You are on page 1of 36

Analisis Aktivitas

Pendanaan
Nama Kelompok :
1. Ratu Wardatuddihan
2. Noval Waris Mansyah
3. Almas Aulia Nurrizqi
4. Ida Asiah N.
5. Graceta
6. Farahghyna C.
Pengertian Aktivitas Pendanaan

Aktivitas pendanaan (Financing Activities) adalah


metode yang digunakan oleh perusahaan untuk
mendapatkan uang guna membayar kebutuhan-
kebutuhan perusahaan.
Analisi Ativitas Pendanaan

Ekuitas
Tinjauan Pemegang
Kewajiban Saham

Imbalan Pasca Kontinjensi dan Pendanaan


Sewa Komitmen diluar Neraca
Pensiun
Tinjauan Kewajiban

Kewajiban (liabilities) merupakan klaim pihak luar


atas asset dan sumber daya perusahaan kini dan
masa depan.
Tinjauan Kewajiban

Kewajiban
Lancar

Tinjauan Kewajiban Tak


Kewajiban Lancar

Analisis
Kewajiban
Kewajiban
Kewajiban lancar (atau jangka pendek)
merupakan kewajiban yang pelunasannya
Adalah

Lancar memerlukan penggunaan asset lancar atau


munculnya kewajiban lancar lainnya.

Periode yang diharapkan untuk menyelesaikan kewajiban adalah periode mana yang lebih panjang antara
satu tahun dan satu siklus operasi perusahaan.

Aktivitas Produksi, meliputi


utang pajak, pendapatan
diterima dimuka, uang muka,
utang usaha dan beban
Terdapat 2 jenis operasi akrual lainnya
Kewajiban Lancar

Aktivitas pendanaan, meliputi


pinjaman jangka pendek,
bagian utang jangka panjang
yang jatuh tempo dan utang
bunga
Kewajiban
Kewajiban tidak lancar (atau jangka
panjang) merupakan kewajiban jatuh
Adalah

Tak Lancar temponya tidak dalam waktu satu tahun atau


satu siklus operasi, mana yang lebih panjang.

Kewajiban Tak Lancar meliputi : Pinjaman, Obligasi, Utang, dan Wesel Bayar.

Kewajiban tak lancar beragam bentuknya, dan penilaiannya serta pengukurannya


memerlukan pengungkapan atas seluruh batasan dan ketentuan.
Analisis Kewajiban

Auditor merupakan satu sumber keyakinan dalan identifikasi dan


pengukuran kewajiban.

Auditor menggunakan teknik seperti konfirmasi langsung, melakukan


telaah atas notulen rapat, membaca kontrak dan perjanjian, serta
bertanya pada pihak-pihak yang memahami kewajiban perusahaan
untuk meyakinkan diri mereka bahwa perusahaan mencatat seluruh
kewajibannya.
Pengertian Sewa

– Sewa merupakan bentuk pendanaan yang populer, khususnya dalam beberapa industri tertentu.
Sewa (lease) merupakan perjanjian kontraktual antar pemiliki (lessor) dan penyewa (lessee).
Perjanjian tersebut memberikan hak kepada lessee untuk menggunakan asset yang dimiliki oleh
lessor, selama masa sewa. Beberapa sewa merupakan perpanjangan kontrak sewa, seperti sewa
komputer selam dua tahun, sewa lainnya mirip dengan penjualan langsung dengan program
pendanaan, seperti sewa bangunan selama 50 tahun dengan transfer kepemilikan secara otomatis
pada akhir sewa.
– Sewa merupakan bentuk pendanaan utama untuk aset tetap dalam usaha ritel, penerbangan,dan
kereta api, pendanaan sewa populer karena beberapa hal. Pertama, penjual menggunakan sewa
untuk meningkatkan penjualan dengan menyediakan pendanaan bagi pembeli.
– Di sisi lain, sewa merupakan cara yang nyaman bagi pembeli untuk mendanai pembelian asetnya.
Pajak juga menjadi pertimbangan dalam sewa. Pembayaran pajak secara keseluruhan dapat dikurangi
jika kepemilikan berada di pihak yang berada dalam golongan pajak (tax bracket) yang lebih tinggi.
Klasifikasi dan pelaporan sewa
– Lessee mengklasifikasikan dan mencatat sewa sebagai capital lease jika pada
saat terjadinya, transaksi tersebut memenuhi minimal satu dari empat kriteria
sebagai berikut:
– 1) Terdapat transfer kepemilikan aset kepada lessee pada akhir masa sewa,
– 2) Terdapat opsi untuk membeli aset pada harga murah (hargain price),
– 3) Masa sewa 75% atau lebih dari estimasi umur ekonomis aset atau,
– 4) Nilai sekarang pembayaran sewa dan pembayaran sewa minimum lainnya
sebesar 90% atau lebih dari nilai wajar aset dikurangi dengan kredit pajak
investasi yang ditahan oleh lessor.
Dampak Operating Lease

Ringkasan dampak pada laporang keuangan ini adalah sebagai berikut:


– Operating lease menyajikan pendanaan sewa dalam neraca. Selain menyembunyikan kewajiban dari neraca, hal
tersebut juga menaikkan rasio solvabilitas (seperti debt to equity) yang sering digunakan dalam analisis kredit.
– Operating lease menyajikan aset lebih rendah dari seharusnya. Hal ini dapat meningkatkan rasio tingkat pengembalian
investasi, terutama rasio perputaran aset (assets turnover ratios) .
– Operating lease menunda pengakuan beban dibandingkan dengan capital lease. Artinya operating lease melaporkan
laba lebih tinggi di awal masa sewa dan melaporkan laba lebih rendah diakhir masa sewa.
– Operating lease menyajikan kewajiban lancar lebih rendah dari seharusnya dengan tidak menyajikan porsi pembayaran
pokok yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun dalam neraca. Hal tersebut meningkatkan rasio lancar dan
pengukuran likuiditas lainnya.
– Operating lease memasukkan bunga dalam beban sewa. Dengan demikian, operating lease menyajikan lebih rendah
dari yang seharusnya laba operasi dan beban bunga. Hal tersebut menaikkan coverage ratio seperti times interest
earned.
Elemen dari Proses Pensiun

Entitas Dana Pensiun Pekerja


Kontribusi Manfaat
(pembayaran)

Investasi
Imbalan Pensiun
Dimana pemberi kerja menjanjikan imbalan moneter kepada pekerja
pasca kerja

Imbalan Pasca Kerja Imbalan Pasca Pensiun Lainnya


dimana pemberi kerja menyediakan imbalan lain (non moneter)
terutama pemeliharaan kesehatan dan asuransi jiwa

Iuran Pensiun Pasti


Program Imbalan Bergantung pada
Pasca Kerja subtansi ekonomis
(Pensiun) Imbalan Pensiun dari setiap program
Pasti
Program Pasca Pensiun

Program pensiun dapat dibagi dalam dua kategori, yaitu program pensiun imbalan
pasti (defined pension), menentukan jumlah pensiun yang dijanjikan pemberi kerja
untuk disediakan bagi pensiunan.
Kedua, program pensiun iuran pasti (defined contribution), menentukan jumlah
kontribusi pemberi kerja pada program pensiun.
Dana Pensiun

 Undang-undang No.11 tahun 1992 tentang Dana Pensiun > Program pascakerja
dilakukan dengan pemupukan dana yang dikelola secara terpisah dari kekayaan
pendiri, tidak diperkenankan membentuk cadangan dalam perusahaan untuk
pembayaran imbalan kerja.
 Program yang “didanai” atau funded > perusahaan menyediakan dana untuk
pembayaran pensiun.
 Dana pensiun :
Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) > khusus untuk perusahaan pendiri atau mitra
pendiri.
Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) > dibentuk oleh bank atau perusahaan
asuransi jiwa > program pensiun iuran. Peserta karyawan dari berbagai perusahaan
(multi pemberi kerja) ataupun perorangan.
Kewajiban Pensiun

– Akumulasi kewajiban imbalan (accumulated benefit obligation-ABO) merupakan


nilai sekarang aktuaria kewajiban imbalan pensiun di masa depan kepada
pekerja pada saat pensiun berdasarkan kompensasi saat ini.Nilai sekarang sama
dengan kewajiban kini pemberi kerja jika program pensiun dihentikan.
– Proyeksi kewajiban imbalan (projected benefit obligation-PBO) merupakan
estimasi aktuaria atas utang imbalan pensiun di masa depan kepada pegawai
berdasarkan kompensasi yang diharapkan di masa depan dan jasa sampai
saat ini.Cara ini merupakan estimasi kewajiban pensiun yang lebih realistis.
Imbalan Pasca Pensiun Lainnya

Imbalan pascapensiun selain pensiun atau imbalan karyawan pascapensiun lainnya


(other postretirement employee benefit - OPEB) merupakan imbalan yang diberikan
oleh pemberi kerja kepada pensiunan dan anggota keluarganya. Contohnya adalah
asuransi jiwa, perawatan kesehatan, bantuan perumahan, serta jasa hukum dan
pajak.
Perbedaan PB dengan OPEB

Perbedaan PB dengan OPEB terletak pada :


• Hanya sedikit perusahaan yang membiayai OPEB.
• Bentuk imbalan pascapensiun yang sering kali berbentuk jasa
Analisis imbalan pasca pensiun

Terdapat prosedur tiga langkah untuk analisis imbalan pascapensiun:


(1) menentukan dan merekonsiliasi biaya dan kewajiban (atau aktiva) imbalan
ekonomis dan yang dilaporkan;
(2) membuat penyesuaian yang diperlukan atas laporan keuangan, khususnya
neracaa; dan
(3) mengevaluasi asumsi aktuaria dan dampaknya pada laporan keuangan.
KONTINJENSI DAN KOMITMEN

KONTINJENSI
Kontinjensi (contingencies) merupakan keuntungan dan kerugian potensial yang
penyelesaiannya bergantung pada satu atau lebih peristiwa di masa depan.
Kontijensi didefinisikan sebagai kondisi situasi atau serangkaian situasi yang ada
melibatkan ketidakpastian mengenai keuntungan (kontijensi keuntungan) atau
kerugian (kontijensi kerugian) bagi perusahaan yang akhirnya akan diselesaikan
apabila satu atau lebih kejadian masa depan terjadi atau tidak terjadi.
Kerugian kontinjensi harus memenuhi dua kondisi agar dapat dicatat sebagai
kerugian, diantaranya yaitu :

– Kondisi yang pertama adalah informasi yang tersedia sebelum penerbitan


laporan keuangan menunjukan bahwa kemungkian besar suatu kewajiban telah
terjadi pada tanggal laporan keuangan.
– Kondisi yang kedua adalah jumlah kerugian yang diestimasi dengan layak.

Contoh yang biasanya memenuhi kedua kondisi ini adalah kewajiban garansi produk. Garansi
produk/jaminan (warranty or product guarantee) adalah suatu janji yang dibuat oleh penjual kepada pembeli untuk
memperbaiki kekurangan dalam kuantitas, kualitas, atau kerja suatu produk.
KOMITMEN
Komitmen (commitments) merupakan klaim potensial atas sumber daya perusahaan
berdasarkan kinerja di masa depan sesuai kontrak. Komitmen tidak diakui dalam
laporan keuangan karena peristiwa seperti penandatanganan kontrak atau penerbitan
pesanan pembelian (purchase order) bukan merupakan transaksi yang lengkap.
Contoh tambahan adalah kontrak jangka panjang yang tidak dapat dibatalkan untuk
membeli barang atau jasa pada harga tertentu, dan kontrak pembelian asset tetap yang
harus dibayar selama masa kontruksi.
Pembiayaan Diluar Neraca

– Pembiayaan diluar neraca (off balance sheet financing) adalah suatu upaya
untuk meminjam uang dengan cara sedemikian rupa sehingga kewajiban tidak
tercatat.

Salah satu bentuk pembayaran di luar neraca adlah perjanjian pembayaran


proyek (project financing arrangemments).
– Perjanjian pembiayaan ini timbul apabila:

1. Dua entitas atau lebih membentuk entitas baru untuk membangung suatu
pabrik oprasi yang akan digunakan oleh kedua belah pihak.

2. Entitas baru itu meminjam dana untuk memnbangun proyek tersebut dan
membayar hutangdari hasil yang diterima proyek.

3. Pembayaran hutang dijamin oleh perusahaan yang membentuk entitas baru


itu.
Terdapat beberapa alasan mengapa perusahan mengadakan perjanjian pembiayaan di
luar neraca.

1. Banyak yang berpendapat bahwa peniadan hutang akan mempertinggi mutu neraca
dan memungkinkan kredit diperoleh dengan dipercepat serta dengan biaya yang lebih
ringan

2. Ketentuan pinjaman sering kali menetapkan pendapatan atas jumlah hutang yang
dapat dimiliki

3. Dikemukakan oleh beberapa pihak bahwa sisi aktiva dan neraca dinnyatakan terlalu
rendah.
– Contoh rancangan ini adalah through-put agreement di mana perusahaan
sepakat untuk memproduksi barang sejumlah tertentu melalui fasilitas
pemprosesan, atau take or-pay agreement di mana perusahaan memberikan
jaminan untuk membayar sejumlah tertentu barang, diperlukan atau tidak.
Variasi dari rancangan ini melibatkan penciptaan entitas terpisah dan kemudian
menyediakan pendanaan tidak lebih dari 50% kepemilikan –seperti joint
venture atau persekutuan terbatas(limited partnership). Perusahaan
menempatkan transaksi ini sebagai investasi dalam ekuitas dan tidak
mengonsolidasikannya dalam laporan keuangan perusahaan. Dengan demikian
pendanaan tersebut tidak masuk dalam kewajiban.
Entitas Bertujuan Khusus

Special Purpose Entity (SPE) adalah suatu entitas yang dibentuk oleh perusahaan
sponsor/perusahaan induk untuk suatu tujuan tertentu (khusus, sempit,
dan temporary), misalnya untuk membagi atau menghilangkan resiko finansial.

Tujuan SPE :
– Mendanai aset tertentu atau layanan tertentu dan tetap membuat hutang
perusahaan induk (sponsor) off-balance-sheet
– Mengubah aset finansial tertentu, seperti hutang dagang, pinjaman, atau hipotek ke
dalam bentuk liquid
– Mengurangi besarnya pajak
Karakteristik SPE :
– Memiliki modal yang terbatas
– Biasanya tidak memiliki manajemen yang independen
– Fungsi administratifnya sering dijalankan oleh suatu trustee yang menerima dan
mendistribusikan kas sesuai dengan persyaratan kontrak, sekaligus bertindak
sebagai perantara SPV dengan pihak yang membentuk SPV.
– Jika SPV memegang aset, maka salah satu pihak akan memberikan jasa tertentu
sesuai perjanjian.
Ekuitas Pemegang Saham

– Ekuitas pemegang saham (owner’s


equity) adalah jumlah dana yang
dimiliki oleh pemegang saham di
perusahaan, sama dengan modal saham
ditambah cadangan.
1. Modal Saham

Perubahan Modal Saham

Sumber kenaikan saham modal yang


beredar: Sumber penurunan modal
1.Penerbitan saham. saham yang beredar :
2.Konvensi utang dan saham
preferen.
1.Pembelian dan
3.Penerbitan dividen dan pemecahan
saham (stock split) penghentian saham.
4.Penerbitan saham dalam akuisisi 2.Pembelian kembali saham
dan merger. 3.Pemecahan saham terbalik
Penerbitan untuk opsi saham dan
waran
(reverse stock split).
Klasifikasi Modal Saham

1. Saham Preferen. Ciri – cirinya :


• Memiliki hak utama atas bagian kekayaan atau deviden
• Memiliki penghasilan yang tetap
• Jangka waktu saham preferen tidak terbatas
• Pemegang saham preferen biasanya tidak memiliki hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham
2. Saham Biasa. Ciri – Cirinya :
• Dividen dibayarkan sepanjang perusahaan mendapatkan laba
• Mempunyai hak suara dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham)
• Mempunyai hak terakhir dalam pembagian kekayaan perusahaan likuidasi setelah semua kewajiban dilunasi
• Mempunyai tanggung jawab terbatas terhadap klaim pihak lain sebesar proporsi sahamnya
• Hak untuk mengalihkan kepemilikan sahamnya
2. Laba ditahan (retained earnings)
– Laba ditahan merupakan modal yang dihasilkan sebuah perusahaan. Akun laba
ditahan mencerminkan akumulasi laba atau rugi yang tidak dapat dibagikan
sejak berdirinya perusahaan.
3. Dividen Tunai dan Dividen Saham
– Dividen Tunai (cash dividen) merupakan distribusi kas kepada pemegang saham.
Dividen ini juga merupakan jenis dividen yang paling umum dan saat
diumumkan menjadi kewajiban bagi perusahaan.
– Dividen Saham (stock dividen) merupakan distribusi saham perusahaan itu
sendiri kepada pemegang saham secara proposional.
4. Penyesuaian Periode Lalu
– Penyesuaian periode lalu (prior period adjustment) merupakan koroeksi
kesalahan di periode laporan keuangan lalu.
Nilai Buku Per Lembar Saham

– Pengertian book value/nilai buku dalam konteks analisis fundamental saham adalah
selisih antara jumlah aset perusahaan dikurangi dengan berbagai liabilitas/utangnya.
Nilai buku dalam konteks saham, juga dikenal dengan sebutan ekuitas, dimana
ekuitas dalam pengertian akuntansi juga berarti kekayaan bersih sebuah perusahaan
atau sisa kepemilikan atas aset perusahaan yang telah dikurangi seluruh
kewajibannya.
– Book Value Per Share (BVPS) atau Nilai Buku per Lembar Saham adalah nilai dari
ekuitas dibagi jumlah lembar saham yang beredar. Bisa dikatakan juga adalah nilai
ekuitas per saham. Secara teori, ini adalah nilai yang akan didapatkan oleh pemilik
saham bila perusahaan bangkrut dan dilikuidasi. Jadi nilai book value sangat berarti
untuk melihat imbal hasil dari investasi.
– Mengambil contoh laporan
keuangan PT Bank CIMB Niaga
Tbk, Bank tersebut memiliki
lembar saham beredar
sebanyak 24.880.290.700
lembar saham, atau hampir
sebanyak 25 milyar lembar
saham.
– Jika diketahui jumlah Ekuitas
per Februari 2017, senilai
Rp34.315.482.000.000 atau
sebesar Rp34,3 triliun, maka
perhitungan nilai buku per
lembar saham PT Bank CIMB
Niaga Tbk adalah:
– Ekuitas : Jumlah Lembar
Saham = Nilai Buku per
Lembar Saham
– Rp34.315.482.000.000 :
24.880.290.700 = Rp1.379,22
per lembar saham
– Maka nilai buku PT Bank CIMB
Niaga Tbk per lembar
sahamnya adalah sebesar
Rp1.379,22 per lembar saham.
Kewajiban pada ‘Ujung’ Ekuitas

1. Saham Preferen yang Dapat Ditarik Kembali


Banyak saham preferen yang telah diterbitkan dapat ditarik kembali, yang
berarti saham – saham tersebut dapat ditarik dan dibatalkan sesuai dengan hak
preusan penerbit.
2. Analisis Sewa – Lessor
Dua jenis sewa guna usaha ini penting bagi lessor:
– Sewa guna usaha penjualan (sales-type lease)
– Sewa guna usaha pendanaan langsung (direct financing lease)
Implikasi Analisis

Sebagai upaya untuk meningkatkan penjualan dan laba periode berjalan,


perusahaan berusa mempercepat pengakuan pendapatan kontrak jasa dengan
mencatat lebih banyak kontrak awal dalam sewa guna usaha itu sendiri, sehingga
penjualan dan laba kotor meningkat dan pembayaran masa depan untuk kontrak
jasa menurun.