You are on page 1of 28
Syasa Oktalia 126 Penentuan kadar abu dan Ca Nadia Putri 129
Syasa
Oktalia
126
Penentuan kadar
abu dan Ca
Nadia
Putri
129
Delia Anindya 131 Salma Izmi 140
Delia
Anindya
131
Salma
Izmi
140
Abu adalah residu anorganik yang berasal dari proses pembakaran atau oksidasi komponen organik bahan pangan Abu

Abu adalah residu anorganik yang berasal dari

proses pembakaran atau oksidasi komponen

organik bahan pangan

Abu adalah residu anorganik yang berasal dari proses pembakaran atau oksidasi komponen organik bahan pangan Abu
Abu larut dan tidak larut dalam air Abu tidak larut asam (HCl)
Abu larut dan
tidak larut
dalam air
Abu tidak
larut asam
(HCl)
Abu adalah residu anorganik yang berasal dari proses pembakaran atau oksidasi komponen organik bahan pangan Abu
Abu adalah residu anorganik yang berasal dari proses pembakaran atau oksidasi komponen organik bahan pangan Abu
Abu adalah residu anorganik yang berasal dari proses pembakaran atau oksidasi komponen organik bahan pangan Abu
Abu adalah residu anorganik yang berasal dari proses pembakaran atau oksidasi komponen organik bahan pangan Abu
Prinsip penetuan kadar abu adalah didasarkan pada kenyataan bahwa : 1. Mineral tidak hancur dengan pemanasan
Prinsip penetuan kadar abu adalah didasarkan pada kenyataan bahwa : 1. Mineral tidak hancur dengan pemanasan

Prinsip penetuan kadar abu adalah didasarkan pada kenyataan bahwa :

1. Mineral tidak hancur dengan pemanasan

Prinsip penetuan kadar abu adalah didasarkan pada kenyataan bahwa : 1. Mineral tidak hancur dengan pemanasan

2. Mineral memiliki volatilitas yang rendah dibandingkan dengan komponen makanan lainnya

Metode pengabuan dipilih berdasarkan pada:

1. Tujuan analisis

2. Jenis makanan yang akan dianalisis 3. Perlatan yang tersedia

Prinsip penetuan kadar abu adalah didasarkan pada kenyataan bahwa : 1. Mineral tidak hancur dengan pemanasan
Prinsip penetuan kadar abu adalah didasarkan pada kenyataan bahwa : 1. Mineral tidak hancur dengan pemanasan
Prinsip penetuan kadar abu adalah didasarkan pada kenyataan bahwa : 1. Mineral tidak hancur dengan pemanasan
Prinsip penetuan kadar abu adalah didasarkan pada kenyataan bahwa : 1. Mineral tidak hancur dengan pemanasan
Prinsip penetuan kadar abu adalah didasarkan pada kenyataan bahwa : 1. Mineral tidak hancur dengan pemanasan
Prinsip penetuan kadar abu adalah didasarkan pada kenyataan bahwa : 1. Mineral tidak hancur dengan pemanasan
MINERAL Mineral makro Mineral yang dibutuhkan dalam jumlah yang lebih besar Berfungsi sebagai bahan penting dalam

MINERAL

Mineral makro Mineral yang dibutuhkan dalam jumlah yang lebih besar Berfungsi sebagai bahan penting dalam struktur
Mineral makro
Mineral yang dibutuhkan
dalam jumlah yang lebih
besar
Berfungsi sebagai bahan
penting dalam struktur sel
dan jaringan keseimbangan
cairan dan elektrolit
Ca, P, K, Na, Cl, S, dan Mg

(berdasarkan jumlahnya)

Mineral mikro Mineral yang jumlahnya kurang dari 100mg perhari atau lebih sedikit dari mineral makro dan
Mineral mikro
Mineral yang jumlahnya
kurang dari 100mg perhari
atau lebih sedikit dari
mineral makro dan
umumnya terdapat dalam
jaringan dengan konsentrasi
sangat kecil
Fe, Mo, Cu, Zn, Mn, Co, I,
dan Se
METODE
METODE
METODE
METODE

METODE

METODE
METODE
METODE
METODE
METODE
METODE
(Dry Ashing) Kadar Abu Pengabuan Kering Pengabuan Basah (Wet Digestion)
(Dry Ashing) Kadar Abu Pengabuan Kering Pengabuan Basah (Wet Digestion)
(Dry Ashing) Kadar Abu Pengabuan Kering Pengabuan Basah (Wet Digestion)
(Dry Ashing)
Kadar Abu
Pengabuan Kering
Pengabuan Basah
(Wet Digestion)
(Dry Ashing) Kadar Abu Pengabuan Kering Pengabuan Basah (Wet Digestion)
(Dry Ashing) Kadar Abu Pengabuan Kering Pengabuan Basah (Wet Digestion)
(Dry Ashing) Kadar Abu Pengabuan Kering Pengabuan Basah (Wet Digestion)
(Dry Ashing) Kadar Abu Pengabuan Kering Pengabuan Basah (Wet Digestion)
(Dry Ashing) Kadar Abu Pengabuan Kering Pengabuan Basah (Wet Digestion)
PENGABUAN KERING Destruksi komponen organik sampel dengan suhu tinggi dalam tanur pengabuan (furnace) tanpa terjadi nyala
PENGABUAN KERING Destruksi komponen organik sampel dengan suhu tinggi dalam tanur pengabuan (furnace) tanpa terjadi nyala

PENGABUAN KERING

PENGABUAN KERING Destruksi komponen organik sampel dengan suhu tinggi dalam tanur pengabuan (furnace) tanpa terjadi nyala

Destruksi komponen organik sampel dengan suhu tinggi dalam tanur

pengabuan (furnace) tanpa terjadi nyala api sampai terbentuk abu bewarna

putih keabuan dan berat konstan tercapai Pengabuan kering dapat diterapkan pada hampir semua analisa mineral kecuali merkuri dan arsen. Pengabuan kering dapat dilakukan untuk menganalisa kandungan Ca, P, dan Fe, akan tetapi kehilangan K dapat terjadi apabila suhu yang digunakan terlalu tinggi.

PENGABUAN KERING Destruksi komponen organik sampel dengan suhu tinggi dalam tanur pengabuan (furnace) tanpa terjadi nyala
PENGABUAN KERING Destruksi komponen organik sampel dengan suhu tinggi dalam tanur pengabuan (furnace) tanpa terjadi nyala
PENGABUAN KERING Destruksi komponen organik sampel dengan suhu tinggi dalam tanur pengabuan (furnace) tanpa terjadi nyala
PENGABUAN KERING Destruksi komponen organik sampel dengan suhu tinggi dalam tanur pengabuan (furnace) tanpa terjadi nyala
PENGABUAN KERING Destruksi komponen organik sampel dengan suhu tinggi dalam tanur pengabuan (furnace) tanpa terjadi nyala
PENGABUAN KERING Destruksi komponen organik sampel dengan suhu tinggi dalam tanur pengabuan (furnace) tanpa terjadi nyala
PENGABUAN KERING Destruksi komponen organik sampel dengan suhu tinggi dalam tanur pengabuan (furnace) tanpa terjadi nyala
1. Menggunakan tanur dengan suhu 500 – 600 c selama 5-6 jam 2. Air dan bahan
1. Menggunakan tanur dengan suhu 500 – 600 c selama 5-6 jam 2. Air dan bahan

1.

Menggunakan tanur dengan suhu 500 600 c

1. Menggunakan tanur dengan suhu 500 – 600 c selama 5-6 jam 2. Air dan bahan

selama 5-6 jam

2.

Air dan bahan volatile lain diuapkan

3.

Meskipun sebagian besar mineral memiliki volatilitas yang cukup rendah pada suhu tinggi. Tapi ada mineral yang mudah menguap

dan mungkin sebagian hilang seperti besi,

timah dan merkuri

1. Menggunakan tanur dengan suhu 500 – 600 c selama 5-6 jam 2. Air dan bahan
1. Menggunakan tanur dengan suhu 500 – 600 c selama 5-6 jam 2. Air dan bahan
1. Menggunakan tanur dengan suhu 500 – 600 c selama 5-6 jam 2. Air dan bahan
1. Menggunakan tanur dengan suhu 500 – 600 c selama 5-6 jam 2. Air dan bahan
1. Menggunakan tanur dengan suhu 500 – 600 c selama 5-6 jam 2. Air dan bahan
Cawan pengabuan Tang kurs Peralatan 9 Tanur Desikator Timbangan analitik

Cawan pengabuan

Cawan pengabuan Tang kurs Peralatan 9 Tanur Desikator Timbangan analitik

Tang kurs

Cawan pengabuan Tang kurs Peralatan 9 Tanur Desikator Timbangan analitik

Peralatan

9

Tanur

Tanur

Desikator

Cawan pengabuan Tang kurs Peralatan 9 Tanur Desikator Timbangan analitik
Cawan pengabuan Tang kurs Peralatan 9 Tanur Desikator Timbangan analitik

Timbangan analitik

Cawan pengabuan Tang kurs Peralatan 9 Tanur Desikator Timbangan analitik
Cawan pengabuan Tang kurs Peralatan 9 Tanur Desikator Timbangan analitik
Cawan pengabuan Tang kurs Peralatan 9 Tanur Desikator Timbangan analitik
Cawan pengabuan Tang kurs Peralatan 9 Tanur Desikator Timbangan analitik
Prosedur kerja 1. Cawan pengabuan dikeringkan dalam oven pada suhu 100 ⁰ C - 105 ⁰
Prosedur kerja 1. Cawan pengabuan dikeringkan dalam oven pada suhu 100 ⁰ C - 105 ⁰

Prosedur kerja

1. Cawan pengabuan dikeringkan dalam oven pada suhu 100 C - 105 C selama 1 jam, didinginkan dalam desikator selama 15 menit kemudian timbang cawan kosong (W0).

Prosedur kerja 1. Cawan pengabuan dikeringkan dalam oven pada suhu 100 ⁰ C - 105 ⁰
  • 2. Sebanyak 5-10 gram sampel ditimbang dalam cawan (W1).

  • 3. Sampel dikeringkan dalam oven selama 24 jam dengan suhu 105 C. Untuk sampel basah atau

cairan, sampel dibakar diatas pembakar burner dengan api sedang untuk menguapkan sebanyak mungkin zat organik yang ada ( sampai sampel tidak berasap dan berwarna hitam ).

  • 4. Sampel dipindahkan ke dalam tanur ( muffle furnace ) dan dipanaskan pada suhu 300 C,

kemudian suhu dinaikkan menjadi 550 C dengan waktu sesuai dengan karakteristik bahan (

umumnya 5 -7 jam ).

  • 5. Sampel didinginkan dalam desikator selama 15 menit, kemudian timbang cawan+abu (W3).

Prosedur kerja 1. Cawan pengabuan dikeringkan dalam oven pada suhu 100 ⁰ C - 105 ⁰
Prosedur kerja 1. Cawan pengabuan dikeringkan dalam oven pada suhu 100 ⁰ C - 105 ⁰
Prosedur kerja 1. Cawan pengabuan dikeringkan dalam oven pada suhu 100 ⁰ C - 105 ⁰
Prosedur kerja 1. Cawan pengabuan dikeringkan dalam oven pada suhu 100 ⁰ C - 105 ⁰
Prosedur kerja 1. Cawan pengabuan dikeringkan dalam oven pada suhu 100 ⁰ C - 105 ⁰
Prosedur kerja 1. Cawan pengabuan dikeringkan dalam oven pada suhu 100 ⁰ C - 105 ⁰
Prosedur kerja 1. Cawan pengabuan dikeringkan dalam oven pada suhu 100 ⁰ C - 105 ⁰
Keterangan : W0 : berat cawan kosong W1 : berat cawan + sampel sebelum pengabuan W2
Keterangan : W0 : berat cawan kosong W1 : berat cawan + sampel sebelum pengabuan W2
Keterangan : W0 : berat cawan kosong W1 : berat cawan + sampel sebelum pengabuan W2
Keterangan : W0 : berat cawan kosong W1 : berat cawan + sampel sebelum pengabuan W2

Keterangan :

W0 : berat cawan kosong W1 : berat cawan + sampel sebelum pengabuan W2 : berat cawan + sampel setelah pengabuan

Keterangan : W0 : berat cawan kosong W1 : berat cawan + sampel sebelum pengabuan W2
Keterangan : W0 : berat cawan kosong W1 : berat cawan + sampel sebelum pengabuan W2
Keterangan : W0 : berat cawan kosong W1 : berat cawan + sampel sebelum pengabuan W2
Keterangan : W0 : berat cawan kosong W1 : berat cawan + sampel sebelum pengabuan W2

PERHITUNGAN

Keterangan : W0 : berat cawan kosong W1 : berat cawan + sampel sebelum pengabuan W2
Keterangan : W0 : berat cawan kosong W1 : berat cawan + sampel sebelum pengabuan W2
1. Aman dalam pemakaian 2. Murah 3. Tidak memerlukan tenga kerja yang intensif 1. Memerlukan waktu

1. Aman dalam pemakaian

  • 2. Murah

  • 3. Tidak memerlukan tenga kerja yang

intensif 1. Memerlukan waktu yang lama

1. Aman dalam pemakaian 2. Murah 3. Tidak memerlukan tenga kerja yang intensif 1. Memerlukan waktu
1. Aman dalam pemakaian 2. Murah 3. Tidak memerlukan tenga kerja yang intensif 1. Memerlukan waktu

2. Biaya listrik lebih mahal

3. Kehilangan mineral yang dapat menguap pada suhu tinggi

1. Aman dalam pemakaian 2. Murah 3. Tidak memerlukan tenga kerja yang intensif 1. Memerlukan waktu
PENGABUAN BASAH Proses pengabuan basah dilakukan dengan cara mengoksidasi komponen organik sampel menggunakan oksidator kimiawi (
PENGABUAN BASAH Proses pengabuan basah dilakukan dengan cara mengoksidasi komponen organik sampel menggunakan oksidator kimiawi (

PENGABUAN BASAH

PENGABUAN BASAH Proses pengabuan basah dilakukan dengan cara mengoksidasi komponen organik sampel menggunakan oksidator kimiawi (

Proses pengabuan basah dilakukan dengan cara mengoksidasi komponen

organik sampel menggunakan oksidator kimiawi ( asam kuat ).

Biasanya metode ini digunakan untuk persiapan sampel mineral - mineral

mikro atau mineral - mineral toksik.

Campuran nitrat-sulfat adalah yang paling umum dipakai Suhu yang digunakan tidak dapat melebihi titik didih larutan Mineral yang dapat dianalisis : arsen, Cu, Pb, timah putih, Zn.

PENGABUAN BASAH Proses pengabuan basah dilakukan dengan cara mengoksidasi komponen organik sampel menggunakan oksidator kimiawi (
PENGABUAN BASAH Proses pengabuan basah dilakukan dengan cara mengoksidasi komponen organik sampel menggunakan oksidator kimiawi (
PENGABUAN BASAH Proses pengabuan basah dilakukan dengan cara mengoksidasi komponen organik sampel menggunakan oksidator kimiawi (
PENGABUAN BASAH Proses pengabuan basah dilakukan dengan cara mengoksidasi komponen organik sampel menggunakan oksidator kimiawi (
PENGABUAN BASAH Proses pengabuan basah dilakukan dengan cara mengoksidasi komponen organik sampel menggunakan oksidator kimiawi (
PENGABUAN BASAH Proses pengabuan basah dilakukan dengan cara mengoksidasi komponen organik sampel menggunakan oksidator kimiawi (
PENGABUAN BASAH Proses pengabuan basah dilakukan dengan cara mengoksidasi komponen organik sampel menggunakan oksidator kimiawi (
pengabuan dapat lebih cepat suhu 350 ⁰C
pengabuan dapat lebih cepat
suhu 350 ⁰C

Campuran asam sulfat dan potassium sulfat dapat

Asam sulfat, yang berfungsi untuk membantu mempercepat terjadinya reaksi oksidasi. Asam sulfat bahan pengoksidasi yang kuat,
Asam sulfat, yang berfungsi untuk membantu mempercepat
terjadinya reaksi oksidasi. Asam sulfat bahan pengoksidasi
yang kuat, tetapi waktu yang diperlukan untuk pengabuan
masih cukup lama.
Campuran asam perklorat dan asam nitrat, campuran ini digunakan untuk pengabuan bahan yang sulit mengalami oksidasi,
Campuran asam perklorat dan asam nitrat, campuran ini
digunakan untuk pengabuan bahan yang sulit mengalami
oksidasi, dan pengabuan ini berlangsung sangat cepat
sekitar 10 -15 menit. Kelemahan perklorat ini adalah bersifat
mudah meledak.

dipergunakan untuk mempercepat dekomposisi sampel.

Potassium sulfat berfungsi menaikkan titik didih asam sulfat sehingga menyebabkan suhu pengabuan tinggi dan

Campuran asam sulfat dan asam nitrat banyak digunakan untuk mempercepat proses pengabuan. Penambahan kedua

pengabuan dapat lebih cepat suhu 350 ⁰C Campuran asam sulfat dan potassium sulfat dapat Asam sulfat,

oksidator ini akan menurunkan suhu digesti bahan yaitu pada

pengabuan dapat lebih cepat suhu 350 ⁰C Campuran asam sulfat dan potassium sulfat dapat Asam sulfat,
Pengabuan basah dengan HNO3 dan H2SO4 (asam nitrat dan asam sulfat) Prosedur kerja pengabuan basah dengan
Pengabuan basah dengan HNO3 dan H2SO4 (asam nitrat dan asam sulfat) Prosedur kerja pengabuan basah dengan

Pengabuan basah dengan HNO3 dan H2SO4 (asam nitrat dan asam sulfat)

Pengabuan basah dengan HNO3 dan H2SO4 (asam nitrat dan asam sulfat) Prosedur kerja pengabuan basah dengan

Prosedur kerja pengabuan basah dengan asam nitrat dan asam sulfat adalah sebagai berikut

  • 1. Menimbang sampel padatan 5 - 10 gram dimasukkan dalam labu kjedahl. Kemudian ditambahkan

10 ml H2SO4, 10 ml HNO3 dan batu didih.

  • 2. Labu dipanaskan perlahan - lahan sampai berwarna gelap, selama pemanasan harus

menghindari pembentukan buih yang berlebihan.

  • 3. Ke dalam labu ditambahkan 1 - 2 ml HNO3 dan pemanasan dilanjutkan sampai larutan lebih

gelap lagi. Penambahan HNO3 dilanjutkan sambil dipanaskan sampai larutan tidak gelap lagi (

semua zat organik telah teroksidasi ).

  • 4. Sampel didinginkan kemudian ditambah 10 ml aquadest dan dipanaskan sampai berasap.

  • 5. Sampel didinginkan dan diencerkan sampai volume tertentu dengan menggunakan labu takar.

Pengabuan basah dengan HNO3 dan H2SO4 (asam nitrat dan asam sulfat) Prosedur kerja pengabuan basah dengan
Pengabuan basah dengan HNO3 dan H2SO4 (asam nitrat dan asam sulfat) Prosedur kerja pengabuan basah dengan
Pengabuan basah dengan HNO3 dan H2SO4 (asam nitrat dan asam sulfat) Prosedur kerja pengabuan basah dengan
Pengabuan basah dengan HNO3 dan H2SO4 (asam nitrat dan asam sulfat) Prosedur kerja pengabuan basah dengan
Pengabuan basah dengan HNO3 dan H2SO4 (asam nitrat dan asam sulfat) Prosedur kerja pengabuan basah dengan
Pengabuan basah dengan HNO3 dan H2SO4 (asam nitrat dan asam sulfat) Prosedur kerja pengabuan basah dengan
Pengabuan basah dengan HNO3 dan H2SO4 (asam nitrat dan asam sulfat) Prosedur kerja pengabuan basah dengan
1. Mineral volatil yang hilang tidak banyak karena suhunya lebih rendah 2. Waktu analisis lebih cepat

1. Mineral volatil yang hilang tidak banyak

karena suhunya lebih rendah

  • 2. Waktu analisis lebih cepat

  • 3. Oksidasi lebih cepat

1. Mineral volatil yang hilang tidak banyak karena suhunya lebih rendah 2. Waktu analisis lebih cepat

1. Memerlukan tenaga kerja yang intensive

  • 2. Perlu menggunakan lemari

asam

  • 3. Pereaksi bersifat korosif

1. Mineral volatil yang hilang tidak banyak karena suhunya lebih rendah 2. Waktu analisis lebih cepat
1. Mineral volatil yang hilang tidak banyak karena suhunya lebih rendah 2. Waktu analisis lebih cepat
Analisis konservatif mineral
Analisis
konservatif
mineral
instrumen
instrumen
Konservatif Titimetri Gravimetri
Konservatif Titimetri Gravimetri
Konservatif Titimetri Gravimetri
Konservatif
Titimetri
Gravimetri
Konservatif Titimetri Gravimetri
Konservatif Titimetri Gravimetri
Konservatif Titimetri Gravimetri
Konservatif Titimetri Gravimetri
Konservatif Titimetri Gravimetri
TITIRIMETRI du=ikatakan teroksidasi dengan atau tanpa oksigen Sering digunakan untuk menentukan kadar kalsium dan besi dikataka
TITIRIMETRI du=ikatakan teroksidasi dengan atau tanpa oksigen Sering digunakan untuk menentukan kadar kalsium dan besi dikataka

TITIRIMETRI

du=ikatakan teroksidasi dengan atau tanpa oksigen Sering digunakan untuk menentukan kadar kalsium dan besi dikataka akan
du=ikatakan
teroksidasi dengan atau
tanpa oksigen
Sering digunakan
untuk menentukan
kadar kalsium dan besi
dikataka akan tereduksi
sedangkan setiap
molkeul yang
mendapatkan elektron
kehilangan elektron
Seiap molekul yang
Titrasi redoks
Titrasi EDTA
Reagen kimia kuat
yang membentuk
kompleks dengan ion
logam multivalent
Metode ini sering
digunakan untuk
analisa kalsium
Titrasi pengendapan Berdasarkan kemampan mineral untuk mengendap dengan titrasi suatu pereaksi tertentu Metode mohr untuk penentuan
Titrasi pengendapan
Berdasarkan
kemampan mineral
untuk mengendap
dengan titrasi suatu
pereaksi tertentu
Metode mohr untuk
penentuan kadar
kalsium
TITIRIMETRI du=ikatakan teroksidasi dengan atau tanpa oksigen Sering digunakan untuk menentukan kadar kalsium dan besi dikataka
TITIRIMETRI du=ikatakan teroksidasi dengan atau tanpa oksigen Sering digunakan untuk menentukan kadar kalsium dan besi dikataka
TITIRIMETRI du=ikatakan teroksidasi dengan atau tanpa oksigen Sering digunakan untuk menentukan kadar kalsium dan besi dikataka
METODE GRAVIMETRI Gravimetri adalah metode analisis kimia secara kuantitatif dimana jumlah analit ditentukan dengan mengukur bobot
METODE GRAVIMETRI Gravimetri adalah metode analisis kimia secara kuantitatif dimana jumlah analit ditentukan dengan mengukur bobot

METODE GRAVIMETRI

METODE GRAVIMETRI Gravimetri adalah metode analisis kimia secara kuantitatif dimana jumlah analit ditentukan dengan mengukur bobot

Gravimetri adalah metode analisis kimia secara kuantitatif dimana jumlah

analit ditentukan dengan mengukur bobot substansi murni yang hanya mengandung analit.(Skoog 2004) Berdasarkan cara mengukur fase,

gravimetri dibedakan menjadi dua jenis, yaitu gravimetri evolusi langsung

dan gravimetri evolusi tidak langsung. Gravimetri evolusi langsung berfungsi untuk mengukur fase gas secara langsung, sedangkan gravimetri

evolusi tidak langsung berfungsi untuk mengukur fase gas dan fase padat

dari padatan yang terbentuk.

METODE GRAVIMETRI Gravimetri adalah metode analisis kimia secara kuantitatif dimana jumlah analit ditentukan dengan mengukur bobot
METODE GRAVIMETRI Gravimetri adalah metode analisis kimia secara kuantitatif dimana jumlah analit ditentukan dengan mengukur bobot
METODE GRAVIMETRI Gravimetri adalah metode analisis kimia secara kuantitatif dimana jumlah analit ditentukan dengan mengukur bobot
METODE GRAVIMETRI Gravimetri adalah metode analisis kimia secara kuantitatif dimana jumlah analit ditentukan dengan mengukur bobot
METODE GRAVIMETRI Gravimetri adalah metode analisis kimia secara kuantitatif dimana jumlah analit ditentukan dengan mengukur bobot
METODE GRAVIMETRI Gravimetri adalah metode analisis kimia secara kuantitatif dimana jumlah analit ditentukan dengan mengukur bobot
Instrumen Spekstrokopi serapan atom Spekstrokopi merupakan suatu metode analisis kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan banyaknya radiasi yang
Instrumen Spekstrokopi serapan atom Spekstrokopi merupakan suatu metode analisis kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan banyaknya radiasi yang
Instrumen Spekstrokopi serapan atom Spekstrokopi merupakan suatu metode analisis kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan banyaknya radiasi yang

Instrumen

Spekstrokopi serapan atom

Spekstrokopi merupakan suatu metode analisis kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan banyaknya radiasi yang dihasilkan atau yang diserap oleh spesi atom atau molekul analit

Instrumen Spekstrokopi serapan atom Spekstrokopi merupakan suatu metode analisis kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan banyaknya radiasi yang
Instrumen Spekstrokopi serapan atom Spekstrokopi merupakan suatu metode analisis kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan banyaknya radiasi yang
Instrumen Spekstrokopi serapan atom Spekstrokopi merupakan suatu metode analisis kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan banyaknya radiasi yang
Instrumen Spekstrokopi serapan atom Spekstrokopi merupakan suatu metode analisis kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan banyaknya radiasi yang
Instrumen Spekstrokopi serapan atom Spekstrokopi merupakan suatu metode analisis kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan banyaknya radiasi yang
Instrumen Spekstrokopi serapan atom Spekstrokopi merupakan suatu metode analisis kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan banyaknya radiasi yang
22 PROSEDUR KERJA 1. Membuat larutan standar unsur tertentu yang akan dianalisis dengan konsentrasi tertentu sesuai
22 PROSEDUR KERJA 1. Membuat larutan standar unsur tertentu yang akan dianalisis dengan konsentrasi tertentu sesuai

22

PROSEDUR KERJA

1. Membuat larutan standar unsur tertentu yang akan dianalisis dengan konsentrasi

22 PROSEDUR KERJA 1. Membuat larutan standar unsur tertentu yang akan dianalisis dengan konsentrasi tertentu sesuai

tertentu sesuai pada daerah range liniernya

  • 2. Menyiapkan larutan sampel

Menyiapkan alat spcktrofotorneter sebagai berikut:

  • a. Menyalakan alat spektrofotometer serapan atom dengan menekan tombol on/off

  • b. Pasang lampu katoda cekung sesuai unsur yang akan dianalisis pada tempat lampu

  • c. Biarkan alat hidup selama 15 menit (untuk pemanasan)

d.Pemrograman alat spektrofotooleter serapan atom dan penentuan kondisi analisis

  • 3. Mengatur Pembakaran

  • 4. Mencari dan membuat kurva kalibrasi

  • 5. Menentukan kadar unsur dalam sampel

22 PROSEDUR KERJA 1. Membuat larutan standar unsur tertentu yang akan dianalisis dengan konsentrasi tertentu sesuai
22 PROSEDUR KERJA 1. Membuat larutan standar unsur tertentu yang akan dianalisis dengan konsentrasi tertentu sesuai
22 PROSEDUR KERJA 1. Membuat larutan standar unsur tertentu yang akan dianalisis dengan konsentrasi tertentu sesuai
22 PROSEDUR KERJA 1. Membuat larutan standar unsur tertentu yang akan dianalisis dengan konsentrasi tertentu sesuai
22 PROSEDUR KERJA 1. Membuat larutan standar unsur tertentu yang akan dianalisis dengan konsentrasi tertentu sesuai
22 PROSEDUR KERJA 1. Membuat larutan standar unsur tertentu yang akan dianalisis dengan konsentrasi tertentu sesuai
1. SAMPEL IKAN TERI Jumlah kadar abu pada ikan teri terdapat 11,76% ( data sekuinder praktikum
1. SAMPEL IKAN TERI Jumlah kadar abu pada ikan teri terdapat 11,76% ( data sekuinder praktikum

1. SAMPEL IKAN TERI

1. SAMPEL IKAN TERI Jumlah kadar abu pada ikan teri terdapat 11,76% ( data sekuinder praktikum

Jumlah kadar abu pada ikan teri terdapat 11,76%

(data sekuinder praktikum ATL,2013)

23

Berat ikan teri sebelum pengabuan sebesar 5,02

gram dan setelah proses pengabuan beratnya

menjadi 0,59 gram. Jad total kadar abu pada ikan

teri. Hasil yang disimpulkan telah memenuhi

standar kadar abu seperti yang dicnatumkan SNI sebesar 13,521% sampai 10,055%

Jumlah kadar Ca yang terkandung sebesar 5,38%

1. SAMPEL IKAN TERI Jumlah kadar abu pada ikan teri terdapat 11,76% ( data sekuinder praktikum
1. SAMPEL IKAN TERI Jumlah kadar abu pada ikan teri terdapat 11,76% ( data sekuinder praktikum
1. SAMPEL IKAN TERI Jumlah kadar abu pada ikan teri terdapat 11,76% ( data sekuinder praktikum
1. SAMPEL IKAN TERI Jumlah kadar abu pada ikan teri terdapat 11,76% ( data sekuinder praktikum
1. SAMPEL IKAN TERI Jumlah kadar abu pada ikan teri terdapat 11,76% ( data sekuinder praktikum
1. SAMPEL IKAN TERI Jumlah kadar abu pada ikan teri terdapat 11,76% ( data sekuinder praktikum
○ Kandungan mineral pada ikan teri kering Jumlah (mg) Kalsium Fosfor besi Dibeberapa sampel ikan teri
○ Kandungan mineral pada ikan teri kering Jumlah (mg) Kalsium Fosfor besi Dibeberapa sampel ikan teri
○ Kandungan mineral pada ikan teri kering Jumlah (mg) Kalsium Fosfor besi Dibeberapa sampel ikan teri

Kandungan mineral pada ikan teri kering

 

Jumlah (mg)

Kalsium

1200

Fosfor

1500

besi

4

Dibeberapa sampel ikan teri kering dianalisis untuk kadar logam Pb, Cd, Cu

menggunakan SSA ditemukan :

Pb 0,084-0,1114 ppm Cd 0.084-0,087 ppm

Cu 0,091-0,096 ppm

○ Kandungan mineral pada ikan teri kering Jumlah (mg) Kalsium Fosfor besi Dibeberapa sampel ikan teri
○ Kandungan mineral pada ikan teri kering Jumlah (mg) Kalsium Fosfor besi Dibeberapa sampel ikan teri
○ Kandungan mineral pada ikan teri kering Jumlah (mg) Kalsium Fosfor besi Dibeberapa sampel ikan teri
○ Kandungan mineral pada ikan teri kering Jumlah (mg) Kalsium Fosfor besi Dibeberapa sampel ikan teri

Dimana masih berada pada bawah batas aman yang ditetapkan oleh BSN

○ Kandungan mineral pada ikan teri kering Jumlah (mg) Kalsium Fosfor besi Dibeberapa sampel ikan teri
○ Kandungan mineral pada ikan teri kering Jumlah (mg) Kalsium Fosfor besi Dibeberapa sampel ikan teri
2. Sampel Bayam 25
2. Sampel Bayam 25

2. Sampel Bayam

25

2. Sampel Bayam 25
2. Sampel Bayam 25
2. Sampel Bayam 25
2. Sampel Bayam 25
2. Sampel Bayam 25
2. Sampel Bayam 25
○ Kandungan mineral pada bayam per 100 gram Bayam hijau(mg) Bayam merah(mg) Calsium 265 368 Fosfor
○ Kandungan mineral pada bayam per 100 gram Bayam hijau(mg) Bayam merah(mg) Calsium 265 368 Fosfor
○ Kandungan mineral pada bayam per 100 gram Bayam hijau(mg) Bayam merah(mg) Calsium 265 368 Fosfor

Kandungan mineral pada bayam per 100 gram

 

Bayam hijau(mg)

Bayam merah(mg)

Calsium

265

368

Fosfor

67

11,1

Besi

3,9

2,2

○ Kandungan mineral pada bayam per 100 gram Bayam hijau(mg) Bayam merah(mg) Calsium 265 368 Fosfor
○ Kandungan mineral pada bayam per 100 gram Bayam hijau(mg) Bayam merah(mg) Calsium 265 368 Fosfor
○ Kandungan mineral pada bayam per 100 gram Bayam hijau(mg) Bayam merah(mg) Calsium 265 368 Fosfor
○ Kandungan mineral pada bayam per 100 gram Bayam hijau(mg) Bayam merah(mg) Calsium 265 368 Fosfor
○ Kandungan mineral pada bayam per 100 gram Bayam hijau(mg) Bayam merah(mg) Calsium 265 368 Fosfor
○ Kandungan mineral pada bayam per 100 gram Bayam hijau(mg) Bayam merah(mg) Calsium 265 368 Fosfor
DAFTAR PUSTAKA Albert dan Santika, Sri Sumestri.2005. Metode Penelitian Air . Surabaya: ITS Press Apriyantono, A.D

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA Albert dan Santika, Sri Sumestri.2005. Metode Penelitian Air . Surabaya: ITS Press Apriyantono, A.D

Albert dan Santika, Sri Sumestri.2005. Metode Penelitian Air. Surabaya: ITS Press

Apriyantono, A.D dkk.2005.Analisis Pangan.bogor:PAU Pangan dan Gizi Gunawan, D, dkk. 2009. Petunjuk Operasi AAS Analyse 100. Lab. Kimia Instrumen UNNES Irawati.2008.MODUL PENGUJIAN MUTU 1.Diploma IV PDPPTK VEDCA.Cianjur Rukaman, Rahmat.2004.Bayam Bertanam dan Pengolahan Pasca Panen.Yogyakaarta:Kanisius Sastrohamidjojo, Hardjono. 2005. Kimia Dasar. Yogyakarta: UGM-Press Sitti Chadijah, Wa Ode Rustiah dan Anna Handayani. 2012. Penuntun Praktikum Kimia Analitik .Makassar: UIN Alauddin Makassar Sudarmadji dkk.2004.ProsedurAnalisa Bahan Makanan Dan Pertanian.Liberti.Yogyakarta. Svehla G.2006. Textbook of Macro and Semimicro Qualitative Inorganic Analysis. Terj. L. Setiono dan A. Hadyana Pudjaatmaka. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Bagian I. Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka Yatim, wildan.2005.Kamus Biologi.Jakarta:Yayasan obor Indonesia Yazid, Estien. 2005.Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta: ANDI

27

DAFTAR PUSTAKA Albert dan Santika, Sri Sumestri.2005. Metode Penelitian Air . Surabaya: ITS Press Apriyantono, A.D
DAFTAR PUSTAKA Albert dan Santika, Sri Sumestri.2005. Metode Penelitian Air . Surabaya: ITS Press Apriyantono, A.D
Thank you Any questions?
Thank you Any questions?
Thank you Any questions?

Thank you

Any questions?

Thank you Any questions?
Thank you Any questions?
Thank you Any questions?
Thank you Any questions?
Thank you Any questions?
Thank you Any questions?