You are on page 1of 56

SISTIM PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK

PENGGERAK MULA ( PRIME MOVER )

Energi/Daya Listrik yang dihasilkan Generator didapat dari


Energi Mekanis ( putaran ), Generator yang digerakkan oleh
Penggerak Mula ( Prime Mover ) diantaranya : Mesin Diesel,
Turbin Gas, Turbin Air, Turbin Uao dll.
Pemilihan Pengerak Mula ( Prime Mover ), didasarkan :
* Ketersediaan Energi Primier
** Lokasi/Kondisi Geografis
*** Tingkat Ke Ekonomian dll.
Perkembangan Penggerak Mula ( Prime Mover ) berupa
gabungan Turbin Uap dan Turbin Gas untuk mendapatkan
tingkat Effisiensi Thermal yang optimal
PENGGERAK MULA ( PRIME MOVER )
MAX. MOMEN
PUNTIR/TORSI

FSNL
FSNL

SPEED SPEED
60 % SPEED 100 % SPEED

Gambar 1 - Hubungan Momen Torsi vs Speed (Putaran)


DIAGRAM ALIR PROSES PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP (PLTU)
BAHAN BAKAR MINYAK)

1. Circulating Water Pump.


2. Desalination Evaporator.
3. Distillate Pump.
4. Make-up Water Tank.
5. Demin Water Tank.
6. Condenser.
7. L.P Heater.
8. Deaerator.
9. Boiler Feed Pump.
10. H.P Heater.
11. Economiser.
12. Steam Drum.
13. Boiler.
14. Superheater.
15. Steam Turbine.
16. Kapal/Tongkang.
17. Pumping House.
18. F.O Tank.
19. F.O Heater.
20. Burner.
21. F.D Fan.
22. Air Heater.
23. Stack.
I. Sistem Air dan Uap

Air laut yang jumlahnya melimpah dipompa oleh CWP (Circulating


Water Pump) (1) yang sebagian besar dipakai untuk media
pendingin di Condenser (6) dan sebagian lagi dijadikan air suling di
Desalination Evaporator (2). Setelah air menjadi tawar, kemudian
dipompa oleh Distillate Pump (3) untuk kemudian dimasukkan ke
dalam Make Up Water Tank (4) yang kemudian dipompa lagi masuk
ke sistem pemurnian air (Demineralizer) dan selanjutnya dimasukkan
ke dalam Demin Water Tank (5). Dari sini air dipompa lagi untuk
dimasukkan ke dalam Condenser berfungsi sebagai air penambah
bersatu dengan air kondensat..
Air kondensat yang kondisinya sudah memenuhi persyaratan boiler
dipompa lagi dengan menggunakan pompa kondensat, kemudian masuk
ke dalam 2 buah pemanas Low Pressure Heater (7) dan mengalir ke
Deaerator (8). Untuk mengeluarkan atau membebaskan unsur O2 yang
terkandung dalam air. Selanjutnya air tersebut dipompa lagi dengan
bantuan Boiler Feed Pump (9) dipanaskan lagi di dalam 2 buah High
Pressure Heater (10) untuk diteruskan ke dalam boiler yang terlebih
dahulu dipanaskan lagi dengan Economizer (11) baru kemudian masuk
ke dalam Steam Drum (12). Proses pemanasan di ruang bakar
menghasilkan uap jenuh dalam steam drum,Guna mendapatkan uap
yang kering dipanaskan lagi oleh Superheater (14) untuk kemudian
dialirkan dan memutar Turbin Uap (15). Uap setelah memutar sudu
yang keluar turbin diembunkan dalam condenser dengan bantuan
pendinginan air laut, kemudian air kondensat ditampung di hot well.
II. Sistem Bahan Bakar

Bahan bakar minyak residu/MFO dialirkan dari kapal/tongkang (16) ke


dalam Pumping House (17) untuk dimasukkan ke dalam Fuel Oil Tank
(18). Dari sini dipompa lagi dengan fuel oil pump selanjutnya masuk ke
dalam Fuel Oil Heater (19) untuk dikabutkan di dalam Burner (20)
sebagai alat proses pembakaran bahan bakar dalam Boiler.

III. Sistem Udara Pembakaran

Udara di luar dihisap oleh FDF (Forced Draft Fan) (21) yang kemudian
dialirkan ke dalam pemanas udara (Air Heater) (22) dengan memakai
gas bekas sisa pembakaran bahan bakar di dalam Boiler (13) sebelum
dibuang ke udara luar melalui Cerobong/Stack (23).
IV. Sistem Penyaluran Tenaga Listrik

Perputaran Generator (24) akan menghasilkan energi listrik yang


oleh penguat/exciter tegangan mencapai 11,5 kV, kemudian oleh
Trafo Utama/Main Transformater (25) tegangan dinaikkan menjadi
150 kV. Energi listrik itu lalu dibagi melalui Switch Yard / Gardu
Induk (26) untuk kemudian dikirim melalui Transmisi Tegangan
Tinggi (27). Kemudian, tenaga listrik itu dialirkan lagi pada para
konsumen.
DIAGRAM ALIR PROSES PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR (PLTA) 1. Pintu Pengambil Air atau
Saringan.
2. Pusat Pengendali
Bendungan.
3. Terowongan Tekan.
4. Pipa Pesat.
5. Tanki Pendatar.
6. Rumah Keong.
7. Turbin.
8. Katup Utama.
9. Pipa Lepas.
10. Saluran Pembuangan.
11. Poros Generator.
12. Trafo Utama.
13. Serandang Hubung.
14. Saluran Tegangan
Ekstra Tinggi.
Aliran sungai Citarum dengan sejumlah anak sungainya memiliki debit
air yang sangat besar. Air itu ditampung dalam waduk berkapasitas
875.000.000 m3, yang dikenal sebagai Waduk Saguling. Dari waduk,
air dialirkan melalui Pintu Pengambil Air atau Saringan (1), yang
pengaturannya dilakukan lewat Pusat Pengendali Bendungan (2),
selanjutnya masuk ke dalam Terowongan Tekan (3). Sebelum
memasuki Pipa Pesat (4), air itu harus melewati Tanki Pendatar (5)
yang berfungsi untuk mengamankan pipa pesat, apabila terjadi tekanan
mendadak/tekanan kejut saat Katup Utama (8) tertutup/ditutup
seketika.
Setelah katup utama dibuka, aliran air memasuki Rumah Keong (6).
Aliran air yang bergerak memutar itu berfungsi menggerakkan Turbin
(7). Dari turbin air keluar melalui Pipa Lepas (9), dan selanjutnya
dibuang ke Saluran Pembuangan (10). Poros turbin yang berputar tadi
dikopel dengan Poros Generator (11). Oleh Trafo Utama (12),
tegangan listrik itu dinaikkan dari 16,5 kV menjadi 500 kV. Kemudian
aliran listrik bertegangan tinggi itu dikirim ke Gardu Induk melalui
Serandang Hubung (13) serta Saluran Tegangan Ekstra Tinggi (14).
KASKADE

Sistem kaskade adalah adanya dua atau lebih PLTA dalam satu aliran
sungai. Air buangan PLTA yang berada di sebelah hulu, ditambah
dengan air dari sungai lainnya, dimanfaatkan oleh PLTA yang berada di
sebelah hilirnya. Sistem kaskade ini tidak diperlukan persyaratan
khusus, sepanjang secara teknis dan ekonomis memungkinkan.

Sistem kaskade di Indonesia, antara lain:


PLTA Saguling, PLTA Cirata, dan PO Jatiluhur yang memanfaatkan
aliran sungai Citarum.
PLTA Plengan, PLTA Lamajan, dan PLTA Cikalong, yang memanfaatkan
aliran sungai Cisangkuy.
PLTA Silorejo, PLTA Sutami, PLTA Wlingi, dan PLTA Lodoyo, yang
memanfaatkan aliran sungai Brantas.
DIAGRAM ALIR PROSES PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP & GAS (PLTGU)
BAHAN BAKAR MINYAK/GAS

1. ARCO Gas Station.


2. Combustion Chamber.
3. Gas Turbine.
4. Main Compressor.
5. Air Filter.
6. Generator Gas Turbine.
7. Penghantar.
8. Katup.
9. Katup.
10. Heat Recovery Steam
Generator.
11. Deaerator.
12. H.P Flow Meter.
13. L.P Flow Meter.
14. Katup Uap Utama.
15. H.P Turbine.
16. L.P Turbine.
17. Generator Steam Turbine.
18. Penghantar.
19. Condenser.
20. Condensate Pump.
21. H.P Bypass.
22. Katup Uap Tekanan Tinggi.
23. L.P Bypass.
24. Katup Uap Tekanan Rendah.
25. Katup Uap Utama Tekanan
Tinggi.
26. Katup Utama.
Proses pada Turbin Gas
Bahan gas alam (natural gas) yang disupply dari ARCO Station (1)
langsung dimasukkan ke dalam ruang bakar/Combustion Chamber
(2), bersama-sama dengan udara yang disupply dari Main
Compressor (4) setelah terlebih dahulu melalui saringan udara/Air
Filter (5). Maka akan menghasilkan gas panas yang selanjutnya akan
dimasukkan langsung ke dalam Turbin Gas (3) .Sedangkan gas
bekas yang telah melalui turbin gas tadi, apabila tidak dipakai (open
cycle) akan langsung dibuang keluar melalui katup (8). Bila dipakai
lagi (closed cycle) akan dimasukkan kembali melalui katup (9) ke
dalam Heat Recovery Steam Generator HRSG (10).
Proses pada Turbin Uap (PLTU)

Air pengisi yang berada di dalam deaerator (11) akan dibagi dua
yaitu melalui Low Pressure Flow Water/LPFW (13) dan High
Pressure FW/HPFW (12). Air pengisi yang dari HPFW akan
dimasukkan ke dalam HRSG setelah melalui pipa/saluran uap HP
Admission Steam diteruskan ke Turbin Uap High Pressure
Turbine/HPT (15) yang sebelumnya terlebih dahulu melalui Katup
Uap Utama (14) dan setelah itu diteruskan lagi ke Low Pressure
Turbine/LPT (16) yang selanjutnya dikopling dengan Generator
(17) untuk menghasilkan tenaga listrik melalui Penghantar (18).
Uap bekas yang keluar dari LPT tadi akan dialirkan kembali ke
dalam Condenser (19) untuk diubah kembali menjadi air
kondensat setelah dikondensasi oleh air pendingin/air laut. Air
kondensat selanjutnya akan dipompakan oleh Condensate Pump
(20) untuk selanjutnya terus dimasukkan ke dalam Feed Water
Tank yang berada pada deaerator.
Air dari Condensate Pump tadi dicabang lagi ke dalam HP Bypass
(21), uap diatur dengan Katup uap tekanan tinggi (22), sedangkan
cabang yang lain yaitu LP Bypass (23) uap diatur dengan Katup
uap tekanan rendah (24). Katup uap tekanan tinggi utama (25)
digunakan untuk mengatur jumlah uap tekanan tinggi masuk ke
dalam turbin uap (HPT), sedangkan uap tekanan tinggi yang dipakai
untuk memanaskan deaerator diatur jumlahnya oleh Katup Uap (26).
PERALATAN PLTGU
DIAGRAM ALIR PROSES PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (PLTP)

1. Steam Receiving
Header.
2. Flow Meter.
3. Separator.
4. Demister.
5. Main Steam Valve.
6. Turbine.
7. Generator.
8. Step-up Transformer.
9. Sistim Penyaluran Jawa-
Bali.
10. Condenser.
11. Cooling Water Pump.
12. Cooling Water.
13. First-stage dan second-
stage.
14. Sumur Reinjeksi.
15. Reservoir.
16. Primary Pump.
17. Inter Condenser.
Uap dari sumur produksi mula-mula dialirkan ke steam receiving header
(1), yang berfungsi menjamin pasokan uap tidak akan mengalami
gangguan meskipun terjadi perubahan pasokan dari sumur produksi.
Selanjutnya melalui flow meter (2) dialirkan ke separator (3) dan
demister (4) untuk memisahkan zat-zat padat, silika dan bintik-bintik air
yang terbawa didalamnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya
vibrasi, erosi, dan pembentukan kerak pada sudu dan nozzle turbine.
Uap yang telah bersih itu dialirkan melalui main steam valve/electric
control valve/governor valve (5) menuju ke turbine (6). Di dalam
turbine, uap tersebut berfungsi untuk memutar double flow condensing
yang dikopel dengan generator (7), pada kecepatan 3000 rpm. Proses ini
menghasilkan energi listrik dengan arus 3 phase, frekuensi 50 Hz, dan
tegangan 11,8 kV. Melalui step-up transformer (8), arus listrik dinaikkan
tegangannya hingga 150 kV, selanjutnya dihubungkan secara paralel
dengan sistem penyaluran Jawa-Bali (9).
Agar turbin bekerja secara efisien, maka exhaust steam yang keluar
dari turbin harus dalam kondisi vakum (0,10 bar).
Dengan mengkondensasikan uap dalam condenser (10) kontak
langsung yang dipasang di bawah turbine. Exhaust steam dari turbin
masuk dari sisi atas condenser, kemudian terkondensasi sebagai akibat
penyerapan panas oleh air pendingin yang diinjeksikan lewat spray-
nozzle. Level kondensat dijaga selalu dalam kondisi normal oleh dua
buah cooling water pump (11), lalu didinginkan dalam cooling water
(12) sebelum disirkulasikan kembali.
Untuk menjaga kevakuman condenser, gas yang tak terkondensasi
harus dikeluarkan secara kontinyu oleh sistem ekstraksi gas. Gas-gas
ini mengandung: CO2 85-90% wt; H2S 3,5% wt; sisanya adalah N2 dan
gas-gas lainnya. Di Kamojang dan Gunung Salak, sistem ekstraksi gas
terdiri atas first-stage dan second-stage (13) sedangkan di Darajat
terdiri dari ejector dan liquid ring vacuum pump.
Sistem pendingin di PLTP merupakan sistem pendingin dengan sirkulasi
tertutup dari air hasil kondensasi uap, dimana kelebihan kondensat yang
terjadi direinjeksi ke dalam sumur reinjeksi (14). Prinsip penyerapan
energi panas dari air yang disirkulasikan adalah dengan mengalirkan udara
pendingin secara paksa dengan arah aliran tegak lurus, menggunakan 5
forced draft fan. Proses ini terjadi di dalam cooling water.
Sekitar 70% uap yang terkondensasi akan hilang karena penguapan dalam
cooling water, sedangkan sisanya diinjeksikan kembali ke dalam reservoir
(15). Reinjeksi dilakukan untuk mengurangi pengaruh pencemaran
lingkungan, mengurangi ground subsidence, menjaga tekanan, serta
recharge water bagi reservoir. Aliran air dari reservoir disirkulasikan lagi
oleh primary pump (16). Kemudian melalui after condenser dan
intercondenser (17) dimasukkan kembali ke dalam reservoir.
DIAGRAM ALIR PROSES PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP (PLTU)
(BAHAN BAKAR BATU BARA)
1. Stacker Reclaimer.
2. Telescopic Chute.
3. Junction House.
4. Conveyor.
5. Coal Bunker.
6. Coal Feeder.
7. Pulverizer.
8. Ptimary Air Fan.
9. Coal Burner.
10. F. D Fan.
11. Air Heater.
12. I. D Fan.
13. Electric Precipitator.
14. Stack.
15. Superheater Tube Boiler.
16. H. P Turbine.
17. Reheater Tube Boiler.
18. I.P Turbine.
19. L.P Turbine.
20. Rotor Generator.
21. Stator Generator.
22. Generator Transformer.
23. Condenser.
24. Condensate Extraction Pump.
25. L.P Heater.
26. Sea Water.
27. Deaerator.
28. Boiler Feed Pump.
29. Economiser.
30. H.P Heater.
31. Steam Drum.
32. Cooling Water Pump.
Batubara yang dibongkar dari kapal di Coal Jetty kemudian dikeruk
dengan menggunakan Stacker Reclaimer (1), dan selanjutnya
diangkut dengan conveyor menuju penyimpan sementara (Temporary
Stock) dengan melalui Telescopic Chute (2) untuk kemudian dikirim
ke Boiler. Selanjutnya batubara tersebut ditransfer melalui Junction
House (3) ke Scrapper Conveyor (4) lalu ke Coal Bunker (5),
diteruskan ke Coal Feeder (6) yang berfungsi mengatur jumlah aliran
ke Pulverizer (7) di mana batubara digiling sesuai kebutuhan menjadi
serbuk yang sangat halus seperti tepung. Serbuk batubara ini dicampur
dengan udara panas dari Primary Air Fan (8) dan dibawa ke Coal
Burner (9) yang menghembuskan batubara tersebut ke dalam ruang
bakar untuk proses pembakaran dan terbakar seperti gas untuk
mengubah air menjadi uap.
Udara panas yang digunakan oleh P.A. Fan dipasok dari F.D. Fan (10)
yang menekan udara panas setelah dilewatkan melalui Air Heater (11).
F.D. Fan juga memasok udara ke Coal Burner untuk mendukung proses
pembakaran. Hasil proses pembakaran yang terjadi menghasilkan limbah
berupa abu dalam perbandingan 14:1. Abu yang jatuh ke bagian bawah
Boiler secara periodik dikeluarkan dan disimpan. Gas hasil pembakaran
dihisap keluar dari Boiler oleh I.D. Fan (12) dan dilewatkan melalui
Electric Precipitator (13) yang menyerap 99,5% dari abu terbang dan
debu dengan sistem Elektrode yang dihembuskan ke cerobong
asap/stack (14). Abu dan debu kemudian dikumpulkan dan diambil
dengan alat Pneumatic Gravity Conveyor yang digunakan sebagai material
untuk bahan pembuatan jalan, semen dan bahan bangunan (conblok).
Panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar, diserap oleh pipa-
pipa penguap/Waterwalls menjadi uap jenuh/uap basah yang selanjutnya
dipanaskan dengan Superheater (15).
Kemudian uap tersebut dialirkan ke turbin tekanan tinggi H.P. Turbine
(16), di mana uap tersebut ditekan melalui Nozzle ke sudu-sudu turbin.
Tenaga dari uap menghantam sudu-sudu turbin dan membuat turbin
berputar. Setelah melalui H.P. Turbine, uap dikembalikan ke boiler untuk
dipanaskan ulang di Reheater (17) sebelum uap tersebut digunakan di
I.P. Turbine (18) dan L.P. Turbine (19). Sementara itu, uap bekas
dikembalikan menjadi air di Condensor (23) dengan air laut/Sea Water
(26) yang dipasok oleh C.W. Pump (32). Air kondensasi akan digunakan
kembali di Boiler. Air dipompakan dari Condensor dengan menggunakan
Condensate Extraction Pump (24), dipanaskan lagi oleh L.P. Heater
(25), dinaikkan ke Deaerator (27).
Tangki pemanas kemudian dipompa oleh Boiler Feed Pump
(28) melalui H.P. Heater (29), di mana air tersebut dipanaskan
lebih lanjut sebelum masuk ke boiler pada Economiser (30),
kemudian air masuk ke Steam Drum (31). Poros turbin
tekanan rendah dikopel dengan Rotor Generator (20). Rotor
dalam Elektromagnit berbentuk silinder ikut berputar apabila
turbin berputar. Generator dibungkus dalam Stator Generator
(21). Stator ini digulung dengan menggunakan batang
tembaga. Listrik dihasilkan dalam batangan tembaga pada
stator oleh Elektromagnit rotor melalui perputaran dari medan
magnit. Tegangan listrik 23 KV kemudian dinaikkan menjadi
500.000 Volt dengan Generator Transformer (22).
STATUS UNIT PEMBANGKIT

STATUS UNIT PEMBANGKIT merupakan kondisi kesiapan Unit


Pembangkit yang diakibatkan oleh beberapa variabel seperti :

1. OUTAGE.
2. DERATING.
3. RESERVE SHUTDOWN (RS) & NON CURTAILING (NC).
OUTAGE

OUTAGE didefinisikan sebagai suatu unit pembangkit


tidak sinkron ke jaringan dan bukan dalam status
Reserve Shutdown, klasifikasi outage dibagi dalam
beberapa jenis kejadian seperti :

1. Planned Outage (PO).


2. Maintenance Outage (MO).
3. Forced Outage (FO).
PLANNED OUTAGE yaitu keluarnya pembangkit akibat adanya
pekerjaan pemeliharaan periodik pembangkit seperti inspeksi,
overhaul atau pekerjaan lainnya yang sudah dijadualkan
sebelumnya dalam rencana tahunan pemeliharaan pembangkit
atau sesuai rekomendasi pabrikan.
MAINTENANCE OUTAGE yaitu keluarnya pembangkit untuk
keperluan pengujian, pemeliharaan preventif, pemeliharaan
korektif, perbaikan atau penggantian suku cadang atau
pekerjaan lainnya pada pembangkit yang dianggap perlu
dilakukan, yang tidak dapat ditunda pelaksanaannya hingga
jadual PO berikutnya dan telah dijadualkan dalam ROM
berikutnya.
FORCED OUTAGE yaitu keluarnya pembangkit akibat adanya
kondisi emergency pada pembangkit atau adanya gangguan yang
tidak diantisipasi sebelumnya serta yang tidak digolongkan ke
dalam MO atau PO.
DERATING

DERATING terjadi apabila daya keluaran (MW) unit kurang


dari DMN-nya, derating digolongkan menjadi beberapa
kategori yang berbeda. Derating dimulai ketika unit tidak
mampu untuk mencapai 98 % DMN dan lebih lama dari 30
menit. Derating berakhir ketika peralatan yang menyebabkan
derating tersebut kembali normal, terlepas dari apakah pada
saat itu unit diperlukan sistim atau tidak.

Beberapa kategori derating sebagai berikut :


1. Planned Derating.
2. Maintenance Derating.
3. Unplanned Derating.
PLANNED DERATING merupakan derating yang dijadualkan
dan durasinya sudah ditentukan sebelumnya dalam rencana
tahunan pemeliharaan pembangkit. Derating berkala untuk
pengujian, seperti test klep turbin mingguan, bukan
merupakan PD tetapi MD.

MAINTENANCE DERATING merupakan derating yang dapat


ditunda melampaui akhir periode operasi mingguan (Kamis,
pukul 24:00 WIB) tetapi memerlukan pengurangan kapasitas
sebelum PO berikutnya.

UNPLANNED (FORCED) DERATING merupakan derating


yang memerlukan penurunan kapasitas segera atau tidak
memerlukan suatu penurunan kapasitas segera tetapi
memerlukan penurunan dalam waktu enam jam atau derating
yang dapat ditunda lebih dari enam jam.
RESERVE SHUTDOWN (RS) &
NON CURTAILING (NC)

RESERVE SHUTDOWN adalah suatu kondisi apabila unit


siap operasi namun tidak disinkronkan ke sistim karena
beban yang rendah. Kondisi ini dikenal juga sebagai
economy outage atau economy shutdown. Jika suatu unit
keluar karena adanya permasalahan peralatan, baik unit
diperlukan atau tidak diperlukan oleh sistim, maka kondisi
ini dianggap sebagai FO, MO atau PO, bukan sebagai
reserve shutdown (RS).
NON CURTAILING (NC) adalah kondisi yang dapat terjadi kapan saja
dimana peralatan atau komponen utama tidak dioperasikan untuk
keperluan pemeliharaan, pengujian atau tujuan lain yang tidak
mengakibatkan unit outage atau derating. NC juga dapat terjadi
ketika unit pembangkit sedang beroperasi dengan beban kurang dari
kapasitas penuh yang terkait dengan kebutuhan pengaturan sistim.
Selama periode ini, peralatan dapat dipindahkan dari operasi untuk
pemeliharaan, pengujian atau lain pertimbangan dan dilaporkan
sebagai suatu NC jika kedua kondisi yang berikut dijumpai :
1. Kemampuan unit tidak berkurang sampai dibawah kebutuhan
sistim, dan,
2. Pekerjaan dapat dihentikan atau diselesaikan dan tidak
mengurangi kemampuan DMN serta waktu ramp-up dalam
jangkauan normalnya, jika dan ketika unit telah diperlukan
oleh sistim.
KARAKTERISTIK OPERASI PEMBANGKIT

1. SPEED DROOP

Prinsip dasar kontrol Speed Droop adalah bagaimana


mempertahankan putaran Generator yang terkoneksi dengan
Sistem ( Jaringan ) pada Frekwensi yang sesuai atau sama
dengan Frekwensi Sistem
Jenis Pengaturan Speed Droop :
a. Primier  Pengaturan besaran
Speed Droop yang dimiliki
Frekuensi (%) Garis speed drop, setelah dilakukan
Governoor secara langsung baik
pengaturan sekunder
diperbesar atau diperkecil 
perubahan S1 ke S2 pada 104%
gambar. Semakin kecil Speed
Droop yang dimiliki Governoor
semakin peka terhadap 100%
perubahan beban dan begitu
sebaliknya semakin besar Speed S1 Speed Drop, S1 = 4%
Droop semakin malas ( kurang
peka ) terhadap perubahan S2 Speed Drop S2 > S1
beban.
b. Sekunder  Pengaturan tanpa
mengubah besaran, melainkan
0 100 Beban (%)
hanya mengembalikan
Frekwensi ke 100 %, biasanya
dilakukan oleh Operator
2. FREQUENCY DEADBAND

Frequency Deadband adalah suatu rentang Frekwensi yang


diijinkan dimana Turbin Generator dapat beroperasi sesuai
dengan karakteristiknya.
Turbin Uap yang beroperasi diluar Frquency Deadband akan
menyebabkan terjadinya Resonansi dan Disharmoni Gaya
pada sudu tingkat akhir
Dead Band
Frequency
Zona C Zona B (Zona A) Zona B Zona C

49.95 50.05

49.5 49.6 49.7 49.8 49.9 50 50.1 50.2 50.3 50.4 50.5 Hz
Rentang Frekwensi Pembangkit Tambak Lorok dan GE

Rentang frekuensi Durasi Penyimpangan


A.48,5 sampai 51,5 Hz Pengoperasian terus-
menerus
B.< 48,5 Hz Pemutusan seketika
C.> 51,5 Hz Pemutusan seketika
3. E F F I S I E N S I

Effisiensi adalah suatu parameter yang menyatakan


tingkat unjuk kerja dari Unit Pembangkit
Prinsip dasar Effisiensi adalah Perbandingan antara
Kerja/Energi yang dihasilkan dengan Usaha/Energi yang
digunakan.
Pada Unit Pembangkit Listrik dikenal istilah Effisiensi
Thermal yaitu perbandingan antara Daya Output
Generator dengan Pemakaian Energi Kalor Bahan Bakar
( Specific Fuel Consumption  SFc )
Q out 860
th = HR = SFC X Sg X LHV th = X 100 %
Q in HR
4. DAYA MAMPU

DAYA MAMPU BRUTTO merupakan Daya ( Kapasitas ) yang dihasilkan


Generator pada periode tertentu dengan tidak dipengaruhi oleh Musim
atau Derating lainnya.
DAYA MAMPU NETTO merupakan Daya Mampu Brutto dikurangi dengan
Pemakaian Sendiri (alat bantu operasional).
DAYA MAMPU MINIMUM merupakan Daya (Kapasitas) Minimum yang
dihasilkan Generator dengan tidak mempengaruhi beroperasinya
peralatan bantu Unit Pembangkit.
5. RAMP RATE
Ramp Rate adalah suatu besaran yang membawa Turbin pada titik
Temperatur Operasi, satuan 0C/Jam dengan berpatokan pada kenaikan First
Stage Metal Turbine Temperature, tujuannya adalah menghindari Thermal
Stress pada Turbin.
Secara umum ramp rate juga dikenal dengan tingkat kecepatan maksimum
naik atau turunnya beban.

Contoh :
Turbin Gas (PLTG) dengan kapasitas 100 MW ramp rate 6 MW/menit.
Turbin Uap (PLTU) dengan kapasitas 100 – 600 MW ramp rate 5 MW/menit.
6. START-STOP

Start-stop Unit adalah suatu kondisi dimana Unit Pembangkit


dilakukan Start atau Stop dalam suatu waktu dan kondisi
tertentu
Tahapan Proses Start Unit Pembangkit :
• Proses Start alat-alat bantu ( Auxiliary )  sistem bahan
bakar, Air, Udara dll.
• Proses Pembakaran ( Firing )  terjadinya reaksi
pembakaran bahan bakar ( BBM, Gas, Batu bara dll. )
• Proses Rolling Turbin sampai dengan Full Speed No Load
( FSNL )
• Proses Paralel Generator dengan Jaringan.
Jenis Start pada PLTU ( tergantung kapasitasnya ) :
• Start Dingin ( Cold Start )  Unit Stop > 48 Jam
• Start Hangat ( Warm Start )  Unit Stop 8 s/d 48 Jam
• Start Panas ( Hot Start )  unit Stop < 8 Jam

Tahapan Proses Sop Unit Pembangkit :


• Penurunan beban secara bertahap
• Pelepasan Generator dari Jaringan
• Penutupan Katup Utama
• Penurunan Putaran Turbin ( natural )
• Pendinginan ( Cooling )  Forced Cooling
Natural Cooling
7. Minimum Down Time

Minimum Down Time adalah waktu yang diperlukan Unit


Pembangkit untuk tetap dalam kondisi tidak terhubung dengan
Jaringan dan Mesin tersebut tidak beroperasi setelah
Shutdown untuk Stand-by atau gangguan.

8. Minimum Up Time

Minimum Up Time adalah waktu yang diperlukan Unit


Pembangkit untuk tetap dalam kondisi terhubung
dengan Jaringan ( on-line ) setelah Start-up dan Unit
dibebani dengan beban minimum atau lebih sebelum
diperintahkan untuk Shutdown kembali
KARAKTERISTIK LISTRIK GENERATOR

Generator bekerja berdasarkan azas Elektromagnetik terdiri dari


beberapa bagian utama :
- STATOR  Belitan 3 phasa, Arus AC 3 phasa, Induksi
antar phasa, Rumah Stator dll.
- ROTOR  Belitan Eksitasi, Arus searah ( DC ), Armatur (
belitan peredam ), Lempengan logam yang disatukan dll.
- LINTASAN FLUKSI ROTOR  berupa celah udara ( Air
Gap )
GENERATOR

Generator pada unit Pembangkit adalah Mesin Arus Bolak balik


( Synchron ) yang digunakan untuk mengubah Daya Mekanik
menjadi Daya Listrik
Prinsip Kerja :
Rotor di Supply arus DC untuk menghasilkan medan magnit
Rotor, lalu diputar oleh Penggerak Mula ( Turbin atau lainnya )
sehingga diperoleh Medan Magnit Putar dan Medan Magnit
Putar inilah yang menginduksi Tegangan AC 3 Fasa ke Belitan
Stator
BAGIAN UTAMA GENERATOR

Penampang Generator

Penampang Rotor Generator Penampang Stator Generator


2. Kurva Kapabilitas Generator

Kurva Kapabillitas Generator adalah Kurva yang


menjelaskan pola Operasi Generator dilihat dari sisi Beban
yang diterima Jaringan  dari grafik ini dapat ditentukan
titik operasi terbaik Generator dilihat dari sisi
pendinginannya ( tekanan Gas hidrogen )
Kurva Kapabilitas dibatasi Oleh :
• Sumbu PF 0 Lagging
• Sumbu PF 0,8 Lagging
• Sumbu PF 0,95 Leading
• Sumbu PF 0 Leading
MVAR
A

200 3.1 BA
R GAS
PRESS
.
Field Heating Limit

160 2.1 BA
O R GAS
PRESS
V .
E
0.8 PF
R
120
E
X
C ROTOR END
I
T 80
A
T B
I
O
40
N
STATOR Stator Winding Heating Limit
0 MW
40 80 120 160 200 240

U 40
N
D
E
CORE END
R
80

E
X 0.95 PF
C 120
I
T
A
T
I 160
O
N C

Stator Core End Heating Limit


1. Kurva V

Kurva V adalah Kurva yang menggambarkan besarnya arus penguat


( Field Current ) versus Daya Output Generator dalam MVA 
dalam beberapa Grafik sesuai Nilai Power Factor ( PF )
Besaran Daya MVA & Arus Penguat dibatasi Oleh :
• Temperature Maximum Winding Rotor
• Temperature Maximum Winding Stator
• Temperature Maximum Ujung Inti Stator (Stator End Core)
SISTIM EKSITASI

Fungsi sistim eksitasi pada generator ,mengatur aliran arus


searah pada kumparan rotor ( rotor winding ) sehingga
tegangan generator mencapai nilai yang diharapkan.
Sistim eksitasi diharapkan mampu mendukung operasi saat
beban rendah ,normal maupun saat terjadi gangguan .
Sistim eksitasi dilihat dari:
a.Kontruksi : - statis
- berputar / rotating
b.Tegangan : - searah
- bolak balik dengan penyearah
c.Ilmu listrik: - penguatan sendiri
- penguatan terpisah
GANGGUAN GENERATOR
MACAM MACAM GANGGUAN GENERATOR

GANGGUAN LISTRIK ( ELECTRICAL FAULT ):


a.Hubung singkat 3 fasa
b.Hubung singkat 2 fasa
c.Hubung singkat 1 fasa ke tanah
d.Kumparan medan penguat hubung tanah
e. Kehilangan medan penguat
f.Tegangan lebih

GANGGUAN MEKANIS ( MECHANICAL OF THERMAL FAULT )


a.Motoring c.Pemanasan lebih setempat
b.Kesalahan paralel d.Gangguan sistem pendingin

GANGGUAN SISTEM ( SYSTEM FAULT )


a.Lepas sinkron
b.Frekwensi abnormal
c.Beban tidak seimbang