You are on page 1of 28

ANATOMI TERAPAN

SHOULDER COMPLEX
TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

1. Memahami Anatomi dan fungsi


Struktur Jaringan Spesifik
2. Memahami dan analisa topografi
3. Memahami kompleksifitas gerak
tubuh normal
4. Memahami dan menganalisa gerak
sendi Synovial
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Mahasiswa memahami anatomi terapan regio


shoulder dengan cara
1. Memahami bentuk dan posisi sendi sendi
regio bahu
2. Mengetahui gerak osteokinematik regio bahu
3. mengetahui gerak antrokinematik regio bahu
4. Memahami topografi regio bahu
5. Mampu memahami dan melakukan inspeksi
dan palpasi kontur jaringan pada regio bah
SHOULDER COMPLEX

GLENOHUMERAL JOINT
 Struktur sendi : Jenis ‘Ball and Socked’
joint. Oleh Glenoid cavity : konkaf landai
menghadap ke lateral serong ke
ventrocranial.Head of humerus
berbentuk konfeks
 Arthrokinematic dan osteokinematic
 Gerak fisiologis flexio – extension
 osteokinematik : rotasi spin bidang
sagital ROM. Flex : 180° Ext : 60°
dengan stretched end feel (elastic)
Artrokinematic nya berupa : spin.
 Abduction  osteokinematic
pendular rotation abduction
bidang frontal ROM 90° dan end
feel elastic harder.
Arthokinematic  caudal
translation
 Arthrokinematic dan osteokinematic
 Internal rotation  osteokinematic rotasi putar bidang
transversal ROM 100° dan elastic end feel.
Arthokinematic nya berupa dorsal translation.
 External rotasi  osteokinematic rotasi putar
bidang transversal ROM 80°dan elastic end feel.
Arthokinematic  ventral translation
 Horizontal Abduction dan Horizontal Adduction
dengan osteokinematic rotasi pendular bidang
transversal ROM 110° dan 30° dengan elastic end
feel.
 Arthrokinematic  ventral translation dan dorsal
translation.
 Seluruh komponen  arthrokinematic traction dengan
arah lateral sedikit serong ventrocranial.
 MLPP dan CPP :
 MLPP  posisi kekendoran capsule ligamentair
nya maksimal,: flexion – abduction + 30° dan
sedikit internal rotation.
 CPP : posisi sendi penguncian permukaan sendi
atau koaptasi maksimal, yaitu posisi abduction
– flexion penuh.
 Capsular pattern Keterbatasan gerak sendi
karena pemendekan seluruh capsule ligamentair
dengan pola ROM : External rotation <
abduction < internal rotation
ACROMIOCLAVICULAR JOINT
 Struktur sendi Plane joint : acromion konkaf
menghadap ke medial dan klavikula konveks.
 Arthrokinematic dan osteokinematic
 Gerak klinis : Elevation – Depression dan
Protraction – Retraction.
 Yang gerak acromion (konkaf) 
arthrokinematic nya mengikuti gerak
osteokinematik : elevasi  translasi
acromion ke cranial dan depression 
translasi acromion ke caudal.
 Protraction  translasi acromion ventral
dan retraction  translasi acroimion ke
dorsal.
 Gerak arthtrokinematic Traction nya selalu
ke arah lateral searah acromion ditarik.
 MLPP dan CPP MLPP  pada posisi netral
dan CPP pada posisi protraction penuh
STERNOCLAVICULAR JOINT
 Struktur sendi :Saddle joint clavicual konkaf
ke arah anteroposterior dan konveks ke
arah craniocaudal.
 Arthrokinematic dan osteokinematic : Gerak
klinis seperti AC joint gerak, gerak
arthrokineamticnya elevation –
depression dengan Arthrokinematic
caudal translation – cranial translation,
dan protraction – retraction
arthrokinematicnya ventral – dorsal
translation. Gerak arthrokinematic
Traction selalu searah axis claviculae.
 MLPP dan CPP MLPP posisi netral dan CPP
posisi protraction penuh seperti pada AC
joint.
SCAPULOTHORACAL (JOINT)
 Bukan sendi asli,  pertemuan scapula
dengan dinding thorax dan dibatasi
subscapular m. dan serratus anterior m,
distabilisasi : trapezius, rhomboideus major
– minor, serratus anterior, dan levator
scapula.
 Bersama SC joint : bertumpunya
extremitas atas terhadap tubuh.
 Gerakan  elevation – depression sesuai
translasi, dan abduction – adduction sesuai
translasinya.
 Gerak arthrokinematic Traction : scapulae
menjauh terhadap dinding thorax.
INTERVERTEBRAL JOINT
 Sendi intervertebral yang ikut terlibat
C6 – Th4  flexion atau abduction
penuh rotation ke arah ipsilateral
dan lateral flexion kontralateral.
 Arthrokinematic dan
osteokinematic : Dibahas Cervical
dan thoracal – spine.
COSTOVERTEBRAL DAN
COSTOSTERNAL JOINT
 Struktur sendi :Costo 1 – 4 secara
bertahap terjadi gerak winging dan
rotation.
 Arthrokinematic dan
osteokinematic : dibahas dalam
thoracal spine.
SUPRAHUMERAL JOINT
 Jenis sendi : Bukan sendi asli  merupakan
celah acromion dengan head of humeri.
 Terdapat Bursa subdeltoidea (atau
subacromialis)dan rotator cuff muscles :
subscapularis m, supraspinatus m, dan
infraspinatus m,teres minor m serta long
head biceps.
 Pada saat abduction – elevation terjadi
benturan antara head of humerus dengan
acromion, terjadi humerus external
rotation dan atau scapular abduction.
MOTION
 SCAPULAR ELEVATION
 Prime movers (PM) : Upper trapezius m. dan Levator
scapular m.
 SCAPULAR ADDUCTION
 PM : Middle trapezius m. dengan synergis Rhomboid minor
dan major ms.
 SCAPULAR DEPRESSION & ADDUCTION
 PM : Lower Trapezius m.
 SCAPULAR ADDUCTION & DOWNWARD ROTATION
 Rhomboid minor dan major
 SCAPULAR ABDUCTION & UPWARD ROTATION
 Serratus anterior m.
 ACTIVE FLEXION
 Anterior Deltoid m dan Coraco brachialis m.
 PASSIVE FLEXION
 ROM 1800 dengan stretched end feel.
 ACTIVE EXTENSION
 Latissimus dorsi m, Teres major m, Posterior Deltoid m.
 PASSIVE EXTENSION
 ROM 600 dengan stretched end feel.
 ACTIVE ABDUCTION
 Middle Deltoid m, Supraspinatus m.
 Pada test resisted isometric abduction bila nyeri patologi
supraspinatus m (tendinis)
 PASSIVE ABDUCTION
 ROM 900 bila scapula difiksasi, dengan elastic harder end feel.
 ACTIVE INTERNAL ROTATION
 Subscapularis m, Pectoralis major m, Latissimus dorsi m, Teres
major m.
 Pada test resisted isometric internal rotation nyeri patologi
subscapularis m.(tendinis).
 PASSIVE INTERNAL ROTATION
 ROM 900 dengan elastic end feel, bila scapula difiksasi.
 ACTIVE EXTERNAL ROTATION
 Infra spinatus m, Teres minor m.
 Pada test resisted isometric external rotation bila nyeri  patologi
infraspinatus m.(tendinis).
 PASSIVE EXTERNAL ROTATION
 ROM 800 (900) dengan elastic end feel, bila scapula difiksasi.
 ACTIVE HORIZONTAL ABDUCTION
 Posterior Deltoid m.
 PASSIVE HORIZONTAL ABDUCTION
 ROM 1200 dengan stretch end feel.
 ACTIVE HORIZONTAL ADDUCTION
 Pectoralis major m.
 PASSIVE HORIZONTAL ADDUCTION
 ROM 300 dengan stretch end feel.
 ACTIVE CIRCUMDUCTION
 Merupakan gabungan dari gerakan – gerakan diatas.
SCAPULO HUMERAL RHYTHM
 Pada gerakan shoulder abduction –
elevation dan juga flexion terjadi gerak
osteokinematic proporsional antara
humerus dan scapula, sebagai
scapulohumeral rhythm.
 Awal gerak abduction 30° terjadi gerak
humerus 300 sementara scapula pada
posisi tetap atau bahkan sedikit
adduction.
 Pada 30° – 60° terjadi gerak
proporsional abduction humerus :
scapula sebesar 2 : 1.
 Selanjutnya pada abduction 60°– 120°
terjadi humerus external rotation
secara bertahap 90° menghindari
benturan acromion dengan head of
humerus.
 Sementara gerak proposional
humerus scapula 2 : 1 tetap
berlanjut.
 Pada abduction 120° – 180° gerak
proposional tersebut tetap berlanjut.
 Pada range ini mulai terjadi gerakan
intervertebral dan costae yang
bermakna pada akhir ROM.
INSPEKSI SHOULDER
 POSISI BERDIRI / DUDUK
 PANDANGAN BELAKANG, DEPAN, KANAN & KIRI
 PERHATIKAN :
 PERHATIKAN BENTUK DAN ISI
 SCAPULA, ACROMION, CLAVICULA
 M. TRAPEZIUS, M. DELTOIDEUS, M. PECTORALIS,
M. RHOMBOIDEUS DLL
 NECK, SHOULDER LINE, AXILAR CONTACT
 POSISI SHOULDER SECARA KESELURUHAN
 LEHER THORAX
 PERHATIKAN KEMUNGKINAN KECACATAN
INSPEKSI LOKAL BAHU
GELANG BAHU – LEHER
 DEPAN
- POSISI CLAVICULA;SUDUT POSISI BAHU,LEHER–BAHU.
- BENTUK & ISI CLAVICULA ; FOSSA SUPRA CLAVICULA,
FOSSA INFRA CLAVICULA, OTOT – OTOT BAHU.
 SAMPING
 POSISI PROTRAKSI – RETRAKSI, ELEVASI –
DEPRESI.
 BENTUK DAN ISI OTOT.
 BELAKANG
 POSISI SUDUT BAHU, ACROMIOCLAVICULARIS.
 BENTUK & ISI FOSSA SUPRASPINATUS , OTOT –
OTOT, M. REC. MEDIAL SCAPULAE.
INSPEKSI LOKAL BAHU
LEHER KEPALA
 DEPAN
- POSISI MUKA TERHADAP TUBUH,
POSISI LEHER TERHADAP TUBUH.
- BENTUK OTOT LEMAS.
 SAMPING
 POSISI KEPALA DAN LEHER TERHADAP
TUBUH.
 BELAKANG
 POSISI MID – LINE LEHER TUBUH.
 SPRENGEL’S DEFORMITY
 SCOLIOSIS
 DISLOKASI GLENO HUMERALIS
 ERBS PALSY
 KYPOSIS THORACALIS
PALPASI STRUKTUR TULANG

OS CLAVICULA
 OS CLAVICULAE SISI SUPERIOR DAN INFERIOR.
 BAGIAN UJUNG MEDIAL : ARTICULATIO STERNO
CLAVICULARIS
 BAGIAN UJUNG LATERAL : ARTICULATIO ACROMIO
CLAVICULAR
ACROMION
 UJUNG LATERAL SPINA SCAPUlA :
 SISI ANTERIOR
 SISI LATERAL
HUMERUS
TUBERCULUM MAYUS
SULCUS BICIPITALIS
TUBERCULUM MINUS
OS SCAPULA
 SPINA SCAPULA
 MARGO MEDIALIS
 MARGO LATERALIS
PALPASI JARINGAN LUNAK

 BURSA SUB DELTOIDEA


 Posisi extension
 Palpasi ventrocaudal acromion diatas
tuberculum mayus humeri.

 TENDON BICEPS CAPUT LONGUM


 Posisi netral sedikit external rotasi
 Palpasi sulcus bicipitalis sambil gerak
external-internal rot
ROTATOR CUFF
 Terdiri dari : M. SUPRASPINATUS, M.
INFRASPINATUS, M. TERES MINOR,
M.SUBSCAPULARIS

 SEBAGAI STABILISATOR SENDI


GLENOHUMERALIS.

 PENGGERAK SENDI.

 SERING TERJADI PATOLOGI DALAM OLAH


RAGA, PEKERJAAN, ADL.
PALPASI
 TENDON SUPRASPINATUS
 Posisi Add-Internal rot penuh lengan bawah belakang
punggung
 Palpasi ventrocaudal acromion, arah lateromedial.
 Lokasi tendoperiosteal; tendon.
 TENDON M. INFRASPINATUS
 Posisi Sphynx, horizontal Add - external rot
 Palpasi tuberculum minus arah cranio-caudal.
 TENDON M. SUBSCAPULARIS
 Posisi netral sedikit external rotasi
 Palpasi medial tuberculum minus sambil gerak
external-internal rot

You might also like