You are on page 1of 78

TEXT BOOK READING

Pharmacology Physiology in Anesthetic Practice, 4th Edition, Robert K. Stoelting

AGONIS OPIOID
Dr. FATHUR RAHMAN

Pembimbing :
Dr. dr. Dadik Wahyu Wijaya, Sp.An

Departemen Anestesiologi & Terapi Intensif


Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/
RSUP Haji Adam Malik Medan
Kata opium berasal dari bahasa Yunani yang artinya jus; jus poppy
adalah sumber 20 alkaloid opium yang berbeda..

Alkaloid opium bisa dibagi menjadi dua kelas kimia yang berbeda:
phenantherne dan benzylisoquinoline

Morphine diisolasi pada tahun 1803

Codeine diisolasi pada tahun 1832

Papaverine diisolasi pada tahun 1848


Klasifikasi Agonis & Antagonis Opioid

Morphine, Morphine-6-glucuronide, Meperidine, Sufentanil,


Fentanyl, Alfentanil, Remifentanil, Codeine,
AGONIS
Hydromorphone, Oxymorphone, Oxycodone, Hydrocodone,
Propoxyphene, Methadone, Tramadol, Heroin

AGONIS & Pentazocine, Butorphanol, Nalbuphine, Buprenorphine,


ANTAGONIS Nalorphine, Bremazocine, Dezocine, Meptazinol

ANTAGONIS Naloxone, Naltrexone, Nalmefene


AGONIS

Kata opium berasal dari bahasa Yunani yang artinya jus


poppy yang adalah sumber 20 alkaloid opium yang
berbeda.
Opiate adalah istilah yang digunakan untuk obat yang
berasal dari opium. Morphine diisolasi pada tahun 1803,
yang diikuti dengan codeine pada tahun 1832 dan
papaverine pada tahun 1848.
Opioid sifatnya unik dalam menghasilkan analgesia
tanpa kehilangan indera peraba, propriosepsi atau
kesadaran. Klasifikasi mudah opioid meliputi agonis
opioid, agonis-antagonis opioid dan antagonis opioid
MORPHINE
Metabolisme :

Jalur utama metabolisme morphine konjugasi


dengan asam glucuronat di hati dan di luar hati,
terutama ginjal.

Sekitar 75% sampai 85% morphine-3-


glucuronide

dan 5% sampai 10% morphine-6-glucuronide


(ratio 9:1).
Metabolit morphine dieliminasi dalam urin, 7%
sampai 10% mengalami ekskresi empedu

Morphine-3-glucuronide tidak aktif secara


farmakologik

Morphine-6-glucuronide analgesia dan depresi


ventilasi melalui tindakan agonis-nya di reseptor
mu

Eliminasi morphine glucuronide bisa terganggu


pada pasien penderita gagal ginjal
Waktu Paruh Eliminasi

konsentrasi morphine plasma setelah distribusi


awal obat utamanya disebabkan metabolisme,
karena hanya sejumlah kecil opioid yang tak
berubah diekskresikan dalam urin.

Konsentrasi morphine plasma lebih tinggi pada


manula daripada orang dewasa muda
Sistem Cardiovascular

Pemberian morphine, pada pasien supine &


normovolemik tdk menyebabkan depresi otot jantung
langsung atau hipotensi

Bradycardia dipicu-morphine terjadi akibat dari


peningkatan aktivitas pada saraf vagal

Pelepasan histamin diminimalkan dengan (a) membatasi


laju infus morphine, (b) menjaga pasien pada posisi
telentang, dan (c) mengoptimalkan volume cairan
intravascular
Antagonis reseptor H1 dan H2 tidak mengubah
pelepasan histamin yang dipicu morphine

Morphine tidak mensensitisasi jantung terhadap


catecholamin atau memicu disritmia jantung

Opioid + benzodiazepine SVR & TD sistemik


Sistem Gastrointestinal

Morphine kontraksi peristaltik usus halus & usus besar dan


tonus sphincter pyloric, katup ileocecal & sphincter anal.

tekanan biliar terjadi bila kandung empedu berkontraksi


terhadap sphincter Oddi tertutup atau menyempit

Pengosongan isi lambung terlambat karena terjadi tonus


pada tempat-temu gastroduodenal
Mual & Muntah

Disebabkan oleh stimulasi langsung atas zona pemicu


kemoreseptor di dasar ventricle keempat

Mencerminkan peranan agonis opioid sebagai agonis


dopamin parsial pada zona pemicu kemoreseptor.

Juga bisa disebabkan oleh peningkatan sekresi


gastrointestinal dan memperlambat pelewatan isi usus
ke arah colon.
Sistem Genitourinaria

Morphine tonus dan aktivitas peristaltis ureter


dapat dikembalikan oleh obat anticholinergik.

Gangguan miksi karena penguatan tonus otot


detrusor & tonus sphincter vesicle

Pemberian morphine tanpa adanya stimulasi bedah


nyeri tidak menyebabkan pelepasan hormon
antidiuretik.
Perubahan Kulit

Morphine menyebabkan pembuluh darah kulit


membesar kulit wajah, leher dan dada ( flushing dan
hangat) disebabkan oleh pelepasan histamin

Pelepasan histamin mungkin menyebabkan urticaria dan


erythema umumnya tampak di tempat injeksi morphine

Placenta

Placenta tidak memberikan penghalang nyata terhadap


transfer opioid dari ibu ke janin
Interaksi Obat

Efek depressant ventilasi opioid bisa diperburuk oleh


amphetamin, phenothiazin, inhibitor monoamine
oxidase dan anti depressant trisiklik.
Toleransi Farmakodinamik &
Ketergantungan Fisik

Toleransi peningkatan dosis opioid untuk mencapai


efek analgesik yang sama dengan sebelumnya dengan
dosis lebih rendah.

Toleransi dengan dosis analgesik morphine butuh


Toleransi terhadap efek analgesik, euphorik,
sedatif, depresi ventilasi dan emetik.

Ketergantungan fisik pada morphine biasanya butuh


waktu sekitar 25 hari.

Reseptor glutamate dan NMDA berperan dalam


perkembangan toleransi opioid dan peningkatan
sensitivitas nyeri.
Perubahan Hormon

Terapi opioid yang lama bisa mempengaruhi poros


hypothalamus-pituitary-adrenal dan poros
hypothalamus-pituitary-gonad.

Morphine bisa menyebabkan penurunan progresif dalam


konsentrasi corisol plasma

Morphine-6-Glucoronide

Durasi kerja morphine-6-glucuronide > morphine.

Kekuatan analgesik morphine-6-glucuronide 650 kali


MEPERIDINE

Agonis opioid sintetik (reseptor mu & kappa) yang


diperoleh dari phenylepiperidine.

Punya beberapa ciri struktural yang ada pada anestesi


lokal amine tertier, gugus ester dan gugus phenyl
lipofilik

Diberikan secara intrathecal menghambat saluran


sodium
Farmakokinetik

Sepersepuluh kekuatan morphine

80-100 mg IM meperidine = 10 mg IM morphine

Durasi kerja 2 sampai 4 jam

Menghasilkan sedasi, euphoria, mual, muntah & depresi


Metabolisme

90% obat mengalami demethylasi normeperidine dan


mengalami hydrolysis asam meperidinat.

Ekskresi urin merupakan rute eliminasi utama

Waktu-paroh eliminasi meperidine adalah 3 sampai 5


jam.

Normeperidine menyebabkan stimulasi CNS

Pembersihan meperidine tergantung pada metabolisme


hati
Penggunaan Klinik

Satu-satunya opioid yang dianggap layak untuk bedah


bila diberikan secara intrathecal.

Meperidine efektif mensupresi menggigil


pascaoperatif

Efek anti-menggigil dari meperidine mencerminkan


stimulasi reseptor kappa & penurunan ambang batas
menggigil

Tidak digunakan dalam dosis tinggi karena efek


inotropik jantung negatif yang signifikan & pelepasan
histamin.
Efek Samping

Sindrom Hipotensi
serotonin orthostatik

Takikardia,
Depresi
mulut kering
Ventilasi
& midriasis


Delirium dan
kontraktilitas
seizure
otot jantung
FENTANYL
Opioid sintetik derivatif-phenylpiperidine

75 sampai 125 kali lebih kuat daripada morphine

Farmakokinetik

OOA dan DOA lebih singkat dari morphine.

OOA cepat kelarutan fentanyl yang lebih besar di


dalam lipid

DOA singkat redistribusinya yang cepat ke tempat-


Metabolisme

Dimetabolisasi oleh N-demethylasi menghasilkan


norfentanyl, hydroxyproprionyl-fentanyl dan
hydroxyproprionyl-norfentanyl

Norfentanyl serupa strukturnya dengan normeperidine


metabolit utama fentanyl pada manusia

Kurang dari 10% fentanyl diekskresikan tak berubah


dalam urin
Waktu Paruh Eliminasi

Waktu-paroh eliminasinya lebih lama daripada


morphine

Mencerminkan Vd fentanyl yang lebih besar karena


pembersihan kedua opioid serupa

Vd fentanyl yang lebih besar kelarutan lipidnya yang


lebih besar

Dosis fentanyl akan efektif selama periode waktu yang


lebih lama pada pasien lansia daripada pasien yang lebih
muda.
Penggunaan Klinik

1 sampai 2 g/kg IV analgesia

2 sampai 20 g/kg IV adjuvan obat anestesi inhalasi


untuk menumpulkan reaksi sirkulasi

Fentanyl 1,5 sampai 3 g/kg IV 5 menit sebelum induksi


dosis isoflurane atau desflurane

Dosis besar fentanyl (50 sampai 150 g/kg IV)


digunakan tanpa kombinasi untuk menghasilkan
anesthesia bedah
Fentanyl intrathecal menghasilkan analgesia persalinan
yang kuat, cepat & efek samping minimal

Fentanyl transmucosal oral pada anak-anak

Fentanyl transdermal (75-100 g/jam) menghasilkan


konsentrasi fentanyl plasma puncak dalam 18 jam

Fentanyl transdermal (sebelum induksi anesthesia)


jumlah opioid parenteral untuk analgesia pascaoperasi
Efek Samping

Mirip dengan efek samping yang dilaporkan untuk


morphine

Depresi ventilasi

Puncak sekunder konsentrasi plasma terkait


sekuestrasi fentanyl dalam cairan lambung yang asam
(ion trapping) diserap dari usus halus kembali ke
sirkulasi meningkatkan konsentrasi opioid plasma
menyebabkan depresi ventilasi kambuh
Efek Cardiovascular

Dibanding morphine, fentanyl tidak memicu


pelepasan histamin

Kontrol reflex baroreseptor sinus carotid atas


kecepatan denyut jantung ditekan oleh fentanyl

Bradycardia lebih menonjol dengan fentanyl


daripada morphine
SUFENTANIL
Analog thienyl dari fentanyl lima sampai sepuluh kali
kekuatan analgesik fentanyl

Farmakokinetika

Sufentanil IV mempunyai waktu-paroh eliminasi serupa


pada pasien dengan atau tanpa sirosis liver
Vd dan waktu-paroh eliminasi sufentanil pada obesitas
Affinitas jaringan yang tinggi memungkinkan
penetrasi cepat BBB dan serangan awal efek CNS
Pengikatan protein yang ekstensif dari sufentanil
Metabolisme

Sufentanil dimetabolisasi N-dealkylasi dengan cepat


pada piperidine nitrogen dan oleh O-demethylasi.

Produk dari N-dealkylasi nonaktif secara


farmakologik,

Desmethyl sufentanil 10% aktivitas sufentanil

<1% dosis sufentanil yang diberikan muncul tak


berubah dalam urin

Metabolit sufentanil diekskresikan secara hampir


Waktu-Paroh Sensitif-Konteks

Waktu-paroh sensitif-konteks sufentanil < alfentanil


untuk infus kontinu hingga durasi 8 jam

Hal itu disebabkan Vd sufentanil yang besar

Setelah penghentian infus sufentanil, konsentrasi


plasma dipercepat oleh metabolisme & redistribusi
Penggunaan Klinik

Menghasilkan periode analgesia lebih lama & depresi


ventilasi lebih kecil daripada fentanyl dengan dosis
sebanding
0,1 sampai 0,4 g/kg IV sufentanyl sebanding dengan 1
sampai 4 g/kg IV fentanyl
18,9 g/kg IV sufentanyl induksi lebih cepat & ekstubasi
tracheal lebih dini (dibanding morphine/fentanyl)
Sufentanil CMRO2 dan /- CBF.
Bradycardia yang disebabkan sufentanil mungkin cukup
untuk mengurangi cardiac output
ALFENTANYL
Suatu analog fentanyl yang kurang kuat (seperlima
sampai sepersepuluh) & sepertiga DOA dari fentanyl
Dibandingkan fentanyl & sufentanyl, OOA alfentanyl
lebih cepat

Farmakokinetika

Waktu-paroh eliminasi singkat dibandingkan dengan


fentanyl dan sufentanil
Gagal ginjal tidak mengubah pembersihan atau waktu-
paroh eliminasi alfentanil
Waktu-paroh eliminasi alfentanil lebih singkat pada
anak-anak daripada orang dewasa

Memiliki kelarutan lipid yang lebih rendah dan


pengikatan protein yang lebih tinggi (dibanding
fentanyl)

Penetrasi BBB alfentanil cepat karena tingkat


nonionisasinya yang tinggi pada pH fisiologik

Alfentanil terikat pada glycoprotein asam-alpha


Metabolisme

Dimetabolisasi oleh dua pathway independen,


piperidine N-dealkylasi noralfentanil & amide N-
dealkylasi N-phenylpropionamide.

Noralfentanil adalah metabolit utama yang


ditemukan di dalam urin

Efisiensi metabolisme hati pembersihan sekitar


Waktu-Paroh Sensitif-konteks

Waktu-paroh sensitif-konteks alfentanil sebenarnya


lebih lama daripada waktu-paroh sensitif-konteks
sufentanil

DisebabkanKlinik
Penggunaan oleh Vd sufentanil yang besar

Alfentanil menghasilkan analgesia yang kuat & cepat

Alfentanil, 15 g/kg IV 90 detik sebelum tindakan


Respon catecholamine terhadap noxius stiimulation
juga ditumpulkan oleh alfentanil 30 g/kg IV

Alfentanil (150-300 g/kg IV) yang diberikan


dengan cepat ketidaksadaran dalam waktu
sekitar 45 detik

Setelah induksi, pemeliharaan anesthesia bisa


diberikan dengan infus alfentanil kontinu, 25
sampai 150 g/kg/jam IV

Dibanding fentanyl (dosis setara) mual dan


muntah pascaoperasi yang lebih rendah pada pasien
rawat jalan
REMIFENTANYL

Agonist opioid mu selektif (derivatif


phenylpiperidine) dengan kekuatan analgesik yang
serupa fentanyl
Ventilasi

Mempengaruhi respon ventilasi terhadap CO2

Kepulihan setelah dosis kecil remifentanil total


dalam sekitar 15 menit
Farmakokinetika

Metabolisme yang cepat & Vd kecil remifentanil lebih


sedikit terakumulasi dibandingkan dengan opioid
lainnya

Pemberian dosis klinik seharusnya didasarkan pada


massa tubuh ideal daripada total berat badan

Clearance 3 liter/menit delapan kali lebih cepat dari


alfentanil

Konsentrasi plasma akan mencapai keadaan mantap


dalam 10 menit dari awal infus
Metabolisme & Waktu-Paroh Eliminasi

Mengalami metabolisme oleh esterase plasma dan


jaringan nonspesifik menjadi metabolit nonaktif

Asam remifentanil, 300 sampai 4.600 kali lebih kecil


kekuatannya dibanding remifentanil

Pembersihannya tidak akan dipengaruhi oleh defisiensi


cholinesterase atau anticholinergik

Farmakokinetik remifentanil tidak akan diubah oleh


gagal ginjal atau gagal hati

Waktu-paroh eliminasi remifentanyl 6 menit atau


kurang
Penggunaan Klinik

Pada kasus dimana efek analgesik yang kuat diinginkan


untuk sementara (pelaksanaan blok retrobulbar)

Onset cepat & durasi singkat menekan respon


simpatis sementara terhadap laryngoscopy & intubasi
tracheal pada pasien berisiko

Anesthesia bisa dipicu dengan remifentanil, 1 g/kg IV


yang diberikan selama 60 sampai 90 detik

Remifentanil (0,05-0,10 g/kg/i) + midazolam 2 mg IV


memberikan sedasi & analgesia efektif
Efek Samping

Semua analog fentanyl, termasuk remifentanil,


dilaporkan memicu seizure-like activity.

Mual dan muntah, depresi ventilasi dan ringan


sistemik TD & HR

Pelepasan histamin tidak menyertai pemberian


remifentanil

ICP dan tekanan intraocular tidak diubah oleh


remifentanil

Remifentanil dosis-tinggi CBF & CMRO2


CODEINE

Hasil substitusi gugus methyl untuk gugus hydroxyl pada


carbon nomor 3 dari morphine

Waktu-paroh eliminasi codenie setelah pemberian oral


atau IM adalah 3,0 sampai 3,5 jam

10% codeine yang diberikan mengalami demethylasi di


dalam liver menjadi morphine efek analgesik

Codeine yang tersisa mengalami demethylasi menjadi


norcodeine nonakti

Antitusif yang efektif dengan dosis oral 15 mg


Efek analgesik 60 mg codeine = 650 mg aspirin

120 mg IM codeine setara dalam efek analgesiknya


dengan 10 mg morphine

Kecenderungan ketergantungan fisik codeine


ternyata lebih kecil daripada morphine

Codeine menghasilkan sedasi minimal, mual,


muntah dan sembelit

Bahkan dalam dosis besar, codeine tidak mungkin


menimbulkan apneu
METHADONE
Agonis opioid sintetik yang sangat efektif melalui rute
oral.

Methadone bisa pengganti untuk morphine pada


pecandu dengan kira-kira seperempat dosis

Methadone, 20 mg IV, menghasilkan analgesia


pascaoperasi yang berlangsung selama > 24 jam

Dimetabolisasi di liver menjadi substansi nonaktif yang


diekskresikan dalam urin & empedu

Efek samping depresi ventilasi, miosis, sembelit,


kejang saluran empedu

Sebagai alternatip untuk formulasi pelepasan-lambat


TRAMADOL
Affinitas moderat terhadap reseptor mu & affinitas
reseptor opioid kappa dan delta lemah

5 sampai 10 kali lebih lemah daripada morphine sebagai


analgesik

Tramadol 3 mg/kg efektif untuk pengobatan nyeri


moderat hingga berat

Tramadol memperlambat pengosongan lambung


(efeknya kecil dibanding opioid lainnya)

Berguna untuk pengobatan nyeri kronis karena tidak


menyebabkan toleransi atau kecanduan
HEROIN

Heroin (diacetylmorphine) opioid sintetik hasil dari


acetylasi morphine

Penetrasi cepat heroin ke otak dihydrolysis menjadi


metabolit aktif monoacetylmorphine dan morphine

Heroin parenteral OOA cepat, tidak memicu mual &


potensi lebih besar untuk ketergantungan fisik
(dibanding morphine)

Masuk cepat unik ke dalam CNS oleh kelarutan lipid


dan struktur kimia heroin
OPIOID AGONIS -
ANTAGONIS
Opioid agonis antagonis termasuk tidak terbatas
pada pentazoine, butorphanol, nalbupine,
buprenorphinne, nalorphine,bremazocain dan
dezocine
Opioid ini akan mengikat mu reseptor, dimana
nantinya akan memberikasn respon parsial atau
bahkan tanpa efek ( competitive antagonis)
Pada umumnya opioid agonis-antagonis sebaiknya
digunakan pada pasien yang tidak dapat
mentoleransi agonis murni
Pentazocaine

Pentazocine merupakan turunan benzomorphan


yang memiliki tindakan agonis opioid serta
tindakan antagonis lemah. Hal ini diduga
mengerahkan efek agonis tersebut pada reseptor
delta dan kappa.
Efek antagonis pentazocine cukup untuk
mengendapkan gejala penarikan ketika diberikan
kepada pasien yang telah menerima opioid secara
teratur. Efek agonis dari pentazocine ialah efek
antagonis dari nalokson.
FARMAKOKINETIK

Pentazocine baik diabsorbsi setelah pemberian oral


atau parenteral. Metabolisme hepatik pertama luas,
sekitar 20% dari dosis oral memasuki sirkulasi.
Metabolisme pentazocine terjadi oleh oksidasi
gugus metil terminal, dan menghasilkan konjugat
glukuronida aktif diekskresikan dalam urin.
Diperkirakan 5% sampai 25% dari dosis yang
diberikan dari pentazocine diekskresikan tidak
berubah dalam urin, dan <2% mengalami ekskresi
bilier. Dimana waktu paruh dapat terjadi sekitar 2-3
jam
CLINICAL USES

Pentazocine, 10 sampai 30 mg IV atau 50 mg secara


oral, yang paling sering digunakan untuk
menghilangkan nyeri sedang.

Dosis oral 50 mg setara dalam potensi analgesik


untuk 60 mg kodein. Pentazocine berguna untuk
pengobatan nyeri kronis ketika ada risiko tinggi
ketergantungan fisik. Penempatan dalam prosedur
ruang epidural onset cepat analgesia yang durasi
lebih pendek dari pada yang dihasilkan oleh
morfin.
EFEK SAMPING

Efek samping yang sering adalah diaforesis dang


nyeri kepala
Mual dan muntah
Dysphoria
Dapat meningkatkan curah jantung, tekanan darah
sistemik, tekanan arteri pulmonal serta
meningkatkan end diastolik ventrikular kiri.
Pada ibu hamil dapat melewati sawar plasenta dan
menyebabkan fetal distres
BUTORPHANOL

Butorfanol adalah opioid agonis-antagonis yang


menyerupai pentazocine. Dibandingkan dengan
pentazocine, efek agonis yang sekitar 20 kali lebih besar,
sedangkan tindakan antagonis nya adalah 10 sampai 30
kali lebih besar.
Butorfanol memiliki (a) afinitas rendah untuk reseptor
mu untuk menghasilkan antagonisme, (b) afinitas
moderat untuk reseptor kappa untuk menghasilkan
analgesia dan efek antishivering, dan (c) afinitas minimal
untuk reseptor sigma, sehingga kejadian dysphoria
adalah rendah.
Butorfanol cepat dan hampir sepenuhnya diserap
setelah injeksi IM. Pada pasien pasca operasi, 2
sampai 3 mg IM menghasilkan analgesia dan
depresi ventilasi mirip dengan 10 mg morhine.
butorfanol intranasal digunakan untuk pengobatan
nyeri pasca operasi dan sakit migrain. Penggunaan
intraoperatif dari butorfanol, seperti pentazocine,
tampaknya terbatas. Waktu paru butorfanol adalah
2,5-3,5 jam. Metabolisme dari hydroxybutorphanol
sebagian di absorbsi di empedu dan masuk melalui
urine dalam porsi yang rendah.
EFEK SAMPING

Obat ini memiliki efek samping mual, sedasi dan


diaphoresis

Sama seperti pentazocine, obat ini juga dapat dapat


meningkatkan curah jantung, tekanan darah
sistemik,dan meningkatkan tekanan arteri
pulmonal.

Dapat juga memberi efek samping pada GI tract dan


traktus bilier dibanding morphine
NALBUPHINE

albuphine hidroklorida (Nubain) diklasifikasikan


sebagai sintetik opioid agonis-antagonis. Hal ini
berkaitan dengan antagonis opioid, nalokson dan
ampuh opioid agonis oxymorphone.

Nalbuphine adalah analgesik kuat. Potensi analgesik


pada dasarnya setara dengan morfin. Ini mengikat
mu, kappa, dan reseptor delta opioid. Nalbuphine
dimetabolisme oleh hati dan diekskresikan oleh
ginjal.
Plasma paruh adalah 5 jam dan durasi aktivitas analgesik
telah dilaporkan berkisar antara 3 sampai 6 jam.

Dosis yang dianjurkan 10 mg/IM dengan onset efek dan


durasi yang sama dengan morfin

Nalbuphine, seperti opioid ampuh lainnya, dikaitkan


dengan depresi pernafasan. Nalbuphine menghasilkan
sedasi yang cukup besar dan dapat mengganggu
kemampuan mental dan fisik dalam kinerja tugas-tugas
seperti mengemudi mobil atau mengoperasikan mesin.
Dosis yang dianjurkan 10 mg/IM dengan onset efek
dan durasi yang sama dengan morfin
Nalbuphine, seperti opioid ampuh lainnya,
dikaitkan dengan depresi pernafasan. Tidak seperti
morfin dan agonis mu ampuh lainnya, nalbuphine
menghasilkan depresi kurang pernafasan sebagai
dosis meningkat karena antagonis efeknya agonist.
Nalbuphine menghasilkan sedasi yang cukup besar
dan dapat mengganggu kemampuan mental dan
fisik dalam kinerja tugas-tugas.
BUPRENORPINE

Merupakan agonis antagonis opioid derivat dari opium


alkaloide thebaine
Dosis yang dianjurka o,6 IM setara dengan 10 mg morfin
Memiliki onset 30 menit dan durasi nya paling lama 8
jam.
Afinitas daripada buprenophrine pada reseptor mu 50
kali lebih baik daripada morfin
Setelah pemberian IM, setidaknya 2-3 obat tidak
berubah pada empedu dan di ekskresikan melalui urin
pada metabolik yang inaktif
Obat ini sangat efektif untuk nyeri sedang sampai
berat pada post operasi serta terhadap kanker, kolik
ginjal dan infark miokard
EFEK SAMPING

Mual, muntah dan depresi ventilasi

Pada pemberian obat in dapat menimbulkan odem


pulmonal
NALORPINE

Memiliki potensi yang sama dengan morpin untuk


analgesik namun tidak berguna secara klinikal
karna memiliki insiden disphoria yang tinggi

Insiden disphoria terjadi karena terjadinya aktivitas


relfleks dari obat pada sigma reseptor

Antagonis action dari nalorpine akan terjadi pada


mu reseptor
BREMAZOCINE

Merupakan derivate dari benzomorphan

Memiliki kemampuan 2 kali lebih baik daripada


morphine sebagai analgesic.

Beberapa spekulasi menyatakan bahwa bremazocine


sangat selektif terhadap kappa reseptor
DEZOCINE

Dosis 0,15 mg/ kgBB/ IM


Memiliki potensi analgetik dan durasi serta onset post op
seimbang dengan morphine
Dapat diabsorbsi 10-15 mg setelah pemberian IM cepat
dan komplit sekitar 30 menit
Setelah pemberian IV 5-10 mg, maka onset analgesiknya
sekita 15 menit
Memiliki afinitas tinggi pada mu reseptor dan afinitas
sedang pada delta reseptor
Insidensi disphoria minimal setelah pemberian dezocine
METAZINOL

Meptazinol merupakan agonis opioid parsial


dengan relatif selektivitas pada reseptor mu1.
Akibatnya, depresi ventilasi tidak terjadi dengan
dosis analgesik meptazinol.
Timbulnya analgesia cepat, tetapi durasi kerja
adalah <2 jam. Bioavailabilitas setelah pemberian
oral adalah <100%. Metabolisme adalah untuk
konjugat glukuronida aktif yang diekskresikan oleh
ginjal. Protein mengikat adalah 20% sampai 25%,
dan penghapusan setengah waktu sekitar 2 jam.
keter
OPIOID ANTAGONIS

Perubahan kecil dalam struktur agonis opioid dapat


mengkonversi obat ke antagonis opioid pada satu
atau lebih dari situs reseptor opioid . Perubahan
yang paling umum adalah substitusi gugus alkil
untuk kelompok metil pada agonis opioid.
NALOKSON

Nalokson adalah antagonis selektif pada ketiga


reseptor opioid. Nalokson selektif ketika digunakan
untuk (a) memperlakukan opioid-induced depresi
ventilasi yang mungkin hadir pada periode pasca
operasi, (b) mengobati depresi opioid-induced
ventilasi pada neonatus karena administrasi ibu
dari opioid, (c) memfasilitasi pengobatan overdosis
opioid yang disengaja, dan (d) mendeteksi diduga
ketergantungan fisik.
Nalokson 1-4 mg / kg IV, segera membalikkan efek
analgesia opioid-induced dengan depresi ventilasi.
Durasi singkat dari nalokson (30 sampai 45 menit)
diduga disebabkan oleh absorbsi yang cepat dari
otak. Ini menekankan bahwa dosis tambahan dari
nalokson mungkin akan diperlukan untuk
antagonisme berkelanjutan agonis opioid. Dalam
hal ini, infus kontinu nalokson, 5g / kg / jam,
mencegah depresi ventilasi tanpa mengubah
analgesia diproduksi oleh opioid neuraksial.
EFEK SAMPING

Antagonisme depresi opioid-induced ventilasi tidak


dapat terelakan dari analgesia. Untuk titrasi dosis
nalokson dapat terjadi depresi ventilasi sebagian
namun dapat diterima untuk mempertahankan
analgesia parsial.
Mual dan muntah tampaknya terkait erat dengan
dosis dan kecepatan injeksi nalokson. Administrasi
nalokson perlahan-lahan selama 2 sampai 3 menit
untuk menurunkan kejadian mual dan muntah.
Stimulasi kardiovaskular setelah pemberian
bermanifestasi nalokson sebagai peningkatan aktivitas
sistem saraf simpatik, mungkin mencerminkan efek
pembalikan tiba-tiba dari analgesia sehingga
memberikan persepsi nyeri yang tiba-tiba. Peningkatan
aktivitas sistem saraf simpatik ini dapat bermanifestasi
sebagai takikardia, hipertensi, edema paru, dan disritmia
jantung .

Nalokson dapat dengan mudah melewati sawar


plasenta. Oleh karena itu, pemberian nalokson pada ibu
hamil, sangat beresiko
PERANAN
PENANGANAN SYOK
Nalokson menghasilkan dosis-berhubungan
peningkatan kontraktilitas miokard dan
kelangsungan hidup pada hewan mengalami syok
hipovolemik (Faden, 1984). Efek menguntungkan
dari nalokson dalam pengobatan syok terjadi hanya
dengan dosis> 1 mg / kg IV.
ANTAGONIS ANESTESI
UMUM
Dosis tinggi nalokson memberi efek depresan dari
anestesi inhalasi dimana dapat mewakili aktivasi
akibat penggunaan obat dari sistem kolinergik di
otak, independen dari setiap interaksi dengan
reseptor opioid (Kraynack dan Gintautas, 1982).
Sebuah peran endorfin dalam produksi anestesi
umum tidak didukung oleh data yang
menunjukkan kegagalan nalokson untuk mengubah
persyaratan (MAC) pada hewan.
NALTREXONE

Naltrexone, berbeda dengan nalokson sangat efektif


secara lisan, memproduksi antagonisme
berkelanjutan efek gonists opioid selama 24 jam.
NALMEFENE

Nalmefene merupakan antagonis opioid murni


yang analog 6-metilen dari naltrexone .
Nalmefene adalah equipotent ke nalokson. Dosis
yang dianjurkan adalah 15 sampai 25 mg IV
diberikan setiap 2 sampai 5 menit sampai efek yang
diinginkan tercapai, dengan dosis total tidak
melebihi 1 mg / kgBB. Pemberian profilaksis
nalmefene secara signifikan mengurangi kebutuhan
untuk antiemetik dan obat antipruritus pada pasien
yang menerima infus analgesia pasien-dikontrol
dengan morfin
. Keuntungan utama dari nalmefene adalah durasi
yang lebih lama kerjanya, yang memungkinkan
memberikan efek antidepresan yang lebih besar
dari ventilasi karena efek residual dari opioid
sebagai antagonis. Waktu paruh daripada
nalmetene adalah sekitar 10,8 jam. Nalmefere
dimetabolisme oleh konjugasi hati, dengan <5%
diekskresikan tidak berubah dalam urin. Seperti
dengan nalokson, edema paru akut terjadi setelah
pemberian IV dari nelmefene
METHYLNATREXONEIS

Methylnatrexoneis merupakan antagonis opioid


kuaterner. Kelompok kuaterner metil sangat terionisasi
membatasi transfer methylnatrexone melintasi
penghalang darah-otak. Sebagai hasilnya,
methylnatrexone aktif di perifer daripada reseptor
opioid sentral seperti yang ditunjukkan oleh kegagalan
untuk menembus CNS cukup untuk mempromosikan
penarikan pada hewan morfin-dependent.

methylnatrexone melemahkan perubahan morfin-


induced di tingkat pengosongan lambung juga
mengurangi timbulnya mual.
Efek mual morfin-induced mungkin terjadi karena
efek antagonisme morfin di zona kemoreseptor
trigger (terletak di luar sawar otak) atau melalui
pembatasan keterlambatan pengosongan lambung,
yang, dalam dirinya sendiri, dapat menyebabkan
mual.

Methylnatrexone bisa mencegah efek yang tidak


diinginkan dari opioid pada pengosongan lambung
dan mungkin muntah tanpa mengubah efek
analgesia.
TERIMA KASIH