You are on page 1of 25

ANATOMI DAN FISIOLOGI

SISTEM PERNAFASAN
KELOMPOK 7:
FEBY SELVIA YOHANI MELINDA
VIENNETTA SIHOTANG SAPUTRI LUBIS

NPM:18.19.010 NPM:18.19.030
INSTITUT DELI HUSADA DELI TUA
MANAJEMEN INFORMASI KESEHATAN
LATAR BELAKANG
Pernafasan adalah kegiatan terpenting dalam kehidupan
manusia. Proses ini dapat berlangsung dalam berbagai
macam keadaan dan dalam kondisi apapun. Dalam banyak
keadaan, oksigen dapat diatur menurut
keperluan, bergantung pada aktivitas yang dilakukan.
Semua orang sangat tergantung pada oksigen demi
keberlangsungan hidupnya, jika paru-paru tidak
memperoleh oksigen selamalebih dari empat menit maka
akan mengakibatkan kerusakan pada otak yang tidak dapat
diperbaiki dan dapatmengakibatkan seseorang meninggal
dunia.
Bila oksigen didalam darah tidak mencukupi
maka warna merah pada darah akan hilang
dan menjadi kebiru-biruan, bibir, telinga,
lengan, dan kaki seseorang yang kekurangan
oksigen akan menjadi biru pula. Oleh sebab
itu, mengukur volume paru- paru sangat
penting untuk mengetahui ada tidaknya
gangguan pada system pernapasan.
Rumusan Masalah
• 1.Jelaskan proses pertukaran dan
tranportasi gas dalam respirasi
• 2.Jelaskan tentang volum dan
kapasitas paru-paru
• 3.Jelaskan 2 penyakit atau gangguan
dalam sistem respirasi
Dasar Teori
Respirasi merupakan proses
penguraian senyawa organik kompleks
menjadi senyawa-senyawa yang
sederhana. Sebagian besar proses
respirasi berlangsungdidalam mitokondria.
Adapun sebagian proses yang lain
berlangsung dalam sitosol
(Dartius,1999:29).
Urutan saluran pernapasan adalah
sebagai berikut:
• Hidung (Cavum Nasalis)
• Tenggorokan(Faring)
• Tenggorokan (Trakea)
• Cabang-cabang Tenggorokan (Bronkus)
• Paru-paru (Pulmo)
• Bronkiolus
• Alveolus
PERTUKARAN UDARA O2 DAN CO2 DALAM
PERNAPASAN

Udara atmosfer normal yang kering adalah


campuran gas-gas yang mengandung sekitar 79%
Nitrogen (N₂) dan 2l% oksigen (O₂). Manusia
bernapas sekitar 6 liter (6x10¯³m³) udara agar
mendapatkan pasokan oksigen (O₂) segar
kedalam paru dan membuang karbondioksida
(CO₂). Ketika kita menghembus napas alveoli
menjadi lebih kecil. Pertukaran gas (O₂ dan CO₂)
antara alveoli dan darah terjadi melalui difusi
yang menyebarkan O₂ dari alveoli kedalam darah
dan CO₂ dari darah ke alveoli.
Perbedaan tekanan O₂ dan CO₂ di jaringan
mempengaruhi transpor gas-gas melewati
dinding alveolus, molekul O₂ berdifusi lebih
cepat dari pada molekul CO₂ karena massanya
lebih kecil. Apabila terdapat penyakit yang
menyebabkan dinding alveolus menebal
transpor O₂ akan lebih ternganggu dibandingkan
dengan transpor CO₂.
TAHAP PERTUKARAN GAS
 Pemindahan gas dari lingkungan ke dalam sistem
melalui permukaan membran dengan cara difusi
 Membran pernapasan:
 permukaan tipis, basah, permeabel
 ukuran membran bergantung pada ukuran tubuh,
kebutuhan O2 dan lingkungan
 lamela insang, alveolus paru-paru, kulit katak
 Laju difusi berbanding terbalik dengan jarak
 Membran ke seluruh tubuh = transport melalui
saluran khusus/pukal
Pernapasan dengan tekanan negatif. Manusia bernapas dengan cara mengubah
tekanan udara dalam paru-paru relatif terhadap tekanan atmosfer di lingkungan luar.
Selama inhalasi otot rusuk dan diafragma berkontraksi. Volume rongga dada dan
paru-paru meningkat ketika diafragma turun tulang rusuk membesar. Tekanan udara
menurun di bawah tekanan udara atmosfer. Udara akan mengalir ke dalam paru
paru. Ekshalasi otot rusuk dan diafragma relaksasi memulihkan volume rongga dada
menjadi seperti semula
Bongkar muat gas respirasi. Perbedaan tekanan
parsial gas dalam ruang alveoli dan dalam udara
yang dihirup dan dihembuskan disebabkan
karena pertukaran gas dalam paru-paru dan juga
karena pencampuran gas alveoli yang terjadi
disetiap pernapasan. PO2 di alveoli lebih rendah
dari PO2 di udara luar (atm) karena O2 berdifusi
ke dalam alveoli dan ke dalam darah dan juga
karena udara yang dihirup bercampur dengan
gas-gas yang masih ada dalam pipa pernapasan
dan ruang alveoli antarpernapasan. Darah yang
kembali dari tubuh memiliki PO2 yang rendah
dari ruang alveoli. Karena gas berdifusi dari
suatu daerah dengan tekanan parsial yang lebih
tinggi ke rendah, maka O2 bergerak dari ruang
alveolus ke darah dalam kapiler alveoli paru.
Sebaliknya, PCO2 terdapat jauh lebih besar
dalam darah dibandingkan ruangan alveoli
sehingga CO2 bergerak dari darah ke paru-paru.
Darah yang meninggalkan paru-paru mempunyai
PO2 dan PCO2 yang sama dengan udara dalam
ruang alveoli. Ketika darah mencapai kapiler
jaringan, PO2 lebih tinggi dari jaringan sehingga
O2 masuk dari darah menuju cairan interstisial
yang mengelilingi sel jaringan. Setelah pelepasan
O2, darah mengikat CO2 dan menuju paru-paru.
CAIRAN PENGHANTAR GAS
Pigmen pernapasan pengantar gas
 100 ml ± 20 % O2, 30 % CO2
 Hemoglobin
 Globin empat rantai peptida (2 rantai , 2 rantai )
 Tiap rantai porfirin mengikat heme (mirip sitokromFe pada
transport elektron)
 Terdapat di sel darah merah (eritrosit)
 Mencegah tekanan osmosis yang tidak dikehendaki
 Pada Arenicola polychaeta laut lebih dari 4 rantai = 96
rantai dengan satu heme.
 Hemosianin
 Memberi warna biru pada darah
 Tidak mempunyai porfirin, O2 diikat oleh dua atom Cu
(tembaga)
Reaksi gas dalam darah
Hb mengikat O2 membentuk oksihemoglobin
(HbO2)
Satu O2 terikat lemah dengan salah satu dari
empat atom besi pada hemoglobin
Satu buah eritrosit mengandung 265 juta molekul
hemoglobin = 265 juta molekul O2 yang terikat

1. O2 meninggalkan oksihemoglobin karena tekanan


parsial O2 rendah dalam jaringan
HbO2 Hb + O2
2. Karbondioksida masuk dalam darah karena
tekanan parsialnya yang tinggi, bereaksi dengan air
untuk membentuk asam karbonat, hidrogen dan
ion bikarbonat

CO2 + H2O H2CO3 H+ + HCO3-

3. Terdapat banyak oksihemoglobin dalam bentuk


garam kalium, KHbO2. Banyak ion hidrogen
mengganti kalium, mengeluarkan oksigen lebih
banyak dan membentuk asam hemoglobin, HHb
dan kalium bebas

KHbO2 + H+ HHb + K+ + O2
4. Banyak ion kalium dalam konsentrasi yang relatif tinggi
dalam sel, bersenyawa dengan ion bikarbonat dan
membentuk kalium bikarbonat KHCO3

K+ + HCO3- KHCO3
HCO3-
5. ion-ion bikarbonat lain berdifusi ke dalam plasma
tempat ion tersebut bersenyawa dengan natrium yang
ada dalam konsentrasi yang relatif tinggi di luar sel, dan
membentuk bikarbonat natrium, NaHCO3

6. Keseimbangan listrik dipelihara dengan pergeseran ion


klorida dari plasma ke eritrosit

Na+ + HCO3- NaHCO3 Cl-


Gambar reaksi gas dalam darah
VOLUME DAN KAPASITAS PARU-PARU

Gambar 2. Mekanisme respirasi inspirasi dan ekspirasi


Volume paru menggambarkan fungsi statik paru. Volume dan kapasitas
paru dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, ukuran dan komposisi badan
(Anonim 2008d). Hasil pengukuran volume/kapasitas paru antara laki-laki dan
perempuan pada kondisi normal dapat dilihat pada Gambar 3.
Pengukuran fungsi pernapasan ada banyak dan bermacam-
macam. Namun secara umum dapat dijelaskan sebagai
berikut : Selama bernapas, kira-kira 500 ml udara bergerak ke
saluran napas dalam setiap inspirasi, dan jumlah yang sama
bergerak keluar dalam setiap eskpirasi. Hanya kira-kira 350 ml
volume tidal/tidal volume (TV) benar-benar mencapai alveoli,
sedangkan 150 ml tetap berda di hidung, faring, trachea, dan
bronki disebut sebagai volume udara mati (dead space).

Udara total yang diambil selama satu menit disebut volume


menit respirasi/respiratory minute volume (RMV), yang dihitung
dengan perkalian udara tidal dan laju pernapasan normal setiap
menit. Volume rata-rata = 500 ml x 12 respirasi setiap menit=
6.000ml/menitdalam keadaan istirahat.
Apabila bernapas kuat, maka jumlah udara yang masuk
ke dalam saluran napas dapat melebihi 500 ml udara.
Kelebihan udara tersebut disebut volume
udara cadangan inspiratori, rata-rata 3.100 ml. Dengan
demikian sistem pernapasan normal dapat menarik
3.100 ml (volume udara cadangan respiratori) + 500 ml
(volume udara tidal) = 3.600 ml. Namun dalam
kenyataan, lebih banyak lagi udara yang dapat ditarik
bila inspirasi mengikuti eskpirasi kuat.
Selanjutnya apabila seseorang melakukan inspirasi normal dan
kemudian melakukan ekspirasi sekuat-kuatnya, maka akan dapat
mendorong keluar 1.200 ml udara, volume udara tersebut
adalah volume udara cadangan eskpiratori. Setelah volume
udara cadangan eskpiratori dihembuskan, sejumlah udara masih
tetap berada dalam paru-paru, karena tekanan intrapleural lebih
rendah sehingga udara yang tinggal tersebut dipakai untuk
mempertahankan agar alveoli tetap sedikit
menggembung, dan juga sejumlah udara masih tetap ada pada
saluran udara pernapasan. Udara yang masih berada pada
saluran pernapasan tersebut adalah udara residu yang
jumlahnya kira-kira 1.200 ml. Kapasitas paru-paru dapat dihitung
dengan menjumlahkan semua volume udara paru. Kapasitas
inspiratori adalah keseluruhan kemampuan inspirasi paru,
yaitu jumlah volume udara tidal dan volume
cadangan inspiratori = 500 ml + 3.100 ml = 3.600
ml. Kapasitas residu fungsional adalah jumlah
volume udara residu dan volume udara
cadangan ekspiratori = 2.400 ml. Kapasitas vital
ada volume udara cadangan inspiratori = volume
udara tidal + volume udara cadangan eskpiratori
= 4.800 ml. Akhirnya kapasitas total paru
merupakan jumlah semua volume udara yaitu
= 6.000 ml
Gambar 3. Hasil pengukuran volume/kapasitas paru antara laki-laki dan
perempuan pada kondisi normal.
Kelainan sistem respirasi

Pada manusia
Kelainan sistem respirasi
Emfisema pneumonia
• Penyakit pembengkakan • Penyakit infeksi yang
karena pembuluh darahnya disebabkkan oleh virus atau
kemasukan udara bakteri pada alveolus yang
menyebabkan terjadinya
radang paru-paru