You are on page 1of 18

NAMA KELOMPOK

Nuraini 13330006
Elisabeth risnauli 13330034
Filia delfia tahu 13330043
Esther afrianti 13330046
Riska amalia 13330010
Nanda Sabbaha Nur K 13330053
Eka Sawitri Wulandari 13330069
Tri Haryanti 13330083
Rizky wijaya 13330133
Vanny 13330124
 Sekelompok otot yang menghasilkan gerakan tubuh ke arah
tertentu. Ketika gerakan apapun terjadi, ada dua set otot yang
bekerja pada sendi. Otot-otot pada satu sisi sendi harus
mengendur (rileks) sehingga otot-otot di sisi lain dapat
mengencang (kontraksi)

 Beta agonis (beta agonist) adalah kelas obat yang


mengendurkan otot-otot di jalan nafas.
 Agonis Adrenergik langsung
1. Norepinefrin : memiliki afinitas terhadap reseptor α, β1
2. Epinefrin : memiliki afinitas terhadap reseptor α, β1, β2
3. Isoproterenol: memiliki afinitas terhadap reseptor β1, β2

 Agonis adrenergik tidak langsung


1. Efedrin
2. Amphetamine dan turunannya
Agonis Beta 1
DOBUTAMIN
 NAMA GENERIK
Dobutamin

 NAMA KIMIA
Sinonim : Dobutamine hydrochloride

 KETERANGAN
Dobutamine adalah simpatomimetic sintetik yang secara struktur berhubungan
dengan dopamine
 SIFAT FISIKOKIMIA
Dobutamine hidroklorida merupakan sebuk kristal berwarna putih, agak larut dalam air dan
alkohol. Dobutamine mempunyai pKa 9,4.;Dobutamine hidroklorida dalam perdagangan
tersedia dalam bentuk larutan steril dalam aqua pro injection.;Dalam perdagangan larutan
Dobutamine hidroklorida merupakan larutan jernih tidak berwarna hingga larutan berwarna
sedikit kekuning-kuningan

 FARMAKOLOGI
Onset of action : IV : 1-10 menit

(efek puncak) : 10-20 menit

Metabolisme : di jaringan menjadi bentuk metabolit yang tidak aktif

eliminasi : 2 menit

Ekskresi : urin (sebagai metabolit)


 STABILITAS PENYIMPANAN
Larutan dobutamine hidroklorida dikocok tiap 24 jam, simpan larutan yang telah
direkonstitusi di refrigerator dalam waktu 48 jam atau 6 jam pada suhu kamar, perubahan
warna merah muda menunjukkan terjadi sedikit reaksi oksidasi, tetapi potensi tidak
berkurang secara signifikan

 KONTRA INDIKASI
Hipersensitif terhadap dobutamine atau sulfit (beberapa sediaan mengandung sodium
metabisulfat), atau beberapa komponen dalam formulasi, idiopathic hypertrophic subaortic
stenosis

 EFEK SAMPING
Takikardia dan meningkatnya tekanan darah sistolik menunjukkan terjadi overdosis

 BENTUK SEDIAAN
Cairan Injeksi, Infusi

 PERINGATAN
Hipotensi berat pada syok kardiogenik
Agonis Beta 2
TEOSAL
 Komposisi

 Tiap tablet mengandung:

 Salbutamol 1 mg

 Theophylline 130 mg

 Farmakologi
 Salbutamol merupakan suatu senyawa selektif merangsang reseptor β-2 adrenergik pada
otot bronkus.

 Theophylline merupakan turunan methylxanthine yang mempunyai efek antara lain


merangsang susunan saraf pusat dan melemaskan otot polos terutama bronkus

 Indikasi
 Sebagai bronkodilator pada penderita asma dan bronkitis kronis
 Kontraindikasi
 Hipertiroidisme.
 Tirotoksiklasi.
 Penderita tukak lambung.
 Penderita yang hipersensitif terhadap salah satu komponen obat.

 Peringatan dan Perhatian


 Hati – hati penggunaan pada penderita dengan hipertiroidisme, penyakit
jantung, dan hipertensi berat.

 Efek Samping
 Pada dosis besar dapat menyebabkan tremor halus pada otot skelet, palpitasi,
takikardia, sakit kepala.
Agonis reseptor beta-2 adrenergik digunakan dalam bentuk inhaler (obat
hirup) atau sebagai nebulizer (untuk sesak nafas yang sangat berat).
Nebulizer mengarahkan udara atau oksigen dibawah tekanan melalui
suatu larutan obat, sehingga menghasilkan kabut untuk dihirup oleh
penderita.

Selama suatu serangan penyakit asma yang berat, sebaiknya dilakukan :


•pemeriksaan kadar oksigen dan karbondioksida dalam darah
•pemeriksaan fungsi paru-paru (biasanya dengan spirometer atau peak flow meter)
•pemeriksaan rontgen dada
 Kortikosteroid

Kortikosteroid menghalangi respon peradangan dan sangat efektif dalam


mengurangi gejala penyakit asma. Jika digunakan dalam jangka panjang, secara
bertahap kortikosteroid akan menyebabkan berkurangnya kecenderungan
terjadinya serangan penyakit asma dengan mengurangi kepekaan saluran udara
terhadap sejumlah rangsangan.
Tetapi penggunaan tablet atau suntikan kortikosteroid jangka panjang bisa
menyebabkan:

 gangguan proses penyembuhan luka

 terhambatnya pertumbuhan anak-anak

 hilangnya kalsium dari tulang

 perdarahan lambung

 katarak prematur
 Beta 1, memperkuat daya dan frekuensi kontraksi jantung.

 Beta 2, bronkodilatasi dan stimulasi metabolism glikogen dan lemak.

 Shock, dengan memperkuat kerja jantung(β1) dan melawan hipotensi


(α),contohnya adrenalin dan noradrenalin.

 Asma, dengan mencapai bronkodilatasi (β2), contohnya salbutamol


dan turunannya, adrenalin dan efedrin.

 Anoreksans, dengan mengurangi napsu makan pada obesitas (β2),


contohnya fenfluramin dan mazindol.

 Penghambat his dan nyeri haid (dysmenore) dengan relaksasi pada otot
rahim (β2), contohnya isoxuprin dan ritordin.
 Sistem kardiovaskular: terjadinya vasokonstriksi (tekanan darah meningkat),
meningkatkan denyut jantung dan kekuatan kontraksi jantung

 Otot polos : efeknya berbeda tergantung pada jenis reseptor yang terdapat pada
organ tersebut. Pada saluran cerna terjadi relaksasi otot polos saluran cerna, pada
uterus terjadi penghambatan tonus dan kontraksi uterus, pada kandung kemih
terjadi relaksasi otot detrusor kandung kemih, pada pernafasan menimbulkan
relaksasi otot polos bronkus.

 Proses metabolik: menstimulasi glikogenolisis di sel-sel hati dan otot rangka,


lipolisis dan pelepasan asam lemak bebas dari jaringan lemak

 lain-lain : menhambat sekresi kelenjar , menurunkan tekanan intraokular,


mempercepat pembekuan darah
 kontraindikasi mutlak pada syok selain syok anafilaksi.
Gangguan kardiovaskuler yang kontraindikasi epinefrin
misalnya syok hemoragi, insufisiensi pembuluh koroner
jantung, penyakit arteri koroner (mis., angina, infark
miokard akut) dilatasi jantung dan aritmia jantung
(takikardi).
 kardiovaskuler (mis., peningkatan kebutuhan oksigen
miokard, kronotropik, potensial proaritmia, dan
vasoaktivitas) dapat memperparah kondisi ini.
 beta-agonist cukup beragam seperti: tremor/gemetar pada tangan, sakit kepala,
hipokalemia (kekurangan kalium), dan takikardi (percepatan denyut jantung).
Namun efek samping tersebut tidak selalu terjadi tiap kali penggunaan obat.

 tergantung kondisi klinis masing-masing individu. Apabila obat beta-agonist


digunakan dalam jangka panjang dan secara berlebihan dapat menurunkan
efektivitasnya. Hal ini disebabkan karena terjadinya desensitisasi reseptor obat,
sehingga reseptor menjadi kurang peka. Karenanya perlu dosis yang lebih besar
untuk memperoleh efek yang sama.

 Kardiovaskuler : Angina, aritmia jantung, nyeri dada, flushing, hipertensi,


peningkatan kebutuhan oksigen, pallor, palpitasi, kematian mendadak, takikardi
(parenteral), vasokonstriksi, ektopi ventrikuler.

 Susunan Saraf Pusat: terjadinya kegelisahan, rasa kuatir, nyeri kepala dan tremor.
 Terapi obat beta-agonist terkadang dikombinasikan dengan obat
golongan Antikolinergik untuk mencapai efek yang lebih baik

 agonis beta-2 harus ditambahkan pada terapi kortikosteroid, agar


meminimalisir kurangnya kepekaan saluran udara terhadap
sejumlah rangsangan
 Obat Antikolinergik
Obat ini bekerja dengan menghalangi kontraksi otot polos dan pembentukan lendir
yang berlebihan di dalam bronkus oleh asetilkolin. Lebih jauh lagi, obat ini akan
menyebabkan pelebaran saluran udara pada penderita yang sebelumnya telah
mengkonsumsi agonis reseptor beta2-adrenergik. Contoh obat ini yaitu atropin dan
ipratropium bromida.

 Pengubah Leukotrien
Merupakan obat terbaru untuk membantu mengendalikan penyakit asma. Obat ini
mencegah aksi atau pembentukan leukotrien (bahan kimia yang dibuat oleh tubuh
yang menyebabkan terjadinya gejala-gejala penyakit asma). Contohnya
montelucas, zafirlucas dan zileuton.
No Nama Obat Reseptor Indikasi/Fungsi

1 Isoproterenol β 1 dan β2 agonist Heart


Stimulation---
meningkatkan
laju dan kekuatan
dari jantung pada
kondisi darurat.
2 Dobutamine, Xamoterol, β 1 agonist Meningkatkan
Denopamine laju dan kerja
jantung dari efek
pembuluh darah
(kerusakan
sirkulasi O2 )
3 Terbutaline β2 agonist Bronkhodilator,
mengurangi
kontraksi uterine,
relaksasi otot
polos uterine
4 Albuterol, Salmeterol, β2 agonist Bronkhodilator ---