You are on page 1of 27

FLUID RESUSCITATION MANAGEMENT

IN PATIENTS WITH BURNS


Oleh:
Tri Suci Sekar Ningrum, S.Ked

Pembimbing:
dr. Ferdi, Sp.An

SMF BAGIAN ANESTESIOLOGI RSUD DR.M.YUNUS KOTA BENGKULU


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS BENGKULU
2018
FLUID RESUSCITATION
MANAGEMENT IN PATIENTS
WITH BURNS : UPDATE

Guilabert, P., Usúa, G. , Martín, N. , Abarca, L., Barret, J. P. and Colomina, M. J.,
2016. Fluid resuscitation management in patients with burns:update. Br J
Anaesth, 117 (3), pp.284-296.

2
ABSTRAK
Pasien luka bakar menerima jumlah cairan lebih banyak pada jam pertama dibandingkan pasien trauma
lainnya.

Resusitasi awal menggunakan kristaloid karena peningkatan permeabilitas kapiler yang terjadi selama 24
jam pertama. Setelah itu, digunakan cairan koloid, tetapi tidak semua diterima.

Sejak munculnya peringatan Komite Penilaian Risiko Kewaspadaan Obat mengenai pati hidroksietil dari
European Medicines Agency, larutan yang mengandung komponen ini tidak lagi direkomendasikan untuk
luka bakar.

Tinjauan non-sistematis jenis dan jumlah cairan untuk pasien luka bakar.

3
PENDAHULUAN

1968 Formula Parkland

Sesuai dengan indikasi program Advanced Burn Life Support dari American Burn Association,

Formula Parkland : 2-4 ml larutan Ringer laktat (RL) / kgBB / % TBSA

Terkadang kurang tepat (Cont. Obesitas)

Jumlah harus dikoreksi dengan urin output

1991 Dries dan Waxman


Resusitasi yang hanya berdasarkan pada urin output dan tanda vital bisa saja kurang optimal.

4
?
⊡ Apakah cara yang terbaik ⊡ apa jenis cairan optimal
dalam menentukan jumlah yang digunakan?
cairan yang dibutuhkan?

5
METODE

Pencarian bibliografi dua fase

mengidentifikasi pedoman
praktik klinis terkait,
systematic reviews, dan
dokumen sintase kritis yang
1 lainnya pada literatur ilmiah,
seperti laporan evaluasi
teknologi kesehatan.

Secara spesifik mencari


studi individual,
memprioritaskan
2 randomized control trial
(RCT), tetapi juga
termasuk studi
observasional, diambil
dari MEDLINE

6
METODE

Jurnal berasal dari MEDLINE,


PubMed dan Cochrane
Database of Systematic
Reviews

7
KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI
• Subjek orang dewasa • Artikel yang ditarik hingga
• Ditulis dalam bahasa Inggris, November 2014
Prancis, dan Spanyol.
• Pedoman praktik klinis terkait,
systematic reviews, dan
dokumen sintase kritis yang
lainnya

8
Terapi Cairan untuk Luka Bakar

9
Patofisiologi Syok
pada Luka Bakar

10
• Tanda vital dan urin output menunjukan sedikit variasi setelah penggantian cairan,
perubahan yang signifikan terlihat pada parameter yang diukur dengan kateterisasi arteri
pulmonalis (Pulmonary Artery Catheterization, PAC).

Resusitasi cairan yang dipandu oleh tanda-tanda vital mungkin belum adekuat

• Pada PAC cardiac output menjadi pemandu terapi volume. Namun PAC bersifat invasif.

11
Terapi Cairan yang Diarahkan pada Tujuan.

• Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pemantauan dan penggantian volume


terbaru dengan pendekatan yang diarahkan pada tujuan yaitu berdasarkan
termodilusi transpulmonary (TTD)

12
Namun hipotermia yang terjadi pada pasien luka bakar dapat mempengaruhi reproduksibilitas pengukuran
thermodilusi. Secara teoritis variasi ini dapat mengurangi kegunaan teknik thermodilusi tersebut.

Reproduksibilitas diukur dengan koefisien variansi <10% pada pengukuran curah jantung, volume darah
intrathoracic (ITBV), dan koefisien variansi 9,5 - 12,9% volume darah total, dan extravascular lung water
(EVLW).

2005

Tidak ada korelasi antara suhu tubuh dan reproduktifitas pengukuran  mendukung penggunaan thermodilusi

13
Pada tahun 2009, Bak dkk22 menerbitkan sebuah studi yang mengevaluasi variabel
hemodinamik yang diukur dengan TEE, TTD, dan PAC selama resusitasi awal menurut rumus
Parkland. Penulis melaporkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara berbagai metode
tersebut.

Meskipun TEE tampaknya aman dan minimal invasif dalam laporan ini, penelitian lebih lanjut
diperlukan untuk memvalidasi penggunaannya dalam resusitasi awal pada pasien luka bakar.

14
tahun 2000, Holm dan dkk23 melaporkan bahwa indeks jantung dan evaluasi penghantaran
oksigen selama jam pertama berguna sebagai parameter untuk mendu resusitasi pada
korban luka bakar mayor.

Pada tahun yang sama, Holm dkk24 menerbitkan studi observasional lain, menyertakan
24 pasien dimana ITBV dievaluasi sebagai pencapaian akhir resusitasi
Kesimpulan :
pasien dapat menerima lebih banyak cairan berdasarkan parameter ini dari yang
diperkirakan dengan rumus Parkland, tanpa perbedaan EVLW. Peningkatan ITBV dapat
meningkatkan penghantaran oksigen dan menunjukkan hubungan yang baik dengan
penghantaran oksigen dan indeks jantung.

15
Küntscher dkk.25 melakukan suatu studi pengamatan, dimana pengukuran ITBV dan EVLW
diperoleh dengan menggunakan teknik pengenceran indikator tunggal dan ganda yang
kemudian dibandingkan.

Kesimpulan :
teknik pengenceran-indikator tunggal tidak cukup akurat untuk menilai ITBV dan EVLW pada
syok luka bakar.

16
Csontos dkk27 membandingkan skor disfungsi organ multiple (Multiple Organ Dysfunction
Score, MODS) dan kadar saturasi oksigen vena sentral (ScvO2) selama 3 hari pertama
setelah luka bakar antara pasien yang diperlakukan sesuai dengan rumus Parkland dan
mereka yang diperlakukan berdasar pada ITBV yang diukur dengan TTD.

- Infus cairan lebih besar pada kelompok ITBV pada hari pertama, dan ScvO2 pun lebih
tinggi.
- Pada kelompok Parkland, skor MODS lebih tinggi pada 48 dan 72 jam pertama, dan
parameter rutin hemodinamik (output urin dan tekanan vena sentral) menunjukkan tidak
ada korelasi dengan ScvO2 ataupun parameter hemodinamik lainnya.

17
Pada tahun 2013, Aboelatta dan Abdelsalam28 melakukan uji coba klinis pada 30 pasien dan
membandingkan resusitasi awal menggunakan rumus Parkland vs resusitasi yang dipandu
oleh TTD.

Hasil :
Kelompok TTD menerima jumlah cairan yang lebih besar selama 72 jam pertama, dan output
urin lebih tinggi, namun tekanan arteri rata-rata dan frekuensi jantung lebih rendah pada
kelompok ini.
Tidak ada perbedaan pada tekanan vena sentral, masa opname di rumah sakit, atau
kematian.

18
Pada 2013, Tokarik dkk uji klinis yang menyertakan 21 pasien yang membandingkan
resusitasi awal menurut rumus Parkland dengan resusitasi yang dipandu dengan
parameter dinamis preload oleh sistem LiDCO®.

Hasil:
Jumlah infus kristaloid yang diberikan selama 24 jam pertama lebih rendah pada
kelompok terapi yang diarahkan pada tujuan

Namun, perangkat monitoring yang digunakan belum divalidasi pada pasien luka bakar.

19
Pasien luka bakar cenderung membutuhkan resusitasi intensif yang lebih dari jumlah yang
mereka terima berdasarkan rumus Parkland yang dimodifikasi, khususnya di 24 jam
pertama, dalam rangka meningkatkan parameter preload, indeks jantung, ScvO2, dan
penghantaran oksigen.

Normovolaemia mungkin bukanlah tujuan utama yang harus mencapai, meskipun


tampaknya bahwa EVLW tidak terpengaruh oleh pemberian cairan yang lebih besar dalam
pertama jam.

20
Cairan yang harus digunakan di resusitasi awal

1. Kristaloid

Larutan kadar seimbang telah terbukti lebih unggul dibanding kristaloid tidak seimbang

Hanya dua studi observasional yang ditemukan membandingkan perbedaan jenis


kristaloid pada pasien luka bakar, dan hanya satu dari mereka dibandingkan dua larutan
isotonik yang seimbang

21
RA tampaknya akan menjadi pilihan yang paling cocok untuk mengganti cairan dalam
jumlah besar, namun bukti terkait pada pasien luka bakar masih terbatas.

Studi lebih lanjut yang membandingkan RL dengan RA untuk resusitasi masih diperlukan.

Larutan hipertonik juga mungkin memiliki tempat dalam resusitasi bakar.

22
2. Koloid

Komponen koloid dapat alami (plasma dan albumin) maupun sintetis (HES dan gelatin).

Gelatin sekarang merupakan koloid sintetis yang digunakan pada luka bakar, menjadi satu-
satunya pilihan yang diperbolehkan setelah peringatan HES,63 namun kapasitas ekspansinya
lebih rendah dari HES, dan efeknya berhenti 1 jam setelah pemberian.64

Dua studi meta-analisis65 66 diterbitkan pada tahun 2012 menyimpulkan bahwa gelatin tidak
lebih unggul dibanding kristaloid. Tidak ada studi yang memastikan keamanan
penggunaannya pada pasien luka bakar.

23
Resusitasi awal
menggunakan cairan
kristaloid.

24
1.

KESIMPULAN

Resusitasi cairan tidak optimal  kedalaman luka bakar yang lebih besar dan
periode syok lebih panjang (biasanya dalam 24-48 jam pertama).

2. Resusitasi luka bakar mayor idealnya menggunakan teknik thermodilusion


transpulmonary (TTD)
• Cardiac index, ScvO2, oxygen delivery, dan MODS lebih tinggi
dan menggunakan ITBV dan EVLW sebagai tujuan akhir; Meskipun demikian,
parameter yang optimal masih tetap harus didefinisikan.

25

KESIMPULAN

3. Kristaloid dapat dipilihan sebagai resusitasi awal pada pasien luka bakar

4. Gelatin belum menunjukkan superioritas atas kristaloid dalam kapasitas


ekspansinya, dan keamanan mereka masih belum dapat dipastikan

26

Terima Kasih

27