You are on page 1of 12

PENDAPATAN DAN BEBAN

A. PENGAKUAN PENDAPATAN Pengakuan Pendapatan / Revenue recognition adalah prinsip yang sangat penting dari dasardasar akuntansi dimana yang terpenting adalah perbedaan antara cash basis accounting and accrual basis accounting Dalam cash basis accounting, pengakuan pendapatan diakui ketika kas diterima, tanpa memandang apakah Jasa telah dilakukan atau barang dagang telah dikirimkan kepada pembeli. Sedangkan pada Acrual basis accounting, pengakuan pendapatan diakui ketika Pendapatan diakui walaupun cash belum diterima (Realized or realizable ). Secara umum pendapatan terjadi ketika penyerahan Barang atau jasa telah di laksanakan dan cash diterima (cash basis) atau piutang dibukukan(Acrual basis). Pengukuran pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima. Pernyataan ini harus diterapkan dalam akuntansi untuk pendapatan yang timbul dari transaksi dan peristiwa ekonomi berikut ini: 1) Penjualan Barang Pendapatan dari penjualan barang harus diakui bila seluruh kondisi berikut dipenuhi: y y y Barang atau manfaat ekonomi telah dipindah tangan Penjual tidak lagi memiliki kontrol atas barang jumlah pendapatan dan biaya sehubungan dengan transaksi dapat diukur dengan andal 2) Penjualan Jasa Bila hasil suatu transaksi yang meliputi penjualan jasa dapat diestimasi dengan andal, pendapatan sehubungan dengan transaksi tersebut harus diakui dengan acuan pada tingkat penyelesaian dari transaksi pada tanggal neraca. Hasil suatu transaksi dapat diestimasi dengan andal bila seluruh kondisi berikut ini dipenuhi: y jumlah pendapatan, biaya dan tingkat menyelesaikan transaksi dapat diukur dengan andal (tanggal neraca) y manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut akan diperoleh perusahaan;

Bila hasil transaksi yang meliputi penjualan jasa tidak dapat diestimasi dengan andal, pendapatan yang diakui hanya yang berkaitan dengan beban yang telah diakui yang dapat diperoleh kembali.

3) Bunga, Royalti dan Dividen Pendapatan yang timbul dari penggunaan aktiva perusahaan oleh pihak-pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti dan dividen harus diakui bila: y besar kemungkinan manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut akan diperoleh perusahaan; dan y jumlah pendapatan dapat diukur dengan andal.

Pendapatan harus diakui dengan dasar sebaqai berikut: y bunga harus diakui atas dasar proporsi waktu yang memperhitungkan hasil efektif aktiva tersebut y royalti harus diakui atas dasar akrual sesuai dengan substansi perjanjian yang relevan; dan y dalam metode biaya (cost method), dividen tunai harus diakui bila hak pemegang saham untuk menerima pembayaran ditetapkan.

PENGAKUAN PENDAPATAN PADA SAAT PENJUALAN (PENYERAHAN) Menurut FASB dalam concept statement no. 5, kedua syarat untuk mengakui pendapatan (direalisasi atau dapat direalisasi dan dihasilkan) biasanya terpenuhi pada saat produk atau barang dagang diserahkan atau jasa diberikan kepada pelanggang. Pendapatan dari aktivitas produksi serta penjualan umumnya diakui pada saat penjualan atau point of sale. Akan tetapi disini bisa timbul masalah dalam pelaksanaannya. Tiga situasi semacam ini akan dibahas berikut. Penjualan Dengan Perjanjian Beli Kembali Jika suatu perusahaan menjual produk dalam satu priode dan setuju untuk membelinya kembali dalam priode akuntansi berikutnya, maka apakah perusahaan itu sudah menjual produk tersebut ? dalam situasi seperti ini hak milik legal telah berpindah. Akan tetapi, substansi ekonomi dari transiaksi ini adalah bahwa risiko kepemilikan tetap berada pada penjual. FASB telah mengambil langkah-langkah untuk membatasi pengakuan pendapatan dalam praktik ini . jika terdapat perjanjian kembali dengan harga tertentu dan harga ini dapat menutup semua biaya persediaan ditambah biaya kepemilikan yang terkait, maka persediaan dan kewajiban terkait itu tetap ada dalam pembukuan penjual, dengan kata lain tidak terjadi penjualan. Penjualan dengan hak retur Apakah melibatkan penjualan tunai atau kredit, suatu masalah khusus akan timbul dengan adanya hak retur dan pengurangan harga. Ada tiga metode pengakuan pendapatan alternatif apabila penjual menanggung risiko kepemilikan yang berkepanjangan karena pengembalian produk yaitu : y tidak mencatat penjualan sampai seluruh hak retur habis masa berlakunya

y y

mencatat penjualan, tetapi mengurangi penjualan dengan estimasi retur di masa depan, dan mencatat penjualan serta mempehitungkan retur pada saat terjadi

FASB menyimpulkan bahwa jika suatu perusahaan menjual produknya tetapi memberikan pembeli hak untuk mengembalikan produk itu, maka pendapatan dari transaksi penjualan ini akan diakui pada saat penjualan hanya jika semua dari enam kondisi berikut ini terepenuhi: 1. Harga penjualan kepada pembeli hakikatnnya tetap (fixed) atau dapat ditentukan pada tanga penjualan 2. Pembeli sudah membayar penjual, atau pembeli berkewajiban untuk membayar penjual, da kewajibann itu tidak tergantung pada penjualan kembali produk tersebut. 3. Kewajiban pembeli kepada penjualan tidak akan berubah apabila terjadi pencurian atau kerusakan atau rusaknya fisik produk 4. Pembeli yang memperoleh produk untuk dijual kembali memilki substansi ekonomi yang terpisah dari yang diberikan oleh penjual. 5. Penjual tidak memiliki kewajiban yang signifikan atas kinerja masa depan yang secara langsung menyebabkan penjualan kembali produk itu oleh pembeli . 6. Jumlah retur di masa depan dapat diestimasi penjual secara layak. Bila keenam kondisi diatas tidak terpenuhi, dalam hal ini pendapatan penjualan dan harga pokok penjualan harus diakui ketika hak retur secara substansial telah habis masa berlakunya, atau apabila keenam kondisi tersebut kemudian apat terpenuhi, mana yang lebih dahulu terjadi. Penadpatan penjualan dan harga pokok penjualan yang dilaporkan dalam laporan laba rugi harus dikurangi untuk melaporkan estimasi retur.

PENGAKUAN PENDAPATAN SEBELUM PENYERAHAN Kebanyakan pengakuan pendapatan pada saat penjualan (penyerahan) digunakan karen asebagian besar ketidakpastian mengenai proses menghasilkan laba dan harga pertukaran sudah diketahui. Akan tetapi, dalam situasi tertentu pendapatan diakui sebelum penyelesaian dan penyerahan. Contoh yang paling terkenal adalah akuntansi kontrak konstruksi jangka panjang yang menggunakan metode persentase-penyelasaian. Ada dua metode akuntansi yang sangat berbeda untuk kontrak konstruksi jangka panjang yang diakui oleh profesi akuntansi. y Metode persentase penyelesaian. Pendapatan dan laba kotor diakui setiap priode berdasarkan kemajuan proses konstruksi, yaitu persentase penyelesaian. Biasanya konstruksi ditambah laba kotor yang dihasilkan sampai hari ini diakumulasikan dalam sebuah

akun persediaan (konstruksi dalam proses), dan termin diakumulasi dalam akun kontrak persediaan (tagihan atas konstruksi dalam proses) y Metode kontrak selesai. Pendapatan dan laba kotor hanya diakui pada saat kontrak diselasikan. Biaya konstruksi diakumulasikan dalam suatu akun persediaan (kontruksi dalam proses), dan termin diakumulasikan dalam aun kontra persediaan (tagihan atas konstruksi dalam proses).

Dasar pemikiran digunakan akuntansi persentase penyelasaian adalah bahwa dalam kebanyakan kontrak ini pembeli dan penjual mendapat hak yang dapat dipaksakan pemberlakuannya (enforcable rights). Pembeli memiliki hak legal untuk mensyaratkan kinerja tertentu atas kontrak. Sementara penjual memiliki hak untuk meminta pembayaran sesuai dengan kemajuan proses yang menjadi bukti hak kepemilikan pembeli. Akibatnya, terjadi penjualan yang terus menerus selama pekerjaan berlangsung, dan pendapatan harus diakui sesuai dengan itu. Metode persentase penyelesaian harus digunakan perusahaan apabila estimasi kemajuan ke arah penyelesaian, pendapatan, serta biaya secara layak dapat dipercaya, dan semua syarat berikut ini terpenuhi: 1. Kontrak itu secara jelas menetapkan hak-hak yang dapat dipaksakan pemberlakuannya mengani barang atau jasa yang akan diberikan dan diterima oleh pihak yang terlibat dalam kontrak, imbalan yang akan dipertukarkan, serta cara dan syarat penyelesaian. 2. Pembeli dapat diharapkan untuk memenuhi semua kewajiban dalam kontrak. 3. Kontraktor dapat diharapkan untuk melaksanakan kewajiban kontraktual tersebut.

Metode kontrak selesai harus digunakan perusahaan hanya: 1. Jika suatu entitas terutama mempunyai kontrak jangka pedek, atau 2. Jika syarat syarat untuk menggunakan metode persentase penyelasaian tidak dapat terpenuhi, atau 3. Jika terdapat bahaya yang melekat dalam kontrak itu di luar risiko bisnis yang normal dan berulang

Asumsinya adalah bahwa metode persentase penyelesaiaan merupakan metode yang lebih baik dan metode kontrak selesai hanya akan digunakan jika metode persentase penyelasian dianggap tidak tepat.

B.

PAJAK PENGHASILAN Pajak adalah satu jenis biaya yang ditangani oleh perusahaan. Faktanya dalam pasar yang

kompetitif dewasa ini, para manajer diharapkan untuk menemukan celah-celah dalam peraturan perpajakan yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan yang ingin membayar pajak lebih kecil, perusahaan akan memiliki kas lebih banyak untuk membiayai operasi dan ekspansi serta membuka lowongan kerja baru. Namun, apa akibatnya jika perusahaan memaksakan cakupanan pengurangan pajaknya ? jelas perusahan tersebut akan mengalami audit pajak, yang hasilnya dapat mengacaukan laporan keuangan perusahaan tersebut. Secara teoritis, pajka penghasilan dapat dipandang sebagai biaya operasi perusahaan atau sebagai pembagian laba oleh pemilik perusahaan kepada pemerintah. Pandangan pertama lebih diterima oleh masayarakat bisnis, karena pajak penghasilan dikenakan oleh pemertintah terhadap semua perusahaa dan merupakan biaya yang diperlukan untuk menjalangkan perusahaan di masyrakat. Karena pajak penghasilan mempengaruhi semua perusahaan akuntansi untuk pajak penghasilan sangat penting dan diperlukan. Masalah akuntansi pajak penghasilan meliputi hal-hal berikut ini : 1. Alokasi penghasilan dalam suatu priode Karena pajak penghasilan terutama berhubungan dengan unsur-unsur pendapatan dan biaya, pelaporan pajak penghasilan harus secara langsung diakitkan dengan unsur-unsur tersebut. Jika semua pendapatan dan biaya semuanya berhubungan langsung debgan operasi, jumlah pajak penghasilan dalam suatu priode akan dilaporkan sebagai pengurang laba operasi sebelum pajak . Namun demikian, laporan laba rugi telah dibagi kedalam beberapa bagian. Didalamnya meliputi laba dari operasi, laba dari penghentian operasi, pos-pos luar biasa, pengaruh kumulatif perubahan akuntansi. Masing-masing unsur biaya termasuk dalam penghasilan kena pajak, baik sebagai penambah atau pengurang. Alokasi tersebut disebut sebagai intraperiod tax allocation 2. Alokasi pajak penghasilan antar priode Masalah yang paling kompleks menegani akuntansi pajak penghasilan adalah penyesuaian yang diperlukan untuk menerapkan dasar akrual terhadap pajak penghasilan. Karena jumlah biaya pajak secara langsung berhubungan dengan laba yang diperoleh, maka pengendalian biaya ini hanya dapat dilakukan dengan perencanaan pajak dengan menerapkan aturan perpajakan yang akan meminimumkan nilai pajak yang dibayar selama umur hidup perushaan. Penerapan aturan perpajakan seringkali akan mengakibatkan jumlah laba kena pajak berbeda dengan laba sebelum pajak yang dilaporkan dalam rugi-laba, atau sering juga disebut laba akuntansi. Laba kena pajak ditentukan oleh peraturan perundangan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Umumnya, perturan perpajakan tidak berkepentingan pengukuran laba untuk menentkan apakah

perushaan lebih baik, tetapi lebih kepentingan terhadap kemampuan perusahaan membayar pajak. Jadi, kebanyakan laba dikenakan pajak apabila kas telah diterima meskipun jasa yang dijual masih akan diserahkan menurut akuntansi laba tersebut belum diakui dalam catatan. Perbedaan laba kena pajak dengan laba kauntansi dapat bersifat permanen atau hanya sementara. Perbedaan permanen timbul dari : y Unsur-unsur yang diperhitungkan untuk menentukan laba kena pajak tetapi tidak pernah diakui tujuan kauntansi dan y Unsur-unsur yang diakui untuk tujuan akuntansi, tetapi tidak pernah dimasukkan untuk perhitungan laba kena pajak. Perbedaan sementara atau perbedaan waktu timbul dari unsur-unsur pendapatan dan biaya yang untuk tujuan akuntansi diakui dalam priode-priode sebelum atau setelah priode perhitungan unsurunsur tersebut untuk menentukan laba kena paja. Perbedaan sementara tersebut memerlukan alokasi pajak antarperiode. Alokasi ini menimbulkan masalah yang paling besar dalam akuntansi untuk pajak penghasilan. Perbedaan pemanen Seperti penyebutannya, perbedaan permanen didefinisakan sebagai perbedaan antara laba kena a pajak dengan laba akuntansi yang timbul akibat transaksi-transaksi yang menurut aturan perundangundangan tidak ditutup dengan perdedaan yang sama, atau sebaliknya dalam periode lain. Perbedaan permanen dapat dikalasifikasikan kedalam pendapatan-pendapata yang tidak termasuk dalam laba kena pajak dan biaya-biaya yang tidak dapat dikurangkan untuk mendapat laba kena pajak. Contoh pendapatan yang tidak kena pajak meliputi: y y y Hibah atau bantuan yang tidak ada hubungannya dengan usaha perusahaan Pembayaran yang diterima dari perusahaan asuransi jiwa Deviden yang diterima oleh perusahaan dari perusahaan lain dengan syarat perusahaan memiliki paling sedikit 25% dari nilai saham yang disetor dari perusahaan yang membayar deviden dan kedua perusahaan tersebut mempunyai hubungan ekonomis dalam jalur usahanya. Contoh biaya yang tidak bisa dikurangi meliputi : y y Denda atau biaya yang timbul akibat pelanggaran hukum Amortisasi goodwill

Perbedaan waktu Terutama yang menyebabkan perbedaan antara lab akauntansi dengan laba kena pajak berisfat smenetara. Sebuaha biaya mungkin dapat dikurangkan untuk tujuan perpajakan pada tahun ini.

Tetapi untuk tujuan pelaporan keungan kepada pihak eksternal dibebankan pada athun berikutnya. Sebuah pendapatan mungkin dilaporkan dalam faktur pajak untuk menentukan laba kena pajak tahun ini, tetapi untuk tujuan pelaporan keuangan eksternal dilaporkan saat diperoleh pada priode setelahnya. Dalam usaha untuk mempertemukan biaya pajak dengan laba terkait, alokasi pajak antara periode diperlukan karena perbedaan waktu tersebut. Ringkasnya, masksudnya yaitu biaya pajak penghasilan dilaporkan dalam laporan laba rugi digunakan untuk tujuan pajak penghasilan . perbedaan antara jumlah yang dilaporkan sebagai biaya pajak penghasilan dengan jumlah pajak yang dilaporkan sebagai beban ditunda atau ditunda atau utang tergantung pada sifat salodnya. Saat unsur tersebut dibalik pada priode berikutnya, saldo yang ditunda akan terhapus. Perbedaan waktu dapat diklasifikasikan kedalam kelompok-kelompok berikut ini : a. Laba akuntansi lebih kecil daripada laba kena pajak y Pendapatan yang ditunda untuk tujun pelaporan keuangan tetapi diakui pada priode yang bersangkutan untuk tujuan perpajakan y Biaya yang telah diakui untuk tujuan pelaporan tetapi ditunda untuk tujuan pajak

b. Laba akuntansi lebih besar dari lab akena pajak y Pendapatan yang telah diakui untuk tujuan pelaporan, tetapi ditunda untuk tujuan perpajakan y Biaya ditanguhkan untuk tujuan pelaporan, tetapi telah diakui untuk tujuan perpajakan

3. Kompensasi kerugian kebelakang atau kedepan Karena pajak penghasilan dikenakan terhadap laba yang diperoleh, tidak ada pajak yang harus dibaya apabila perusahana menderita kerugian. Sebagai insentif kepada perusahaan yang kadangkadang menderita rugi atau laba, peraturan perpajakan memberi cara untuk mengurangi resiko rugi dalam satu tahun. Hal tersebut dilakukan dengan aturan yang mengijingkan kompensasi kebelakang atau kedepan berupa-ubah setiap waktu. Peraturan pajak sekarang memperbolekan kompensasi kebelakan selama tiga tahun dan konpensasi kedepan 5 s.d. 8 tahun

Kompensasi Kerugian kebelakang Perusahaan boleh memilih apakah akan mengkompensasikan kerugian dama suatu tahun ke depan. Jika perusahaan memilih konvensasi kebelakang, rugi yang diderita perusahaan tahunini dibebankan terhadap laba yang diperoleh tiga tahuns ebelumnya kemudian diperoleh pengembalina pajak, jika laba tiga tahun sebelumnya tidak mencukupi untuk menutupi semua kerugiaan, sisanya dikonpensasikan pada laba dua tahun sebelumnya, kemudian tahun pertama, kompensasi

kebelakang mengakibatkan timbulnya piutang pengembalian pajak dan pengurangan rugi operasi tahuntahun yang bersangkutan menunjukkan adanya penghematan pajak karena diperolehnya kembali pajak penghasilan tahun-tahun sebelumnya.

Konvensasi kerugian kedepan Seperti telah dikemukakan sebelumnya, kerugian yang diderita perusahaan dapat dikompensasikan terhadap laba yang diperoleh 5 s.d. 8 tahun dimasa yang kan datang. Kompensasi kedepan dapat digunakan apabila: a) Perusahaan mempunyai sejarah perolehan laba yang baik b) Kerugian tidak diakibatkan oleh kondisi perekonomian umum atau penururnan industri c) Perusahaan mempunyai alternatif startegi pajak yang baik d) Perjkiraan yang diadasarkan pada asumsi yang wajar menunjukkan akan diperoleh laba yang cukup untuk menutupi kerugian diderita Jika persyaratan tersebut terpenuhi, kompensasi kerugian kedepan dalam suatu priode dapat dilakukan seperti halnya keompensasi kebalakang. Jika tidak ada jaminan diperolehnya laba dimasa yang akan datang, tidak diperlukan pencatatan terhadap laba berikutnya, pengurangan pajak harus dilaporkan sebagai laba luar biasa pada thun direalisasinya.

4. Kredit pajak investasi Untuk mendorong kegiatan investasi kedalam fasilitas-fasilitas produktif, pemerintah mengijingkan kepada pembayaran pajak untuk mengurangi jumlah pajak penghasilannya dengan kredit pajak investasi, yang jumlahnya sebesar persentase tertentu dikalikan dengan harga pokok aktiva yang didepresiasi tertentu yang ditetapkan pemerintah. Ada dua metode akuntansi untuk mencatat pengurangan biaya pajak penghasilan karena adanya kredit pajak investasi; 1. Kredit pajak tersebut diperlakukan sebagai pengurang biaya pajak dalam priode diterimnya kredit pajak atau disebut flow-trough method, atau 2. Kredita pajak ditangguhkan dan perlakuan sebagai pengurang biya pajak selama priode depresiasi aktiva ang bersangkutan atau disebut deferd method

pemerintah.

C. PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI DAN KOREKSI KESALAHAN Perubahan Estimasi Akuntansi Sebagai akibat ketidakpastian aktivitas usaha, banyak unsur laporan keuangan yang tidak dapat diukur dengan tepat tetapi hanya dapat diestimasi. Proses estimasi mempertimbangkan informasi terakhir yang tersedia. Estimasi diperlukan, sebagai contoh, untuk penyisihan piutang sangsi (bad debts), keusangan persediaan dan masa manfaat dari aktivayang dapat disusutkan. Penggunaan estimasi yang wajar adalah bagian yang esensial dari penyusunan laporan keuangan dan tidak melemah kan keandalannya. Suatu estimasi mungkin harus direvisi jika ada perubahan kondisi yang mendasari estimasi tersebut, atau karena adanya informasi baru, bertambahnya pengalaman atau perkembangan lebih lanjut. Revisi atas estimasi tersebut, pada hakekatnya tidak menyebabkan perlunya penyesuaian dalam batasan pengertian dari suatu pos luar biasa atau kesalahan mendasar. Apabila sulit untuk memisahkan antara perubahan kebijakan akuntansi dan perubahan estimasi akuntansi, perubahan tersebut diperlakukan sebagai suatu perubahan estimasi akuntansi, dengan pengungkapan yang layak. Pengaruh perubahan estimasi akuntansi harus dimasukkan dalam perhitungan laba atau rugi bersih dalam: y periode perubahan tersebut, jika perubahan tersebut hanya mempengaruhi periode tersebut; atau y periode perubahan tersebut dan periode-periode yang akan datang, jika perubahan tersebut mempengaruhi keduanya. Suatu perubahan dalam estimasi akuntansi dapat hanya periode berjalan ataupun mempengaruhi baik periode berjalan maupun periode-periode yang akan datang. Sebagai contoh, perubahan dalam estimasi masa manfaat aktiva yang dapat disusutkan akan mempengaruhi beban penyusutan pada periode berjalan dan pada setiap periode selama masa manfaat yang tersisa dari aktiva tersebut. Dalam kedua hal tersebut diatas, pengaruh dari perubahan yang berhubungan dengan periode berjalan diakui sebagai pendapatan atau beban pada periode berjalan. Pengaruhnya pada periode-periode yang akan datang, jika ada, diakui pada periodeperiode yang akan datang . Pengaruh perubahan estimasi akuntansi harus dimasukkan dalam klasifikasi laporan laba rugi yang sama dengan yang digunakan sebelumnya untuk estimasi tersebut. 28 Untuk mempertahankan daya banding laporan keuangan dari periodeperiode yang berbeda, pengaruh perubahan estimasi akuntansi yang sebelumnya tercakup dalam laba atau rugi dari aktivitas normal harus tercakup dalam unsur laba atau rugi bersih tersebut; pengaruh perubahan estimasi akuntansi yang sebelumnya dimasukkan pada pos luar biasa harus dilaporkan sebagai unsur pos luar biasa.

Hakekat dan jumlah suatu perubahan estimasi akuntansi yang mempunyai pengaruh material dalam periode berjalan, atau yang diharapkan akan mempunyai pengaruh material dalam periodeperiode berikutnya harus diungkapkan. Jika untuk menghitung jumlahnya dianggap tidak praktis, kenyataan ini harus diungkapkan. Kesalahan Mendasar Kesalahan dalam penyusunan laporan keuangan pada satu atau lebih periode sebelumnya mungkin baru ditemukan pada periode berjalan. Kesalahan mungkin timbul dari kesalahan perhitungan matematis, kesalahan dalam penerapan kebijakan akuntansi, kesalahan interpretasi fakta, kecurangan atau kelalaian. Koreksi atas kesalahan tersebut biasanya dimasukkan dalam perhitungan laba atau rugi bersih untuk periode berjalan. 31 Suatu kesalahan mempunyai pengaruh signifikan bagi satu atau lebih laporan keuangan periode sebelumnya sehingga laporan-laporan keuangan tersebut tidak dapat diandalkan lagi pada tanggal penerbitannya. Contoh suatu kesalahan yang mendasar adalah penemuan bahwa laporan keuangan periode sebelumnya memasukkan jumlah pekerjaan dalam proses dan piutang yang fiktif dan nilainya material. Pertanggungjawaban atas kesalahan mendasar yang terjadi dapat dilakukan dengan menyatakan kembali informasi yang berkaitan secara komparatif untuk mengoreksi kesalahan mendasar tersebut atau dengan menyajikan informasi tambahan secara proforma. Koreksi kesalahan yang mendasar dapat dibedakan dari perubahan estimasi akuntansi. Estimasi akuntansi pada hakekatnya adalah suatu taksiran (approximations) yang mungkin perlu direvisi dengan adanya informasi tambahan yang diketahui dalam periode berikutnya. Misalnya, untung atau rugi yang diakui sebagai akibat suatu kontinjensi, yang sebelumnya tidak dapat diperkirakan secara akurat, atau perubahan dalam taksiran masa manfaat dan nilai sisa aktiva tetap yang disusutkan bukan merupakan koreksi atas kesalahan mendasar. Dalam mengkoreksi suatu kesalahan yang mendasar, jumlah koreksi yang berhubungan dengan periode sebelumnya harus dilaporkan dengan menyesuaikan saldo laba awal periode. Informasi komparatif harus dinyatakan kembali, kecuali jika untuk melaksanakannya dianggap tidak praktis. Laporan keuangan yang menyajikan informasi komparatif untuk periode sebelumnya, disajikan seolah-olah kesalahan yang mendasar telah dikoreksi dalam periode di mana kesalahan tersebut dibuat. Oleh karena itu, jumlah koreksi yang berhubungan dengan setiap periode dimasukkan dalam perhitungan laba atau rugi bersih periode yang bersangkutan. Jumlah koreksi yang berhubungan dengan periode-periode sebelum periode yang tercakup dalam informasi komparatif, disesuaikan pada saldo laba awal periode dalam periode yang paling awal. Informasi-informasi lain yang

dilaporkan mengenai periode sebelumnya, seperti ikhtisar data keuangan historis, juga dinyatakan kembali. Penyataan kembali informasi komparatif tidak perlu mengubah laporan keuangan yang telah disetujui oleh para pemegang saham atau yang telah tercatat atau disimpan oleh pihak-pihak yang berwenang, sepanjang persyaratan yang ditentukan oleh peraturan perundangan telah diperhatikan. Perusahaan harus mengungkapkan hal-hal berikut: y y y hakekat kesalahan mendasar; jumlah koreksi untuk periode berjalan dan periode-periode sebelumnya; jumlah koreksi yang berhubungan dengan periode-periode sebelum periode yang tercakup dalam informasi komparatif; dan y y kenyataan bahwa informasi komparatif telah dinyatakan kembali atau kenyataan bahwa informasi komparatif tidak praktis untuk dinyatakan kembali.

Perubahan Kebijakan Akuntansi Pemakai laporan keuangan harus dapat memperbandingkan laporan keuangan suatu perusahaan selama beberapa periode untuk mengidentifikasi kecenderungan posisi keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan tersebut. Oleh karena itu, kebijakan akuntansi yang digunakan harus diterapkan secara konsisten pada setiap periode. Suatu perubahan kebijakan akuntansi harus dilakukan hanya jika penerapan suatu kebijakan akuntansi yang berbeda diwajibkan oleh peraturan perundangan atau standar akuntansi keuangan yang berlaku, atau jika diperkirakan bahwa perubahan tersebut akan menghasilkan penyajian kejadian atau transaksi yang lebih sesuai dalam laporan keuangan suatu perusahaan. Penyajian suatu kejadian atau transaksi akan lebih tepat jika kebijakan akuntansi yang baru menghasilkan informasi yang lebih relevan atau dapat dipercaya mengenai posisi keuangan,-kinerja atau arus kas suatu perusahaan. Hal-hal berikut bukan merupakan perubahan dalam kebijakan akuntansi: a) penerapan suatu kebijakan akuntansi atas suatu kejadian atau transaksiyang berbeda substansinya dengan kejadian atau transaksi yang sebelumnya terjadi; dan b) penerapan suatu kebijakan akuntansi baru atas suatu kejadian atau transaksi yang belum pernah terjadi sebelum nya, atau yang dampaknya tidak material. Suatu perubahan kebijakan akuntansi dapat diterapkan secara retrospektif ataupun secara prospektif, sesuai dengan yang diatur dalam Pernyataan ini. Penerapan yang retrospektif berarti bahwa kebijakan akuntansi yang baru diterapkan seolah-olah kebijakan akuntansi tersebut telah digunakan sebelumnya. Karena itu, kebijakan akuntansi yang baru diterapkan pada kejadian atau

transaksi sejak tanggal terjadinya kejadian atau transaksi tersebut. Penerapan yang prospektif berarti bahwa kebijakan akuntansi yang baru diterapkan pada kejadian atau transaksi yang terjadi setelah tanggal perubahan. Tidak ada penyesuaian yang berhubungan dengan periode sebelumnya yang dilakukan baik pada saldo laba awal periode (retained earnings) atau dalam pelaporan laba atau rugi bersih untuk periode sekarang, karena saldo yang ada tidak dihitung kembali.