You are on page 1of 63

PSORIASIS VULGARIS

Amalia Ghanita Herdiana

Dosen Pembimbing:
dr. Buih Amartiwi, Sp. KK
dr. Diana Tri Ratnasari, Sp. KK

SMF Kulit dan Kelamin RS Siti Khodijah Sepanjang


Pendahuluan
penyakit sistemik berdasarkan pathogenesis
autoimunologik dan genetic yang
bermanifestasi pada kulit, sendi serta terkait
sindrom metabolik

faktor genetik berperan dalam penyakit ini

Berbagai factor psikologis dan sosial sering


dijumpai pasien

Pengobatan psoriasis menghambat reaksi


peradangan dan proliferasi epidermis
DEFINISI
 Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya
autoimun, bersifat kronik dan residif, ditandai
dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas
tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis
dan transparan; disertai fenomen tetesan lilin,
Auspitz, dan Köbner. (Nestle, 2009).
ETIOLOGI
 GENETIK  Bila orang tuanya tidak menderita psoriasis risiko
mendapatkan psoriasis 12%, sedangkan jika salah satu orang tuanya
menderita psoriasis maka resikonya mencapai 34-39%.

 IMUNOLOGIKdefek genetik pada psoriasis dapat diekspresikan


pada salah satu dari 3 sel, yakni limfosit T, sel penyaji
antigen(dermal), atau keratinosit.

 FAKTOR PENCETUS  obesitas, konsumsi alkohol, merokok,


stress psikis, infeksi, trauma, endokrin, gangguan metabolik, obat
(glukokortikoid sistemik, lithium, obat anti malaria, interferon, dan
beta adrenergik blocker). Stres psikis juga merupakan faktor
pencetus utama, dan faktor endokrin rupanya memiliki peranan
mempengaruhi perjalanan penyakit
Patofisiologi
PREDILEKSI
2 TIPE PSORIASIS

 Terdapat 2 tipe, yang pertama yaitu; eruptif, tipe berinflamasi


dengan berbagai lesi kulit yang kecil (gutata atau nummular)
dan tendensi yang lebih besar terhadap resolusi spontan,
secara relatif memang jarang ditemukan (<2.0% dari semua
psoriasis)
 Kedua yaitu psoriasis stabil kronik (plak). Kebanyakan dari
pasien dengan lesi indolen kronik muncul dalam berbulan-
bulan bahkan tahunan, dan berubah secara lambat
 Lesi yang sering ditemukan pada psoriasis yang klasik
adalah papul eritema bebatas tegas dengan dinding perak-
keputihan. Memiliki bentuk lamellar, kendur dan mudah
diangkat dengan menggaruknya. Apabila dindingnya
diangkat maka akan terlihat penampakan dari Auspitz sign.

Auspitz sign. Sebelum dinding diangkat(A) dan sesudah


dinding diangkat(B)
FENOMENA KOBNER
NAIL PSORIASIS

Pasien dengan psoriasis mungkin memiliki keterlibatan kuku, yang


dapat hadir tanpa plak bersamaan: A) Kuku psoriasis, terdiri dari
pitting, onikolisis distal, hiperkeratosis subungual, dan remuk; B)
Leukonychia perdarahan serpihan; C) Onikolisis distal dan tanda
penurunan minyak.
PSORIASIS VULGARIS

 Psoriasis vulgaris; lesi primer berbatas tegas, kemerahan


atau papula merah muda-salmon berdinding kendur
berbentuk lamellar
 Tampak plak eritematous psoriasis dengan skuama tebal
berlapis-lapis berwarna putih seperti mika
PSORIASIS GUTATA
Bentuk spesifik yang
dijumpai adalah lesi
papul eruptif
berukuran 1-10 mm
berwarna merah
salmon, menyebar
diskret secara
sentipetal terutama di
badan, dapat
mengenai ekstremitas
dan kepala.
PSORIASIS PUSTULOSA
ERITRODERMA
DIAGNOSIS
 Diagnosis psoriasis terutama klinis. Ada berbagai jenis klinis
psoriasis, yang paling umum adalah psoriasis plak kronis,
yang memengaruhi 80% hingga 90% pasien dengan
psoriasis
PASI
HISTOPATOLOGI
LABORATORIUM
 penurunan albumin serum
 Asam urat serum meningkat hingga 50% dari pasien Ada
peningkatan risiko mengembangkan radang sendi gout.
 Penanda peradangan sistemik dapat ditingkatkan, termasuk protein C-
reaktif, α2-makroglobulin, dan laju sedimentasi eritrosit. Namun,
peningkatan tersebut jarang terjadi pada psoriasis plak kronis tanpa
komplikasi oleh arthritis.
DIAGNOSIS BANDING

PITRIASIS RUBRA PILARIS

TINEA CORPORIS DERMATITIS NUMULARIS


PENATALAKSANAAN
 Topikal
 Terapi-terapi topikal yang digunakan untuk penatalaksanaan
psoriasis meliputi preparat ter, kortikosteroid topikal, antralin,
calcipotriol, derivat vitamin D topikal dan analog vitamin A,
imunomodulator topikal (takrolimus dan pimekrolimus), dan keratolitik
(seperti asam salisilat).
 Terapi-terapi tersebut merupakan pilihan untuk penderita-penderita
dengan psoriasis plak yang terbatas atau menyerang kurang dari
20% luas permukaan tubuh.Terapi topikal digunakan secara tunggal
atau kombinasi dengan agen topikal lainnya atau dengan fototerapi.
 Preparat ter
 Obat topical yang biasa digunakan adalah
preparat ter, memiliki efek sebagai antiradang.
Preparat ter dibagi menjadi 3 yaitui; fosil (misalnya
iktiol), kayu (misalnya oleum kadini dan oleum
ruski), dan batubara (misalnya liantral dan likuor
karbonis detergens). Preparat fosil dinilai kurang
efektif dan yang dinilai efektif adalah preparat ter
dari kayu dan batubara. Ter dari batubara lebih
efektif dibandingkan ter dari kayu dengan
kemungkinan memberikan iritasi yang lebih besar.
 Kortikosteroid topikal
 Kortikosteroid topikal memberikan hasil yang baik. Potensi
dan vehikulum bergantung pada lokasinya. Pada scalp, muka dan
daerah lipatan digunakan krim, di tempat lain digunakan salep
kortikosteroid potensi kuat. Pada daerah muka, lipatan, dan
genitalia eksterna dipilih potensi sedang. Bila diberikan potensi kuat
pada muka dapat member efek samping di antaranya
teleangiektasis, sedangkan dilipatan berupa striae atrofikans. Pada
batang tubuh dan ekstremitas digunakan salap dengan potensi kuat
atau sangat kuat bergantung lama penyakit. Jika telah terjadi
perbaikan potensinya dan frekuensinya dikurangi.(Setiawan, 2012)
 Antralin
 Obat ini dikatakan efektif. Kekurangannya ialah mewarnai
kulit dan pakaian. Konsentrasi yang digunakan biasanya 0,2-
0,8% dalam pasta, salap, atau krim. Lama pemakaian hanya
¼-½ jam sehari sekali untuk mencegah iritasi. Penyembuhan
dalam 3 minggu. Antralin sebagai antimitotic dan
menghambat enzim proliferasi. Sediaan ini juga data dipakai
sebagai kombinasi dengan fototerapi.
 Kalsipotriol
 Kalsipotriol merupakan sintetik dari vitamin D,
yang mempengaruhi proses diffensiasi keratinosit
pada saat regulasi epidermal beresponsif terhadap
kalsium. Preparatnya berupa salep atau krim.
Sangat efektif pada penanganan tipe plak dan skalp
psosiaris. Sedangkan kombinasi terapi dengan
steroid potensi tinggi dapat menghasilkan hasil yang
lebih baik dan lebih sedikit efek samping.
 Tazaroten
 Tazaroten merupakan molekul retinoid asetelinik topical
generasi ketiga, efeknya menghambat proliferasi dan normalisasi
dari differensiasi keratinosit dan menghambat inflamasi.
Indikasinya diberikan pada psoriasis sedang sampai berat, dan
terutama diberikan pada daerah badan. Pemikiran yang diketahui
adalah untuk mengikatkan asam retinoic ke target molekul yang
sebenarnya tidak diketahui. Tersedia gel 0,05% dan 0,1% juga
krim. Bila digunakan secara monoterapi akan muncul iritasi local.
Pengobatan lebih baik bila menyertakan pengobatan dengan
glukokortikoid atau fototerapi UVB.
 Emolien
 Efek emolien adalah melembutkan
permukaan tubuh selain lipatan, juga pada
ekstremitas atas dan bawah. Biasanya digunakan
salep dengan bahan dasar vaselin, fungsinya juga
sebagai emolien dengan akibat meninggikan daya
penetrasi bahan aktif. Emolien yang lain adalah
lanolin dan minyak mineral. Jadi emolien sendiri
tidak mempunyai efek antipsoriasis.
SISTEMIK
 Metotreksat
 Metotreksat adalah antagonis asam folat yang menghambat
dihydrofolat reductase. Sintesis DNA terhambat setelah
pemakaian metotreksat akibat penurunan tiamin dan purin.
Metotreksat menekan reproduksi sel epidermal, sebagai anti
inflamasi dan immunosupresif sehingga kontraindikasi pada
pasien dengan infeksi sistemik. Metrotreksat sangat efektif
untuk pengobatan penyakit psoriasis plak kronik dan juga
mengindikasikan untuk penatalaksanaan jangka panjang dari
keadaan psoriasis yang berat, termasuk psoriasis
eritroderma dan pustular psoiriasis. Metotreksat biasanya
dipakai bila pengobatan topikal dan fototerapi tidak berhasil.
 Etretinat dan Asitretin
Etrinat merupakan retinoid aromatic, digunakan bagi psoriasis
yang sukar disembuhkan dengan obat-obat lain mengingat efek
sampingnya. Cara kerjanya belum diketahui pasti. Pada psoriasis
obat tersebut mengurangi proliferasi sel epidermal pada lesi
psoriasis dan kulit normal.

 Asitretin
merupakan metabolit aktif etretinat utama. Efek samping dan
manfaatnya serupa dengan etretinat. Kelebihannya, waktu paruh
eliminasinya hanya 2 hari, dibandingkan dengan etretinat yang
lebih dari 100 hari. Dosis penggunaan dilaporkan 25mg perhari
dengan dosis penggunaan rata-rata 20-50mg perhari.
 Siklosporin
 Efeknya ialah imunosupresif. Dosis umumnya adalah 6
mg/kg/hari untuk pasien dengan keadaan stabil tanpa faktor
komorbid. Bersifat nefrotoksik dan hepatotoksik. Hasil
pengobatan untuk psoriasis baik, hanya setelah obat
dihentikan dapat terjadi kekambuhan.
FOTOTERAPI
 UVA. Sinar tersebut dapat digunakan secara tersendiri maupun
dikombinasikan dengan psoralen (8-metoksipsoralen, metoksalen)
dan disebut PUVA, atau bersamaan dengan preparat ter yang
dikenal dengan pengobatan cara Goeckerman.
 Karena psoralen bersifat fotoaktif, maka dengan UVA akan terjadi
efek yang sinergik. Mula-mula 10-20mg psoralen diberikan per os,
2 jam kemudian dilakukan penyinaran. Terdapat bermacam-
macam bagan, diantaranya 4x seminggu. Penyembuhan
mencapai 93% setelah pengobatan 3-4 minggu, setelah itu
dilakukan terapi pemeliharaan (maintenance) seminggu sekali
atau dijarangkan untuk mencegah rekuren. PUVA juga dapat
digunakan untuk eritroderma psoriatic dan psoriasis pustulosa.
Beberapa penyelidik mengatakan pada pemakaian yang lama
kemungkinan terjadi kanker kulit.
 Terdapat juga penggunaan UVB untuk pengobatan psoriasis tipe
plak, gutata, pustular, dan eritroderma. Pada tipe plak dan gutata
dikombinasi dengan salep likuor karbonis detergens 5-7% yang
dioleskan sehari dua kali. Sebelum disinar dicuci dahulu. Dosis UVB
pertama 12-23m J menurut tipe kulit, kemudian dinaikkan
berangsur-angsur. Setiap kali dinaikkan sebagai 15% dari dosis
sebelumnya. Diberikan seminggu tiga kali. Target pengobatan
adalah pengurangan 75% skor PASI (psoriasis area and severity
index). Hasil baik yang dicapai pada 73,3% kasus, terutama tipe
plak.
 Pengobatan cara Goeckerman awalnya pada tahun 1925
menggunakan kombinasi ter berasal dari batu bara dan sinar
ultraviolet. Kemudian terdapat banyak modifikasi mengenai ter dan
sinar tersebut. Yang pertama digunakan adalah crude coal tar yang
bersifat fotosensitif. Lama pengobatan 4-6 minggu, penyembuhan
terjadi setelah 3 minggu. Ternyata ditemukan bahwa UVB lebih
efektif daripada UVA
PROGNOSIS
 Prognosis baik jika mendapat terapi yang efektif namun
angka kekambuhan dan perbaikan spontan tidak dapat
diduga sebelumnya. Jarang dilaporkan kematian pada kasus
ini. Meskipun tidak menyebabkan kematian, psoriasis bersifat
kronis dan residif
BAB 2 LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
 Nama : Ny. M
 Umur : 60 tahun
 Jenis kelamin : Perempuan
 Alamat : Sepanjang, Sidoarjo
 Pekerjaan : Ibu rumah tangga
 Pendidikan : SMP
 Agama : Islam
 Suku : Jawa
 Bangsa : Indonesia
 Tanggal pemeriksaan : 21 Maret 2019
 Status : Menikah
ANAMNESIS
 Keluhan Utama :
Kulit menebal dan mengelupas
 Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan kulit menebal dan mengelupas,
keluhan ini dirasakan sejak 4 tahun. Kulit menebal dan kering juga
terasa gatal, sehingga pasien sering menggaruknya yang
menyebabkan kulit yang digaruk mengelupas. Gatal hanya kadang-
kadang, tidak memberat ketika malam atau sedang berkeringat. Untuk
kulit keringnya pasien menggunakan minyak dari China, keluhan kulit
kering dan gatal sedikit berkurang. Awalnya keluhan ini dimulai dengan
gatal di kepala yang dianggap pasien sebagai ketombe, kemudian
muncul lesi-lesi baru di sekujur tubuh. Munculnya lesi diawali
kemerahan yang gatal dan lama kelamaan menjadi gatal.
PEMERIKSAAN FISIK
 Status Generalis
 Keadaan Umum : Cukup
 Kesadaran : Compos Mentis 4/5/6
 Kepala : Lihat Status Dermatologis
 Leher : Lihat Status Dermatologis
 Thorax : Lihat Status Dermatologis
 Abdomen : Lihat Stasus Dermatologis
 Ekstermitas : Lihat Status Dermatologis
STATUS DERMATOLOGIS
 Efloresensi :
 Tampak plak eritematosa batas tegas disertai skuama dan
ekskoriasi e/r generalisata.
FOTO KASUS
Diagnosis Kerja
 Psoriasis vulgaris
Diagnosis Banding
 Tinea corporis
 Pitriasis Rubra Pilaris
PLANNING
 . Planning diagnosis :  Medikamentosa
Tes Auspitz sign dan fenomena lilin  Racikan
 Planning terapi : R/ Pehachlor 3 mg
Non Medikamentosa R/ Loratadin ½ mg
Kompres lesi kulit dengan NaCl Mfla pulf da in caps dtd No X
0,9% S 2dd 1 caps (pagi dan malam)

R/ Inerson 7.5 gr
R/ Sagestam 2.5 gr
Mfla cream
S ue pagi sore

 Non Racikan
R/ Carmed urea 10%
S ue ( Siang, Malam)
PLANNING EDUKASI
 Menjelaskan diagnosis dan rencana terapi yang akan diberikan,
serta bagaimana cara menghindari faktor penyebab penyakit agar
tidak bertambah parah .
 Mengedukasi pasien tentang pemilihan rencana terapi agar lbih
kritis menilai pengobatan sehingga ia mendapatkan informasi
yang sesuai dengan perkembangan penyakit terakhir karena efek
samping pengobatan lebih berbahaya dibandingkan penyakitnya.
 Menjelaskan bahwa penyakit ini dapat timbul lesi yang baru dan
terasa gatal jika factor pencetus tidak dihindari
 menganjurkan pasien untuk tidak menggaruk, menjaga pola
makan, dan mengontrol emosi agar kulit tidak semakin parah dan
tidak terbentuk lesi baru
S :Pasien datang dengan keluhan kulit S: keluhan kulit kering dan bersisik
menebal dan mengelupas, keluhan ini berkurang, pasien merasa kulitnya sudah
dirasakan sejak 4 tahun. Kulit menebal dan halus namun kemerahan pada kulit tidak
kering juga terasa gatal, sehingga pasien hilang
sering menggaruknya yang menyebabkan
kulit yang digaruk mengelupas.

O: Plak eritematosa dengan skuama dan O : Plak eritematosa, skuama (-), ekskoriasi (-)
eksoriasi

A: Psoriasis Vulgaris A : Psoriasis vulgaris on therapy

P: P
Racikan Terapi dilanjutkan
R/ Pehachlor 3 mg
R/ Loratadin ½ mg
Mfla pulf da in caps dtd No X
S 2dd 1 caps (pagi dan malam)

R/ Inerson 7.5 gr
R/ Sagestam 2.5 gr
Mfla cream
S ue pagi sore

Non Racikan
R/ Carmed urea 10%
S ue ( Siang, Malam)
PROGNOSIS
 Prognosis baik jika mendapat terapi yang efektif
namun angka kekambuhan dan perbaikan spontan
tidak dapat diduga sebelumnya. Jarang dilaporkan
kematian pada kasus ini. Meskipun tidak
menyebabkan kematian, psoriasis bersifat kronis
dan residif.
PEMBAHASAN
Psoriasis adalah penyakit
peradangan kulit kronik dengan Kelainan
dasar genetic yang kuat dengan kulit muncul
karakteristik perubahan sejak 4
pertumbuhan dan diferensiasi sel tahun
epidermis disertai manifestasi (kronis)
vaskuler, juga diduga adanya
pengaruh system saraf.

Proses ini normal keratinisasi berjalan 311 jam


mengakibatka sedangkan pada psoriasis menjadi
n kulit menjadi 36 jam dan produksi harian
tebal dan keratinosit meningkat menjadi 28
berskuama kali lebih banyak daripada epidermis
normal
Mikrolesi Infiltrat Kulit - Fenomena
atau kemerahan menebal kobner (+)
mikrotrauma dan gatal dan kering - Auspitz sign (+)
TERAPI YG DIBERIKAN
 Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah :
 Racikan
R/ Pehachlor 3 mg
R/ Loratadin ½ mg
Mfla pulf da in caps dtd No X
S 2dd 1 caps (pagi dan malam)

R/ Inerson 7.5 gr
R/ Sagestam 2.5 gr
Mfla cream
S ue pagi sore

Non Racikan
R/ Carmed urea 10%
S ue ( Siang, Malam)
Pehachlor Klorferamin maleat mengurangi rasa
bekerja gatal pada pasien
menghambat efek psoriasis karena
histamine pada adanya aktifitas
pembuluh darah, histamine pada
bronkus dan pembuluh darah
bermacam-macam pasien psoriasis.
otot polos, selain itu
klorferamin maleat
dapat merangsang
maupun
menghambat
susunan syaraf
pusat.
Inerson obat yang Glukokortikoid topikal
mengandung merupakan terapi lini
desoximetasone, pertama pada
merupakan termasuk psoriasis ringan
gologan sampai sedang
kortikosteroid.
Sagestam Obat ini bisa menghindari
digunakan jika ada terjadinya infeksi
infeksi ringan pada pada kulit pasien
kulit akibat garukan yang
dilakukan pasien
Carmed urea 10% 40 Carmed urea Urea bersifat
g digunakan untuk keratolitik dan
mengatasi menambah
hyperkeratosis, kelembaban kulit
kekeringan pada dengan
iktiosis (kelainan kulit menghaluskan atau
berupa menghancurkan zat
hyperkeratosis keratin pada lapisan
sehingga kulit kulit teratas
menjadi kasar, kering,
bersisik)
PASI
KESIMPULAN
 Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik
dan residif, ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas
tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis dan transparan;
disertai fenomen tetesan lilin, Auspitz, dan Köbner. Psoriasis vulgaris
berarti psoriasis yang biasa, karena ada psoriasis yang lain contohnya
psoriasis pustulosa. Bagi para klinisi, psoriasis sangat penting untuk
diketahui karena cukup sering ditemukan dan mempunyai
penatalaksanaan yang merawat lesi di kulit.
 Gambaran klasik beupa plak eritematosa diliputi skuama putih disertai
titik titik perdarahan bila skuama dilepas, berukuran dari ujung jarum
sampai plakat menutupi sebagian besar area tubuh. Bentuk lesi
psoriasis ini bermacam macam sesuai dengan lesi kulit yaitu :
Psoriasis plakat, gutata, pustulosa, eritoderma, kuku, dan artritis. Pada
pasien ini termasuk psoriasis vulgaris, yang pada umumnya 90%
pasien psoriasis termasuk psoriasis vulgaris
 Penentuan tingkat keparahan psoriasis ditentukan dengan
seberapa besar luas area lesi psoriasis pada tubuh. Untuk
derajat ringan <3% BSA, sedang 3-10% BSA, dan berat
>10% BSA. Tingkat keparahan psoriasis berguna untuk
menetukan pemberian terapi pada pasien. Untuk kasus
ringan : bisa diberikan kortikosteroid topical 4-6 minggu,
penggunaan kasipotriol. Untuk kasus sedang-berat bisa
diberikan terapi fototerapi (PUVA/PUVB) dan pemberian obat
sistemik (metotrexat), untuk kasus berat bisa diberikan agen
biologic.