi masukkan kalori atau kualitas kekurangan konsumsimakanan. 3.Berikan makan sedikit dengan frekuensi s e r i n g d a n a t a u m a k a n diantara waktu makan. menurunkan kelemahan, meningkatkan pemasukkan dan mencegahdistensi gaster. 4.Observasi dan catat kejadian mual/munt ah, flatus dan dan gejala lainyang berhubungan. gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ.

DAFTAR PUSTAKA
Salonder,H.Anemia aplastic.Dalam:Suyono,S.Waspadji, S.Lesmana, L .Alwi, I .Setiati, S.Sundaru, H.dkk .Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.JilidII.EdisiIII.Balai Penerbit FKUI. Jakarta 2001:501-8.

Aplastiche anemia. Hematologie Klapper.8th ed. Leids Universitair Medisch Centrum Leiden. Juni 1999:12-16.

Widjanarko A. Anemia aplastik. In: Simadibrata M, Setiati S,Alwi I, Oemardi M, Gani RA, Masjoer A, eds. Pedomendiagnosis dan terapi di bidang ilmu penyakit dalam. Jakarta:Pusat Informasi dan Penerbitan Departemen Ilmu PenyakitDalam FKUI RSCM:1999.p.102-3. Manjoer ,Arif. 2001.Kapita Selekta Kedokteran.FK UI : Media Aeskultasi