You are on page 1of 34

FISIK DIAGNOSTIK &

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
(KELOMPOK 1)

Dr. Definov Tasca Metta


Dr. Ester Dina M. Nainggolan
Dr. Hariyanti
Dr. Siti Aminah
Dr. Wike Sri Wahyuni
Anamnesa auto anamnese Anamnese +
pemeriksaan fisik
(inspeksi,palpasi,
Wawancara Keluarga/pengantar
perkusi, auskultasi)
-allo anamnese
rekam medik
Anamnese menurut urutan : medical record
1. Anamnese Pribadi (poliklinik, rawat
2. Anamnese Keluhan Utama jalan / inap)
3. Anamnese Peny. Sekarang
4. Anamnese Peny. Terdahulu
5. Anamnese Organ / sistem
6. Anamnese Riwayat pribadi Ringkasan diagnosa
7. Anamnese Famili kerja / DS/DD? diikuti
8. Anamnese Sosek pemeriksaan lanjutan /
penunjang dan terapi.
9. Anamnese Gizi
IDENTITAS PASIEN
KELUHAN UTAMA
Organ terlibat Keluhan utama
Paru-paru Batuk 2, sesak nafas, batuk darah,
demam2, nyeri dada
Kardio-vaskular Debar2, sesak nafas, kaki bengkak,
lekas capek, nyeri dada, bibir biru,
berkalikali b.a.k. Malam
Sal. perncernaan Mual, muntah2,muntah darah, mencret2,
berak darah, sakit di ulu hati dll
Hati & Sal. empedu Sakit perut kanan atas, b.a.k spt teh
dan pekat, mata kuning, b.a.b. Spt
dempul dll
Ginjal & Sal.kencing Muka sembab, sakit pinggang, kencing
berdarah, gangguan kencing
Sendi2 / tulang Ada perasaan sakit dari persendian
serta bengkak dan merah
Darah Gusi mudah berdarah, perdarahan lama
baru berhenti, hematoma, muka pucat,
pembengkakan kelenjar2
Endokrin Ggn sexual,kuat makan badan kurus,
terlalu kuat minum,banyak
kencing,terganggu pertumbuhan badan,
RIWAYAT PENYAKIT
SEKARANG
RIWAYAT PENYAKIT
DAHULU
RIWAYAT PENYAKIT
KELUARGA
RIWAYAT KEBIASAAN
RIWAYAT SOSIAL EKONOMI
RIWAYAT GIZI
Mengenal tanda-tanda patologis pada tubuh dengan melakukan
inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi
Penggunaan alat2 : stetoskop, tensi meter, spatel lidah, lampu
senter, palu reflex, pita meteran, termometer dll
Sebelum melakukan pemeriksaan klinis umum/khusus organ dilakukan
terlebih dahulu dilakukan cuci tangan selanjutnya pemeriksaan
keadaan umum / status present (hemodinamik, respiratori dan
neurologi)
STATUS PRESENS

1. Tingkat kesadaran
2. Keadaan umum
3. Keadaan gizi
4. Keadaan penyakit
5. Bentuk dan habitus
6. Tanda vital
TINGKAT KESADARAN :

1. Composmentis (sadar penuh)


2. Apatis : acuh tak acuh
3. Delirium : kesadaran menurun, kekacauan motorik, siklus
tidur bangun terganggu, gelisah, disorientasi, meronta - ronta
4. Somnolent (letargi) : mengantuk, bangun bila dirangsang,
tanpa rangsangan pasien kembali tidur
5. Stupor / sopor : ngantuk dalam, bangun bila dirangsang kuat,
nyeri, tidak terbangun sempurna, tidak bisa menjawab verbal
6. Semi koma : tanpa jawaban terhadap rangsangan verbal ,
tidak dapat dibangunkan sama sekali,refleks kornea, pupil(+),
respon rangasangan nyeri tidak jelas
7. Koma : penurunan kesadaran sangat dalam tanpa gerakan
spontan, tidak respon terhadap rangsangan nyeri.
Pemeriksaan Mulut
1. Bibir
- Warna : anemia / pucat, cyanose / kebiru-
biruan
- Ketebalan : tebal pd penderita Miksudema &
akromegali
- Menonjol terbalik : Mukosa bibir berada
diluar/Miopati
- Pecah 2 & retak 2 : Avitaminosis, demam
2. Gigi
- Jumlah : lengkap,
berkurang
- warna : discoloration sehubungan dental hygiene

- Keadaan : ada caries / gigi busuk ?


3. Gusi - Tanda - tanda : mudah berdarah bila ditekan
dgn kapas
- Pus : menekan sisi dari gusi akan keluar nanah
- warna : pucat / anemia, kebiruan, keracunan / timah /
Pb
4. Lidah - Kering / basah : kering / basahnya menentukan
keadaan hidrasi / dehidrasi dari tubuh.
- warna : kotor seperti lumpur pada perokok berat karena
bernafas lewat mulut, beslag warna putih/kecoklatan pada
penyakit infeksi (tifus abdominalis)
- Permukaan :licin atrofi dari pada papil-papil lidah,
(penderita anemia pernisiosa, anemia defisiensi besi).
- Penting diketahui fungsi persayarafan lidah, pengeluaran
lidah, lidah menyimpang ke sisi lesi (N XII unilateral)
tremor yang menunjukkan adanya kecemasan, delirium
tremens atau, demensia paraltika.
Metode pemeriksaan : Inspeksi, Palpasi, Perkusi, Auskultasi
1. INSPEKSI : indra penglihatan / mata
Pemeriksaan inspeksi dibagi atas :
- umum : wajah, gerakan tangan/kepala,cara bicara,cara
berjalan, sikap/posisi, hipoktica wajah dengan
penyakit berat
- lokal : organ terbuka / tertutup (ganggren).
2. PALPASI : menentukan sesuatu perobahan bagian
tubuh dengan memegang / merasakan
dengan tangan baik dgn satu tangan maupun
dua tangan (bimanual)

Umumnya dapat ditentukan : besar, bentuk, konsistensi


Ukuran
Bentuk
Konsistensi
Permukaan
Mobile / inmobile
3. PERKUSI
metode pengetokan dgn jari pada bagian tubuh dan
menentukan suara yang dihasilkan dan tegangan (dasar
akustik!)

Frekwensi getaran tergantung dari :


1. Besarnya benda, makin kecil benda makin besar frekwensi
getaran dan makin tinggi nadanya.
2. Elastisitas dan tegangan benda, tegangan yang besar
timbul nada yang tinggi.
Tehnik perkusi :

Tidak langsung
-pleximeter jari telunjuk kiri phalang 1-2
- plexor jari tengah tangan kanan/tangan lemas
mengetok dan jangan kaku
Hasil perkusi :
1. Perkusi sonor/resonance:organ paru,resonansi berlebihan
hipersonor = emfisema.
2. Timfani (extreem hipersonor) : usus dan lambung, patologi :
pneumo thorax
3. Perkusi beda : hati / jantung tidak ada terdengar nada
redam / flatness : efusi pleura
4. AUSKULTASI
menentukan kelainan dgn mendengarkan suara yang dihasilkan
oleh getaran dari organ yang diperiksa baik secara langsung
maupun melalui stethoscope (Laennec 1816).

Suara 2 yang dikenal secara auskultasi:


1. Paru paru, suara pernafasan :
vesiculair : halus & berasal dari udara yg melalui jutaan alveoli
Bronchial : Kasar dan kuat berasal dari getaran (vibrasi) dari
pita suara dan struktur sekitarnya.
Suara tambahan : Rhonchi basah dan kering
Yang perlu dikenal :
- Rhonchi basah (course rales / timbul oleh adanya cairan di
sal.pernafasan
- Rhonci kering disebabkan secret dilumen bronchus dan
terjadinya spasma dari bronchus
2. Jantung, auskultasi dari suara jantung harus dipelajari
secara bed side terhadap pasien. Perlu pengalaman
mengetahui keadaan normal dan abnormal suara jantung.
Suara jantung :
I : penutupan katub mitral dan trikuspidal bersamaan dgn
pembukaan katub aorta dan pulmonal : kuat, suara
lebih panjang, nada rendah dibanding suara jantung
ke II diapek
II : penutupan katub aorta dan pulmonal bersamaan dgn
pembukaan katub mitral dan trikuspidal, sifat lebih
keras dibasis jantung
III-IV:sukar didengar
2
PEMERIKSAAN JANTUNG

1. Anamnestik / keluhan
2. Inspkesi
3. Palpasi DF + EKG + ECHO + Thorax foto +
Treadmil + cateterisasi DX
4. Perkusi
5. Auskultasi
Anatomikal position

2. Inspeksi
Pasien buka baju terlihat thorax jelas,terlentang
Pengamatan pasien dari kanan penderita
Torax simetris / asimetris ?, cardiac Bulging (Vaus sure
cardiagn), torax excavation, pyramid, emphysemateus
Ictus / pulsasi sinkron dengan a radialis / a. carotis
Ictus positif/normal, negatif, ictus normal=pulsasi a. radialis
Ictus melebar bila pulsasi melebar / menyebar tidak terlokalisir
3. Palpasi

Tehnik : utk palpasi ictus pakai phalanx ke II & III jari ke-2
dan ke-3.
Lokasi : ICS 5 linea midclavikula sinistra
Kesan: 1. Ictus (+) : normal = radialis / carotis

2. Ictus (-) : patologis spt pericarcitis


3. Ictus tdk ada : normal org gemuk,patologi kelainan
paru / emphysema
4. Ictus kuat angkat : kurus, kelainan patologis pada
jantung (Tyrotoxicosis, anemia).

5. Ictus melebar : getaran daerah ictus meluas ke


sekitarnya
4. Perkusi

Jari II phalanx III kiri plessimeter precursor


Batas batas jantung terdiri dari / batas relatif
- Batas kanan ------- midsternalis
- Batas kiri ---------- satu jari kedalam midclavicularis kiri
- Batas atas --------- ICR II-III kiri
- Batas bawah ----- tidak ada karena berbatasan dgn
diafragma
Tehnik penentuan batas2 jantung:
- Kiri Perkusi mulai dari lateral / l.m axillaris
- Batas kanan l.m.c kanan setinggi bats paru hati
- Batas atas thorax kiri mulai dibawah Clavicula
5. Auskultasi
- Pendengaran dokter, tidak ada kerusakan selaput genderang telinga,
- Cerumen prop yg menghambat aliran suara, Stetoscope baik
- Tali + 50 cm

Daerah-daerah auskultasi :
- Bunyi jantung I : - Penutupan katub mitral & Trikuspidal bersamaan
dengan pembukaan aortal dan pulmonal

- Bunyi jantung II - Second Heart Sound


- penutupan katub-katub aorta & pulmonal
bersamaan dgn pembukaan mitral &
trikuspidal - High pitched
- Bunyi jantung III - Fase diastolik, - getaran dari dinding ventrikel,
- atrio Ventrikuler Valva, - Low pitched
- Bunyi jantung IV - Atrial Sound, Low pitched, kontraksi atrium
B. Pemeriksaan Abdomen : Inspeksi & palpasi, perkusi & auskultasi
kurang banyak gunanya. Posisi
penderita anatomikal dgn pemeriksa
berada pada sisi kanan penderita
B.1 Inspeksi Abdomen :
B.1.1 Bentuk perut
B.1.2 Keadaan dinding perut/permukaan simetris dan asimetris
B.1.3 Gerakan dinding perut
B.1.4 Denyutan dinding perut

B.1.1. Bentuk perut


- normal : bentuk perut adalah simetrik. Bila terjadi penimbunan
cairan dlm rongga peritoneum (asites) perut akan membesar juga
secara simetris (perut kodok)
- kehamilan, tumor rongga perut, tumor ovarium,dll asimetrik
- pembengkakkan hati, limpa, ginjal, kandung empedu asimetris
- Kadang terdengar bunyi usus / peristaltik (3x/menit) dgn stetoskop tanpa
stetoskop terdengar bunyi borborigni
B.1.2. Keadaan dinding perut/permukaan perut
- Kulit menjadi keriput/mengerut, akibat perut pernah distensi
hebat dinding perut. Wanita hamil yang beruntun, asites Pelebaran
vena abdomen terlihat benjolan berliku-liku adanya
penyumbatan pada venaporta atau vena cava inferior, vena
berliku sekitar pusat dan mengarah ke pusat (caput medusa)
- pembesaran perut(asites) perut menjadi tegang, licin dan tipis,
berkilat
- Ikterus warna perut menjadi kuning dan pada wanita berulang
melahirkan terdapat garis-garis bekas pembesaran perut disebut
striae. Daerah umbilikus berwarna biru atau agak kekuningan
menunjukkan adanya proses perdarahan didaerah intraperitoneal
(Pankreatitis akut disebut Cullen Sign/Umbilicus dan Grey Turner
Sign di lipatan paha_
- Benjolan-benjolan kecil disekitar umbilikus tanda adanya metastase
keganasan dari intraabdominal
B2. Palpasi Abdomen : Anatomikal posisi
Penderita harus berbaring terlentang dgn kepala sedikit ditinggikan
(diatas bantal), kedua lengan berada disisinya dengan kedua
lututnya ditekukkan dan bernafas tenang dengan mulut terbuka.
Mula-mula dilakukan palpasi dengan menggunakan satu tangan/
manual, diletakkan tangan2 dan jari2 harus sama kuatnya menekan
dinding perut. Jangan menekan dengan ujung2 jari saja, tetapi harus
dengan telapak tangan dan juga sendi2 metakarpo falangeal.
Pada pemeriksaan abdomen bawah kedua tungkai posisi lurus
Dengan palpasi ini kita memperhatikan :
B.2.1. Nyeri tekan / tenderness
B.2.2. Ketegangan/rigid
B.2.3. Pembesaran organ-organ
B.2.4. Tumor dalam perut
B.2.5. Cairan bebas di dalam rongga perut
B.2.1. Nyeri tekan / tenderness
Dimulai dari daerah normal dilanjutkan ke daerah nyeri
tekan. Nyeri tekan menunjukkan kelainan : peritonium, usus atau
organ lainnya, apendisitis akut (macbourney, kolesistitisa akut,
pankreatitis akut
B.2.2.Ketegangan / Rigidity
Normal dinding perut tidak tegang supel. Dinding
perut menjadi tegang karena reaksi dari pada dinding perut
untuk melindungi daerah organ yang dibawahnya. Ketegangan
dinding perut biasanya disebut defence musculare dapat
ditemui pada penderita peritonitis.
B.2.3.Pembesaran Organ2 :
B.2.3.a Palpasi hati : diletakkan secara mendatar dengan ujung2 jari
yang lembut berada dibawah tepi iga, sebaiknya dari lumbal
kanan ke daerah arcus kosta sebelah kanan sampai sisi
radialis jari telunjuk menyentuh tepi hati yang membesar.
Penting diperhatikan pada hati :

Tepi / pinggirnya, permukaaanya, derajat pembesaran, nyeri tekan


atau tidak, konsistensi. Hati tidak teraba pada normal.
1. Tepi hati : tajam pada hepatitis, sukar diraba oleh karena
pelemakkan, reguler pada dekompensatio cordis,
ireguler pada neoplasma.
2. Permukaan hati : tidak rata & berbenjol-benjol kecil pada SH,
berbenjol besar pada kanker hati.
3. Derajat Pembesaran hati : dgn memakai ukuran centimeter teraba
hati dibawah arcus kosta / BAC dan
prosessus siphoideus / BPX.
Pinggir hati menurun bukan membesar
pada emfisiema pulmonum
Dijumpai pada : Neoplasma, Abses hati, Sirosis Hati, dekompensasi
kordis, Penyakit2 darah
4. Nyeri tekan : muka penderita kelihatan kesakitan tanpa
penekanan hati, disamping rasa sakit tekan
bila hati ditekan
- Obstruksi saluran empedu

- Sirosis hepatis, abses hati, karsinoma hati


- Limphoma Hodgkin, Leukemia, malaria dll
5. Konsistensi hati : lunak (perlemakkan hati), keras (neoplasma,
dekompensasio kordis), fluktuasi : abses hati
B.2.3.b.Palpasi Kandung Empedu : Palpasi dilakukan dibawah
arkus kosta kanan antara prosesus sifoideus dan pinggang
kanan, terasa nyeri / massa peradangan. Bila disuruh
menarik nafas dalam dan pada persentuhan dgn jari os
segera menahan nafas tiba2 karena nyeri Murphy sign.
B.2.3.c Palpasi Limpa : dimulai daerah epigastrium menuju hipokhondrium
kiri teraba insisura limfa / notch .
Dengan cara ini kita dapat menentukan : tepi, konsistensi, permukaan limpa
yang membesar .

Cara menentukan derajat pembesaran limpa :


1. Garis Schuffner, menghubungkan titik potong antara linea
medioklavi kularis dgn arcus kosta kiri dgn spina illiaka anterior
superior kanan.
Dibagi menjadi 8 bagian yg sama, palpasi utk mencari pembesaran
limpa dilakukan sepanjang garis ini
2. Pembesaran limpa kearah bawah sebaiknya dipalpasi dgn ukuran
Hacket yaitu hacket I sampai dengan hacket VIII ( H I-H VIII) perpotongan
l.m kiri dgn arcus costae tegak lurus menuju inguinal)
Memiringkan penderita kearah kanan dan 1 tangan pemeriksaan menarik
tangan kiri penderita kerarah kanan.
Tangan kiri pemeriksa dipinggang kiri dan ditarik kearah kanan dan
selanjutnya dilakukan palpasi teraba insisura / notch
B.2.3.d Palpasi Kolon : Tdk dapat diraba kecuali berisi udara
atau faeses, teraba benjolan yang
berbentuk susis. Kolon desenden
menjadi tegang (spastic colon) akan
teraba sebagai suatu pipa karet di
daerah fosa iliaka kiri yaitu menjulur
kedaerah hipokhondrium kiri.
B.2.3.e. Palpasi ginjal : Bimanual, bila teraba ada ballottement
(+), ada pembesaran ginjal ( tumor,
hidronefrosa) normal ballottement (-)
Perkusi abdomen :

Dengan perkusi abdomen/ timpani dapat diketahui :


1. Pembesaran organ : kalau terjadi pembesaran hati dan
limpa bunyi perkusi akan redup di daerah tersebut.
2. Adanya udara bebas : daerah Liver demping akan
menghilang bila dijumpai udara bebas didalam rongga
abdomen. (Perforasi usus / lambung)
3. Cairan bebas di dalam rongga abdomen / asites, perkusi
pada daerah ini akan menghasilkan bunyi pekak yang dikenal
sebagai pekak sisi perut.
E. Auskulatasi Abdomen :
Dengan auskultasi abdomen dapat ditentukan :
1.Bunyi peristaltik, hilang bila terjadi kelumpuhan usus (ileus
paralitik), menjadi keras dan sering pada diare, bernada tinggi
/ metalik sound (penyumbatan usus (ileus obstruksi)
2.Bunyi gerakan cairan, dapat didengar dgn auskultasi pada
daerah hipogastrium kiri sambil menggerakkan kedua sisi
secara bergantian. Bila > 5 jam lambung masih penuh dgn
cairan Stenosis pilorik
3.Bising pembuluh darah, terdapat lumen arteri menyempit
atau aorta abdominalis membesar (aneurisma). Aneurisma
tampak sebagai benjolan besar yang berdenyut dan terdengar
bising sistolik. Pada auskultasi daerah hati kadang2 bisa didengar
adanya bising pembuluh darah yg disebut Arterial Murmur
atau Hepatic Bruit.
Hal ini patognomik utk karsinoma hati(hepatoma) kadang
didengar bising gesekan (Friction rub) disebabkan Perihepatitis.
FISIK DIAGNOSTIK : EKSTREMITAS

Ekstremitas superior dan inferior :


Akral : Hangat atau dingin
CRT : < 2 detik

Pitting oedema : +/-